KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

ALIRAN PROGRESIVISME


Dalam proses pertumbuhannya, filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat atau para ahli filsafat atau para filsof sepanjang kurun waktu dengan obyek permasalahan hidup di dunia, telah melahirkan berbagai macam pandangan. Pandangan-pandangan para filosof itu, ada kalanya satu dengan yang lain hanya bersifat saling kuat menguatkan, tetapi tidak jarang pula yang berbeda atau berlawanan. Hal ini antara lain disebabkan terutama oleh pendekatan yang dipakai oleh mereka berbeda, walaupun untuk obyek permasalahannya sama. Karena perbedaan dalam sistem pendekatan itu, maka kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan menjadi berbeda pula, bahkan tidak sedikit yang saling berlawanan. Selain itu faktor zaman dan pandangan hidup yang melatar belakangi mereka, serta tempat di mana mereka bermukim juga ikut mewarnai pemikiran mereka.[1]
Menyimak kembali sejarah pertumbuhan dan perkembangan filsafat sebagaimana yang telah diuraikan dalam bab pertama, akan menjadi jelas adanya perbedaan tersebut di atas. Begitu pula halnya dengan filsafat pendidikan, bahwa dalam sejarahnya telah melahirkan berbagai pandangan atau aliran. Karena pemikiran filsafat tidak pernah mandek, maka keputusan atau kesimpulan yang diperoleh pun tidak pernah menjadi sebuah kesimpulan final. Oleh sebab itu, dunia percaturan filsafat – termasuk didalamnya filsafat pendidikan – sering kali hanya berkisar pada permasalahan yang itu-itu juga, baik sebagai suatu bentuk persetujuan ataupun penolakan terhadap kesimpulan yang ada.[2]Muhammad Noorsyam melukiskan keadaan dunia pemikiran filsafat itu, sebagai berikut:
“Bagaimana wujud reaksi, aksi, cita-cita, kreasi bahkan pemahaman manusia atas segala sesuatu termasuk kepribadian ideal mereka, tersimpul di dalam pokok-pokok ajaran suatu filsafat. Pengertian masing-masing pribadi tentang suatu kesimpulan yang belum final, belum valid, tidak mutlak dan sebagainya, memberi kebebasan pada setiap orang untuk menganut atau menolak suatu aliran. Sikap demikian justru menjadi prakondisi bagi perkembangan aliran-aliran filsafat. Sikap ini dikenal dalam filsafat dengan istilah electic atau ecleticism”.[3]
Untuk mengenal perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan, di bawah ini akan diuraikan salah satu aliran filsafat dalam pendidikan, yaitu aliran progresivisme.


A.      Pengertian Aliran Progresivisme
Aliran progresivisme adalah sebuah aliran filsafat pendidikan yang berkembang di awal abad ke 20 dan mempenuyai pengaruh yang sangat besar dalam dunia pendidikan, terutama di Amerika Serikat. Aliran ini betul-betul kelahiran bumi Amerika, sedangkan yang lainnya adalah paham filsafat yang tumbuh dan berkembang di Eropa. Progresivisme lahir sebagai pembaharuan dalam dunia filsafat pendidikan, terutama sebagai lawan terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan konvensional yang diwarisi dari abad ke-19.[4]
Hakikat dari ajaran filsafat progresivisme terkandung dalam namanya sendiri, yakni “progressive”, Brubacher, dalam hal ini menulis: “Progress is naturalistic, it implies change. Change implies novelty. And novelty lays claim to beeing genuine rather than the revelation of an antecendently complete reality”. Menurut Brubacher, “kemajuan” atau “progressive” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah dan berarti “perubahan”. Perubahan memberi arti sesuatu yang “baru”. Sesuatu yang baru harus benar-benar merupakan  kenyataan dan bukan sekedar pemahaman terhadap realita yang sesungguhnya, sebelumnya memang sudah demikian.[5]
Perkembangan aliran progresivisme ini didorong terutama oleh aliran naturalisme dan eksperimentalisme, instrumentalisme, evironmentalisme, serta pragmatisme, sehingga progresivisme sering disebut sebagai salah satu aliran dari aliran tadi. Progresivisme dalam pandangannya selalu berhubungan dengan pengertian “The liberal road to cultural” yakni liberal bersifat fleksibel (lentur dan tidak kaku), toleran dan bersikap terbuka, serta ingin mengetahui dan menyelidiki demi perkembangan pengalaman. Progresivisme disebut sebagai naturalisme, yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritual dan supernatural).[6]
Naturalisme dapat menjadi materialisme, karena memandang bahwa jiwa manusia dapat menurun kedudukannya menjadi dan mempunyai hakikat seperti unsur-unsur materi. Progresivisme identik dengan eksperimentalisme, yang berarti aliran ini menyadari dan mempraktikkan eksperimen (percobaan ilmiah) adalah alat utama untuk menguji kebenaran suatu teori dan suatu ilmu pengetahuan. Disebut juga dengan instrumentalisme, karena aliran ini menganggap bahwa potensi inteligensi manusia (merupakan alat, instrument) sebagai kekuatan utama untuk menghadapi dan memecahkan problem kehidupan manusia. Dengan sebutan lain yakni enviromentalisme, karena aliran ini menganggap lingkungan hidup sebagai medan berjuang menghadapi tantangan dalam hidup, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Manusia diuji sejauh mana berinteraksi dengan lingkungan, menghadapi realitas dan perubahan.[7]
Sedangkan, disebut sebagai aliran pragmatisme karena aliran ini dianggap pelaksana terbesar dari progresivisme dan merupakan petunjuk pelaksanaan pendidikan agar lebih maju dari sebelumnya. Dari pemikiran demikian, maka tidak heran kalau pendidikan progresivisme selalu menekankan pada tumbuh dan berkembangnya pemikiran dan sikap mental, baik dalam pemecahan masalah maupun kepercayaan diri peserta didik. Progres atau kemajuan menimbulkan perubahan, sedangkan perubahan menghasilkan pembaruan. Kamajuan juga di dalamnya mengandung nilai yang dapat mendorong untuk mencapai tujuan. Kemajuan tampak kalau tujuan telah tercapai. Nilai suatu tujuan dapat menjadi alat, jika ingin dipakai untuk mencapai tujuan yang lain. Misalnya, faedah kesehatan yang baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.[8]
Progresivisme memiliki sifat-sifat umum yang dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu: (a) sifat-sifat negatif dan (b) sifat-sifat positif. Sifat itu dikatakan negatif, dalam arti bahwa progresivisme menolak otoritarisme dan absolutisme dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam agama, politik, etika, dan epistemologi. Positif, dalam arti bahwa progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam sejak ia lahir atau man’s natural powers. Terutama yang dimaksud ialah kekuatan-kekuatan manusia untuk terus-menerus melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan, takhayul-takhayul, dan kegawatan-kegawatan yang yang timbul dari lingkungan hidup yang selamanya mengancam.[9]

B.       Tokoh-tokoh Aliran Progresivisme
1.         William James (1842-1910)
William James, lahir di New York, 11 Januari 1842 dan meninggal di Choruroa, New Hemshire, 26 Agustus 1910. Beliau adalah seorang psikolog dan filsuf Amerika yang sangat terkenal. Paham dan ajarannya, juga kepribadiannya, sangat berpengaruh di Eropa dan Amerika. Selain sebagai penulis yang sangat brilian, dosen dan penceramah di bidang filsafat, dia juga dikenal sebagai pendiri aliran pragmatisme. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Di sini, James berusaha membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. Dalam karyanya, Principles of Phsychology, terbit tahun 1890, ia membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut. Buku klasik inilah yang mengantar William James menjadi filsuf pragmatisme dan empirisme radikal.[10]
2.        John Dewey (1859-1952)
John Dewey, lahir di Burlington, Vermont, pada 20 Oktober 1859 dan meninggal di New York, 1 Januari 1952. Beliau juga termasuk salah seorang bapak pendiri filsafat pragmatisme. Dewey mengembangkan pragmatisme dalam bentuknya yang orisinil. Meskipun demikian, namanya sering pula dihubungkan dengan pemikiran instrumentalisme. Ide filsafatnya yang utama berkisar dalam problema pendidikan yang konkret, baik teori maupun praktik. Reputasi internasionalnya terletak dalam sumbangan pemikirannya terhadap filsafat pendidikan progresivisme Amerika. Dewey tidak hanya berpengaruh di kalangan ahli filsafat profesional, tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi, hukum, antropologi, teori politik, dan ilmu jiwa. Selain itu, dia adalah juru bicara tentang cara-cara kehidupan demokratis yang sangat terkenal di Amerika Serikat.[11]
John Dewey berpandangan bahwa demokrasi sebagai keseimbangan dan kebebasan serta kebersamaan dalam usaha mencari nilai-nilai kebenaran, seperti proses ilmu pengetahuan mencari kebenaran. Dengan kata lain, demokrasi adalah ide-ide, pemikiran-pemikiran yang dilaksanakan dalam pergaulan sosial. Hasil pikiran itu benar, jika pikiran itu berhasil, dan mempunyai arti bagi si pemikir. Kebenaran ide-ide itu terbukti apabila ide itu dapat berwujud dan membawa kepuasan dalam penyelesaian suatu problema.[12]
3.         Hans Vaihinger (1852-1933)
Hans Vaihinger lahir di Nehren, pada 25 September 1852 dan meninggal di Halle, pada 18 Desember 1933. Menurut Hans Vaihinger tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuian dengan objek tidak mungkin dibuktikan. Satu-satunya ukuran bagi berpikir adalah gunanya (pragma = bahasa Yunani) untuk memengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata, jika pengertian itu berguna untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu bahwa kebenaran itu tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.[13]

C.       Pandangan Aliran Progresivisme Tentang Pendidikan
Aliran progresivisme boleh dikatakan banyak berbuat dan melakukan inisiatif buat mengadakan rekonstruksi di dalam pendidikan modern dalam abad ke-XX ini. Di dalam dunia pendidikan progresivisme banyak meletakkan tekanan dalam masalah kebebasan dan kemerdekaan kepada anak didik. Di dalam sekolah-sekolah progresivisme, masalah kemerdekaan buat para siswa ini diutamakan sekali. Mereka didorong dan diberanikan buat memiliki dan bertindak melaksanakan kebebasan mereka, baik secara fisik maupun dalam cara mereka berpikir. Mereka diberikan kemerdekaan buat berinisiatif dan percaya kepada diri sendiri, sehingga si anak didik itu dapat berkembang pribadinya dengan wajar dan dapat pula mengembangkan watak dan bakat yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat dan terbentur kepada halangan dan rintangan yang dibuat oleh tangan orang lain. Kebebasan yang demikian itu merupakan predikat buat dapat menerima kenyataan, adanya perbedaan kepribadian setiap orang dan adanya watak dan bakat yang menonjol yang memberikan corak dan ciri kepada setiap pribadi si anak didik.[14]
Apabila kita tinjau dari sudut pragmatisme, maka aliran ini merupakan pelaksana terbesar dari pendidikan progresivisme. Kenyataan yang demikian itu yang telah dilambangkan dengan sebutan “progresivisme”, merupakan petunjuk buat melaksanakan pendidikan yang lebih maju dari sebelumnya buat seluruh rakyat dan terutama sekali anak-anak didik. Berlandaskan pemikiran metafisik yang demikian itu sebagai dasar berpikir dan bertindak, maka tidaklah heran kalau pendidikan progresivisme selalu menekankan tumbuh dan berkembangnya sikap mental dan pemikiran, dalam pemecahan masalah dan kepercayaan pada diri sendiri buat setiap anak didiknya. Progres atau kemajuan itu menimbulkan perubahan dan perubahan menimbulkan pembaharuan. Suatu pembaharuan menghendaki keaslian dan kewajaran, dan bukanlah semata-mata penjelmaan dari suatu realitas yang sudah ada dengan lengkap dan sempurna lebi dulu. Kemajuan itu adalah kalimat yang mengandung nilai. Menurut pandangan pragmatisme, nilai-nilai itu adalah instrumen atau alat. Nilai-nilai itu mendorong seseorang buat mencapai tujuan. Kemajuan terjadi kalau tujuan sudah tercapai. Akan tetapi, pikiran yang hidup memang selalu saja ingin bertanya dan ingin tahu, apakah tujuan yang dicapai itu baik atau jelek. Seorang pragmatis hanya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan bertanya lagi; kalau baik untuk apa, kalau jelek apa gunanya? Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa nilai dari suatu tujuan tertentu itu haruslah menjadi alat buat diadu dengan tujuan lain lagi. Tetapi kalau hal ini dilakukan terus, sudah tentu tidak akan berkesudahan. Tapi, baiklah kita katakan bahwa kriteria dari kemajuan atau progres itu selalu khusus (spesifik). Dia tidak mempunyai formula umum karena tidak memiliki nilai-nilai yang final atau tetap.[15]
Dari segi pandangan ini, mudahlah dapat dilihat mengapa seorang pendidik progresif itu banyak menaruh perhatian kepada kepentingan seorang anak didik. Hal itu pada hakikatnya merupakan inti dari teori nilai. Dan hal itu merupakan petunjuk buat memilih materi-materi kurikulum dan sebagai dinamo terbaik satu-satunya yang dapat mendorong mereka buat maju. Memang terdapat pula bahaya dari teori ini, karena kepentingan sama saja dengan kemajuan hanya akan memiliki masa penerapan atau waktu berlaku yang sangat terbatas. Kepentingan anak-anak misalnya, terkenal dengan sifat mereka yang penurut tetapi kurang dorongan. Hal ini bukanlah cacat yang fatal, akan tetapi harus kita arahkan dan kita jaga jangan sampai menjadi sifat-sifat yang negatif dibelakang hari kelak.[16]
Selain kemajuan, lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup besar dari progresivisme. Untuk itu, filsafat progresivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat memengaruhi anak belajar secara edukatif, baik di lingkungan sekolah maupun di luar. Dalam hal ini, tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula.[17]
Menurut Iskandar Wiryokusumo dan Usman Mulyadi, sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberi jaminan para siswanya selama belajar. Maksudnya, sekolah harus mampu membantu dan menolong siswa untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat para siswa dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat fleksibel dan eksperimental serta memiliki keuntungan-keuntungan untuk diperiksa setiap saat.[18]
Sikap progresivisme memandang segala sesuatu berdasarkan fleksibilitas dan dinamis yang tercermin dalam pandangannya mengenai kurikulum sebagai pengalaman yang edukatif, bersifat eksperimental dan adanya rencana serta susunan yang teratur.
John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa sekolah hendaknya ditunjukkan untuk kepentingan pendidikan anak. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak. Senada dengan itu, Jean Jacques Rousseau (1712-1778) menyatakan bahwa anak harus dididik sesuai dengan alamnya dan jangan dipandang dari sudut orang dewasa. Anak bukan miniatur orang dewasa, melainkan anak adalah anak dengan dunianya sendiri, yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa.[19]
Berangkat dari pendapat-pendapat di atas, maka sekolah sebagai wiyata mandala (lingkungan pendidikan) merupakan wadah pembinaan dan pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuhkembangkan segenap potensi baik itu bakat, minat, dan kemampuan-kemampuan lain agar berkembang ke arah maksimal. Guru sebagai pendidik bertanggung jawab akan tugas pendidikannya. Seluruh aktivitas-aktivitas yang dijalankan guru harus diperuntukkan untuk kepentingan anak didik.
Hal yang harus diperhatikan guru adalah bahwa anak didik bukan manusia dewasa yang kecil, yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa. Guru harus mengetahui tahap-tahap perkembangan anak didik lewat ilmu psikologi pendidikan. Sehingga guru akan dapat mengetahui kapan dan saat bagaimana materi itu diajarkan. Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak.
Di samping itu, anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing. Hal ini ditunjukkan untuk meningkatkan kecerdasan dan daya kreasi anak. Untuk itu, pendidikan hendaklah yang progresif. Dengan kata lain, prinsip yang digunakan adalah kebebasan perilaku anak didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan guru sebagai pelayan siswa.
Oleh karena itu, sebagaimana dikutip Wasty Soemanto dalam Psikologi Pendidikan: Landasan Pemimpin Pendidikan, John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan:
1.      Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan.
2.      Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui pengalaman.
3.      Memberi motivasi dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat menjelaskan ke arah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik.
4.      Mengikutsertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak.
5.      Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis. Oleh karena itu, murid harus dihadapkan dengan dunia yang selalu berubah dengan kemerdekaan beraktivitas, dengan orientasi kehidupan masa kini.[20]
Hal ini menunjukkan bahwa John Dewey ingin mengubah bentuk pengajaran tradisional yang bersifat vercalisme dan menggunakan metode belajar DDCH (duduk, dengar, catat, dan hafal), yang membuat murid bersifat reseptif dan pasif saja. Murid hanya menerima pengetahuan sebanyak-banyaknya dari guru, tanpa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru mendominasi kegiatan belajar. Murid tidak diberikan kebebasan sama sekali untuk bersikap dan berbuat. Dalam abad ini, terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara mengajar dan belajar di sekolah, yang kini berangsur-angsur beralih menuju penyelenggaraan sekolah progresif, sekolah kerja, dan sekolah pembangunan.[21]




DAFTAR PUSTAKA

Ali, Hamdani. Filsafat Pendidika. Yogyakarta: Kota Kembang, 1986.
Anwar, Muhammad. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group, 2015.
As Said, Muhammad. Filsafat Pendidikan Islam.  Hulu Sungai Tengah: STAI Al-Washliyah Barabai, 2009.
Daradjat, Zakiah, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1983.
Jalaluddin dan Abdullah Idi. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012.










[1] Zakiah Daradjat, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1983), hlm. 21.
[2] Zakiah Daradjat, loc. cit.
[3] Ibid., hlm. 22.
[4] Muhammad As Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Hulu Sungai Tengah: STAI Al-Washliyah Barabai, 2009), hlm. 87.
[5] Ibid., hlm. 88.
[6] Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hlm. 155.
[7] Ibid., hlm. 156.
[8] Loc. cit.
[9] Zakiah Daradjat, dkk., op. cit., hlm. 22-23.
[10] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 79.
[11] Ibid., hlm. 80.
[12] Muhammad Anwar, op. cit., hlm. 159.
[13] Jalaluddin dan Abdullah Idi, op. cit., hlm. 80.
[14] Hamdani Ali, Filsafat Pendidika, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1986), hlm. 145-146.
[15] Ibid., hlm. 146-147.
[16] Loc. cit.
[17] Jalaluddin dan Abdullah Idi, op. cit., hlm. 90
[18] Loc. cit.
[19] Ibid., hlm. 87.
[20] Ibid., hlm. 88.
[21] Ibid., hlm. 89.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "ALIRAN PROGRESIVISME"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!