PENDIDIKAN ISALAM DI INDONESIA
Islam Nusantara atau Model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Islam Nusantara juga didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia.
Pendidikan Islam di Indonesia
a. Pendidikan Islam di aceh
Materi pendidikan Islam di Aceh pada masa penjajahan Belanda adalah sebagai berikut:
1. Belajar huruf Hijaiyah (alfabeth Arab).
2. Juz ‘Amma (disebut Al-Qur’an kecil).
3. Mengaji Al-Qur’an (disebut Al-Qur’an besar).
Setelah materi di atas dilanjutkan dengan kitab-kitab berbahasa Melayu, seperti: Bidayah, Masail Al Muhadi, Fur’ Masail, dan lain-lain. Setelah selesai masa pembacaan kitab-kitab Melayu dilanjutkan mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab, seperti: Dammun, Al-‘Awamil, Al Jurumiyah, Tafsir Jalalain.
Setelah perang Aceh melawan Belanda berakhir, pendidikan Islam di Aceh mulai berkembang, ditandai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren. Di pondok pesantren banyak dipelajari kitab-kitab seperti: Fatul Qarib, Fatul Mu’in, dan lainnya. Berikutnya mulai lahir madrasah, salah satunya madrasah Sa’adah Abadiyah di Blang Paseh Sigli yang didirikan pada tahun 1930 oleh Tgk. Daud Berueh.
Madrasah itu memiliki tujuh kelas dengan lama masa belajar empat tahun. Materi yang diajarkan: bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama serta sedikit Ilmu Bumi Mesir dan Tarikh Islam. Lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren sebagai basis perlawanan penjajahan Belanda.
b. Pendidikan Islam di Minangkabau
Pendidikan Islam di Minangkabau mengalami perkembangan yang pesat karena banyaknya buku-buku pelajaran agama Islam yang masuk ke sana. Adapun susunan materi pendidikan Islam di Minangkabau antara lain:
1. Belajar huruf Hijaiyah seperti halnya di Aceh.
2. Pengajian kitab yang terbagi atas tiga tingkatan, yaitu:
a. Nahwu, Saraf, dan Fiqih
b. Tauhid
c. Tafsir
3. Pengajian ilmu Tasawuf, Mantiq, dan Balaghah.
Sistem pendidikan yang digunakan masih seperti masa-masa awal, yaitu halaqah dan sistem majelis taklim. Di Minangkabau yang menjadi pusat pendidikan awal permulaan Islam adalah Surau. Pada masa penjajahan Belanda mulai dibuat ruang-ruang berbentuk kelas, dinamakan madrasah.
c. Pendidikan Islam di Jambi
Pesantren Nurul Iman didirikan pada tahun1914 oleh H. Abdul Samad seorang ulama besar di jambi. Pesantren ini juga berawal dari system halaqah kemudian menggunakan kelas-kelas seperti madrasah modern. Pelajarannya juga begitu, dari sekedar ilmu-ilmu agama kemudian memasukkan ilmu umum yang dibimbing dua guru khusus.
d. Pendidikan Islam di Jawa Timur
Pendidikan Islam yang cukup terkenal di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda adalah Tebuireng, yaitu pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1904 M. Pada mulanya hanya diajarkan agama dan bahasa Arab, kemudian setelah berdiri madrasah salafiyahmemasukkan ilmu-ilmu umum, seperti ilmu bintang, ilmu bumi dan lain-lain.
Pondok Pesantren Tebuireng terdiri atas empat bagian, yaitu: Madrasah Ibtidaiyah (lamanya 6 tahun), Madrasah Tsanawiyah (3 tahun), Mualimin (5 tahun), Pesantren dengan sistem halaqah.
Pendidikan Islam di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanada tidak terlepas dari pengaruh organisasi Nahdhatul Ulama yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H (3 Januari 1926) di Surabaya.
e. Pendidikan Islam di Jawa Tengah
Lembaga Pendidikan Islam di Jawa Tengah yang paling berpengaruh berpusat di sekitar Kudus. Ratusan pondok pesantren dan madrasah tersebar di seluruh pelosok Kudus, antara lain: Aliyatus-Saniyah Muawanatul Muslimin, Kudsiyah, Tsywiqut Tullab Balai Tengahan School, Mahidud Diniyah Al-Islamiyah Al-Jawiyah, dan lain-lain.
f. Pendidikan Islam di Yogyakarta
Pendidikan Islam di Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda banyak didominasi oleh organisasi Muhammadiyah. Diantaranya yang terkenal adalah Kweekschool Muhammadiyah, Mualimat Muhammadiyah, Zuama, Tabligh School, dan H.I.K. Muhammadiyah. Model pendidikannya dengan menggabungkan antara pelajaran umum dengan agama. Selain Muhammadiyah juga ada pondok pesantren Krapyak.
g. Pendidikan Islam di Jawa Barat
Madrasah pertama adalah yang didirikan di Majalengka pada tahun 1917 oleh Perserikatan Umat Islam. Pondok Pesantren yang cukup berpengaruh adalah PP Gunung Puyuh di Sukabumi. Selain itu juga ada pondok pesantren Persatuan Islam (Persis), pondok ini terdiri dari dua bagian, yaitu Pesantren Besar (untuk para santri yang telah cukup umur untuk mendapatkan pendidikan agama) dan Pesantren Kecil (untuk anak-anak kecil yang pelaksanaannya di sore hari).
h. Pendidikan Islam di Batavia
Madrasah tertua di Batavia adalah Jamiat Kheir yang didirikan tahun 1905. Tingkatan sekolahnya antara lain: tingkat Tahdiriyah (1 tahun), tingkat Ibtidaiyah (6 tahun), tingkat Tsanawiyah (3 tahun), Bagi lulusan terbaik Tsanawiyah bisa melanjutkan ke Mesir atau Mekkah. Madrasah lain yang juga punya andil besar bagi pendidikan Islam adalah madrasah Al-Irsyad yang didirikan pada tahun 1913.
i. Pendidikan Islam di Sulawesi
Tidak banyak perbedaan tentang pendidikan Islam di Sulawesi dengan di Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan karena sumber yang sama, yaitu Mekkah. Kebanyakan madrasah di Sulawesi pada mulanya dipimpin oleh guru-gur agama dari Minangkabau dan Yogyakarta. Madrasah yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah madrasah Amiriyah Islamiyah di Bone. Mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini meliputi pelajaran agama dan pelajaran umum.
Madrasah Amiriyah Islamiyah terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1. Ibtidaiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajrakan ilmu agama 50%;
2. Tsanawiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajarkan ilmu agama 60%;
3. Muallimin, lama belajarnya dua tahun, diajarkan ilmu agama 80%.
Tokoh yang cukup berpengaruh dalam mengembangkan pendidikan Islam di Sulawesi, antara lainadalah Syekh H. M. As’ad bin H. A. Rasyad Bugis. Madrasah yang didirikannya bernama Wajo Tarbiyah Islamiyah yang dikemudian hari berubah menjadi Madrasah As’adiyah.
j. Pendidikan Islam di Kalimantan
Madrasah yang tertua yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda adalah madrasah Najah Wal Falah di Sei Bakau Besar Mempawah. Didirikan pada tahun 1918 M., setelah itu berdiri madrasah Perguruan Islam Assulthaniyah di Sambas pada tahun 1922 M.
Di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda tidak banyak madrasah dan pesantren yang berdiri, namun andil dan maknanya cukup berarti dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di tanah air Indonesia ini di bagian timur.[1]
4 Mazhab dalam Islam
a. Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi didirikan oleh Nu’man bin Tsabit bin Zauthi yang dilahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H/ 699 M. Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan hari lahirnya Imam Syafi’i R.A. beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah An Nu’man.[2]
Mazhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak). Kemudian berkembang dan tersebar luas ke negara-negara Islam bagian Timur pada permulaan masa perkembangannya berkat kekuasaan Imam Abu Yusuf yang menjabat Hakim Agung di Bagdad dan berkat pengutamaan khalifah-khalifah Abbasiyah terhadap mazhab tersebut dalam lapangan peradilan.
Pada masa sekarang ini mazhab hanafi adalah merupakan mazhab resmi di Mesir, Turki, Siria, dan Libanon. Dan mazhab ini pula yang dianut oleh sebagian besar penduduk Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India dan Tiongkok.
Penelitian K.H. Sirajuddin Abbas almarhum lebih terperinci lagi bahwa pada masa sekarang ini mazhab Hanafi tersebut berkembang dan dianut oleh kaum muslimin di negara-negara Al-jazair, Tunis, Libiya, Turki, Mesir (sebagian), Irak, Pakistan, India, Tiongkok, Sudan, Nigeria, Afganistan, Libanon (sebagian), Saudi Arabia (sebagian), dan daerah Uni Soviet.
Dengan memperhatikan peta perkembangan dan pengaruh mazhab Hanafi sebagaimana tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa : “lebih sepertiga ummat Islam di dunia ini yang menganut mazhab Hanafi.[3]
b. Mazhab Maliki
Pendiri mazhab Maliki adalah Maliki bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 H/712 M di Madinah. Pada perkembangan selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik.
Mazhab Maliki pada awal mulanya tersebar di daerah asal munculnya, yaitu Madinah. Kemudian disebarluaskan ke daerah luar oleh para sahabat dan murid-murid Imam Malik ke daerah tempat tinggal masing-masing.
Pada masa sekarang mazhab Maliki dianut oleh umat Islam di negara-negara Maroko, Al-jazair, Tunisia, Libiya, Bharain, Kuwait.[4]
c. Mazhab Syafi’i
Mazhab ini dibangun oleh Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib. Beliau dilahirkan di Guzah, sebuah wilayah didalam negara Siria pada tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Imam Mazhab yang pertama. Guru Imam Syafi’i yang pertama adalah muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekkah.[5] Pada masa sekarang , mazhab Syafi’i dianut oleh umat Islam di Libia, Arabia Selatan, Hijaz, Mesir, Palestina, Pakistan, Indonesia, Yordania, India, Filipina, Libanon, Jazirah Indo China, Malaysia, Syiria, Sunni-Rusia, Somalia, Irak dan Yaman.
Demikianlah keadaan mazhab Syafi’i pada masa sekarang ini. Dan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia menganut mazhab tersebut sejak dulu hingga dewasa (sekarang) ini.[6]
d. Mazhab Hambali
Pendiri mazhab Hanbali adalah Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau dilahirkan di Bagdad pada tahun 164 H. Dan wafat tahun 241 H.
Pada awal masa perkembangannya, mazhab Hanbali termasuk mazhab yang kurang beruntung. Pertama-tama yang berkembang di Bagdad. Pada abad ke-4 baru dapat melampaui perbatasan Irak dan pada abad ke-6 sudah memasuki dan berkembang di Mesir. Tetapi berkat usaha Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim serta berkat kesungguhan Muhammad Ibnu Abdil Wahhab sekitar abad ke dua belas (abad XII) mazhab Hanbali lebih berkembang. Dia menjadi mazhab penduduk Nejeb, terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi.
Pada masa sekarang, mazhab Hanbali menjadi mazhab resmi pemerintah Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar diseluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria, Irak.[7]
Macam-macam Tarekat yang Mu’tabarah di Indonesia
Secara bahasa Tarekat berarti jalan, petunujk, atau cara. Sedangkan menurut istilah Tarekat ialah jalan atau petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan olleh Nabi dan dikerjakan oleh sahabat, tabi’in, turun menurun sampai kepada guru-guru, serta sambung menyambung dan rantai-berantai.[8]
Adapun tarekat yang mu’tabarah di Indonesia yaitu:
a. Tarekat Syattariyah
Tarekat ini pertama kali digagas oleh Abdullah Syattar (wafat 1429 M). tarekat syattariyah berkembang luas di tanah suci mekkah dan madinah karena dibawa oleh syekh Ahmad al-Qusyasi (wafat 1661 M) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (wafat 1689 M). dari dua ulama ini, diteruskan oleh Syekh Abd.Rauf al-Sinkili yang bernama Syekh Burhan Ad-Din ke Minangkabau dan sekitarnya seperti Sumatera Barat, Riau dan Jambi.[9]
b. Tarekat Naqsabandiyah
Tarekat ini didirikan oleh Muhammad bin Muhammad Baha’uddin al-Uwaisi al-Bukhari Naqsabandi (wafat 1318 M/ 772 H). bermula di Bukhara pada abad 14, Naqsabandiyah mulai menyebar ke daerah-daerah tetangga dunia muslim dalam waktu seratus tahun.
Ajaran dasar Tarekat ini pada umumnya mengacu kepada empat aspek pokok yaitu syari’at, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Sedangkan ciri khas yang menonjol yaitu diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap music dan tari, serta lebih mengutamakan berzikir dalam hati (sirri).
Tarekat ini masuk ke minangkabau sejak abad ke 17 dengan pintu masuk melalui daerah pesisir Pariaman, kemudian terus ke Agam dan lima puluh kota. Tarekat ini diperkenalkan oleh Jamal Ad-din seorang minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai, sebelum dia menlanjutkan ke Bait al-Faqih, Aden, Haramain, Mesir dan India. Di Jawa Tengah, tarekat ini disebarkan oleh K.H. Abdul Hadi Girikusumo Mranggen yang kemudian yang menyebar ke popongan Klaten.[10]
c. Tarekat Ahmadiyah
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad bin ‘Aly (Al-Husainy al-Badawy). Beliau adalah seorang lelaki keturunan Rasulullah saw. Melalui sayyidina Al-Husain. Selawat Badawiyah sugra dan kubra adalah selawat yang amat dikenal masyarakat Indonesia. Kedua selawat itu dinisbatkan kepada waliyullah Sayid Ahmad Badawi. Akan tetapi, tarekat Badawiyah sendiri tidak berkembang secara luas di Indonesia, khususnya di Jawa.[11]
d. Tarekat Syadziliyyah
Pendiri Tarekat ini adalah Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Abu Al-Hasan Asy-Syadzili. Tarekat ini merupakan salah satu komunitas ajaran sufistik yang memiliki pengikut yang sangat banyak. Tarekat syadziliyyah ini berkembang sangat pesat di jawa.[12]
e. Tarekat Qadiriyah
Tarekat ini dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir Jailani (wafat 561 H/ 1166 M). Riwayat hidup dan keutaman akhlak (manaqib) Syekh Abdul Qadir Jailaini dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa tengah dan Jawa Timur. Kitab manaqib dibaca dalam acara tertentu sebagai sarana tabaruk dan tawasul kepada Syekh Abdul Qadir.
Tarekat Qadiriah dikenal luwes karena murid yang sudah mencapai derajat syekh tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya. Bahkan berhak melakukan modifikasi tarekat lain kedalam tarekatnya.
Adapun ajaran mendasar Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak berbeda dengan ajaran pokok Islam, terutama golongan Ahlussunah wal Jama’ah. Syekh Abdul Qadir menghargai para pendiri mazhab Fiqih yang empat dan teologi Asy’ariyah Maturidiyah. Ajarannya menekankan pada tauhid dan akhlak terpuji.[13]
f. Tarekat Qadiriah Naqsabandiyah
Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872) yang dikenal sebagai penulis kitab Fath al-;Arifin. Sambas sebuah kota yang ada disebelah utara Pontianak. Kalimantan Barat.
Syekh Naquib al-Attas mengataka bahwa tarekat ini melakukan dua macam zikir, yang dibaca keras (jahr) dalam tarekat Qadiriah dan zikir yang dilakukan di dalam hati (khafi) dalam Tarekat Naqsabandiyah.[14]
g. Tarekat Alawiyah
Tarekat ini didirikan oleh Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Tarekat ini berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan dan tersebar hingga ke berbagai Negara, seperti Afrika, India, dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia).
Tarekat Alawiyah berbeda dengan tarekat pada umumnya. Perbedaan itu, misalnya, terletak dar praktik yang tidak menekankan segi riyadah (oleh ruhani) yang berat, tetapi lebih menekankan pada amal, akhlak, beberapa wirid, dan zikir ringan. Akibatnya, akibatnya, wirid dan zikir dapat dengan mudah dipraktikan oleh siapa saja, meski tanpa di bimbing oleh seorang mursyid.
Ada dua wirid yang diajarkan dalam Tarekat Alawiyah, yaitu wirid al-latif dan ratib al-hadad serta beberapa ratib lainnya, seperti rattib al-attas dan ratib Alaydrus. Dapat dikatakan bahwa tarekat ini merupakan jalan tengah antara tarekat Syadziliyyah (yang menekankan oleh hati atau bathiniah) dan tarekat Al-Gazaliyah (yang menekankan oleh fisik).[15]
h. Tarekat Khalwatiyah
Tarekat ini diambil dari kata Khalwatyang artinya merenung atau menyendiri. Diambilnya nama ini karena Syekh Muhammad al-Khalwati (wafat 717 H) sering melakukan khalwat ditempat-tempat sepi.[16]
i. Tarekat Tijaniyah
Tarekat ini didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani (1737-1815). Salah seorang tokoh dari gerakan “Neosufisme”. Ciri dari gerakan ini adalah penolakan terhadap sisi eksak dan metafis sufisme dan lebih menyukai pengalaman secara ketat ketentuan-ketentuan syari’at dan berupaya sekuat tenaga untuk menyatu dengan ruh Nabi Muhammad saw. Sebagai ganti untuk menyatu dengan Tuhann.
Di Indonesia, tarekat ini ditentang keras oleh tarekat-tarekat lain. Gugatan keras dari kalangan ulama tarekat dipicu oleh pernyataan bahwa para pengikut Tarekat Tijaniah beserta keturunannya sampai tjuh generasi akan diperlakukan khusus pada hari kiamat dan pahala yang diperoleh dari pembacaan Shalawat Fatih sama dengan membaca seluruh Al-Quran 1000 kali. Lebih dari itu, para pengikut Tarekat Tijaniah terus berkembang, terutama di Buntet Cirebon, seputar Garut (Jawa Barat), dan Jatibarang Brebes.
Syekh Ali Basalamah, kemudian dilanjutkan putranya, syekh Muhammad Basalamah adalah muqaddam Tijaniah di Jatibarang yang pengajian rutinnya dihadiri oleh puluhan ribu umat Islam pengikut Tijaniyah. Demikian pula Madura dan Ujung timur pulau Jawa juga tercatat sebagai pusat peredaran tarekat ini.
Penentangan terhadap Tarekat ini mereda setelah Jam’iyyah Ahlit Tariqat An-Nahdiyah menetapkan keputusan bahwa tarekat ini bukan tarekat sesat kaena amalan-amalannya sesuai dan tidak bertentangan dengan ajaran islam. Keputusan ini diambil setelah para ulama ahli tarekat memeriksa wirid dan wazifah tarekat ini.[17]
j. Tarekat Sammaniyah
Tarekat ini didirikan oleh Syekh Muhammad Samman yang bernama asli Muhammad bin Abd al-Karim as-saman al-Madani al-Qadari al-Quraisyi dan lebih dikenal dengan panggilan Samman.
Di Indonesia, Tarekat Sammaniyah berkembang di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Tarekat ini masuk ke Indonesia pada penghujung abad XVIII yang banyak mendapakan pengikut karena popularitas Imam Samman. Oleh karena itu, manaqib Syekh Samman juga sering dibaca.[18]
[1] Muhammad Fathurrohman, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, diakses dari https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/15/sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia/, pada tanggal 4 April 2018 pukul 21.38 WITA.
[3] Asep Saifuddin Al-Mansur, Kedudukan Mazhab dalam Syari’at Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984), Hal. 49-50
[8] Hardono, dkk., Meneladani Akhlak untuk Kelas XII MA Progam Keagamaan, Kurikulum KTSP,
Hal. 3
0 Response to "PENDIDIKAN ISALAM DI INDONESIA"
Posting Komentar