KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISME DAN ALIRAN PSIKOLOGI GESTALT


Era setelah terjadinya revolusi ilmu jiwa, kajian selanjutnya untuk area ini dinamakan ilmu jiwa modern. Revolusi dalam ilmu jiwa itu sendiri terjadi bukan dengan serta merta alias begitu saja. Revolusi berlangsung seiring dengan kemajuan berpikir manusia. Hal utama yang mendasari revolusi ilmu jiwa adalah adanya ketidakpuasan konsep atau penjelasan-penjelasan berkisar ilmu jiwa waktu itu. Waktu itu ilmu jiwa masih bernaung di bawah filsafat sehingga sepak terjang untuk menuju kepada kemajuan terbatas.
Munculnya ilmu jiwa modern dipelopori oleh seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman bernama Wilhem Wundt pada tahun 1875. Wundt berhasil mengumpulkan bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai bahan penyelidikan ilmiah dalam ilmu jiwa. Untuk mendukung revolusinya itu, Wundt juga mendirikan laboratorium psikologi di kota Leipzig. Masa ini disepakati oleh para ahli psikologi merupakan titik tolak terjadinya revolusi ilmu jiwa sehingga dilahirkan ilmu jiwa modern.
Perbedaan khas antara ilmu jiwa modern dan ilmu jiwa sebelum revolusi di antaranya adalah psikologi modern telah terlepas dari filsafat, psikologi modern telah mempunyai metode penyelidikan tertentu, dan psikologi modern mempunyai cara tertentu di dalam objek yang diselidiki meski objeknya sebagian masih tetap kesadaran.[1]Ada beberapa aliran yang muncul dalam psikologi modern, di antaranya yaitu aliran psikologi Behaviorisme yang disebut sebagai aliran psikologi yang kehilangan jiwanya sama sekali, sehingga ia bukan lagi ilmu jiwa, melainkan ilmu perilaku dan aliran psikologi Gestalt.[2]

Aliran Psikologi Behaviorisme

Menurut kamus psikologi, behaviorisme adalah aliran psikologi yang menolak studi kesadaran yang memerlukan subjek materi yang dapat diukur secara reliabel yang mana subjek materi itu adalah perilaku. Behaviorisme juga diartikan sebagai pandangan dalam teori belajar yang menekankan kemampuan kognitif[3][4]yang menentukan perilaku seseorang dalam belajar, mengingat, dan berpikir.[5]
Behaviorisme artinya serba tingkah laku. Psikologi behaviorisme atau ilmu jiwa tingkah laku adalah psikologi tingkah laku dan menekankan pada tingkah laku.5 Dapat dikatakan juga bahwa ilmu jiwa behaviorisme ialah ilmu jiwa yang mendasarkan penyelidikannya atas dasar pendapat bahwa jiwa itu tidak ada. Yang ada hanyalah tingkah laku yang dapat kita amati dari luar dengan indera.[6]
Aliran psikologi behaviorisme adalah aliran psikologi tentang tingkah laku yang sifatnya radikal, yaitu ketika menyamakan tingkah laku manusia dengan binatang dari insting atau bawaannya, sehingga tingkah laku keduanya dapat dikondisikan. Aliran ini menolak berbagai bentuk pengalaman dalam kesadaran.7
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai objek studi dari psikologi dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Ini juga berarti bahwa behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.[7]

Aliran Psikologi Behaviorisme

Munculnya aliran behaviorisme (ilmu jiwa tingkah laku) dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu: akibat memuncaknya perkembangan ilmu pasti alam dan industrialisasi di Amerika, hasil penyelidikan Ivan Pavlov seorang ahli berkebangsaan Rusia tentang psikologi refleks, adanya dua aliran yang bertentangan di Amerika, yaitu struktualisme dan functionalisme, kepopuleran filsafat fragmatisme di Amerika yang dicetuskan oleh William James. 
Kemajuan ilmu pasti alam dan industrialisasi. Adanya kemajuan di bidang ilmu pasti alam dan industrialisasi berpengaruh terhadap pertumbuhan ilmu jiwa modern karena saat itu pemikiran dan pemecahan segala masalah yang dihadapi selalu menggunakan ilmu pasti alam, termasuk dalam meninjau dan menyelidiki jiwa manusia. Demikian halnya dengan adanya kemajuan industrialisasi orang tidak lagi bekerja hanya dengan tenaganya. Tetapi perhatian orang saat itu tertuju pada jalannya mesin-mesin karena mesin bekerjanya lebih pasti. Sejauh ini diketahui tidak ada jalan mesin yang menyalahi hukum-hukkum permesinan diakui jalan pemikiran dalam ilmu pasti alam dan mesin bersifat kaku, tetapi pasti dan selalu benar. Bertitik tolak dari hasil pemikiran seperti dalam ilmu pasti dan kinerja mesin tersebut, maka orang waktu itu mengira atau beranggapan segala persoalan hidup tentu dapat diselesaikan dengan pemikiran semacam itu, tidak terkecuali dalam permasalahan ilmu jiwa. . 
Hasil penyelidikan Ivan Pavlov tentang psikologi reflek. Ivan Pavlov adalah seorang psikolog berkebangsaan Rusia. Psikolog tersebut telah menyelidiki cara bekerjanya ludah. Penyelidikan Pavlov tersebut dinilai sangat baik atau sukses sehingga pada 1905 psikologi Rusia tersebut dianugerahi hadiah Nobel untuk ilmu psikologi “Refleks”. Pavlov bermaksud membawa hasil penyelidikannya itu ke dalam tanah psikologi psikologi modern sehingga kemudian dikenal dengan sebutan Psychiorefleksologie. Para ahli lain berpendapat pembaruan yang diusung Pavlov berdasarkan hasil penyelidikannya itu lebih tepat dinamakan Psychiorefleksologie. Pavlov menggunakan anjing yang dibiarkan lapar untuk melaksanakan percobaannya. Percobaan pertama yaitu dengan memasukkan anjing ke dalam kandang dengan dikondisikan agar anjing tersebut mudah melihat perangsang (makanan) yang diletakkan di luar kandang. Kelenjar ludah yang keluar dari mulut anjing tersebut  ditampung dan diukur dengan teliti. Percobaan kedua yaitu dalam sebuah kamar yang gelap. Anjing tersebut dirangsang dengan makanan yang diterangi sinar atau seberkas cahaya. Kadar air liur yang keluar sama dengan percobaan yang pertama. Kemudian pada percobaan ketiga, anjing itu diberi perangsang tetapi tidak berupa makanan, melainkan hanya seberkas sinar (cahaya) berwarna merah. Dari percobaan ketiga ini tetap memberikan kadar ludah yang sama dari percobaan pertama dan kedua. Kemudian pada percobaan keempat ternyata anjing tersebut tidak memberikan reaksi sama sekali ketika perangsangnya diganti oleh cahaya berwarna hijau. Berdasar hasil percobaan tersebut, Pavlov menyimpulkan bahwa adanya perangsang bersyarat, kelenjar-kelenjar yang lain pada anjing dapat mereaksi bersyarat jika anjing dilatih berulang-ulang secara teratur, binatang yang dilatih secara teratur dapat menari, melihat warna, dan lainlain, serta ilmu jiwa yang akan berhasil dengan baik dikemudian hari ialah ilmu jiwa yang mempunyai objek segala sesuatu yang tampak oleh indra dari luar.
Adanya dua aliran yang muncul saat itu, yakni strukturalisme dan fungsionalisme. Kedua aliran tersebut sesungguhnya saling bertentangan satu dengan yang lain, tetapi pengaruhnya sangat besar pada perkembangan behaviorisme. Aliran strukturalisme berpendapat bahwa jiwa adalah sesuatu yang statis. Objek yang menjadi bahan penyelidikannya ialah struktur gejala jiwa. Sementara aliran fungsionalisme berpendapat bahwa jiwa adalh sesuatu yang dinamis. Objek yang menjadi bahan penyelidikannya ialah tugas-tugas gejala di dalam kedinamisannya.[8]Selanjutnya, fungsionalisme berpendapat  bahwa proses kejiwaan itu selalu mempunyai tujuan tertetu, yaitu mencapai dan menyempurnakan jasad. Sehingga yang menjadi objek di dalam fungsionalisme ini hanya organisme, hanya tubuh, atau hanya apa yang tampak dari luar saja. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa aliran behaviorisme merupakan pelaksanaan yang sebenar-benarnya dari aliran fungsionalisme.10
Kepopuleran filsafat pragmatisme di Amerika yang dicetuskan oleh William James. Menurutnya, selama ini para ahli filsafat yang ada tidak memuaskan hatinya terutama mengenai jawaban mereka tentang pertanyaan
“Apakah yang dimaksud dengan benar?” Menurut James, yang dinamakan “benar” adalah sesuatu yang berguna bagi manusia (Teori Serbaguna). Lebih lanjut menurutnya bahwa sesuatu yang berguna adalah sesuatu yang dapat dipakai. Sesuatu yang dapat dipakai hanyalah sesuatu yang tampak. Alasan James seperti itu dapat memuaskan banyak orang sehingga dapat mempercepat penyebaran aliran psikologi behaviorisme.[9]

Aliran Psikologi Behaviorisme

 Ilmu jiwa behaviorisme ialah ilmu jiwa yang mendasarkan penyelidikannya atas dasar pendapat bahwa jiwa itu tidak ada. Yang ada hanya tingkah laku yang dapat kita amati dari luar dengan indera.  Adapun tokoh-tokoh dari aliran behaviorisme yang dapat memperlihatkan ciri dari aliran ini ialah William James dengan teori perasaannya, kemudian Thorndike dengan percobaan seekor kucing, dan J.B. Watson yang beranggapan bahwa tingkah laku manusia tidak lain ialah reflek yang tersusun.12 Meskipun faktorfaktor bawaan tidak diabaikan khususnya bagi Thorndike, para teoretikus aliran ini menaruh perhatian pada proses di mana individu menjembatani antara sederetan respon dan beraneka ragam stimulasi yang dijumpainya.[10]Adapun ciri-ciri utama aliran behaviorisme adalah: 
1.    Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan. Pengalaman batin dikesampingkan dan hanya perubahan dan gerak-gerik pada badan sajalah yang dipelajari. Maka sering dikatakan bahwa behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.
2.    Segala macam perbuatan dikembalikan pada refleks. Behaviorisme mencari unsur-unsur yang paling sederhana, yakni perbuatan-perbuatan bukan kesadaran atau yang dinamakan dengan refleks. Refleks adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu perangsang. Manusia dianggap kompleks[11]refleks atau suatu mesin reaksi.
3.    Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Menurut behaviorisme pendidikan adalah mahakuasa. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.[12]

Aliran Psikologi Gestalt

Kata gestalt diambil dar bahasa Jerman yang berarti bentuk, rupa, sosok, atau potongan.[13]Istilah gestalt dalam bahasa Inggris berarti form, shape, configuration, whole dan dalam bahasa Indonesia berarti bentuk, keseluruhan, esensi,totalitas, hal, peristiwa, dan hakikat.[14]Menurut kamus psikologi, gestalt ialah satu kesatuan terintegrasi[15]yang lebih besar (artinya) daripada jumlah bagiannya.19
Menurut aliran gestalt, yang utama bukanlah elemen, tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke dalam elemenelemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan adalah lebih dari sekadar penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya, dan bagianbagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan. Artinya, makna gestalt bergantung pada unsur-unsurnya dan sebaliknya arti unsur-unsur itu bergantung pula pada gestalt.
Psikologi gestalt memandang keberadaan totalitas batiniah yang terorganisasi yang memosisikan totalitas sebagai sesuatu yang utama atau primer, sedangkan elemen-elemen kejiwaan merupakan sesuatu yang sekunder. Dengan demikian, totalitas struktur dan gestalt melebihi keberasaan elemen-elemen yang terorganisasi. Gejala-gejala psikis yang khusus menurut gestalt merupakan totalitas dari seluruh keadaan psikis yang menentukan bangkitnya tenaga batiniah dalam psikis manusia.[16]Misalnya pada sebuah kelompok, kelompok yang lekat ditandai dengan munculnya karakter kelompok yang padu, kompak, serta harmonis. Artinya keseluruhan dan totalitas yang diperlihatkan oleh suatu kelompok merupakan hal yang lebih berarti dibanding dengan hanya sekadar menjumlahkan faktor-faktor pada tiap individu yang ada.[17][18] 
Aliran ini juga memandang bahwa jiwa manusia merupakan suatu kesatuan yang bulat, dan bukan tanggapan. Jiwa manusia bersifat hidup dan dinamis atau aktif berinteraksi dengan lingkungan.[19]

Aliran Psikologi Gestalt

Faham ini muncul di Jerman sebagai reaksi atas pendapat ahli strukturalisme. Ahli psikologi gestalt berpendapat manusia mempersepsi dunia dalam suatu keseluruhan.[20]
Latar belakang lahirnya ilmu jiwa Gestalt diawali oleh Plato dan Aristoteles yang telah menginsyafi bahwa jumlah bagian-bagian belum sama dengan keseluruhan yang merupakan kebulatan. Guthedan Schiller selalu menggunakan istilah Gestalt pada suatu keutuhan yang bulat. Sementara di sisi lain, banyak orang waktu itu merasa tidak puas lagi dengan ilmu jiwa asosiasi sebab gejala jiwa hanya diterangkan sebagai kumpulan dari tanggapan-tanggapan yang berkumpulnya hanya berlangsung secara otomatis mekanis menurut hukum-hukum asosiasi. Berkaitan dengan semua hal itu ilmu jiwa Gestalt berpendapat bahwa dengan teori mekanistis tersebut tidak dapat diterangkan gejala-gejala jiwa yang serba mengandung arti tersebut. Lain halnya dengan Wundt berpendapat bahwa diatas unsur-unsur yang terdapat pada gejala-gejala kejiwaan dengan asas sachopferischesynthese(hubungan yang menciptakan) artinya tiap-tiap gejala siswa tersusun lebih daripada jumlah bagian-bagiannya dan mempunyai ciri  umum yang tidak terdapat pada bagian-bagian itu sendiri.
Sebelum banyak orang menganut sepenuhnya ilmu jiwa Gestalt hal itu terjadi tidak dengan serta begitu saja, dengan melalui masa peralihan dari ilmu jiwa asosiasi keilmu jiwa Gestalt. Masa peralihan itu dapat digambarkan melalui empat (4) fase sebagai berikut: Pertama, ilmu jiwa Hebart yang terlalu bersifat otomatis mekanik. Kedua, ilmu jiwa Asosiasi yang agak modern ialah ilmu jiwa aotomistis dari John Stuart Mill. Ia berpendapat bahwa dalam proses kejiwaan terjadi dengan apa yang disebutnya  Mental Chemistry, yaitu jika terjadi gabungan dari beberapa tanggapan, hilang lah sifat-sifat yang terdapat pada masing-masing anggapan dan timbullah suatu hal baru yang sama sekali lain sifatnya dari tiap-tiap anggapan itu tadi. Ketiga, ilmu jiwa Wundt tentang schopferischesynthese seperti dikemukakan itu. Keempat, orang yang disebut sebut memelopori ilmu jiwa Gestalt, yaitu Ch. V. Ehrenfels yang mengadakan penyelidikan dalam hal pengamatan.
Ch. V. Ehrenfels membuat dua macam kesimpulan tentang hasil penyelidikannya, yaitu kebulatan adalah lebih mengandung arti dari pada jumlah bagian-bagian dan kebulatan selalu timbul lebih dahulu daripada bagian-bagian.Ia menarik kesimpulan tersebut darihasil-hasil penyelidikan yang telah dilakukan tentang pengamatan. Ch. V.Ehrenfels berpendapat bahwa ada peristiwa kejiwaan (pengamatan) yang tidak mungkin diterangkan dengan tanggapan-tanggapan yang masing-masing berdiri sendiri.
Hasil-hasil pengamatan tentang Gestalt yang telah dilakukan oleh Ch. V. Ehrenfels kemudian dibukukan dengan judul Uber Gestaltqualitaten pada 1890. Gestaltqualitaten artinya sesuatu yang tidak terdapat pada jumlah unsur-unsur tertentu yang menyebabkan Gestalt lebih berarti daripada jumlah bagian-bagiannya. Ch. V. Ehrenfels juga menjelaskan dalam buku tersebut tidak hanya hasil-hasil pengamatan dengan indera pengelihatan saja, tetapi juga hasil pengamatan-pengamatan menggunakan indra-indra  yang lainnya. Contohnya,  dalam mengamati suatu lagu tidak sama dengan jumlah atau kumpulan dari pada  not-not balok atau nada-nada saja. Tetapi, not-not yang terdapat pada sebuah lagu lebih mempunyai arti dari sekedar tulisan not-not balok. Oleh karena itu, suatu lagu yang dinyanyikan dengan interval yang sangat panjang akan kehilangan arti lagu itu. Demikian halnya jika lagu dinyanyikan dengan interval yang terpotong-potong. Lain halnya jika lagu tersebut dinyanyikan secara keseluruhan dan diulang-ulang. Sebab, dengan cara yang demikian itu indra pendengar kita dapat mengamati secara Gestalt 

Aliran Psikologi Gestalt

Sebagian besar  terminologi dan contoh-contoh yang menggambarkan psikologi gestalt berasal dari penelitian tentang proses sensorik dan perseptual.  Baru kemudian diperluas ke berbagai aktivitas psikologi lainnya. Dalam psikologi gestalt fokus interaksi manusia-lingkungan disebut lapangan perseptual. Karakteristik utama lapangan perseptual adalah organisasi, yang memiliki kecenderungan alami untuk distrukturkan sebagai figur dan latar. Dengan demikian, melihat tampilan-tampilan dominan dari bentuk dan wujud pada suatu latar belakang dalam lapangan perseptual adalah aktivitas internal spontan, bukan suatu keterampilan yang dipelajari. Kita memiliki predisposisi untuk melihat dengan cara demikian. Figur yang baik adalah figur yang lengkap, cenderung pada simetri, keseimbangan, dan proporsi. Contohnya, sebuah lingkarang memiliki Gestalt sempurna bila merupakan lingkaran utuh.
Figur yang tidak lengkap cenderung dilihat sebagai sesuatu yang lengkap dan karakteristik organisasional ini disebut ketertutupan (closure); contohnya, sebuah garis lengkung yang ujungnya tidak menyatu akan tetap dilihat sebagai lingkaran karena kecenderungan penuh pada ketertutupan.
Dengan demikian, menurut para Gestaltis organisasi yang menuntun pada makna adalah kunci stuktur perseptual kita. Selain ketertutupan ada juga kedekatan (proximity) dan kesamaan (similarity). Figur-figur terorganisasi bersifat stabil dan cenderung mempertahankan stabilitasnya sebagai keutuhan struktural terlepas dari perubahan-perubahan dalam karakteristik stimulus. Para gestaltis menyebutnya object constancy. Contohnya, seorang aktor yang dilihat di sebuah acara televisi tetap dilihat sebagai manusia, meskipun gambar tersebut hanya setinggi beberapa inci.
Dimensi penting dalam perbandingan antara figuratauobjek di lingkungan menurut para Gestaltis adalah hubungan antara bagian-bagian dari suatu figur, bukan karakteristik bagian tersebut. Jika aspek-aspek tertentu dari stimuli berubah, tetapi bukan hubungannya, persersinya tetap sama. Contohnya, tikus yang terlatih untuk merespon objek stimulus yang lebih terang dan besar dari dua objek stimulus tetap memilih stimulus yang lebih terang dan lebih besar di antara dua stimulus baru. Pengetahuan atas hubungan dominan dan perpindahan pengetahuan tersebut dari satu situasi pembelajaran ke situasi pembelajaran lainnya disebut transposisi, dan hal itu ditunjukkan berulang kali oleh beragam spesies yang diuji dengan menggunakan banyak parameter stimulus.[21]


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Bock, Wolfgang. 2007. Menafsir Mimpi. Yogyakarta: Kanisius. 
Brennan, James F.. 2012. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers.
Fitriyah, Lailatul dan Mohammad Jauhar. 2014. Pengantar Psikologi Umum.
Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Gunarsa, Singgih D. 2008. Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: Gunung Mulia.
Hall, Calvin S. dan Gardner Lindzey. 2012. Psikologi Kepribadian 3: Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius.
Hashim, Shahabuddin, dkk.. 2006. Psikologi Pendidikan. Kuala Lumpur: PTS Professional.
Husamah. 2015. Kamus Psikologi Super Lengkap. Yogyakarta: Andi Offset.
Marliany, Rosleny. 2010. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Prawira, Purwa Atmaja. 2012. Psikologi Umum dengan Perspektif Baru.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Qodratillah, Meity Taqdir, dkk.. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Qodratillah, Meity Taqdir, dkk.. 2011. Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Rakhmat, Jalaluddin. 2013. Psikologi Agama: Sebuah Pengantar. Bandung:
Mizan Pustaka.
Sujanto, Agus. 2014. Psikologi Umum. Surabaya: Bumi Aksara.
Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.


[1] Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Umum dengan Perspektif Baru, (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2012), hlm. 237-238
[2] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar, (Bandung: Mizan Pustaka, 2013), hlm. 11.
[3]Berdasarkan pada pengetahuan faktual yang empiris (Meity Taqdir Qodratillah, dkk.:
[4] ) 
[5] Husamah, Kamus Psikologi Super Lengkap, (Yogyakarta: Andi Offset, 2015), hlm. 44. 5 Purwa Atmaja Prawira, op.cit, hlm. 238
[6] Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Surabaya: Bumi Aksara, cet.17, 2014), hlm. 16  7Rosleny Marliany, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 112. 
[7] Lailatul Fitriyah dan Mohammad Jauhar, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2014), hlm. 42.
[8] Purwa Atmaja Prawira, op.cit, hlm. 245 10 Agus Sujanto, op.cit., hlm. 117-118. 
[9] Purwa Atmaja Prawira, op.cit, hlm. 245. 12 Agus Sujanto, op.cit., hlm. 119-124.
[10]Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, Psikologi Kepribadian 3: Teori-teori Sifat dan Behavioristik, (Yogyakarta: Kanisius, Terj. Yustinus, cet. 17, 2012), hlm. 199.
[11]Himpunan, kesatuan (Pusat Bahasa: 2008)
[12]Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, cet.4, 2009), hlm. 46.
[13]Wolfgang Bock, Menafsir Mimpi, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), hlm. 73. 
[14]Rosleny Marliany, op.cit., hlm. 157.
[15] Penyatuan hingga menjadi kesatuan utuh atau bulat (Pusat Bahasa: 2008)  19 Husamah, op.cit., hlm. 145.
[16]Rosleny Marliany, op.cit., hlm. 157-158.
[17] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Olahraga Prestasi, (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), hlm.
[19] Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan, (Jakarta: EGC, 2004), hlm. 169.                                      
[20]Shahabuddin Hashim, Mahani Razali,  dan Ramlah Jantan, Psikologi Pendidikan, (Kuala Lumpur, cet. 3, 2006), hlm. 10. 
[21]James F. Brennan, Sejarah dan Sistem Psikologi, (Jakarta: Rajawali Pers, Terj. Nurmala Sari Fajar, cet. 2,  2012), hlm. 301-303.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISME DAN ALIRAN PSIKOLOGI GESTALT "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!