KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

ALIRAN-ALIRAN KLASIK PENDIDIKAN

 Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan
Manusia merupakan makhluk yang misterius yang mampu menjelajah angkasa luar, tetapi angkasa dalamnya masih belum cukup terungkap. Para pakar dari ilmu-ilmu perilaku cenderung berbeda pendapat tentang berbagai hal mengenai perilaku manusia itu. Terdapat perbedaan penekanan didalam sesuatu teori kepribadian tertentu tentang faktor manakah yang paling berpengaruh (dominan) dalam perkembangan kepribadian.[1]
Perbedaan pandangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pandangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis. Aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja.
Dengan demikian, suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan untuk mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia.[2]

1. Aliran Nativisme
Teori Nativisme berasal dari kata natis = lahir, nativus = kelahiran, pembaharuan. Teori Nativisme menyatakan bahwa perkembangan semata-mata ditentukan oleh pembawaan yaitu pembawaan yang dibawa sejak lahir. Teori ini dipelopori oleh Schopenhauer (seorang filosofi Bangsa Jerman). Bersama dengan tokoh lainnya, Schopenhauer berpendapat bahwa seluruh perkembangan manusi ditentukan oleh potensi-potensi yang dimilikinya sejak lahir.[3]
Jika pembawaan pandai akan menjadi manusia yang pintar dan jika pembawaannya bodoh, maka akan menjadi bodoh. Perkembangan manusia bukan dipengaruhi oleh orang lain, lingkungan, budaya, dan termasuk pendidikan. Perkembangan manusia telah ada bersama pembawaan sejak lahir. Teori Nativisme menafikan pengaruh interaksi individu dengan lingkungannya.[4]
Lingkungan tidak berpengaruh apa-apa dalam perkembangan manusia, apa yang dikerjakan, apa yang diucapkan, dan apa yang dipikirkan merupakan kecakapan yang dibawa sejak lahir. Proses kehidupan manusia tergantung dengan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi nativisme tidak menjelaskan bagaimana seseorang lahir dengan membawa potensi, apakah potensi itu mempunyai hubungan sangat erat denan kondisi orang tua atau tidak, selama ini tidak pernah ada penjelasan. Apabila orang tua mempunyai IQ tinggi atau mempunyai IQ rendah akan dapat berpengaruh kapada anaknya. Dalam beberapa penelitian menyimpulkan bahwa anak sangat dipengaruhi oleh keadaan orang tua, baik keadaan fisik, psikis maupun sosial-ekonominya.[5]
Jadi kesimpulannya: bahwa perkembangan manusia dalam hidup bermasyarakat itu tergantung kepada pembawaan, sehingga pengaruh dunia sekitar sedikit sekali. Orang akan menjadi ahli agama, pelukis, guru dan lain-lainnya itu semuanya semata-mata karena pembawaan, karena lingkungan/pendidikan.[6]
2. Aliran Naturalisme
Naturalisme berasal dari bahasa latin dari kata nature artinya alam, tabiat dan pembawaan. Aliran ini juga dinamakan negativisme ialah aliran yang meragukan pendidikan buatan untuk perkembangan seseorang karena dia dilahirkan dengan pembawaan yang baik. Menurut Purwanto aliran naturalisme adalah pada hakikatnya semua anak (manusia) sejak dilahirkan adalah baik. Bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh pendidikan itu baik, akan menjadi baiklah ia, akan tetapi jika pengaruh itu jelek, akan jelek pula hasilnya.[7]
Pelopor aliran ini adalah J.J Rousseu, seorang naturalis filosof bangsa Perancis yang hidup dalam tahun 1712-1778. Dia berpendapat bahwa semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari tangan Sang Pencipta, tetapi semua menjadi rusak di tangan manusia. Oleh karena itu sebagai pendidik, Rousseau mengajukan “Pendidikan Alam” artinya anak hendaklah dibiarkan tumbuh berkembang sendiri menurut alamnya, tanpa campur tangan manusia dan masyarakat.[8]
Naturalisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran (M. Arifin dan Aminuddin R, 1992: 9) yaitu:
a.       Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi anatara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan didalam dirinya secara alami.
b.      Pendidikan hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak didik kearah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar terletak pada diri anak didik sendiri.
c.       Program pendidikan disekolah harus disesuaikan dengan minatdan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik. Anak didik secara bebas di beri kesempatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sendiri sesuai dengan minat dan perhatiannya.
Dengan demikian, aliran naturalisme menitikberatkan pada strategi pembelajaran yang bersifat Paedosentris artinya faktor kemampuan individu anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar mengajar.[9]

         3. Aliran Empirisme
Empirisme berasal dari kata empiris = pengalaman. Teori empirisme mempunyai makna bahwa perkembangan anak itu semata-mata tergantung kepada faktor lingkungan saja.[10]
Teori Empirisme dipelopori oleh John Locke (1632-1704) yang menyatakan bahwa bayi ketika lahir ibarat kertas yang masih putih bersih, dan akan tumbuh dan berkembang. Seorang anak sangat tergantung pengaruh dari luar yang datang. Jadi perkembangan anak sepenuhnya tergantung pada faktor lingkungan, sedangkan pembawaan tidak ada pengaruhnya.[11]
Dengan asumsi demikian, perkembangan baik buruknya anak ditentukan hanya oleh faktor lingkungan. Jadi lingkungan hidup anak adalah faktor terpenting yang membentuk kepribadian anak, akan menjadi apa orang itu kelak, sepenuhnya tergantung pada pengalaman-pengalaman apa yang akan mewarnai kertas putih itu.[12]
Dasar yang dipakai aliran Empirisme adalah bahwa bayi pada saat dilahirkan dalam keadaan putih bersih seperti kertas putih yang belum ditulisi, sehingga akan ditulisi apa tergantung pada penulisnya. Hal ini berarti, baik dan buruknya pendidikan yang diterimanya.[13]
Tokoh empirisme lainnya, John B. Watson (1908-1920) terkenal dengan semboyannya: “Berikan kepadaku sepuluh orang anak, akan kujadikan kesepuluh orang anak itu masing-masing menjadi pengemis, pedagang, sarjana dan sebagainya sesuai dengan kehendakku”. Menurut Watson, karena jiwa manusia waktu lahir bersih, maka kepada manusia itu diberikan lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang diperlukan untuk menjadikan sesuai dengan yang dikehendaki.[14]
Menurut Jean Jaques Raesseau (1712-1778) bahwa manusia itu pada dasarnya baik sejak ia dilahirkan. Jadi kalau ada manusia yang jahat bukan karena benihnya, tetapi dikembangkan setelah ia lahir, yakni setelah ia hidup di masyarakat dan setelah terpengaruh oleh lingkungan serta kebudayaan. Menurut H. Sun Tzu(289-230 SM) bahwa manusia pada dasarnya jahat, akan tetapi untunglah manusia juga cerdasdan dengan kecerdasannya ia dapat mengolah kebaikan yang ada pada dirinya. Ia menjadi manusia yang baik bukan karena benihnya, tetapi karena hidup dan bergaul dengan masyarakat.[15]
Aliran Empirisme ini ternyata tidak dapat menjawab masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat. Hal ini dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya perlakuan dalam proses pendidikan yang kita ajarkan kepada murid satu kelas, dengan lingkungan yang sama tetapi tingkat pemahaman anak terhadap materi berbeda-beda.[16]
Aliran Empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan, sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Padahal, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung.[17]

        4. Aliran Konvergensi
Teori ini dipelopori oleh William Lois Stern yang merupakan perpaduan antara teori empirisme dan teori nativisme. Teori konvergensi ini menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia tergantung pada dua faktor, yaitu: bakat atau pembawaan dan lingkungan atau sekolah. Teori ini mengakui bahwa manusia lahir telah membawa bakat atau potensi-potensi dasar yang dapat dikembangkan.[18]
Menurut aliran ini hereditas tidak akan berkembang secara wajar, apabila tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan, sebaliknya rangsangan dari faktor lingkungan tidak akan membina perkembangan tingkah laku anak yang ideal, tanpa dipengaruhi oleh faktor hereditas.[19]
Proses pengembangan sangat tergantung pada lingkungan masyarakat dan sekolah. Misalnya seseorang yang lahir dengan membawa potensi cerdas akan bisa menjadi cerdas apabila dikembangkan, baik melalui pendidikan masyarakat maupun pendidikan sekolah (formal). Akan tetapi, potensi cerdas tersebut akan tetap ada pada diri manusia dan tidak berkembang apabila tidak bergaul dan hidup dengan masyarakat dan sekolah.[20]
Beberapa percobaan untuk memperkuat teori tersebut yaitu: (1) dua anak kembar identik, mempunyai bakat yang hampir sama, didikan dan dibesarkan dalam keluarga dengan lingkungan yang berbeda, akan memiliki sifat-sifat yang berbeda juga; (2) seorang dengan taraf kecerdasan yang tergolong terbelakang, diberi didikan yang sistematis untuk menguasai pelajaran-pelajaran sampai akhir percobaan.
Kedua percobaan diatas menunjukkan bahwa lingkungan ada pengaruhnya terhadap perkembangan seseorang. Pada intinya bahwa lingkungan dan pembawaan sama-sama berpengaruh terhadap perkembangan seseorang.[21]

         Pengaruh Aliran Klasik Terhadap Pemikiran dan Praktik Pendidikan
Aliran-aliran klasik pendidikan yang klasik mulai dikenal di Indonesia melalui upaya-upaya pendidikan, utamanya persekolahan, dari penguasa penjajah Belanda dan di susul kemudian oleh orang-orang Indonesia yang belajar dinegeri Belanda pada masa penjajahan.[22]
Setelah kemerdekaan Indonesia gagasan-gagasan dalam aliran pendidikan itu masuk ke Indonesia melalui orang-orang Indonesia yang belajar diberbagai Negara di Eropa, Amerika Serikat, dan lain-lain. Seperti diketahui, sistem persekolahan diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda di indonesia, sebelum masa itu pendidikan di Indonesia terutama oleh keluarga dan oleh masyarakat (kelompok belajar padepokan, lembaga keagamaan/pesantren dan sebagainya).
Meskipun dalam hal-hal tertentu sangat diutamakan bakat dan potensi lainnya dari anak (umpama bidang kesenian, keterampilan dan sebagainya), namun upaya penciptaan lingkungan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan itu diusahakan pula secara optimal.
Dengan kata lain, meskipun peranan pandangan empirisme dan nativisme tidak sepenuhnya ditolak, tetapi penerimaan itu dilakukan dengan pendekatan selektif fungsional yakni diterima sesuai dengan kebutuhan, namun ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi.[23]
Seperti telah dikemukakan tumbuh-kembang manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan itu sendiri dan anugerah. Faktor terakhir itu merupakan pencerminan pengakuan atas adanya kekuasaan yang ikut menentukan nasib manusia.[24]

         Gerakan Baru Dalam Pendidikan Dan Pengaruhnya
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang kompleks menuntut penanganan untuk meningkatkan kualitasnya, baik yang bersifat menyeluruh maupun pada beberapa komponen tertentu saja. Beberapa dari gerakan-gerakan baru tersebut memusatkan diri pada perbaikan dan peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar pada sistem persekolahan, seperti pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, pengajaran proyek, dan sebagainya.[25]
Telah dikemukakan bahwa gerakan baru dalam pendidikan tersebut terutama berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar disekolah, tetapi dasar-dasar pemikirannya tentulah menjangkau semua segi dari pendidikan, baik aspek konseptual maupun operasional. Sebab itu, mungkin saja gerakan-gerakan itu tidak diadopsi seutuhnya disuatu masyarakat atau negara tertentu tetapi asas pokoknya menjiwai kebijakan-kebijakan pendidikan dalam masyarakat atau negara itu.
Sebagai contoh yang telah dikemukakan pada setiap paparan tentang gerakan itu, untuk Indonesia, seperti muatan lokal dalam kurikulum untuk mendekatkan peserta didik dengan lingkungannya, berkembangnya sekolah kejuruan, pemupukan semangat kerja sama multi disiplin dalam menghadapi masalah, dan sebagainya.
Akhirnya, perlu ditekankan lagi bahwa kajian tentang pemikiran-pemikiran pendidikan pada masa lalu akan sangat bermanfaat untuk memperluas pemahaman tentang seluk beluk pendidikan, serta memupuk wawasan historis dari setiap tenaga kependidikan. Kedua hal itu sangat penting karena setiap keputusan dan tindakan dibidang pendidikan, termasuk dibidang pembelajaran akan membawa dampak bukan hanya pada masa kini tetapi juga masa depan. Oleh karena itu, setiap keputusan dan tindakan itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.[26]








[1] Abdul Rahmat, Pengantar Pendidikan,(Bandung: MQS Publishing, 2010),hlm.152
[2] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.153
[3] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.4-5
[4] Moh. Padil Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan,(Yogyakarta: UIN-Maliki Press Anggota IKAPI, 2010),hlm.74
[5] Moh. Padil Triyo Supriyatno,Ibid,hlm.75
[6] Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan,(Jakarta: Rineka Cipta, 2015),hlm.292
[7] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.5
[8] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.5-6
[9] Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan,(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017),hlm. 53
[10] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.6
[11] Moh. Padil Triyo Supriyatno,Ibid,hlm.75
[12] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.6
[13] Moh. Padil Triyo Supriyatno,Ibid,hlm.75
[14] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.6
[15] Moh. Padil Triyo Supriyatno,Ibid,hlm.76
[16] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.6-7
[17] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.154
[18] Moh. Padil Triyo Supriyatno,Ibid,hlm.77
[19] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.7
[20] Moh. Padil Triyo Supriyatno,Ibid,hlm.77
[21] Nanang Purwanto, Ibid,hlm.7
[22] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.160
[23] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.160
[24] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.161
[25] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.162
[26] Abdul Rahmat,Ibid,hlm.170

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "ALIRAN-ALIRAN KLASIK PENDIDIKAN"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!