AKHLAK DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT
Di dalam pergaulan hidup di dunia ini, senantiasa terdapat kehidupan yang bahagia dan derita sengsara. Seseorang akan dapat ditolong dengan bantuan harta benda, namun belum merupakan kesenangan yang melapangkannya.
Kehidupan umat manusia sejak zaman nabi Adam As. Sampai kepada nabi Muhammad SAW. Dan bahkan sampai kini dan yang akan datang, kehidupan umat manusia akan lebih baik, apabila akhlaknya baik. Akhlak umat manusia tercipta dan terbentuk dengan baik, apabila mereka menerima Al-Quran dan sunah nabi Muhammad SAW. Sebagai sumber hidup dan pedoman kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
Ajaran Islam membimbing umat manusia dimulai dengan memperbaiki akhlaknya. Apabila akhlak manusia baik, maka keluarga, masyarakat, dan bangsanya akan baik pula.[1]
A. Akhlak Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Akhlak seseorang terhadap orang lain sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat, di antaranya sebagai berikut:
1. Menghormati Perasaan Orang Lain
Menghormati perasaan orang lain atau sesama manusia ialah: jangan tertawa terhadap orang yang sedang bersedih, jangan mencaci sesama manusia, jangan menggunjing dan memfitnah saudara atau sahabat sesama umat Islam, jangan melaknat manusia lain, dan jangan makan di depan orang yang sedang berpuasa. Seperti sabda Rasulullah SAW:
“Tidak termasuk muslim apabila bersikap penohok, pelaknat, sikap kejam dan pencaci.”( HR. Tirmidzi )[2]
2. Memberi Salam dan Menjawab Salam
Memperlihatkan sikap bermuka ,manis, mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri, menyenangi apa yang menjadi kesenangannya dalam kebaikan seperti hadis nabi:
“Tidak dikatakan seorang muslim, sehingga dia menyenangi apa yang disenangi oleh saudaranya, sebagaimana dia menyenangi apa yang disenanginya”( HR. Bukhari dan Muslim )
3. Pandai Berterima Kasih
Manusia yang baik adalah yang pandai berterima kasih atas kebaikan orang lain Rasulullah SAW. Bersabda:
“Tidak dapat bersyukur kepada Allah orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain”( HR. Abu Dawud dan Ahmad )[3]
4. Memenuhi Janji
Janji adalah amanah yang wajib dipenuhi, baik janji untuk bertemu, janji bayar hutang, maupun janji mengembalikan pinjaman. Allah SWT.
Berfirman:
“Dan penuhilah janji-janji tatkala kamu berjanji, dan janganlah kamu mengingkari itu, sebab kamu telah menjadikan Allah sebagai pemelihara.
Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(An-Nahl:
91).
5. Tidak Boleh Mengejek
Mengejek arau merendahkan orang lain, apakah saudara dekat atau teman akrab, dengan membicarakan kekurangan atau membuka aib dan cacatnya, atau menjulukinya sampai menyakitkan hatinya, adalah suatu sikap yang tercela. Allah SWT. Berfirman:
“Wahai umat yang beriman, jangan kamu menghina suatu kaum sebagian terhadap sebagian yang lainya, barangkali kaum yang kau hinakan itu mempunyai kelebihan dari pada yang menghina”(Al-Hujurat: 11).[4]
6. Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, adalah orang yang tidak berakhlak baik. Allah SWT. Berfirman:
“Dan janganlah mengumpat atau menceritakan kesalahan sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, sukakah kamu memakan daging saudaramu yang sudah menjadi bangkai, sedangkan kamu membencinya?”(Al-Hujurat: 12).
7. Jangan Menawar Sesuatu Yang Sedang Ditawar Orang Lain
Di dalam perdagangan atau jual-beli, apabila antara pedagang dengan pembeli sedang terjadi tawar menawar, maka pembeli yang lain tidak boleh ikut menawarnya kecuali orang yang menawar pertama telah meninggalkannya (tidak jadi membeli). Dan janganlah menawar sesuatu, sedang orang lain sedang menawarkannya seperti dalam hadis nabi:
“Janganlah kamu menjual atau menawarkan sesuatu yang sedang ditawarkan oleh saudaramu”(HR. Bukhari).[5]
8. Bermuka Manis
Dikatakan bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma pernah ditanya tentang kebaikan, maka beliau menjawab, “Wajah yang berseri-seri dan tutur kata yang halus.” Seorang penyair merangkaikannya dalam sebuah puisi:
“Wahai anakku sesungguhnya kebaikan itu sesuatu yang mudah wajah yang berseri-seri dan tutur kata yang ramah.”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah berkata:
Bermuka manis adalah menampakkan wajah yang berseri-seri ketika berjumpa dengan orang lain, lawannya adalah bermuka masam.”
Setelah itu beliau menyebutkan hadits, ucapan Ibnu Abbas dan penyair, sebagaimana telah disebutkan di atas, kemudian berkata:
“Wajah yang berseri-seri membuat senang orang lain, merekatkan kasih sayang dan kecintaan serta menjadikan dirimu dan orang yang berjumpa denganmu berlapang dada.
Tetapi jika engkau bermuka masam, maka orang lain akan menjauhimu, tidak merasa nyaman untuk duduk bersamamu dan berbincang-bincang denganmu.
Orang yang ditimpa penyakit berbahaya yaitu depresi (tekanan jiwa) dapat menjadi sembuh dengan resep yang sangat ampuh yaitu dengan lapang dada dan wajah yang[6]berseri-seri, oleh karena itu para dokter menasehati orang[7]yang ditimpa dengan depresi agar menghindarkan diri dari seesuatu yang dapat membuatnya marah dan emosi, karena hal tersebut akan memperparah penyakitnya, adapun lapang dada dan wajah yang berseri-seri dapat menghilangkan penyakit tersebut, sehingga ia akan dicintai dan dihormati pleh orang lain.
Inilah tiga pokok yang menjadi poros akhlak yang baik dalam muamalah kepada sesama makhluk.
Diantara tanda akhlak yang baik lainnya hendaknya seorang Muslim bergaul yang baik kepada keluarga, kerabat dan teman, tidak menjadi sempit dadanya dengan keberadaan mereka dan tidak menekan mereka, bahkan berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati mereka dalam batasan syariat Islam, syariat ini harus ada karena tidak boleh menyenangkan orang lain dalam maksiat kepada Allah, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, na’udzu billahi min dzalik. Tetapi baru dikatakan akhlak yang baik jika ia menyenangkan keluarga, kerabat dan teman dalam batasan syariat Islam.
Sangat disayangkan sekali masih banyak di antara manusia yang berperilaku baik kepada orang lain tetapi tidak berperilaku baik kepada keluarganya, ini merupakan kesalahan besar dan tidak bisa diterima oleh akal sehat, karena bagaimana ia dapat berperilaku baik kepada orang yang jauh dan berperilaku buruk kepada orang yang dekat ? Sesorang mungkin menjawab, “Karena sayalah yang menafkahi dan dan mencukupi kebutuhan keluarga.” Kami menjawab, “Ini bukan alasan yang membolehkan anda berperilaku buruk kepada keluargamu, karena orang yang lebih dekat dalam kekerabatan lebih berhak diperlakukan dengan baik dibandingkan orang yang lebih jauh seperti sekedar teman atau sahabat saja. Oleh karena itu ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang lebih berhak aku perlakukan dengan baik? Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia berkata lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu.” Ia berkata lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu.”
Tetapi tidak semua bermanis muka itu positif, dalam kondisi justru kita dituntut untuk bermuka asam. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitabnya Ighatsah Al-Lahafan Min Mashayidi Asy-Syaithan:
“Termasuk dari macam-macam perangkap setan dan tipu dayanya bahwa setan mengajak seorang hamba Allah kepada berbagai macam bentuk dosa dan kenistaan dengan sebab akhlak baik si hamba tersebut dan kemurahan hatinya, maka dia berjumpa dengan seseorang yang tidak mungkin si hamba tadi selamat dari [8]kejahatannya kecuali dengan sikap cemberut dan bermuka masam serta berpaling menjauhinya, maka musuh (setan) tersebut menjadikan si hamba Allah tadi menganggap baik kepadanya sehingga ia menjumpainya dengan wajah berseri-seri dan muka yang manis serta berkata-kata dengan halusnya, kemudian ia terikat dengannya. Setelah itu ia berusaha untuk melepaskannya, namun tak dapat, maka musuh itu selalu saja berusaha mengumpulkan antara keduanya sampai berhasil kepada apa yang ia maukan. Itulah tipu daya setan kepada manusia, masuk melalui kebaikan akhlak dan keramahtamahan.
Dan dari sini para dokter jiwa (yaitu para ulama) mewasiatkan (kepada kita) untuk menjauhi ahli bid’ah dengan tidak mengucapkan salam kepadanya dan tidak memperlihatkan kepada mereka wajah yang berseriseri, bahkan menghadapinya dengan cemberut dan buang muka.
Begitu pula mereka mewasiatkan untuk berbuat demikian pada saat bertatapan dengan orang yang ditakuti akan fitnahnya, seperti wanita atau anak laki-laki yang belum baligh dan berwajah tampan. Mereka mengatakan, “Apabila engkau memperlihatkan putih gigimu kepada wanita atau anak muda yang tampan maka keduanya akan memperlihatkan kepadamu lebih dari itu, tetapi apabila engkau berpapasan dengannya memperlihatkan wajah yang cemberut, maka engkau akan selamat dari kejahatan keduanya.”[9]
B. Bagian- Bagian Akhlak Dalam Kehidupan Bermasyarakat
1. Akhlak Terhadap Tetangga
Setiap umat Islam harus mengetahui bahwa tetangganya mempunyai hak. Kewajiban setiap muslimin dan muslimah terhadap tetangganya itu diatur di dalam Al-Quran maupun Al-hadist. Di dalam Al-Quran, Allah SWT.
merangkaikan kewajiban berbuat baik itu dalam rangkaian kewajiban beribadah kepada Allah SWT. seperti firman Allah SWT.[10]
“Dan berbaktilah kepada Allah SWT. Jangan mempersekutukan Dia dengan apapun, dan terhadap kedua ibu bapak berbuat baiklah, demikian juga kepada keluarga yang dekat, anak yatim piatu, orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga jauh, teman seiring, orang-orang dalam perjalanan dan orang-orang yang menjadi hamba sahayamu, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang congkak dan sombong, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan”.(An-Nisa: 36).
Memperhatikan lingkungan tetangga dengan menelaah dalil-dalil dalam Al-Quran dan Al-Hadis, maka sebagian ulama sebagian ulama menggolongkan tetangga menjadi tiga macam, yaitu: bertetangga dengan dengan saudara atau keluarga sendiri yang seagama sesama muslim. Bertetangga semacam ini, maka tetangga tersebut mempunyai tiga hak, yaitu: hak sebagai tetangga, hak sebagai saudara(keluarga), dan hak sebagai sesama muslim. Bertetangga dengan orang lain, yang bukan keluarga tetapi satu agama, sesama muslim hak tetangga tersebut ada dua: hak sebagai tetangga dan hak sebagai sesama muslim.Bertetangga dengan saudara atau bukan saudara, tetapi beragama lain. Dalam bertetangga yang demikian hanya mempunyai satu hak, yaitu hak bertetangga saja.
Sama saja antara tetangga dengan keluarga ataupun bukan keluarga, apabila berlainan agama, karena hak-hak sebagai keluarga akan hilang dengan adanya perbedaan agama. Di antara akhlak bertetangga yang daitur oleh Al-Quran ataupun Al-Hadis, sebagai berikut:[11]a. Tidak Boleh Menyiksa Atau Menyakiti
Setiap umat Islam tidak boleh bersikap meyakiti atau meganggu ketenangan tetangganya, misalnya dengan membuat tembok atau tanaman batas yang tinggi, sehingga sinar matahari tidak dapat sampai ke rumah tetangga tersebut, atau memukul anak tetangga. Rasulullah SAW. Bersabda:
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan suka menyakiti tetangganya”(HR. Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.).
b. Tidak Boleh Melampaui hak-hak milik
Apabila hidup bertetangga haruslah hidup rukun dan saling tolong menolong, tetapi jangan menggunakan barang atau meminjam kepada tetangga seenaknya, atau memindahkan batas tanah sehingga terambil hak milik tetangga tersebut. Dalam hal ini Rasulullah SAW. Bersabda:
“Siapa saja yang mengambil sejengkal tanah milik orang lain atau milik tetangga, maka Allah akan menghimpitnya dengan tujuh bumi”(HR. Bukhari dan Muslim).[12]
c. Tidak Boleh Menyebarkan Rahasia Tetangga
Orang-orang yang menyebar luaskan rahasia keluarga orang lain atau tetangganya, sama saja menyebar luaskan kekkejian dan kemungkaran di tengah-tengah masyarakat, yang akhirnya akan menimbulkan kekacauan dan perselisihan. Allah SWT. Berfirman:
“Orang-orang yang senang menyebar luaskan kekejian dan kemungkaran dalam jama’ah umat Islam, bagi mereka akan mendapat siksaan yang pedih di dunia dan akhirat”(An-Nur:19).
d. Tidak Boleh Membuat Gaduh
Sebagai tetangga terdekat, tidak boleh mengganggu tetangga seperti dengan suara radio yang keras dan berisik jangan memparkir mobil di depan rumah tetangga, sampai mengganggu keluar masuk mobil tetangga
Rasulullah memperingatkannya sebagai berikut:[13]
“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman!’’
Sahabat Bertanya:
“Siapakah wahai Rasulullah (yang tidak beriman)” Rasulullah menjawab:
“Orang-orang yang tidak memberikan kedamaian kepada tetangganya, dengan melakukan bermacama-macam kegaduhan dan perbuatan
jeleknya”(HR. Bukhari dan Muslim).[14]
e. Saling Memberi Nasihat
Hidup bertetangga yang baik, adalah selalu memberikan petunjuk dan contoh yang baik dengan bijaksana, sehingga terasa cinta dan perhatian kepada tetangga. Rasulullah SAW. Bersabda:
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lainseorang mukmin adalah saudara dari mukmin yang lain. Selalu mendamaikan dan menentramkan bila ada kegoncangan dan selalu membimbing dari belakang”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
f. Saling Tukar hadiah Atau Pemberian
Hidup bertetangga harus saling tukar menukar pemberian, saling memberi hadiah sebagai tanda persaudaraan dan oersahabatan misalnya, bila seseorang mempunyai makan istimewa , lebih dari makanan sehariharinya, hendaknya, berikan kepada tetangga, yang mungkin terangsang oleh bau makanan yang dimasak. Rasulullah SAW. Bersabda kepada Abu Dzar:
“Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak gulai, perbanyaklah airnya, dan antarkanlah kepada tetanggamu”(HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu
Majah.)[15]
g. Hak Utama Tetangga
Hak utama tetangga adalah, apabila kita akan melakukan sesuatu mintalah pertimbangan mereka. Apabila akan menjual sesuatu, terlebih dahulu tawarkanlah kepada tetangga sebagai usaha menumbuhkan tenggang rasa. Rasulullah SAW. Bersabda:
“seorang tetangga lebih berhak ikut menentukan sesuatu yang bermanfaat dan mudharatnya, ikut merasakan dari hak miliknya”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).[16]
2. Akhlak Terhadap Sesama Muslim
Berhubungan kepada manusia ditinjau dari perbedaan Aqidah, dibagi menjadi tiga, yaitu:hubungan sesama muslim, hubungan dengan ahli kitab, dan hubungan dengan kaum kafir. Sera terperinci, kepada masing-masing kelompok atau golongan tersebut mempunyai akhlak dan kode etik.
Rasulullah SAW. Bersabda:
“Mukmin yang paling sempurna imanya, adalah yang baik akhlaknya daintara mereka”.(HR. Abu Dawud).
Hadis ini perlu perhatian dari setiap umat Islam karena banyak menganggap, bahwa kewajiban agama terbatas pada kewajiban ibadah belaka. Padahal di dalam Al-Quran dan teritama hadis-hadsi nabi penekanannya sangat diperhatikan dan diulang-ulang agar setiap muslim memperhatikandan mengutakamakan akhlak, terutama sebagai makhluk sosial (masyarakat).[17]
Harus menjadi keyakinan, bahwa setiap muslim mempunyai hak-hak dan kewajiban tertentu terhadap saudara muslim lainya, karena mereka telah dipersaudarakan Allah, seperti tertera dalam surah Al-Hujuraat, ayat 10 sebagai berikut:
“Sesungguhnya umat yang beriman satu terhadap lainnya adalah bersaudara, hendaknya selalu diusahakan perdamaian di antara para mereka yang bersaudara itu, selalu bertaqwalah kepada Allah, semoga kamu selalu mendapat curahan rahmat dari Allah”(Al-Hujuraat:10)
Hak dan kewajiban antara muslim tersebut adalah pelaksanaan kewajiban ibadah kepada Allah SWT. Adapun akhlak dalam berhubungan dengan sesama muslim diajarkan oleh syariat Islam sebagai berikut[18]
1 Menghubungkan Tali Persaudaraan
2 Saling Tolong Menolong
3 Membina Persatuan
4 Waspada dan Menjaga Keselamatan Bersama
5 Berlomba Mencapai kebaikan
6 Bersikapa Adil
7 Tidak Boleh Mencela Atau Menghina
8 Tidak Boleh Menuduh dengan tuduhana Fasiq atau Kafir
9 Tidak Boleh marah
10 Memenuhi Janji
11. Saling Memberi salam
12. Menjawab Bersin.
13. Melayat Mereka Yang saki.
14. Menyelenggarakan Pemakaman Jenazah
15. Bebaskan Diri Dari Suatu Sumpah.
16. Tidak Bersikap Iri Dan Dengki.
17. Melindungi Keselamatan Jiwa Dan Harta.
18. Tidak Boleh Bersikap Sombong.
19. Fitnah Dan Penghianatan Adalah Sikap Tercela.
3. Akhlak terhadap Orang Kafir
Ajaran Islam membagi uamt manusia secara garis besar menjadi dua golongan, yaitu muslim dan kafir. Yang dimaksud muslim adalah yang menyatakan dirinya Islam, walaupun belum melaksanakan ajaran Islam seutuhnya. Yang dinamakan Kafir adalah orang selain Islam, termasuk di antaranya ahli kitab, dan yang menyatakan dirinya bukan Islam.
Setiap manusia, walaupun mereka kafir, mereka adalah makhluk Allah SWT. Yang mempunyai hak hidup di atas bumi ini. Akan tetapi, ada perbedaan prinsipil antara muslim dan kafir. Maka Islam memberi batasan
khusus dalam sistem pergaulan yang merupakan tatcara atau akhlak pergaulan, dengan orang yang kafir.
Islam dengan jelas gamblang memberikan batasan, bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap orang di luar agama Islam karena seorang muslim harus mempunyai identitas yang jelas, berbeda dari orang yang kafir, dan sudah jelas kehidupan muslim berbeda dengan kafir dalam segala permasalahannya. Sikap muslim kepada orang yang kafir anatara lain:[20]
1. Kafir Adalah Sesat.
2. Tidak Boleh mengakui kekafiran.
3. Benci Terhdap Kafir karena Allah.
4. Berbuat Adil Dan Baik Kepada Orang Kafir.
5. Tidak Boleh Mencintai Orang Kafir.
6. Boleh Membantu Orang Kafir Yang Menderita.
7. Jangan Menghina Orang Kafir.
8. Boleh Tukar Menukar Hadiah.
9. Wanita Islam Dilarang Menikah Dengan Orang Kafir.
10. Tidak Boleh Memberi Salam Kepada Orang Kafir.
11. Ucapan Ketika Bersin.
12. Tidak Boleh Meniru Cara Orang Kafir.
C. Akhlak Dalam Melestarikan Lingkungan Hidup dan Bagian-bagiannya
Allah SWT. Berfirman, di dalam surah Al-Baqarah, pada ayat 29 sebagai berikut:
“Ialah (Allah) yang telah menjadikan untuk kamu segala ada yang di bumi”.(Al-Baqarah: 29)
Setiap yang ada di bumi ini, merupakan nikmat Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia. Maka manusia tidak boleh menyia-nyiakan rahmat ini, sebagai tanda rasa syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan rahmat, yang maha pengasih dan penyayang. Sifat tidak menyia-nyiakan nikmat tersebut,
itulah yang dinamakan akhlak terhadap alam. Manfaat benda-benda bagi manusia, sebagian bisa dirasakan langsung dan terasa sangat diperlukan manfaat itu, dan di antaranya ada yang tidak dapat dirasakan bagi manusia itu sendiri.22
1. Akhlak Terhadap Tumbuh-tumbuhan.
Tumbuh-tumbuhan termasuk makhluk Allah yang secara langsung dan tidak langsung dapat dirasakan. Manfaatnya dan sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Manusia dalam hidupnya justru banyak tergantung kepada tumbuh-tumbuhan, karena makanan pokok manusia sebagian besar dari tumbuh-tumbuhan. Seperti beras, gandum, buahbuahan, sayur-sayuran, bahkan bahan-bahan rumah sampai tempat berteduh, seluruhnya dari tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian, Allah telah memberikan karunia yang tak terhingga kepada manusia, berupa tumbuh-tumbuhan tersebut. Akhlak manusia dan sikapnya terhadap tumbuh-tumbuhan sebagai rahmat Allah yang besar ini, diantaranya sebagai berikut:
a. Menjaga Kelestarian Alam.
Setiap orang harus menjaga kelestarian alam, sesuai dengan sunnah Allah SWT. Di antara sunnah Allah, bahwa hutan itu menyimpan humus, dan humus tersebut dapat menyimpan air. Oleh karena itu, umat islam tidak boleh merusak hutan dan menebangnya secara liar, tanpa mempertimbangkan akibat dan bahaya yang timbul. Penebangan hutan secara liar dapat mengakibatkan kekeringan dari sumber air, dan dapat pula mengakibatkan banjir yang tidak terbendung. 23
Ada orang yang berkata, bahwa melakukan pembukaan hutan dan sebagainya, adalah merupakan usaha memanfaatkan hutan. Tetapi, buktinya berbahaya bagi masyarakat banyak disekeliling hutan itu. Memang manfaat itu bisa diambil oleh orang tertentu, namun mudharatnya lebih banyak. Allah berfirman:
Hlm. 182-183.
Hlm. 171
“Dan di antara manusia terdapat mereka yang mengagumkan ucapan-ucapannya tentang kehidupan didunia, padahal Allah menjadi saksi bahwa ucapannya tidak sesuai dengan apa yang tersimpan dalam hatinya, dan orang ini merupakan orang berhati kejam
(aladdukhishaam).
Dan apabila mereka berpisah, berjalan ia dimuka bumi, maka ia akan menghancurkan kehidupan itu dengan membinasakan flora dan fauna (al-hartsa, yaitu tanaman) dan fauna (an-nasla, yaitu binatang), sesungguhnya Allah tidak senang akan kekacauan: (Al-Baqarah: 204205).
Allah memperingatkan kita tentang orang-orang yang berbeda hati, ucapan dan perbuatannya dalam menjaga kelestarian alam ini, yang justru bila ia mendapat wewenang, maka mereka dengan secara teratur akan menghancurkan kelestarian dan keseimbangan alam. Akibat perbuatan ini telah sama dirasakan dalam bentuk banjir dan hilangnya tanah-tanah subur akibat erosi dan sebagainya. [22]
b. Jangan Menebang Pohon
Setiap orang tidak boleh menebang pohon-pohon, terutama pohon-pohon yang berbuah, yang memberikan manfaat bagi umat manusia, kecuali bila terjadi peperangan (dalam rangka sabotase).
Dalam hal ini, pasukan-pasukan yang berperang diperbolehkan merusak tanaman atau ladang musuh. Membuktikan bahwa bila tidak dalam keadaan perang, tidak boleh merusak tanaman-tanaman. Allah SWT berfirman:
“Apa saja yang kamu potong dari pohon kurma atau kamu biarkan berdiri atas batang-batangnya, maka adalah dengan izin Allah, dan karena ia akan merendahkan orang-orang yang melewati batas” (AlHasyr: 5).
Ayat ini menunjukkan bahwa memotong kurma yang berbuah dalam masa peperangan pun harus dipertimbangkan manfaatnya. Bila dengan
ditebangnya pohon, apabila dapat menyebabkan mereka lemah, maka tebanglah. Tetapi bila tidak ada manfaatnya, maka janganlah ditebang.
25
c. Jangan Kencing di Bawah Pohon
Tidak boleh kencing dibawah pohon, baik pohon yang mempunyai buah maupun tempat berteduh, seperti taman-taman hiburan atau kebun raya. Dalam hadis nabi dijelaskan:
“Takutlah kepada dua hal yang dilaknati. Mereka (para sahabat) bertanya: Apakah dua hal yang dilaknati itu, wahai Rasulullah?
Rasulullah SAW. Menjawab: Orang yang membuang hajat dijalan umum, dan membuang hajat dibawah pohon tempat orang-orang berteduh” (HR. Muslim).
d. Memelihara Tanaman.
Setiap orang harus mengusahakan memberi pupuk dan memelihara tanaman, agar tanaman atau tumbuh-tumbuhan itu memberikan buah, atau hasil lebih banyak dan lebih baik. usaha seperti ini bukan sebagai perbuatan mengubah takdir Allah tetapi sebagai ikhtiar dan usaha pengembangan sesuai dengan sunnatullah. Oleh karena itu, ketika ada petani kurma membuat penyerbukan (mengawinkan) suatu bunga dengan bunga yang lain, kemudian ditegur oleh sahabat lain, bahwa perbuatannya itu salah maka dia segera pergi melapor kepada Rasulullah, menanyakan hal tersebut. Rasulullah SAW. Menjelaskan:
“Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu” (Al-Hadits).
Petani itu lebih tahu tentang bagaimana sebaiknya bertani dan bagaimana memelihara tanaman. Termasuk diantaranya mencangkok pohon, mengawinkan pohon, dan sebagainya. Yang demikian termasuk usaha yang dibenarkan agama. 26
e. Tanamlah Pohon yang Bermanfaat.
Dalam riwayat Ibnu Majah, dijelaskan bahwa kita menanam tanaman, agar mengucapkan “Subhanallah”. Dengan demikian, setiap menanam satu batang pohon, maka Allah akan menanamkan baginya satu pohon disurga. 27
f. Bayarkan Zakat dari Hasil Tanaman.
Umat islam yang bercocok tanam, apabila tanamannya berhasil baik, maka wajib mengeluarkan zakat dari hasil panennya itu. Zakat yang dikeluarkan adalah sebagai rasa syukur kepada Allah, dan untuk membersihkan rezki yang diberikan Allah, dari hasil tanaman tadi. Allah SWT. Berfirman:
“Makanlah dari buah tatkala tanaman itu berbuah, dan bayarlah kewajiban zakatnya pada saat panen” (al-An’am: 141).28
2. Akhlak Terhadap Binatang
Manusia adalah makhluk Allah yang mulia. Allah SWT. Telah memberikan sifat kasih sayang kepada manusia, dan lebih dari itu manusia diberi akal. Dengan sifat kasih sayang dan akal yang dimiliki manusia tersebut, maka sifat itu menjadi dasar Allah memberikan tugas, agar manusia menjadi khalifah di Bumi ini.
Oleh karena itu, manusia harus berbuat kebaikan untuk kemaslahatan isi dunia ini, termasuk akhlak terhadap binatang.
Agama Islam mengatur manusia bagaimana harus berbuat baik (berakhlak) terhadap binatang. Di antara akhlak manusia terhadap binatang sebagai berikut:
Hlm. 175. Hlm. 176.
a. Memberi Makan Dan Minum
Apabila ada binatang yang lapar atau haus, maka tugas manusia adalah memberi makan dan minum pada binatang itu. Rasulullah SAW. Bersabda:29
“Bagi yang tiap-tiap yang mempunyai hati (perasaan) ada pahala”(HR. Muslim).
b. tidak mempermainkan binatang
Rasulullah SAW. Bersabda, ketika ada burung yang cedera karena dilempar, yaitu:
“Allah melaknat terhadap orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa (binatang atau manusia) sebagai sasaran (permainan keisengan)”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi).
c. Sembelih Dengan Baik.
Apabila akan menyembelih binatang, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Rasulullah SAW. Bersabda:
“Seseungguhnya Allah SWT. Mewajibkn atas kamu berbuat baik terhadap segala sesuatu, maka apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan baik. Dan apabila menyembelih sembelihlah dengan baik. Tajamkanlah mata pisau, agar tidak menyakiti hewan
sembelihanmu”.(HR. Muslim).30
d. Jangan Membebani Terlalu Berat.
Jangan membebankan terlalu berta pada binatang (tidak dipertimbangkan dengan kemampuan bitang tersebut). Rasulullah SAW. Suatu ketika melihat seekor Onta dengan muatan yang sangat berat, kelihatan dari jalanya yang bersusah payah. Rasulullah SAW. Bersabda: Kepada pemilik Onta:
“Takutlah kamu kepada Allah tentang binatang yang tidak bisa bicara ini. Naikilah dengan baik (jangan dipaksa terlalu berat) dan apabila mau dimakan (sembelihlah) dengan baik”. (HR. Abu Dawud).
Hlm. 177. Hlm.178.
e. Tidak Menyiksa Dengan Cara Apapun
Tidak boleh menyiksa binatang dengan memukul atau menyakiti membakarnya dengan api dan sebagainya. Rasulullah SAW. Bersabda:
“Ada seorang perempuan masuk neraka, karena seekor kucing. Sebab, dia mengurungnya sampai mati, maka dia masuk neraka, karena dia memrinya makan dan minum. Dia mengurungnya dan tidak memberikan kesempatan kucing itu rezkinya di bumi”. (HR. Bukhari dan Muslim).31
f. Binatang Yang Boleh Dibunuh.
Diperbolehkan membunuh binatang-binatang yang berbahaya, diantaranya: Serigala, Elang, Ular, Kalajengking, Tikus dan yang sejenisnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW. Bersabda:
“Lima jenis bintang termasuk fawasiq, boleh membunuhnya di tanah halal dan di tanah haram (Mekkah) yaitu: Ular, Elang, Tikus, Serigala, dan burung Garuda”.(HR. Muslim).
g. Dilarang Memberi Tanda Dengan Besi Panas Pada Bagian Luka Binatang.
Boleh memberi tanda (Stempel) pada bagian tubuh binatang ternak untuk kebaikan, yaitu tanda supaya tidak tertukar. Dalam sebuah hadis disabdakan, bahwa Rasulullah pernah membuat tanda pada seekor Onta. Tidak boleh membuat tanda pada muka binatang ternak tersebut, sebab Rasulullah SAW. Bersabda:
“Allah Melaknat orang yang membuat tanda pada muka binatang “.
(HR. Muslim).32
h. Membayar Zakat
Setelah peternak (pemelihara bintang) mengerti tentang kewajiban sebagai pemilik hewan, apabila cukup nisabnya, maka harus dibayar zakatnya.
i. Tidak Melalaikan Ibadah.
Hlm. 179. Hlm. 180.
Setiap yang memlihara ternak agar tidak disibukan mengurus bintang sampai lalai kepada tugas ibadah dan kewajiban agama. Allah SWT. Berfirman:
“Wahai umat yang beriman, jangan kamu dilalaikan oleh hartamu dan anak-anakmu, sehingga meninggalkan ingat kepada Allah SWT”. (Al-Munafiqun: 9). [23]
D. Akibat Perbuatan Manusia Yang Merusak Alam
“Andai ini tidak terjadi, dunia akan terasa lebih indah” kata-kata itu mungkin sering terbayang dibenak Suraj Singh. Sebuah pengandaian. Akan tetapi, tragedi itu telah terjadi dan bukan satu-satunya. Beragam tragedi kemanusian akibat olah manusia terjadi, mulai dari bocornya nuklir di Chernoby hingga Minamata di Jepang.
Di Indonesia kejadian serupa juga tidak jarang terjadi. Lihatlah tragedi pencemaran laut, kerusakan alam akibat penambangan, ataukah banjir akibat sampah yang menyumbat selokan. Semua itu merupakan sedikit dari beragam bentuk kerusakan alam yang nyatanya ada di depan kita.
Apabila berbicara tentang siapa penyebabnya, maka subjeknya adalah manusia. Manusia dengan segala kemampuan dan nafsunya berusaha menggali segala yang ada di bumi demi kemakmuran dirinya. Sebenarnya bukan suatu hal yang salah kalau manusia mengolah potensi bumi ini. Bukankah hanya manusia yang mempunyai potensi inteligensia untuk melakukannya, akan tetapi, manakala kemampuan mengelola bumi ini tidak diiringi dengan kesadaran untuk menjaga kelestariannya dengan sungguh-sungguh, maka tragedi-tragedi kemanusian pun bermunculan.
Sebenarnya, setiap agama mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjaga agar alam tetap lestari. Demikian pula dengan Islam, Allah dalam AlQuran sudah memberikan contoh dan peringatan tentang hal ini. Jauh sebelum organisasi Green Peacemeneriakan peringatan, jauh sebelum berbagai konvensi pelestarian alam digagas, Allah SWT. Telah memperingatkan hal ini.
Kurang lebih seribu empat ratus tahun yang lalu, tepatnya ketika Al-Quran diturunkan.
Selain memberikan tuntunan bahwa manusia adalah khalifah yang bertugas menjaga kelestarian bumi, Allah juga memberikan peringatan dan ancaman bagi mereka yang melakukan kerusakan alam. Peringatan itu Allah sampaikan dalam firmannya surah Ar-Rum ayat 41-42:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah dimuka bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang zaman dahulu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah”.(Ar-Rum:41-41).[24]
.
DAFTAR PUSTAKA
bin Gasim Anuz Fariq, Bengkel Akhlak, Jakarta Timur, Darus Sunnah Press, 2009
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam Kelas XI, Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, 2006
Salim Abdullah, Akhlak Islam, Media Dakwah, Jakarta, 1994
[1]Abdullah Salim, Akhlak Islam, Media Dakwah, Jakarta, 1994, hlm. 7
[2]Ibid. Hlm. 155.
[3]Ibid. Hlm. 156
[4]Ibid. Hlm. 157
[5]Ibid. Hlm. 158
[6]Fariq bin Gasim Anuz, Bengkel Akhlak, Jakarta Timur, Darus Sunnah Press, 2009, hlm. 32
[7]Ibid. Hlm. 33
[8]Ibid. Hlm, 34
[9]Ibid. Hlm. 35
[10]Op. Cit. Abdullah Salim, hlm. 114
[11] Hlm. 115
[12]Ibid. Hlm. 116
[13]Ibid. Hlm. 117
[14]Ibid. Hlm. 118
[15] Hlm. 119
[16]Ibid. Hlm. 120
[17]Ibid. Hlm. 122
[18]Ibid. Hlm. 123
[19] Hlm. 123-154.
[20]Ibid. Hlm. 160
[21] Hlm. 160-170.
[22] Hlm. 172.
[24]Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Pendidikan Agama Islam Kelas XI, Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, 2006, hlm. 103
0 Response to "AKHLAK DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT"
Posting Komentar