Tafsir Surah Al-Ikhlas dan Ar-Rum ayat 50-51
Pendidikan adalah hal terpenting dalam membentuk karakter seseorang bahkan karakter suatu bangsa. Al-Qur’an merupakan kitab suci bagi umat Islam, namun Al-Qur’an tidak hanya memberi pengetahuan tentang aturan agama saja tetapi mencakup berbagai aspek termasuk juga aspek pendidikan.
Maka dalam makalah ini akan dijelaskan aspek pendidikan yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an, yakni salah satunya tentang Materi Pendidikan yang terdapat dalam Qur’an Surah Al-Ikhlas dan Ar-Rum ayat 50-51.
A. Tafsir Qur’an Surah Al-Ikhlas
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
۱ هُوَ اللَّهُ الصَّمَدٌ قُلْ
۲ اللَّهُ الصَّمَدٌ
لَمْ يَلِدْوَلَمْ يُلَدْ۳
وَلَمْ يَكُن لَّهُ,كُفُوًا أَحَدُ۶
Dengan menyebut nama Allah,Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
1. Katakanlah,”Dialah Allah,Yang Maha Esa”.
2. Allah yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan.
4. Dan tiada siapa pun yang setara dengan-Nya.
Surah Al-Ikhlas (atau Surah Qul huwallahu Ahad) merangkum rukun-rukun terpenting sebagai landasan misi (risalah) yang dibawa oleh Nabi Saw. Yaitu tiga hal: Pertama, tauhid dan tanzib bagi Allah (yakni mengesakan dan tidak melekatkan kepada-Nya sifat yang sama sepenuhnya dengan sifat makhluk atau sifat yang tak layak bagi-Nya). Kedua, penetapan batasan-batasan umum bagi penilaian segala perbuatan: yang baik dan yang buruk. Yaitu yang disebut Syariah. Ketiga, pelbagai keadaan yang mengangkut jiwa manusia setelah mati. Seperti kebangkitan kembali dan penerimaan balasan, baik yang berupa pahala maupun hukuman.
Rukun pertama adalah tauhid dan tanzib, guna mengeluarkan bangsa Arab dan bangsa-bangsa lainnya dari syirk(penyekutuan) dan tasybih (menyerupakan Allah dengan sesuatu). Ini adalah inti dari semua rukun, yang pertama dan paling utama di antara rukun-rukun iman. Maka dapatlah dikatakan bahwa perintah untuk menyampaikan kandungan surah ini, dikeluarkan Allah Swt. sebagai petunjuk pelaksanaan misi Nabi Saw.; dan untuk mengajarkan kepada manusia tentang aspek-aspek keimanan kepada Allah yang wajib mereka percayai.
Beberapa keterangan menyatakan bahwa surah ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan sebagian orang Arab kepada Nabi Saw: “Apa nasab Allah?” Namun, rasanya tidaklah perlu menunggu adanya pertanyaan seperti itu sehingga surah ini perlu diturunkan. Justru yang menjadi keperluan mereka yang sangat mendesak sebagaimana juga keperluan seluruh alam insani adalah pengutusan Nabi Saw. guna menyampaikan penjelasan tentang Allah Swt. terutama kepada kaum musyrik dari bangsa Arab dan Ahlul Kitab yang tercakup dalarn satu surah pendek seperti ini, dengan susunan kalimat yang amat ringkas dan padat.
Berdasarkan hal itu, tidaklah mengherankan adanya hadis yang menyatakan bahwa Surah Al-Ikhlas seimbang dengan sepertiga Al-Quran. Siapa saja yang benar-benar mengerti maknanya, dan daya persepsinya mampu menangkap pelbagai isyarat di dalamnya, seperti yang dapat ditangkap oleh seorang yang memandang dengan mata hatinya yang telah tercerahkan, niscaya akan mendapati bahwa ayatayat Al-Quran lainnya yang membicarakan tentang tauhid dan tanzib, pada hakikatnya hanya merupakan rincian uraian dari pengertian yang dapat disimpulkan dari Surah Al-Ikhlas ini.
Ayat قل هو Katakan, “Dialah....”Yakni, informasi yang kebenarannya sudah pasti, dan yang didukung oleh bukti rasional yang tak ada sedikit pun keraguan padanya, bahwa اللّه أحد Allah adalah Esa. Kata ahad berarti sesuatu yang tunggal dalam zatnya; tidak tersusun dari pelbagai substansi yang berbeda-beda. Ia bukan materi, dan tidak pula berasal dari pelbagai unsur nonmateri. Jadi, ia tidak seperti diperkirakan secara keliru oleh sebagian para ahli agama-agama, yang menganggap bahwa Tuhan berasal dari dua unsur aktif, atau dari tiga unsur yang manunggal meskipun berbeda-beda (baik anggapan seperti itu dapat dicerna oleh akal maupun tidak). Namun yang benar adalah bahwa Allah Maha Tersucikan dari penyifatan seperti itu. Semua orang berakal, secara keseluruhan, telah bersepakat bahwa Pencipta alam semesta ini yaitu Allah adalah Dzat yang, wajib al-wujud (yakni keberadaan-Nya merupakan sesuatu yang tidak boleh tidak, atau suatu aksioma). Secara aksiomatis pula, sifat wajib al-wujud ini mengharuskan adanya ketunggalan dalam Dzat. Karena adanya kemajemukan Dzat yang saling berbeda, niscaya mengharuskan ketergantungan kesatuannya kepada masing-masing bagian. Dan jika demikian halnya, maka kesatuan tersebut yang dinamakan Allah atau Pencipta alam tidak akan bersifat wajib al-wujud.
Demikian pula, masing-masing bagian itu tidak mungkin menjadi wajib al-wujud, sebab masing-masing memiliki ciri khas yang membedakannya dari yang lain. Dan dengan adanya ciri khas tersebut, maka tentunya dapat dinyatakan bahwa masing-masing bagian terbentuk dari unsur-unsur tertentu yang berlainan. Sedangkan sesuatu yang terbentuk dari pelbagai unsur, tidak mungkin menjadi wajib al-wujud, seperti telah dijelaskan di atas. Maka tak ada kemungkinan lain kecuali yang wajib al-wujud itu hanya satu saja. Yaitu Allah satu-satu-Nya.
Di samping itu segala sesuatu di alam ini, yang dapat dijangkau oleh akal dan indra kita, berada dalam satu sistem sebagian darinya berkaitan secara sempurna dengan yang lainnya membuktikan bahwa Penciptanya adalah tunggal. Oleh karena itu, ucapan sebagian orang tentang adanya bermacam-macam ‘tuhan’ (atau pencipta) bagi alam ini, hanya merupakan waham (angan-angan kosong atau persangkaan keliru) belaka, sehingga akal hams benar-benar terbebas darinya.
Kata ahad tidak disertai kata sandang al (menjadi al-ahadatau yang tunggal). Sebab, tujuannya di sini adalah untuk menegaskan bahwa Allah adalah wahid (esa, tunggal) dalam Dzat-Nya, bukan untuk menyatakan bahwa tidak ada 'yang satu’ (yang sendiri) selain Dia. Kesatuan (atau kesendirian) dapat menjadi sifat bagi siapa saja. Adakalanya kita berkata, لا أحد في الدّار “Tak ada ‘satu orang’ pun (no one) di dalam rumah.” Sedangkan yang dipercayai secara keliru oleh orang-orang yang kepada mereka ayat-ayat ini ditujukan, ialah adanya kemajemukan dalam Dzat-Nya. Maka Allah Swt. ingin menyangkal kepercayaan keliru tersebut, dengan menegaskan bahwa Ia adalah tunggal (esa) dalam Dzat-Nya. Penegasan seperti ini jelas berlawanan dengan kepercayaan kaum Majusi tentang adanya dua 'oknum', atau kepercayaan para penganut agama tertentu selain mereka, tentang adanya ‘tiga oknum’ (trinitas) dalam dzat asli Tuhan. [1]
Dan firman Allah Ta’ala:(الله الصمد)Allah adalah Rabb yang bergantung kepda-Nya segala urusan” Ikrimah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas:”Yakni Rabb yang bergantung kepada-Nya semua makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan dan permintaan mereka .”Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Dia adalah Rabb yang benar-benar sempurna dalam kewibawaan –Nya dan Mahamulia yang benar-benar sempurna dalam kemuliaan-Nya, Mahaagung yang benar-benar sempura dalam keagungan-Nya, Maha Penyantun yang benar-benar sempurna dalam kesanantunan-Nya, Maha mengetahui yang yang benar-benar sempurna dalam keilmuan-Nya Maha Bijaksana yang benar-benar sempurna dalam kebijaksanaan-Nya.Dan Dia adalah Rabb yang telah sempurna dalam semua macam kemuliaan dan kewibawaan-Nya. Dia adalah yang Maha Suci.Semuanya itu merupakn sifat-Nya yang tidak pantas disandang kecuali hanya oleh-Nya, tidak ada yang menandingi-Nya, serta tidak ada sesuatu pun yang setara denagn-Nya.Aha Suci Allah yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa.[2]
Kesimpulannya ayat ini menegaskan bahwa kebutuhan apa saja yang ada dalam wujud semesta ini tidak akan ditujukan selain kepada Allah (Ash-shamad). Dan bahwa tidak seorang pun yang membutuhkan sesuatu diperkenankan menuju sesuatu dalam upaya memenuhi kebutuhannya itu selain Allah SWT. Ayat ini menegaskan bahwa segala akibat bermuara pada-Nya, dan segala yang berlangsung dialam semesta ini, Dialah yang mnjadikannya. Dan bahwa manusia, sebagai makhluk yang diberi-Nya kemampuan ber-ikhtiar (kebebasan memilih atau berkehendak) apabila ingin memperoleh suatu hasil dari usahanya,maka ia harus mencari dan melaksanakan cara setepatnya yang berkaitan dengan hal itu.yaitu sesuai dengan perintah Allah kepadanya, agar meneliti, memerhatikan dan memikirakan tentang makhluk-makhluk-Nya. Supaya dengan demikian ia dapat mengetahui bagaimana berlangsungnya wujud yang dikaruniakan Allah SWT. dari berbagai urutan sebab-sebabnya kepada akibat-akibatnya. Sehingga pada akhirnya ia menyandarkan segala sesuatu kepada pewujudnya pertama kali, yaitu al-amr al-ilahiy (perintah illahi) berkaitan dengan kejadiannya.[3]
Ayat (لَمْ يَلِدْ ولم يولد) Tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.Maha Tersucikan Alah SWT.daripada beranak .Ayat ini menunjuk kepada naifnya pendapat orang-orang tertentu yang mengatakan bahwa Allah mempuyai putra atau putri.Mereka itu adalah kaum musyrik dari bangsa Arab, Hindu, Nasrani dan lainny. Ayat ini menjelaskan kepada mereka bahwa untuk mempunyai seorang anak, diperlukan adanya proses beranak atau melahirkan.(menggunakan kata memancarkan dan sebagainya sebagai pengganti kata beranak tidak mengubah makna tersebut). Sedangkan proses melahirkan hanya dapat dialami oleh makhluk hidup yang memiliki watak dan tabiat. Dan yang demikian itu hanya ada pada sesuatu yang terbentuk dari berbagai elemen, yang pada saatnya akan mengalami kefanaan .Sedangkan Allah SWT. Maha Tersucikan dari keadaan seperti itu.
Ayatولم يولد) ( dan tiada diperanakkan. Firman Allah ini menyanggah pendapat menyesatkan dari sebagian pemeluk berbagai agama tertentu, yang menyatakn bahwa seorang putra Tuhan adalah Tuhan juga: kepadanya ditujukan penyembahan seperti kepada Tuhan, dan ia dijadikan tumpuan permohonan seperti yang berlaku pada tuhan juga. Bahkan kaum ekstream dari mereka tidak segan-segan menyebut ibundanya sebagai ‘Ibunda Suci dari Tuhan’. Padahal seorang yang diperanakkan adalah termasuk sesuatu yang hadits (yang baru tercipta, bukan sesuatu yang azali) dan tidak akan terwujud kecuali dengan watak dan tabiat tertentu. Dan yang demikian itu pada saatnya pasti akan mengalami kefanaan. Oleh karena itu, pernyataan dari mereka bahwa ‘putra Tuhan’ itu bersifat azali seperti ayahnya juga, adalah sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal, di samping tidak mengubah apapun dari hakikat tersebut.
Maka apabila seseorang ingin mensucikan Allah dari segala kesamaan dengan makhluk-Nya, taka da jalan lain baginya selain berhenti sama sekali dari ucapan-ucapan seperti itu, lalu berkata seperti kita,”bahwa Allah adalah Maha Esa; yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”.
Ayat ولم يكن له كفوا أحد dan tak ada apa pun (atau siapa pun) yang setara dengan-Nya. Kata ‘kufu’, berarti sesuatu yang setara dan seimbang dengan sesuatu yang lainnya, dalam perbuatan dan kemampuan.Firman-Nya ini untuk menyanggah kepercayaaan melenceng dari sebagian orang yang menganggap adanya lawan yang setara dan seimbang bagi Allah, yang senantiasa bertentangan dengan-Nya dalam tindakan-tindakan-Nya. Kepercayaan seperti, hampir sama dengan kepercayaan sebagian penyembah berhala berkenaan dengan setan, misalnya.Dengan demikian, surah ini menafikan segala jennies kemusyrikan dan penyekutuan, dan menegaskan semua dasar tauhid dan tanzib.
Di bagian lain dari Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman secara lebih rinci tentang tema seperti ini, yang dalam surah ini diuraikan-Nya secara ringkas. Diantaranya, Mereka berkata: Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak. ”Sungguh,kamu telah mendatangkan suatu perkara yang sangat mungkar. Langit nyaris pecah karena ucapan itu, bumi belah dan gunung-gunung runtuh; karena mereka mendakwa Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Sungguh tidak layaklah bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil anak. Tak seorang pun dilangit dan dibumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan teliti.Dan semua mereka akan datang kepada- Nya pada Hari Kiamat secara sendiri-sendiri…(QS. Maryam[19]:88-95).
Dan Firman-Nya yang lain, Mereka (orang-orang kafir), berkata”Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah! Bahkan segala yang ada dilangit dan dibumi adalah kepunyaan Allah;semua tunduk kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]:116).
Dan Firman-Nya lagi, Dan mereka berkata,”Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil(mempunyai) anak.”Maha Suci Allah! Sesungguhnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamaba yang dimuliakan.Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan, dan mereka mengerjakan apa saja yang ia perintahkan.(QS. Al-Anbiya’[21];26-27).[4]
B. Tafsir Qur’an Surah Ar-Rum ayat 50-51
فَانْظُرْالَىٰٓءَاثٰرِرَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْىِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْى الْمَوْتىٰ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ۵۰
وَلَئِنْ أَرْسَلْنَا رِيْحًا فَرَأَوْهُ مُصْفُرًّا لَّظَلُّواْ مِنۢ بَعْدِهࣦيَكْفُرُونَ۵۱
Ayat 50
“maka, lihatlah kepada bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi sesudah kematiannya. Sesungguhnya (Allah) itu benar- benar menghidupkan yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Ayat diatas menguraikan sekelumit dari dampak turunnya hujan yang dibicarakan oleh ayat yang lalu, sekaligus bukti-bukti yang dapat ditarik dari hal-hal tersebut. Allah berfirman: Maka, lihat dan perhatikan-lah kepada bekas-bekas tanda-tanda serta dampak-dampak rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi sesudah kematiannya. Sesungguhnya Allah yang melakukan hal-hal yang demikian tinggi dan hebat itu. Benar-benar Mahakuasa menghidupkan apa dan siapapun yang mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Penggunaan kata ila (kepada)setelah kata fanzur (maka lihatlah)untuk mengisyaratkan bahwa, sepanjang mata memandang dan sampai batas akhirnya, seseorang selalu akan menemukan rahmat Allah betapapun jauh dan luasnya jangkauan mata dan perhatiannya. Ini karena kata iladigunakan dalam arti batas akhir.Seandainya ayat diatas menyatakan lihatlah bekas-bekas rahmat Allah, makna leluasa dan batas akhir itu tidak akan diperoleh.
Kata atsar adalah bentuk jamak dari kata atsar, yaitu bekas yang menjadi bukti tentang sesuatu yang menjadikan atau mengakibatkannya. Bekas-bekas atau hal-hal yang terlihat indah sesuatu dan memuaskan merupakan bukti adanya rahma Allah Swt. Bukti-bukti yang dimaksud sangat banyak, sebagaimana ditunjuk oleh bentuk jamak kata ini. Cara Allah menumbuhkan pepohonan di tanah yang gersang, lalu tumbuh dan berkembangnya aneka tumbuhan akibat turunnya hujan, yang merupakan salah satu bekas rahmat Allah, mengandung banyak sekali bukti-bukti tentang rahmat dan wujud-Nya.
Ayat diatas antara lain mengandung pembuktian tentang adanya hari kebangkitan. Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa kamu sekalian melihat bahwa tanah yang gersang, mati, beralih melahirkan tumbuh-tumbuhan yang hidup segar atas kuasa Allah. Jika itu dapat terjadi sebagaimana kamu lihat. Apa yang menghalangi hidupnya kembali manusia-manusia setelah kematiannya? Bukankah semua berada dibawah kuasa Allah dan Allah mahakuasa atas segala sesuatu?
Ayat 51
“Dan jika kami mengirimkan angin lalu mereka sesudahnya melihat kuning, maka pasti mereka akan tetap mangkufurinya”
Setelah ayat yang lalu menggambarkan bagaimana angin mengarak awan sehingga hujan turun dan bagaimana manusia durhaka menyambutnya setelah sekian lama mereka menanti, kini melalui ayat di atas Allah menggambarkan bagaimana jika angin yang dikirim Allah itu adalah angin yang membawa bencana. Ayat di atas menyatakan: dan jika Kami mengirim angin yang membawa bencana kepada tumbuh-tumbuhan mereka, seperti angin panas yang membakar, lalu mereka sesudahnya, yakni begitu selesai melihatnyamenjadi kuning kering dan layu, maka pasti mereka akan tetap dan terus-menerus mengkufuri Allah dan nikmat-nikmat-Nya.[5]
Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Ubaidullah bin ‘Amr berkata; “Angin itu ada delapan; empat di antaranya mengandung rahmat dan empat lainnya mengandung adzab”. Empat angin yang mengandung rahmat adalah an-Naasyiraat, al-Mubasysyiraat, al-Mursalaat dan adz-Dzaariyaat. Sedangkan angin yang mengandung adzab adalah ‘Aqiim dan Sharshardi daratan serta ‘Aashif dan Qaashif di lautan.
Jika Allah Swt. menghendaki, niscaya Dia menggerakkannya dengan gerakan rahmat, hingga menjadi lapang, rahmat, gembira dari kasih sayang-Nya, dibawa oleh awan yang berisi air, seperti laki-laki memancarkan air maninya kepada wanita hingga hamil. Dan jika Dia menghendaki, niscaya Dia menggerakkannya dengan gerakan adzab dengan menjadikannya mandul dan mengandung siksaan yang pedih serta menjadikannya siksa bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Lalu Dia menjadikannya angin Sharshar (gemuruh), ‘Aatiya(sangat dingin) dan merusak apa saja yang dijangkaunya. Angin-angin itu berbeda-beda dalam hembusannya, ada yang keras dan ada yang sepoi-sepoi, berhembus dari selatan dan dari utara, sehingga lebih besar perbedaannya dalam masalah manfaat dan pengaruhnya. Angin yang lembut dan basah mampu memperkuat tumbuh-tumbuhan dan tubuh-tubuh hewan, sedangkan angin yang lain mengeringkannya. Angin yang lain dapat menggerakkan dan mengeraskannya, yang lainnya dapat memperkuat dan memperkokohnya dan yang lain dapat meringankan dan melemahkannya. [6]
Kata mushfarran terambil dari kata ashfar, yakni kuning. Jika kata ini menyifati tumbuhan, maknanya kering dan layu. Bahasa Arab menggunakan kata shuffaruntuk menamai tumbuhan yang tertimpa hama sehingga rusak. Kata min yang menyertai kata ba’dihi/sesudahnya mengisyaratkan cepatnya sikap buruk mereka itu. Yakni, langsung begitu selesai mereka melihat tumbuhan layu terbakar.
Ayat di atas menguraikan sekali lagi sikap buruk kaum musyrikin yang begitu mudah terombang-ambing. Ini menunjukkan mantapnya kekufuran di dalam hati mereka, dan betapa hal-hal yang bersifat material menjadi tolak ukur kebahagiaan dan kekecewaan mereka. Ketika tumbuhan menghijau memberi harapan tentang panen yang berhasil, mereka bergembira, tetapi ketika terjadi tanda-tanda kegagalan panen, mereka menggerutu dan berputus asa.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Muhammad. 1998. Tafsir Juz ‘Amma. Terj. Muhammad Bagir. Bandung: Mizan.
Abdullah. 2004. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 7 Terj. M. Abdul Ghoffar. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Abdullah. 2004. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 8 Terj. M. Abdul Ghoffar. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Volume 10. Jakarta: Lentera Hati.
[1] Muhammad ‘Abduh, Tafsir Juz ‘Amma, Terj. Muhammad Bagir, (Bandung: Penerbit Mizan, 1998), hlm 363-366
[2] Abdullah, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 8, Terj. M. Abdul Ghoffar, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2005), hlm 574
[3]Muhammad ‘Abduh, Tafsir Juz ‘Amma, Terj. Muhammad Bagir, (Bandung: Penerbit Mizan, 1998), hlm 366
[4] Muhammad ‘Abduh, Tafsir Juz ‘Amma, Terj. Muhammad Bagir, (Bandung: Penerbit Mizan, 1998), hlm 368-369
[5]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, Volume 10, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 255-256
[6]Abdullah, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 7, Terj. M. Abdul Ghoffar, (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2005), 236-237
[7]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, Volume 10, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm 257
0 Response to "Tafsir Surah Al-Ikhlas dan Ar-Rum ayat 50-51"
Posting Komentar