“ Ibtida, Isti’adzah, Basmalah, dan Surah
Ilmu Tajwid adalah ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf (Haqqul Huruf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf (mustahaqul huruf) dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum mad, dan sebagainya. Sebagai contoh tarqiq, tafkhim, dan sebagainya.[1]
Selain itu ilmu tajwid berguna untuk membaca ayat-ayat Al-Quran dengan fasih sesuai dengan diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dapat memelihara lisan dari kesalahan-kesalahan ketika membaca Al-Quran. Dalam makalah ini kami akan membahasa tentang hukum tajwid dan hal-hal yang berkenaan dengannya seperti Ibtida, Istiadzah, Bismilah, dan lain-lainnya. 2
A. Ibtida
Ibtida adalah adakalanya mulai membaca pertama kali dan adakala mulai membacanya sesudah waqaf. Ibtida itu harus dari awal kalimat, tidak boleh diambil dari potongan kalimat, sebab merusak kalimat Al-Quran, seperti membaca الحمد لله diulang dari دُل للِّ atau dari محَدُلللِّ dengan meninggalkan Al-
nya.
Mengetahui ibtida itu harus lebih hati-hati daripada waqaf, karena waqaf masih bisa berhenti di mana pun juga apabila dalam keadaan darurat, lain dengan Ibtida yang tidak boleh seenaknya saja memulai bacaan, tetapi harus memilih (Ikhtiyar) dari perkataan yang mafhum.
Ibtida ini terbagi menjadi dua macam yaitu:
1. Ibtida Jaiz
Ibtida Jaiz yaitu ibtida dari kalimat yang jelas maknanya atau sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah SWT. Ibtida Jaiz ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a. Ibtida Tam
Ibtida Tam yaitu memulai bacaan dari perkataan yang sempurna susunan kalimatnya, tiada berkaitan lafaz maupun makna dengan kalimat sebelumnya[2]
b. Ibtida Kafi
Ibtida kafi yaitu memulai bacaan dari perkataan yang sempurna susunan kalimatnya, tetapi masih berkaitan makna dengan kalimat sebelumnya, dan tidak berkaitan Lafaz.
c. Ibtida hasan
Ibtida Hasan yaitu memulai bacaan dari perkataan yang sempurna susunan kalimatnya, tetapi masih berkaitan makna dari lafaznya dengan kalimat sebelumnya.[3]
2. Ibtida Ghoiru Jaiz
Ibtida Ghoiru Jaiz yaitu Ibtida dari kalimat yang dapat merusak atau mengubah makna kalimat. Ibtida ini dibagi menjadi dua yaitu: a. Ibtida dari Perkataan
Ibtida ini dari perkataan yang masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya, baik lafaz maupun maknanya
b. Ibtida dari perkataan yang tidak sempurna
Ibtida ini bisa mendatangkan makna yang tidak dikehendaki Allah SWT atau menyalahi akidah.[4]
3. Cara Ibtida (memulai Bacaan )
Ibtida (memulai suatu bacaan) itu tidak boleh kecuali dengan awalnya huruf suatu lafaz. Juga tidak boleh Ibtida itu kecuali dengan huruf yang hidup. Oleh karena itu, apabila terdapat lafaz yang huruf pertamanya di sukun (Mati), maka haruslah didatangkan kepadanya Hamzah Washol supaya bisa diucapkan.
Hamzah Washol ialah Hamzah yang berada di awal kata, yang tetap terbaca ketika di awal kalimat dan gugur (tidak dibaca) ketika diwasholkan dengan lafaz selanjutnya. Dan Hamzah Washol ini bisa masuk pada Isim dan
Fi’il.
a. Apabila masuk pada Isim, maka Hamzah Washol Itu:
1) Di fathahkan yaitu pada Ta’rif Al-fatihah ayat 1
2) Di kasrohkan yaitu pada 7 Isim di dalam Al-Quran[5]
b. Apabila masuk pada Fi’il maka Hamzah Washol itu Mabni atas tiga harakat, yaitu:
1) Apabila huruf ketiganya difathah atau di kasroh, maka Hamzah Washol itu Kasroh.
2) Apabila huruf yang ketiganya didhomahkan maka Hamzah Washol itu didhomahkan ketika pakai Ibtida.[6]
3) Apabila Hamzah Washol itu dimasuki Hamzah Istifham (Hamzah
Istifham tidak masuk pada Fi’il Amr), maka Hamzah Washol dibuang sedang Hamzah Istifham ditetapkan dengan diharakati fathah.
4) Apabila Hamzah Washol itu dimasuki Hamzah Istifham, sedang huruf sesudahnya berupa huruf mati, maka Hamzah Washol itu diganti Alif Maddiyyah, sedangkan Alifnya Hamzah Washol dibuang. Apabila hendak mewasholkan lafaz yang akhirnya berupa huruf mati dengan lafaz yang diawali dengan Hamzah Washol (seperti Nun sakinah dari Tanwin yang berada di akhir kalimat) maka huruf mati tersebut diharakati dengan harakat Kasroh (Karena bertemunya dua huruf mati), dan Hamzah Washolnya tidak terbaca.8
B. Pengertian Isti’adzah dan Basmalah
Isti’adzah menurut bahasa adalah memohon perlindungan, pemeliharaan dan penjagaan. Sedangkan menurut istilah ialah Lafazh yang dimaksudkan seorang qari untuk memohon pemeliharaan dan perlindungan Allah Ta’ala dari kejahatan setan.[7]
Adapun lafadz isti’adzah yang dimaksud adalah :
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Lafazh ini sebenarnya berbentuk kalimat khabar (keterangan), tetapi maknanya mengarah kepada permohonan. Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama bahwasanya isti’adzah bukanlah bagian dari Al-Quran, tetapi keberadaannya ditetapkan untuk dibaca tatkala hendak membaca AlQuran. Allah swt.berfirman:
Artinya : “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”( Q.S AnNahl:98)[8]
Basmalah adalah lafazh yang berbunyi :
“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Lafazh basmalah merupakan bentuk masdhar dari basmala yang berarti berwazan fa’ala tatkala kita mengucapkan bismillah. Kedudukannya sama dengan lafazh hasbala ketika kita mengucapkan hasbiyallah atau lafazh hauqala ketika kita mengucapkan la haula wa la quwwata illa billah atau lafazh hamdala ketika kita mengucapkan alhamdu;lillah atau lafazh hailala ketika kita mengucapkan lailahaillallah.
Para ahli qiraat telah bersepakat tentang pastinya penetapan basmalah pada setiap awal surah, kecuali pada surah at-taubah. Bahkan imam Hafsh rahimahullah berpendapat bahwa sesungguhnya basmallah itu merupakan ayat dari surah al-fatihah dan dari setap surah, kecuali surah at- taubah.[9]
1. Cara Membaca Isti’adzah dan Basmallah
Ada empat variasi cara membaca isti’adzah dan basmallah yang dapat digunakan yaitu :
a. Qath’ul Jami, yakni diputus seluruhnya. Maksudnya isti’adzah tidak disambung dengan basmalah dan basmalah pun tidak disambung dengan awal surah.
b. Washlul Jami, yaitu disambung seluruhnya. Maksudnya isti’adzah disambung dengan basmalah dan basmalah pun disambung dengan awal surah tanpa diselingi dengan mengambil napas.
c. Washlul Isti’adzati bil Basmalah. Yakni isti’adzah disambung dengan basmalah. Maksudnya isti’adzah disambung dengan basmalah tetapi basmalah tidak disambung dengan awal surah.
d. Washlul Basmalati bis Surah, yakni basmalah disambung dengan awal surah. Maksudnya, isti’adzah tidak disambung dengan basmalah tetapi disambung dengan awal surah.[10]
2. Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surah
Ada empat variasi cara membaca basmalah diantara kedua surah, yaitu :
a. Qath’ul Kulli, yakni diputus seluruhnya. Maksudnya, akhir surah A tidak disambung dengan basmalah dan basmalah pun tidak disambung dengan awal surah B.
b. Washlul Kulli, yaitu disambung seluruhnya. Maksudnya akhir surah A disambung dengan basmalah dan basmalah pun disambung dengan awal surah B tanpa diselingi dengan mengambil napas.
c. Washlul Basmalati bi Awwalis Surah, yakni basmalah disambung dengan awal surah. Maksudnya, akhir surah A tidak disambung dengan basmalah tetapi basmalah disambung dengan awal surah B.
d. Washlul Basmalati bi Akhiri Surah, yakni basmalah disambung dengan akhir surahy. Maksudnya, akhr surah A disambung dengan basmalah tetapi basmalah tidak diambung dengan wal surah B.
Dalam prakteknya, cara keempat ini adalah ghairu jaiz atau tidak boleh dipakai. Alsannya karena takut disangka bahwa basmalah merupakan bagian dari akhir surah A.[11]
3. .Basmalah Pada Surah At-Taubah
Adapun bila kita berbicara tentang hukum membaca basmalah pada surah at-taubah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Diantara pendapat yang apat dikemukakan disini adalah :
a. Menurut imam Ibnu Hajar Rahimullah, membaca basmalah pada awal surah at-taubah harm hukumnya, namun apabila dibaca di tengah surah hukumnya makruh.
b. Menurut imam ar-Ramli rahimahullah, membaca basmalah pada awal surah at-taubah makruh hukumnya, namun apabila di tengah surah , hukumnya sunah.
Syekh Ahmad Hajazi rahumahullah dalam kitabnya Al-Qaulus Sadid Fi Ahkamit Tajwid menerangkan tentang tiga cara membaca akhir surah al anfal dilanjutkan dengan awal surah at-taubah. Ketiga cara tersebut ialah :
1. Washal, yaitu menyambung akhir surah al-anfal dengan awal surah attaubah tanpa berhenti dan tanpa mengambil napas.
2. Waqaf, yaitu menghentikan bacaan pada akhir surah al-anfal kemudian mengambil nafas, baru melanjutkan kembali bacaan pada surah awal surah at-taubah.
3. Saktah, yaitu menghentikan bacaan sejenak kira-kira dua harakat tanpa mengambil napas pada akhir surah al-anfal, baru kemudian melanjutkan kembali pada surah at-Taubah.14
C. Isti’adzah, Basmalah, Dan Surat
Apabila qori’ hendak membaca isti’adzah, basamalah, dan surat, maka qori’ dapat menggunakan salah satu cara diantara 4 cara dibawah ini:
1. “قطع الجميع “ (memutus semua), yaitu:
- Membaca isti’adzah kemudian berhenti
- Membaca basmalah kemudian berhenti
- Membaca surat Contoh :
اعو ذ با لله من الشيطا ن الر جيم و قفبسم الله الر حَن الر حيمو
قفالحمد لله رب العالمين..15
14 Ibid,Hlm.70
15 Moh. Wahyudi, Ilmu...Hlm. 255.
2. "وصل الحميع" (menyambung semua), yaitu:
- Membaca isti’adzah kemudian menyambungnya dengan basmalah
Menyambung basmalah dengan surat - Contoh :اعو ذ با لله من الشيطا ن الر جيم بسم الله الر حَن الر حيم الحمد لله ر ب العالمين...
3. "وصل البسملة بالسورة" (menyambung basmalah dengan surat), yaitu:
- Membaca isti’adzah kemudian berhenti
- Membaca basmalah kemudain menyambungnya dengan surat.
Contoh :اعو ذ با لله من الشيطا ن الر جيم و قف بسم الله الر حَن الر حيم
الحمد لله ر ب العالمين...
4. "وصل اخر السورة بالبسملة ويقف" (menyambung akhir surat yang
pertama dengan basmalah kemudian berhenti), yaitu:
- Membaca surat yang pertama kemudian menyambungnya dengan basmalah dan berhenti di akhir basmalah
- Membaca surat yang keduaContoh :
اعو ذ با لله من الشيطا ن الر جيم بسم الله الر حَن الر حيم و قف
الحمد لله ر ب العالمين...[12]
D. Basmalah Diantara Dua Surat
Apbila qori’ hendak membaca surat, maka dalam hal ini imam hafs menetapkan adanya basmalah diantara keduanya, menurut beliau ada empat membaca basmalah diantara dua surat, tiga diantaranya boleh dan yang satu tidak boleh. Ketiga cara yang diperbolehkan antara lain:
1. " موطعُ الكُللّ" (memutus semua), yaitu:
- Membaca surat yang pertama kemudian berhenti
- Membaca basmalah kemuadian berhenti
Membaca surat yang kedua - Contoh :مولمنْ ثم لرّ محالسدٍ المذ ا مح مسمد و قف بسم لله الر حَن الر حيم وقف قلْ امعُوْذُ بلمر لبّ النا لس
2. " م وصْلُ الكُللّ" (menyambung semua), yaitu:
- Membaca surat yang pertama kemudian menyambungnya dengan basmalah dan surat yang keduaContoh : مولمنْ ثم لرّ محالسدٍ المذ ا مح مسمد بسم لله الر حَن الر حيم قلْ امعوْذُ بلمر لبّ
النَّا لس 17
3. "وصل البسملة باول السورة" (menyambung basmalah dengan awal surat),
yaitu:
- Membaca surat yang pertama dan berhenti
- Membaca basmalah kemudian menyambungnya dengan awal surat kedua
Contoh :مولمنْ ثم لرّ محالسدٍ المذ ا مح مسمد و قف بسم لله الر حَن الر حيم قلْ امعوْذُ
Yang tidak diperbolehkan adalah: بلمر لبّ النا لس
4. "وصل اخر السورة بالبسملة ويقف" (menyambung akhir surat yang
pertama dengan basmalah kemudaian berhenti), yaitu:
- Membaca surat yang pertama kemudian menyambungnya dengan basmalah dan berhenti di akhir basmalah
Membaca surat yContoh :ang kedua -مولمنْ ثم لرّ محالسدٍ المذ ا مح مسمد بسم لله الر حَن الر حيم وقفقلْ امعوْذُ بلمر لبّ
النَّا لس
Cara seperti tersebut diatas tidak diperbolehkan, karena dikhawatirkan salah faham, bahwa basmalah itu untuk akhir surat bukan untuk awal surat.[13]
E. Cara Membaca Akhir Surat Al – Anfal Dengan Awal Surat Al – Baro’ah
Apabila qori’ hendak membaca akhir surat al – anfal dengan diterusakan pada awal surat al baro’ah, maka ulama qurro’ sepuluh meniadakan basmalah diantara keduanya. Dan qori’ dapat memilih cara – cara dibawah ini:
1. Mendapat isti’adzah diantara keduanya Dalam hal ini qori’ dapat menggunakan salah satu diantara tiga cara dibawah ini: a. )الانفال و قف الاستعاذة وقف البراءة(, yaitu:
- Membaca surat al – anfal kemudian berhenti
- Membaca isti’adzah kemudian berhenti
- Membaca surat al baro’ah
Contoh :النَّ ٱلَِّم بلكُللّ مشيۡءٍ معلليمُُۢ و قف اعوذبالله من الشيطان الر جيم وقف بم مراءمة
لمّ من ٱلَِّ ل مومرسُولله[14]
, yaitu:)الانفال و قف الاستعاذة وصل البراءة( b.
- Membaca surat al – anfal kemudian berhenti
- Membaca isti’adzah serta menyambungnya dengan surat al baro’ ah Contoh :
النَّ ٱلَِّم بلكُللّ مشيۡءٍ معلليمُُۢ و قف اعوذبالله من الشيطان الر جيم ب ممراء م ة لمّ من ٱلَِّ ل
مومرسُولله
, yaitu:)الانفال وصل الاستعاذة وصل البراءة( c.
- Membaca akhir surat al – anfal kemudian menyambungnya dengan isti’adzah dan al baro’ ah Contoh : النَّ ٱلَِّم بلكُللّ مشيۡءٍ معلليمُُۢ اعوذبالله من الشيطان الر جيم بم مراءمة لمّ من ٱلَِّ ل مومرسُولله
2. Meniadakan isti’ adzah dianatara keduanya Dalam hal ini qori’ dapat menggunakan salah satu diantara dua cara dibawah ini:
a. Waqof (berhenti) diantara keduanya, yaitu:
- Membaca akhir surat al – anfal kemudian berhenti
Membaca surat al baro’ ah - Contoh :النَّ ٱلَِّم بلكُللّ مشيۡءٍ معلليمُُۢ وقفب ممراءم ة لمّ من ٱلَِّ ل مومرسُولله[15]
b. Washol (menyambungkan) anatara keduanya, yaitu
- Membaca akhir surat al – anfal serta menyambungnya dengan suara al
baro’ ah
Contoh :
النَّ ٱلَِّم بلكُللّ مشيۡءٍ معلليمُُۢ ب ممرٓاءمة لمّ من ٱلَِّ ل مومرسُولله
Ulama qurro’ sepuluh juga sepakat menetapkan adanya basmalah diantara
dua surat dibawah ini:
1. Antara suray an – nas dan surat al – fatihah dalam satu perkataan. Maka tidak boleh dibaca: لم من ٱلجۡلنَّلة موٱلنَّاس وقف ٱلحۡممۡدُ للَِّل مر لبّ ٱلۡمعَٰلملم مين
Akan tetapi dibaca:
- لم من ٱلجۡلنلة موٱلنَّاس وقف بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرلحيلم وقف ٱلحۡممۡدُ للَِّل مر لبّ ٱلۡمعَٰلملم مين
- لم من ٱلجۡلنلة موٱلنا لس وقف بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرلحيلم ٱلحۡممۡ دُ للَِّل مر لبّ ٱلۡمعَٰلملم مين
- لم من ٱلجۡلنَّلة موٱلنا ل س بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرَّحََٰۡملن ٱلرلحيلم ٱلحۡممۡدُ للَِّل مر لبّ ٱلۡمعَٰلملم مين
2. Antara dua surat yang sama (seperti an – nas dengan an – nas). Maka tidak boleh dibaca:
لم من ٱلجۡلنلة موٱلناس وقف قُلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱلنا لس
Akan tetapi dibaca:
لم من ٱلجۡلنلة موٱلنا لس وقف بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرلحيلم وقف قلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱلنا لس لم من ٱلجۡلنلة موٱلنا لس وقف بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرلحيلم قُلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱل نَّا لس لم من ٱلجۡلنلة موٱلنا لس بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرَّلحيلم قلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱلنا لس
3. Antara suatu surat dengan surat sebelumnya ( seperti surat an – nas dengan
surat al – falaq ). Maka tidak boleh dibaca:
لم من ٱلجۡلنلة موٱلنَّا لس وقف قلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱلۡمفلملق [16]
Akan tetapi dibaca:
لم من ٱلجۡلنلة موٱلنا لس وقف بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرلحيلم وقف قُلۡ أمعوذُ بلمۡر لبّ ٱلۡمفلملق لم من ٱلجۡلنلة موٱلنَّا لس وقف بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرَّحََٰۡملن ٱلرلحيلم قلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱلمف لملق لم من ٱلجۡلنلة موٱلنا لس بلسۡلم ٱلَِّل ٱلرحََٰۡملن ٱلرَّلحيلم قلۡ أمعوذُ بلمر لبّ ٱلۡمفلملق [17]
F. Takbir Di antara Dua Surat
Takbir adalah zikir yang ditetapkan syara’ di antara beberapa surat Al-Quran seperti istiazah syara di awal membaca.
Takbir itu seperti istiazah bukan termasuk Al-Quran. Oleh karenanya tidak akan dijumpai dalam Al-Quran. Barang siapa membacanya maka baguslah baginya dan barang siapa meninggalkannya, maka tiada dosa baginya, karena ia adalah sunah.
Apabila Qori hampir khatam mengaji (membaca Al-Quran), yakni sudah sampai pada akhir surat Adh-Dhuha maka ia disunatkan membaca takbir sampai dengan akhir surat An-Nas, dan diteruskan membaca surat Al-Fatihah sampai dengan Al-Baqarah ayat lima, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu
Abbas dari Ubay Bin Ka’ab, yaitu: “Bahwa Nabi Muhammad SAW apabila selesai membaca surat An-Nas lantas beliau membaca Surat Al-Fatihah sampai dengan Al-Baqarah ayat lima.[18]Sighot Takbir
آللهُ آ كْبم رُ لآاللهم اللاّ آللهُ مو آللهُ آ كْبم رُ لآالل هم اللاّ آللهُ مو آللهُ آ كْبم رُ مول للهل ا ملحمْدُ Yang lebih utama adalah yang pertama.
1. Membaca takbir dilihat dari segi Washol dan Waqofnya ada 8 cara, tujuh di antaranya boleh dan satu tidak boleh. Ketujuh cara yang paling diperbolehkan itu antara lain:
a. Membaca surat yang pertama kemudian berhenti
• Membaca takbir kemudian berhenti.
• Membaca Bismilah kemudian berhenti.
• Membaca surat kedua.
:Contohnya فم محلدّ ثْ وقف آللهُ آ كْبم رُ وقف بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْلم ng pertama kemudian berhentiوقف آمْلَ نمشْمرحْ b. Menyambung surat ya
• Menyambung takbir dengan Bismilah
Menyambung Bismilah dengan surat yang kedua • Contohnya: فم محلدّ ثْ آللهُ آ كْبم رُ بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْل م آمْلَ نمشْمرحْ [19]
c. Membaca surat yang pertama kemudian berhenti
• Menyambung takbir dengan Bismilah
Membaca surat yang kedua • Contoh: فم محلدّثْ وقف آللهُ آ كْبم رُ بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْلم وقف آمْلَ نمشْمرحْ
d. Membaca Surat yang pertama kemudian berhenti.
• Menyambung takbir dengan Bismilah dan menyambung Bismilah dengan surat yang kedua.
Contoh: فم محلدّثْ وقف آللهُ آ كْبم رُ بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْلم آمْلَ نمشْمر حْ
e. Menyambung surat yang pertama dengan takbir dan berhenti di akhir takbir.
• Membaca Bismilah kemudian berhenti.
• Membaca surat yang kedua.
Contoh: فم محل دّ ثْ وقف آللهُ آ كْبم رُ بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْلم وقف آمْلَ نمشْمر حْ
f. Menyambung surat yang pertama dengan takbir dan berhenti di akhir takbir.
• Menyambung Bismilah dengan surat kedua.
Contoh: فم محلدّثْ وقف آللهُ آ كْبم رُ بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْلم آمْلَ نمشْمر حْ[20]
g. Membaca surat yang pertama kemudian berhenti.
• Membaca takbir kemudian berhenti.
• Menyambung Bismilah dengan surat yang kedua.
Contoh: فم محلدّثْ وقف آللهُ آ كْبم رُ وقف بلسْلم الِّل الر حَْملن الرلحيْلم آمْلَ نمشْمرحْ h. Yang tidak diperbolehkan adalah:
• Menyambung surat yang pertama dengan takbir kemudian menyambung takbir dengan Bismilah dan berhenti di akhir Bismilah.
• Membaca surat yang kedua.
Contoh: فم محلدّثْ آللهُ آ كْبم رُ بلسْلم الِّل الرحَْملن الرلحيْلم وقف آمْلَ نمشْ مرحْ
Apabila Qori hendak mewasholkan surat An-Nas dengan surat AlFatihah dengan niat untuk memulai bacaan, maka hendaklah ia bertakbir di antara keduanya[21]
2. cara menyambung (mewasholkan) surat dengan takbir
a. Apabila takbir berada sesudah huruf yang mati, maka huruf sukunnya
harus di kasrohkan, seperti: فم محلدّثْ آللهُ آ كْبم رُ menjadi فم محلدّ لث آللهُ آ كْبم رُ b. Apabila takbir berada sesudah huruf yang bertanwin maka huruf bertanwin harus dikasrohkan, sepert: آ مح د الُِّ آ كْبم رُ menjadi آ محدُلن الُِّ آ كْبم رُ c. Apabila takbir berada sesudah huruf berharakat panjang atau pendek, maka harakatnya harus dipendekkan membacanya (karena menghadapi Hamzah Washol), seperti: مخ لشى مربهُ املُِّ آ كْبم رُ menjadi مخ لشى مربهُ الُِّ آ كْبم رُ
d. Apabila tabir sighot yang kedua dan ketiga berada sesudah huruf yang bersukun, maka huruf sukunnya tetap disuarakan, seperti:
e. Apabila takbir sighot kedua dan ketiga berada sesudah huruf yang فم محلدّثْ لآاللهم اللاّ آللهُ مو آللهُ آ كْبم رُ مول للهل ا ملحمْدُ
bertanwin, maka tanwinnya harus dilebur (Diidghomkan) ke dalam huruf Lamnya Sighot Takbir, seperti:
f. Apabila takbir sighot yang kedua dan ketiga berada sesudah huruf آ مح د لآاللهم اللاّ آللهُ مو آللهُ آ كْبم رُ
mad, maka huruf mad tersebut tetap dibaca panjang, seperti:
مخ لشى مربهُ لآاللهم اللاّ آللهُ مو آللهُ آ كْبم رُ [22]
G. Beberapa Doa dan Zikir dalam Ayat-ayat Al-Quran
Di dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang apabila Qori selesai atau sampai pada ayat tersebut disunatkan membaca doa atau zikir. Ayat-ayat tersebut antara lain: [23]
1. Surat Al-Fatihah ayat 7 :
Apabila selesai membaca:
معلمْيلهمْ مولآ الضَّالل ميْن
Sunah membaca doa: مر لبّ اغْلفرْللى موللمواللمدىَّ مولللْمُؤْلمنل ميْن آلم م يْن
2. Surat Al-Ghosiyyah ayat 24 :
Apabila selesai membaca: فم يُ مع لذّ بهُ اْلمعمذا مب الامكْبم مر
Sunat membaca: مر لبّ آلعذْ لنى لمنْ معمذاابل م ك
3. Surat At-Tin ayat 6 : Apabila selesai membaca: آلمْي مس الُِّ لبام حْ مكلم الحماكللم ميْن
Sunat membaca: مبا ملى موآمنَمعلمى مذلل مك لم م ن المشّام لهلدي من [24]
Doa dan zikir di atas hanyalah sebagai penuntun bagi Qori yang masih awam dalam arti Al-Quran. Sedang bagi yang sudah mengerti arti Al-Quran maka akan sangat baik dan dianjurkan untuk berdoa memohon Allah kepada setiap kali menemui ayat rahmat dan memohon perlindungan kepada Allah setiap kali menemui ayat azab, sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah SAW, bahwa beliau kalau menemui ayat rahmat, beliau berhenti membaca untuk kemudian memohon kepada Allah dan apabila menemui ayat azab, beliau berhenti dan memohon perlindungan. Demikian juga Ibrahim An-Nakho’i apabila membaca Al-Quran ia mengecilkan suaranya dan memperbanyak menangis sebagaimana hadis nabi:
“bacalah Al-Quran dan menangislah, apabila tidak bisa menangis maka tangiskan”
Ibnu Abbas RA. berkata: Apabila kalian membaca ayat sajadah, maka jangan terburu-buru kalian bersujud sebelum kalian menangis, adapun jalan untuk memaksa menangis adalah dengan menghadirkan sedih di dalam hati, dan dari kesedihan inilah akan muncul tangis. Adapun jalan untuk memunculkan kesedihan adalah dengan meresapi apa yang ada di Al-Quran, baik berupa janji atau ancaman.
Jadi membaca Al-Quran akan bisa meresapi dan membekas manakala kita mampu memahami arti Al-Quran, syukur-syukur sampai kepada tafsirnya.[25]
H. Sujud Tilawah
Apabila Qori membaca atau mendengar ayat sajadah, maka ia disunatkan sujud Tilawah (Sujud Bacaan), baik di dalam salat maupun di luar salat
“dari Ibnu Umar RA: bahwa nabi SAW pernah membaca Al-Quran di hadapan kami, ketika melalui (sampai) pada ayat sajadah beliau bertakbir lantas sujud dan kami pun sujud bersama beliau” HR. At. Tirmidzi.
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum sujud tilawah:
1. Menurut golongan Imam Hanafi, Sujud tilawah itu hukumnya wajib
2. Menurut golongan Imam Maliki, syafi’i, dan Ahmad, sujud Tilawah Disyaratkan untuk sujud Tilawah ini apa-apa yang disyaratkan untuk salat, seperti: suci-niat-menghadap kiblat31
Rukun sujud tilawah:
a. Menurut golongan Imam Syafi’i:
Niat-takbir-sujud-duduk-salam
b. Menurut golongan Imam Hanafi dan Maliki:
Niat-sujud di antara dua takbir
Bacaan sujud tilawah مس مجمد موجْلهى للللذى مخلممقهُ مو مصومرهُ مومشقَّ مسَمعهُ موبم مصمرهُ لبِموْ للله موقُ وَّتلل ه “تم بمامرمك الَُِّ أمحْ مسنُ الْْمالللق مين
Ulama juga berbeda pendapat mengenai jumlah ayat sajadah
1) Menurut golongan Imam syafi‘i dan Hanafi, jumlah ayat itu ada 14, hanya saja mereka berbeda pendapat pada dua ayat, demikian juga menurut golongan Imam Hambali.
2) Menurut golongan Imam Maliki, jumlah ayat sajadah itu ada sebelas
Adapun ayat-ayat sajadah itu antara lain
a) Surat Al-A’Arof ayat: 206
b) Surat Ar-Rad: 15
c) Surat An-Nahl: 49
d) Surat Al-Isro: 107
e) Surat Maryam: 58
f) Surat Al-Hajj ayat: 18
g) Surat Al-Hajj ayat: 77
Ayat ini menurut golongan Imam Syafi’i termasuk ayat sajadah, sedangkan menurut golongan Imam Maliki dan Hanafi bukan termasuk ayat sajadah.[26]
h) Surat Al-Furqon ayat: 60
i) Surat Al-Naml ayat: 25-26
j) Surat As-Sajadah ayat: 15
k) Surat Shad ayat: 24
Ayat ini menurut golongan Imam Hanafi dan Maliki termasuk ayat sajadah, sedang menurut golongan Imam Syafi’i adalah sujud syukur.
l) Surat Al-Fushilat ayat: 17-18
m) Surat An-Najm ayat: 62
n) Surat Al-Insyiqoq ayat: 21
o) Surat Al-Alaq ayat: 19
Ketiga ayat di atas (surat An-Najm, Al-Insyiqoq, dan surat Al-Alaq.) menurut golongan Imam Maliki tidak termasuk ayat sajadah.[27]
I. Azan dan Iqamah
Azan Menurut KBBI adalah Seruan untuk mengajak orang salat sedangkan Iqamah adalah Panggilan atau seruan segera berdiri untuk salat.
Kalimat Azan:
Allahu Akbar Allahu Akbar 2X
Asyhadu An-la Ila ha Illa Allah 2X
Asyahadu Anna Muhammadan Rasulullahh 2X
Hayya ‘Ala Ash-Sholah 2X
Hayya ‘Ala Al-Falah 2X
Allahu Akbar 2X
La Ilaha Illa Allah
Dan pada Azan Subuh setelah “ Hayya ‘Ala Al-Falah “ ditambah Ash-Shalatu Khairum Minan-Naum.
Muazin boleh memilih pada Ro-nya Takbir yang pertama antara Dhomah Dan Fathah, tetapi ada juga yang mengatakan boleh memilih antara Dhomah, Fathah, dan Sukun.34
Adapun azan menurut golongan Imam Maliki, Takbir di awal kalimat hanya dua kali, dan sunah bagi muazin Maliki membaca pelan dua syahadat (Syahadat Allah dan Syahadat Rasul).
Kalimat Azan menurut golongan Imam Maliki adalah “Allahu Akbar “2X kemudian membaca syhadat dengan suara rendah, kemudian dua syahadat tadi diulang dengan suara tinggi sama dengan bacaan takbir.
Kalimat Iqamah:
Menurut golongan Imam Hanafi
Allahu Akbar Allahu Akbar 2X
Asyhadu An-la Ila ha Illa Allah 2X
Asyahadu Anna Muhammadan Rasulullahh 2X
Hayya ‘Ala Ash-Sholah 2X
Hayya ‘Ala Al-Falah 2X
Allahu Akbar 2X
La Ilaha Illa Allah
Menurut golongan Imam Syafi’i dan Hambali
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu An-la Ila ha Illa Allah
Asyahadu Anna Muhammadan Rasulullahh
Hayya ‘Ala Ash-Sholah
Hayya ‘Ala Al-Falah
Qadaqa matisholah 2X
Allahu Akbar
La Ilaha Illa Allah
Menurut golongan Imam Maliki
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu An-la Ila ha Illa Allah
Asyahadu Anna Muhammadan Rasulullahh
Hayya ‘Ala Ash-Sholah
Hayya ‘Ala Al-Falah
Qadaqa matisholah 2X
Allahu Akbar
La Ilaha Illa Allah [28]
J. Tajwid Azan dan Iqamah
Pada waktu azan ada beberapa huruf yang harus diperhatikan oleh muazin:
1. Waqaf dan Ibtida
Hendaklah muazin waqaf pada potongan kalimat azan dan waqaf dengan sukun.
2. Mad
Ulama berbeda pendapat tentang ukuran panjang mad yang paling panjang, ada yang mengatakan 14 harakat (7 Alif), ada yang mengatakan 10 harakat (5 Alif).
Demikian juga perlu dijaga dan dijauhi, mengubah panjang Mad atau mengurangi panjang Mad, memasukkan huruf atau kalimat lain pada kalimat azan seperti Tahrif yaitu azan yang dilakukan oleh lebih dari dua orang dengan saling sambung menyambung bacaan. Semua tersebut haram dilakukan, karena itu harus dijauhi. [29]
K. Tas-Hil, Imalah, Naql, Isyamam, Ikhtilas, Dan Lafzah-Lafazh Lain
1. TAS-HIL
Menurut bahasa Tas-hil berarti ringan, sedangkan menurut istilah, Tashil adalah
“Mengeluarkan suara antara Hamzah dan Alif”.
Jadi, Tashil ialah meringankan ucapan dengan mengeluarkan suara antara Hamzah dan Alif. Dalam al-Quran Tashil hahnya terdapat dalam sura Fushillat ( As-Sajdah ),yaitu pada lafazh [30] ءمامعْ مجلم ى
Pada lafazh tersebut, Hamzah pertama dibaca sedang Hamzah kedua (yang ditulis dalam huruf Alif berharakat) dibaca ringan antra Hamzah dan Alif tanpa Madd, tetapi lebih dekat kepada Alif. Peringanan ( Tashil ) ini bertujuan memudahkan penguapan.
Sebagai perbandingan dapat pula dikatakan bahwa Hamzah kedua dalam lafaz tersebut tidak jelas bunyi Fathahnya. Ustadz as’ud Syafi’I menganalogikan ketidakjelasan bunyi Fat tersebut seperti mengucapkan bunyi “an” pada kata “ejaan”. Beliau menandaskan pada lisan sebagian orang jawa, bunyi “an” tersebut tidak jelas berbunyi “an”. Contoh lainnya adalah kata “bacaan”
2. IMALAH
Menurut bahsa, Imalah berarti miring. Sedangkan menurut istilah Imalah adalah:
“Menyondongkan ( suara ) Fathah ke ara Kasroh atau ( suara Alif ke Ya).
Maksudnya ialah mengucapkan suara fathah condong ke ara Kasroh, sehingga keluar bunyi mendekati bunyi “e” dalam kata cabe.
Menurut qiraat Imam Hafs, Imalah hanya terdapat pada surah Hud ayat 41, yaitu pada lafazh : لب سْلم الَِّل ممَْمرامها مومُرْمسامها
Namun, menurut Imam Al-Kisa’I dan Imam Hamza, Imalah itu jumlahnya benyak sekali di dalam Al-Quran, bakan hingga meliputi setiap Lafazh Isim atau Fi’il yang berakhiran Alif Maqsuroh. Contoh : موالضُّ محى
3. NAQL
Naql menurut bahasa adalah memindahkan. Sedangkan menurut istilah, Naql ialah memindahkan Harakat suatu huruf pada huruf lainnya, dalam ucapan dan tidak dalam tulisan.
Didalam Al-Quran, ukum naql menurut Imam Ashim riwayat Hafs anaya ada pada satu tempat yaitu Al-Hujurot ayat 11[31]: بلئْ مس ا للْا سْمُ
Prosesnya : Harokat Kasro pada Hamzah dipindakan kepada huruf Lam pada Alif Lam ( Lam Ta’rif ) yang mati, sehingga huruf Lam tersebut menjadi hidup dan berharakat Kasroh. Sementara itu huruf amzah yang sudah tidak berharakat lagi, tidak dbaca atau ditiadakan.
4. ISYMAM
Isymam menurut bahsa adalah moncong ( monyong ). Sedangkan menurut istilah Isymam ialah :
“ Memonyongkan dua bibir tanpa bersuara dan bernafas untuk mengiringi huruf yang mati, sebagai isyarat Dlommah.”
Cara mmbacanya “ Naa” disuarakan antara Fathahh dan Dlomah sambil kedua bibir dimonyongkan kedepan.
Menurut qiraat Imam Hafs, bacaan Isymam ini hanya pada satu tempat, yaitu surah Yusuf ayat 11 : لاممتَممنم اَّ
Keberadaan Isymam ini dimaksdukan yang memberitahukan Harakat asli dari lafazh yang dibaca Isymam tersebut. Namun, pemberitahuan tersebut hanya untuk orang yang melihatnya, bukan hanya mendengar.
5. IKTILAS
Menurut bahasa, Ikhtilas berarti menyambar. Dalam ilmu Tajid, ikhtilas adala mempercepat bacaan, seakan-akan antara dua uruf bersambung.
Menurut imam Hafs, Iktilas hanya terdapat pada sura An-Nur ayat 52,
yaitu pada lafazh :
مويم تَّ قْله فماو لئل مك
Cara membacanya adalah dengan mempercepat pengucapan huruf “Ha” yang berharokat Kasroh untuk kemudian dengan cepat berpindah
mengucapkan huruf Fa’yang berharokat Fathah, cepatnya peralihan huruf ini menimbulkan kesan bahwa dua huruf tersebut bersambung walaupun sebenarnya berbeda lafazh.[32]
Imam Abu Qosim menyatakan bahwa “Imam Hafs membaca Lafazh Wa yattaqih dengan menyukunkan huruf Qof dan mempercepat Ha’( menjadi setengah Harakat ) dengan Ikhtilas.”
6. Lafaz-lafaz Yang Lain
Disamping hal-hal tersebut diatas, ada al-hal lain yang harus juga diperhatikan oleh Qori agar ia terhindar dari kesalahan membaca, diantaranya:
a. "يم بْسُطُ" Surah Al-Baqaroh ayat 245 dan " بمصْطمة" surah Al-Arof ayat 69,
Sodnya harus dibaca Sin
b. "ا ملمُ مصيْ لطروْم ن" Surah At-Thur ayat 37, boleh dua wajah, booleh dibaca
Sin juga boleh dibaca Shod.
c. "لبُِ مصيْ لطرُ" Surah Al-Ghosiyyah ayat 22, Shodnya tetap dibaca Shod.
d. "معلمْيهُ الِّم" Surah Al-Fath ayat 10, hanya dibaca Dlommah.
e. "امْن مسنلهُ" Sura Al-Kahfi ayat 63, Ha’nya Dlommah dan pendek, ketika Washol.
f. "يم ر مضهُ لمكُمْ"Surah Az-Zumar ayat 7, Ha’nya dibaca Dlommah dan
pendek.
g. "مما نْ مفمقهُ" Surah Hud ayat 91,"فم موا كلهُ" surah Al-Mu’minun ayat 19,
Ha’nya dibaca pendek, sebab bukan Ha’ Dlommir, demikian juga lafalz
"تنَْتهَِ" :
h. "فم لكلهيْن" Surah Al-Muthoffifin ayat 1, Fa’nya dibaca pendek.
i. "مومرمبا ئلبكُمْ " Surah An-Nisa ayat 2 dan " مجلام بليْبللهنَّ" surah Al-Ahzab yat
59. Pada waktu membaca Ba’nya kedua lafzh tersebut hendaklah hatihati jangan sampai salah membaca Harakat dan panjang pendeknya.
j. "لللْعام لللم ميْن "Surah Ar-Rum ayat 22. Lamnya yang kedua dibaca
Kasroh.[33]
k. "يم وْلمئلذٍ" Surah Hud ayat 66 dan surah Al-Ma’arij ayat 11. Mimnya
dibaca Kasroh.
l. "املرمنَالمذي من" Surah Fushillat yat 29, Dzalnya Fathah sedang nunnya
Kasroh.
m. " مخالللدمن" Surag Al-Khasyr ayat 17. Dalnya Fathah dan Nunnya Kasroh.
n. " مضعفٍ" Surah Ar-Rum ayat 4. Dlodnya boleh dibaca Fathah dan boleh dibaca Dlommah. Dalam satu ayat ada tiga kata, apabila yang awal
Fathah, maka semuanya harus dibaca Fathah, dan apabila yang pertama dibaca Dlommah, maka semuanya harus dibaca Dlommah.
o. "الاولاملذمَّةْ" Surah At-Taubah ayat 8 dan 10. Lamnya “illa” Tanwin kemudian diidghomkan kepada Wawu ketika wahol. Lafazh “illa ini bermakana Qorobah, bukan bermakna Istisna.
p. "متَْلرى متَْتمضمها" Surah at-Taubah ayat 100. Ta’nya dibaca fathah dan
tanpa Min
q. "اُوْلهمما" Sura Al-Isro ayat 5, dibaca panjang 1 Alif.
r. " مسأولريكُم" Sura Al=A’rof ayat 145, Hamzahnya pendek.
s. "لمنْ تم مفاوُ تْ"Surah Al-Mulk ayat 3, Wawunya dibaca pendek.[34]
t. "امتم والزكَّاممة"Surah Al-Baqaroh ayat 377, surah At-Taubah ayat 5 dan 11,
Surah Al-hajj ayat 41. Ta’nya Fathah. Wawunya Dlommah ketika
Washol dan mati ketika Waqof. Ini Fi’il Amar.
DAFTAR PUSTAKA
Wahyudi, Moh. Ilmu Tajwid Plus. Surabaya: Halim jaya, 2007.
Abdurohim, Acep lim. Pedoman ilmu tajwid lengkap.CV Penerbit Diponegoro:Bandung, 2003.
[1] Moh. Wahyudi, Ilmu Tajwid Plus, (Surabaya: Halim jaya, 2007), hlm. 1. 2 Ibid. Hlm. 2.
[2]Ibid. Hlm. 243.
[3]Ibid. Hlm. 244.
[4]Ibid. Hlm. 245.
[5]Ibid. Hlm. 246.
[6] Ibid. Hlm. 247. 8Ibid. Hlm. 248.
[7] Acep lim Abdurohim, Pedoman ilmu tajwid lengkap,(CV Penerbit Diponegoro:Bandung,2003), Hlm.65
[8]Acep lim Abdurohim, Pedoman.... Hlm. 65.
[9]Acep lim Abdurohim, Pedoman.... Hlm. 65.
[10]Ibid,Hlm.66
[11]Ibid,Hlm.67
[12] . Hlm. 256. 17 . Hlm. 257.
[13]Ibid. Hlm. 258.
[14] . Hlm. 259.
[15] . Hlm. 260.
[16]Ibid. Hlm. 261.
[17] . Hlm. 262.
[18] . Hlm. 263.
[19] . Hlm. 264.
[20] . Hlm. 265.
[21] . Hlm. 266.
[22] . Hlm. 267.
[23] . Hlm. 269.
[24] . Hlm. 270.
[25] Ibid. Hlm. 273. 31 . Hlm. 275.
[26] . Hlm. 276.
[27] Ibid. Hlm. 277-278. 34 . Hlm. 279.
[28]Ibid. Hlm. 280.
[29]Ibid. Hlm. 281.
[30]Moh.Wahyudi, Ilmu Tajiwid Plus, (Halim Jaya:Surabaya,2007), Hlm.283
[31]Ibid, Hlm.284
[32] , Hlm.285
[33] , Hlm.286
[34] , Hlm.287
0 Response to "“ Ibtida, Isti’adzah, Basmalah, dan Surah"
Posting Komentar