KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PENDEKATAN STUDI ISLAM


            Pemahaman demi pengetahuan maupun reinterpentasi terhadap pesan-pesan tuhan harus terus berlangsung secara dinamis, seiring dengan dinamika kehidupan manusia itu sendiri. Hal ini di maksudkan sebagai upaya transformasi dan internalisasi nilai-nilai agama dalam kesejahtraan manusia , sehingga manusia menuju tatanan kehidupan yangng rahmatan lil’alamin.
            Sementara  itu agama atau keagamaan sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Sehingga walaupun keadaannya amat bervariasi tetapi tidak keluar dari ajaran islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-sunnah serta dengan data-data historis yang dapat di pertanggung jawabkan keabsahannya.

Pendekatan Dalam Studi islam
Pendekatan adalah suatu cara kerja untuk memudahkan pendidik/warga belajar agar pesesrta didik atau warga ingin belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Menurut kamus besar bahasa indonesia
            Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendekatan adalah proses perbuatan, cara mendekati, usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Dalam bahasa inggris pendekatan diistilahkan dengan “Approach” dalam bahasa arab disebut dengan “madkhal”.
            Islamic studies adalah studi tentang disiplin dan tradisi intelektual keagaman klasik menjadi inti dari islamic studies, karena ada di jantung kebudayaan yang di pelajari dalam peradaban islam dan agama islam, dan karena banyak muslim memandangnya sebagai persoalan penting. Islamic studies bukan hanya disiplin, namun ia lebih merupakan kesaling hubungan antara beberapa disiplin. Dalam bahasa metodelogi para peneliti meminjam serangkaian disiplin termasuk ilmu-ilmu sosial. Kurang tegasnya batasan-batasan ini justru menyediakan peluang untuk memperkaya studi yang beragam.
            Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama islam dapat dilihat dari beberapa aspek yang sesuai dengan paradigmanya. Sedangkan metode dipahami lebih sempit dari pendekatan. Metode memiliki arti cara atau jalan yang dipilih dalam upaya memahami sesuatu. dalam hal ini, memahami ajaran agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.[1]

Beberapa Pendekatan Dalam Studi Islam
1. Pendekatan Teologis Normatif
Teologis Pendekatan normatif secara harfiah dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dalam rangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya Amin Abdullah mengatakan , bahwa teologi sebagaimana diketahui , tidak bisa dipastikan mengacu kepada agama tertentu.
Menurut pengamatan sayyed husain nasr, dalam era kontemporer ini ada prototipe pemikiran keagamaan fundamentalis ,modernis, mesianis, dan tradisionalis. Keempat prototipe pemikiran keagamaan tersebut sudah tentu tidak mudah untuk disatukan begitu saja. Masing-masing mempunyai” keyakinan” teologi yang sering kali sulit untuk didamaikan. Mungkin kurang tepat menggunakan istilah teologi disini, tetapi menunjukkan pada gagasan pemikiran pada keagamaan tertentu juga bentuk dari pemikiran teologi dalam bentuk dan wajah yang baru.[2]
Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatic bahwa pahamnya lah yang benar sedangkan paham lainnya salah, sehingga memandang paham orang lain itu keliru,sesat, dan kafir,murtad, dan seterusnya. Demikian pula paham yang dituduh keliru,sesat dan murtad,dan kafir itupun menuduh kepada lawannya sebagai yang sesat dan kafir. Dalam keadaan demikian,antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai.yang ada hanyalah ketertutupan, sehingga yang terjadi adalah pemisah dan terkotak-kotak. Adalah suatu tugas mulia bagi para teolog dari berbagai agama untuk memperkecil kecendrungan tersebut dengan cara memfomulasikan kembali khazanah pemikiran teologi mereka untuk lebih mengacu pada titik temu antar umat beragama.[3]
2. Pendekatan Antopologis
          Pendekatan Antopologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagaman yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. dengan melalui pendekatan ini, agama tampak agama tampak dekat dan akrab dan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya, dengan kata lain cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah yang digunakan pula untuk memahami agama.
          Melalui pendekatan antropologi dapat dilihat bahwa agama ternyata bertoleransi dengan etos kerja dan pengembangan ekonomi suatu masyarakat. dan dapat dilihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dan fungsional dan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia. Dengan demikian, pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahamiajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi dan cabang-cabangnya.[4]
3. Pendekatan Sosiologi
          Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dengan masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mrngerti sifat dan maksud hidup bersama, cara bentuk,tumbuh serta berubahnya. Sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur,lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.Metode ini dapat di gunakan sebagai slah satu pendekatan dalam memahami agama,karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat di pahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi.Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit di jelaskan dan sulit pula di pahami maksudnya,disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama islam.pentingnya pendekatan ini dalam memahami agama sebagaimana disebutkan di atas,dapat di pahami karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial.[5]
Ada 5 alasan yang mengajukan islam terhadap masalah sosial yaitu :
a)       Dalam alquran atau kitab-kitab hadist,proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah.
b)       Bahwa di tekankannya masalah muamalah (sosial) dalam islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting,maka ibadah boleh di perpendek atau di tangguhkan,melainkan di kerjakan sebagaimana mestinya.
c)       Ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan di beri ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan contohnya shalat berjamaah itu lebih besar pahalanya daripada shalat sendiri.
d)      Dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal,karena melanggar pantangan tertentu maka kifaratnya ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
e)       Dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah.
Melalui pendekatan ini agama akan dapat di pahami dengan mudah,karena agam itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial.[6]
4. Pendekatan filosofi
 Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu, dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik obyek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriah.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau  hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya. Sebagai contoh, kita  menjumpai merek pulpen dengan kualitas dan harganya yang berlain-lainan namun inti semua pulpen itu adalah sebagai alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka tercukuplah semua nama dan jenis pulpen. Contoh lain, kita jumpai berbagai bentuk rumah dengan kualitas yang berbeda, tetapi semua rumah intinya adalah sebagai tempat tinggal. Kegiatan berpikir untuk menemukan hakikat itu dilakukan secara mendalam. Louis O Kattsof mengatakan bahwa kegiatan kefilsafatan ialah merenung, tetapi merenung bukanlan melamun, juga bukan berpikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sitematik, dan universal. Mendalam artinya dilakukan sedemikian rupa hingga dicari  sampai ke batas dimana akal tidak sanggup lagi. Radikal artinya sampai ke akar-akarnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Sistematik maksudnya adalah dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berpikir tertentu dan universal, maksudnya tidak terbatasi hanya pada suatu kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk seluruhnya.
Pendekatan filosofis yang bercorak perenialis ini, walaupun secara teoritis  memberikan harapan dan kesejukan, namun belum secara luas dipahami da diterima kecuali kelompok kecil saja. Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya, yang contoh-contohnya telah dikemukakan di atas. Namun, pendekatan seperti ini masih belumditerima secara merata terutama oleh kaum tradisionalis formalistis yang cenderung memahami agama terbatas pada ketetapan melaksanakan aturan-aturan formalistic.[7]
5. Pendekatan Historis
          Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalam nya di bahas berbagai peristiwa dengan memerhatikan unsur tempat, waktu, dan objek latar belakang , dan prilaku dari peristiwa tersebut.
          Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dan keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam yang empiris dan historis.
          Pendekatan ini amat sangat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu  sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat. dalam bagian yang berisi konsep-konsep, kita mendapati banyak sekali istilah Al-Qur’an yang merujuk pada pengertian-pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etika, aturan-aturan ilegal dan ajaran-ajaran agama pada umumnya. Istilah-istilah atau singkatnya pernyataan itu diangkat dari konsep-konsep religius yang ingin diperkenalkan. Melalui pendekatan sejarah ini, seseorang diajak untuk memasuki penerapan suatu peristiwa dari sini, seseorang tidak memahami agama keluar dari konteks historinya, karena pengamatan demikian akan menyesatkan orang yang memahaminya. [8]
6. Pendekatan Kebudayaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kebudayan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin atau akal budi pekerti, manusia, seperti kepercayaan, kesenian, adat-istiadat, dan berarti pula kegiatan atau usaha batin untuk menciptakan suatu yang termasuk hasil kebudayaan. Sementara itu, Sultan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks,  yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum moral, adat-istiadat, dan segala kecakapan lainnya. Yang sudah di peroleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potennsi Batin yang di milikinya. Didalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, kenyakinan, seni, moral, adat-istiadat, dan sebagainya. Semuanya itu, kemudian digunakan sebagai kerangka acuan dan blue prin oleh seseorang dalam menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan demikian juaga, kebudayaan tampil sebagai pranata yang secara terus menerus dipelihara oleh para pembentuknya dan generasi berikutnya yang di warisi kebudayaan tersebut. [9]
7. Pendekatan Psikologi                                                                                                                                  Psikologi atau ilmu jiwa yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat di amatinya . Menurut Zakiah Drajad, perilaku seseorang yang tampat lahirlah terjadi karena dipengaruhi oleh kenyakinan yang dianutnya. Dengan semua pendekatan semua orang akan sampai pada agama .seorang teologi, antropologi, sejarawan, ahli ilmu jiwa, dan budayawan.akan sampai pada pemahaman agama yang benar.kita dapat melihat bahwa agama bukan hanya monopolikalangan teologi dan normatif belaka melainkan dapat di pahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang di milikinya dari keadaan demikian , seseorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama,dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkatan keagaman yang dihayati, dipahami, dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama kedalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usiannya. Dengan ilmu ini, agama akan menemukan carayang tepat dan cocok untuk menanamkannya sehingga seseorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama. [10]

Macam-Macam Metode Dalam Pengajaran Agama Islam
1. Metode Mutual Education
Adalah suatu metode mendidik secara kelompok seperti yang dicontohkan oleh Nabi SAW, misalnya praktek sholat berjama’ah.
2. Metode Pendidikan Dengan Cara Instruksional
Adalah mengajarkan tentang ciri-ciri orang yang beriman dalam bersikap dan bertingkah laku agar mereka dapat mengetahui bagaimana seharusnya mereka bersikap dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari.
3. Metode Bercerita
Adalah mengisahkan peristiwa atau sejarah hidup manusia masa lampau yang menyangkut ketaatan dan kemungkarannya dalam hidup terhadap perintah Tuhan yang dibawakan oleh Nabi SAW yang hadir ditengah-tengah mereka.
4. Metode Bimbingan Dan Penyuluhan
Adalah dimana manusia akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan hidup yang dihadapi atas dasar iman dan taqwanya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Metode Pemberian, Contoh, Atau Teladan
Dimana Allah menunjukkan contoh keteladan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW yang mengandung nilai paedagogis bagi manusia. Selain itu anak didik cenderung meneladani pendidiknya dan secara paedagogis anak memang senang meniru baik itu yang baik maupun yang buruk.
6. Metode Diskusi
Metode ini juga diperhatikan oleh al-qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap suatu masalah.
7. Metode Tanya Jawab
Metode ini merupakan metode paling tua dalam pendidikan dan pengajaran disamping metode khutbah.
8. Metode Imstal/Perumpamaan
Metode ini digunakan untuk menyampaikan materi tentang kekuasaan Tuhan dalam menciptakan hal-hal yang haq dan yang bathil. Contoh perumpamaan: “orang-orang yang berlindung kepada selain Allah SWT adalah seperti laba-laba yang membuat rumah”.Padahal rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba.
9. Metode Targhib Dan Tarhib
Targhib adalah janji terhadap kesenangan dan kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Sedangkan tarhib adalah ancaman karena dosa yang dilakukan. Hal ini tidak sama dengan metode ganjaran dan hukuman, adapun perbedaannya adalah:


No
Targhib dan Tarhib
Ganjaran dan hukuman
1
Lebih teguh
Bersandar pada dunia
2
Mengandung aspek iman
Tidak mengandung aspek iman
3
Secara operasional mudah dilaksanakan
Harus ditemukan sendiri oleh guru
4
Lebih universal, karena bagi siapa dan kapan saja
Disesuaikan orang dan tempat tertentu
5
Lebih lemah kedudukannya.
Lebih nyata
10. Metode Taubat Dan Ampunan
Cara membangkitkan jiwa dari rasa frustasi kepada kesegaran hidup dan optimisme dalam belajar seseorang, dengan memberikan kesempatan bertaubat dari kesalahan/kekeliruan yang telah lampau yang diikuti dengan pengampunan atas dosa dan kesalahan. Dengan cara ini orang akan mengalami katarisasi (pembersihan batin) sehingga memungkinkan timbulnya sikap dan perasaan mampu untuk berbuat yang lebih baik dan diiringi dengan sikap optimisme dan harapan hidup dimasa depan.


DAFTAR PUSTAKA

Armai, Arif. pengantar ilmu dan metodelogi pendidikan islam.Jakarta:ciputat press. 2002
Nata, Abuddin. Metodelogi Studi Islam. Jakarta:Raja Grafindo pesada. 2001
yamin Abdullah, M. Studi Islam Kontemporer. Jakarta:Amzah. 2006
Baidhawiy, Zakiyuddin. Studi islam pendekatan dan Metode. Jogjakarta:Bintang Pustaka Abadi. 2011
Harun, Nasution. Filsafat dan Mistisme Dalam Islam. Jakarta:Bulan Bintang. 1995
Anwar, Rosihan. pengantar studi islam.Bandung:CV Pustaka Setia. 2009
Daradjat, Zakiah. ilmu jiwa Agama.Jakarta:Bulan Bintang. 1987


[1] Arif Armai, pengantar ilmu dan metodelogi pendidikan islam,(jakarta: ciputat press, 2002)h. 54-55
[2]  Abuddin Nata, Metodelogi Studi Islam, ( Jakarta: Raja Grafindo pesada, 2001) h. 47
[3] Ibid h. 48
[4] M yamin Abdullah, Studi Islam Kontemporer, ( Jakarta: Amzah,2006) h. 78
[5] Zakiyuddin Baidhawiy, Studi islam pendekatan dan Metode, ( Jogjakarta: Bintang Pustaka Abadi,2011)h.56
[6] Ibid h.57
[7] Nasution Harun,Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1995) h. 87-89
[8]  Ibid h. 96
[9] Dr. Rosihan Anwar, pengantar studi islam , (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009) h. 91
[10]  Zakiah Daradjat, ilmu jiwa Agama, ( Jakarta :Bulan Bintang, 1987) h.76

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PENDEKATAN STUDI ISLAM"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!