KONSEP PENGALAMAN KEAGAMAAN
KONSEP TENTANG PENGALAMAN KEAGAMAAN
Makalah diajukan kepada Dosen Pengampu M. Taslimurrahman, Lc., S. Pd.I,
M. Pd.
Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Perbandingan Agama
Disusun oleh :
KELOMPOK 8
Misfuran :
180101010961
Umi Fatimah
: 180101010964
Faisal Hakti : 180101010966
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2021 M/1442 H
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat yang telah diberikan sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Konsep tentang Pengalaman Keagamaan.
Kami menyadari
bahwa dalam penyusunan makalah ini, bisa terwujud atas bantuan dan jasa
berbagai pihak, baik bantuan moral maupun material. Untuk itu kami tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Perbandingan Agama, Bapak M. Taslimurrahman,
Lc., S. Pd.I, M. Pd. yang telah
membimbing dan memberikan masukan terhadap pembuatan makalah ini.
Kami berharap
makalah ini dapat menambah wawasan yang lebih bagi para pembacanya, dan kami
sebagai penulis meminta maaf jika dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran serta komentar
demi kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
23 April 2021
Kelompok 8
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah
....................................................................................... 1
C. Tujuan
Penulisan ......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 3
A.
Konsep tentang Pengalaman
Keagamaan ................................................... 3
B.
Cara Memperoleh Pengalaman
Keagamaan ................................................ 5
C.
Bentuk-Bentuk Pengalaman
Keagamaan .................................................... 7
BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 12
A. Simpulan ...................................................................................................... 12
B. Saran ............................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengalaman keagamaan yang menduduki tempat sentral dalam
berbagai aktivitas dan pemikiran seorang muslim adalah seberapa sering orang
itu selalu bersama Allah, dengan selalu mengingatnya. Hal ini diekspresikan
melalui suatu pengakuan yang jelas dan tegas, tidak ada Tuhan kecuali Allah.
Pengakuan di sini tidak hanya sekedar terucap secara lisan saja. Lebih dari itu
melibatkan pula seluruh kesadarannya, serta memantul dalam setiap gerak dan
aktivitas, dengan cara mengabdikan diri sepenuhnya, dan menjadikan Allah
sebagai tempat bersandar dan pegangan hidup.
Agama adalah pengalaman dan penghayatan dunia dalam diri
seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan beribadatan. Pengalaman
danpenghayatan itu merangsang dan mendorong individu terhadap hakikat pengalaman
kesucian, penghayatan kehadiran Allah atau sesuatu yang dirasakannya
supernatural dan luar batas jangkauan dan kekuatan manusia. Pengalaman itu
bersifat subjektif yang sukar diterangkan kepada orang lain. Keimanan akan timbul
menyertai penghayatan ketuhanan, sedangkan beribadatan yakni sikap dan tingkah
laku keagamaan merupakan efek dari adanya penghayatan ketuhanan dan keimanan. Peribadatan
adalah realisasi dari keimanan. Agama bukan hanya berisi kepercayaan saja, tapi
agama adalah keimanan yang mengharuskan tindakan dalam tiap-tiap aspek-aspek
kehidupan. Pengalaman ketuhanan merupakan energi pendorong tingkah laku
keagamaan, keimanan merupakan pengarahan dan penuntun tingkah laku, sedangkan
beribadatan merupakan realisasi dan pelaksanaan agama.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan konsep tentang pengalaman
keagamaan?
2.
Bagaimana cara memperoleh pengalaman keagamaan?
3.
Apa sajakah bentuk-bentuk pengalaman keagamaan?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui konsep tentang pengalaman keagamaan.
2.
Menjelaskan cara memperoleh pengalaman keagamaan.
3.
Mengetahui bentuk-bentuk pengalaman keagamaan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep tentang Pengalaman Keagamaan
Pengalaman keagamaan,
tentu saja sangat terkait dengan manusia yang mana adalah pelaku atau pelaksana
dari ajaran atau doktrin dari sebuah agama. Hal ini bearti pengalaman keagamaan
hanya akan diperoleh oleh manusia yang melaksanakan ajaran agamanya, tanpa
itumaka seseorang akan sangat sulit untuk memahami dan memperoleh pengalaman keagamaan.
Hal seperti ini sebagaimana ungkapan Joachim Wach yang memberikan pengertian
“pengalaman keagamaan adalah merupakan aspek batiniah dari saling hubungan
antara manusia dan pikirannya dengan Tuhan”.[1]
Menurut Zakiah Darajat,
hubungan batin seseorang dengan Allah Swt di dalam ilmu jiwa dinamakan pengalaman
keagamaan. Jadi tegasnya, pengalaman keagamaan merupakan aktivitas manusia dalam
keberhadapannya dengan Sang Pencipta. Aktivitas tersebut akan meliputi segi batiniah
dan lahiriah sehingga oleh karenanya manusia akan mengembangkan hubungan dengan
Tuhan tersebut dalam bentuk pola-pola perasaan yang sistem-sistem pemikiran
(keyakinan religius, ajaran agama, mitos dan dogma), sistem kelakuan sosial (upacara
sembah yang bersama, ritus, liturgi) dan organisasi-organisasi dengan orang
lain akan terasa berbeda karena pengalaman keagamaan seseorang dengan orang
lainakan terasa berbeda, karena pengalaman keagamaan merupakan aspek batiniah seseorang
sehingga akan terasa seolah-olah kondisi subjektif tersebut sangat dominan, namun
sesungguhnya bukanlah perihal yang subjektif yang dikehendaki dalam penelitian ini
tetapi aspek universal dari pengalaman keagamaan yang dirasakan.[2]
Dalam teori heararki
kebutuhan Abraham Maslow sebagaimana dikutip oleh Ahmad Anas menyebutkan bahwa
ritualitas sudah menjadi salah satu kebutuhan manusia sehubungan dengan agama
dan spiritualitasnya, lebih lebih untuk menunjang eksistensinya sebagai
manusia. Sementara kebutuhan dasar dirasakan perlu seiring dengan pencapaian
tujuan yang sudah ada, menuju tujuan berikutnya yang muncul, dan guna mencapai
tujuan melalui kebutuhan ini munculah motif-motif manusia.[3] Terkait
dengan motivasi manusia yang melandasi prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan
karena kecenderungan dari manusia yang tidak akan berhenti dan terpuaskan
dengan terpenuhinya satukebutuhan.
Sebab jika satu
kebutuhan terpenuhi akan muncul kebutuhan lain yang memiliki nilainya lebih tinggi
yang harus di penuhi pula. Kebutuhan dasar manusia meliputi :
1)
kebutuhan–kebutuhan fa’ali atau biologis
2)
kebutuhan akan keselamatan
3)
kebutuhan akan rasa aman
4)
kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki
5)
kebutuhan akan aktualisasi diri.
Maslow memberikan
catatan bahwa pemenuhan kebutuhan kebutuhan dasar tidaklah semata bersifat
material, namun selebihnya adalah bersifat spiritual. Hal ini karena hakekat
manusia adalah untuk memperoleh kebahagiaan puncak, yang hal ini dapat dicapai dengan
mengaktualisasikan diri secara maksimal yang nantinya akan membawa seseorang kepada
suatu pengalaman yang bersifat spiritual. Pengalaman spiritual, dalam arti
merasakan religiusitas merupakan suatu pengalaman yang sangat didambakan oleh
setiap pemeluk agama. Hal ini terjadi karena pengalaman keagamaan terkait erat
dengan pemenuhan kebutuhan puncak kehidupan manusia. Kebutuhan itu adalah
kebutuhan yang bersifat “universal”, merupakan kebutuhan kodrati setelah semua
kebutuhan fisik terpenuhi, yakni kebutuhuan akan cinta dan mencintai Tuhan,
yang kemudian akan melahirkan kesediaan mengabdi kepada tuhan.
Berdasarkan
penelitian para ahli ada tiga teori psikologi, sebagaimana dikutip oleh Ahmad
Anas yang saling berbeda pendapat yang berusaha untuk menjawab pertanyaan
darimana sumber jiwa keagamaan muncul, diantaranya yaitu:
Pertama, teori monistik yang mendasarkan bahwa hanya ada satu
sumber kejiwaan (sumber tunggal) dalam keagamaan yaitu suatu hasil proses berpikir,
bersumber pada rasa ketergantungan kepada yang mutlak, dan rasa kagum.
Kedua, teori fakulti (faculty theory) teori yang
memamdang bahwa sumber agama tidak bersifat tunggal, namun terdiri dari
berbagai fungsi. Sumber jiwa keagamaan bersumber dari cipta (reason),
rasa (emation) dan karsa (will).
Ketiga, teori four wishes menyebutkan sumber jiwa agama
adalah karena adanya empat macam keinginan dasar manusia yaitu keselamatan (security),
mendapat penghargaan (recognition), untuk ditanggapi (response),
dan keinginan akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experience).[4]
Dalam agama Islam,
sarana dalam mengenal Allah adalah dengan mempelajari al-Qur’an, dan hadits
Rasulullah saw. Selain dari itu usaha untuk meningkatkan pengalaman rohani
seseorang tentang agama adalah dengan melaksanakan shalat dan dzikir kepada
Allah. Shalat dan dzikir adalah pernyataan kerinduan rohani untuk memperoleh
jawaban atas hakikat hidup dan penghubung komunikasi antara keakuan seseorang
dengan keakuan Allah SWT.
B. Cara Memperoleh Pengalaman Keagamaan
Menurut Evelyn Underhill
yang dikutip oleh Ahmad Anas dalam memperoleh pengalaman keagamaan ada beberapa
tingkatan yang harus ditempuh oleh seseorang, di antaranya[5] :
1.
Membangkitkan kesadaran (awakening) yang juga
merupakan kebangunan diri pribadi ke arah realitas ketuhanan. Pada tingkatan
ini individu mengalami ekaltasi (penyaksian keagungan, kemuliaan yang luar
biasa) dengan kegembiraan yang terlampaui.
2.
Pertobatan diri atau penghancuran dosa diri (purgation),
suatu tingkatan kesediaan dan usaha. Muncul setelah merasakan keindahan tuhan,
sehingga dia berusaha membenahi diri (self-disipline) dalam bentuk meditasi dan
mematikan hawa nafsu.
3.
Pencerahan diri (ilumination), tingkatan
kegembiraan yangsebenarnya menuju pada satu ekaltasi, terlepas dari kehidupan
alam fana dan muncul kesadaran dalam kehadiran tuhan.
4.
Pembersihan diri (purification) dari “malam gelap
jiwa”, sehingga membentuk perumpamaan pribadi. Mulai ada kesadaran antara
kehadiran tuhandengan penyatuan dirinya dengan tuhan untuk memperoleh penyatuan
sempurna ini seseorang harus mematikan dan meghilangkan naluri manusiawi agar
tercapai bahagia dan dia menjadi pasif.
5.
Puncaknya adalah keadaan menyatu atau persatuan dan
kehidupan absolut, bersatu dengan tuhan sehingga jiwanya telah memasuki alam
yang tidak terbatas dan keabadian.
Ketika seseorang
melakukan perjalanan dalam meperoleh pengalaman keagamaan, sebagaimana yang
dikatakan oleh Sayyid Abas Nuruddin sebagaimana dikutip oleh Abdul Malik maka
seseorang harus memperhatikan beberapa syarat. Di antara syarat-syarat tersebut
yaitu[6] :
1.
Mencari guru dan pembimbing, karena binasalah orang yang
tidak memiliki guru (hakim) yang membimbing.
2.
Lepaskan kepentingan ego, fanatisme, ataupun pikiran picik.
3.
Kelemah lembutan dan sikap yang halus.
4.
Keteguhan dan kedawaman (istiqomah) karena amalan
yang paling utama adalah yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.
5.
Pengawasan dan evaluasi diri, karena telah di sebutkan
bahwa bukan dari golongan kami orang yang tidak mengevaluasi dirinya setiap
hari sekali.
6.
Berdzikir dan berpikir, yang dalam hal ini dapat di
wujudkan dengan membaca al-Qur’an serta berpikir tentang tauhid dan ihwaldiri
dan kebijakan.
7.
Memperbanyak amalan sunnah.
Segala hal di atas
harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sehingga apa yang di inginkan untuk
memperoleh pengalaman keagamaan dan keberhasilan mengenal Allah akan tercapai.
Sebagaiman firman Allah dalam Q.S. Al-Insyiqaq : 6 yang artinya“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah
bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan
menemui-Nya.[7]
C. Bentuk-Bentuk Pengalaman Keagamaan
Pengalaman keagamaan
merupakan suatu hal yang di dambakan oleh para pemeluk agama karena pengalaman
keagamaan terkait erat dengan kebutuhan kodrati manusia setelah kebutuhan fisik
terpenuhi. Pengalaman keagamaan menjadi kenikmatan tersendiri bagi para pemeluk
agama, sehingga hal itu mempengaruhi sikap para pemeluk agama dalam menjalankan
perintah agamanya. Sikap-sikap yang berbeda dalam beragama menjadikan berbeda
pula pengalaman keagamaan yang diperolehnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pengalaman keagamaan dan sikap dalam menjalankan agama memiliki keterkaitan
yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, hal itu karena
antara keduanya saling mempengaruhi. Berkaitan dengan hal itu Frangkle
mengemukakan bahwa eksistensi manusia ditandai oleh tiga faktor; spirituality
(keruhanian), freedom (kebebasan) dan responsibility (tanggung
jawab).
Hanya saja spirituality
yang digunakan Frangkle disini lebih diarahkan pada penghayatan maknawi manusia
akibat kemampuan transendensi terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. Willian
James secara garis besar membagi dua tipe atas sikap dan perilaku keagamaan,
yaitu :
1.
Tipe orang yang sakit jiwa, dimana seseorang memiliki
latar belakang keagamaan yang terganggu. Latar belakang yang kemudian menjadi
penyebab perubahan mendadak terhadap keyakinan agama. Ciri-ciri tindakan
keagamaan orang yang mengalami sakit jiwa yaitu:
a)
pesimis dalam pengalaman ajaran agama, pasrah pada nasib.
Namun tahan menderita yang meningkatkan ketaatannya cenderung lebih mawas diri
dalam pengalaman ajaran, dan segala sesuatu dianggap dari tuhan,
b)
introvert. Sifat pesimis mengantarkan mereka bersifat
objektif, segala sesuatu di kembalikan kepada mereka, dan menebusnya dengan
mendekatkan diri pada tuhan, dan sebagai pilihan kadang-kadang dengan
bermeditasi yang meghantarkan pada kenikmatan jiwa.
c)
menyenangi paham yang ortodoks. Sikap pintrovert yang
pesimis yang menyebabkan kondisi jiwa yang pasif yang mendorong menyenangi
paham keagamaan yang lebih konverfatif dan ortodoks.
d)
mengetahui proses keagamaan secara non-graduasi.
Timbulnya keyakinan
umumnya tidak berlangsung melalui prosedur yang biasa, karena berdasarkan pada
pengalaman pahitnya. Sehingga proses yang yang diperoleh berlangsung secara
pendadakan, perubahan yang tiba-tiba.
2.
Tipe orang yang sehat jiwa. Ciri dan sifat orang yang
sehat jiwanya sebagaimana dikemukakan dalam Psycology of Religion adalah;
a)
Optimis dan gembira, hal ini diakibatkan karena
pemahamannya bahwa pahala maupun musibah merupakan hasil jiripayahnya yang di berikan
tuhan. Namun ada keyakinan tuhan bersifat pengasih dan penyayang dan bukan
pemberi azab.
b)
ekstrovert dan
tidak mendalam. Sebagai akibat dari sifat optimismenya, mereka menjadi lebih
mudah melupakanan kesan-kesan buruk, sehingga membawanya berpandangan ke luar
dan membawa suasana hatinya lepas dari kungkungan ajaran agama yang terlampau
memikat. Mereka senang dengan kemudah-mudahan yang di berikan agama.
c)
menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal.
Selanjutnya sebagai
pengaruh kepribadian yang ekstrovert, maka seseorang akan cenderung:
(1)
menyenangi teologi yang luwes dan tidak kaku,
(2)
menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas,
(3)
menekankan ajaran cinta kasih dari pada kemurkaan dan
dosa,
(4)
memelopori pembalaan terhadap kepentingan agama secara
sosial,
(5)
tidak menyenangi implikasi penebusan dosa dan kehidupan
kebiaraan,
(6)
bersifat liberal dalam menafsirkan pengertian ajaran
agama
(7)
selalu berpandangan positif,
(8)
berkembang secara graduasi.
Dalam buku Toward
Psikology of Being Abraham W. Maslow sebagaimana dikutip Ahmad Anas,
mencoba menggambarkan beberapa karakteristik dan identitas seseorang yang
mengalami pengalaman puncak (peak experience) sebagai berikut.
1.
Seseorang yang berada pada pengalaman puncak merasakan
menyatu (integrated) dengan segala sesuatu, dirinya, lingkungan, dan
alam. Sikap yang juga fokus, serasi, efisien, sinergi dan tidak mengalami
friksi internal. Sehingga secara alamiah ia lebih mudah melebur dengan dunia
yang bukan merupakan pribadi
2.
Seseorang yang merasakan dirinya berada di puncak
kekuatan, mampu memanfaatkan kapasitasnya secara penuh, fungsi dirinya utuh
menyeluruh, merasa lebih cerdas, peka, humoris, dan mulia dibanding waktu-waktu
biasa. Pencapaian kondisi dan kekuatan tersebut seakan datang dengan
sendirinya, sehingga ia tidak mengalami kesukaran atau perunuanan fungsi
sebagaimana terjadi pada waktu lain.
3.
Lebih merasa menjadi diri sendiri, percaya diri,
bertanggung jawab, aktif dan kreatif dalam aktivitas, dan merasa penentu bagi
dirinya sendiri.
4.
Memiliki sikap inklusif, terbebas dari sekat-sekat segala
sesuatu, tanpa memiliki beban rintangan, keilmuan tertentu dan tidak takut pada
kritik pribadi, lepas dari kondisi objektif dan subjektif, nilai positif dan
negatif dari sifat seperti itu.
5.
Dengan karakteristik kebebasan yang dirasakan seseorang
cenderung lebih spontan, ekspresif, berpikir cepat, terbuka, sederhana, jujur,
ikhlas, polos, santai, dan alamiah. Sehingga dalam menjalani hidup seseorang
akan selalu merasa dalam kedamaian dan ketenangan karena hati tidak terpaku
dan terkekang oleh suatu keadaan atau hal apapun.
6.
Pribadi
seseorang menjadi sepeti dewa, melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tidak
memiliki motivasi atau keinginan, kebutuhan, harapan, terutama yang mengarah
pada ketidakbaikan. Kehidupan mengalir begitu apa adanya berdasarkan dari apa
yang harus dilakukan, dan apa yang dibutuhkan.
7.
Merasa di
puncak kenikmatan, pembebasan, perasaan terharu, kesempurnaan dan perwujudan.
Dunia tampak sempurna, indah, adil, dan seakan menyatu dengan rantai cosmic-connection
(saling berkaitan, saling melengkapi, dan sinergik).
8.
Setelah selesai
merasakan pengalaman puncak seseorang merasakan kelegaan yangn luar biasa,
keberuntungan yang tidak terduga. karena hal itu terjadi dengan sendirinya,
tanpa perencanaan, dan reaksinya tidak pernah di harapkan.
9.
Menjadi hamba
yang selalu bersyukur serta selalu berterima kasih kepada apa atau siapa saja
dan segala sesuatu yang menyebabkan keberuntungan itu dialami.
Dari berbagai definisi dan karakteristik kepribadian
orang yang mengalami pengalaman keagamaan tersebut, maka jelas ada yang
menimbulkan suasana jiwa yang aktif dan suasana jiwa yang pasif. Dalam sejarah
tasawuf sendiri banyak di temukan tokoh-tokoh sufi yang pasif dan banyak pula
yang aktif terlibat dalam kancah sosial, politik, dan kemasyarakatan dimana dia
berada. Bentuk-bentuk pengalaman keagamaan yang dikutip oleh Ahmad Anas dari
William James yang berhubungan dengan rutinitas atau ritual tertentu yang di
praktikkan oleh para sufi dalam ilmu tasawuf sendiri akan di dapati banyak
istilah yang berbeda, beberapa diantaranya yaitu :
1.
Al-Qabdhu, bermakna
kesempitan dan keluasan, yakni “kesempitan” spiritual ketika hati di sempitkan
dan di genggam oleh Allah melalui teror hukuman dan celaan. ketakutan yang
sangat dalam serta pengalaman tentang waktu kini. Setiap kesempitan selalu di
ikuti oleh keluasan.
2.
Al-Haibah, adalah ketakjuban
dan ketakutan penuh kehormatan dalam diri seseorang hamba ketika di hadapkan
kepada kemutlakan Allah, keagungan, dan transendensiNya, keterjangkauan,
kebesaran, dan kekuasaanNya. Keadaan takut seperti ini memastikan sang hamba
akan menjaga dirinya berada dalam batasan-batasan tata-krama dan sopan santun
sempurna kepada Allah dengan berpegang pada penghambaannya sendiri.
3.
Al-Anasu berarti
kesadaran, atau kemesraan dengan Allah yang dicapai seorang hamba dari kondisi raja’
(takut).[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Menurut
Zakiah Darajat, hubungan batin seseorang dengan Allah Swt di dalam ilmu jiwa
dinamakan pengalaman keagamaan. Jadi tegasnya, pengalaman keagamaan merupakan
aktivitas manusia dalam keberhadapannya dengan Sang Pencipta.
Menurut
Evelyn Underhill yang dikutip oleh Ahmad Anas dalam memperoleh pengalaman
keagamaan ada beberapa tingkatan yang harus di tempuh oleh seseorang, di
antaranya[9] membangkitkan
kesadaran (awakening) yang juga merupakan kebangunan diri pribadi ke
arah realitas ketuhanan. Pada tingkatan ini individu mengalami ekaltasi
(penyaksian keagungan, kemuliaan yang luar biasa) dengan kegembiraan yang
terlampaui. Serta pertobatan diri atau penghancuran dosa diri (purgation),
suatu tingkatan kesediaan dan usaha. Muncul setelah merasakan keindahan tuhan,
sehingga dia berusaha membenahi diri (self-disipline) dalam bentuk meditasi dan
mematikan hawa nafsu.
Berkaitan
dengan hal itu Frangkle mengemukakan bahwa eksistensi manusia ditandai oleh
tiga faktor; spirituality (keruhanian), freedom (kebebasan) dan responsibility
(tanggung jawab).
B. Saran
Dalam
hal mencari dan memperoleh pengalaman keagamaan, perlulah penganut agama untuk
berusaha mencari guru atau pembimbing yang memang mumpuni keagamaannya. Sebab,
guru tersebut akan membawa kita dan terus menasihati kita saat beragama dan
beribadah.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an, Terjemahan Depertemen Agama RI, Juz 30.
Anas, Ahmad, Menguak Pengalaman Sufistik, Semarang: Pustaka Pelajar, 2003.
Malik, Abdul, Menjadi Tuhan di Tengah Keramaian, Jakarta: Lazuardi, 2003.
Pujiastuti, Triyani, “Konsep Pengalaman Keagamaan Joachimwach”, dalam Jurnal Syi’ar, Vol. 17, No. 2, Agustus 2017.
[1]Triyani Pujiastuti, “Konsep Pengalaman Keagamaan Joachimwach”, dalam Jurnal Syi’ar, Vol. 17, No. 2, Agustus 2017, h. 65-66.
[2]Ibid, h. 66.
[3]Ahmad Anas, Menguak Pengalaman
Sufistik, (Semarang: Pustaka Pelajar, 2003), h. 152.
[4]Ibid, h. 41-42
[5]Ibid, h. 52.
[6]Abdul Malik, Menjadi Tuhan di Tengah
Keramaian, (Jakarta: Lazuardi, 2003), h. 69-71.
[7]Al-Qur’an, Terjemahan Depertemen Agama RI, Juz 30, h. 472.
[8]Ahmad Anas, Menguak Pengalaman ..., h.
28-61.
[9]Ibid, h. 52.
0 Response to "KONSEP PENGALAMAN KEAGAMAAN"
Posting Komentar