KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PERKEMBANGAN KECERDASAN IQ MENURUT PANDANGAN ISLAM


Kecerdasan yang dimiliki manusia merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berpikir dan belajar secara terus menerus.
Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur, meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.
Salah satu pengertian kecerdasan yang paling banyak digunakan adalah yang dikemukakan oleh Wechsler. Ia menganggap kecerdasan adalah konsep generik yang melibatkan kempuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu. Sementara itu menurut Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Kemudian Anita E. Woolflk (1975) mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan maliputi tiga pengertian, yaitu (1) kemampuan untuk belajar, (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh, dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya (dalam Akhmad Sudrajat, 2009).
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi dewasa ini, orang tidak hanya berbicara tentang kecerdasan tapi juga kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Setiap kecerdasan ini memiliki wilayahnya sendiri-sendiri di otak. Sesuai dengan fitrah, kecerdasan sudah ada sejak manusia dilahirkan, tetapi mewarnai selanjutnya adalah keluarga dan lingkungannya.
Adapun ketiga kemampuan sangatlah membantu seseorang dalam meningkatkan kualitas diri, bahwa jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, maka orang tersebut memiliki peluang untuk meraih kesuksesan yang lebih besar dibanding orang lain.
Menurut Wechsler kecerdasan adalah konsep generik yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu. Sementara itu menurut Chaplin yang memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. [1]adapun pengertian IQ atau intelligence Quotient adalah kecerdasan intelektual yang mana kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses kognitif, pembelajaran kecerdasan intelektual cenderung menggunakan logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif atau biasanya dengan menulis, membaca, menghafal, menghitung, dan menjawab. Yang mana kecerdasa intelektual ini dikenal dengan kecerdasan rasional karena menggunakan potensi rasio atau akal dalam memecahkan masalah, penilaian kecerdasan dapat dilakukan melalui tes atau ujian daya ingat, daya nalar, penguasaan kosa kata, ketepatan menghitung, mudah menganalisis data.[2] 
        Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna (Q.S. At-Tin: 5). Secara fisik, manusia memiliki struktur tubuh yang sangat sempurna, ditambah lagi dengan pemberian akal, maka ia adalah makhluk jasadiyah dan ruhaniyah.  Akal yang dianugrahkan kepada manusia memiliki tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda. Banyak orang meyakini bahwa orang yang cerdas adalah orang yang memiliki kemampuan Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang memiliki kemampuan IQ yang tinggi itu memiliki kemampuan adaptasi, sosialisi, pengendalian emosi, dan kemampuan spiritual. Banyak orang yang memiliki kecerdasan IQ, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk bergaul, bersosialisai dan membangun komunikasi yang baik dengan orang lain. Banyak juga orang yang memiliki kemampuan IQ, tapi ia tidak memiliki kecerdasan dalam melakukan hal-hal yang dapat menentukan kebehasilannya di masa depan, prioritas-prioritas apa yang mesti dilakukan untuk menuju sukses dirinya.
       Pada tahun 2004 Tes IQ menjadi tren di SD-SD di berbagai kota besar. Untuk meningkatkan “gengsi”, sekolah ramai-ramai menyeleksi anak-anak yang hendak masuk sekolah dengan tes IQ . Mereka berteori bahwa sekolah yang baik adalah jika para siswanya pintar-pintar, dan siswa yang pintar itu jika IQ-nya di atas rata-rata. Karena itulah mereka menyelenggarakan tes IQ. Meskipun mereka kurang begitu memahami kerangka landasan teoretis dan filosofisnya,  untuk apa tes IQ itu, apa kelemahan dan kelebihannya, dan kapan semestinya hal itu dilakukan .
       Pada awalnya, dikenal bahwa kecerdasan seseorang adalah mereka yang memilki kualitas IQ yang sangat tinggi, Hal demikian tidaklah salah karena pada awal sejarah perkembangannya, untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang adalah dengan mengetahui IQ nya.  Orang yang pertama kali berpikir mengenai mungkinnya dilakukan pengukuran intelegensi atau kecerdasan adalah Galton, sepupu Darwin. Hal yang mendorongnya untuk memiliki pemikiran demikian adalah karena Galton tertarik pada perbedaan-perbedaan individual dan pada hubungan antara hereditas dan kemampuan mental. Menurut Galton ada dua kualitas umum yang dapat membedakan antara orang yang lebih cerdas (more intelligent) dari orang yang kurang cerdas (less intelligent) yaitu energi dan sensitivitas. Menurutnya, orang cerdas itu memiliki tingkat energi yang istimewa dan sensitivitas terhadap rangsangan di sekitarnya.
        Mengacu kepada kesimpulan Howard Gardner, temuan-temuan ilmiah bagi perkembangan teori kecedasan manusia, sesungguhnya juga sudah lama ditemukan oleh saintis, terutama neuro-saintis. Sampai akhirnya  Howard Gardner yang dengan sangat serius menstudinya, dan ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa kecerdasan manusia itu tidak tunggal, tapi majmuk, bahkan tak terbatas. Belakangan teori kecerdasan Howard Gardner  ini dikenal dengan Multiple Intelligence (Kecerdasan Majmuk) yakni Linguistic Intelligence (Kecerdasan Bahasa) Logico-Mathematical Intelligence (Kecerdasan Logis-Matematis), Visual-Spatial Intelligence (Kecerdasan Visual-Spasial),  Bodily-Kinesthetic Intelligence (Kecerdasan Kinestetik), Musical Intelligence (Kecerdasan Musik), Interpersonal Intelligence (Kescerdasan Antarpribadi),  Intrapersonal Intelligence(Kecerdasan Intrapesonal),  dan Natural Intelligence (Kecerdasan Natural).

      Definisi kecerdasan lain adalah definisi kecerdasan dari Piaget, Menurut William H. Calvin, dalam bukunya How Brain Thinks (Bagaimana otak berfikir?), Piaget mengatakan, “Intelligence is what you use when you don’t know what to do” (Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan).” Sehingga menurut Calvin, seseorang itu dikatakan smart jika ia terampil dalam menemukan jawaban yang benar untuk masalah pilihan hidup. Sedang menurut Sternberg, 65 tahun setelah simposium Journal Psikologi Pertama, 24 orang ahli diminta untuk mengajukan definisi kecerdasan, mereka mengaitkan kecerdasan tersebut dengan tema belajar dari pengalaman dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Lebih dari para ahli sebelumnya, mereka menekankan pengertian kecerdasan pada peranan pemahaman orang dan kontrol atas proses berpikir mereka (seperti selama melakukan pemecahan masalah, penalaran, dan pembuatan keputusan) dan lebih menekankan pada peranan budaya. Seseorang yang dipandang cerdas dalam sebuah budaya boleh jadi dipandang bodoh dalam budaya yang lain. Begitulan, banyanya definisi kecerdasan, sesuai dengan banyaknya jenis-jenis kecerdasan itu sendiri.[3]
        Dalam pandangan Islam ada beberapa kata yang apabila ditinjau dari pengertian etimologi memiliki makna yang sama atau dekat dengan kecerdasan, antara lain :
1.      Al-fathanah atau al-fithnah, yang artinya cerdas, juga memiliki makna sama dengan al-fahm (paham) lawan dari al-ghabawah (bodoh).
2.      Adz-dzaka’  yang berarti hiddah al-fuad wa sur’ah al-fithnah (tajamnya pemahaman hati dan cepat paham). Ibn Hilal al-Askari membedakan antara al-fithnah dan adz-dzaka’, bahwa adz-dzaka’  adalah tamam al-fithnah (kecedasan yang sempurna).
3.      Al-hadzaqah ,  di dalam kamus Lisan al-‘Arab, al-hadzaqah diberi ma’na al-Maharah fi kull ‘amal (mahir dalam segala pekerjaan).
4.      An-Nubl dan an-Najabah, menurut Ibn Mandzur an-Nubl artinya sama dengan adz-dzaka’ dan an-najabah yakni cerdas.
5.      An-Najabah, berarti cerdas.
6.      Al-Kayyis, memiliki makna sama dengan al-‘aqil (cerdas).Rasulullah saw. Mendefinisikan kecerdasan dengan menggunakan kata al-kayyis, sebagaimana dalam hadits berikut : 

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ
وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ    (رواه الترمذي)
    “Dari Syaddad Ibn Aus, dari Rasulullah saw. Bersabda : orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah mati (H.R. At-Tirmidzi)”.

          Al-Mawardi dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Ddin pada bab pertama menjelaskan tentang keutamaan akal, bahwa segala yang mulia memilki asas dan segala etika memiliki sumber, asas bagi segala kemuliaan dan sumber bagi segala etika adalah akal. Lebih lanjut Al-Mawardi menyimpulkan definisi akal yaitu pengetahuan tentang hal-hal yang diketahui secara langsung.

Kecerdasan intelektual (IQ)  Menurut Al-Quran

       Di dalam Al-Qur’an, kecerdasan intelektual dapat dihubungkan dengan beberapa kata kunci saecara harfiah berarti mengikat  yang terulang sebanyak 49 kali dan tidak pernah digunakan dalam bentuk kata benda (ism) tetapi hanya digunakan dalam bentuk kata kerja (fi’il), yaitu bentuk fi’il madli sekali dan bentuk fi’il mudlari’ 48 kali. Penggunaan kata ‘aql  dalam ayat-ayat tersebut pada umumnya digunakan untuk menganalisis fenomena hukum alam (seperti Q.S. al-Baqarah/2:164) dan hukum-hukum perubahan sosial (seperti Q.S. al-‘Ankab­t/29:43).
Penguasaan kecerdasan intelektual bukan jaminan untuk memperoleh kualitas iman atau kualitas spiritual yang lebih baik, karena terbukti banyak orang yang cerdas secara intelektual tetapi tetap kufur terhadap Tuhan. Hal ini juga ditegaskan di dalam Q.S.al-Baqarah/2:75:
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?”  (Q.S.al-Baqarah/2:75).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa bahwa kecerdasan intelektual terkadang digunakan untuk meligitimasi kekufuran. Padahal, idealnya kecerdasan intelektual digunakan untuk memperoleh kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Seorang ilmuan yang arif tidak berhenti pada level kecerdasan intelektual tetapi melakukan sinergi dengan kecerdasan-kecerdasan yang lebih tinggi. Inilah makna simbol ayat pertama yang diturunkan dalam Al-Qur’an: Iqra’ bi ssimi Rabbik: “Membaca” harus selalu dikaitkan dengan “nama Tuhan”.
       Kata-kata yang memiliki makna yang dekat (mirip) dengan Kecerdasan intelektual yang banyak digunakan di dalam al-Quran adalah.
1.      Al‘Aql, yang berarti an-Nuha (kepandaian, kecerdasan).Akal dinamakan akal yang memilki makna menahan. Banyak sekali ayat-ayat yang mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya. Di sisi lain penggunaan kata yang seasal dengan ‘aql tidak berbentuk nomina (ism) tapi berbentuk kata kerja (fi’l) menunjukkan bahwa al-Quran tidak hanya menghargai akal sebagai kecerdasan intelektual semata, tapi al-Quran mendorong dan menghormati manusia yang menggunakan akalnya secara benar. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sternberg, “Tes IQ sesungguhnya bukan pada seberapa banyak kecerdasan yang anda miliki dalam otak anda. Akan tetapi bagaimana anda menggunakan kecerdasan yang harus anda buat menjadi dunia yang lebih baik bagi diri anda sendiri, dan orang lain”Walhasil, kecerdasan bukanlah yang anda miliki, Kecerdasan lebih merupakan sesuatu yang anda gunakan. Itulah yang dimaksud dengan kecerdasan majmuk sebagaimana disampaikan oleh Horward Gordner, kecerdasan yang mencakup banyak aspek kehidupan, bukan kecerdasan intelektual semata.
1.      al-bashirah memiliki makna sama dengan al-fithnah (kecerdasan) dan al-hujjah(argumntasi).Abu Hilal al-‘Askari membedakan antara al-bashirah dan al-‘ilm (ilmu), bahwa al-bashirahadalah kesempurnaan ilmu dan pengetahuan.
3.       An-Nuha,maknanya sama dengan al-‘aql, dan akal dinamakan an-nuha yang juga memiliki arti mencegah, karena akal mencegah dari keburukan
4.      Al-fiqh yang berarti pemahaman atau ilmu.
5.      Al-Fikr, yang artinya berpikir.
6.      An-nazhar yang memiliki makna melihat secara abstrak (berpikir).
7.      Adz-dzikr yang berarti peringatan, nasehat, pelajaran. Dalam al-Quran terdapat kata yang seasal dengan adz-dzikr berjumlah 285 kata, 37 diantaranya adalah yang berasal dari bentuk kata at-tadzakkur yang berarti mengambil pelajaran.

        Jenis-Jenis Kecerdasan menurut al-Quran

Agus Efendi menyimpulkan dari beberapa pendapat ahli, ada 14 lebih jenis kecerdasan : 1. Intelligence Quotient (Kecerdasan Inteligensi).
2. Multiple Intelligence (Kecerdasan Majmuk).
3. Practical Intelligence (Kecerdasan Praktis)
4. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional)
5. Entrepreneurial Intelligence (Kecerdasan Berwiraswasta)
6. Financial Intelligence (kecerdasan Finansial)
7. Adversity Quotient (Kecerdasan Advesitas)
8. Aspiration Intelligence (Kecerdasan Aspirasi)
9. Power Intelligence (Kecerdasan Kekuatan)
10. Imagination Intelligence (Kecerdasan Imajinasi)
11. Intuition Intgelligence (Kecerdasan Intuitif)
12. Moral Intelligence (Kecerdasan Moral)
13. Spiritual Intelligence (Kecerdasan spiritual)
14. Succesful Intelligence (Kecerdasan Kesuksesan)[5]

Islam dan Kecerdasan Qalbiah

Sebagaimana dalam uraian struktur kepribadian, struktur nafsani manusia terbagi atas tiga komponen, yaitu kalbu, akal, dan nafsu. Jika struktur itu tetap dalam kendali kalbu maka masing-masing komponen memiliki potensi positif, yang apabila dikembangkan secara maksimal akan mendatangkan kecerdasan.
Daya kalbu tidak terbatas pada pencapaian kesadaran, tetapi mampu mencapai tingkat supra kesadaran. Kalbu mampu menghantarkan manusia ada tingkat intelektual, moralitas, spiritualitas, keagamaan atau ketuhanan. Semua tingkatan itu merupakan tingkatan atas sadar atau supra kesadaran manusia, sebab kedudukannya lebih tinggi daripada kemampuan akal (rasio).
Untuk meraih kecerdasan qalbiah memang bukanlah hal yang mudah, kita perlu melatih diri, paling tidak ada tiga langkah yang harus kita lakukan:
Pertama, Kenali diri sendiri. Seseorang yang mengenali dirinya, mengetahui kondisi jiwanya serta riak gelombang keimanan di hatinya maka ia akan mengetahui tindakan apa yang paling tepat yang harus ia lakukan.
Kedua, muhasabah, introspeksi diri. Lihat apa saja yang telah kita lakukan minimal setiap malam sebelum tidur. Apakah sudah sesuai dengan tuntunan Islam atau belum.  Kalau belum maka bertaubatlah dan berusahalah untuk memperbaikinya.
Ketiga, kecerdasan qalbiah akan hadir tatkala seseorang senantiasa merasakan kehadiran Allah swt dalam setiap tindakan, kapan pun dan dimana pun.
Perilaku qalbiah akan timbul manakala kita selalu mengingat Allah (dzikrullah). Karena Dia adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada-Nya kita kembali. Mengingat Tuhan dapat dilakukan melalui sholat, berzikir, dan lain sebagainya yang dapat mengisi hati manusia dengan sifat-sifat Tuhan. Firman Allah dalam surah al-Ahzab [33] ayat 41: ”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” Dalam ayat lain Allah juga berfirman: "Seseorang yang selalu mengingat Allah hatinya akan merasa tenang (QS. ar-Ra’d [13]:28). [6]

 DAFTAR PUSTAKA

Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, Bandung, Alfabeta, 2005
Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Quran dan Neurosains Mutakhir, Bandung, Mizan Pustaka, 2008
Ibrahim Elfiky, Terapi Berpikir Positif, Terj. Khalifurrahman Fath dan M. Taufik Damas, Jakarta, Zaman, 2009
Iskandar, Psikologi Pendidikan, Jambi, CP Prees, 20009                   
D.Brenneman Kiesad, Tes IQ Untuk Mengembangkan Kecakapan Menghadapi Hidup, Jakarta, Presatasi Pustakarya, 2010


[1] Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Jambi: GP PRESS,  2009), h. 50
[2] Ibid, h. 58
[3] Kiesad D.Brenneman, Tes IQ Untuk Mengembangkan Kecakapan Menghadapi Hidup, (Jakarta: Presatasi Pustakarya, 2010),  h. 4

[4] Pasiak Taufik, Revolusi IQ/EQ/SQ Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Quran dan Neurosains Mutakhir, (Bandung: Mizan Pustaka, 2008), h. 88

[5] Efendi Agus, Revolusi Kecerdasan Abad 21, (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 31-33
[6] Elfiky Ibrahim, Terapi Berpikir Positif, Terj. Khalifurrahman Fath dan M. Taufik Damas, (Jakarta:  Zaman, 2009), h. 99


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PERKEMBANGAN KECERDASAN IQ MENURUT PANDANGAN ISLAM"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!