Berakhlak Kepada Rasulullah SAW
Berakhlak kepada Rasul-rasul Allah berarti mempercayai atau mengimani bahwa rasul Allah adalah seseorang yang diutus dan di tugaskan Allah untuk menyampaikan ajaran Allah (wahyu) yang diterimanya kepada umatnya agar dijadikan pedoman hidup.
Sebagai ulama dan umat islam yang berpendap bahwa setiap rasul sudah pasti nabi, tetapi tidak setiap nabi pasti rasul. Rasul adalah nabi yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu (ajaran Allah) kepada umat manusia. Adapun nabi yang tidak diberikan tugas untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia, ia bukan rasul, tetapi hanya nabi. Ulama dan umat islam berpendapat seperi itu, beralasan kepada hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Abu Zar bahwa jumlah nabi 124.000 orang, sedangkan rasul berjumlah 315 orang.[1]Berakhlak kepada rasul Allah yaitu dengan cara
1. Mempercayai sepenuh hati bahwa para rasul atau nabi adalah manusia-manusia pilihan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya ajaranajaran-Nya kepada umat manusia agar dijadikan pedoman hidup.
2. Mempercayai sepenuh hati bahwa rasul atau nabi itu, memiliki sifat mulia, mustahil bersifat dengan sifat tercela.
3. Mempercayai bahwa diantar para nabi dan rasul itu ada 5 orang yang termasuk
“ulul azmi”.10
Dan kita cerminkan dengan prilaku :
1. Menaati risalah (ajaran Allah SWT yang disampaikan rasul-Nya). Allah SWT berfirman:
مَا أفََاءَ اللَّّ ُ عَلَىَٰ رَسُولِهِ مِنْ أهَْلِ الْقرَُىَٰ فلَِلهَِّ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقرُْبَىَٰ وَالْيَتاَمَىَٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَ يكَُونَ دوُلَة ً بيَْنَ الْْ غَْنيَِا ءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتاَكُمُ الرَّسُولُ فخَُذوُه ُ وَمَا نهََاكُمْ عَنْه ُ فاَنْتهَُوا ۚ وَاتقَّوُا اللَّّ َ ۖ إنَِّ اللََّّ شَدِيد ُ الْعِقَابِ
Artinya: “Apa yang diberikan(diajarkan) rasul kepadamu maka terimalahdan (kerjakanlah), dan apa yang dilarangmu bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr, 59:7)
2. Melaksankan seruan Rasulullah untuk beribadah hanya kepada Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala sikap serta prilaku syirik. (QS. An-Nisa, 4: 36)
3. Berprilaku giat dan rajin belajar, mencari rezeki yang halal, sesuai dengan keahliannya. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah mngikuti sunnah beliau. Allah berfirman:
الذَِّينَ يتَبَّعِوُنَ الرَّسُولَ النبَِّيَّ الْْ مُِيَّ الذَِّي يجَِدوُنَه ُ مَكْتوُباً عِنْدهَُمْ فِي التوَّْرَاةِ وَالِْْنْجِيلِ يَأمُْرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيحُِلُّ لهَُمُ الطَّي بِاَ تِ وَيحَُ رِمُ عَلَيْهِمُ الْخَباَئثَِ وَيضََعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُ مْ وَالْْغَْلََلَ التَّيِ كَانَ تْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالذَِّينَ آمَنوُا بهِِ وَعَزَّرُوه ُ وَنَصَرُوه ُ وَاتبَّعَوُا النوُّ رَ الذَِّي أنُْزِلَ مَعَ هُ ۙ أوُلََٰئكَِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Maka orang-orang yang mempercayai (Rasul saw) memuliakan, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang (Alquran) yang diturunkan kepadanya adalah orang-orang beruntung.” (QS. Al-A’raf (7): 157).
C. Bir Al-Walidain ( Berbakti kepada Kedua orang Tua )
Al Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah bersabda "Al Birr adalah baiknya akhlaq. Al-Birr merupakan haq kedua orang tua dan kerabat dekat.
Sedangkan lawan dari al-Birr adalah Al-‘Uquuq yaitu kejelekan dan menyianyiakan haq. Al Birr adalah mentaati kedua orang tua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada kita semua, selama tidak bermaksiat kepada Allah, sedangkan Al-‘Uquuq dalam aplikasinya adalah menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.
Menurut Urwah bin Zubair tentang "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (QS. Al Isra’ :24). Dalam ayat ini menurut beliau jangan sampai mereka berdua tidak ditaati sedikitpun.
Sedangkan menurut Imam Al Qurtubi yang dimaksud dengan kalimat ‘Uquuq adalah durhaka kepada orang tua adalah menyelisihi atau menentang keinginankeinginan mereka dari perkara-perkara yang mubah, sedsngkan kalimat Al-Birr atau berbakti kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, maka wajib mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, sekalipun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya,begitu pula apabila apa yang mereka perintahkan adalah perkara yang mandub yaitu disukai atau disunnahkan maka diwajibkan juga.
Seiring dengan pernyataan diatas Ibn Taimiyyah yang dikutipnya dari Abu Bakr di dalam kitab Zaadul Musaafir yaitu barang siapa yang menyebabkan kedua orang tuanya marah dan menangis, maka dia harus mengembalikan keduanya kepada suasana yang semula agar mereka bisa tertawa dan senang kembali.11
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
وَوَصَّيْناَ الِْْنْسَانَ بِوَالِديَْهِ إحِْسَاناً ۖ حَمَلَتهْ ُ أمُُّه ُ كُرْهًا وَوَضَعَتهْ ُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلهُ ُ وَفصَِالهُ ُ ثلَََثوُنَ شَهْرًا ۚ حَتىََّٰ إذِاَ بلََغَ أشَُدهَّ ُ وَبلََغَ أرَْبعَِينَ سَنَ ةً قَالَ رَ بِ أوَْزِعْنيِ أنَْ أشَْكُرَ نعِْمَتكََ التَِّي أنَْعمَْتَ عَلَيَّ وَعَلَىَٰ وَالِديََّ وَأنَْ أعَْمَلَ صَالِحًا ترَْضَاه ُ وَأصَْلِ حْ لِي فِي ذ رُِيتَّيِ ۖ إِنِ ي تبُْتُ
إلَِيْكَ وَإِنِ ي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Yang artinya:”Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al-Ahqaaf: 15)
وَاعْبدُوُا اللَّّ َ وَلَ تشُْرِكُوا بِهِ شَيْئاً ۖ وَبِالْوَالِديَْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقرُْبَىَٰ وَالْيتَاَمَىَٰ وَالْمَسَاكِينِ ۞ وَالْجَارِ ذِي الْقرُْبَىَٰ وَالْجَارِ الْجُنبُِ وَالصَّاحِ بِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبيِلِ وَمَا مَ لكََتْ أيَْمَانكُُمْ ۗ إِنَّ اللَّّ َ لَ يحُِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتاَلً فَخُورًا
Yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karibkerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An-Nisaa': 36).
11 11 Syamsuri,pendidikan agama islam,(jakarta: erlangga,2007)..hlm.11
Perintah berbuat baik ini lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya.
Uraian diatas di perkuat dengan Firman Allah dalan Al-qur’an Surah AlIsraa’ ayat 23-24 "Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kami jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: 'Wahai, Rabb-ku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.'" (QS. Al-Israa': 23-24)
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh merugi, sungguh merugi, dan sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga. Hadist ini menekankan bahwa ketika kedua orang tua tersebut sudah tua dan tidak bisa melakukan yang biasa dilakukannya, sehingga mereka tidak kuasa melakukannya sendiri maka disini keajiban kita sebagai anak. Jika kita mampu melakukan pekerjaanya maka balasanya adalah surga.[2]
Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang dapat menyakiti kedua orang tua, walaupun dengan isyarat atau dengan ucapan 'ah'. Termasuk berbakti kepada keduanya ialah senantiasa membuat mereka ridha dengan melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana yang telah disebutkan.
Cara berbuat baik kepada orang tua ketika masih hidup di antaranya disebutkan dalam Al-Qur’an Surah al-Isra: 23 -24 sebagai berikut:
a. Tidak berkata “ah” kepada keduanya.
b. Tidak boleh membantah.
c. Berkatalah dengan perkataan yang mulia.
d. Berlaku randah hati dengan kasih saying.
e. Mendoakan keduanya.
Adapun berbakti kepada orang tua yang telah meninggal di antaranya sebagai berikut:
a. Mendoakan dan memintakan ampun orang tua
b. Menepati atau nadzar orang tua.
c. Menjaga baik hubungan sahabat orang tua.
d. Berziarah ke kubur orang tua13
0 Response to "Berakhlak Kepada Rasulullah SAW"
Posting Komentar