KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

KEMAUAN DAN KEHENDAK


Psikhologi Umum ialah satun ilmu yang memepelajari struktur kehidupan pshikis manusia normal – dewasa – berbudaya, sebagai individu yang terisolasi, dengan sifat-sifat atau citinya yang umum, dan berlaku untuk semua manusia sebagai subjek. Ciri-ciri tersebut terdapat pada semua individu manusia. Jadi, objek formil dari psikhologi umum ialah manusia sebagai satu subjek, dan mencakup segala tingkah laku manusia dalam situasi-situasi yang umum.
Psikhologi umum tidak menyangkal adanya perbedaan-perbedaan individuil; akan tetapi psikhologi umum tidak meenliti unsur perbedaan tadi lebih lanjut. Psikhologi umum tidak melihat manusia sebagai satu pribadi atu satu totalits. Akan tetapi menyelidiki perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaannya antara manusia satu dengan yang lainya, yang sifatnya kurang lebih umum.
Kemauan adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan-tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangn-pertimbangan akal budi. Kemauan itu disebut pula sebagai organisator dari pada karakter, karena kemauan ini mengatur kelancaran dan keserasian berfungsinya segenap elemen karakter (dotongan, instinkt, reflek, sifat-sifat karakter, emosi, sentimen dan minat).[1]
Kemauan itu adalah dorongan keinginan yang ada pada setiap manusia, diabadikan untuk membentuk dan merealisasikan Akunya manusia. Manusia itu tidak hanya menghanyutkan diri dan membiarkan dirinya pasif mengembang dalam arus duina; tapi ia juga harus menjadikan dirinya sebagai satu thema pokok atau proyek yang harus dibangun dan diselesaikan sendiri[2]
Pada manusia soalnya lain; ada bentuk kebebasan pada diri manusia. Semua tendens nafsunya pada hakekatnya tidak mempunyai batas, dan tanpa kekangan tertentu (eindeloos enongbreideld). Tidak ada pembatasan pada nafsunya berkuasa dan memiliki. Oleh karena itu manusia harus membatasi dirinya sendiri, haru mengatur dan meregulasi diri sendiri; secara individuil dengan kemauan, dan secara kolektif dengan norma-norma sosial. Sebab, nafsu-nafsu erotik, nafsu berkuasa dan hasrat memiliki itu merupakan tendens-tendens utama dari hakekat manusia, yang materiil sifatnya, dan pada hakekatnya tiada berbatas serta tanpa kekangan. Karena itu nafsu-nafsu tersebut harus diatur dan dikendalikan oleh kemauan.[3]
Kehendak ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu. Kehendak ini merupakan kekuatan dari dalam dan tanpak ini bertautan dengan pikiran dan perasaan.[4]
Didalam diri manusia, binatang, dan tumbuhan-tumbuhan bekerja suatu kekuatan yang dapat berbuat sesuatu dan melakukan gerakan. Kekuatan yang timbul dari dalam untuk melakukan suatu perbuatan baik yang dikehendaki maupun yang dihindari itu dinamakan kehendak. Dengan kata lain, kehendak ialah suatu kekuatan yang mendorong melakukan perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.[5]


Untuk memudahkan mempelajarinya dibagi atas:
a.       Dorongan,
b.      Keinginan,
c.       Hasrat,
d.      Kecendrungan,
e.       Hawa nafsu,
f.       Kemauan.[6]

a.       Dorongan ialah suatu kekuatan dari dalam yang mempunyai tujuan tertentu dan berlangsung diluar kesadaran kita.
b.      Keinginan ialah dorongan nafsu, yang trtuju kepada seseuatu benda tertentu, atau yang konkrit.
c.       Hasrat ialah suatu keinginan tertentu yang dapat diulang-ulang.
d.      Kecendrungan, hasrat yang aktif yang menyuruh kita agar lekas bertindak.
e.       Hawa nafsu, ialah hasrat yang besar dan kuat yang menguasi seluruh fungsi jiwa kita.
f.       Kemauan ialah kekuatan yang sadar dan hidup dan atau menciptakan sesuatu yang berdasarkan perasaan dan pikiran.[7]

Tingkat dari Kemauan

Pada kemauan ini terdapat tiga tingkatan, yaitu:
a.       Kemauan yang identik dengan dorongan; sifatnya primer, belum terarah dan tidak berbentuk apa-apa. Misalnya berupa kegelisahan, dorongan sibuk aktif berbuat. Isi dari kemauan pada tingkat ini sesuai dengan tujuan-tujuan dari dorongan-dorongan yang ada dalam diri manusia.
b.      Nafsu alamiah:pada taraf ini hampir-hampir secara tidak sadar orang mengarah pada satu tujuan. Misalnya apabila orang merasa lapar, dahaga; ingin memuaskan nafsu seks, hasrat menjalani relasi sosial dengan Aku-lain, hasrat hadir/berkumpul bersama-sama, kebutuhan akan perlindungan dan lain-lain pemuasan kebutuhan pada niveau vital dan animal.[8]
c.       Kemauan yang aktif (wilsekten) pasda taraf ini sudah ada stelling atau patokan tujuan yang disadari. Ada kesadaran akan cita-cita dan tujuan serta tersedia alat-alat untuk mencapainya. Pada tingkat ini ada kemampuan yang posotif dan matang, berdasarkan pilihan dan penentuan sendiri, didukung oleh pertimbangan-pertimbangan akal.
d.      Perkembangan Perasaan bagi anak-anak sangat cepat dan besar sekali, sehingga umumnya anak-anak akan lebih emosional dibandingkan dengan orang dewasa.[9]

               TYPE KEMAUAN.

Ada tiga type kemauan untuk berbuat secara kongkrit yaitu:
a.       Type menurut pada kecendrungan-kecendrungan dan sentmen sentimennya.
b.      Type negasiyang permanen (permanente negatif, yang selalu menolak dan sentimen-sentimenya sendiri)
c.       Type kompensasi pada taraf ini kemauan berfungsi sebagai pembagi yang produktif dari sentimen-sentimen, dan sifatnya sebagai kompensator.[10]

KEMAUAN VERSUS KEBIASAAN-KEBIASAAN.
Kebiasaan itu adalah bentuk keaktifan yang sudah tetap dari usaha penyesuaian diri terhadap lingkungan, yang mengandung respon-respon afektif. Kebiasaan itu ditentukan oleh lingkungan dan kebudayaan, dan diperoleh manusia sejak dia dilahirkan.Kebiasaan kurang lebih merupakan bentuk tingkah laku yang sudah distabilisasikan, dimana kebutuhan-kebutuhan tertentu mendapatkan kepuasan oleh karenanya.
Lingkunga dengan sikap yang menyetujui atau yang menolak, juga disiplin dan pendidikan sangat berpengaruh atas terbentuknya kebiasaa-kebiasaan ini. Oleh karena itu, pada kebiasaan nyalah kita bisa mengenal seseorang. Sebab, padanya teretak bagian yang terpenting dari pembentukkan karakternya.
Banyak dari perbuatan-perbuatan manusia itu merupakan kebiasaan-kebiasaan; yaitu bentuk yang tetap dari kanalisasi-dinamik kepribadiannya. Sebagian besar dari kebiasaan-kebiasaan itu hanya setengah disadari; atau bahkan merupakan cara penyesuaian diri yang tidak disadari lagi. Sebagian dari kebiasaan-kebiasaan dipengaruhi oleh milieu; sebagian lain dipengaruhi oleh kemauan.[11]
Tapi tidak jarang terjadi kemauan itu menyerah kalah pada kebiasaan. Contohnya, seseorang yang terpaksa kalah menyerah pada kebiasaan merokok, sekalipun ia menyadari bahwa terlalu banyak merokok itu mangganggu kesehatannya. Juga kebiasaan menghisap candu, minuman-minuman alkohol, ketagihan bahan narkotika. Kemauan kalah menyerah pada kebiasaan-kebiasaan yang buruk tadi.
Jika kemampuan ingin menguasai kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk dan tidak adekwat/tepat, dan kemauan tidak mau menyerah kalah pada kebiasaan, prosesnya harus mengalami perjuangan-perjuangan dan usaha pembelajaran disiplin yang keras, dan pasti berlangsung dengan waktu yang lama.[12]

TEORI NALURI YANG DIPLAJARI KEMBALI

Teori-teori mengenai kebutuhan pokok yang digambarkan pada bab-bab sebelumnya menganjurkan bahkan meminknta suatu kajian ulang teori naluri, sekalipun hanya diperlukan untuk membedakan antara yang lebih dan kurang mendasar lebih dan kurang alami. Namun kita tetap harus memeriksa kenyataan yang saling berhubungan, yang mau tak mau ditimbulkan oleh teori kebutuhan ini dan atau teori lain misalnya penolakan yang tersirat dari relatifitas kebudayaan, teori yang tersirat dari nilai yang dilahirkan dari susunan sifat-sifat turunan, penyempitan dari yuridiksi yang diberikan kepada proses belajar secara asosiatif dan sebagainya.
Bagaimana pun, banyak sekali pertimbangan teoritis, klimis, dan eksperimental lainnya menujukan kearah yang sama, yakni keinginan untuk menilai ulang teori yang sama dan barangkali juga menuangkannya dalam salah satu bentuk. Semua ini menujang keraguan terhadap penekanan eksklusif dari para psikolog, dan sosiolog dan antropolog mengenai kenyataan, kelenturan, daya adaptasi umat manusia dan terhadap kebiasaanya untuk belajar. Umat manusia kelihataanya jauh lebih otonom dan menentukan nasib sendiri diluar dugan teori-teori psikologi yang berlaku sekarang ini.[13]

Hasrat untuk mengetahui dan memahami.
Diatas dan di luar faktor penentu bagi pencapaian ilmu pengetahuaan (kecemasan, ketakuatan) ini, ada bebarapa alasan yang masuk akal untuk menetapkan dalil fositif bahwa impuls itu sendiri adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu, mengetahui, menjelakan dan memahami (295).[14]
1.      Sesuatu yang mirip rasa ingin tahu pada menusia dapat ditemukan dengan  mudah yaitu pada orang yang lebih maju.
2.      Sejarah manusia telah memberikan sejumlah contoh yang memuaskan dari manusia yang mencari fakta dan menciptakan penjelaskan dlam rangka menghadapi bahaya besar bagi manusia dan bahkan bagi kehidupan itu sendiri.
3.      Penelaahan terhadap orang yang secara psikologis sehat menunjukan bahwa, sebagai sifat yang menegaskan, mereka tertarik pada hal-hal yang misterius, tidak diketahui, kalut, tidak diatur dan dijelaskan.
4.      Agaknya ada gunanya untuk memperhatikan berbagai kemungkinan dari dari yang bersifat psikopatologis. Orang neurotis yang memaksa dan mengggangu pikiran (dan neurotis pada umumnya).
5.      Beberapa khasus patologi (kebosanan, hilangnya semangat hidup, benci diri sendiri, depresi menyeluruh dari fungsi-fungsi jasmaniah, kemerosotatan teru menerus dari kehidupan intrlelektual, selera, dll.[15]

Dengan demikian kita mendalilkan bahwa suatu keinginan adalah unntuk memahami, mengatur, menganalisa, mencari kaitan dengan makna, membembentuk suatu sistem nilai-nilai.
Bila keinginan-keinginan ini telah dapat diterima sebagai bahan pembahasan, kita akan melihat keinginan-keinginan itu akan membentuk herarki kecil diman keinginan untuk mengetahui lebih kuat dibandingkan keinginan untuk memahami. Semua penyifatan bagi herarki kekuatan yang telah kita bahas diatas kelihatanya juga berlaku dalam hal ini.[16]

FENOMENA-FENOMENA YANG SEBAGIAN DITENTUKAN OLEH PEMUASAN KEBUTUHAN (HAWA NAFSU).
Sikap, perhatian, dan nilai-nilai.
Telah di sajikan berbagai contoh car pemuasan dan frustasi terhadp kebutuhan mentukan perhatian seseorang. Untuk akhirnya melibatkan pembahasan yang diperlukan mengenai moralitas, nilai, dan etika, sepanjang hal-hal lebih dari sutatu tata cara, sikap, adt istiadat, dan kebiasaan-kebiasan sosilal lainnya yang terjadi sekarang adalah memperlakukan sikap, selera, perhatian, dan setiap jenis nilai seakan-akan sebagai hal-hal yang tidak mepunyai faktor penentu lain kecuali proses belajar asosiatif kebudayaan setempat, yakni, seakan-akan hanya ditentukan oleh kekuatan lingkungan yang berubah-ubah. Tetapi kita juga melihat perlu meminta bantuan persyaratan yang bersfat hakiki dan efek kepuasan terhadp kebutuhan organisme.[17]
1.      Kejemuan dan perhatian
2.      Kebahgiaan, keriangan , kepuasan, kegembiraan, dan luapan kegembiraan.
3.      Efek-efek Sosial.
4.      Tingkat frustasi.[18]

 FENOMENA YANG DITENTUKAN OLEH PEMUAS KEBUTUHAN
A.    Konatif-Afektif.
1.      Persaan kenyang lahiriah dan persaan terlalu kenyang makan,seks, tidur dll. Dan sebagai produk ikutanya yaitu keberadaan, kesehatan, energi, persaan makmur, kepuasan lahiriah.
2.      Perasaan akan keselamatan, kesdamaian, keamanan, perlindunagn, kurangnya bahay dan ancaman.
3.      Perasaan dicintai dan dicintai, patut dicintai, idintifikasi cinta.
4.      Persaan memiliki, menjadi satu dengan satut kelommpok, identifikasi dengan tujuan dan kemenangan kelompok, penerimaan, mempunyai tempat dan mersa aman.
5.      Perasan mengngandalkan diri sendiri, keyakinan diri, kpercayaan keda diri, hormat diri, perasaan kebiasaan, keberhasilan, kemampuan, kekuataan ego, patut dihormati, pratise, kepemimpina dan kebiasaan.
6.      Perasaan perwujudan diri, pemenuhan diri, pertumbuhan dan keberhasilan, yang semakin bertambah dari daya dan potensi diri, dan sebagai akibatnya perasaan berkembang, dewasa,sehat, dan atonom.
7.      Perasaan ingin tahu yang dipenuhi, rasa terpelajar dan rasa mengetahui banyak hal.
8.      Pengertian yang memuaskan, kepuasan filosofis yangssemakin bertambah; jalan menuju falsafah dan agama berdasarkan kebutuhan yang satu yang semakin luas dan menyeluruh; cerapan yang bertambah mengenai perikatan dan hubunaga; rasa segan; keterikatn pada nilai-nilai.
9.      Kebutuhan akn keindahan yang terpuaskan, hal-hal yang menggetarkan jiwa, kejutan yang nikamt, kenikmatan lahiriah, akan simetri, kebenaran, kesesuaian dan kesempurnaan.
10.  Munculnya kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi.[19]

  KECENDRUNG-CENDRUNGAN.
Kecendrungan adalah hasrat atau kesiapan reaktif yang tertuju pada satu tujuan tertentu, ataupun tertuju pada satu objek kongkrit, dan selalu muncul berulamg-ulang.
Kecendrungan-kecendrungan ini merupakan sifat karakter yang terutama tumbuh diatas struktur efektif-dinamis. Komponen pengenalan terdapat juga di dalamnya, akan tetai bukan merupakan faktor pokok.
Dengan sismatisnya dan organisasi ari seluruh kepribadian terhadap situasi tertentu, tumbuhlah satu kesiapan reaktif dan pengarahan terhadap situasi atau objek khusus itu. Oleh sukses dan kegagalan-kegagalan, hukuman-hukuman, dan hadiah-hadiah lahirlah reaksi-reaksi tertentu, yang meruakan satu kesiapan reaktif yang habibtuil (kecendrungan) terhadap situasi tersebut.[20]
Kecendrungan-kecendrungan ini di pengaruhi juga oleh faktor-faktor lingkungan dan sifat-sifat pribadi sari seseorang. Pengulangan- pengulangan dari suatu pengelaman, dan resaaksinya terhadap pengalaman tersebut dapat membantu terbentuknya kecendrungan-kecendrungan dalam bentuk kesiapan raeaktif (kecendrungan). Tetapi satu kejadian penting yang dapat mempengaruhi seseorang dapat juga menimbulkan kecendrungan-kecendrungan yang baru. Selanjutnya banyak kecendrungan yang menjadi kaku dan gafixeerd sehingga merupakan satu kebiasaan atau menjadi secoun nature.
Pada kecendrungan -kecendrungan ini ada satu kesiagaaan untuk bereaksi dan bertindak, yang didukung oleh tekanan-tekanan emosonil dan minat yang terarah. Dengan demikian terdapatlah pengarahan yang sifatnay selektif dan tertentu (gedetermineerd) kecendrungan-kecendrungan ini adlah sifat karakter yang disposisinil; bukan berupa tingkah laku, tetapi sesuatu yang memungkinakan timbulnya satu tungkah laku dan memngarahkakn tingkah laku,. Juga sifatnay menekan kepada subjek dan menjadi jalan yang kurang lebih satabil atau (gehabitualiseerd) dari pada tingkah laku.
Kecendrungan-kecendrugan ini kurang lebih merupakan organisasi yang tetap daripada gabungan kompenen-kompenen perasaan, kehendak dan pengalaman, yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalman dan akhirnya menjadi kesiangan reaktif yang mendorong dan mengarahkan aksi serta reaksi individu terhadp satu situasi atau peritiwa tertentu. Dengan demikian kecendrungan ini dianggap sebagai tenaga arah yang konstan, yang menentujkan tingkah laku yang aktif dan yang reaktif terhadap lingkungan seseorang
Gordon allport (yang menjadi lawan dai kaum behaviorist dari kaum elementarist0 berkata; kecendrungan itu merupaka sitem yang umum fdan dan khas pada individu, yang  memiliki kepasitas untuk mnampilkan stimuli secara fungsionil dan sepadan, lalu memprakarsai serta membimbing bentuk-ber=ntuk tingkah laku adaftif dan tingkah laku ekspresif secara tetap).
Kecendrunagn-kecendrungan ini adalah hasil dari pada pengalaman-pengelaman , dan ditentukan pula pribadi (konstitusi pribadi) masing-masing pada se
tiap diri manusia itu berbeda. Kecendrunagn ini juga merupakan produk yang sudah dibuat stabil dari pada instink-instink, doronagn-doronagan kebutuhan-kebutuhan vital, dan nafsu-nafsu.
Kecendrunagn-kecendrungan ini sifatnaya tidak herediter (bukan pembawaan) dan tidak kaku dan mekhanistis seperti refleks-refleks atau kebiasaan, kadang-kadang sifatnay sementara, kadang- kadang sifatnya bisa  stabil atuau bahkan bisa permanen. Anmun jelas, bahwa kecenderungan itu mengandung pengarahan pada sektor realitas dan merupakan satu kesiagaan bertingkah laku, bereaksi dan reaksi terhadap situasi-situasi tertentu.
Kecendrungan itu terutama sekali mengandung kompenen yang efektif emosonil dan dinamis sifatnya; sekalligus juag mengandung komponen-komponen pengenalan.[21]

KEMAUAN, PERBUATAN, GEJALA USAHA
Setiap perbuatan, gerakan, dan tingkah laku manusia itu merupakan akibat dari tenaga-tenaga yang keluar dari dalam dirinya, yang disebut usaha. Usaha ini muncul dari dalam diri manusia, dan ditampilkan keluar dalam bentuk macam-macam tingkah laku. Tingkah-laku pada umumnya merupakan pengarahan-diri kea rah sesuatu yang bermanfaat dan baik, dan penghindaran-diri dari segala sesuatu yang merusak dan merugikan. Dalam setiap usaha terdapat: pelahiran, pemakluman, pembukaan, pendesakan atau pelandaan keluar, menuju ke suatu arah dan tujuan; dan disertai keinginan pada suatu yang akan dicapai, karena dianggap bernilai.[22]
Maka tujuan setiap tingkah-laku manusia itu ialah pencapaian suatu tujuan, baik yang bersifat positif “menuju ke”, maupun yang negative “menghindari”. Digolongkan dalam gejala usaha tersebut adalah gejala-gejala: tropisme, reflex, instink, otomatisme, kebiasaan, dorongan, hasrat, kecenderungan, nafsu, dan kemauan.
a. Tropisme: adalah gejala desakan yang menyebabkan timbulnya gerakan-gerakan ke suatu arah tertentu, seperti yang terdapat pada tingkat vegetatif dan tingkat animal.
b. Refleks: ialah reaksi yang tidak disadari terhadap perangsang-perangsang, dan berlangsung di luar kemauan.
c. Instink atau naluri: ialah kesanggupan melakukan hal-hal yang kompleks, tanpa latihan sebelumnya, terarah pada tujuan yang berarti bagi si subjek, berlangsung mekanis dan tidak disadari.
d. Otomatisme: ialah gejala gerak-gerak yang berlangsung dengan sendirinya, tidak disadari, dan ada diluar kehidupan kehendak.
e.  Kebiasaan: adalah bentuk tingkah-laku yang tetap dari usaha adaptasi terhadap lingkungan, yang mengandung unsur efektif/perasaan.
f. Dorongan: adalah desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.[23]
g.        Hasrat dan Kecendrungan.
Hasrat timbul dari dorongan, dan terarah pada satu tujuan atau satu objek konkrit.
h. Kecendrungan ialah hasrat atau kesiapan reaktif yang tertuju pada objek konkrit, dan selalu muncul berulang kali.
i.  Nafsu adalah kecendrungan yang kuat, hebat sekali, sehingga bisa mengganggu keseimbangan fisik, nafsu menyingkirkan pertimbangan akal dan peringatan hati nurani, dan menyingkirkan semua bentuk hasrat lainnya.
j. Kemauan adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan hidup tertentu, dan dikendalikan oleh pertimbangan oleh akal budi.

PERBEDAAN DORONGAN, KEINGINAN, HASRAT, KECENDRUNGAN, HAWA NAFSU, DAN KATA HATI

1.      Motifasi atau dorongan.
Manusia dan  hewan yang mempunyai keinginan dan jarang mencapai keadaan puas sepenuhnya kecuali untuk waktu yang singkat. Apabila keingian yang satu telah dipenuhi, keinginan lainnyapun muncul menggantikan tempat keinginan pertama. Jika keinginan ini telah terpenuhi, masih ada keingian lainya yang akan tempil di depan, dan begitu seterusnya. Adalah hal yang khas manusia apabila sepanjan hidupnya  ia selalu menginginkan sesuatu. Maka kita di harapkan pada keharusan untuk menelaan hubungan antara semua motifasi, dan kembersamaan itu kita dihdapkan pada keharusan untuk melepaskan unit-unit motifasi yang terasing, guna mencapai kegiatan luas yang kita cari. Keadaan dorongan dan keeinginan, perbuatan-perbuatan yang dilakukan karenanya, dan kepuasan yang diperoleh dengan dicapainya objek tujuan, semua itu hanya memberikan kita suatu contoh tiruan, yang terasing dan tnggal, yang diambil dari keseluruhan kompleks unit-unit motifasiaonal.
2.      Keinginan
Sekarang telah banyak bukti antropologi yang menunjukan bahwa keingian dasar atau pokok dari seluruh umat manusia tidak begitu banyak berbeda dari keinginan sehari hari yang mereka sadari. Sebab utama dari keadaan ini ialah bahwa dua kebudayaan yang berbeda dapat memberikan dua cara pemuasan suatu keinginan tertentu, katakanlah harga diri, sama sekali berbeda. Dalam masyarakat yang satu, orang memperoleh harga diri karena pemburu yang tangguh dalam masyarakat lainnya karena menjadi dukun obat yang ternama atau prajurit yang berani, atau seorang yang tidak sama sekali ber-emosi dan sebagainya. Apabila kita memikirkan hal-hal yang pokok, maka dapat terjadi bahwa keinginan individu yang satu untuk jadi pemburu yang tangguh mempunyai dinamika dan tujuan pokok yang sama dengan keinginan individu lainnya untuk menjadi dukun obat yang baik.
Maka dapatlah kita tegaskan bahwa akan lebih bermanfaat bagi para ahli psikologi untuk menggabungkan kedua keinginan yang disadari dan kelihatannya berbeda ini dalam kategori yang sama daripada memasukannya ke dalam kategori yang berbeda semata-mata karena alasan keprilakuan. Rupanya tujuan-tujuan itu sendiri jauh lebih universal daripada jalan-jalan yang di tempuh untuk mencapainya, karena jalan-jalan ini ditentukan secara setempat oleh kebudayaan tertentu. Umat manusia ternyata lebih banyak yang serupa daripada yang disangka orang.
3.      Hasrat
Hasrat timbul dari dorongan, dan terarah pada satu tujuan atau satu objek konkrit
4.      Kecendrungan
Kecendrungan adalah Hasrat atau kesiapan-reaktifyang tertuju pada satu tujuan tertentu, atau pun tertuju pada suatu objek konkrit, dan selalu muncul secara berulang-ulang.
5.      Hawa Nafsu
Pada umumnya benar bahwa kita bergerak kekebutuhan yang leii setelah kebutuhan yang lebih rendah di puaskan, namun masih bisa dilihat bahwa sekali tingkat kebutuhan yang lebih tinggi ini dicapai berikut nilai-nilai serta selera-selera yang menyertainya, maka semunya itu akan menjadi otonom, ridak lagi tergantung pada pemuasan kebutuhan yang lebih rendah.
6.      Kata Hati
Pada umumnya, keputusan yang diambil oleh kata hati bersifat subjetif seolah-olah irasional dan dalam keputusan tersebut bukan pikiran yang memutuskan, tetapi keputusan diambil dari lubuk hati, dari kata hati individu yang bersangkutan[24]
Dengan demikian hati nurani manusia itu menjadi instansi yang mennentukan norma-norma. Lalu timbul rasa bersalah, timbul kepedihan hati, dan timbul kecendrungan reaksi yuntuk membetulkan diri. Oleh hati nurani ini orang bertindak sesuai dengan norma-norma kebenaran tadi, agar tercapai ketenangan jiwa. Sebab, melawan atu menentang secara kronis dan terus menerus kepada hati nurani itu akan menyebabkan kepecahan pribadi; lalu timbul banyak konflik-konflik batin dan ketenangan-ketenangan. Dan pada akhirnya meletus menjadi gangguan jasmani dan rohani.menurut stekel,21) psikhoneurosa itu adalah bentuk penyakit dari hati nurani manusia. [25]


DAFTAR PUSTAKA
Abraham H. Maslow. 1994. Motivasi Kepribadian 1. Bandung: PT Remaja        Rosdakarya.
Agus Sujanto. 1991.  Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Perkasa.
I Wayan Candra. 2017. Psikologi Landasan Keilmuan Praktik KeperawatanJiwa. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.
Kartini Kartono. 1980. Teori Kepribadian. Bandung: Alumni.
Zuhairini dan sardejo. 1984.  Ilmu Jiwa Umum. Surabaya: Usaha Nasional.




[1] Kartini Kartono, Teori Kepribadian (Alumni, 1980 Bandung) hlm.83
[2] Ibid, hlm.83
[3] Ibid, hlm.84
[4] Agus Sujanto, Psikologi Umum (Bumi Perkasa 1991 Jakarta) hlm.84
[5] Zuhairini dan sardejo, Ilmu Jiwa Umum (Usaha Nasional 1984 Surabaya) hlm.25
[6] Agus Sujanto, Psikologi Umum, Loc.cit., hlm. 84
[7]Agus Sujanto, Psikologi Umum, Ibid., hlm. 85
[8] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Ibid., hlm. 84
[9] H. Abu Ahmadi,psikologi perkembangan (PT RINEKA CIPTA 2005 Jakarta) hlm. 97
[10] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Ibid., hlm. 86
[11] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Ibid., hlm. 87
[12] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Ibid., hlm. 87
[13] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1(PT Remaja Rosdakarya 1994Bandung) hlm. 96
[14] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1, Ibid., hlm. 59
[16] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1, Ibid., hlm. 62
[17] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1, Ibid., hlm. 85
[19]Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1, Ibid., hlm. 90
[21] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Ibid., hlm. 67
[22] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1, Ibid., hlm. 92
[23] Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 1, Ibid., hlm. 93
[24] I Wayan Candra, Psikologi Landasan Keilmuan Praktik Keperawatan Jiwa (CV ANDI OFFSET 2017 Yogyakarta), hlm 8
[25] Kartini Kartono, Teori Kepribadian, Ibid., hlm. 120

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KEMAUAN DAN KEHENDAK"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!