PERASAAN
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Dimana ilmu ini sangat penting untuk kita pelajari sebagai mahasiswa dan mahasiswi yang akan kita aplikasikan saat mengajar dan terjun di dunia kemasyarakatan nantinya.
Permasalah yang ada di psikologi juga tertuju pada tiap-tiap individu yang dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kedalam pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Pengamatan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang cerdas. Yang terjadi terhadap suatu proses dengan maksud merasakan dan memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan.
Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh semua orang, hanya corak dan tingkatannya tidak sama.[1]Perasaan dapat diartikan sebagai suasana psikis yang mengambil bagian pribadi dalam situasi, dengan jalan membuka diri terhadap suatu hal yang berbeda dengan keadaan atau nilai dalam diri.
Apabila berpikir itu bersifat objektif, maka perasaan itu bersifat subjektif karena lebih banyak dipengaruhi oleh keadaan diri. Apa yang baik, indah, menarik bagi seseorang belum tentu baik, indah, dan menarik bagi orang lain.
Penialaian subjek terhadap suatu objek, membentuk perasaan subjek yang bersangkutan. Karena itu pada umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenai, artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggap, membayangkan, mengingat, atau memikirkan sesuatu. Di samping itu, perasaan juga berhubungan dengan keadaan dan peristiwa jasmaniah.[2]
Perasaan dan emosi pada umumnya disifatkan sebagai keadaan (state) yang ada pada individu atau organisme pada sesuatu waktu.misal seseorang merasa sedih, senang, takut, marah, ataupun gejala-gejala yang lain setelah melihat mendengar atau merasakan sesuatu. Dengan kata lain perasaan dan emosi disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa pada organisme atau induvidu sebgai akibat adanya peristiwa atau presepsi yang dialami oleh organisme. Pada umumnya peristiwa atau keadaan tersebut menimbulakan kegoncangankegoncangan dalam diri organisme yang bersangkutan.
Lalu apakah yang dimaksud dengan perasaan atau (felling) dan emosi (emotion) itu. Menurut Chaplin (1972) yang dimaksud dengan perasaan adalah keadaan atau state indivudi sebagai akibat dari presepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal. Mengenai emosi Chaplin berpendapat bahwa definisi mengenai emosi cukup bervariasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi dari berbagai orientasi. Namun demikian dapat dikemukakan oleh para ahli psikologi dari berbagai orientasu. Namun demikian dapat dikemukakan atas general agreement bahwa emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Karena itu emosi lebih intens daripada dengan perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku, hubungan dengan linkungan kadang-kadang terganggu.
Emosi pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relatif lebih lama daripada emosi, tetapi intensitasnya kurang dibanandingkan dengan emosi. Apabila seseorang mengalami marah (emosi), maka kemarahan tersebut tidak segera hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam jiwa seseorang (ini yang dimaksud dengan mood) yang akan berperan dalam dengan temperamen. Temperamen adalah keadaan psikis seseorang yang predisposisi yang ada pada diri seseorang dan karena itu tempramen lebih merupakan aspek kepribadian seseorang apabila dibandingkan dengan mood.[3]
Pandangan Islam Terhadap Ilmu Psikologi
Al-Quran merupakan sumber utama pengetahuan dan pedoman lengkap bagi kehidupan manusia untuk menjadi pribadi sempurna, begitu juga dengan psikologi. Psikologi lahir untuk mempelajari manusia demi mendapatkan jiwa yang sehat. Antara psikologi dan al-quran sesungguhnya memiliki tujuan dan manfaat yang sama dalam hal memahami penyakit-penyakit jiwa dan menghadirkan penawarnya.[4]
Psikologi islam sesungguhnya telah ada sejak zaman pertengahan, dibawa oleh ilmuan-ilmuan islam seperti al-Kindi, Abu bakar ar-Razi, Miskawaih, Ibnu Sina, al-Ghazali, Ibnu Bajah, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd, Fakhruddin arRazi, Ibnu Taimiyah, dan lain sebagainya.
Salah satu kisah terbaik dalam al-quran adalah kisah Nabi Yusuf. Berbeda dengan kisah nabi-nabi lain, kisah Yusuf termuat secara khusus dalam satu surah, yakni surah ke-12 sepanjang 111 ayat, kisahnya dijabarkan secara mendetail dan padat per episode kehidupan sejak masa kanak-kanak hingga ia mendapatkan peran sosial yang tinggi.[5]
Selain itu, perbedaan yang mendasar antara kisah Yusuf dan nabi-nabi lain adalah bahwa dalam kisah nabi lain selalu diceritakan tentang perjuangan yang keras di jalan agama islam dan diakhiri dengan penumpasan kaum yang durhaka. Sedangkan dalam kisah Yusuf terdapat pelajaran-pelajaran tentang starategi psikologis, dalam menghadapi dinamika hidup dan diakhiri dengan kesatuan keluarga. Dan juga di dalam surah Yusuf juga mengandung konsepkonsep jiwa ideal bagi remaja. Konsep kejiwaan tersebut dipandang dari segi agama dan sarat akan moral.[6]
Tiga Dimensi Perasaan Menurut Wundt
Seperti telah dipaparkan di depan perasaan itu dialami oleh individu sebagai perasaan senang. Namun demikian senang dan tidak senang itu bukan satu-satunya dimensi perasaan. Menurut Wundt (lih. Woodworth dan Marquis, 1957) selain dimensi senang dan tidak senang masih ada dimensi perasaan yang lain, yaitu perasaan masih dapat dialami oleh individu sebagai excited feeling atau sebagai innert feeling, dan ini dipandang sebagai dimensi yang kedua. Excited feeling adalah perasaan yang dialami oleh individu disertai adanya perilaku atau perbuatan yang nampak, misal orang menari-nari karena lulus ujian. Sebaliknya sekalipun seseorang mengalami perasaan senang karena menerima uang banyak atau lulus ujian tetap saja tanpa ada perilaku atau perbuatan yang menampak keluar, ini yang dimaksud dengan Innert feeling. Di samping itu masih ada dimensi yang lain yang merupakan dimensi ketiga, yaitu expectancy feeling dan release feeling. Sesuatu perasaan dapat dialamu oleh individu sebagai suatu yang belum nyata, sesuatu yang masih dalam pengharapan, ini yang dimaksud dengan expected feeling. Di samping itu perasaan dapat dialami oleh individu kaarena sesuatu itu telah nyata, ini yang dimaksud denan release feeling.
Menurut Woodworth dan Marquis (1957) apa yang dimaksud oleh Wundt tersebut memang berharga, tetapi tidak ada suatu alasan mengapa hanya tiga dimensi saja, tidak lebih dan tidak kurang.[7]
Jenis-jenis Perasaan
Menurut Max Scheler mengajukan pendapat bahwa ada 4 macam tingkatan dalam perasaan, yaitu:
1. Perasaan tingkat sensoris
Perasaan ini merupakan perasaan yang berdasarkan atas kesadaraan yang berhubungan dengan stimuluspada kejasmanian, misalnya rasa sakit, panas, dingin.
2. Perasaan ini bergantung kepada keadaan jasmani seluruhnya, misalnya rasa segar, Lelah dan sebagainya.
3. Perasaan kejiwaan perasaan ini merupakan perasaan seperti rasa gembira, susah, dan takut.
4. Perasaan kepribadian
Perasaan ini merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan pribadi, misalnya perasaan harga diri, perasaan putus asa, dan perasaan puas.[8]
Kemudian ada juga menurut Bigot dan kawan-kawannya telah memberikan ikhtisar mengenai macam-macam perasaan itu yang kiranya sangat berguna sebagai rangka pembicaraan. Adapun ikhtisar tersebut adalah seabagai berikut:
a. Perasaan-perasaan jasmaniah (rendah):
1. Perasaan-perasaan indriah, yaitu perasaan-perasaan yang berhubungan dengan perangsangan terhadap pancaindera seperti: sedap, manis, asin, pahit, panas, dan sebagainya.
2. Perasaan vital, yaitu perasaan-perasaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya, seperti: perasaan-perasaan segar, letih, sehat, lemah, tak berdaya, dan sebagainya.
b. Perasaan-perasaan rohaniah:
1. Perasaan intelektual
Perasaan intelektual adalah perasaan yang bersangkutan dengan kesanggupan intelek (pikiran) dalam menyelesaikan problem-problem yang dihadapi. Misalnya rasa senang yang dialami oleh seseorang yang dapat menyelesaikan soal ujian (perasaan intelektual positif), atau perasaan kecewa yang dialami oleh seseorang yang sama sekali tak dapat mengerjakan soal ujian. Perasaan ini timbul atau menyertai aspek intelektual, yaitu perasaan yang timbul apabila orang dapat memecahkan sesuatu soal atau mendapatkan hal-hal baru sebagai hasil kerja dari segi intelektualnya. Perasaan ini juga dapat merupakan pendorong atau otivasi individu dalam berbuat, dan perasaan ini merupakan motivasi dalam lapangan ilmu pengetahuan. Orang akan merasa senag dan puas apabila dapay memecahkan soal hitungan yang menurut ukurannya soal yang sulit.[9]
2. Perasaan kesusilaan
Perasaan kesusilaan atau disebut juga perasaan etis ialah perasaan tentang baik-buruk. Tiap-tiap orang tentu mempunyai ukuran baikburuk sendiri-sendiri yang bersifat individual. Disamping itu, kita mengetahui di dalam masyarakat tertentu terdapat norma yang berlaku bagi masyarakat, yang biasanya disebut norma sosial. Perasaan kesusilaan bersangkut paut dengan pelaksanaan norma-norma tersebut.
Dan juga perasaan kesusilaan ada dua macam, yaitu positif dan negatif. Perasaan kesusilaan yang positif misalnya dialami sebagai rasa puas kalau ornag telah melakukan hal yang baik, dan yang negatif misalnya dialami sebagai rasa menyesal kalau orang telah melakukan hal yang tidak baik.
Perasaan ini timbul apabila orang mengalami hal-hal yang baik atau buruk menurut norma-norma kesusilaan9. Hal-hal yang baik akan menimbulkan perasaan senang atau positif, sedangkan hal-hal yang tidak baik akan menimbulkan perasaan yang tidak senang atau negatif. Apabila orang berbuat baik akan mengalami perasaan senang. Sebaliknya kalau orang tersebut tidak baik akan mengalami perasaan yang tidak senang.[10]
3. Perasaan keindahan
Perasaan keindahan yaitu perasaan yang menyertai atau yang timbul karena seseorang menghayati sesuatu yang indah atau tidak indah.[11]Perasaan ini timbul apabila seseorang mengalami sesuatu yang indah atau yang tidak indah. Orang akan mengalami perasaan senang bila mempersepsikan sesuatu yang indah, demikian sebaliknya orang akan merasa tidak senang apabila mempersepsikan yang tidak indah.
4. Perasaan Sosial
Perasaan soaial ialah perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama manusia, perasaan untuk hidup bermasyarakat dengan sesama manusia, untuk bergaul, saling tolong-menolong, memberi, dan menerima simpati dan antipati, rasa setia kawan, dan sebagainya. Perasaan ini timbul dalam hubungannya dengan interaksi sosial, yaitu hubungan individu satu dengan individu lain. Perasaan ini dapat bermacam-macam coraknya, missal perasaan senang atau simpati, perasaan tidak demamg atau antipasti. Perasaan senang merupakaan perasaan positif, sedangkan perasaan tidak senang merupakan perasaan negatif. Menurut Bigot, dkk (1950) perasaan kebangsaan juga termasuk jenis perasaan sosial ini.[12]
5. Perasaan Harga diri
Perasaan harga diri ini dapat dibedakan menjadi dua macam, perasaan harga diri yang positif dan negatif. Perasaan harga diri positif ialah misalnya perasaan puas, senang, gembira, perasaan bangga yang dialami seseorang dikarenakan mendapatkan penghargaan dari orang lain (misalnya mendapatkan pujian, hadiah, tanda jasa, dan sebagainya). Sedangkan perasaan harga diri negatif adalah misalnya perasaan kecewa, tak senang, tak berdaya, mendapatkan celaan, dimarahi, mendapatkan hukuman dan sebagainya.
6. Perasaan Keagamaan
Perasaan Keagamaan yaitu perasaan yang bersangkut paut dengan kepercayaan seseorang tentang adanya Yang Maha Kuasa seperti: rasa kagum akan kebesaran Tuhan, rasa syukur setelah lepas dari marabahaya secara ajaib, dan sebagainya.[13]
Perasaan banyak mendasari dan juga mendorong tingkah laku manusia. Suasana jiwa anak didik sangat mempengaruhi kegairahan belajarnya. Agar belajar anak dapat berlangsung secara efektif pendidikan hendaknya menciptakan situasi sedemikian rupa, sehingga menimbulkan perasaan-perasaan yang menunjang aktivitas belajar pada anak didik. Perasaan-perasaan baik jasmaniah seperti rasa sehat, rasa segar, maupun perasaan-perasaan yang rohaniah seperti senang, puas, dapat menambah kegairahan anak didik untuk belajar. Perasaan-perasaan anak didik hendaknya dikembangkan secara selaras (dalam hubungannya dengan perkembangan pribadi anak didik).
Perasaan bereaksi terhadap lingkungan atau stimulinya atas dorongan emosi sebagai kekuatan jiwa. Emosi ini erat berhubungan dengan jasmani. Karena itu perubahan-perubahan jasmaniah, baik jasmani luar maupun dalam, diikuti dengan timbulnya emosi. Perubahan pernapasan, perubahan denyut jantung, perubahan darah, perubahan pencernaan makanan dalam perut, perubahan kesehatan badan, perubahan keteraturan buang air besar atau buang air kecil, semuanya mempengaruhi timbulnya emosi. Keadaan emosi yang stabil ataupun goncangan mempengaruhi perasaan. Karena itu pendidikan hendaknya mengenal serta mengusahakan stabilitas emosi anak didik. Dalam mengusahakan stabilitas emosi, tidak berarti pendidikan harus membunuh emosi anak, melainkan menyeimbangkan emosi anak.[14]
Perasaan anak didik dapat diwujudkan dalam bentuk ekspresi. Ekspresi adalah pernyataan emosi atau perasaan yang dapat diamati oleh orang lain, misalnya tersenyum, tertawa, menangis, muram, nanar, tunduk kepala, mengelus dada, cemberut, merengut dan sebagainya. Karena itu ekspresi ini dapat membantu pendidik dalam usaha mengenal emosi dan perasaan anak didiknya.
Kita dapat pula membedakan perasaan yang merdeka dan perasaan yang terikat. Perasaan yang merdeka adalah apabila tidak terdapat stimuli dan gangguan yang merintangi dana tau jasmani dan rohani. Perasaan dapat terikat, apabila terdapat stimuli dan gangguan yang merintangi dan atau menekan jasmai dan rohani.
Dalam bagian terdahulu mengenai kekuatan-kekuatan jiwa manusia telah dikemukakan mengenai cara-cara bekerjanya perasaan. Kalau uraian diatas dikemukakan tentang ekspresi perasaan itu adalah pernyataan perasaan atau perwujudan eksternalnya. Sedangkan cara bekerjanya perasaan adalah lebih bersifat internal. Adapun cara kerja perasaan ada empat cara, yaitu: a. Mengingini.
b. Menikmati.
c. Takut.
d. Susah.[15]
Beberapa Catatan Praktis
a. Perasaan melatar belakangi dan banyak kali mendasari aktivitasaktivitas manusia. Karena itu dalam memberikan pendidikan seharusnya diusahakan adanya perasaan yang dapat membantu pelaksanaan usaha yang sedang dilakukan itu. Kita umumnya tahu, bahwa kegembiraan bersifat menggiatkan, kekecewaan melembekkan, melemahkan. Karena itu alangkah baiknya kalau pendidikan dan pengajaran yang kita berikan dapat diterima oleh anak-anak didik kita dalam suasana gembira.
b. Perasaan-perasaan rohaniah harus diperkembangkan sebaik-baiknya. Dan ini dapat dilakukan dalam hampir semua situasi pendidikan.
c. Perasaan-perasaan tertentu sangat jelas perkembangannya pada masa remaja, seperti misalnya perasaan kebangsaan, perasaan sosial, perasaan keagamaan. Para pendidik harus mempergunakan masa peka ini secara sebaik-baiknya.
d. Secara ideal, perasaan-perasaan itu harus di perkembangkan secara seimbang dan selaras.[16]
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Psikolog Umum. Jakarta : Rineka Cipta, 1998.
Mukhlis, Akhmad dan Sadid Al Muqim, Pendekatan Psikologi Kontemporer.
Malang: UIN-MALIKI, 2013.
Sumadi Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Suryabrata, Madi. Psikologi Pendidkan. Jakarta: CV. RAJAWALI, 1971
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2012.
Waigito, Bima. Pengantar Psikolog Umum. Jogja : Buku Beta, 2004.
12
[1]Abu Ahmadi, Psikolog Umum, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1998), hlm. 101
[2] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 37
[3] Bima Waigito, Pengantar Psikolog Umum, ( Jogja : Buku Beta, 2004), hlm. 222
[4]Akhmad Mukhlis dan Sadid Al Muqim, Pendekatan Psikologi Kontemporer, (Malang:
UIN-MALIKI, 2013), hlm. 44
[5]Ibid., hlm. 45
[6]Ibid., hlm. 46
[7]Bima Waigito, Pengantar Psikolog Umum, ( Jogja : Buku Beta, 2004), hlm. 224
[8]Abu Ahmadi, Psikolog Umum, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1998), hlm. 106
[9]Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan(Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 68
[10]Loc. Cit.
[11]Loc. Cit.
[12]Ibid., hlm. 69
[13]Madi Suryabrata, Psikologi Pendidkan, (Jakarta: CV. RAJAWALI, 1971), hlm. 69
[14]Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan(Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 39
[15]Ibid., hlm. 40
[16]Madi Suryabrata, Psikologi Pendidkan, (Jakarta: CV. RAJAWALI, 1971), hlm. 70
0 Response to "PERASAAN"
Posting Komentar