KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

TEOLOGI ISLAM


Teologi sebagai mana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari sesuatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diumbang-ambing oleh peredaran zaman.[1]
Salah satu tujuan dari penyusunan makalah  ini ialah memperkenalkan aliran-aliran teologi yang berlainan itu kepada umat Islam. Mungkin diantara pembaca-pembaca, terutama yang berpendidikan barat, ada yang merasa ragutentang keyakinan keagamaannya, dan mungkin perkenalan dengan aliranaliran teologi yang berlainan  itu, dapat membantu pembaca demikian dalam  mengatasi persoalan yang dihadapinya.[2]
Teologi menurut bahasa yunani yaitu theologia. Yang tersusun dari kata theos yang berarti tuhan atau dewa, dan logos yang artinya ilmu. Sehingga teologi adalah pengetahuan ketuhanan. Menurut William L. Resse, Teologi berasal dari bahasa Inggris yaitu theology yang artinya discourse or reason concerning god (diskursus atau pemikiran tentang tuhan) dengan kata-kata ini Reese lebih jauh mengatakan, “teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan. Gove mengatkan bahwa teologi merupakan penjelasan tentang keimanan, perbuatan, dan  pengalaman agama secara rasional.[3]
Sedangkan pengertian teologi islam secara terminologi terdapat  berbagai perbedaan. Menurut Abdurrazak teologi Islam adalah ilmu yang membahas aspek ketuhanan dan segala sesuatu yang berkait dengan-Nya secara rasional.
Muhammad Abduh : “ Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada Nya, sifat-sifat yang sama sekali wajib di lenyapkan dari pada-Nya; juga membahas tentang Rasul-rasul Allah, meyakinkan keyakinan mereka, meyakinkan apa yang ada pada diri mereka, apa yang boleh di hubungkan kepada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkanya kepada diri mereka”[4]

Sejarah
Munculnya persoalan teologi dalam Islam adalah bermula dari masalah politik dan kemudian berubah menjadi persoalan teologi. [5]Sebagaimana telah diketahui dalam sejarah, bahwa setelah Nabi wafat pada tahun 11 Hijrah, Abu Bakar Al-Siddiq terpilih sebagai pengganti beliau, dan disebut khalifah. Abu Bakar menjadi khalifah selama dua tahun, yaitu tahun 11 Hijrah sampai ia wafat pada tahun 13 Hijrah. Setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab ditetapkan sebagai penggantinya yaitu sebagai khalifah kedua. Sebelum wafat, memang Abu Bakar telah mencalonkan Umar sebagai pengganti dirinya. Umar menjadi khalifah selama sepuluh tahun, yaitu dari tahun 13 Hijrah sampai ia wafat pada tahun 23 Hijrah. Setelah wafat Umar, Usman bin Affan terpilih untuk menggantikannya, yaitu sebagai khalifah yang ketiga. Usman menjadi khalifah selama dua belas tahun, yaitu dari tahun 23 sampai dengantahun 35 Hijrah. Dalam menjalankan kepemimpinannya ia berbeda dari dua orang khalifah sebelumnya yaitu Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar dan Umar tidak pernah mementingkan keluarganya dalam mengangkat para pejabat seperti jabatan wali (gubernur) dan jabatan penting lainnya. Sedang Usman tidak demikian, ia kelihatannya mementingkan keluarganya. Beberapa gubernur yang di angakat di masa Umar diberhentikan oleh Usman. Sebagai penggantinya ia mengangkat orang-orang dari pihak keluarganya. Tindakan politik Usman yang demikian menimbulkan reaksi yang akibatnya merugikan bagi dirinya sendirinya. Sahabatsahabat Nabi yang semulanya mendukungnya, melihat kebijakan dan tindakannya yang seperti itu, mereka menjadi kecewa dan berubah sikap, yakni tidak lagi mendukungnya.[6]
Setelah Usman wafat, Ali bin Abi Thalib terpilih menjadi penggantinya, sebagai khalifah keempat. Ali menjadi khalifah selama lima tahun, yaitu dari tahun 35 Hijrah sampai ia wafat pada tahun 40 Hijrah. Terpilihnya Ali sebagai khalifah tidak mendapat dukungan mayoritas kaum muslimin saat itu. Di samping itu ia mandapat tantangan dari pihak yang berambisi ingin menjadi khalifah. Selainitu ia juga mendapat tuduhan terlibat dalam pembunuhan terhadap Usman.[7]
Tantangan kedua datang dari Mu‟awiyah, Gubernur Damaskus dan keluarga yang dekat bagi Usman. Sebagaimana halnya Talhah dan Zubeir, ia tak mau mengakui Ali sebagai khalifah. Ia menuntut kepada Ali supaya menghukum pembunuh-pembunuh Usman, bahkan ia menuduh Ali turut campur dalam soal pembunuhan itu. Salah seorang  pemuka pemberontak-pemberotak Mesir, yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Usman adalah Muhammad Ibn Abi Bakar, anak angkat dari Ali Ibn Abi Talib. Dan pula Ali tidak mengambil tindakan keras terhadap pemberontak-pemberontak itu, bahkan Muhammad Ibn Abu Bakar diangkat menjadi Gubernur Mesir.[8]
Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini di Siffin, tentara Ali dapat mendesak tentara Mu‟awiyah sehingga yang tersebut akhir ini bersiap-siap untuk lari. Tetapi tangan kanan Mu‟awiyah, „Amr Ibn al-„As yang terkenal sebagai orang licik, minta berdamai dengan mengangkat al-Qur‟an ke atas.[9]Qurra‟ yang ada di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawaran itu dan dengan demikian dicarilah perdamaian dengan mengadakan arbritase (perjanjian damai). Sebagai pengantara diangkat dua orang: „Amr Ibn al-„As dari pihak Mu‟awiyah dan Abu Musa al-„Asy‟ari dari pihak „Ali. Dalam pertemuan mereka, kelicikan „Amr mengalahkan perasaan takwa Abu Musa. Sejarah mengatakan antara keduanya terdapat pemufakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang  bertentangan, Ali dan Mu‟awiyah. Tradisi menyebutkan bahwa
Abu Musa al-Asy‟ari, sebagai yang tertua, terlebih dahulu berdiri mengumumkan kepada orang ramai putusan mejatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu.
Berlainan dengan apa yang telah disetujui, „Amr Ibn al-„As, mengumumkan hanya menyetujui penjatuhan Ali yang telah diumumkan al-„Asy‟ari, tetapi menolak penjatuhan Mu‟awiyah. Bagaimanapun peristiwa ini merugikan bagi Ali dan menguntungkan bagi Mu‟awiyah. Yang legal menjadi khalifah sebenernya hanyalah Ali, sedangkan Mu‟awiyah kedudukannya tak lebih dari Gubernur daerah yang tak mau tunduk kepada Ali sebagai khalifah. Dengan adanya arbritase (perjanjian damai) ini kedudukannya telah naik menjadi khalifah yang tidak resmi. Tidak mengherankan kalau putusan ini ditolak  Ali dan tak mau meletakkan jabatannya, sampai ia mati terbunuh di tahun 661 M.[10]
Sikap Ali yang menerima tipu muslihat „Amr al-„As untuk mengadakan arbritase (perjanjian damai), sungguhpun dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat bahwa hal serupa itu tidak dapat diputuskan oleh arbritase manusia. Putusan hanya datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam al-Qur‟an. La hukma illa lillahi (tidak ada hukum selain hukum dari Allah) atau la hakama illa Allah (tidak ada pengantara selain dari Allah) menjadi semboyan mereka. Mereka memandang Ali Ibn Abi Thalib telah berbuat salah, dan oleh karena itu mereka meninggalkan barisannya. Golongan mereka inilah dalam sejarah Islam terkenal dengan nama al-Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri.[11]
Dalam uraian di atas tadi tergambar bahwa bermula dari persoalan politik membawa pada munculnya persoalan kafir. Soal kafir atau mukmin atau kafr dan iman adalah jelas sudah tidak lagi merupakan soal politik, tetapi sudah merupakan persoalan teologi.[12]
Persoalan kafir yang dimunculkan oleh kaum Khawarij merupakan persoalan teologi yang pertama muncul dalam Islam. Keadaan ini ditambah lagi dengan semakin berkembangnya pemikiran di kalangan umat Islam membawa kepada lahirnya berbagai pendapat menyangkut masalah-masalah teologi. [13]

Pendapat sebagai hasil pemikiran manusia itu tentu saja tidak selalu sama, dan bahkan terkadang selain bisa berbeda antara satu dengan yang lain, bisa pula berlawanan. Inilah yang kemudian membawa kepada munculnya berbagai aliran dan paham dalam teologi Islam, seperti aliran Khawarij, aliran Syi‟ah, aliraN Murji‟ah, pahan Qadariyah dan Jabariyah, aliran Mu‟tazilah, aliran Asy‟ariyah, dan aliran Maturidiyah, dan lain-lain.[14]

1.    Akidah
Akidah berasal dari kata aqad berarti pengikatan. Akidah adalah apa yang diyakini seorang. Jika dikatakan, : dia mempunyai aqidah yang benar”, berarti akidahnya bebas dari keraguan. Akidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Adapun makna
Akidah secara Syara‟ adalah iman kepada Allah, paraa Malaikat-Nya, kitabkitab -Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta kepada qadar baik dan qadar buruk. Akidah juga dapat dimaksudkan sebagai pendapat dan fikiran atau anutan yang mempengaruhi jiwa manusia, lalu menjadi sebagai suatu suku dari manusia sendiri, dibela dan dipertahankan bahwa hal itu adalah benar. [15]
2.    Ushuluddin lmu Ushuluddin adalah ilmu yang membahas pokok-pokok (dasar) agama, yaitu akidah, tauhid, dan i‟tikad (keyakinan) tentang rukun Iman yang enam, beriman kepada:
a.   Allah SWT  
b.  Al-Qur‟an dan kitab-kitab suci samawi 
c.   Nabi Muhammad dan para Rasul 
d.  Para Malaikat 
e.   Perkara ghaib 
f.   Takdir baik dan buruk

Menurut ulama-ulama Ahli Sunnah:
“Ilmu Ushuluddin ialah ilmu yang membahas padanya tentang prinsip- prinsip kepercayaan agama dengaan dalil-dalil yang qath‟i (Al -Quran dan hadis mutawatir) dan dalil-dalil akal fikiran.” Sebutan lain bagi Ilmu Ushuludin adalah Ilmu Teologi (Ketuhanan), karena membahas tentang ke-Tauhidan (keEsaan) Allah, sifat, dan asma (nama) Allah. Sebutan lain yang lebih populer adalah Ilmu Kalam karena bahasan yang sedang ramai dibahas pada saat lahirnya Ilmu Kalam adalah masalah kalam (firman Allah).  [16]
3.    Teologi
Teologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Theos” yang berarti Tuhan dan “Logos” yang berarti Ilmu. Jadi bila diartikan teologi adalah ilmu tentang Tuhan, yaitu suatu pengetahuan yang menyelidiki tentang Tuhan dari perspektif akal atau pikiran, seperti kebenaran adanya Tuhan, bagaimana sifat dan kehendak Tuhan, dan lain sebagainya. Dengan kata ain, teologi adalah pengetahuan tentang Tuhan dan manusia dalam  pertaliannya dengan Tuhan, baik disandarkan kepada wahyu maupun disandarkan pada penyelidikan akal pikiran. Teologi Islam atau ilmu Tauhid memiliki banyak pengertian yang telah diterangkan oleh beberapa teolog dan tokoh-tokoh pemikir Islam, diantaranya: [17] 
a.         Menurut Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), “Tauhid ialah ilmu yang membahas tentang wujud Allah tentang sifat-sifat yang wajib tetap bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz disifatkan kepada-Nya dan tentang sifatsifat yang sama sekali yang wajib ditiadakan (mustahil) daripada-Nya. Juga membahas tentang Rasul-rasul Allah untuk menetapkan kebenaran risalahnya, apa yang wajib pada dirinya, hal-hal yang jaiz dihubungkan (dinisbatkan) pada diri mereka dan hal-hal yang terlarang (mustahil) menghubungkannya kepada diri mereka.”[18]
b.        Menurut Ibnu Khaldun (1333-1406), “IlmuTauhid ialah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman, dengan mempergunakan dalil-dalil  pikiran dan berisi bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan salaf dan ahli sunnah”[19]
c. Menurut          Sayyid             Husein             Afandi             al-Jisr   At-Tarabulsi    (1845-1909), “Ketahuilah bahwa sesungguhnya ilmu tauhid itu ialah ilmu yang membahas padanya tentang menetapkan (meyakinkan) kepercayaan agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan.
4.    Tauhid
Tauhid adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim. [20]Tauhid menurut salaafi dibagi menjadi 3 macam, yakni:
a. Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Q.S AzZumar ayat 62 “[21]Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara  segala sesuatu”. 22
b) Uluhiyah. Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesuai dengan fiman Allah dalam Q.S AliImran ayat 18:
“Allah menyatakan bahwa tida ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan kedilan. Para malaikat dan orangorang yang berilmu (juga menyatak demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha perkasa lagi maha Bijaksana.”23
c) Asma wa Sifat. Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik(asma‟ulhusna) yang sesuai dengan keagungan-Nya.[22]
5. Imu Kalam
Ilmu kalam atau keimanan kalam menurut bahasa ialah ilmu yang membicarakan/membahas tentang masalah ke-Tuhanan/ketauhidan (mengEsakan Tuhan), atau kalam menurut loghatnya ialah omongan atau perkataan.[23]
Sedangkan menurut istilah Ilmu kalam ialah sebagai berikut:
a)      Menurut Ibnu Khaldun, Ilmu kalam ialah ilmu yang berisi alasanalasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang

yang menyeleweng dari kepecayaan aliran golongan salaf dan ahli sunah. [24] 
b)      Menurut Husain Tripoli, Ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan agama
Islam dengan bukti- bukti yang yakin. [25]
c)      Menurut Syekh Muhammad Abduh definisi ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib  bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz bagi-Nya dan tentang sifat-sifat yang ditiadakan dari-Nya dan juga tentang rasul-rasul Allah baik mengenai sifat wajib, jaiz dan mustahil dari mereka. [26]
d)     Menurut Al-Farabi definisi ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam. [27]

1. Pengertian wahyu  
Kata wahyu berasal dari bahasa Arab yaitu  al-wahy yang berarti suara, api, dan kecepatan. Wahyu menurut kamus al-mufrodat fi ghoro‟ibil- qur‟an makna aslinya adalah al-isyaratu al-syari‟ah yang memilik arti isyarat yang cepat yang disampaikan kedalam hati. Disamping itu, kata wahyu juga berarti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Selanjutnya, ia juga mengandung makna pemberitahuan secara sembunyi dan dengan cepat. [28]
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata wahyu diartikan sebagai petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul melalui mimpi dan sebagainya. Dalam kedudukannya sebagai petunjuk, wahyu juga dapat diartikan sebagai pemberitahuan informasi dari Allah yang diberikan kepada orang-orang pilihannya untuk disampaikan kepada manusia agar dijadikan sebagai pegangan hidup. Wahyu itu mengandung ajaran, petunjuk dan pedoman yang diperlukan umat manusia dalam perjalanan hidupnya baik didunia maupun diakhirat nanti. Dalam Islam, wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, semuanya tersimpan dengan baik dalam Al-
Quran. 31
Al-Quran dalam surah al-Syura ayat 15 menjelaskan cara terjadinya komunikasi antara tuhan dan nabi Artinya:  
Tidak terjadi bahwa Allah berbicara kepada manusia kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirimkan seorang utusan, untuk mewahyukan apa yang ia kehendaki dengan seizinNya. Sunggu Ia maha tinggi lagi maha bijaksana.” (QS. Al- Syura: 51).
Dari ayat di atas dapat dielaskan baha ada tiga cara Allah berkomunikasi kepada para hamba-Nya (nabi-nabi); 1) Pertama, Allah berbicara pada hambaNya langsung dengan berupa wahyu tanpa perantara, 2) Kedua, dari belakang tabir ( seperti menyaksikan pandangan gaib dalam keadaan tidur, yang ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, namun mereka tidak melihat wujud yang berbicara kepada mereka ), 3) Ketiga, Allah mengutus seorang rasul atau malaikat untuk menyampaikan amanat.32
                                                          
3231  Moh Rifai dan Abdul Aziz, PelajaranPelajaran....., hlm. 5......, hlm. 6. 
2.    Pengertian Akal
Kata “akal” secara etimologis berasal dari bahasa Arab, yaitu al-„aql adalah betuk mashdar dari kata „aqala-ya‟qilu - „aqlan yang bermakna fahima wa tadabbaro (paham dan memikirkan atau menimbang). Maka al-„aql sebagai mashdar memilik makna kemampuan memahami dan memikirkan sesuatu. Sesuatu tersebut adalah ungkapan, fenomena, dan lain-lain yang bisa dijangkau oleh panca indra.[29]
Secara epistomologi, kata akal dapat diartikan sebagai daya berpikir yang ada padadiri manusia untuk memperoleh pengetahuan dengan memperatikan alam sekitarnya. Menurut Al- Ghazali, akal diartikan dalam tiga pengertian; 1) Pertama, akal didefinisikan sebagai potensi yang membedakan manusia dengan binatang dan menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan. 2) Kedua, pengetahuan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman yang dilaluinya dan akan memperhalus budinya. 3) Ketiga, akal merupakan kekuatan insting yang menjadikan seseorang mengetahui hawa nafsunya. Akal dalam pengertian inilah yang kemudian dari luar diri manusia, yaitu dari Allah SWT. [30]
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa akal dapat dimiliki oleh setiap manusia. Sedangkan wahyu merupakan informasi dari Allah yang berada diluar diri manusia. Namun, fungsi kedua alat ini sama-sama untuk menghasilkan pengetahuan, meskipun tingkat kebenarannya berbeda. Dalam hal ini, kebenaran yang diperoleh dari wahyu bersifat absolut, sedangkan kebenaran yang diperoleh melalui akal bersifat relatif. Wahyu bersumber dari Allah, sedangkan akal bersumber dari manusia.35
3.    Fungsi akal dan wahyu menurut aliran ilmu kalam
a)    Aliran Asy'ariyah 

Menurut aliran Asy'ariyah, segala kewajiban (yang harus dilakukan oleh) manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membantu sesuatu menjadi  wajib dan tidak dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang jahat (buruk) itu adalah wajib bagi manusia. Asy'ariyah berpendapat bahwa akal dapat mengetahui Tuhan dan perlunya berterima kasih kepada-Nya. Namun, melalui perantara wahyulah manusia dapat mengetahui orang yang taat kepada Tuhan akan mendapat pahala (balasan baik) dan orang yang berbuat maksiat kepada-Nya akan mendapat hukuman (siksa). Akal menurut Asy‟ari, tidak mampu mengetahui kewajiban manusia. Karena alasan itulah wahyu diperlukan, yakni untuk menetapkan mana yang wajib dan mana yang tidak, mana perintah dan mana larangan dari Tuhan.[31] 
Dengan demikian, jika sekiranya wahyu tidak ada, manusia tak akan tahu kewajiban-kewajibannya, bahkan kata al-Ghazali sekiranya syariat tidak ada manusia tidak akan berkewajiban mengetahui Tuhan dan tidak wajib pula berterima kasih kepada-Nya atas nikmat-nikmat yang diturunkan kepada manusia. Demikian juga soal baik dan buruk, ia hanya diketahui melalui perintah dan larangan Tuhan. 37
Dalam penjelasannya, al-Syahratsani menyatakan bahwa semua kewajiban diketahui melalui wahyu, sedangkan pengetahuan, semuanya dapat diperoleh melalui akal. Karena itu, akal tidak dapat mewajibkan untuk berbuat baik dan meninggalkan kejahatan, juga tidak bisa menuntut dan menentukan suatu kewajiban. Dalam kaitan ini, al-Taftazani menjelaskan bahwa (bagi Asy'ariyah) sanksi hukum untuk perbuatan orang yang berakal belum ada, sebelum datangnya syara„. Jadi tetapnya suatu hukum adalah atas landasan syara„, bukan dengan akal. Akal dalam hal ini, hanyalah merupakan alat untuk memahami kitab syara„. Pendapat ini juga didukung oleh al-Ghazali, bahkan ia menegaskan, bahwa alHakim (pembuat hukum) adalah Allah Swt. dan tidak ada sanksi hukum sebelum datangnya ketentuan syara„. Hal ini lebih dipertegas lagi oleh al„Amidi dengan mengatakan, bahwa tidak ada hakim (pembuat hukum) kecuali Allah Swt. dan tidak ada hukum kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah. Akal tidak mempunyai wewenang menilai sesuatu perbuatan apakah baik atau buruk, dan tidak ada hukum sebelum datangnya ketentuan syara‟. Tegasnya, tidak ada hukum taklif (tuntutan dan larangan) sebelum datangnya wahyu. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa akal bagi asya„ariyah tidak dapat mengetahui baik dan jahat dan hanya dapat mengetahui Tuhan. Namun, akal tidak mempunyai otoritas (wewenang) untuk menetapkan suatu kewajiban. Asy'ariyah berpendapat bahwa yang menetapkan kewajiban adalah alHakim (pembuat hukum) yakni Allah Swt. Berbeda dengan Mu'tazilah yang menjadikan akal sebagai al- Hakim. Dengan kata lain, Asy'ariyah memberikan fungsi yang lebih kecil kepada akal, sedangkan Mu'tazilah wewenang akal lebih banyak. Dalam hal ini, akal menurut Asy'ariyah kemampuannya terbatas dalam hal mengetahui eksistensi Tuhan. Akal diperlukan untuk memahami wahyu.[32]
b)   Menurut Mu‟tazilah 
Menurut Mu‟tazilah, fungsi wahyu adalah di bawah fungsi akal. Mereka lebih memuji akal mereka dibanding dengan ayat-ayat suci dan hadis-hadis Nabi. Segala sesuatu ditimbangnya lebih dahulu dengan akalnya mana yang tidak sesuai dengan akalnya dibuang, walaupun ada hadis dan ayat Al-Quran yang bertalian dengan masalah itu, tetapi berlawanan dengan akalnya. Jadi jelasnya menurut kaum Mu‟tazilah, fungsi akal lebih tinggi daripada wahyu.[33]

 

Cara Menyikapi Perbedaan Pemikiran dalam  Aliran Ilmu Kalam

Hal-hal yang perlu kita miliki dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yakni harus menjaga persatuan dan kesatuan. Mengapa Islam demikian kerasnya dalam pmemerintahkan persatuan dan kesatuan, dan mengapa pula Islam sangat mengecam perpecahan dan pertentangan. Sesungguhnya dibalik persatuan terdapat sekian banyak manfaat  dan pengaruh yang positif bagi kehidupan umat Islam.
Jadi lebih arif jika umat Islam menyikapi perbedaan itu sebagai rahmat Allah SWT. Mari kita biarkan perbedaan-perbedaan aliran teologi dalam Islam laksana warna-warni bunga yang mekar di tengah taman. Bukankah sebuah taman jauh lebih indah jika ditumbuhi aneka bunga dibandingkan taman yang hanya memiliki satu macam bunga?  Tidak ada kebenaran kecuali dari Allah SWT. 



DAFTAR PUSTAKA
Hadariansyah. 2010. Pemikiran-pemikiran Teologi Dalam Sejarah Pemikian Islam.
Banjarmasin: Antasari Press.
Hudallah. 2016.  Ilmu Kalam. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Rifai, Moh dan Abdul Aziz. 1988. Pelajaran Ilmu Kalam. Semarang: Wicaksana.
Rozak, Abdul dan Rosihan Anwar. 2001.Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.
Alfan Ghinan Rusydi, Teologi Islam (ilmu kalam), di akses dari https://ru.scribd.com/doc/315589534/REVISI-MAKALAH-01-TEOLOGI-
ISLAM-pdf. Pada tanggal 11 maret 2018


[1] Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:
Universitas Indonesia, 1986), hlm. Ix.
[2] Harun Nasution, Teologi….., hlm. Ix.
[3] Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm. 14.
[4] Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu….., hlm. 14.
[5] Hadariansyah, Pemikiran-pemikiran Teologi Dalam Sejarah Pemikian Islam, (Banjarmasin: Antasari Press, 2010), hlm. 11.
[6] ....., hlm. 12.
[7]Hadariansyah, Pemikiran....., hlm. 13.
[8]Hadariansyah, Pemikiran....., hlm. 14.
[9] ....., hlm. 14.
[10]Hadariansyah, Pemikiran....., hlm. 15.
[11]Hadariansyah, Pemikiran....., hlm. 17.
[12] Hadariansyah, Pemikiran....., hlm. 19.
[13] ....., hlm. 19.
[14] Hadariansyah, Pemikiran....., hlm. 20.
[15]Alfan Ghinan Rusydi, Teologi Islam (ilmu kalam), di akses dari https://ru.scribd.com/doc/315589534/REVISI-MAKALAH-01-TEOLOGI-ISLAM-pdf Pada tanggal 11 maret 2018, hlm. 6.
[16]    ….., hlm. 7.
[17]    ….., hlm. 8.
[18] Alfan Ghinan Rusydi, Teologi….., hlm. 8.
[19] Alfan Ghinan Rusydi, Teologi….., hlm. 8.
[20]    ….., hlm. 9.
[21] Alfan Ghinan Rusydi, Alfan Ghinan Rusydi, TeologiTeologi….., hlm. 9.….., hlm. 9. 
[22]    ….., hlm. 9.
[23]   ….., hlm. 10.
[24] Alfan Ghinan Rusydi, Teologi….., hlm. 10.
[25] Alfan Ghinan Rusydi, Teologi….., hlm. 10.
[26] Alfan Ghinan Rusydi, Teologi….., hlm. 10.
[27]   ….., hlm. 10.
[28] Pelajaran Ilmu Kalam, (Semarang: Wicaksana, 1988), hlm. 5.
[29] Moh Rifai dan Abdul Aziz, Pelajaran....., hlm. 6.
[30] Moh Rifai dan Abdul Aziz, Pelajaran....., hlm. 7. 35 Pelajaran....., hlm. 7.
[31]Hudallah,  Ilmu Kalam, (Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia,  2016), hlm. 8. 37 Hudallah,  Ilmu….., hlm. 8.
[32] Hudallah,  Ilmu….., hlm. 9.
[33] Harun Nasution, Teologi….., hlm. 50.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "TEOLOGI ISLAM"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!