KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PANDANGAN ISLAM MENGENAI KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN SERTA PANDANGAN ISLAM TENTANG KEHIDUPAN SEKULARISTIK, MATERIALISTIK, DAN HEDONISTIK MANUSIA MODERN


Setiap orang selalu memiliki tujuan dan keinginan ketika hidup di dunia ini sebagai seorang manusia. Yang merupakan tujuan umum dari berbagai keinginan hidup di dunia ini ialah meraih kebahagiaan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai arti kebahagiaan, ada yang berpandangan bahwa bahagia itu ialah hidup nyaman dengan keluarganya, memiliki harta yang melimpah, atau mempunyai kedudukan yang tinggi di mata orang lain, dan masih banyak lagi arti bahagia menurut masing-masing individu manusia. Dalam meraih kebahagiaan itu ada yang menggunakan segala cara untuk meraihnya, baik cara itu merupakan jalan keburukan maupun kebaikan.
Kebahagiaan yang hakiki yang tidak dapat dipandang secara materinya saja, karena kepuasan batin pun merupakan kebahagiaan bagi seseorang. Oleh karena itu, kebahagiaan yang sebenarnya tidak dapat diperoleh dengan cara keburukan karena akan menimbulkan tidak tenangnya batin. Maka jalan menuju kebahagiaan yang hakiki hanyalah dapat diperoleh melalui jalan kebaikan. Karena mayoritas orang sepakat bahwa “perbuatan baik akan menghasilkan hal yang baik pula”.
Untuk mengetahui bagaimana cara menempuh jalan kebaikan untuk memperoleh kebahagiaan yang sesungguhnya tentu diperlukan sebuah panduan atau pegangan untuk mendasarinya. Dalam agama Islam, tentulah yang menjadi pegangannya adalah Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang kemudian kedua pegangan tersebut dijelaskan kembali oleh para ulama sebagai pewaris para nabi. Maka sudah jelaslah bahwa kebahagiaan yang sebenarnya bagi seorang muslim haruslah diperoleh dengan jalan kebaikan yang sesuai dengan pandangan Islam.
Namun, pada kenyataannya pandangan kebahagiaan seorang muslim di era modern mulai berbelok ke arah yang menyimpang karena adanya pemahamanpemahaman yang bersifat keduniaan dan seolah-olah tidak memandang kepada kebahagiaan batiniah. Pemahaman itu diantarnya, yaitu materialistik, sekularistik, dan hedonisme. Cara pandang ini sungguh sangat merugikan bagi seorang muslim, karena memandang bahwa kebahagiaan itu hanyalah di dunia saja dan mengabaikan akhirat. Bahkan pemahaman seperti ini, juga dapat mengantarkan mereka kepada kehilangan keyakinan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Na’udzubillahi min dzalika.
Dikarenakan berbagai aspek di ataslah, maka perlu kiranya penulis dan pembaca mengetahui bagaimana pandangan islam mengenai kebaikan dan kebahagiaan serta pandangan islam mengenai kehidupan sekularistik, materialistik, dan hedonistik manusia modern.
Kebaikan dan Kebahagiaan
Kebaikan berasal dari kata baik (al-khair), yang berarti sesuatu telah mencapai kesempurnaan, sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, membawa kesenangan dan persatuan. Baik juga berarti sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran, nilai yang diharapkan memberikan kepuasan, mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia. Baik disebut juga  mustahab, yaitu amal atau perbuatan yang disenangi. Al-Ghazali menyebutkan, perbuatan dapat dikatakan baik karena adanya pertimbangan akal yang mengambil keputusan secara mendesak, seperti menyelamatkan orang-orang yang menderita kecelakaan.[1]
Menurut Aristoteles, Kebahagiaan dalam bahasa Yunani adalah Eudaimonia. Oleh karena itu etika Aristoteles dinamakan eudemonisme.Sedangkan kebahagiaan menurutnya akan semakin dinikmati apabila kita merealisasikan potensi-potensi kita sebagai manusia. Etika menawarkan kita kepada petunjuk untuk hidup bahagia. Selain itu, kebahagiaan mesti terletak dalam kegiatan yang khas bagi manusia dan itulah kegiatan bagian jiwa yang berakal tinggi. Maka nilai tertinggi, kebahagiaan, tercapai apabila manusia mau menggiatkan akal budi, baik secara murni dalam kontemplasi filosofi, maupun dengan secara aktif melibatkan diri dalam kehidupan komunitas.[2]
Akan dituturkan perbedaan antara kebaikan (al-khair) dan kebahagiaan (alsa’adah), setelah nantinya diutarakan pandangan Aristoteles tentang kebaikan dan kebahagiaan, sebagai rujukan dan untuk menyatakan yang sepatutnya baginya. Begini: kebaikan, menurut dia dan menurut pandangan para pemikir klasik yang dibenarkannya, adalah tujuan tiap sesuatu. Kebaikan merupakan tujuan terakhir. Namun sesuatu yang bermanfaat untuk mencapai tujuan tadi bisa juga kita sebut kebaikan. Kebahagiaan, ia juga merupakan kebaikan dalam kaitannya dengan pemiliknya dan merupakan kesempurnaan bagi pemiliknya. Kebahagiaan manusia tidak sama dengan kebahagiaan kuda; atau kebahagiaan tiap sesuatu terletak pada kelengkapan dan kesempurnaan tiap sesuatu itu. Sedangkan kebaikan, yang di ingini tiap individu adalah obyek yang dapat diupayakan dan ada esensinya; ia adalah kebaikan universal buat manusia. Kebahagiaan adalah kabaikan dalam kaitannya dengan seseorang atau orang lain; ia itu relatif, dan esensinya tak pasti. Ia berbeda menurut orang yang mengupayakannya, tetapi kebaikan mutlak tidak ada perbedaannya.[3]
 Ada kalanya kebahagiaan dianggap dimiliki juga oleh makhluk yang tidak berfikir, kalau memang betul begitu, maka kebahagiaan hanyalah kesiapan makhluk-makhluk tadi untuk mencapai kesempurnaan tanpa dikehendaki dan diupayakan. Kesiapan itu berkaitan dengan kecenderungan , atau katakanlah sama dengan kecenderungan, dalam kasus makhluk berpikir yang menggunakan kehendaknya. Adapun apa yang didapat binatang dari makan, minum, serta istirahatnya, harus kita sebut keberuntungan dan tidak layak disebut kebahagiaan. Begitu juga pada kasus manusia.[4]
 Definisi diatas tentang kebaikan mutlak ini benar, karena akal tidak mungkin menerima upaya atau gerak yang tidak ada akhirnya. Inilah (prinsip) pertama akal. Contohnya: setiap upaya, aspirasi, dan tindakan ikhlas tujuannya adalah kebaikan tententu, dan yang tidak bertujuan ke kebaikan tertentu merupakan kesia-sia belaka. Tentu saja, kebaikan mutlak itu tujuan tiap manusia. Kendati demikian, masih ada lagi persoalan yang harus diketahui: apakah kebaikan mutlak itu, dan bagaimanakah tujuan akhir dari kebaikan mutlak itu- yaitu akhir dari segala kebaikan- dan ini merupakan obyek kita, dan mengarahkan kita kepadanya, sehingga pikiran kita tak terkacaukan oleh banyak kebaikan yang langsung atau tidak langsung membawa kepadanya, hingga kita tak keliru melihat mana yang kebaikan sehingga umur kita tidak terkuras habis untuk mencarinya. Dengan kehendak Allah dan pertolonganNya, akan kami jelaskan hal itu.[5]

Pandangan Islam tentang Kebahagiaan

Dinyatakan orang kepada Yahya bin Khalid Al-Barmaky, seorang Wazir yang masyhur di dalam Daulat Bani Abbas: “Apakah bahagia itu, Tuanku?” jawabnya: “Sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud”. Kebahagiaan itu pernah di nyanyikan oleh seorang ahli syair bernama Hutai’ah, demikian:
“Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu ada mengumpulkan harta benda; tetapi taqwa akan Allah itulah dia bahagia. Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan. Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan pada orang yang taqwa”.
Ahli syair yang lain, yang amat masyhur dalam perkembangan agama Islam, yaitu Zaid bin Tsabit, ahli syair Rasulullah, berkata:
“Jika petang dan pagi seorang manusia telah beroleh aman sentosa dari gangguan manusia, itulah dia orang yang bahagia”.
Orang yang berpegang teguh dengan agama, kebahagiaannya ialah pada meninggalkan barang yang terlarang, mengikuti yang tersuruh, menjauhi yang jahat, mendekati yang baik. Bahagianya ialah pada mengerjakan agama.
Ibnu Khaldun berpendapat: “Bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikut garis-garis yang di tentukan Allah dan peri kemanusiaan”.
Abu Bakar Ar-Razi tabib ‘arab yang mesyhur itu menerangkan bahwa bahagia yang di rasa oleh seorang tabib, ialah jika ia dapat menyembuhkan orang yang sakit dengan tidak mempergunakan obat, cukup dengan mempergunakan aturan makanan saja.
Kesenangan yang bersifat sementara dan relatif singkat adalah kesenangan dalam kehidupan dunia ini, sedangkan kesenangan akhirat itulah yang lebih baik dan lebih kekal dan itulah kebahagiaan sejati. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla sebagai berikut:
قُلۡ مَتَٰعُ ٱلدُّنۡيََا قَلِيلٞ وَٱلأٓۡخِرَةُ خَيۡرٞ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلاَ تُظۡلَمُونَ فَتِيلاً ٧٧
Artinya: Katakanlah: Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”. (Q.S. An-Nisa: 77)
Kesenangan, kepuasan, kegembiraan, ketenangan dan kenikmatan yang di peroleh manusia dalam hidup dunia ini, semua itu terbatas pada suatu batas waktu tertentu:  أَفَرَءَيۡتَ إِِن مَّتَّعۡنَٰهُمۡ سِنِينَ ٢٠٥  ثُمَّ جَآءَهُُم مَّّا كَانُواْ يُوعَدُونَ ٢٠٦ مََآ أَغۡنَىٰ
عَنۡهُُم مَّّا كَانُواْ يُمَتَّعُونَ ٢٠٧
Artinya: “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya”. (Q.S. Asy-Syu’ara: 205-207)
Ayat ini mengungkapkan adanya kesenangan yang relatif sementara. Memang ada kesenangan yang bersifat semu, laksana fatamorgana di gurun pasir merupakan kesenangan yang tidak berfaedah. Sudah tentu bukan kesenangan macam itu yang diharapnya.
Sebagaimana telah diutarakan dalam uraian terdahulu, bahwa berbeda-beda tanggapan dan anggapan manusia mengenai kebahagiaan itu. Segolongan berhasil menemukan kesenangan yang berfaedah tetapi ada pula yang salah pilih dan salah jalan, akibat salah anggapan dan tanggapan. Orang yang tertipu dengan kesenangan yang keliru itu dapat diumpamakan kumbang yang tertarik memandang keindahan sinar lampu di waktu malam. Begitu tertarik melihat lampu dengan sinarnya yang kuning keemas-emasan. Sang kumbang dengan anggapannya sendiri mencoba mendekati lampu dan semakin tertariklah dia. Pada akhirnya dia berusaha menerobos masuk ke dalam api lampu itu, sesuai dengan anggapannya bahwa akan lebih nikmatlah rasanya kalau lebih dekat atau masuk ke dalam lampu itu. Apa yang terjadi? Kumbang hangus terbakar dan tertipu oleh sinar lampu yang menjebaknya dan sekaligus mencelakakannya.[6]
Meskipun nikmat-nikmat Allah itu sudah nyata tidak dapat dihitung, tetapi dapat juga dibagi-bagi dalam garis besarnya kepada 5 bagian sebagaimana pendapat Imam Al-Ghazali, yaitu:
1.      Bahagia akhirat. Itulah bahagia yang baka, tidak ada fana padanya. Disanalah sukacita tidak ada dukacita padanya.
2.      Keutamaan akal budi. Terbagi pula kepada 4 bagian, yaitu: sempurna akal, iffah, syaja’ah, dan al-‘adl.
3.      Keutamaan yang ada pada tubuh. Terbagi pula kepada 4 bagian, yaitu: sehat, kuat, elok, dan umur panjang.
4.      Keutamaan dari luar badan. Terbagi menjadi: kaya dengan harta benda, kaya dengan famili, anak isteri, dan kaum kerabat, terpandang dan terhormat, serta mulia turunan.
5.      Keutamaan yang datang lantaran taufik dan pimpinan Allah. Mengandung perkara-perkara: hidayat Allah (petunjuk), irsyad Allah (pimpinan), tasdid Allah (sokongan), dan ta’jid Allah (bantuan).
Dengan ini nyatalah bahwa ada lima tingkatan dan keutamaan yang harus kita tempuh untuk mencapai mahligai bahagia itu. Yaitu mencapai bahagia akhirat dengan membahagiakan budi, tubuh luar jasad, dan pimpinan. Yang satu bertali dengan yang lain, tidak dapat dipisahkan.[7]
Maka tidaklah susah mencapai bahagia menurut agama kalau telah tercapai 4 perkara, yaitu:
1.      I’tikadnya bersih.
2.      Yakin.
3.      Iman.
4.      Agama.
 Sekularistik Materaliatistik dan Hedonistik
Sekularistik atau dalam pemahamannya disebut Sekularisme. Dalam KBBI versi daring sekularisme berarti paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.[8]Sekularisme memiliki ciri berikut :
a.         Secara sadar mengonsentrasikan atau memusatkan perhatian semata-mata kepada masalah duniawi.
b.        Dengan sadar pula manusia mengasingkan dan menyisihkan peranan agama atau wahyu dan Tuhan dari berbagai segi kehidupan.
Karena peradaban Barat memiliki sifat dan karakter sekuler, sekalipun semua peradaban memiliki otoritas Tuhan yang bersifat metafisik (non-materi).[9]Oleh sebab itu peranan Tuhan “disingkirkan” dari urusan negara, sosial dan peradaban. Dalam peradaban Islam yang menampilkan aqidah Islam, mewakili ideologinya serta jalan pikiran umatnya sejak ia menjadi ruh dalam setiap peradabannya yang mencakup politik, sosial, ekonomi, negara, arsitektur dan lain sebagainya. Khusus prinsip syari’ah bukan ciptaan manusia melainkan ia buatan Tuhan melalui wahyu yang merupakan ajaran yang dianut oleh manusia, bukan ciptaan manusia seperti dalam peradaban Barat hukum sipil (yang berlaku dalam peradaban Barat).[10]
Materialistik merupakan sifat dari pemahaman aliran Materialisme. Materialisme adalah aliran dalam filsafat yang mengatakan bahwa yang paling ada dan selalu benar adalah materi. Manusia adalah materi yang akan hancur, dan setelah itu tidak ada lagi kehidupan baru. Seluruh alam ini merupakan material yang akan hancur dan mengalami perubahan struktur, seperti batu menjadi pasir, pasir menjadi debu, dan debu beterbangan ditiup angin.
Bagi penganut materialisme, akhlak manusia bertujuan mengejar materi karena manusia sangat mementingkan materi yang merupakan unsur dirinya sendiri. Materialisme tidak mempercayai adanya kehidupan setelah dunia karena kehancuran dunia adalah kehancuran materi. Oleh karena itu, tuhan tidak ada, jika yang dimaksudkan bahwa tuhan bukan materi. Kemudian, dari materialisme lahirlah Atheisme.[11][12]
Hedonistik atau yang sering dipahami sebagai aliran hedonisme. Kata hedonisme diambil dari bahasa Yunani, yaitu dari kata hedonismos dari akar kata hedone, artinya kesenangan. Secara umum Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.[13]
Gaya hidup hedonisme adalah suatu  pola hidup yang bertujuan untuk mencari kesenangan hidup dunia, seperti sering keluar rumah, lebih banyak bermain, senang membeli barang mahal yang disenanginya, serta ingin menjadi pusat perhatian.
Hedonisme merupakan sebuah pandangan hidup yang menyatakan bahwa kesenangan adalah segalanya. Padahal kesenangan yang diperoleh  dari hasil hedonisme sendiri hanya menghasilkan kesenangan materi, yaitu sesuatu yang bersifat semu, sesaat dan tidak berlangsung lama, serta kesenangan yang diperoleh tidak akan membuat hati tenang karena selalu digelayuti oleh rasa ingin memiliki sesuatu yang baru lagi dan terus menerus tanpa adanya  rasa puas dan menjadikan kita seseorang yang kurang pandai bersyukur apabila keinginan untuk memiliki sesuatu tidak tercapai.13
Pandangan islam mengenai Sekularistik Materaliatistik dan Hedonistik
Sebenarnya dilihat dari esensinya sekularistik, materialistik, dan hedonistik merupakan suatu pandangan yang sejalan, karena ketiganya berusaha membelakangkan urusan agama dalam rangka memenuhi hawa nafsu manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan melupakan kebahagiaan akhirat. Asy-Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menggambarkan dunia seperti bangunan yang keropos, seperti perkataannya:
وَ إِنَّهُ لاَ بُدَّ لِبَنَاءِ هَذََا الْوُجُوْدِ أَنْ تَنْهَدِمَ دَعَائِمُهُ وَ أَنْ تُسْلَبَ كَرَائِمُهُ
“Sesungguhnya bangunan wujud (dunia) ini, akan rusak binasa sendi-sendinya, dan akan musnah semua kemuliaan (kebesarannya)”.
Itulah dunia, tidak kekal, karena memang sifatnya fana. Kefanaan dunia ini nampak pada sifat-sifatnya, yakni sementara dan cepat rusak, membosankan, kalau tidak suka dibuang, menjadi barang yang tidak berharga, akhirnya tidak disukai lagi dan menjadi tidak berharga lagi. Itulah dunia. Semua yang ada di dalam alam ini adalah barang tontonan, datang lalu pergi, disukai lalu dibenci.[14]
Dalam pandangan Islam, konsep materialistik, hedonistik, dan sekularisme sangatlah bertentangan dengan konsep Islam, karena dapat meruntuhkan aqidah umat Islam dan membawanya kepada pemahaman Atheis yang tak bertuhan. Kecintaan pada dunia dapat mengakibatkan kita lalai dalam mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Maka sebagai seorang muslim janganlah sampai lalai seperti mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman:
وَقَالُواْ مََا هِيَ إِلاَّ حَيَاتُنََا ٱلدُّنۡيََا نَمُوتُ وَنَحۡيََا وَمََا يُهۡلِكُنََآ إِلاَّ ٱلدَّهۡرُۚ وَمََا لَهُُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلاَّ يَظُنُّونَ ٢٤ وَإِذََا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنََا بَيِّنَٰتٖ مَّّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلآَّ أََن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ ابَآئِنََٔابَآئِنَآَآ إِِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ
لاَ رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لاَ يَعۡلَمُونَ ٢٦
Artinya: “Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan: "Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar". Katakanlah: "Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Al-
Jatsiyah: 24-26)
Maka dalam hal ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sikap hedonistik, materialistik, dan sekularistik, antara lain:
1.      Berusaha menguatkan ideologi akidah dengan berpegang teguh kepada   Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2.      Meningkatkan takwa kepada Allah dengan cara memperbanyak amal ibadah serta istiqamah dalam menjalankannya.
3.      Senantiasa bersyukur kepada Allah apabila mendapatkan suatu nikmat.
4.      Menyadarkan diri bahwa materi dunia hanya bersifat sementara dengan memperbanyak sedekah.
5.      Bekerja hanya untuk mecukupi kebutuhan hidup saja, bukan untuk mengejar kehidupan dunia seutuhnya.
6.      Berusaha bersikap zuhud terhadap dunia yang fana ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abas, Zaenal Arifin. Perkembangan Pemikiran Terhadap Agama. Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1984.
Abdillah, M. Yatimin. Pengantar Studi Etika. Jakarta: Raja Grafindo, 2006.
Al Buny, Djamaluddin Ahmad. Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam. Surabaya: Mutiara Ilmu, 2010.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. KBBI Online. Jakarta: Kemdikbud, 2017. (Daring) tersedia di https://kbbi.web.id/sekularisme.html. Diakses pada 24 November 2017.
Hamka. Tasawwuf Modern. Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1970.
Kamal, Zainun. Menuju Kesempurnaan Akhlak. Bandung: Penerbit Mizan, 1999.
Lestari, Diyah Mega. Islam dan Hedonisme. Kreasi Anak Bangsa, 2016. (Daring) tersedia di https://fatonikeren.blogspot.co.id/2016/06/hedonisme.html.
Diakses pada 24 November 2017.
Magnis-Suseno, Frans. Model Pendekatan Etika. Yogyakarta: KANISIUS, 1998.
Saibani, Beni Ahmad dan Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Saibani, Beni Ahmad dan Abdul Hamid. Ilmu Akhlak. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Ya’qub, Hamzah. Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tasawwuf dan Taqarrub). Jakarta: Pustaka Atisa, 1992.
[1] M. Yatimin Abdillah, Pengantar Studi Etika, (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hlm. 97-99.
[2] Frans Magnis-Suseno,  Model Pendekatan Etika, (Yogyakarta: KANISIUS, 1998) hlm. 3537.
[3] Zainun Kamal, Menuju Kesempurnaan Akhlak, (Bandung: Penerbit Mizan, 1999), hlm. 89.
[4] Loc. cit.
[5] Ibid., hlm. 89-90.
[6] Hamzah Ya’qub, Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mukmin (Tasawwuf dan Taqarrub), (Jakarta: Pustaka Atisa, 1992), hlm. 93-94.
[7] Hamka, Tasawwuf Modern, (Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1970), hlm. 41-42.
[8] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, KBBI Online, (Jakarta: Kemdikbud, 2017). (Daring) tersedia di https://kbbi.web.id/sekularisme.html. Diakses pada 24 November 2017.
[9] Zaenal Arifin Abas, Perkembangan Pemikiran Terhadap Agama, (Jakarta: Pustaka AlHusna, 1984), hlm. 39.
[10] Ibid., hlm. 59-60.
[11] Beni Ahmad Saibani dan Abdul Hamid, Ilmu Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm.
[12]-247.
[13] Diyah Mega Lestari, Islam dan Hedonisme, (Kreasi Anak Bangsa, 2016). (Daring) tersedia di https://fatonikeren.blogspot.co.id/2016/06/hedonisme.html. Diakses pada 24 November 2017.
[14] Djamaluddin Ahmad Al Buny, Mutu Manikam dari Kitab Al Hikam, (Surabaya: Mutiara Ilmu, 2010), hlm. 591.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PANDANGAN ISLAM MENGENAI KEBAIKAN DAN KEBAHAGIAAN SERTA PANDANGAN ISLAM TENTANG KEHIDUPAN SEKULARISTIK, MATERIALISTIK, DAN HEDONISTIK MANUSIA MODERN"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!