PSIKOLOGI JIWA MANUSIA
Konsep Islam Tentang Jiwa Manusia
1. Hakikat Manusia
Meski pengetahuan (pandangan) setiap orang tentang dirinya berbeda-beda tetapi hadis nabi mengatakan bahwa barang siapa mengenali siapa dirinya maka ia pasti mengenal (ma’rifat) siapa Tuhannya. Man ‘arafa nafsahu’ arafa Rabbahu. Hadis ini mengisyaratkan bahwa “sosok” manusia memang sophisticated, rumit, dan memerlukan kesungguhan ekstra kuat untuk mengenalinya, karena manusia ternyata merupakan tajalliTuhan.
Sebagai tajalli Tuhan, manusia memiliki rahasia yang tak kunjung terpecahkan, baik jasmani maupun rohaninya. Dunia kedokteran belum selesai menganalisis jasmani manusia demikian juga psikologi dan tasawuf juga belum menganalisis kehidupan rohani dan nafsani manusia. Jika kedokteran berusaha membedah anatomi dan system kerja jasmni, maka psikologi dapat dipahami sebagai upaya manusia untuk membuka rahasia ayat-ayat nafsani atau sunnahtullah yang bekerja pada diri manusia, sedangkan tasawuf berusaha menghidupkan potensi hubungan aktif manusia sedangkan tasawuf berusaha meghidupkan potensi hubungan aktif manusia (rohaninya) dengan Tuhan[1].
2. Jiwa Manusia
Dalam khazanah keilmuan islam, filsafat berkembang dengan amat pesat, tetapi psikologi tidak berkembang. Hal ini bukan berarti para ulama tidak tertarik kepada masalah jiwa. Al-Quran dan hadits sendiri banyak berbicara tentang jiwa (nafs), tetapi pengalaman psikologis masyarakat islam berbeda dengan pengalaman psikologis masyarakat barat. Masyarakat modern barat tumbuh diatas puing-puing kekecewaan kepada gereja yang besebrangan dengan pemikiran modern sehingga agama (gereja) kemudian dipisahkan dari urusan dunia, dan implikasinya kemudian ilmu pengetahuan dan peradaban barat berjalan sendiri tanpa panduan agama, dan jadilah kemudian peradaban sekuler.
Sedangkan dalam sejarah islam, perkembangan ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan agama, dan bahkan ajaran islam itu sendiri mendorong umatnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pertumbuhan ilmu pengetahuan dan peradaban kaum muslimin berada dalam panduan agama, bahkan filsafat (islam) pun meski pada mulanya digelitiki oleh pemikiran Yunani pertumbuhannya tetap dalam koridor Al-Quran.
Tentang jiwa (nafs) misalnya, dalam khazanah keilmuan islam tidak tumbuh ilmu jiwa (‘ilm an nafs) sebagai ilmu yang membahas perbuatan sebagai gejala-gejala jiwa, tetapi nafs dibahas dalam konteks system kerohanian yang memiliki hubungan vertical dengan tuhan, karena Al-Quran dan juga sunnah banyak menyebut secara langsung term nafs maupun term yang menyebutkan secara tidak langsung seperti qalb, ‘aql, ruh, dan bashirah, yang semuanya itu bersifat multi interpretasion sehingga para ulama dibuat sibuk untuk menggali pengertian nafs dan sistemnya dalam perspektif Al-Quran dan sunnah. Diantara ilmu yang membicarakan nafs dan khazanah keilmuan islam adalah ilmu tasawuf.
3. Kualitas Nafs
Al-Quran membagi tingkatan nafs pada dua kelompok besar, yaitu nafs martabat tinggi dan nafs martabat rendah. Nafs martabat tinggi dimiliki oleh orang-orang yang taqwa, yang takut kepada Allah dan berpegang teguh kepada petunjuknya serta menjauhi larangannya. Sedangkan nafs martabat rendah dimliki oleh orang-orang yang menentang perintah Allah dan yang mengabaikan ketentuan-ketentuannya, serta orang-orang yang sesat, yang cenderung berperilaku menyimpang dan melakukan kekejian serta kemungkaran.
Struktur Jiwa Dalam Wacana Psikologi Islam
1. Substansi Jasmani
Jasad (jisim) adalah substansi manusia yang terdiri atas struktur organisme fisik yang lebih sempurna dibanding dengan organisme fisik makhluk-makhluk lain. Setiap makhluk biotik lahiriah memiliki unsur material yang sama, yakni terbuat dari unsur tanah,api, udara dan air. Keempat unsur diatas merupakan materi yang abiotik (mati). Ia akan hidup jika diberi energi kehidupan yang bersifat fisik. Energi kehidupan ini lazimnya disebut dengan nyawa, karena nyawa manusia hidup. Ibnu Maskawaih dan Abu al-Hasan Asy’ary menyebut energi tersebut dengan al-bayah (daya hidup), sedangkan Al-Ghazali menyebutnya dengan Al-Ruh jasmaniyah (ruh material). Dengan daya ini jasad manusia dapat bernapas, merasakan sakit, panas dingin, pahit-manis, haus lapar, dsb.
Al-Bayah berbeda dengan Al-Ruh sebab ia ada sejak adanya sel kelamin, sedangkan Al-Ruh menyatu dalam tubuh manusia setelah embrio berusia 4 bulan dalam kandungan. Ruh bersifat substansi (jaubar) yang hanya dimiliki manusia, sedangkan nyawa merupakan sesuatu yang baru (aradh) yang juga dimiliki oleh hewan.
2. Substansi Ruhani
Ruh merupakan substansi psikis manusia yang menjadi esensi kehidupannya. Sebagian ahli menyebutkan ruh sebagai badan halus (jism lathif), ada yang substansi sederhana (jauhar basith), dan ada juga substansi ruhani (jauhar ruhani). Ruh yang menjadi pembeda antara esensi manusia dengan esensi makhluk lain.
Ruh adalah substansi yang memiliki natur tersendiri. Menurut Ibnu Sina, ruh adalah kesempurnaan awal jisim alami manusia yang tinggi yang memiliki kehidupan dengan daya. Sedang bagi al-Farabi , ruh berasal dari alam perintah (amar) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad. Hal itu dikarenakan ia dari Allah, kendatipun ia tidak sama dengan zat-Nya. Sedang menurut al-Ghazali, ruh ini merupakan lathifah (sesuatu yang halus) yang bersifat ruhani. Ia dapat berfikir, mengingat, mengatahui dan sebagainya. Ia juga sebagai penggerak bagi keberadaan jasad manusia. Sifatnya gaib. Sedangkan Ibnu Rusyd memandang ruh sebagai citra manusia kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik. Kesempurnaan awal ini karena ruh dapat dibedakan dengan kesempurnaan yang lain yang merupakan pelengkap dirinya, seperti yang terdapat pada berbagai perbuatan. Sedangkan disebut organik karena ruh menunjukkan jasad yang terdiri dari organ-organ.
3. Substansi Nafsani
Nafs dapat berarti jiwa, nyawa, ruh, konasi yang berdaya syahwat dan ghadab, kepribadian, dan substansi psikofisik manusia. Nafs memiliki natur gabungan antara natur jasad dan ruh. Nafs adalah potensi jasad-ruhani (psikofisik) manusia yg secara inhern telah ada sejak manusia siap menerimanya. Potensi ini terikat dengan hukum yang bersifat jasad-ruhani. Setiap semua potensi yang terdapat pada nafs bersifat potensial, tetapi dapat aktual jika manusia mengupakannya. Setiap komponen yang ada memiliki daya-daya laten yang dapat menggerakan tingkah laku manusia. Aktualisasi nafs membentuk kepribadian, yang perkembangannya dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Dalam nafs memiliki potensi gharizah. Jika potensi gharizah ini dikaitkan dengan substansi jasad dan ruh maka dapat dibagi menjadi tiga bahan; al-qalb (yang berhubungan dengan rasa atau emosi) ,al-‘aql (yang berhubungan dengan cipta atau kongnisi) dan daya al-nafs (yang berhubungan dengan karsa atau konasi). Sedangkan al-gharizah adalah bagian dari ruh manusia yang berhubungan dengan jasad, keterangannya sama dengan uraian nafs.[2]
Jiwa itu, kata Ibnu Sina, diwujudkan setiap kali muncul tubuh yang siap dan sanggup menerimanya. Jiwa itu yang menjadi sumber hidup dan sebab bergeraknya tubuh. Selanjutnya Ibnu Sina membagi jiwa ketiga macam jiwa yang ada dibumi, yakni; 1. Jiwa tumbuh-tumbuhan (Al-nafs An-nabatiyyah), yang kemudian disebut sebagai jiwa nabati 2. Jiwa binatang (Al-nafs Al-hawaniyyah), yang kemudian disebut sebagai jiwa hewani, dan 3. Jiwa manusia (Al-nafs Al-natiqah) yang kemudian disebut sebagai jiwa insani.
Semua kerja dan aktifitas baik yang bersifat nabati, hewani, maupun insani menurut Ibnu Sina berasal dari daya-daya yang berbeda dari jismi atau tubuh. Daya-daya ini disebut sebagai “kesempurnaan” karena dengannya tumbuhan dan hewan beralih dari wujudnya yang potensial menjadi aktual. Dengan demikian, ia mendefenisikan “jiwa sebagai kesempurnaan awal bagi jismi alami yang organis”. Untuk selengkapnya mendefenisikan jiwa nabati, hewani, dan insani sebagai berikut:
a. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi jismi alami yang organis dari segi melahirkan, tumbuh, dan makan.
b. Jiwa hewani adalah kesempurnaan awal bagi jismi alami mengetahui yang parsial ( juz’iy) dan bergerak dengan iradah.
c. Jiwa insani adalah kesempurnaan awal bagi jismi alami yang organis dari segi melakukan perbuatan yang ada dengan ikhtiar pikiran dan mengambil kesimpulan (istibanth) dengan nalar, dan dari segi mengetahui hal-hal yang menyeluruh (kulliy).
Tampaknya pendefenisian jiwa sebagai kesempurnaan jismi belum dapat memberikan kepada kita suatu pengertian hakikat jiwa. Ibnu Sina bermaksud meletakkan Jiwa sebagai sesuatu yang berbeda secara esensial dari jasad. Sehingga ia mengatakan bahwa jiwa adalah jauhar (Substansi) rohaniah yang berbeda dengan jasad. Ibnu sina mengemukakan dalil.
Pertama, bahwa jiwa dapat mengetahui objek pemikiran dan ini tidak dapat dilakukan oleh jasad. Karena objek pemikiran terdapat di dalam akal sehingga tidak mungkin ada pada jismi.
Kedua, jiwa dapat mengetahui hal-hal yang Kulliy, dan juga dzat tanpa alat, sedangkan indra yang terdapat pada jismi hanya dapat mengetahui hal-hal yang berada diluarnya, tidak dirinya.
Ketiga, organ jasad (jismi) jika digunakan secara keras atau berat berulang-ulang akan menjadikannya letih. Contohnya jika telinga terus menerus diperdengarkan suara yang keras, maka pendengaran untuk suara yang kecil akan berkurang. Sedangkan akal dapat terus berpikir tentang masalah besar tanpa melemahkannya untuk memikirkan yang kecil.
Keempat, badan akan mulai melemah jika melewati usia dewasa atau tua. Sedangkan daya jiwa akan lebih kuat pada usia dewasa.
Demikianlah dalil-dalil yang digunakan Ibnu Sina tentang hakikat jiwa sebagai jauhar (substansi) rohani yang terdiri sediri dan akan kekal walau sudah terpisah oleh jasad.
Daya Jiwa
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Ibnu Sina telah membagi tiga jiwa yang ada dibumi menjadi tiga jiwa, yakni jiwa nabati, hewani, dan Insani. Masing-masing jiwa memiliki beberapa daya. Dalam melaksanakan fungsinya jiwa menggunakan jasad sebagai alatnya pendapat mengenai daya jiwa ini diambil Ibnu Sina dari Aristoteles sebagai berikut:
1. Jiwa Nabati
Daya yang terdapat pada jiwa nabati terdiri dari tiga macam daya. Yakni daya makan, daya tumbuh, dan daya berkembang.
2. Jiwa Hewani
Daya hewani terbagi menjadi dua macam, yakni daya gerak dan daya menangkap. Daya gerak ada dua bagian yaitu; Pertama, pengerak (gerak fisik) sebagai pemicu dan penggerak pelaku. Kedua, Daya Tarik (hasrat) yaitu daya yang terbentuk didalam khayalan suatu bentuk yang diinginkan atau yang tidak diinginkan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk menggerakkan. Pada Daya Tarik (hasrat) ini terbagi menjadi dua sub bagianya itu Daya Syahwat dan Daya Emosi.
Adapun daya menangkap atau mengetahui juga terbagi menjadi dua, yakni menangkap dari luar (dengan panca indera), dan menagkap dari dalam dengan indera dalam (batin). Dan ini ada dalam wujud mengetahui citra indrawi ada dalam wujud mengetahui pengertiannya. Seperti halnya kambing mengetahui bentuk serigala dan mengetahui bahaya serigala.
3. Jiwa Insani
Manusia memiliki daya khas tersendiri, yakni daya berpikir. Daya ini terbagi menjadi dua macam yakni, daya praktis dan daya teoritis. Daya praktis adalah daya yang memiliki hubungan langsung dengan badan dan materi yang merupakan dasar penggerak jasad insani untuk berbuat yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan akhlak. Sedangkan daya teoritis adalah daya yang di dominasi oleh pengertian-pengertian abstrak yang dengan daya ini maka timbullah sesuatu yang disebut makrifat. Adapun daya teoritis memiliki tingkatan-tingkatan sebagai berikut.
a. Akal materil
b. Akal habit (intelectual in habits)
c. Akal aktual,
d. Akal mustafad,
[1]Achmad Mubarok, Psikologi Qur’ani, (Jakarta : Pustaka Pirdaus, 2001), h.2-4.
[2] Abdul Mujib, dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001) h.38-48
0 Response to "PSIKOLOGI JIWA MANUSIA"
Posting Komentar