KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA

Dalam pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, telah melakukan berkali-kali penyempurnaa dalam ejaan.
Antara lain yag dibahas dalam ejaan yang disempurnakan itu adalah penulisan kata, yang dimana penulisan kata itu memiliki porsi yang berpengaruh dalam penulisan, penulisan kata yang benar akan membuat kalimat-kalimat yang kita buat menjadi padu, efektif, dan enak dibaca.
Dalam penulisan kata membahas berbagai bentuk kata, seperti kata dasar, turunan, ulang, kata ganti, kata depan, gabungan kata, singkatan dan angka dan lambang bilangan.


A.    Penulisan kata

    1.         Kata ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan kata hubung. Pemakaian angka dua untuk menyatakan bentuk pengulangan, hendaknya dibatasi pada tulisan cepat atau pencatatan saja. Pada tulisan yang memerlukan keresmian, kata ulang ditulis secara lengkap.[1]
Pengulangan kata dapat dilakukan terhadap kata dasar, kata berimbuhan, maupun kata gabung. Kata yang terbentuk sebagai hasil dari proses pengulangan ini biasa dikenal dengan nama kata ulang.[2]
Dilihat dari hasil pengulangan itu dapat dibedakan adanya empat macam  
kata ulang, yaitu: kata ulang utuh atau murni, kata ulang berubah bunyi, kata ulang sebagian dan kata ulang berimbuhan.
a.       Kata ulang murni adalah kata ulang yang bagian perulangannya sama dengan kata dasar yang diulangnya.
Misalnya:
Rumah-rumah 
Bentuk dasar : rumah
Makan-makan
Bentuk dasar : makan
Cepat-cepat
Bentuk dasar : cepat
Satu-satu
Bentuk dasar : satu
Kalau-kalau
Bentuk dasar : kalau

b.   Kata ulang berubah bunyi adalah kata ulang yang bagian perulanganya terdapat perubahan bunyi, baik bunyi vocal maupun konsonan.
Misalnya:
Bolak-balik
Larak-lirik
Tindak-tanduk
Serba-serbi
Kelap-kelip
       Perubahan vocal:






                   Perubahan konsonan:
Sayur-mayur
Lauk-pauk
Ramah-tamah
Cerai-berai



c.    Kata ulang sebagian, yaitu kata ulang yang perulangan hanya terjadi pada suku kata awalnya saja dan disertai dengan penggantian vokal suku pertama itu dengan bunyi e pepet.[3]
Misalnya:
Leluhur
Bentuk dasar: luhur
Lelaki
Bentuk dasar: laki
Tetangga
Bentuk dasar: tangga
Peparu
Bentuk dasar: paru
Tetumbuhan
Bentuk dasar: tumbuhan

d.   Kata ulang berimbuhan, yaitu kata ulang yang disertai dengan pemberian imbuhan. Menurut proses pembentukannya ada tiga macam kata ulang berimbuhan, yaitu:
1)      Sebuah kata dasar mula-mula diberi imbuhan, kemudian baru diulang. Misal, dari kata dasar atur , mula-mula diberi akhiran –an sehingga menjadi aturan. Kemudian kata aturan ini diulang sehingga menjadi aturan-aturan. Contoh lain, bangunan-bangunan, kegiatan-kegiatan, pemimpin-pemimpin, pembongkaran-pembongkaran, peraturan-peraturan.

2)      Sebuah kata dasar mula-mula diulang, kemudian baru diberi imbuhan. Misal, dari kata lari mula-mula diulang sehingga menjadi lari-lari. Kemudian kata lari-lari diberi awalan ber- sehingga menjadi berlari-lari. Contoh lain, melihat-lihat, melompat-lompat, membolak-balik, mengaru-birukan.
3)      Sebuah kata dasar diulang dan sekaligus diberi imbuhan. Misalnya, pada kata dasar hari sekalgus diulang atau diberi awalan ber-  sehingga menjadi bentuk berhari-hari. Contoh lain, berton-ton, bermil-mil, bermeter-meter,berkubik-kubik, berbulan-bulan[4]

    2.    Gabungan Kata

a.       Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. [5]
Misalnya:

Bentuk Tidak Baku
Bentuk Baku
Dayaserap
daya serap
Tatabahasa
tata bahasa
Kerjasama
kerja sama
Dutabesar
duta besar
                   Mejatulis
meja tulis
Orangtua
orang tua

b.   Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata yang dituliskan sebagai satu kata dituliskan serangkai.[6]
Misalnya:

Bentuk Tidak Baku
Bentuk Baku
mana kala
Manakala
sekali gus
Sekaligus
bila mana
Bilamana
dari pada
Daripada
apa bila
Apabila
segi tiga
Segitiga
pada hal
Padahal
halal bihalal
Hilalbihalal
sapu tangan
Saputangan
olah raga
Olahraga

c.       Gabungan kata, termasuk istilah  khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubungan untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.[7]
Misalnya:
Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapakkami, orang-tua muda.

                    Catatan:
1)        Bila bentuk diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf besar, diantara   kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).[8]
Misalnya:
                          non-RRC
           non-Indonesia
           pan-Islamisme

2)             Unsur maha dan peri dalam gabungan kata ditulis serangkai dengan berikutnya, yang berupa kata dasar. Akan tetapi, jika diikuti kata berimbuhan, kata maha dan peri itu ditulis terpisah.
Ada ketentuan khusus, yaitu kata maha yang diikuti oleh esa ditulis terpisah walaupun diikuti kata dasar.
Misalnya:
a)   Semoga Yang Mahakuasa merahmati kita semua.
b)   Jika Tuhan Maha Esa mengizinkan, saya akan ujian sarjana bulan depan.
c)   Kita harus memperhatikan perilaku yang baik.
d)  Segala tindakan kita harus berdasarkan peri kemanusiaan dan peri keadilan.[9]

     3.   Penulisan Partikel

a.    Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang
Mendahuluinya.[10]
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalahibukota Repubik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

b.   Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Satu kali pun engkau belum pernah datang kerumahku.

Catatan:
     Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Walaupunmiskin, ia selalu gembira
Sekalipunbelum memuaskan, hasil pekerjaan dapat dijadikan pegangan.
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya.

c.       Partikel per yang berati mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari   bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
  Misalnya:
              Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
           Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
           Harga kain ini Rp.2.000,00 per helai.[11]
           
    4.  Penulisan Singkatan dan Akronim
       Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a)      Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.[12]
Misalanya:                                    
            A.S. Kramawijaya
            Muh. Yamin
            Suman Hs.
            Sukanto S.A
            M.B.A.                        master of business administration
            M.Sc.                           master of science
            S.E.                             sarjana ekonomi
            S.Kar.                          sarjana karawitan
            S.K.M.                        sarjana kesehatan masyarakat
                                    Bpk.                            bapak
                                    Sdr.                             saudara
                                    Kol.                             kolonel

b)      Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
                        DPR                Dewan Perwakilan Rakyat
                        PGRI               Persatuan Guru Republik Indonesia
                        GBHN            Garis-garis Besar Haluan Negara
                        SMTP              Sekolah Menenga Tingkat Pertama
                        PT                    Perseroan Terbatas
                        KTP                 Kartu Tanda Penduduk[13]

c)      Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
            dll.                   dan lain-lain
            dsb.                 dan sebagainya
            dst.                  dan seterusnya
            hlm.                 halaman
            sda.                  sama dengan atas
            Yth.                 Yang terhormat
            a.n.                  atas nama
            d.a.                  dengan alamat
            u.b.                  untuk beliau
            u.p.                  untuk perhatian
            s.d.                  sampai dengan[14]

d)     Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
            Cu                   kuprum
            TNT                 trinitrotoluen
            cm                   sentimeter
            l                       liter
            kg                    kilogram
            Rp.(500,00)     (lima ratus) rupiah

       Akronim
    Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a)      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya:
  ABRI              Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
  LAN                Lembaga Adminitrasi Negara
  SIM                 Surat Izin Mengemudi[15]

b)      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gubungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
  Akabri:            Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
  Bappenas         Badan Perencanaan Pengembangan Nasioanal
  Iwapi               Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
  Kowani           Kongress Wanita Indonesia[16]
c)      Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
  Pemilu             Pemilihan Umum
  Radar              radio detecting and ranging
  Rapim              Rapat Pimpinan
  Rudal              Peluru Kedali

              Catatan:
             Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:
1.      Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
2.      Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

 5.    Penulisan Angka dan Lambang Bilangan

A.     Angka dipakai untuk menyatakan lambang, bilangan, atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab               : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi          : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C  (100), D (500), M(1.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.[17]

B.      Angka digunakan untuk menyatakan:
(i)                      Ukuran panjang, berat, luas, dan isi
(ii)                    Satuan waktu
(iii)                  Nilai uang, dan
(iv)                  Kuantitas
Misalnya:
0,5 sentimeter              tahun 1928                  2.000 Rupiah
5 kilogram                   17 Agustus 1945         50 dolar Amerika
4 meter persegi            Rp.5000,00                 10 paun Inggris
10 liter                         US$3.50*                    100 yen
1 jam 20 menit $5.10*                         10 persen[18]

*Tanda titik disini merupakan tanda desimal.

C.  Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169


D.  Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangann dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9 [19]

E.   Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
1.      Bilangan utuh
Misalnya:
    Dua belas                                12
    Dua puluh dua                        22
    Dua ratus dua puluh dua         222

2.      Bilangan pecahan
Misalnya:
    Setengah                                 ½
    Tiga perempat             ¾
    Satu Persen                             1%
    Satu dua persepuluh                1,2

F.   Penulisan lambang bilangan tingkatan dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
Paku Buwono X
Pada awal abad XX
Dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
Lihat Bab II, pasal 5
Dalam bab ke-2 buku itu
Di daera tingkat II
Di tingkat kedua gedung itu
Di tingkat ke-2 itu[20]

G.  Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti.
Misalnya:
Tahun ’50-an                                     (tahun lima puluhan)
Uang 5000-an                                   (uang lima ribuan)
Lima uang 1000-an                           (lima uang seribuan)

H.  Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya:
          Dayat menonton drama itu sampai tiga kali.
          Ahmad memesan lima bungkus salad buah.
Di antara 40 orang mukmin  yang hadir, ada 1 orang mukmin yang doanya  terkabulkan.

I.      Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
          Lima belas jamaah haji telah dipulangkan ke Indonesia.
          Icha mengundang 200 orang tamu.
          Bukan:                  
          15 jamaah haji telah dipulangkan ke Indonesia.
          Dua ratus orang tamu diundang oleh Icha.

J.     Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
          Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
          Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.



K.  Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti fakta dan kuitansi.
Misalnya:
          Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
          Di lemari itu tersimpan 100 buku dan majalah.
          Bukan:
          Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
          Di lemari itu tersimpan 100 (seratus) buku dan majalah.

L.   Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya: Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp.999,75 (Sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).[21]





DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. Cermati Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademik Pressindo, 1999.
Chaer, Abdul. Tata Bahasa Praktais Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2011.
Mansurudin, Sosilo. Mozaik Bahasa Indonesia. Malang: UIN-Maliki Press, 2010.
Syahroni, Ngalimun. Dkk. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Banjarmasin: Aswaja Pressindo, 2013.



[1]E. Zaenal Arifin dan S.Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarata: Akademik Pressindo, 1999), hlm. 152.
[2]Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hlm. 286.
[3]Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hlm. 287.
[4]  Loc, cit.
[5]E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarata: Akademik Pressindo, 1999), hlm. 153
[6]Ibid, hlm. 154
[7]Ngalimun Syahroni, dkk, Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, (Banjarmasin: Aswaja Pressindo, 2013), hlm. 109
[8]  E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarata: Akademik Pressindo, 1999), hlm. 156.
[9] Ibid, hlm. 157.
[10]Ngalimun Syahroni, dkk, Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, (Banjarmasin: Aswaja Pressindo, 2013), hlm. 111-112.
[11]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.32
[12]Loc,cit.
[13]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.32-33
[14]  Loc,cit.
[15]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.34
[16]Loc,cit.
[17]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.35
[18]Loc,cit.
[19]Ibid, hlm. 37
[20]  Loc,cit.
[21]Loc,cit.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!