KONSEP PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT
A. Pengertian Pendidikan Sepanjang Hayat
Pendidikan sepanjang hayat adalah sebuah konsep pendidikan yang menerangkan tentang keseluruhan peristiwa kegiatan belajar mengajar dalam proses pembinaan kepribadian yang berlangsung secara berkelanjutan dalam keseluruhan hidup manusia. Proses pembinaan kepribadian memerlukan rentang waktu yang relatif panjang, bahkan berlangsung seumur hidup.Pendidikan seumur hidup, yang disebut dengan Life Long Educationadalah pendidikan yang menekankan bahwa proses pendidikan berlangsung terus menerus sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia, baik dilaksanakan di jalur pendidikan formal, non formal maupun informal.[1]
Di dalam UU Nomor 20 tahun 2003, penegasan tentang pendidikan sepanjang hayat, dikemukakan dalam pasal 13 ayat (1) yang berbunyi: "Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya". Jadi dapat pula dikatakan bahwa pendidikan dapat diperoleh dengan 2 jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan di luar sekolah.[2]
Menurut Prof. ProopettLodge, seorang pakar pendidikan kontemporer. Life Long Education, and education is life secara sederhana diartikan, hidup ini adalah proses pendidikan, dan pendidikan itu sendiri adalah kehidupan.[3]
B. Alasan Keadilan dalam Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat
Menurut Lengrand (1970, hal. 26-27) umpamanya, telah menunjukkan adanya desakan sosial yang kuat dalam dunia kerja sekarang yang mendorong seluruh masyarakat dan strata setiap masyarakat agar memiliki kesempatan sepenuhnya untuk merealisasikan potensi mereka, dan persamaan jalan untuk memperoleh keuntungan sosial, ekonomi, dan politik. Tekanan terhadap persamaan pendidikan bukanlah hal baru, tetapi diterapkan dengan kekuatan yang diperbaharui dalam masyarakat yang sangat maju seperti Amerika Serikat (Coleman, 19 96; Jencks, 1972).[4]
Pendidikan sepanjang hayat akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Pada dasarnya semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).[5]
C. Alasan Ekonomi dalam Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat
Pendidikan merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu lingkaran yang menyeret kepada kebodohan dan kemelaratan. Pendidikan seumur hidup memungkinkan seseorang untuk meningkatkan produktivitasnya, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya, dan memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan.[6]
D. Alasan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dalam Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat
Di era globalisasi sekarang ini kita dituntut agar selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilan. Jika hal ini tidak dilakukan, maka kita akan senantiasa tertinggal sebab bagaimanapun orang tidak bisa menutup diri terhadap segala kemajuan yang ada.[7]
E. Alasan Sifat Pekerjaan dalam Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat
Kenyataan sekarang menunjukkan bahwa perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) di satu sisi dalam skala besar yang telah menyita pekerjaan tangan yang diganti dengan mesin, tetapi tidak dapat dipungkiri di sisi yang lain juga memberi andil kepada munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang menyerap banyak tenaga kerja dan munculnya cara-cara baru dalam memproses pekerjaan. Akibatnya pekerjaan menuntut persyaratan kerja yang selalu saja berubah.[8]
F. Implikasi Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat
1. Implikasi Pada Program-program Pendidikan
a. Pendidikan Baca Tulis
Pengetahuan-pengetahuan baru bisa diperoleh terutama melalui bacaan, bagi anak didik secara fungsional diberikan kecakapan membaca, menulis, dan menghitung. Untuk mengembangkan kecakapan lebih lanjut terhadap apa yang telah dimilikinya diberikan atau disediakan bahan bacaan.[9]
b. Pendidikan Kejuruan
Dengan majunya teknologi dan industrialisasi maka pendidikan kejuruan itu tidak boleh dipandang sekali jadi dan selesai. Program pendidikan yang bersifat remidial dan para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga terampil dan produktif harus terus menerus menyesuaikan kemajuan teknologi mutakhir.[10]
c. Pendidikan Profesional
Para profesional perlu mengikuti perubahan dan sikapnya terhadap profesinya masing-masing. Hal ini merupakan realisasi dari pada pendidikan seumur hidup.[11]
d. Pendidikan ke Arah Perubahan dan Pengembangan
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengaruhnya telah menyusup dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Barang-barang elektronik telah menggantikan alat dapur yang tradisional bagi kalangan ibu rumah tangga.[12]Pendidikan bagi sepanjang hayat dilakukan agar masyarakat mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan yang ada.
e. Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik
Dalam pemerintahan dan masyarakat yang demokratis, maka kedewasaan warga negara dan para pemimpinnya dalam kehidupan bernegara sangat penting. Untuk itu pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik itu merupakan bagian penting dari pendidikan sepanjang hayat.[13]
f. Pendidikan Kultural dan Pengisian Waktu
Seseorang yang disebut terpelajar harus memahami dan menghargai nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah, kesastraan, pandangan hidup, dan kesenian dari bangsanya sendiri. Pengetahuan terhadap nilai-nilai tersebut di samping memperkaya khazanah hidupnya, juga memungkinkan untuk mengisi waktu luangnya yang lebih menyenangkan. Atas dasar itu semua maka pendidikan kultural dan pengisian waktu luang secara konstruktif merupakan bagian dari pendidikan sepanjang hayat.[14]
2. Implikasi Pada Sasaran Pendidikan
a. Para Petani
Di negara yang sedang berkembang para petani ini merupakan golongan penduduk yang terbesar. Biasanya cara hidup mereka masih tradisional dan masih percaya mitos-mitos dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh dasar pendidikan yang rendah, atau mungkin sama sekali tidak memperoleh pendidikan formal. [15]
b. Para Remaja yang Putus Sekolah
c. Para Pekerja yang Berketerampilan
Supaya dapat menghadapi setiap tantangan masa depan mereka hendaknya diberikan program pendidikan kejuruan dan teknik, yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka miliki.[17]
d. Para Teknisi dan Golongan Profesional
Pada umumnya golongan ini menduduki posisi penting dalam masyarakat. Golongan ini sangat menentukan berhasil tidaknya pembangunan. Untuk selalu menambah dan memperbaharui pengetahuan dan keterampilan maka program pendidikan sepanjang hayat sangat penting baginya.[18]
e. Para Pemimpin Masyarakat
Hendaknya mereka ini mampu memadukan antara pengetahuan dengan berbagai keahlian di samping harus selalu memperbaharui sikap dan gagasannya, sesuai dengan kemajuan dan pembangunan.[19]
f. Para Anggota Masyarakat yang Sudah Tua
Karena pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak pengetahuan yang belum mereka ketahui pada waktu masih muda. Jumlah mereka makin lama makin bertambah besar, karena bertambah panjangnya usia rata-rata manusia.[20]
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2015. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Cropley, A. J.. 1973. Disunting Oleh M. Sardjan Kadir, Pendidikan Seumur Hidup Suatu Analisis Psikologis. Surabaya: Usaha Nasional.
Departemen Agama RI. 2006. Undang-Undang dan Peraturan tentang Pendidikan.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI.
Hasbullah. 2013. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press.
Kafurienda, Maris ”Alasan-Alasan Munculnya PSH”, http://mariskafurienda.blogspot.co.id/2012/11/alasan-alasan-munculnya-psh.html, 2018.
Mu’arif. 2005. Wacana Pendidikan Kritis. Jogjakarta: IRCiSoD.
Mudyahardjo, Redja. 2003. Pengantar Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
[1] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 31.
[2]Departemen Agama RI, Undang-Undang dan Peraturan tentang Pendidikan, (Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006), hlm. 13.
[1] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 31.
[2]Departemen Agama RI, Undang-Undang dan Peraturan tentang Pendidikan, (Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, 2006), hlm. 13.
[3]Mu’arif, Wacana Pendidikan Kritis, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2005), hlm. 121.
[4] A. J. Cropley, Disunting Oleh M. Sardjan Kadir, Pendidikan Seumur Hidup Suatu Analisis Psikologis, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hlm. 33.
[5] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), hlm. 67-68.
[4] A. J. Cropley, Disunting Oleh M. Sardjan Kadir, Pendidikan Seumur Hidup Suatu Analisis Psikologis, (Surabaya: Usaha Nasional, 1973), hlm. 33.
[5] Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), hlm. 67-68.
Maret 2018 pukul 20.50
[9] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, op. cit, hlm. 237.
[12] Loc. cit.
[13] Loc. cit.
[14] Loc. cit.
[16] Loc. cit.
[17] Loc. cit.
[19] Loc. cit.
[20]Loc. cit.
0 Response to "KONSEP PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT "
Posting Komentar