KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

KHULAFAUR-RASIDIN



Khulafaur Rasyidin adalah sahabat nabi yang dekat dengan beliau dan namanama para sahabat ini sudah terbiasa terdengar di telinga kita yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Bin Khaththab, Usman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib. Mereka semua ini memiliki hubungan nasab dengan Rasulullah selain hubungan nasab ini mereka juga ada yang menjadi menantu dan mertua dari Rasulullah SAW.
Untuk lebih mengetahui tentang mereka para sahabat dekat Rasulullah ini, maka kami mengangkat khulafaur rasyidin sebagai judul makalah kami agar kita bisa lebih menggali tentang bagaimana kehidupan mereka, bagaimana mereka menjalankan pemerintahan sebagai khalifah, pencapaian mereka saat menjabat sebagai kepala pemerintahan, dan tantangan mereka dalam menjalankan pemerintahan.
Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan lebih mengenal mereka para khulafaur rasyidin yang telah banyak mengambil andil dalam pemajuan dan penyebaran agama Islam.
Khulafaur Rasyidin berasal dari kata khulafa dan ar-rasyidin. Kata khulafamerupakan jamak dari kata khalifahyang berarti pengganti. Adapun kata ar-rasyidinberarti mendapat petunjuk. Dengan demikian, Khulafaur Rasyidin memiliki arti Para Pengganti Yang Mendapat Petunjuk.Khulafaur
Rasyidin terdiei dari empat sahabat utama Nabi Muhammad saw. Yaitu Abu Bakar, Umar bn Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.[1]
Setelah Nabi Muhammad saw, wafat mereka menjadi contoh utama dalam menghayati dan mengamalkan ajaran islam. Mereka melaksanakan prinsip-prinsip pemerintahan islam dengan baik. Masa pemerintahan mereka merupakan gambaran yang paling tepat bagi pelaksanaan hukum dan pemerintahan islam.[2]
1.  Biografi Singkat Para Khulafaur Rasyidin
a.   Biografi abu Bakar As-Siddiq
Namanya adalah Abdullah ibnu Abi Quhafah at-Tamimi.Bin Amir terkumpul dengan nabi Muhaammad SAW. pada kakeknya yang ke enam yaitu Murrah[3].  Abu bakar dilahirkan setelah nabi SAW dua tahun beberapa bulan. Di masa jahlliyah bernama Abdul Ka’bah, lalu ditukar oleh nabi menjadi Abdullah Kuniyahnya Abu Bakar. Beliau diberi Kuniyah Abu Bakar (Pemagi) karena dari pagi-pagi betul beliau telah masuk Islam. Gelarnya as-Shiddiq (yang amat membenarkan). Beliau digelari ash-Shiddiq, karena amat segera membenarkan Rasulullah dalam berbagai macam peristiwa.4 
b.  Biografi Umar bin Khattab
Umar Bin Khattab Bin Nufail Al-Qurasyi dan Kuniyahnya Abu Hafshin dan Kuniyahnya yang lain adalah Al-Faruq dilahirkan tiga belas tahun setelah nabi.[4]Umar berasal dari suku Bani Adi. Suku ini adalah salah satu cabang dari kaum Quraisy. Ibunya bernama Hantamah. Hantamah adalah anak perempuan dari Hasyim bin Mughirah dari marga Bani Makhzum. Bani Makhzum juga merupakan cabang dari kaum Quraisy yang sekutu Umayah di era kegelapan (zaman jahiliyah). Banyak sumber menyebutkan bahwa Umar masuk islam pada tahun 6 H.Umar adalah orang yang suka atau lekas naik pitam, suka berlaku keras dan kasar. Kedua watak ini sungguh mempengaruhi kariernya dibidang politik dan pemerintahan.[5]
c.   Biografi Usman bin Affan Dia bernama Usman bin affan bin Ashi bin Umayyah bin Abdus Syams bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib Al-Quraisyi Al-Umawi Al-Makki Al Madani. Selain dikenal dengan sebutan Abu Amr, dia juga dipanggil Abu Abdullah dan Abu Laila. Dia dilahirkan pada tahun keenam dari Tahun Gajah. Ibunya bernamaArwa binti Kariz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdus Syams bin Abdul Manaf. Neneknya adalah Ummu Hakim Al-Baidha binti Abdul Muthalib bin Hisyam. Dia adalah kembaran ayah Rasulullah, Abdullah. Dengan demikian,  ibunya Usman bin Affan adalah anak perempuan bibi rasulullah. Usman  termasuk salah seorang yang menerima Islam di awal perjalanan dakwah Islam.  Usman adalah orang yang diajak Abu Bakar As-shiddiq untuk memeluk Islam. Usman telah melakukan dua kali hijrah, yaitu ke Ethiopia dan Madinah. Usman menikah dengan Ruqayah puteri Rasulullah, perkawinanya terjadi sebelum Nabi Muhammad saw diutus sebagai seorang Rasul, Ruqayyah meninggal di saat berlangsungnya perang Badar. Hal inilah yang menyebabkan dia tidak ikut serta dalam perang Badar karena harus merawat isterinya. Itu pun setelah mendapat izin dari Rasulullah. Rasulullah Saw memberinya bagian rampasan perang yang didapat dari Perang Badar, sebagaimana ia juga mendapat pahala, seperti orang yang ikut perang.[6]
d. Biografi Ali bin Abi Thalib
           Ia bernama Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah. Rasulullah Saw sering memanggil Ali bin Abu Thalib dengan nama Abu Husain dan Abu Turab. Gelar tersebut yang paling disenangi Ali. Dia suka jika dipanggil  dengan nama itu. Abu Turab adalah nama yang diberikan Rasulullah Saw kepadanya.8
Ali adalah salah seorang dari sepuluh orang yang mendapat jaminan dari Rasulullah Saw, untuk masuk surga. Dia adalah saudara Rasulullah Saw, di saat terjadi mu’akhah  (jalinan ukhuwah di Madinah). Dia dalah menantu Rasulullah Saw, karena Ali menikah putri beliau yang bernama Fatimah, pemimpin kaum wanita sedunia. Ali adalah satu diantara orangorang yang masuk islam di awal-awal munculnya Islam. Dia adalah seorang ulama rabbani, pejuang yang gagah berani, zahid kenamaan dan orator ulung. Dia adalah seorang yang mengumpulkan Al-Qur’an dan menyodorkannya kepada Rasulullah untuk dikoreksi secara lisan. Ali juga dikenal dengan nama Abu Sibthain ( Ayahnya Dua Cucu; Hasan dan Husain). Dia termasuk kelompok sahabat yang pertama kali memeluk Islam. Dia masuk Islam pada hari Selasa, Ali bin Abu Thalib berkata, “Rasulullah Saw diangkat menjadi rasul pada hari senin, Ali baru berumur sepuluh tahun. Ali tidak menyembah berhala sama sekali karena dia memang masih kecil.[7]
Ali menyertai Rasulullah Saw dalam Perang badar, Perang Uhud, dan perang-perang lainnya, kecuali Perang Tabuk sebab waktu itu Rasulullah Saw memerintahkannya untuk menggantikan beliau di Madinah. Dalam setiap peperangan Ali memiliki kisah-kisah yang melegenda. Rasulullah Saw, menyerahkan kepadanya tugas pembawa bendera dibanyak pertempuran, Rasulullah Saw, mengatakan bahwa kemenangan di Khaibar akan berada ditangan Ali. Keberanian dan cerita kepahlawanannya sangat masyhur.[8]

Pencapaian Para Khulafaur Rasyidin Saat Mereka Menjabat Sebagai Khalifah

1. Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq
a. Penumpasan gerakan Riddah
Ibnu Hisyam berkata, telah berkata kepadaku Abu Ubaidah dan  para ulama lainnya, “Ketika Rasulullah wafat, kebanyakan dari penduduk
Makkah ingin kembali murtad keluar dari Islam, hingga Attab bin Asid (gubernur makkah saat itu) mengkhawatirkan keberadaan mereka dan bersembunyi. Berdirilah Suhail bin amr, dan memulai pidatonya dengan memuji Allah, kemudian ia menyebutkan perihal wafatnya Rasulullah SAW sembari berkata, Kematian Rasulullah tidak menambah Islam kecuali semakin kuat, maka barang siapa kami curigai keluar dari agama ini, niscaya akan aku penggal kepalanya.[9]
Akhirnya orang-orang kembali kepada Islam dan berhenti dari keinginan untuk murtad, dan attab bin asid kembali muncul Inilah yang dimaksud oleh Rasulullah ketika Umar hendak menanggalkan gigi Suhail bin amr sewaktu menjadi tawanan perang badar[10].
Tepat pada bulan Jumadil Akhir tahun 11 H, Abu bakar mengerahkan seluruh penduduk Madinah dan para pemimpin perbatasan untuk menyerbu orang-orang Arab yang murtad sekitar Madinah ataupun turut membantu musuh yang sebelumnya menyerang Madinah[11]
Tatkala pasukan Abu bakar bertemu dengan musuh yang berasal dari bani Abs, bani munirah, bani Dzubyan dan yang turut bersama mereka dari bani kinanah, datang bala bantuan dari Thulaihah bersama keponakannya yang bernama Hibal. Ketika dua pasukan itu bertemu, musuh berhasil membuat tipu daya dengan meniupkan suara seperti seruling dari atas gunung yang membuat unta-unta kaum muslimin kocar-kacir mendengarkannya , maka hingga alam mereka belum dapat ditumpas  dan akhirnya pasukan kaum muslimin kembali ke Madinah, setelah kejadian ini musuh menggangpap kaum muslimin sudah lemah. Mereka mengirim utusan kesuku-suku mereka agar mendatangkan bala bantuan dari arah lain. Mereka pun mulai berkumpul.14
Malam itu Abu bakar dalam keadaan siaga sambil memberi pengarahan dan motivasi kepada kaum Muslimin. Di akhir malam, beliau keluar membawa seluruh pasukan untuk menyerbu musuh. Di sayap kanan pasukan dipimpin oleh an-Nu1aim bin Muqarrin, di sayap kiri berdiri saudaranya, Abdullah bin Muqarrin, dan di garis tengah pasukan dipimpin oleh Suwaid bin Muqarriin. Ketika fajar terbit, kedua pasukan telah berhadapan dalam satu tanah lapang, mereka tidak menyadari kedatangan kaum Muslimin sedikitpun, hingga pedang-pedang kaum Muslimin menghabisi mereka. Dan ketika matahari telah terbit mereka lari tunggang langgang dihujani anak panah kaum muslimin dari belakang. Dalam peperangan ini Hibal terbunuh dan Abu bakar mengejar mereka hingga sampai di Dzil Qashashah. Dan inilah awal kemenangan, dimana orangorang musyrikin dihinakan dan kaum Muslimin menjadi mulia dan disegani.[12]
Sebelumnya, bani Dzubyan dan Abs telah menyerang kaum Muslimin dan membunuh mereka. Pasukan yang menyertai dibelakang mereka juga turut berbuat hal yang sama. Maka Abu bakar berjanji akan membunuh setiap suku sebanyak mereka membunuh jiwa kaum muslimin dan bahkan lebih. Peperangan ini dianggap sangat berpengaruh untuk kemajuan dan kemenangan Islam. dengan peperangan ini kamu Muslimin ditakuti di setiap kabilah Arab, dan orang-orang kafir di setiap kabilah menjadi hina dina. Akhirnya Abu bakar kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan dan harta rampasan perang. [13]
b. Pemberantasan Musailamah Al-Kadzdzab
Sebelumnya, Abu bakar telah mengutus Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah menuj Musailamah. Namun keduanya tidak mampu menghadapi Bani hanifah disebabkan jumlah personil mereka yang amat banyak. Pada waktu terjadi pemurtadan besar-besaran, Abu bakar mengutusnya kepada penduduk Yamamah untuk berdakwah menyeru mereka kepada Allah agar mereka tetap setia di atas Islam. Namun justru murtad bersama Musailamah dan bersaksi bahwa
Musailamah adalah juga nabi. [14]
Pertempuran antara kaum Muslimin dan orang-orang kafir mulai berkobar, namun tiba-tiba terjadi serangan balik oleh pasukan Musailamah. Kaum Muslimin mulai terdesak hingga bani Hanifah berhasil memasuki tenda Khalid bin  Walid dan hampir membunuh Ummu tamim, kalau tidak dilindungi oleh Majja`ah dan berkata, “Sesungguhnya wanita merdeka ini sangat mulia.”[15]
Pada peperangan ini tampak Keuletan dan kesabaran para sahabat yang tiada tandingnya. Mereka terus menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh, dan orang kafir lari tunggang-langgang. Kaum Muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Hingga akhirnya orang kafir terdesak sampai kebun kematian, hadiqatul maut[16].
Akhirnya seluruh kaum muslimin masuk ke kebun yang dalamnya terdapat Musailamah Al-Kadzdzab musuh Allah.  Akhirnya kaum Muslimin berhasil masuk kedalam kebun, baik dari pintunya maupun dari dindingnya, sambil membunuh orang-orang kafir penduduk Yamamah yang berada di dalamnya. Hingga akhirnya mereka sampai ke tempat Musailamah yang terlaknat itu. Waktu itu dia sedang berdiri di salah satu pagar kebun yang bolong seolah-olah  dia seekor unta jantan yang gagah.  Wahsyi bin Harb Maula Jubair bin Muth`im yang membunuh Hamzah dalam perang Uhud datang mendekatinya dengan cepat ia melemparkan tombaknya ke arah Musailamah tepat mengenainya hingga tembus ke belakang punggungnya. Dengan cepat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah mendatanginya dan menebasnya dengan pedang hingga terjatuh 
Perempuan-perempuan dari dalam istana menjerit, “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam.20
Jumlah yang terbunuh dari pihak musuh yang berada di dalam kebun maupun dalam pertempuran sebanyak 10.000 orang dan ada juga yang mengatakan sebanyak 21.000 orang. Adapun jumlah kaum Muslimin yang terbunuh sebanyak 600 orang, ada yang mengatakan 500 orang, wallahu a`lam. Di antara yang terbunuh banyak terdapat sahabat Nabi yang senior, dan orang-orang besar.[17]
2.  Khalifah Umar Bin Khaththab
Ketika Umar Bin Khaththab menjadi kepala negara telah mengubah nama kepala negara yang semula bergelar Khalifah Al-Rasul. Menjadi Amir Al-
Mu’minin. Umar melanjutkan perluasan wilayah ke tiga arah: ke utara menuju



wilayah Syiria di bawah pimpinan Abu Ubaidah Ibn Jarah. Setelah syria jatuh perluasan wilayah dilanjutkan ke arah barat menuju Mesir di bawah pimpinan Amr Ibn Al-Ash, dan menuju ke timur ke arah Irak di bawah pimpinan Surahbil Bin Hasanah. Yang ke arah timur selanjutnya disempurnakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Iskandariyah pelabuhan besar Mesir, Al-Qadisiyah sebuah kota di Irak, Al-Madain ibu kota[18]Persia, serta kota Mosul dapat dikuasai. Sehingga pada masa pemerintahan Umar sampai tahun 641 M., wilayah kekuasaan Islam telah meliputi jazirah Arab, Syria, Palestina, Irak, Mesir, dan sebagian wilayah Persia. Jazirah Arab yang berbangsa dan berbahasa Arab beragama Islam, syria yang berbahasa Suryani dan beragama Nasrani, Palestina yang berbahasa Ibrani dan beragama Yahudi, Mesir yang berbangsa Qibti beragama Mesir Kuno dan Nasrani, serta Irak dan sebagian daerah Persia yang beragama Majusi, disatukan di bawah kekuasaan Islam dengan ibu kotanya Madinah. 23
3.  Khalifah Usman Bin Affan
Setelah Umar berpulang ke rahmatullah ada daerah-daerah yang mendurhaka kepada pemerintah Islam. pendurhakaan itu di timbulkan oleh pendudkung-pendukung pemerintahan yang lama. Mereka ingin mengembalikan kekuasaan mereka. Daerah-daerah yang mendurhakai itu terutama ialah Khurasan dan Iskandariah.[19]
Pemberontakan di Khurasan oleh pendukung-pendukung yang lama. Adapun kota Iskandariah, telah diserang kembali oleh bangsa Romawi. Dikirimnya ke sana tentara yang besar, di bawah pimpinan seorang panglima Armenia, bernama Manuel.[20]
Pemberontakan-pemberontakan ini dapat ditumpas oleh Usman. Usman mengirimkan ke Khurasan dan Iskandariah tentara yang besar jumlahnya dengan peralatan yang cukup. Bala tentara ini dapat menghancurkan



pemberontak, serta dapat mengembalikan keamanan dan ketenteraman dalam daerah tersebut.26
Di masa Usman, negeri-negeri: Barqah, Tripoli Barat dan sebahagian selatan negeri Nubah telah masuk dalam wilayah kekuasaan Islam. kemudian Amenia dan  beberapa bagian Thabaristan, bahkan kemajuan tentara Islam telah melampaui Sungai Jihun (Amu Daria). Jadi daerah “Ma’waraan Nahri” (negeri-negeri seberang sungai Jihun) telah masuk wilayah negara Islam. negara Balkh (Baktria) Harah, Kabul dan Ghaznah di Turkistan telah diduduki kamu muslim.27
4. Khalifah Ali Bin Abi Thalib
Ali Bin Abi Thalib Memiliki watak dan pribadi sendiri, suka berterus terang, tegas bertindak dan tidak suka berminyak air. Ia tak takut akan celaan siapa dalam menjalankan kebenaran. Disebabkan oleh kepribadian yang dimilikinya itu maka sesudah ia di baiat dikeluarkannya dua ketetapan:
a.    Memecat kepala-kepala daerah angkatan Usman. Dikirimnya kepala daerah baru yang akan menggantikan. Semua kepala daerah angkatan Ali itu terpaksa kembali saja ke Madinah, karena tak dapat memasuki daerah yang ditugaskan kepadanya.
b.    Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Usman kepada Famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Usman kepada siapa pun yang tiada beralasan, diambil Ali kembali.28
Banyak pendukung-pendukung dan kaum kerabat Ali yang menasihatinya supaya menangguhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu, sampai keadaan stabil. Tetapi Ali kurang mengindahkan pertama-tama Ali mendapat tantangan dari keluarga Banu Umaiyah. Mereka membulatkan tenaga dan bangunlah Muawiah melancarkan pemberontakan memerangi Ali. Boleh dikatakan bahwa hampir seluruh ahli sejarah dan ahli ketimuran  mencela tindakan Ali. Dikatakannya Ali tidak bijaksana dan tidak mendapat taufik dalam hal ini. Tetapi, saya berpendapat, bahwa tiadalah pada tempatnya meletakan tuduhan yang seberat itu ke pundak Ali. Tuduhan sangat berlebihan orang banyak menerima begitu saja dan ikut pula menuduh tanpa dipelajari dan diselidiki. Tetapi, hal ini tak perlu diherankan karena dalam masyarakat banyak pula hal seperti ini.[21] 
Tantangan Yang Dihadapi Para Khulafaur Rasyidin Saat Mereka Menjabat Sebagai Khalifah

1.  Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq
Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar di baiat menjadi Khalifah menggantikan nabi dalam hal ini Abu Bakar menghadapi tiga golongan yang memberontak dari dalam kekuasaan Islam selain perluasan dan peperangan yang dilakukan kepada dua Imperium besar Romawi dan Persia.
a.    Mereka yang kembali murtad setelah Nabi wafat pada saat inilah banyak di antara orang yang sudah memeluk Islam kembali menjadi murtad karena lemahnya iman mereka. Peristiwa wafatnya nabi mereka jadikan suatu kesempatan untuk berterus terang apa yang tersembunyi dalam hati mereka[22]
b.    Sukuisme yang muncul kembali,  agama Islam sudah mencanangkan supaya orang hidup dalam satu keluarga besar, yaitu keluarga Islam. tetapi sukuisme itu selalu saja muncul. Rasulullah adalah seteru sukuisme. Bilamana saja sukuisme itu muncul terus diperangi oleh Rasulullah. Kendatipun demikian, namun sukuisme itu tidak juga mati.
Dia selalu timbul kembali di mana ada kesempatan untuk timbul.[23]
c.    Orang-orang yang salah dalam menafsirkan sejumlah ayat Al-Quran atau salah memahamkannya. Mereka menempuh jalan sesat yaitu jalan yang tidak ditempuh oleh jalan kaum muslimin yang terbanyak.[24]



Melihat fakta-fakta tersebut dapat kita katakan bahwa jalan sejarah tanah arab telah kembali surut ke belakang, sesudah Nabi wafat. Agama Islam menghadapi krisis yang maha hebat yang hampir saja merobohkannya. Ada golongan yang telah murtad. Ada pula orang-orang yang mengaku dirinya nabi, orang-orang ini mendapat pengikut dan pendukung yang tidak sedikit jumlahnya. Di samping itu  ada pula golongan ketiga, yaitu orang-orang yang tidak mau lagi membayar zakat, yang oleh mereka dinamakan upeti atau pajak.[25]
2.  Khalifah Umar Bin Khaththab
 Pada masa pemerintahan Umar ini beliau berhadap dengan dua Imperium besar Romawi dan Persia kedua Imperium ini tantangan yang berat bagi Khalifah Umar untuk bisa menundukan keduanya dalam kekuasaan Islam.[26]
Sebelum kaum muslimin menyerbu ke nagara Romawi, negara Romawi sebetulnya sudah hampir roboh. Spanyol, telah diduduki oleh bangsa Goth, dengan demikian robohlah serambi barat negara Romawi. Sedang serambi timurnya pun telah mendakati kejatuhannya ke bangsa Arab.35
Di masa pemerintahan Umar keadaan bala tentara telah jauh lebih kuat daripada laskar bangsa Roamawi, yaitu sesudah mereka mendapat kemenangan yang gemilang pada pertempuran Ajnadain. Oleh karena itu inganlah Umar mengirimkan bala tentaranya ke Persia. Disiapkannya suatu pasukan berjumlah 8000 orang, dan diangkatnya Sa’ad Bin Abi waqqash lalu dikirimnya ke Negeri Persia. [27]
3.  Khalifah Utsman bin Affan
Tantangan Islam di masa Usman dapat disimpulkan pada dua bidang :
1.   Menumpas pendurhaakaan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa negeri yang telah masuk ke bawah kekuasaan Islam di zaman Umar
2.   Melanjuti perluasan Islam ke daerah ke daerah yang sampai di sana telah terhenti perluasan Islam di masa Umar.[28]
Setelah umar berpeluang kerahmatullah ada daerah-daerah yang mendurhaka kepada pemerintah Islam. Pendurhakaan itu ditimbulkan oleh pendukung-pendukung pemerintah yang lama atau dengan perkataan lain ada sementara pamong praja dari pemerintahan lama ( pemerintahan sebelum daerah itu masuk ke bawah kekuasaan Islam ) ingin hendak mengembalikan kekuasaannya. Daerah-daerah yang mendurhaka itu terutama ialah khurasan dan Iskandariah[29].
Dengan mempergunakan angkatan laut yang dipimpin oleh Mu`awiyah ibnu Abi Sufyan tahun 28 H,3) pulau Cyprus dapat pula dimasukkan ke dalam wilayah Islam.[30] Salah satu pertempuran yang terpenting di laut ialah pertempuran “Dzatis Sawari” (Pertempuran Tiang Kapal). Pertempuran ini terjadi pada tahun 31 H di Laut Tengah dekat kota Iskandariah, antar tentara Rumawi di bawah pimpinan Kaisar Constantine dengan bala tentara Islam di bawah pimpinan Abdullah  Ibnu Abi Sarah, yang jadi gubernur di Mesir. Pertempuran ini dinamakan  “ Dzarit Sawan “ karena banyaknya  kapal-kapal perang yang ikut dalam peperangan ini. Konon kabarnya kapal-kapal perang yang bertempur dalam peperangan ini ada 1000, 200 buah kepunyaan kaum Muslimin dan yang selebihnya kepunyaan bangsa Romawi. Dalam peperangan ini kaum Muslimin telah berhasil mengalahkan tentara Romawi.[31]
4. Khalifah Ali bin Abi Thalib
Ada golongan yang tiada menyukai Ali . Beliau adalah bintang Bani Hasyim, yang menuntut kursi Khalifah, berdasarkan beliau adalah kerabat Rasulullah. Tetapi, jumhur kaum Muslimin memandang bahwa penyerahan kursi khalifah kepada Ali berarti penyerahannya turun-temurun sebagai warisan kepada bani Hasyim. Cara ini tidak diakui oleh agama Islam, dan tidak dapat diterima oleh bangsa Arab dan ditolak pula oleh orang-orang yang mempunyai keinginan perseorangan.41
Sebagai diketahui musuh Ali itu banyak. Di antaranya  ada yang menyembunyikan permusuhan itu, dan ada yang menyatakannya terangterangan. Bila pemerintahan dipegang oleh Ali, akan kembalilah cara-cara pemerintahan seperti pada pemerintahan Umar yang keras dan disiplin itu. Orang-orang yang telah merasakan kesenangan dan kenikmatan hidup di masa pemerintahan Usman yang mudah dan lunak itu, tentu saja tidak akan mau kembali ke keadaan yang serba teliti, serba disiplin dan serba diperhitungkan. Berdasarkan pertimbangan semacam ini banyaklah orang yang tiada menyukai Ali.42
Pengangkatan Ali dapat ditinjau dari berbagi-bagi jurusan. Bahwa yang tiada menyukai Ali diangkat menjadi khalifah, bukanlah rakyat umum yang terbanyak, tetapi golongan kecil (keluarga Umaiyah) yaitu keluarga yang pemuda-pemudanya telah banyak tewas dalam peperangan menantang Islam. Sekarang mereka tergolong kaum elite, cabang atas. Mereka menantang Ali karena khawatir, kekayaan dan kesenangan mereka akan hilang lenyap karena keadilan yang akan dijalankan




DAFTAR PUSTAKA

Darsono, dan Ibrahim. Tonggak Sejarah Kebudayaan  Islam I. Bandung : PT Pustaka Setia, 2008.
Fachry. Tarikh Al Khulafa. Jakarta : PT Mizan Publika, 2010. 
Jabbar, Umar Abdul. Khulashoh Nuril Yakin Juz 3. Surabaya : Maktabah al-hikmah, 2008.
Katsir Al-Hafizh Ibnu. Perjalanan Empat Khalifah Rasul Yang Agung. Jakarta: Darul Haq, 2014. 
Shadr, Sayid Muhammad Baqir. Sejarah Islam. Jakarta: PT.Lentera Basritama, 2004.
Sunanto Musyrifah. Sejarah Islam Klasik. Jakarta Timur: Prenada Media, 2003.
Syalabi, A. Sejarah Dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992.
Syalabi, A. Sejarah Kebudayaan Islam I. Jakarta : Pustaka Al-Husna Baru, 1982.





[1] Darsono dan Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan  Islam I, ( Bandung : PT Pustaka Setia, 2008 ), hlm.  43.
[2] Darsono dan Ibrahim, Ibid. Hlm. 44.
[3] Umar Abdul Jabbar, Khulashoh Nuril Yakin Juz 3, (Surabaya : Maktabah al-hikmah, 2008), hlm. 5 4 A Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam 1, ( Jakarta : Pustaka Al-Husna Baru, 1982 ), hlm. 195
[4]Umar Abdul Jabbar, ibid. hlm. 22
[5]Sayid Muhammad Baqir Shadr, Sejarah Islam, ( Jakarta : PT.Lentera Basritama, 2004 ), hlm.57
[6] Fachry, Tarikh Al Khulafa ( Jakarta : PT Mizan Publika, 2010 , hlm.172             8Fachry, Ibid. Hlm. 195 .
[7]Fachry, Ibid. Hlm. 196. 
[8]Fachry, Ibid. Hlm.196 .
[9] Al-Hafizh Ibnu Katsir, Perjalanan Empat Khalifah Rasul Yang Agung, (Jakarta: Darul Haq, 2014), hlm. 86. 



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KHULAFAUR-RASIDIN"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!