KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

QOLQALAH DAN MAD


Al-quran sebagai kitab yang berisi firman-firman Allah SWT. Sebagai umat islam sudah seharusnya kita menjaga kitab yang menjadi pedoman umat islam. Al-qur’an merupakan kalamullah maka dalah segi pembacaannya mempunyai tatacara membacanya dalam arti kata kita mengetahui ilmunya agar tidak terjadi salah arti dalam membaca Al—Qur’an serta bacaannya haruslah tartil.Atas dasar tersebut para ulama menciptakan sebuah disiplin ilmu dalam membaca Al-Qur’an yaitu Ilmu Tajwid.Ilmu tajwid di dalamnya menerangkan hukum-hukum bacaan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam ilmu tajwid juga di bahas mengenai qalqalah dan madd agar dalam segi pembacaannya ada perbadaan.
A. Qalqalah
Qalqalah menurut bahasa artinya bergerak atau bergetar.sedang menurut istilah, qalqalah adalah “suatu tambahan (pantulan) yang kuat dan jelas yang terjadi pada huruf yang mati setelah menekan pada makhroj huruf tersebut”.
Ustadz Mas’ud Syafi’i menganalogikan qalqalah sebagai bola yang jatuh ke tanah, kemudian memantul lagi ke atas.
Huruf-huruf qalqalah ada 5 huruf yang terkumpul pada kalimat قَطْبُ جَدٍ
Dalam Nazham dijelaskan: “Dan qalqalah-kanlah dengan jelas apabila terdapat (huruf qalqalah) yang mati atau dalam keadaan waqaf”.[1]
           
1. Pembagian qalqalah
Qalqalah dibagi menjadi 2, yaitu qalqalah shughro dan qalqalah kubro.
a.       Qalqalah Shughro
Shughro artinya kecil. Qalqalah shughro menurut istilah ialah“Apabila huruf qalqalah tersebut mati ditengah kalimat, maka dinamakan Qalqalah Sgughro”.[2]
Contoh-contoh qalqalah shughro:
رَزَقْنَا هُم = ق
يَطْمَعُوْنَ = ط
حَبْلٌ = ب
مُجْرِمُوْنَ = ج
يَدْخُلُوْنَ = د

b.      Qalqalah Kubro
Kubro artinya besar. Qalqalah kubro menurut istilah ialah:“Apabila huruf qalqalah tersebut dalam keadaan mati diakhir kalimat, maka ia dinamakan Qalqalah kubro”.[3]
Contoh-contoh qalqalah kubro:
مَاخَلَقَ = ق
مُحِيْطٌ = ط
حِسَابٍ = ب
بَهِيْجٍ = ج
لَشَدِيدٌ = د
b. Cara mengucapkan Qalqalah
Cara mengucapkan qalqalah adalah dengan menekan kuat makhroj huruf qalqalah yang mati (asli maupun baru) sehingga suaranya mmantul dengan pantulan yang kuat dan jelas.Namun, pada qalqalah kubro harus lebih berkumandang dan lebih jelas dari qalqalah shughro.Bahkan, pengucapan qalqalah kubro harus lebih kuat lagi ketika huruf qalqalah kubro yang diwaqafkan tersebut dalam keadaan bertasydid. Untuk qalqalah shughro, pada waktu mengucapkan huruf Qaf dan Tho’, pantulannya mendekati huruf “o” karena kedua huruf ini tersifati oleh sifat isti’la, sedang untuk huruf yang lain, akan terdengar mendekati huruf  “e” dalam kata “kera” dalam bahasa Indonesia. Bahkan bunyi ini cenderung berubah-ubah tergantung pada Harakat huruf sebelum dan sesudahnya.[4]

c. Perbedaan Qalqlah Sughro dan Qalqalah Kubro
Selain karena faktor Sukun Asli atau Aridli dan ditengah atau diakhir. Ada segi perbedaan yang lain, yaitu:
1.      Qalqalah yang terjadi ditengah kalimat disebut Shughro, karena proses Qalqalahnya berlangsung kurang sempurna. Lisan secara serentak berpindah ke makhroj yang lain untuk mengucapkan huruf selanjutnya. Sedang Qalqalah yang terjadi diakhir kalimat disebut Kubro, karena proses Qalqalahnya berlangsung sempurna. Lisan tidak segera berpindah ke makhroj lain, karena bacaan berhenti pada huruf qalqalah tersebut.
2.      Qalqalah yang bersukun asli disebut shughro, karena terjadi melalui satu proses saja, yakni proses Qalqalah tanpa Iskan (penyukunan huruf Qalqalah). Sedangkan Qalqalah yang bersukun Aridli disebut kubro karena terjadi melalui dua proses, yaitu: Qalqalah dan Iskan.[5]

d. Pembagian Huruf Qalqalah
Selain pembagian qalqalah diatas (Shughro dan Kubro) ada pembagian lain, yaitu:
1.      Ditinjau berdasarkan kekuatan dan kejelasan suara pantulan dari huruf Qalqalah, maka huruf-huruf tersebut dapat digolongkan kedalam tiga kelompok:
a.    A’la (paling tinggi), maksudnya paling kuat dan paling jelas suara pantulannya. Hurufnya adalah Tho’
b.   Ausath (sedang), maksudnya huruf pantulannya bersifat sedang atau pertengahan. Hurufnya adalah Jim
c.    Adna (paling rendah), maksudnya paling rendah suara pantulannya dibandingkan A’la dan Ausath. Huruf-hurufnya antara lain: Qaf, Ba’, dan Dal.[6]
2.      Ditinjau berdasarkan kondisi yang menyertai huruf-huruf Qalqalah, dikaitkan dengan kekuatan dan kejelasan suara pantulan yang dihasilkan dari kondisi tersebut, dapat dibagi menjadi tiga kondisi antara lain:
a.       Shoghir (kecil), yakni bila huruf qalqalah dalam keadaan mati ditengah kalimat dan bacaan pun di washalkan. Contoh: قَبْلُ
b.      Kabir (besar), yaitu apabila huruf qalqalah dimatikan diakhir kalimat dan bacaan pun diwaqafkan. Contoh: عَذَابٌ
c.       Akbar (paling besar), yaitu apabila huruf qalqalah dalam keadaan bertasydid diakhir bacaan dan di waqafkan. Contoh:بِالْحَقِّ.[7]

B. Madd
1. Hukum Dasar
Sebagai dasar hukum ditetapkannya hukum Madd adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Mas’ud yang berbunyi:
“Ibnu Mas’ud mengajar seseorang membaca Al-quran, orang tersebut membaca ayat: Innanash-shodaqotu lil fuqoro’iwalmasakin dengan pendek. Ibnu Mas’ud berkata: tidak demikian Rasulullah membacakannya kepadaku. Bagaimana Rasulullah membacakannya?, tanya orang itu: Ibnu Mas’udmenjawab seraya membaca: Innamash-shodaqootu lil fuqoroo’iwalmasaakiini- dengan memanjangkan huruf mad.
Syekh Ibnu Jazari berpendapat bahwa hadits ini memiliki sanad yang kuat dan menjadi dasar hukum tentang adanya hukum Mad dalam membaca Al-quran. Dalam hal ini tidak terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli Tajwid, karena selain hadits tersebut, hukum Mad ini dikuatkan pula debganijma ulama.
Perlunya mempelajari dan menerapkan hukum Mad ini adalah untuk menjaga kemurnian Al-quran sebagaimana yang diterima Rasulullah dari Allah melalui malaikat Jibril mengenai mana yang diucapkan panjang dan mana yang diucapkan pendek, disamping untuk menjaga makna ayat, yang kalau dilanggar mengakibatkan rusak atau berubahnya makna ayat yang dibaca.
2. Pembagian Madd
Dalam  ilmu tajwid, mad dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Mad Ashli dan mad Far’i.
a. MadAshliy
MaddAshliy dikenal pula dengan istilah MadThobi’i secara bahasa artinya tabiat. Dinamakan demikian karena, seseorang yang mempunyai tabiat baik tidak mungkin akan mengurangi atau menambah panjang bacaan dari yang telah ditetapkan.
Syekh Makki Nashr merumuskan Mad Ashly dengan rumusan sebagai berikut:


“MaddAshly adalah Mad Thobi’i, yaitu Madd yang berdiri sendiri karena zat huruf Madd tersebut. Tidak perlu adanya penyebab lain tetapi cukup dengan adanya salah satu dari haruf mad yang tiga”.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa mad ashliy menurut tabiatnya memang diucapkan dengan suara panjang selama dua huruf karena adanya huruf mad.
Huruf-huruf maddashliy ada tiga, yaitu:
a.      Alif mati jatuh setelah fathah, contoh:قَالَ
b.      Wawu mati jatuh setelah dhommah, contoh:يَقٌولُ
c.       Ya’ mati jatuh setelah kasroh, contoh:فِيهِ

Syekh sulaiman Al-Jamhuri memberi tumusan tentang Mad Ashliy sebagai berikut:
“Madd Ashliy adalah hukum mad yang tidak dikenal sebab, seperti hamzah atau sukun.”
Yang dimaksud sebabdisini adalah hal-hal yang menyebabkan mad ashliy menjadi mad far’i, seperti hamzah dan sukun yang terletak sesudah mad ashliy. Ketika itu, madd ashliy secara otomatis menjadi madd far’i.
Cara membaca mad ashliy adalah dengan memanjangkan bacaan dua harakat, baik pada saat washol maupun pada saat waqob. Membacanya kurang dari satu alif hukumnya haram syar’i.Sedang membacanya lebih dari satu alif sangat makruh.
Contoh-contoh maddthobi’i:


Mad thobi’I ini dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
a.    Madd Iwadl
        Menurut bahasa, mad artinya panjang sedang iwadl artinya pengganti. Menurut istilah mad iwadl ialah:
                       “Berhentinya (bacaan) pada tanwin fathah di akhir kalimat.”
           Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa yang dinamakan mad iwadl adalah bacaanpanjang pada akhir kata (kalimat) sebagai ganti dari suara tanwin fathah yang tidak lagiberbunyi lagi karena bacaan di waqofkan.Tanwin fathah yang dimaksudkan adalah tanwin fathah yang tidak terletak pada ta’marbuthoh, tanwin fathah yang terletak pada ta’marbuthoh hukumnya bukan mad iwadl, karena bila ta’ marbuthoh tersebutdiwaqofkan, suaranya berubah menjadi huruf Ha’ tanpa mad.
Contoh:رَحْمَةًdan جنَّةً
Dalam kitab Nihyatulqoulilmufid, yang dinamakan mad iwadl adalah Ha’ dhomir yangmengganti tempatnya ya’ yang dibuang karena Jazem, misalnya:نُوَلِيْهِ - يُؤَدِّيْهِdibuang ya’ menjadi:نُوَلِّهيُؤَدَّهِ
Ketika masih ada ya’nya, bacaannya pendek, tetapi ketika ya’nyadibuang, Ha’nya menjadi panjang. Inilah mad iwadl menurut Nihayah. Berdasarkan hal ini, maka mad iwadldibagi menjadi dua, yaitu:
1.   Mad iwadl tanwin
Seperti:غَفُوْرًاmenjadi غَفُوْرَا
رِزْقًا menjadi رِزْقَا

2.   Mad iwadl yang dibuang
Seperti:نُوَلِّيْهِ menjadi نُوَلِّه
يُؤَدِّيْهِ menjadi يُؤَدِّه

Untuk yang kedua ini, apabila bertemu dengan hamzah, mmaka menjadi mad Jaiz Munfasil, seperti:مُؤَدِّهاِلَيْكَ

b.      Madd Badal
Menurut bahasa, mad artinya panjang fan badal artinya pengganti, sedang menurut istilah, madd badal ialah:
Berkumpulnya huruf madd dengan hamzah dalam kalimat, tetapi posisi hamzah lebih dahulu dari pada madd.
Dalam Nazham dijelaskan:
“dan apabila hamzah terletak lebih dahulu dari (huruf mad, maka dinamakan mad badal, seperti dalam lafadzaamanuun dan iimaanaa.
Dengan kata lain, mad badal terjadj karena huruf mad didahului oleh hamzah. Jika huruf yang mendahului huruf mad itu bukan hamzah atau selain hamzah, maka hukumnya tetap Mad Ashliy.
Cara membaca mad badal adalah dengan dipanjangkan dua harakat atau satu alif. Contoh:
امَنُوْا asalnya اَأْمَنُوْا
c.       Madd shahihqoshiroh
Menurut bahasa, qosiroh artinya pendek. Menurut istilah, madd shilahqoshiroh adalah: “apabila sebelum Ha’dhomir ada huruf berharakat dan disyaratkan tidak bersambung dengan huruf berikutnya, dan tidak pula bertemu drngan hamzah yang berharakat.
Dari definisi diatas, jelas bahwa mad shilahqoshiroh mempunyai tiga syarat, yaitu:
1.      Sebelum Ha’dhomir harus berupa huruf yang berharakat. Maksudnya bukan huruf yang mati. Jadi, apabila huruf sebelumnya berupa huruf mati, maka ia tidak dihukumj mad shilahqoshiroh. Contoh:بَنِيْهِ – فِيْهِ - مِنْهُ
2.      Ha’dhomir tidak disambung atau tidak dibaca brrsambung dengan kalimat berikutnya atau tidamdiidghomkan. Tetali bila sebaliknya, maka ia tidak dihukumi dengan mad shilahqoshirah. Contoh:
اَنَّهُ الحقُّ - لَهُ الحقُّ
3.      Ha’dhomir tidak bertemu dengan huruf hamzah, apabila bertemu hamzah, maka ia tidak dihukumi dengan madd shilah qoshiroh, tetapi madd shilahthowilah. Contoh:
وَمَالَهُ اِلاَ

Cara membaca madd shilahqoshirah adalah dengan memanjangkan dua harakat atau satu alif, baik hak dhomir itu berharakat kasroh ataupun dhommah. Harakat Ha’dhomir biasanya bertulis dalam bentuk dhommah terbalik atau kasrohterdiripada maddshilahqoshiroh. Contoh:
اِنَّهُ لَقَوْلٌ
Pengecualian:
1. Dalam surat al-furqon ayat 69, pada lafazh:
 يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا ٦٩

Ha’dhomirpada lafadz tersebut tetap dibaca mad (panjang), kareba mengandung faedah mubalaghoh, yaitu menyatukab betapa kerasbya siksaan Allah untuk orang-orang musyrik.Ustadz Mas’udsyafi’i menyatakan bahwa bacaan diatas sebagai mad mubalaghoh. Menurut beliau mad mubalaghoh hanya da pada satu tempat, yaitu pada surat al-furqon:69
2. Dalam surat az-zumar ayat 7, pada lafdz:
إِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمۡۖ وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞوِزۡرَأُخۡرَىٰۚثُمَّإِلَىٰرَبِّكُممَّرۡجِعُكُمۡفَيُنَبِّئُكُمبِمَاكُنتُمۡتَعۡمَلُونَۚإِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ٧

Ha’kinayah pada lafazhdiatas dibaca pendek dan bukannya madd (panjang).

d.      Mad tamkin
Mad tamkin menurut bahasa artinya tetap (penetapan). Mad tamkin menurut istilah adalah:
“bertemunya dua huruf ya’ (dalam satu kata), ya’ yang pertama berharakat kasroh dan bertasydid, sedang ya’ yang kedua berharakat sukun atau mati.
Bila dikaji lebih jauh,mad tamkin ini sebenarnya hanya mempuyai perbedaan sedikit dengan mad ashliy. Perbedaan tersebut adalah adanya tasydid pada huruf ya’ yang pertama dalam mad tamkin.Seandainya tasyidid tersebut dihilangkan, maka hukumnya tetap mad ashlyi. Cara membaca mad tamki adalah dengan menetapkan bunyi tasydid pada huruf ya’ yang pertama. Kemudian bacaan dipanjangkan saat menghadapi huruf madnya, yaitu huruf ya’ yangkedua yang bertanda  sukun. Panjang bacaannya adalah dua harakat, atau satu alif. Namun, apabila setelah ya’ terdapat satu huruf hidup dan bacaan diwaqofkan pada huruf yang hidup tersebut, maka membacanya boleh dua, empat, atau enam harakat, karena hikum bacaan pada akhir kata menjadi mad aridh lissukun.
Berikut contoh-contoh bacaan madd tamkin:

عِلِّيْنَرَبَّانِيِّيْنَ - حُيِّيْتُمْ
Untuk lafadz حُيِّيْتُمْbaik ketika waqof atau washol dibaca dua harakat. Sedang untuk empat contoh sisanya, ketika washol dibaca dua harakat dan ketika waqof boleh dua, empat, atau enam harakat.
2.  Madd Far’i
Far’i menurut bahasa berasal dari kata Far’un yang artinya cabang. Sedangkan menurut istilah, madd far’i adalah:“Madd yang merupakan hukum tambahan dari madd asli, yang disebabkan oleh Hamzah atau sukun”
Dalam Nazham dijelaskan:“Bagian lain (dari hukum madd) adalah madd far’i, yaitu madd asli yang terkena suatu sebab, seperti hamzah dan sukun”.
Kalau madd Thobi’i dibaca dua harakat atau satu Alif, maka madd Far’i ini dibaca lebih dari dua harakat atau satu Alif karena menghadapi sebab, baik berupa hamzah maupun berupa sukun. Karena itulah madd far’i ini terbagi menjadi dua, yaitu:[8]
a.       Madd yang disebabkan hamzah
Hukum madd far’i yang lahir sebab hamzah ini antara lain:
1.      Madd Wajib Muttasil
Menurut bahasa, madd artinya panjang. Wajib artinya harus (diperpanjang), dan Muttasil artinya bersambung (dengan hamzah). Sedang menurut istilah, madd wajib muttasil adalah: “apabila madd (ashli) dan hamzah (bertemu) dalam satu kata”.
Jadi, syarat terjadinya Madd Wajib Muttasil adalah harus ada hamzah setelah madd asli dan hamzah itu berada dalam satu kata dengan madd asli.[9]
Cara membacanya ialah wajib dipanjangkan lima harakat atau dua setengah alif. Contoh:
اُوْلئكَ

2.      Madd Jaiz Munfashil
Menurut bahasa Madd artinya panjang. Jaiz artinya boleh. Dinamakan Jaiz karena Qurro’ beda pendapat mengenai wajibnya. Munfashil artinya terpisah (antara madddan hamzah). Sedang menurut istilah, madd jaiz munfashil, dalam Nazham adalah: “dan ada madd yang boleh (jaiz) dibaca panjang atau pendek, yang terpisah kalimat (antara huruf madd dan hamzah). Dan yang demikian itu dinamakan Madd Jaiz Munfashil”
Mengenai madd jaiz munfashil ini, menurut ustadz Ismail Tekan, menurut beliau jika dua kata tersebut dipisahkan dan ternyata masing-masing  masih memiliki makna tersendiri, maka disini terdapat hukum hukum madd jaiz munfashil. Contohnya pada lafadz “Arab”.Jika dipisah, masing-masing masih mempunyai arti sendiri.Karenanya bertemu dua kata tersebut menyebabkan lahirnya Madd Jaiz Munfashil.
Cara membacanya adalah boleh dipanjangkan dua harakat (satu alif), empat harakat (dua alif), atau lima harakat (dua setengah alif). Contoh:[10]
لآاَعْبُدُ

3.      Madd Shilah Thowilah
Menurut bahasa madd artinya panjang. Shilah artinya hubungan. Sedang menurut istilah:”madd tambahan (dari madd ashli) yang disebabkan oleh Ha’ Dhommir (kata ganti benda atau orang ketiga tunggal)”.
Madd shilah ini dibagi 2 bagian, yaitu : madd shilah qashiroh (yang sudah kita bahas pada bagian madd thabi’i) dan madd shilah thowilah (yang saat ini sedang kita bahas).
Menurut bahasa Thowilah artinya panjang. Sedang menurut istilah adalah: “Apabila setelah Ha’ (dhommir) terdapat hamzah Qath’i”
Jadi, syarat terjadinya madd shilah thowilah adalah adanya huruf hamzah setelah Ha’ Dhommir. Adapun cara membacanya adalah dengan dipanjangkan empat atau lima harakat atau dua setengah alif, baik Ha’ Dhommir itu berharakat Dhommir atau Kasrah.
Contohnya:[11]
عِنْدَهُاِلاَّ
b.      Madd yang disebabkan sukun
Madd far’i yang disebabkan sukun ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Madd yang disebabkan Sukun Ashly (Lazim)
Yaitu, setelah huruf madd terdapat huruf madd ashli, madd ini sering disebut juga dengan madd lazim. Dan harus dibaca 6 harakat (tiga alif).
Lazim menurut bahasa artinya pasti. Menurut istilah, madd lazim ialah:“Apabila setelah huruf madd atau huruf Lin terdapat huruf mati lazim (sukun yang tetap/asli) atau huruf bertasydid, baik dalam keadaan washal atau waqof, didalam kata (kalimat) atau huruf (ejaan).
Madd Lazim ini dibagi menjadi empat,yaitu:[12]
·         Madd Lazim Kilmi Mutsaqqol
·         Madd Lazim Kilmi Mukhoffaf
·         Madd Lazim Kilmi Harfi Mukhoffaf
·         Madd Lazim Kilmi Harfi Musyba’
Ø  Madd Lazim Harfi Musyba’ Mutsaqqol
Ø  Madd Lazim Harfi Musyba’ Mukhoffaf
Berikut ini rincian dari Madd Lazim tersebut:
a.       Madd Lazim Kilmi Mutsaqqol
Menurut bahasa madd artinyan panjang, lazim artinya pasti (harus dibaca panjang), Kilmi artinya kalimat (yakni terjadinya pada kalimat) dan Mutsaqqol artinya berat, karena terjadi Idhgom. Sedang menurut istilah, Madd Lazim Kilmi Mutsaqqol adalah:“Apabila setelah huruf madd (ashli) ada huruf yang bertasydid dalam satu kata (kalimat)”
Jadi, syarat terjadinya madd lazim kilmi mutsaqqol adalah adanya huruf yang bertasydid setelah madd ashli, jika tidak terdapat huruf bertasydid, hukumnya tetap madd ashli. Dan huruf yang bertasydid itu harus berada dalam satu kata dengan huruf madd ashli.[13]
Cara membacanya adalah dengan memanjangkan terlebih dahulu huruf madd sebanyak enam harakat (tiga alif), lalu diberatkan (mutsaqqol) atau dimasukkan (idhgom) kepada huruf yang bertasydid dihadapannya.[14]
Contoh:
اَلْحَاقَّةُ

b.  Mad lazim kilmi mutsaqqol
    Menurut bahasa Mad artinya panjang, lazim artinya pasti, kilmi artinya kalimat dan mutsaqqol artnya berat, karena terjadi idgam. Menurut istilah ialah apabila setelah huruf Mad (Ashli) ad huruf yang bertasydit dalam satu kata (kalimat).
  Jadi syarat terjadinya Mad lazim kilmi mutsaqqol adalah adanya huruf yang bertasydid setelah Mad Ashli, Jika tidak terdapat huruf bertasyid, hukunya tetep Mad Ashli. Dan huruf yang bertasyid itu harus berada dalam satu kata dengan huruf Mad Ashli.
cara membacanya  adalah dengan memsnjangkan terlebih dahulu huruf Mad sebnyak enam harakat (tiga alif), lalu diberatkan (mutsaqqol), atau dimasukan (idqam) kepada huruf yang bertasyid dihadapannya .[15]
c.  Mad lazim kilmi mukhaffaf
       Menurut bahasa Mad  artinya panjang,  lazim artinya pasti, kilmi artinya kalimat, dan mukhaffaf artinya ringan, karena tidak terjadi idgam. Sedangkan menurut istilah ialah apabila setelah huruf Mad terdapat huruf yang bersukun dan tidak ada idqam.
      Jadi, syarat terjadinya Mad lazim kilmi mukhaffaf adalah adanya huruf yang mati setelah huruf Mad. Namun, tidak ada proses idgam didalam nya
Cara membacanya adalah dengan dipanjakan enam harakat (tiga alif). Didalam Al- Quran yang termasuk hukum Mad lazim kilmi mukhaffaf ini ada pada satu lafaz, yang terdapat pada dua tempat, yaitu :[16]
1. Q.S Yunus ayat 51
2. Q.S Yunus ayat 91
d. Mad lazim harfi mukhaffaf
       Menurut bahasa Mad  artinya panjang,  lazim artinya pasti, harfi artinya huruf (yakni terjadinya pada huruf), dan mukhaffaf artinya ringan, karena tidak terjadi idgam. Menurut istilah ialah apabila huruf- huruf (Fawatihus suwar)nya terdiri dari dua ejaan hurufnya.
Huruf-huruf madd lazim harfi mukhaffaf ada lima huruf terkumpul dalam kalimat: (....)
Cara membacanya dengan dipanjangkan dua harakat. Contoh: (.....)
e. Madd lazim harfi musyba’
Menurut bahasa, madd artinya panjang, lazim artinya pasti (harus dibaca panjang), harfi artinya huruf (yakni terjadinya pada huruf), dan Musyba’ artinya penuh (tiga ejaan huruf). Menurut istilah ialah madd yang terjadi pada huruf yang terletak dipermulaan surah huruf tersebut mempunyai tiga ejaan huruf, huruf yang tengahnya huruf madd dan huruf yang ketiga mati ashli.
Mad lazim harfi musyba’ terjadi tatkala kita membaca huruf-huruf rawatihus suwar di dalam Al-quran.
Cara membaca mad lazim harfi musyba’ ialah wajib dipanjangkan enam harakat (tiga alif). Huruf-huruf yang termasuk dalam mad lazim harbi musyba’ terkumpul dalam kalimat: نَقَصَ عَسلُكُم
Kedelapan huruf ini tergolong kedalam musyba’ karena memiliki tiga ejaan huruf dan huruf yang ditengahnya adalah huruf mad ashli.
Mad lazim harfi musyba’ terbagi menjadi dua, yaitu:
1. madd lazim harfi musyba’ mustaqqol adalah apabila huruf setelah mad (dalam ejaan huruf) fawatihus suwar di idghomkan maka ia dinamakan mad lazim harfi musyba’ mutsaqqol.
Contoh 3:  Lafazh اَلمّص,  surat Al-Araf : 1.
 Rincian harakat dan hukum-hukumnya :
- اَلِفْ = 1 Harakat.
-لاَمْ = 6 Harakat (Lazim Harfi Musyba'  Mutsaqqol).  Pada huruf ini (dan huruf sesudahnya),  terjadi Mutsaqqol karena proses Idghom Mimi, yaitu ketika Mim Mati (ejaan ketiga huruf kedua)  bertemu dengan huruf Mim (ejaan pertama huruf ketiga). Karena itu, bacaan harus di idghomkan dengan memakai tasydid pada huruf ketiga (huruf Mim).

-مِّيْمْ = 3 Harakat karena Ghunnah Musyaddadah dan 6 Harakat karena Madd Lazim Harfi Musyba'.  Selain terjadi Mutsaqqol dengan huruf sebelumnya,  pada huruf ini juga muncul hukum Ghunnah Musyaddadah karena huruf Mim di tasydidkan akibat proses Idghom Mimi dengan huruf sebelumnya.  Pada ejaan ketiga huruf ketiga,  juga tejadi proses Izh-har Syafawiy karena Mim mati bertemu dengan huruf keempat,  yakni huruf Shod,  sehingga harus dibaca jelas satu ketukan seraya merapatkan bibir.
-صَاْدْ = 6 Harakat(Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf). Pada huruf ini muncul hukum Qolqolah,  karena ada huruf Qolqolah yakni huruf Dal (ejaan ketiga huruf keempat)  yang mati asli.
2. Mad lazim harfi musyba mukhaffaf ialah apabila (huruf setelah madd dalam ejaan huruf fawatihus suwar) tidak di idghomkan dinamakan madd lazim harfi musyba’ mukhaffaf.
   Maksudnya,  bacaan diringankan (Mukhoffaf), akibat tidak terjadinya proses Idghom.  Contoh 1 : Lafazh كهيعص, surat Maryam :1 Rincian harakat dan hukum-hukumnya :
-كَافْ = 6 Harakat (Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf).
-هَا = 2 Harakat (Lazim Harfi Mukhoffaf).
-يَا=  2 Harakat (Lazim Harfi Mukhoffaf).
-عَيْنْ = 6 Harakat (Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf). Pada huruf ini muncul hukum Ikhfa'  Ausath karena Nun Mati (ejaan ketiga huruf keempat)  bertemu dengan huruf Shod).
-صَاْدْ =   6 Harakat(Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf).  Pada huruf ini muncul hukum Qolqolah,  karena adanya huruf Qolqolah yakni huruf Dal (ejaan ketiga huruf kelima) yang mati asli.

Contoh 2 : Lafazhعسق,  surat Asy-Syu'ara : 1.
 Rincian harakat dan hukum-hukumnya :
-عَيْنْ= 6  Harakat (Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf). Pada huruf ini muncul hukum Ikhfa'  Ausath karena Nun Mati (ejaan ketiga huruf pertama)  bertemu dengan huruf Sin (ejaan pertama huruf kedua).
-سِيْنْ=  6 Harakat (Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf).  Pada huruf ini muncul hukum Ikhfa Ab'ad karena Nun Mati (ejaan ketiga huruf kedua)  bertemu dengan huruf Qof.
-قَاْفْ=  6 Harakat (Lazim Harfi Musyba'  Mukhoffaf).

Keterangan:
     Jumlah huruf yang ada diawal surat itu ada 14,  yang terkumpul dalam:
نَصٌّ حَكِيْمٌ لَهُسِرٌّقَاطِعٌ.
 Yang ditulis per huruf yang dibaca dengan nama buruf.
 Huruf-huruf ini di golongkan menjadi 3,  yaitu:
1. Huruf yang tidak mempunyai Madd,  seperti:الف
2.  Huruf-huruf yang dibaca dengan menambah Alif Maddiyyah sesudahnya,  huruf-huruf ini dirumuskan dalam:حَىٌ طَهُرَdibaca حَا – يَا – طَا – هَا - رَا.
Ukuran panjangnya 1 Alif (2 Harakat), sama dengan Madd Thobi'i.

3. Huruf-huruf yang dibaca dengan nama huruf yang bersangkutan,  huruf-huruf ini dirumuskan dalam:
نَقَصَ عَسَلُكُم
Dibaca نُوْنْ – قَافْ – صَادْ – عَيْنْ – سِيْنْ – لاَمْ – كَافْ -مِيْمْ.
Ukuran panjangnya 3 Alif (6 Harakat) kecuali Ain  maka boleh: 
a. 1 Alif (2Harakat)  =اَلقَصْرُ.
b. 2 Alif (4 Harakat) = اَلتَّوَسُّطُ.
c.  3 Alif(6 Harakat)  =الطُلُ

2.  Madd yang Disebabkan Sukun Aridly (Baru) 

     Yaitu sesudah huruf Madd terdapat huruf mati baru (karena Waqof). Madd ini ada 2 (dua),  yaitu:
a. Madd Aridl Lis-Sukun.
   Menurut bahasa,  Madd artinya panjang,  Aridl artinya baru (tiba-tiba ada),  dan Sukun artinya mati.  Sedangkan menurut istilah,  Madd Aridl Lis Sukun adalah:"Pemberhentian (waqof) bacaan pada akhir kata (kalimat),  sedangkan huruf sebelum huruf yang diwaqofkan itu merupakan salah satu dari huruf-huruf Madd Thobi'i,  yaitu Alif, Wawu, dan Ya'.
Pada hakikatnya,  Madd Aridl Lis-Sukun itu adalah Madd Ashli yang terkena Waqof secara tiba-tiba,  walaupun ditengah kalimat.  Bila Madd ini diwasholkan,  maka hukumnya menjadi Madd Ashli.
       Cara membaca Madd Aridl Lis-Sukun ini dibagi menjadi tiga,  yaitu: 
1. Qoshr اَلقَصْرُ,  yaitu dipanjangkan dua Harakat (1 Alif).
2. Tawassuth اَلتَّوَسُّطُ,yaitu dipanjangkan empat Harakat (2 Alif).
3. Thul الطُلُ,yaitu dipanjangkan enam Harakat (3 Alif).
     Berikut contoh bacaan Madd Aridl Lis-Sukun:
عَذَابٌ اَلِيْمٌ
b. Madd Lin
Menurut bahasa,  Madd artinya panjang dan Lin artinya Lunak. Sedang menurut istilah,  Lin adalah: "Apabila Wawu dan Ya'  berharakat dan huruf sebelumnya berharakat Fathah."
Dalam Nazham dijelaskan: "Lin yaitu apabila ada huruf Madd berupa Ya'  atau Wawu yang mati,  sedang huruf sebelumnya berharakat Fathah."
Huruf Lin dan Madd Lin adalah dua hal yang berbeda,  masing-masing mempunyai kedudukan sendiri,  untuk lebih jelasnya,  berikut pengertian keduanya:

1. Huruf Lin
       Huruf Lin terjadi apabila wawu atau Ya'  dalam keadaan mati dan huruf sebelumnya berharakat Fathah,  dan dibaca Washol atau tidak diwaqofkan.
  Contoh 1:  Huruf Lin yang harus diwasholkan selamanya يَوْمَئِذٍ.
 Contoh 2:  Huruf Lin yang bisa diwaqofkan tetapi diWasholkan. فِيهِ.
2.Madd Lin
    Madd Lin terjadi apabila huruf Wawu atau Ya' dalam keadaan mati dan huruf sebelumnya di Fathah serta setelahnya ada huruf hidup.  Kemudian bacaan diwaqofkan atau dibaca berhenti.
      Cara membacanya dipanjangkan,  seperti dalam Madd Aridl Lis-Sukun,  yaitu dua,  empat,  atau enam Harakat.
 Contoh: بِيَدِكَاْلخَيْرُ
Contoh-contoh diatas merupakan Madd Lin,  karena bacaan di waqofkan.  Namun,  apabila bacaan diwasholkan dengan kalimat selanjutnya,  hukumnya adalah huruf Lin yang dibaca tidak panjang.


DAFTAR PUSTAKA
Wahyudi.Ilmu Tajwid Plus.Surabaya: Halim Jaya. 2007.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "QOLQALAH DAN MAD"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!