PERKEMBANGAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan karakter anak. Bila anak berada pada lingkungan yang baik maka akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi perkembangan psikologi anak, dan begitu pula sebaliknya lingkungan yang tidak baik juga dapat memberikan pengaruh yang tidak baik bagi perkembangan psikologi anak. Sebagai orang tua kita harus jeli dan pintar-pintar memilihkan lingkungan yang baik bagi bagi anak, lingkungan itu misalnya seperti lingkungan tempat tinggal, lingkungan bermain anak, ataupun lingkungan sekolah.
Dalam proses perkembangan psikologi anak, lingkungan merupakan factor yang sangat penting setelah pembawaan. Tanpa adanya dukungan dari factor lingkungan maka proses perkembangan dalam mewujudkan potensi pembawaan menjadi kemampuan nyata tidak akan terjadi. Oleh karena itu, fungsi dan peranan lingkungan ini dalam proses perkembangan dapat dikatakan sebagai factor ajar, yaitu factor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik, sebab pengaruh lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruh nya baik dan sangat menunjang perkembangan suatu potensi atau bersifat negative yaitu pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat/merusak perkembangan.
Memilih Lingkungan yang Menunjang Perkembangan Psikologi Anak
Istilah perkembangan secara khusus diartikan sebagai “perubahan-perubahan yang bersifat kwaliatatif yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia”, seperti aspek pengetahuan,kemampuan,sifat sosial, moral, keyakinan agama, kecerdasan dan sebagainya, sehingga dengan perkembangan tersebut si anak akan semakin bertambah banyak pengetahuan dan kemampuannya juga semakin baik sifat sosial, moral, keyakinan, agama dan sebagainya.
Dengan proses perkembangan fisik dan perkembangan mental psikologi yang diperoleh anak secara optimal dapat diharapkan si anak akan tumbuh berkembang menjadi manusia dewsa yang baik dan berkwalitas sebagainya yang diharapkan dirinya sendiri, juga oleh orang tua dan masyarakat. Perkembangan (a stage of development). Pengertian perkembangan merujuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Peekembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.[1]
Guna mewujudkan hasil perkembangan manusia, lingkungan merupakan faktor yang sangat penting setelah pembawaan. Tanpa adanya dukungan dari faktor lingkungan maka proses perkembangan dalam menwujudkan potensi pembawaan menjadi kemampuan nyata tidak akan terjadi. Oleh karena itu fungsi atau pernan lingungan ini dalam proses perkembangan dapat dikatakan sebagai faktor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik, sebab pengaruh lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat atau merusak perkembangan[2]. Oleh karena itu sudah terjadi utama seorang pendidik untuk menciptakan atau menyediakan lingkungan positif agar dapat menunjang perkembangan si anak berusaha untuk mengawasi dan menghindarkan pengaruh faktor lingkungan yang negatif yang dapat menghambat dan merusak perkembangan anak.
Lingkungan dalam pengertian umum berarti situasi di sekitar kita. Dalam lapangan pendidikan, arti lingkungan itu luas yaitu segala sesuatu yang berada di luar diri anak dalam alam semesta ini. Lingkungan tempat anak mendapat pendidikan disebut dengan lingkungan pendidikan, lingkungan sering juga disebut milieu envioronment.[3]
Ki Hajar Dewantara membedakan lingkungan pendidikan menjadi tiga, dan dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu:
· Keluarga
· Sekolah
· Masyarakat
Dimana masing-masing lingkungan itu dapat berwujud berupa lingkungan budaya, lingkungan sosial, lingungan alam maupun lingkungan spritual.
Lembaga pendidikan ialah badan udaha yang bergerak dan bertanggung jawab atas terselanggaranya pendidikan terhadap anak didik.
1. Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan Pertama dan Utama
Kalau kita tinjau dari ilmu sosiologi, keluartga adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri dari beberapa individu yang terkait oleh suatu keturunan, yakni kesatuan dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat.
Pendidikan keluarga adalah juga pendidikan masyarakat, karena disamping keluarga itu sendiri sebagai kesatuan kecil dari bentuk kesatuan-kesatuan masyarakat, juga karena pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya sesuai dan dipersiapkan untuk kehidupan anak-anak itu dimasyarakat kelak. Pendidikan keluarga mau tidak mau harus mengikuti derap langkah kemajuan masyarakat. Dengan demikian nampaklah adanya satu hubngan erat antar keluarga dengan masyarakat.
Keluarga sebagai unit terkecil dsalam masyarakat terbentuk berdasarkan sukarela dan cinta yang asasi anatar dua subyek manusia (suami-istri). Berdasarkan asas cinta yang asasi ini lahirlah anak sebagai generasi penerus. Keluarga dengan cinta kasih dan pengabdian yang luhur membina kehidupan sang anak. Oleh Ki Hajar Dewantara dikatakan supaya orang tua sebagai pendidik mengabdi kepada anak. Motivasi pengabdian keluarga (orang tua) ini semata-mata demi cinta kasih yang kodrati. Di dalam suasana cinta dan kemesraan inilah proses pendidikan berlangsung seumur anak itu dalam tanggung jawab keluarga.[4]
2. Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan Kedua
Sekolah memegang peran penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekalin pada jiwa anak. Maka disamping keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk membentuk pribadi anak. Dengan sekolah, pemerintah mendidik bangsanya untuk menjadi seorang ahli yang sesuai dengan bidang bakatnya si anak didik, yang berguna bagi dirinya, dan berguna bagi nusa dan bangsanya.
Dengan sekolah, golongan atau partai menidik kader-kadernya untuk meneruskan dan memperjuangkan cita-cita dari golongan atau partainya. Dengan sekolah, kaum beragama mendidik putra-putranya untuk menjadi orang yang melanjutkan dan memperjuangkan agama. Karena sekolah itu sengaja disediakan atau dibangun khusus untuk tempat pendidikan, maka dapatlah ia kita golongkan sebagai tempat atau lebaga pendidikan kedua sesudah keluarga, lebihlebih mempunyai fungsi melanjutkan pendidikan keluarga dengan guru sebagai ganti orang tua yang harus di hormati.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan dalam rangka membantu para siswa agar mampu mengembangkan potensinya secara optimal, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, social, maupun fisik-motoriknya. Sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak, baik dalam cara berfikir, bersikap, maupun berperilaku. Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga dan guru berperan sebagai substitusi orang tua.
3. Masyarakat Sebagai Lembaga Pendidikan Ketiga
Masyarakat sebagai lembaga pendidik ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.
Masalah pendidikan dikeluarga dan disekolah tidak bisa dilepas dari nilai-nilai sosial yang budaya yang dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat dimanapun berada, tentu mempunyai kareakteristik tersendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya yang berbeda dengan karakteristik masyarakat lain, namun juga mempunyai norma-norma yang universal dengan masyarakat pada umumnya.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Didik
Persoalan mengenai faktor-faktor apakah yang memungkinkan atau mempengaruhi perkembangan, dijawab oleh para ahli dengan jawaban yang berbeda-beda. Para ahli beraliran “Nativisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh unsur pembawaaan. Jadi perkembangan individu semata-matatama aliran ini yang tergantng pada faktor dasar/pembawaaan. Tokoh utama yang terkenal adalah Schopenhauer.[5]
Berbeda crngan aliran Natavisme, para ahli yang mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentukan oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/pembawaan. Tooh utama alira ini yang terkernal adalah Schopenhauer.
Berbeda dengan aliran Nativime, para ahli yang mengikuti aliran “Empirisme” berpendapat bahwa perkembangan individu itu sepenuhnya ditentuka oleh faktor lingkungan/pendidikan, sedangkan faktor dasar/pembawaan tidak berpengaruh sama sekali. Aliran Empirisme ini menjadikan faktor lingkungan/pendidikan maha kuasa dalam menentukan perkembangan seorang individu. Tokoh aliran ini adalah John Locke.
Aliran yang tampak mengenai kedua pendapat aliran yang ektrem di atas adalah “aliran konvergensi” dengan tokohnya yang terkenal adalah William Stern. Menurut “aliran konvergensi”, perkembangan individu itu sebenarnya ditentuakann oleh kedus kekuatan tersebut, baik faktor dasar/pembawaan maupun faktor lingkungan/pendidikan kedua-duanyan secara convergent akan mementukan/mewujudkan perkembangan seseorang individu. Sejalan dengan pendapat aliran ini Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan kita juga mengemukakan adanya dua faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu faktor dasar/pembawaan(faktor internal) dan faktor ajar/lingkungan(faktor eksternal).
Menurut Elizabeth B. Hurluck, baik faktor kondisi internal maupun faktor kondisi ekternal akan dapat mempengaruhi tempo/kecepatan dan sifat atau kualitas perkembangan seseorang. Tetapi sejauh mana pengaruh kedua faktor tersebut sukar untuk ditentukan, lebih-lebih lagi untuk dibedakan mana yang penting dan kurang penting.
1. Faktor Teman Sebaya
Makin bertambah umur, si anak memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan teman-teman sebayanya, sekalipun dalam kenyataan perbedaan-perbedaan umur yang relatif besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan hubungan-hubungan dalam suasana bermain.
Anak yang bertindak langsung atau tidak langsungnsebagai pemimpin, atau yang menunjukkan ciri-ciri kepimipinan dengan sikap-sikap atau poal-pola kepribadian. Konflik-konflik terjadi pada anak bilamana norma-norma pribadi sangat berlainan dengan norma-norma yang ada di lingkungan teman-teman. Di satu pihak ia ingin mempertahankan pola-pola tingkah laku yang diperoleh di rumah, sedangkan dipihak lain lingkungan menuntut si anak untuk memperlihatkan pola yang lain, yang bertentangan dengan pola yang sudah ada, atau sebaliknya.
Makin kecil kelompoknya, di mana hubungan-hubungan erat terjadi, makin besar pengaruh kelompok itu terhadap anak, bila dibandingkan dengan kelompok yang besar yang anggota-anggota kelompoknya tidak tetap.
2. Keragaman budaya
Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mentak dan moral metreka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada dilingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembang di amsyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang negatif.
3. Media Massa
Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat mrubah atau mempengaruhi masyarakat melalui proses-proses. Meida massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang kearah positif dan negatif. Contoh media massa saaat ini berkembang semakin canggih. Semakin canggih suatu media massa maka akan semakin terasa dampaknya bagi kehidupan kita. Eletronik antara lain televisi. Telivisi sangat mudah mempengaruhi masyarakt, khususnya anak-anak yang dalam perkembangan melalui acara yang disiarkannya di media.[6] Televise sebagai media massa elektonik mempunyai misi untuk memberikan informasi, pendidikan, dan hiburan kepada pemirsanya. Dilihat dari sisi ini televise dapat memberikan dampak positif bagi warga masyarakat (termasuk anak-anak), karena melalui berbagai tayangan yang disajikannya mereka memperoleh:
a. Berbagai informasi yang dapat memperluas wawasan pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan.
b. Hiburan, baik berupa film maupun music.
c. Pendidikan baik yang bersifat umum maupun agama.
Tayangan-tayangan televise di atas memberikan dampak positif, juga telah memberikan dampak negative terhadap gaya hidup masyarakat terutama anak-anak. Tayangan televise yang berupa hiburan, baik film maupun music banyak yang tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak.
4. Lingkungan Sekolah/Pendidikan
Sekolah merupakan lingkungan sekunder anak, pada umumnya anak SMP/SMA menghabiskan waktu sekitar 7 jam di sekolah. Hampir sepertiga waktu anak dihabiskan di sekolah, sehingga diharapkan sekolah dan guru memberikan pengaruh yang baik bagi anak. Namun pada saat ini pengaruh guru semakin menurun, anak sekaran lebih dipengaruhi oleh teman sebaya. Sehingga banyak guru dan sekolah yang merasa kewalahan dalam menangani siswanya, seperti yang sering kali terjadi pada siswa-siswa yang terlibat dalam tawuran amtar siswa dalam kondisi masih mengenakan seragam sekolah. Hal ini umumnya terjadi di kota-kota, yang memiliki banyak memberikan rangsang social yang sangat menarik perhatian anak seperti mall, pusat-pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan lain-lain.
5. Lingkungan Sosial
Perkembangan dunia saat ini memberikan lingkungan social terbaik sekaligus terburuk bagi anak/remaja. Kemudahan dalam mengakses informasi dan pengetahuan tidak mendapatkan bimbingan dari orang dewasa disekitarnya. Banyak anak/remaja yang mengambil informasi dan pengetahuan yang salah atau tidak tepat bagi usianya, sehingga terjerumus dalam perilaku, gaya hidup atau ideology yang tidak bisa diterima oleh masyarakat seperti gaya hidup free sex, penggunaan narkoba atau terlibat dengan kelompok-kelompok terorisme dam criminal.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa Singgih D., Psikologi Perkembangan, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1992.
Haditono dan Monks, Rahayu Siti, Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Pembagiannya, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004.
Rumini, Sri Dkk, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: UPP Universitas Negeri Yogyakarta, 1993.
Sabri M. Alisuf , Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992.
SW Sarwono, Psikologi Remaja, Jakarta: Rajawali, 2013.
[1]Rumini, Sri Dkk, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: UPP Universitas Negeri Yogyakarta, 1993), h. 12
[2]Monks dan Haditono, Siti Rahayu, Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Pembagiannya, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004), h. 33
[3]Drs. M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum & Perkembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), h. 121
[4]Ibid, h. 124
[6]Ibid, h. 84
[7]Sarwono SW, Psikologi Remaja, (Jakarta: Rajawali, 2013), h. 18
0 Response to "PERKEMBANGAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN"
Posting Komentar