KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PRINSIP-PRINSIP DASAR METODOLOGIS PAI


Pendidikan Agama Islam merupakan usaha-usaha secara sistematis dan berencana dalam membantu anak didik agar mereka dapat hidup layak, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan ajaran Islam.[1]Yang namanya pendidikan itu sendiri tentu tidak lepas dari yang namanya proses belajar mengajar atau proses pembelajaran. Sebagaimana dinyatakan Musman Hadiatmadja bahwa proses belajar mengajar adalah “hubungan antara pihak pengajar (guru) dan pihak yang diajar (murid atau siswa) sehingga terjadi suasana dimana pihak murid aktif belajar dan pihak guru aktif mengajar”.[2]
Salah satu bagian yang sangat penting yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran ialah metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi salah satu penentu berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran dalam mencapai tujuannya. Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Berbagai pendekatan yang dipergunakan dalam pembelajaran agama Islam harus dijabarkan ke dalam metode pembelajaran PAI yang bersifat prosedural. “Bagi segala sesuatu itu ada metodenya, dan metode masuk surga adalah ilmu” (HR. Dailami).[3]
Hadis diatas menegaskan bahwa untuk mencapai sesuatu itu harus menggunakan metode atau cara yang ditempuh termasuk keinginan masuk surga. Dalam hal ini ilmu termasuk sarana atau metode untuk memasukinya. Begitu pula dalam proses pembelajaran agama Islam tentunya ada metode yang digunakan yang turut menentukan sukses atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan agama Islam.[4]
Oleh karena itu dalam melaksanakan proses pembelajaran sangatlah penting kiranya untuk menentukan metode yang tepat. Maka diperlukan yang namanya prinsip-prinsip dasar metodologis pembelajaran PAI yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam memilih maupun menggunakan suatu metode pembelajaran.
Dasar-dasar Historis, Filosofis, dan Teoritis Perlunya Metodologi

Pengajaran PAI

         1.     Dasar Historis
Historis atau sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah mencakup segala kejadian dalam alam ini, termasuk hal-hal yang dikembangkan oleh budi daya manusia. Historis atau sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk, dan sebagainya. Informasi lampau ini terutama yang bersifat kebudayaan pada umumnya berisi konsep, praktik, dan hasil yang diperoleh.[5]
Informasi-informasi tersebut di atas merupakan warisan generasi muda dan generasi pendahulunya yang tidak ternilai harganya. Generasi muda banyak belajar dari informasi ini. Belajar dalam arti memanfaatkan informasi ini dalam upaya memajukan diri. Bukan belajar hanya menerima dan bertahan dalam kebudayaan itu, melainkan kebudayaan itu dijadikan landasan dan bahan perbandingan untuk maju.[6]Oleh karena itu dalam materi pendidikan perlu dimuat yang namanya dasar-dasar historis atau sejarah.
Dari segi sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini, maka pendidikan berawal dari sejak zaman primitif kehidupan umat manusia. Pengajaran dan latihan diberikan oleh orang tua kepada anak muda agar dapat bertahan atas kekerasan alam sekitar tempat mereka hidup. Pendidikannya bersifat praktis yaitu yang berkenaan dengan alam nyata yang terlihat dan alam roh yang tidak terlihat.[7]
Kemudian di era selanjutnya, sudah mulai banyak berkembang metode pengajaran. Metode pengajaran Cina kuno merupakan salah satu contohnya. Pendidikannya bersifat tradisional, yaitu selalu mempertahankan dan mengawetkan yang telah lalu. Setiap pendidikan formal terbatas pada mempelajari hal-hal yang klasik. Menurut Confusius ide pengajaran itu berpusat pada hidup dengan hati yang baik dan bersih. Kemudian ada juga pendidikan Hindu yang berpusat pada pelajaran kepercayaan agama dan sistem kasta. Lalu pendidikan Persia kuno yang lebih ditunjukkan kepada kekuatan jasmani daripada mempertinggi kebudayaan. Pendidikan di Mesir kuno adalah pendidikan kenegaraan, moral, agama, keindahan, dan perekonomian. Ada juga pendidikan kebangsaan Yahudi kuno yakni transisi antara sikap pendidikan Timur dan Barat. Selain itu, pada Yunani kuno itu terdiri atas tiga aliran: Homerik, Sparta, dan Athena. Dimana Homerik tujuannya adalah pendidikan agama, Sparta tujuannya pada kesejahteraan kelompok, dan Athena bertujuan membentuk manusia berbudi luhur dan bijaksana.[8]
Kemudian pada perkembangan selanjutnya, pendidikan dipengaruhi oleh pemahaman agama Kristen. Dimana pendidikan terbatas pada agama dan pendidikan intelektual. Lalu setelah Islam muncul di jazirah Arab, pendidikan mulai mengalami berbagai kemajuan. Kurikulum yang digunakan ini lebih sempurna dan lebih tersusun rapi daripada abad sebelumnya. Yang kemudian kemajuan pendidikan di Arab ini banyak mempengaruhi pendidikan pada bangsa Barat. Dimana banyak bermunculan aliran-aliran pendidikan hingga abad modern. Aliran-aliran inilah yang mempengaruhi pendidikan di berbagai belahan dunia.[9]
Di Indonesia sendiri, pada mulanya pendidikan berkembang setelah Islam datang ke Nusantara. Dimana berdirinya lembaga pendidikan agama yakni pesantren. Kemudian setelah Indonesia mengalami penjajahan, dimana yang pada awalnya metode pengajaran masih mengikuti metode sekolah pemeritah kolonial Belanda tetapi lambat laun berangsur-angsur diperbaiki menuju pendidikan nasional. Pengajaran lebih bersifat struktural dengan mengikuti jenjang pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah, dan sekolah tinggi.[10]Hingga sekarang ini pendidikan di Indonesia terus diperbaiki.
2.        Dasar Filosofis
Sesungguhnya filsafat telah ada semenjak manusia ada, tetapi keberadaannya tidak diakui secara formal seperti filsafat sekarang. Sebab ia tidak digali, dihimpun, dan disistematiskan menjadi suatu hasil pemikiran. Manusia semenjak mereka ada di muka bumi dan hidup bermasyarakat sudah memiliki gambaran dan cita-cita yang mereka kejar dalam hidupnya, baik secara individu maupun secara berkelompok, walaupun masih sangat sederhana gambaran dan cita-cita itu makin lama makin berkembang sesuai dengan perkembangan kebudayaan mereka.[11]
Gambaran dan cita-cita tentang kehidupan itu pula yang mendasari adatistiadat suatu suku atau bangsa, norma, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Begitu pula pendidikan yang berlangsung di suatu suku atau bangsa tidak bisa terlepas dari gambaran dan cita-cita di atas. Hal ini mendorong masyarakat untuk menekankan pada aspek-aspek tertentu pada pendidikan agar dapat memenuhi gambaran dan cita-cita mereka.[12]
Selain itu apabila kita berbicara mengenai nilai-nilai, maka filsafat perlu dipertimbangkan agar pilihan kita menjadi bijaksana. Hal yang demikian berlaku pula pada metode pendidikan, karena ia menyangkut pembentukan kepribadian manusia dan kualitas hidup mereka.[13]
3.        Dasar Teorits
Ada beberapa teori pendidikan dan pembelajaran yang dapat dirujuk untuk pengembangan karakter, diantaranya:
a.    Teori-teori yang berorientasi behavioristic yang menyatakan bahwa perilaku seseorang sangat ditentukan oleh kekuatan eksternal, dimana perubahan perilaku tersebut bersifat mekanistik. Teori ini dikenal juga sebagai teori Stimulus-Respons atau teori laboratorium yang sangat populer pada implementasi kurikulum 1970-an. Teori-teori behavioristic ini dikembangkan dengan menggunakan hewan sebagai objek uji cobanya. Pada tahun 1980-an tumbuh kesadaran baru. Manusia tidak sama dengan hewan sehingga teori behavioristic dipandang kurang cocok untuk pendidikan karakter karena menjadikan manusia sebagai robot.[14]
b.    Teori-teori yang berorientasi kognitifistik yang juga dikenal sebagai teori pemroresan informasi, dengan prinsip input-proses-output. Teori ini menganalogikan cara kerja pikiran manusia seperti cara kerja komputer. Jika pikiran di-entry data-data tentang kebaikan-kebaikan, maka diyakini akan dapat mewujudkan perilaku baik. Sayangnya ditemukan fakta banyak orang yang mengetahui kebaikan-kebaikan tetapi perilakunya tidak selalu baik. Untuk itu di awal tahun 2000-an tumbuh kesadaran baru, bahwa teori-teori kognitifistik kurang begitu cocok untuk pendidikan karakter.[15]
c.    Teori yang berorientasi komprehensif, misalnya teori konstruktivistik dan teori holistic(diantaranya teori medan, teori motivasi, dan teori konteks sosial yang menyatakan bahwa perilaku seseorang sangat ditentukan baik oleh kekuatan internal maupun eksternal. Dengan tanpa mengabaikan teori behavioristik dan kognitivistik untuk keperluan pendidikan karakter di sekolah, dipandang lebih tepat jika menggunakan teori-teori yang berorientasi pada komprehensif yang mengimplementasikan secara seimbang antara kekuatan internal dan eksternal, antara kekuatan pikiran dengan hati, dan antara ngerti, ngerasa, ngelakoni atau antara pikir, zikir dan ikhtiar.[16]
Secara metodologis, hendaknya juga menyesuaikan dengan orientasi teori komprehensif yang digunakan untuk memandu praktik pendidikan karakter. Oleh karena itu dengan dasar teoritis di atas, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang sesuai sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.17
Pengertian dan Kaitan Antara Approach, Metode, dan Teknik dalam

Pembelajaran PAI

         1.    Pengertian Approach (Pendekatan)
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.[17]
Kenyataan saat ini menunjukan bahwa dalam pendidikan Islam kurang menekankan untuk bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi makna dan nilai yang mampu melekat pada pribadi-pribadi yang kokoh. Titik pendekatan yang selama ini berkembang adalah lebih pada naturallistic-positivistik yang mengacu pada koherensi kognitif daripada bagaimana “perasaan beragama” menyentuh wilayah moral–praksis. Padahal sejauh tidak “menggeser” prinsip-prinsip dan nilai-nilai keagamaan yang ada dari kebenaran Tuhan, maka perubahan paradigmatis-metodologis dapat dibenarkan sesuai dengan situasi dan kondisi sosial kemasyarakatan, perkembangan ekonomi, fluktuasi politik, dan perkembangan IPTEK yang tidak mengenal titik henti.[18]
Dalam pembelajaran agama Islam kedua pendekatan dokrin –religius dan saintifik-empiris harus dijalankan bersamaan. Kajian dan pendidikan agama yang hanya menekankan pada pendekatan doktrin akan cepat membosankan dan artifisial. Sedangkan pendekatan saitifik (natural science  maupun behavioral science) yang tidak diberi muatan doktrin, akan menyebabkan anak didik lupa akan sikap dan pandangan hidup yang sebenarnya.[19]
Menurut Tolkhah (2004) ada beberapa pendekatan yang perlu mendapat kajian lebih lanjut berkaitan dengan pembelajaran agama Islam, di antaranya: Pertama, pendekatan psikologis (psychologis approach). Pendekatan yang perlu dipertimbangkan mengingat aspek psikologis manusia yang meliputi aspek rasional/intelektual, aspek emosional, dan aspek ingatan. Aspek rasional mendorong manusia untuk berpikir ciptaan Tuhan di langit maupun di bumi. Aspek emosional mendorong manusia untuk merasakan adanya kekuasaan tertinggi yang gaib sebagai pengendali jalanya alam dan kehidupan sedangkan aspek ingatan dan keinginan manusia di dorong untuk difungsikan ke dalam kegiatan menghayati dan mengamalkan  nilai-nilai agama yang diturunkanNya. Seluruh aspek dimensi manusia sejatinya dibangkitkan untuk dipergunakan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.[20]
Kedua, pendekatan sosio-kultural (socio-cultural approach). Suatu pendekatan yang melihat dimensi manusia tidak saja sebagai individu melainkan juga sebagai makhluk sosial budaya yang memiliki berbagai potensi yang signifikan bagi pengembangan masyarakat, dan juga mampu mengembangkan sistem budaya dan kebudayaan yang berguna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya.[21]
         2.    Pengertian Metode
Berkenaan dengan metode, ada beberapa istilah yang biasanya digunakan oleh para ahli pendidikan islam yakni; (1) Min haj at-Tarbiyah al-Islamiyah;
(2) Wasilatu at-Tarbiyah al-Islamiyah;(3) Kaifiyatu at-Tarbiyah al-Islamiyah; (4) Thariqatu at-Tarbiyah al-Islamiyah.  Semua istilah tersebut sebenarnya merupakan muradif (kesetaraan) sehingga semuanya bisa digunakan. Menurut Asnely Ilyas, diantara istilah diatas yang paling populer adalah at-thariqah yang mempunyai pengertian jalan atau cara yang harus ditempuh.[22]
Sedangkan istilah ‘metodologi’ perlu dipahami lebih lanjut. Secara harfiah, kata metodologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata “mefha” yang berarti melalui, “hodos” yang berarti jalan atau cara, dan kata “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi, metodologi pendidikan adalah jalan yang kita lalui untuk memberikan kepahaman atau pengertian kepada anak didik, atau segala macam pelajaran yang diberikan.[23]
Adapun yang dimaksud metodologi pendidikan agama Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang bagaimana cara-cara yang perlu ditempuh atau dipergunakan dalam upaya menyampaikan materi pendidikan agama Islam kepada objeknya, yaitu manusia (anak didik), berdasarkan petunjuk atau tuntunan al-Qur’an atau al-Sunnah.[24]
         3.     Pengertian Teknik
Proses kegiatan belajar mengajar tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait dengan komponen materi dan waktu. Langkah pembelajaran menurut rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru dan siswa secara berurutan sehingga cocok dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa. Berbagai metode yang dikemukakan diatas selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci kedalam teknik atau prosedur pembelajarannya.[25]
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kecakapan kognitif banyak sekali. Diantaranya dengan ‘sorogan’ pada saat mengaji/menghafal ayat-ayat al-Qur’an biasanya diterapkan di pesantrenpesantren tradisional). Lalu denga teknik Mnmonic yaitu dengan menghafal bagian-bagian awal huruf/suku kata dari beberapa poin-poin yang harus dihafal. Seperti menghafal huruf-huruf hijaiyah yang termasuk kedalam hukum bacaan qalqalah: ba, jim, dal, tha, qaf, dihafalkan menjadi ‘baju di toko’. Selain itu dapat pula dengan menggunakan perumpamaan dalam bercerita ketika menghafal nama-nama surat dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya telah kami buatkan berbagai macam perumpamaan dalam al-Qur’an bagi manusia, supaya mereka menapatkan pelajaran” (QS. Az-Zumar, 39:27). Contohnya seperti cerita berikut: Di sebuah perbukitan bernama at-Thur, sekitar 52 km dari negeri al-Balad hiduplah keluarga lebah bernama al-Nahl yang berjumlah 128 ekor
dst.[26]
Teknik pembelajaran yang berorientasi pada psikomotor diantaranya: drill and practice, berlatih dan mempraktekan seperti pada materi melafalkan huruf al-Qur’an, berwuhdu dan praktek ibadah salat. Teknik pembelajaran yang berorientasi pada nilai (efektif) ada bermacam-macam, diantaranya ialah (1) teknik indoktrinasi; (2) teknik moral reasoning; (3) teknik meramalkan konsekuensi; (4) teknik klarifikasi; dan (5) teknik internalisasi.[27]
         4.    Kaitan Antara Approach, Metode, dan Teknik
Apabila antara approach (pendekatan), metode, dan teknik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir, yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.[28]

Prinsip-prinsip dalam Pemilihan dan Penggunaan Metode PAI

Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan intruksional khusus. Jarang sekali terlihat guru merumuskan tujuan hanya dengan satu rumusan, tetapi pasti guru merumuskan lebih dari satu tujuan. Karenanya, guru pun selalu menggunakan metode yang lebih dari satu. Pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain. Begitulah adanya, sesuai dengan kehendak tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.[29]Oleh sebab itu, untuk memilih dan menggunakan metode yang tepat diperlukan beberapa prinsip sebagai berikut:
1.           Nilai Strategis Metode
Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi edukatif antara guru dan anak didik, ketika guru menyampaikan bahan pelajaran kepada anak didik di kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberikan dorongan (motivasi)



kepada anak didik bila penyampaiannya menggunakan strategi yang kurang tepat. Di sinilah kehadiran metode menempati posisi penting dalam penyampaian bahan pelajaran.[30]
Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justru akan mempersulit bagi guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan pengajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran. Karena itu, dapat dipahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki sifat straegis dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategisnya adalah metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar dilaksanakan di kelas.32
2.           Efektivitas Penggunaan Metode
Ketika anak didik tidak mampu berkonsentrasi, ketika sebagian anak didik membuat kegaduhan, ketika anak didik menunjukkan kelesuan, ketika minat anak didik semakin berkurang, ketika itulah guru mempertanyakan faktor penyebabnya dan berusaha mencari jawabannya secara tepat. Karena bila tidak, maka apa yang guru sampaikan akan sia-sia. Boleh jadi dari sekian keadaan tersebut, salah satu penyebabnya adalah faktor metode. Karenanya, efektvitas penggunaan metode patut dipertanyakan.33
Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran akan menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Cukup banyak bahan pelajaran yang terbuang dengan percuma hanya karena penggunaan metode menurut kehendak guru dan mengabaikan kebutuhan siswa, fasilitas, serta situasi kelas. Guru yang selalu senang menggunakan metode ceramah sementara tujuan pengajarannya adalah agar anak didik dapat memperagakan shalat, adalah kegiatan belajar mengajar yang kurang kondusif. Seharusnya penggunaan metode dapat menunjang pencapaian tujuan pengajaran, bukannya tujuan yang harus menyesuaikan diri dengan metode.[31] Karena itu, efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran, sebagai persiapan tertulis.[32]
3.     Pentingnya Pemilihan dan Penentuan Metode
Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Apa pun yang termasuk perangkat program pengajaran dituntut secara mutlak untuk menunjang tercapainya tujuan. Guru tidak dibenarkan mengajar dengan kemalasan. Anak didik pun diwajibkan mempunyai kreativitas yang tinggi dalam belajar, bukan selalu menanti perintah guru. Kedua unsur manusiawi ini juga beraktivitas tidak lain karena ingin mencapai tujuan secara efektif dan efisien.36
Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Pemilihan dan penentuan metode ini didasari adanya metodemetode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya, tujuan pengajaran adalah agar anak didik dapat menuliskan sebagian dari ayat dalam surah Al-Fatihah, maka guru tidak tepat menggunakan metode diskusi, tetapi yang tepat adalah metode latihan.37
Kegagalan guru mencapai tujuan pengajaran akan terjadi jika pemilihan dan penentuan metode tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing-masing metode pengajaran. Karena itu, yang terbaiKguru lakukan adalah mengetahui kelebihan dan kelemahan dari beberapa metode pengajaran yang akan dibahas dalam uraian-uraian selanjutnya.
4.      aktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode
Jangan  dikira bahwa pemilihan metode itu sembarangan. Jangan diduga bahwa penentuan metode itu tanpa harus mempertimbangkan faktor-faktor lain. Sebagai suatu cara, metode tidaklah berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Maka dari itu, siapa pun yang menjadi guru harus mengenal, memahaminya dan mempedominya ketika akan melaksanakan pemilihan dan penetuan metode. Tanpa mengindahkan hal ini, metode yang dipergunakan bisa-bisa tiada arti.[34]
Bila ada yang mengatakan bahwa makin baik metode itu, makin efektif pula pencapaian tujuan adalah pendapat yang mengandung nilai kebenaran. Tapi, jangan didukung bila ada para ahli lain yang mengatakan bahwa semua metode adalah baik dan tidak ada kelemahannya, karena pernyataan tersebut adalah pendapat yang keliru.40
Dalam pandangan yang sudah diakui kebenarannya mengatakan bahwa setiap metode mempunyai sifat masing-masing, baik mengenai kebaikankebaikannya maupun menetapkan mengenai kelemahan-kelemahannya. Guru akan lebih mudah menetapkan metode yang paling serasi untuk situasi dan kondisi yang khusus dihadapinya, jika memahami sifat-sifat masing-masing metode tersebut.41 Menurut Ing S. Ulih Karo-karo, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam memilih metode mengajar, sebagai berikut:
a.      Tujuan yang hendak dicapai
Setiap orang yang mengerjakan sesuatu haruslah mengetahui dengan jelas tentang tujuan yang hendak dicapainya. Demikian juga setiap pendidik atau setiap guru yang pekerjaan pokoknya mendidik dan mengajar haruslah mengerti dengan jelas tentang tujuan pendidikan, pengertian akan tujuan pendidikan ini mutlak perlu sebab tujuan itulah yang akan menjadi sasaran dan menjadi pengarah daripada tindakan-tindakannya dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Disamping menjadi sasaran dan menjadi pengarah, tujuan pendidikan dan pengajaran juga berfungsi sebagai kriteria bagi pemilihan dan penentuan alat-alat (termasuk metode) yang akan digunakannya dalam mengajar.[35]
b.        Pelajar
Para pelajar yang akan menerima dan mempelajari bahan pelajaran yang disajikan guru harus pula diperhatikan dalam memilih metode belajar. Ini perlu sebab metode mengajar itu ada yang menurut pengetahuan dan kecekatan tertentu misalnya metode diskusi menurut pengetahuan yang cukup banyak (supaya peserta diskusi dapat mengetahui serta menilai benar atau salahnya sesuatu pendapat yang dikemukakan peserta lain)  dan penguasaan bahasa serta keterampilan mengemukakan pendapat itu, demikian pula metode ceramah menurut penguasaan bahasa pasif, dan dari pelajar, sebab ia (pelajar) harus dapat menangkap apa isi dari yang dikemukakan guru melalui ceramah.[36]
c.         Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran yang menuntut kegiatan penyelidikan oleh pelajar hendaknya disajikan melalui metode unit atau metode proyek. Apabila bahan pelajaran mengandung problem-problem akan disajikan melalui metode pemecahan masalah. Bahan pelajaran yang berisi fakta-fakta dapat disajikan misalnya melalui metode ceramah, sedangkan bahan pelajaran yang terdiri dari latihan disajikan melalu metode drill.[37]
d.        Fasilitas.
Yang termasuk dalam faktor fasilitas ini antara lain alat peraga, ruang, waktu, kesempatan, tempat dan alat-alat praktikum, buku-buku, perpustakaan dan lain sebagainya. Fasilitas ini turut menetukan metode mengajar yang akan dipakai oleh guru. Pengaruh fasilitas dalam pemilihan dan penentuan metode ini ternyata dalam situasi dimana metode demonstrasi dan eksperimen tidak dapat dipakai karena tidak tersedianya alat-alat dan bahan-bahan untuk mengadakan demonstrasi dan eksperimen atau percobaan. Demikian pula metode perkunjungan studi tidak dapat dipakai dan dilaksanakan disebabkan tidak adanya biaya serta sempitnya waktu dan kesempatan.[38]
Pada umumnya apabila fasilitas kurang atau tidak ada, maka guru cenderung menggunakan metode ceramah karena metode ini tidak menuntut fasilitas yang banyak (apabila dibandingkan dengan tuntutan metode diskusi atau metode demonstrasi dan eksperimen).[39]
e.         Guru.
Diatas sudah dikemukakan bahwa metode mengajar menuntut syaratsyarat yang perlu dipenuhi misalnya setiap guru yang akan menggunakan metode tertentu ia  (guru itu) harus mengerti tentang metode itu (misalnya jalannya pengajaran serta kebaikan dan kelemahannya, situasi-situasi yang tepat dimana metode itu efektif dan wajar) dan terampil menggunakan metode itu. Guru yang bahasanya kurang baik (kurang dapat berbahasa dengan baik) dan tidak bersemangat dalam berbicara kurang pada tempatnya apabila ia menggunakan metode ceramah. Guru yang tidak mengetahui metode proyek, tentang metode unit tidak akan memilih metode-metode tersebut dalam menyajikan bahan pelajaran.[40]
f.         Situasi
Yang termasuk dalam situasi dimaksudkan disini adalah keadaan para pelajar (yang menyangkut kelelahan dan semangat mereka), keadaan suasana, keadaan guru (kelelahan guru), keadaan kelas-kelas yang berdekatan dengan kelas yang akan diberikan pelajaran dengan metode tertentu.[41]
Apabila para pelajar telah lelah (yang diajarkan dengan metode ceramah) maka guru sebaiknya mengganti metode mengajarnya misalnya dengan metode sosiodrama. Demikian pula apabila guru melihat bahwa pelajar sedang bersemangat (dalam membicarakan peristiwa dalam masyarakat) maka guru sebaiknya menggunakan metode diskusi. Apabila disekitar kelas yang sedang diberi pelajaran ribut, maka sebaiknya guru menggunakan metode pemberian tugas atau metode tanya jawab (sebab metode ini menuntut konsentrasipelajar).[42]
g.        Partisipasi
Partisipasi turut aktif dalam suatu kegiatan. Apabila guru ingin para pelajar turut aktif secara merata dalam suatu kegiatan, guru tersebut tentunya akan menggunakan metode kerja kelompok. Demikian pula apabila para pelajar dikehendaki turut berpartisipasi dalam suatu kegiatan ilmiah misalnya mengumpulkan data yang kemudian disajikan dalam pembahasan ilmiah maka tentunya guru akan menggunakan metode unit atau metode seminar.[43]
h.        Kebaikan dan kelemahan metode tertentu
Tidak ada satu metode yang baik untuk setiap tujuan dalam setiap situasi. Setiap metode mempunyai kebaikan dan kelemahan. Dengan sifatnya yang polivalen dan polipragmasi, guru perlu mengetahui kapan suatu metode tepat digunakan dan kapan harus digunakan kombinaasi dari metode-metode. Guru hendaknya memilih metode yang paling banyak mendatangkan hasil.[44]

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA). Bandung: CV. Armico, 1986.
Bahri Djamarah, Syaiful. Strategi Belajar-Mengajar (Edisi Revisi). Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.
Daradjat, Zakiah dkk., Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013.
Namsa, Yunus. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Ternate: Pustaka Firdaus, 2000.
Pidarta, Made. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009.
Ramayulis. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1990.
Rungkang, Adan. Prinsip-prisip Dasar Metodologis PAI. Adan Myweb, 2017. (Daring) tersedia di http://adanmyweb.blogspot.co.id/2017/01/prinsipprinsip-dasar-metodologi-pai.html. Diakses pada tanggal 18 Februari 2018.
Sudrajat, Akhmad. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran. Kadugede, 2008. (Daring) tersedia di
https://abudira.wordpress.com/2015/06/29/pengertian-pendekatan-strategimetode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/amp/. Diakses pada tanggal 18 Februari 2018.




[1] Abu Ahmadi, Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA), (Bandung: CV. Armico, 1986), hlm. 41.
[2] Yunus Namsa, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Ternate: Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 106.
[3] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 135.
[4] Loc. cit.
[5] Made Pidarta, Landasan Kependidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), hlm. 110.
[6] Loc. cit.
[7] Zakiah Daradjat, dkk., Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 2.
[8] Ibid., hlm. 3-9.
[9] Ibid., hlm. 13.
[10] Ibid., hlm. 56-57.
[11]Made Pidarta, op. cit., hlm. 75.
[12] Loc. cit.
[13] Zakiah Daradjat, op. cit., hlm. 58.
[14] Adan Rungkang, Prinsip-prisip Dasar Metodologis PAI, (Adan Myweb, 2017). (Daring) tersedia di http://adanmyweb.blogspot.co.id/2017/01/prinsip-prinsip-dasar-metodologi-pai.html. Diakses pada tanggal 18 Februari 2018.
[15] Loc. cit.
[16] Loc. cit. 17 Loc. cit.
[17] Akhmad Sudrajat, Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model
Pembelajaran,                 (Kadugede,                 2008).                 (Daring)                 tersedia                 di
https://abudira.wordpress.com/2015/06/29/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-taktikdan-model-pembelajaran/amp/. Diakses pada tanggal 18 Februari 2018.
[18]Abdul Majid, op. cit., hlm. 133.
[19] Loc. cit.
[20] Loc. cit.
[21] Loc. cit.
[22] Ibid., hlm. 135.
[23] Loc. cit.
[24] Ibid., hlm. 136.
[25] Ibid., hlm. 160.
[26] Ibid., hlm. 161.
[27] Loc. cit.
[28] Akhmad Sudrajat, op. cit.
[29] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar-Mengajar (Edisi Revisi), (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006), hlm. 75.
[30] Ibid., hlm. 76.
[31]Ibid., hlm. 77.
[32] Loc. cit.
[33]Ibid., hlm. 78.
[34] Loc. cit.
[35] Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), hlm. 107.
[36] Loc. cit.
[37] Ibid., hlm. 108.
[38] Loc. cit.
[39] Loc. cit.
[40] Loc. cit.
[41] Ibid., hlm. 109.
[42] Loc. cit.
[43] Loc. cit.
[44] Loc. cit.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PRINSIP-PRINSIP DASAR METODOLOGIS PAI"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!