KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

KERAJAAN BESAR


Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan pilitik Islam mengalami kemunduran secara drastic. Wilayah kekuasaanya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan perdaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun, tidak berhenti sampai situ. Timur Lenk, sebagaimana telah di sebutmmenghancurkan kekuasaan-kekuasaan Islam yang lain.  
Keadaan politik Islam secara keseluruhan beru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar: 1) Usmani di Turki, 2) Mughal di India, dan 3) Safawi di Persia. Kerajaan Usmani di samping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan di banding dua kerajaan lainnya.

KERAJAAN  TURKI  USMANI  DI  TURKI

1. Proses Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Turki Usmani 

Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke 13 M, mereka melarikann diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia Kecil. Di sana, di bawah pimpinan Etoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin II mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota. [1]
Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Usman. Putra Ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah, kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut juga Usman I. 
Setelah Usman  I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman ( raja besar keluarga Usman ) tahun 699 H (1300 M), setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian, pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726H/1326 M-761 H/1359 M) Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandr (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani. [2]
Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M-789 H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel-yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru-, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun, Sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam. 
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama, Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun



1402 M. Tentang Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama putranya, Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M. 
Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu, putra-putra Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala. [3]
Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putra-putranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putra-putra Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Murad II (1421-1451 M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau bisa disebut Muhammad Al-Fatih (1451-1484 M). 
Sultan Muhammad Al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi ketika Sultan Salim I
(15121520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syria, dan dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M). Ia tidak mengarahkan ekspansinya ke salah satu arah  timur atau barat, tetapi seluruh wilayah yang berada di sekitar Turki Usmani merupakan obyek yang menggoda hatinya. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Belgrado, Pulau Rodhes, Tunis, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani paa masa Sultan Sulaiman Al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa. [4]
Mengutip pendapat Carl Brockelmann, Ahmad Syalabi mengatakan, Sultan Salim I pernah meminta kepada khalifah Abbasiyah di Mesir agar menyerahkan kekhalifahan kepadanya, ketika ia menaklukkan dinasti Mamalik di sana. 
Pendapat lain menyebutkan bahwa gelar “khalifah” sebenarnya sudah digunakan oleh Sultan Murad (1359-1389 M),setelah ia berhasil menaklukkan Asia Kecil dan Eropa. Dari dua pendapat ini, Ahmad Syalabi berkesimpulan, para Sultan kerajaan Usmani memang tidak perlu menunggu khalifah Abbasiyah menyerahkan gelar itu, karena jauh sebelum masa kerajaan Usmani sudah ada tiga khalifah dalam satu masa. Pada abad ke-10 M, para penguasa dinasti Fathimiyah di Mesir sudah memakai gelar khalifah, Tidak lama setelah itu, Abd Al-Rahman Al-Nashir di Spanyol menyatakan diri sebagai khalifah melanjutkan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, bahkan ia mencela para pendahulunya yang berkuasa di Spanyol yang merasa cukup dengan “amir” saja. Karena itu, ada kemungkinan para penguasa Usmani memang sudah menggunakan gelar 
“khalifah” jauh sebelum mereka dapat menaklukkan dinasti Mamalik, tempat bertahtanya para khalifah Abbasiyah, untuk kemudian meminta gelar itu. 
        
Setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putra-putranya, yang menyebabkan Kerjaan Turki Usmani mundur, Akan tetapi, meskipun terus mengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer.  Kerajaan ini memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu. [5]

2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Turki Usmani 

Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Yang penting di antaranya adalah sebagai berikut. 
a. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan 
Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama, adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan Kerajaan Usmani mencapai masa keemasannya itu, bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting di antaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan dan di mana saja. 
Untuk pertamakali, kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik, dan strategi tempur militer Usmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, tidak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer yang besar ini dilanda kekisruhan. Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi, keadaan tersebut segera dapat diatasi oleh Orkhan dengan jalan mengadakan perombakan besar-besaran dalam tubuh militer.  Pembaharuan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan, tidak hanya dalam bentuk mutasi personel-personel pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari dan inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negeri-negeri non-Muslim.  Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh shadr al-a‟zham (perdana mentri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al‟alawiyah (bupati). Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan SulaimanI, disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki  Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan  Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar alQanuni. [6]

b.    Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya 
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam kebudayaan, diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dari kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan, ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, keilmuan, dan huruf mereka terima dari bangsa Arab. Orang-orang Turki Usmani memang dikenal sebagai bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan luar. Hal ini mungkin karena mereka masih miskin dengan kebudayaan. Bagaimanapun, sebelumnya mereka adalah orang nomad yang hidup di dataran Asia Tengah. 
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah, di dalam khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Usmani. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Masjid Jami‟ Sultan Muhammad Al-fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abi Ayyub AlAnshari. Masjid-masjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu masjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah masjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligtrafi itu dijadikan penutup gambar-gambar Kristiani yang ada sebelumnya. [7]
c.    Bidang Keagamaan 
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terkait dengan syariat sehingga, fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi terhadap problem keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan bisa tidak berjalan.  
Pada masa Turki Usmani  terekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah tarekat Bektasyi dan Tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi mempunyai pengaruh yang amat domain di kalangan tentara Jenissari, sehingga mereka sering disebut  Tentara Bektasyi, sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Jenissari
Bektasyi. 
Di pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti fiqih, ilmu kalam, tafsir, dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abd Al-Hamid II, misalnya, begitu fanatik terhadap aliran Asy‟ariyah. Ia merasa perlu  mempertahankan aliran tersebut dari kritikan-kritikan aliran lain. Ia memerintahkan kepada Syaikh Husein Al-Jisri menulis kitab  Al-Hushun Al-Hamidiyah (Benteng pertahanan Abdul Hamid) untuk melestarikan aliran yang dianut nya itu. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatic yang berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang, Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya masa klasik. [8]

3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Turki Usmani 

Setelah Sultan Sulaiman Al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran itu tidak langsung terlihat. 
Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Turki Usmani itu mengalami kemunduran, di antaranya adalah: 
1.    Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas 
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang sangat amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para pengusa sangat berambisi mengusai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dpat di gunakan untuk membangun negara. 
2.    Heterogenitas Penduduk 
Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani mengusai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Romania di Eropa. Wilayah yang luas itu di diami oleh penduduk yang beragam, baik dari segi agama, ras, etnis maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintaha yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogen tersebut. Perbedaan agama dan bangsa acap sekali menjadi latar belakang terjadinya pemberontakan dan peperngan. 





3.    Kelemahan Para Penguasa 
Sepeninggal Sultan Sulaiman Al-Qanuni, kerjaan Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama dalam kepemimpinannya. Akibatnya, pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pernah dapat di atasi secara sempurna, bahkan semakin lama semakin parah. 
4.    Budaya Pungli 
Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam Kerajaan
Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan itu. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh. 
5.    Merosotnya Ekonomi 
Akibat perang yang tak pernah berhenti, perkonomian negara merosot. Pendapat berkurang, sementara belanja negara sangat besar termasuk untuk biaya perang. 
6.    Terjadinya Stagnasi dalam Lapangan Ilmu dan Teknologi 
Kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak di imbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan ini tidak sanggup mengahadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju. 
Demikianlah proses kemunduran kerajaan besar Usmani. Pada masa selanjutnya di periode modern, kelemahan kerajaan ini menyebabkan kekuatankekuatan Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerahdaerah Muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. [9]
        

KERAJAAN  SAFAWI  DI  PERSIA

   1. Proses Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Safawi 

Kerajaan Syafawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hamper bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani. Nama Safawiyah, diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (12521334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan. [10]
Safi Al-Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari Imam Syi‟ah yang keenam, Musa AlKazhim. Gurunya bernama Syikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301 M) yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani. Karena prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Al-Din diambil menantu oleh gurunya tersebut. Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “ahli-ahli bidah”. Tarekat yang dipimpin Safi Al-Din ini semakin penting, terutama setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat local menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syria, dan Anatolia. Di negeri-negeri di luar Ardabil Safi Al-Din menempatkan seorang wakil yang memimpin murid-muridnya. Wakil itu diberi gelar „khalifah‟. 
Kecenderungan memasuki dunia politik itu mendapat wujud konkretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan.
        
Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut, Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AKKoyunlu (domba putih), juga satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu meguasai sebagai besar Persia. [11]
Selama dalam pengasingan, Junaed tidak tinggal diam. Ia malah dapat menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M. Juneid mencoba merebut Sirceassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwa. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. 
Ketika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu, Kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahirlah Ismail yang di kemudian hari menjadi pendiri Kerajaan Safawi di Persia. 
Kemenangan AK Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu, membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal, sebagaimana telah disebutkan, Safawi adalah sekutu AK Koyunlu. AK Koyunlu berusaha melanyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwann, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu. 
        
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentarannya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Tetapi
Ya‟kub pemimpin AK Koyunlu dapat menangkap dan mememenjarakan Ali bersama saudaranya, Ibrahgim dan Ismail, dan ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota AK Koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupu Rustam dapat dikalahkan. Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi, tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan ini (1494 M).[12]   
Kepemimpinan gerakan Safawi, selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia tujuh tahun. Selama lima tahun Ismail beserta pasukannya  bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria, dan Anatolia. Pasukan yang mempersiapkan itu dinamai Qizilbazh (baret merah). 
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tarbiz, ibu kota AK Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti safawi. Ia di sebut juga ismail I.  
Ismail I berkuasa selama lebih kurang 23 tahun, yaitu antara tahun 1501 dan 1524 M. Pada sepuluh tahun pertama ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuataan AK koyunlu di Hamadan (1503 M), menguasai propinsi kaspia di Nazandaran, Gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr(1505-1507 M), Baghdad dan daerah barat daya persia, (1508 M), Sirwan (1509 M) , dan Khurasan (1510 M). Hanya dakam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya sudah meliputi seluruh persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fortile Crescent).  
Tidak sampai disitu, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya, seperti ke Turki Usmani. Namun, Ismail bukan hanya menghadapi musuh yang sangat kuat, akan  tetapi juga sangat memmbenci golongan syiah. Peperangan dengan Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tabris.karena keunggulan organisasi militer Kerajaan Usmani, dalam peperangan ini Ismail I mengalami kekalahan, malah Turki Usmani di bawah pemimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz.  
Kerajaan safawi terselamatkan dengan pulangnya Sultan Usmani ke Turki karena terjadi perpecahan dikalangan militer Turki di negerinnya. [13]
Kekalahan tersebut meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Ismail. Akibatnya, kehidupan Ismail I berubah. Ia lebih senang menyendiri, menempuh  kehdupan hura-hura dan beburu. Keadaan  ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan Safawi, yaitu terjadinya persaingan segitiga antara pemimpin suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk memimpin kerajaan Syafawi. 
Rasa permusuhan dengan kerajaan Usmani terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut,  kerajaan Safawi dalam keadaan lemah. Di samping karena sering terjadi peperangan melawan kerajaan Usmani yang lebih kuat, juga karena sering terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok di dalam negeri.  
        
Kondisi memprihatikan ini baru bisa diatasi setelah raja Syafawi kelima, Abbas I, naik tahta, ia memerintah dari tahun 1588 sampai dengan 1628 M. 
Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I dalam rangka memulihkan kerajaan Safawafi ialah: pertama, berusaha menghilangkan dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan cara membentuk pasukan baru yang anggotanya terdiri dari budak-budak, berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia, dan Sircassia yang telah ada sejak raja Tahmasp I. Kedua, mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani. Untuk mewujudkan perjanjian ini, Abbas I terpaksa harus menyerahkan wilayah Azebaijan,Georgia, dan sebagian wilayah Luristan. Di samping itu, Abbas berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, dan Usman) dalam khotbah-khotbah jumat. Sebagai jaminan atas syarat-syarat itu, ia menyerahkan saudara sepupunya, Haidar Mirza sebagai sandera di Istambul. [14]Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan safawi kuat kembali. Setelah itu, Abbas I mulai memusatkan perhatiannya ke luar  dengan berusaha merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya kekuasaan yang hilang. Pada tahun 1598 M, ia menyerang dan menaklukan Herat. Dari sana, ia melanjutkan serangan merebut Marw dan Balkh.  Setelah kekuatan terbina dengan baik, ia juga berusaha mendapatkan kembali wilayah kekuasaan Turki Usmani.  Rasa permusuhan antara dua kerajaan yang berbeda aliran agama ini memang tidak pernah padam sama sekali. Abbas I mengarahkan seranganserangannya ke wilayah kekuasaan kerajaan Usmani itu. Pada tahun 1602 M, di saat Turki Usmani berada di bawah Sultan Muhammad III, pasukan Abbas menyerang dan berhasil menguasai Tabzir, sirwan, dan Baghdad. Sedangkan kota-kota Nakhchivan, Erivan, Ganja, dan Tiflis dapat dikuasai tahuN 1605-1606 M. Selanjutnya, pada tahun 1622 M pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.  Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Syafawi. Secara politik, ia mampu mengatasi berbagai kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa raja-raja sebelumnya.[15] 

2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Safawi 

Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas dibidang politik. Di bidang lain, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. 
Kemajuan-kemajuan itu antara lain adalah sebagai berikut:   a. Bidang Ekonomi 
Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perkonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gurmun di ubah menjadi Bandar Abbas. 
Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara Timur dan Barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi. 
Disamping sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan di sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (Fortile
Crescent). [16]
b.      Bidang Ilmu Pengetahuan 
Dalam sejarah Islam bangsa persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengertahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.  
Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majlis istana, yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, sadar Al-Din Al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad  Damad, filosof, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah. Dalam bidang ini, kerajaan safawi mungkin dapat dikatakan lebih berhasil  dari dua kerajaan besar Islam lainnya pada masa yang sama.[17]
c.       Bidang Pembangunan Fisik dan Seni 
Para penguasa kerjaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Dikota tersebut, berdiri bangunanbangunan besar lagi indah seperti masjid-masjid, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan dan Istana Chihil sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata secara apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat 162 mesjid, 48 akademik, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum. 
Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada mesjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan mesjid Syaikh Luft Allah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya, seni lukis mulai dirintis sejak zaman Tahmasp I.  
Raja Ismail pada tahun 1522 M membawa seorang pelukis timur ke Tabriz. Pelukis itu bernama Bizhad. 
Demikianlah, puncak kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Safawi. Setelah itu, kerajaan ini mulai mengalami gerah menurut. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang di segani oleh lawan-lawannya, terutama dalam bidang politik dan militer. Walaupun tidak setaraf dengan kemajuan Islam di klasik, kerajaan ini telah memberikan konstribusinya mengisi peradaban Islam melalui kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, peninggalan seni, dan gedung-gedung bersejarah. [18]

3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Safawi 

Sepeninggal Abbas I Kerajaan Safawi berturut-turut diperintah oleh enam raja, yaitu Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (16671694 M), Husain (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), dan Abbas III (1733-1736 M). Pada masa raja-raja tersebut, kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran dan akhirnya membawa kepada kehancuran. 
Safi Mirza, cucu Abbas I ialah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya. Kemajuan yang pernah di capai oleh Abbas I segera menurun. Kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Afganistan) lepas dari kerajaan Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughal yang ketika itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani. Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wazir-wazirnya, pada masa kota Qandahar dapat direbut kembali. Sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk. Ia bertindak kejam terhadap pembesar yang di curigainya. Akibatnya, rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Ia di ganti oleh Shah Husein yang alim. Pengganti Sulaiman ini memberi kekuasaan yang besar kepada ulama 
Syi‟ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afganistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekusaan Dinasti Safawi. 
Di antara sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi ialah konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Bagi kerajaan Usmani, berdirinya kerajaan Safawi yang beraliran Syi‟ah merupakan ancaman langsung terhadap wilayah kekuasaannya.  
Penyebab lainnya adalah dekadensi moral yang melanda sebagai para pemimpin kerajaan Safawi. Ini turut mempercepat proses kehancuran kerajaan tersebut. Sulaiman di smping pecandu narkotik, juga menyenangi kehidupan malam beserta harem-haremnya selama tujuh tahun tanpa sekalipun menyempatkan diri menangani pemerintahan. Begitu juga sultan Husein. 
Tidak kalah penting dari sebab-sebab di atas adalah sering terjadinya konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana. [19]

KERAJAAN MUGHAL DI INDIA

  1. Proses Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Mughal

Kerajaan Mughal berdiri seperempat abad sesudah berdirinya kerajaan Safawi. Jadi, diantara tiga kerajaan besar Islam tersebut,kerajaan inilah yang termuda. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di anak benua India. Awal kekuasaan Islam di wilayah India terjadi pada masa Khalifah Al-Walid, dari dinasti Bani Umayyah. Penaklukan wilayah ini dilakukan oleh tentara Bani Umayyah di bawah pimpinan Muhammad Ibn Qasim. [20]
Pada fase desintegrasi, dinasti Ghaznawi mengembangkan kekuasaan nya di india dibawah pimpinan sultan mahmud dan pada tahun 1020 M, ia berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan hindu di wilayah ini, sekaligus mengislamkan sebagaiaman masyarakatnya. Setelah Ghaznawi hancur, muncul dinasti- dinasti kecil seperti Mamluk (1206-1290 M). Khalji (1296-1316 M),tuglug (1320-1412 M),dan dinasti- dinasti lain.
Kerajaan Munghal di india dengan Delhi sebagai ibu kota didirikan oleh Zairudin Babur (1482- 1530 M), salah satu dari cucu timur Lenk. Ayahnya bernama umar mirza,penguasa Ferghana. Babur mewaris daerah  Ferghana dari orang tua nya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukkan samarkand yang menjadi kota penting di Asia tengah pada masa itu. Pada mulanya, ia mengalami kekalahan tetapi karena mendapat bantuan dari raja safawi, Ismail 1 akhirnya berhasil menaklukkan samarkand tahun 1494 M.
Pada tahun 1504 M, ia menduduki kabul, ibu kota Afganistan.
Setelah kabul dapat dilakukan, Babur meneruskan Ekpansinya ke india. Kala itu Ibrahim Lodi penguasa india dilanda krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam khan, paman dari ibrahim Lodi, bersamasama Daulat khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke kabul, meminta bantuan babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Delhi permohonan itulangsung di terimanya.  Pada tahun 1525 M. Babur berhasil menguasai punjab dengan ibu kotanya Lahore. Setelah itu ia memimpin tentranya menuju Delhi. Pada tanggal 21 april 1526 M, teradilah pertempuran dahsyat di panipat. Ibrahim Ibrahim beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memasuki kota itu sebagai pemenang dan menegakakn pemerintahannyadi sana. Dengan demikian, berdirilah kerajaan Mughal di India.[21]
Setelah kerajaan Mugal berdiri, raja-raja hindu di seluruh india menyusun angkatan perang besar untuk menyerang Babur. Namun pasukan india ini dapat dikalahkan Babur. Sementara itu, di Afganistan masih ada golongan yang setia kepada keluarga Lodi. Mereka mengangkat adik kandung ibrahim Lodi, Mahmud, menjadi Sultan. Tetapi, sultan Mahmud Lodi mudah dikalahkan Babur  dalam pertempuran dekat Gogra tahun 1529 M. Pada tahun 1530 M, Babur meninggal dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun , dengan meninggalakn kejayaan-kejayaan yang cemerlang. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya humayun.
Humayun, putra sulung Babur, dalam melaksanakan pemerintahan banyak menghadapi tantangan. Sepanjang masa kekuasaannya selama sembilan tahun
(1530- 1539 M) negara tidak pernah aman. Ia senantiasa berperang melawan musuh. Di antara tantangan yang muncul adalah pemberontakan Bahadur syah, penguasa Gujarat yang memisahkan diri dari Delhi. Pemberontakan ini dapat dipadamkan. Bahadur syah melarukan diri dan Gujarat dapat di kuasai. Pada tahun 1540 M terjadi pertempuran dengan sher khan di kanauj. Dalam pertempuran ini Humayun mengalami kekalahan . ia terpakasa melarikan diri ke khandahar dan selanjutnya persia. Di persia ia menyusun kembali tentaranya. Kemudian. Dari sini ia menyerang musuh –musuhnya dengan bantuan raja persia, Tahmasp. Humayun dapat mengalahkan sher khana shah setelah hampir 15 tahun berkenalan meninggalkan Delhi. Ia kembali ke india dan menduduki tahta kerajaan Mughal pada tahun 1555 M. Setelah itu (1556 M), ia meninggal dunia karena terjatuh dari tangga perpustakaannya, din panah.
Humayun di gantikan oleh anaknya , Akbar yang berusia 14 tahun. Karena ia masih muda maka urusan kerajaan di serahkan kepada  Bairam khan , seorang
Sya’i pada masa akbar inilah mungkin kerajaan Mughal mencapai masa keemasannya.[22]
Di awal masa pemerintahannya. Akbar menghadapi pemberontakan sisa- sisa keturunan Sher khan Shah yang masih berkuasa punjab. Pemberontakan yang mengancam kekuasaan akbar adalah pemberontakaan yang dipimpin oleh himu yang menguasai Gwalior dan Agar. Pasukan pemberontakan itu berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut, Sehingga terjadilah peperangan yang dahsyat yang disebut Panipat 2 pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan ia ditangkap, kemudiaan dieksekusi. Dengan demikian, agar dan Gwalior dapat dikuasai penuh.
Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyengkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan
Aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di
Jullandur tahun 1561 M. Setelah persoalan –persoalan dalam negri dapat diatasi, Akbar mulai menyususn program ekspensi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa,Deccan,Gawilgarh,Narhala,Ahmadnagar,dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam satu pemerintahan militerstik.
 Dalam pemerintahan militeristik tersebut, sultan adalah penguasa diktator. Pemerintah daerah dipegang oleh seorang sipah salar(kepala komandan), sedang subdistrik dipegang oleh Faujdar (komandan). Jabatan- jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak kemiliteran. Penjabat- penjabat itu memang diharuskan mengikuti latihan kemiliteran.
Akbar juga menerapkan apa yang dinamakan dengan politek sulakul(toleransi universal)  . dengan politek ini, semua rakyat india dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama.[23]
Kemajuan yang dicapai Akbar masih dapat dipertahankan oleh tiga sultan berikutnya. Yaitu jehangir(1605- 1628 M) Syah jehan (1628- 1658 M), dan Aurangzeb (1658- 1707 M). TIGA SULTAN PENERUS Akbar ini memangg terhitung raja- raja besar dan kuat. Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal ketika dapat dipertahankan oleh raja- raja berikutnya.[24]

2. Kemajuan-kemajuan Kerajaan Mughal

Kemantapan stabilitas politik karena sistem pemerintahan yang di terapkan Akbar membawa kemajuan dalam bidang bidang yang lain. Dalam bidang ekonomi, kerajaan Mughal dapat mengembangkan program pertanian, pertandingan, dan perdagangan. Akan tetapi , sumber keuangan negara lebih banyak bertumpu pada sektr pertanian. 
Di samping untuk kebutuhan dalam negri, hasil pertanian itu diekspor ke eropa,Afrika,Arabia, dan Asia Tenggara, bersama hasil kerajaan ,seperti pakaian tenun dan kain tipis bahan gordiyn yang banyak di produksi Gujaratdan Bengal.



Bersaman degan majunya bidang Ekonomi, Bidang seni dan budaya juga berkembang. Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan penyair istana. Baik yang berbahasa persia maupun bahasa india.
Karya seni yang masih dapat dinikmati sampai sekarang dan merupakan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya- karya arsitektur yang indah dan mengagumkan.[25]

3. Kemunduran dan Kehancuran Kerajaan Mughal

Setelah satu setengan abad Dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini mengalami masa-masa kemunduran. Kekusaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang Inggris untuk pertama kalinya di izinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung kekuatan bersenjata semakin kuat mengusai wilayah pantai.
Pada masa Aurangzeb, pemberontakan terhadap pemerintahan pusat dapat memang sudah muncul, tetapi dapat di atasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat, penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.
Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadapdaerah menjadi lemah. Pemerintah daerah satu-persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintahan pusat, bahkan cenderung memperkuat pemerintahannya masing-masing. Desintegrasi wilayah kekusaan Mughal ini semakin diperburuk oleh sikap daerah, yang di samping melepas loyalitasnya terhadap pemerintah pusat, juga mereka senantiasa menjadi ancaman serius bagi eksitensi Dinasti Mughal itu sendiri.
Ketika kerajaan Mughal memasuki keadaan yang lemah seperti ini, pada tahun ini juga, perusahaan Inggris (EIC) yang sudah semakin kuat mengangkat senjata melawan pemerintah kerajaan Mughal. Peperangan berlangsung berlarutlarut. Akhirnya, Syah Alam membuat perjanjian damai dengan menyerahkan Oudh, Bengal dan Orisa kepada Inggris.
Syah Alam meninggal pada tahun 1806 M. Tahta kerajaan selanjutnya di pegang oleh Akbar II (1806-1837 M). Pada masa pemerintahan Akbar memberi konsesi kepada EIC untuk mengembangkan usahanya di anak benua India sebagaimana yang di inginkan Inggris, tapi pihak perusahaan harus menjamin kehidupan raja dan keluarga istana. Dengan demikian, kekusaan sudah berada di tangan Inggris, meskipun kedudukan dan gelar sultan tetap di pertahankan.[26]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Dinasti Mughal itu mundur pada satu setengan abad terakhir dan membawa kepada kehancuran pada tahun 1858 M, yaitu:
1.    Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera di pantau oleh kekuatan Maritim Mughal. Begitu juga pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal.
2.    Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elit politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
3.    Semua pewaris tahta kerajaan pada paruh terakhir adalah orang-orang yang lemah dalam bidang kepemimpinan.[27]


DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam  cet. 2. Jakarta: Amzah.

Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Yatim, Badri. 2011. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada.





[1] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), him. 248.
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada, 2011), hlm. 130.
[3]    hlm. 131.
[4]    hlm. 132.
[5]    hlm. 133.
[6] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam  cet. 2, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 201202.
[7]Samsul Munir Amin, Sejarah…..,hlm. 203.
[8]Samsul Munir Amin, Sejarah…..,hlm. 204-205.
[9]   hlm. 167-169.
[10]      hlm. 138.
[11]      hlm. 139.
[12]      hlm. 140.
[13]      hlm. 141.
[14]      hlm. 142.
[15] Badri Yatim, Sejarah….., hlm. 143.
[16]      hlm. 144.
[17]      hlm. 145.
[18]      hlm. 146.
[19]Badri Yatim, Sejarah….., hlm. 156-158.
[20]      hlm. 144.
[21]      hlm. 147.
[22]      hlm. 148.
[23] Badri Yatim, Sejarah….., hlm. 149.
[24]      hlm. 150.
[25] Dedi  Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 263.
[26] Badri Yatim, Sejarah….., hlm. 159-161.
[27]Badri Yatim, Sejarah….., hlm. 163.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KERAJAAN BESAR"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!