KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA
Dalam pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, telah melakukan berkali-kali penyempurnaa dalam ejaan.
Antara lain yag dibahas dalam ejaan yang disempurnakan itu adalah penulisan kata, yang dimana penulisan kata itu memiliki porsi yang berpengaruh dalam penulisan, penulisan kata yang benar akan membuat kalimat-kalimat yang kita buat menjadi padu, efektif, dan enak dibaca.
Dalam penulisan kata membahas berbagai bentuk kata, seperti kata dasar, turunan, ulang, kata ganti, kata depan, gabungan kata, singkatan dan angka dan lambang bilangan.
A. Penulisan kata
1. Kata ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan kata hubung. Pemakaian angka dua untuk menyatakan bentuk pengulangan, hendaknya dibatasi pada tulisan cepat atau pencatatan saja. Pada tulisan yang memerlukan keresmian, kata ulang ditulis secara lengkap.[1]
Pengulangan kata dapat dilakukan terhadap kata dasar, kata berimbuhan, maupun kata gabung. Kata yang terbentuk sebagai hasil dari proses pengulangan ini biasa dikenal dengan nama kata ulang.[2]
Dilihat dari hasil pengulangan itu dapat dibedakan adanya empat macam
kata ulang, yaitu: kata ulang utuh atau murni, kata ulang berubah bunyi, kata ulang sebagian dan kata ulang berimbuhan.
a. Kata ulang murni adalah kata ulang yang bagian perulangannya sama dengan kata dasar yang diulangnya.
Misalnya:
Rumah-rumah | Bentuk dasar : rumah |
Makan-makan | Bentuk dasar : makan |
Cepat-cepat | Bentuk dasar : cepat |
Satu-satu | Bentuk dasar : satu |
Kalau-kalau | Bentuk dasar : kalau |
b. Kata ulang berubah bunyi adalah kata ulang yang bagian perulanganya terdapat perubahan bunyi, baik bunyi vocal maupun konsonan.
Misalnya:
Bolak-balik |
Larak-lirik |
Tindak-tanduk |
Serba-serbi |
Kelap-kelip |
Perubahan vocal:
Perubahan konsonan:
Sayur-mayur |
Lauk-pauk |
Ramah-tamah |
Cerai-berai |
c. Kata ulang sebagian, yaitu kata ulang yang perulangan hanya terjadi pada suku kata awalnya saja dan disertai dengan penggantian vokal suku pertama itu dengan bunyi e pepet.[3]
Misalnya:
Leluhur | Bentuk dasar: luhur |
Lelaki | Bentuk dasar: laki |
Tetangga | Bentuk dasar: tangga |
Peparu | Bentuk dasar: paru |
Tetumbuhan | Bentuk dasar: tumbuhan |
d. Kata ulang berimbuhan, yaitu kata ulang yang disertai dengan pemberian imbuhan. Menurut proses pembentukannya ada tiga macam kata ulang berimbuhan, yaitu:
1) Sebuah kata dasar mula-mula diberi imbuhan, kemudian baru diulang. Misal, dari kata dasar atur , mula-mula diberi akhiran –an sehingga menjadi aturan. Kemudian kata aturan ini diulang sehingga menjadi aturan-aturan. Contoh lain, bangunan-bangunan, kegiatan-kegiatan, pemimpin-pemimpin, pembongkaran-pembongkaran, peraturan-peraturan.
2) Sebuah kata dasar mula-mula diulang, kemudian baru diberi imbuhan. Misal, dari kata lari mula-mula diulang sehingga menjadi lari-lari. Kemudian kata lari-lari diberi awalan ber- sehingga menjadi berlari-lari. Contoh lain, melihat-lihat, melompat-lompat, membolak-balik, mengaru-birukan.
3) Sebuah kata dasar diulang dan sekaligus diberi imbuhan. Misalnya, pada kata dasar hari sekalgus diulang atau diberi awalan ber- sehingga menjadi bentuk berhari-hari. Contoh lain, berton-ton, bermil-mil, bermeter-meter,berkubik-kubik, berbulan-bulan[4]
2. Gabungan Kata
a. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. [5]
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku | Bentuk Baku |
Dayaserap | daya serap |
Tatabahasa | tata bahasa |
Kerjasama | kerja sama |
Dutabesar | duta besar |
Mejatulis | meja tulis |
Orangtua | orang tua |
b. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata yang dituliskan sebagai satu kata dituliskan serangkai.[6]
Misalnya:
Bentuk Tidak Baku | Bentuk Baku |
mana kala | Manakala |
sekali gus | Sekaligus |
bila mana | Bilamana |
dari pada | Daripada |
apa bila | Apabila |
segi tiga | Segitiga |
pada hal | Padahal |
halal bihalal | Hilalbihalal |
sapu tangan | Saputangan |
olah raga | Olahraga |
c. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubungan untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.[7]
Misalnya:
Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapakkami, orang-tua muda.
Catatan:
1) Bila bentuk diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf besar, diantara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).[8]
Misalnya:
non-RRC
non-Indonesia
pan-Islamisme
2) Unsur maha dan peri dalam gabungan kata ditulis serangkai dengan berikutnya, yang berupa kata dasar. Akan tetapi, jika diikuti kata berimbuhan, kata maha dan peri itu ditulis terpisah.
Ada ketentuan khusus, yaitu kata maha yang diikuti oleh esa ditulis terpisah walaupun diikuti kata dasar.
Misalnya:
a) Semoga Yang Mahakuasa merahmati kita semua.
b) Jika Tuhan Maha Esa mengizinkan, saya akan ujian sarjana bulan depan.
c) Kita harus memperhatikan perilaku yang baik.
d) Segala tindakan kita harus berdasarkan peri kemanusiaan dan peri keadilan.[9]
3. Penulisan Partikel
a. Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang
Mendahuluinya.[10]
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalahibukota Repubik Indonesia.
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun sudah tak ada kendaraan.
Satu kali pun engkau belum pernah datang kerumahku.
Catatan:
Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun ditulis serangkai.
Misalnya:
Walaupunmiskin, ia selalu gembira
Sekalipunbelum memuaskan, hasil pekerjaan dapat dijadikan pegangan.
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya.
c. Partikel per yang berati mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
4. Penulisan Singkatan dan Akronim
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
Misalanya:
A.S. Kramawijaya
Muh. Yamin
Suman Hs.
Sukanto S.A
M.B.A. master of business administration
M.Sc. master of science
S.E. sarjana ekonomi
S.Kar. sarjana karawitan
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
Bpk. bapak
Sdr. saudara
Kol. kolonel
b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
GBHN Garis-garis Besar Haluan Negara
SMTP Sekolah Menenga Tingkat Pertama
PT Perseroan Terbatas
KTP Kartu Tanda Penduduk[13]
c) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
hlm. halaman
sda. sama dengan atas
Yth. Yang terhormat
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
d) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
cm sentimeter
l liter
kg kilogram
Rp.(500,00) (lima ratus) rupiah
Akronim
Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
a) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya:
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Adminitrasi Negara
SIM Surat Izin Mengemudi[15]
b) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gubungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri: Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas Badan Perencanaan Pengembangan Nasioanal
Iwapi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia
Kowani Kongress Wanita Indonesia[16]
c) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
Pemilu Pemilihan Umum
Radar radio detecting and ranging
Rapim Rapat Pimpinan
Rudal Peluru Kedali
Catatan:
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut:
1. Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia.
2. Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
5. Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
A. Angka dipakai untuk menyatakan lambang, bilangan, atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M(1.000)
Pemakaiannya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.[17]
B. Angka digunakan untuk menyatakan:
(i) Ukuran panjang, berat, luas, dan isi
(ii) Satuan waktu
(iii) Nilai uang, dan
(iv) Kuantitas
Misalnya:
0,5 sentimeter tahun 1928 2.000 Rupiah
5 kilogram 17 Agustus 1945 50 dolar Amerika
4 meter persegi Rp.5000,00 10 paun Inggris
10 liter US$3.50* 100 yen
1 jam 20 menit $5.10* 10 persen[18]
*Tanda titik disini merupakan tanda desimal.
C. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169
D. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangann dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
E. Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
1. Bilangan utuh
Misalnya:
Dua belas 12
Dua puluh dua 22
Dua ratus dua puluh dua 222
2. Bilangan pecahan
Misalnya:
Setengah ½
Tiga perempat ¾
Satu Persen 1%
Satu dua persepuluh 1,2
F. Penulisan lambang bilangan tingkatan dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
Paku Buwono X
Pada awal abad XX
Dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
Lihat Bab II, pasal 5
Dalam bab ke-2 buku itu
Di daera tingkat II
Di tingkat kedua gedung itu
Di tingkat ke-2 itu[20]
G. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti.
Misalnya:
Tahun ’50-an (tahun lima puluhan)
Uang 5000-an (uang lima ribuan)
Lima uang 1000-an (lima uang seribuan)
H. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya:
Dayat menonton drama itu sampai tiga kali.
Ahmad memesan lima bungkus salad buah.
Di antara 40 orang mukmin yang hadir, ada 1 orang mukmin yang doanya terkabulkan.
I. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas jamaah haji telah dipulangkan ke Indonesia.
Icha mengundang 200 orang tamu.
Bukan:
15 jamaah haji telah dipulangkan ke Indonesia.
Dua ratus orang tamu diundang oleh Icha.
J. Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
K. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti fakta dan kuitansi.
Misalnya:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 100 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 100 (seratus) buku dan majalah.
L. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya: Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp.999,75 (Sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).[21]
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. Cermati Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademik Pressindo, 1999.
Chaer, Abdul. Tata Bahasa Praktais Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2011.
Mansurudin, Sosilo. Mozaik Bahasa Indonesia. Malang: UIN-Maliki Press, 2010.
Syahroni, Ngalimun. Dkk. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Banjarmasin: Aswaja Pressindo, 2013.
[1]E. Zaenal Arifin dan S.Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarata: Akademik Pressindo, 1999), hlm. 152.
[3]Abdul Chaer, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hlm. 287.
[5]E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarata: Akademik Pressindo, 1999), hlm. 153
[7]Ngalimun Syahroni, dkk, Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, (Banjarmasin: Aswaja Pressindo, 2013), hlm. 109
[8] E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarata: Akademik Pressindo, 1999), hlm. 156.
[10]Ngalimun Syahroni, dkk, Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, (Banjarmasin: Aswaja Pressindo, 2013), hlm. 111-112.
[11]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.32
[12]Loc,cit.
[13]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.32-33
[15]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.34
[17]Susilo Mansurudin, Mozaik Bahasa Indonesia, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010}, hlm.35
[18]Loc,cit.
[20] Loc,cit.
0 Response to "KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA"
Posting Komentar