KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

ALIRAN EMPIRISME


1.      ALIRAN EMPIRISME
A.    Pengertian Empirisme
Menurut istilah, empirisme berasal dari kata Yunani, emperiayang berarti pengalaman inderawi. Karenanya empirismes memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan yang dimaksudkan ialah pengalaman lahiriah dan batiniah yang berarti coba – coba atau pengalaman.
Empirisme adalah salah satu aliran dalam filsuf yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan perana akal. Sebagai suatu doktrin, Empirisme adalah lawan Rasionalisme[1].
Penganut Empirisme berpandangan bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan bagi manusia yang mendahului rasio. Tanpa pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu. Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa, tanpa pengalaman, rasio, hanyalah khayalan belaka.[2]
Akal merupakan sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil – hasil pengindraan. Hal ini berarti semua pengetahuan manusia betapa pun rumitnya dapat dilacak kembali sampai pada pengalaman – pengalaman indrawi yang telah tersimpan rapi di dalam akal. Jika terdapat pengalaman yang tidak tergali oleh daya ingat akal, itu merupakan kelemahan akal, sehingga hasil  pengindraan yang menjadi pengalaman manusia tidak lagi dapat diaktualisasi. Dengan demikian, bukan lagi sebagai ilmu pengetahuan yang faktual.[3]
B.     Unsur – Unsur Empirisme
unsur – unsur empiris. Tugas ilmu ialah menjelaskan peristiwa – peristiwa, proses – proses, atau fenomena aktual di alam; dan tidak ada sistem ide – ide teoretis, istilah – istilah teknis, dan prosedur – prosedur matematis atau prosedur – prosedur matematis semata yang patut disebut ilmiah jika ia tidak bertarung dengan fakta – fakta empiris itu pada titik tertentu dan dengan cara tertentu membantu membuatnya lebih dapat dipahami. Di satu sisi, fakta – fakta yang sedang digarap mungkin diperoleh dengan menggunakan metode – metode pengamatan yakni, dengan cara melaporkannya sebagaimana adanya dan ketika terjadi secara alamiah, tanpa menggunakan cara – cara khusus apa pun untuk mempengaruhi peristiwa – peristiwanya.[4]
Di tempat kedua terdapat unsur – unsur konseptual. Setiap ilmu menggunakan absraksi – absraksi terminologi dan tekhnik – tekhnik penafsiran dan penjelasan ciri khasnya sendiri, yang jenis –jenisnya bisa sangat berbeda. Mereka bisa saja berupa tipe – tipe ideal, seperti dalam teori gas dan bagian – bagian sosiologi; prinsip – prinsip konservasi, seperti di dalam dinamika dan energetika; taksa, seperti di dalam sistematika biologis; partikel – partikel atau unsur – unsur pokok seperti di dalam genetika.[5]

C.    Tokoh – Tokoh Empirisme
a.       Thomas Hobbes
Tokoh ini dilahirkan sebelum waktunya ketika ibunya tercekam rasa takut oleh ancaman penyerbuan armada Spanyol ke Inggir[6]
Karya utamanya adalah Leviathan (1651), mengekspresikan pandangannya tentang hubungan antara alam, manusia dan masyarakat[7]. Sebagaimana umumnya penganut empirisme, Hobbes beranggapan bahwa pengalaman merupakan permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain daripada semacam perhitungan, yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama dengan cara berlainan. Tentang dunia dan manusia, ia dapat dikatakan sebagai penganut materialistis. Karena itu Hobbes merupakan sistem materialistis yang pertama dalam sejarah modern.[8]
Filsafat Hobbes mewujudkan suatu sistem yang lengkap mengenai keterangan tentang “yang ada” secara mekanis. Dengan demikian ia merupakan seorang materialis di bidang ajaran tentang antropologi, serta seorang absolutis di bidang ajaran tentang negara.[9]

b.      John Locke
John Locke (1632 – 1704), salah seorang penganut Empirisme, yang juga “Bapak Empirisme”[10]
Locke hendak menyelidiki kemampuan pengetahuan manusia, sampai kemanakah ia dapat mencapai kebenaran dan
bagaimanakah mencapainya itu. ia mempergunakan istilah sensation dan reflection. Reflection itu pengenalan intuitif serta memberi pengetahuan lebih penuh daripada sensation. Sensation merupakan suatu yang mempunyai hubungan dengan dunia luar tetapi . Tiap-tiap pengetahuan itu terjadi dari kerjasama antara sensation dan relection. Relaction itu pengenalan intuitif serta memberi pengetahuan kepada manusia lebih baik, lebih penuh dari pada sensation. Sensation merupakan suatu yang mempunyai hubungang dengan dunia luar, tetapi tak dapat meraihnya dan tak dapat juga suatu pengetahuan. Tiap – tiap pengetahuan itu terjadi dari kerjasama antara sensation dan relaction. Tetapi harus dimulai dari sensation, sebab jiwa manusia waktu itu dilahirkan merupakan yang putih bersih, tabula rasa, tak ada bekal dari siapapun yang merupakan ideae innatae.[11]
Salah satu pemikiran Locked yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat adalah teori tabulas ras (manusia lembaran kertas putih) dan isinya berasal dari pengalaman pribadi[12].
c.       David Hume
David Hume (26 April 1711 – 25 Agustus 1776) adalah filsuf Skotlandia, ekonom, dan sejarahwan. Dia dimasukan sebagai salah satu figur paling penting dalam filosofi barat dan pencerahan Skotlandia . walaupun kebanyakkan ketertarikkan karya Hume berpusat pada tulisan filosofi, sebagai sejarahwan dia mendapat pengakuan dan penghormatan. Karyanya The Story of England merupakan karya dsar dari sejarah inggris untuk 60 atau 70 tahun sampai Karya Macauly.
d.      Sir Francis Bacon
Sir Francis Bacon, viscount St Alban pertama (lahir pada tanggal 22 Januari 1561 dan wafat 9 April 1626) adalah seorang filsuf, negarawan, dan penulis Inggris. Ia dikenal sebagai pencetus pemikiran empirisme yang mendasari sains hingga saat ini[13]. Tulisan dan pemikirannya mempengaruhi pada eksperimen yang dikenal juga sebagai “Metode Bacon”.
Pada masa akhir hidupnya, Bacon melakukan suatu percobaan untuk mengawetkan makanan dengan menggunakan salju. Akibat percobaan tersebut, ia menderita brokitis yang kemudian merenggut nyawanya[14].


2.      ALIRAN RASIONALISME
A. Pengertian Rasionalisme
Secara etimologis rasionalisme berasal dari kata bahasa inggris rationalism.[15]Kata ini berakar dari kata bahasa latin ratio yang berarti “akal”.[16]Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budia (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atas unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamata iderawi.[17]Dalam rasio terdapat ide – ide dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas diluar rasio.[18]
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika dan analisis berdasarkan fakta, daripada melalui iman, bokma, pelajaran agama.
Keyakinan  yang tak tergoyah kan pada akal manusia dinamakan rasionalisme.rasionalis adalah sesesorang yang percaya bahwa akal manusia merupakan sumber utama pengetahuan kita tentang dunia[19].
            Rasionalisme merupakan suatu aliran yang menyatakan bahwa akal pikiran merupakan dasar untuk mengetahui sesuatu, bahkan akal pikiran itu merupakan petunjuk bagi manusia untuk dapat sampai kepada realitas yang sebenarnya dari kebaikan etis. Didalam filsafatnya rasionalisme juga menganggap bahwa akal merupakan alat untuk mencapai pengetahuan yang metafisis[20].
            Karena hanya rasio yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut RasionalismeI. Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran Rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir, akhlak manusia yang benar adalah yang didasarkan pada rasio, bukan pada pengalaman.[21]
B. Bentuk – Bentuk Rasionalisme
            Dalam pandangan  ini minat-minat rasional yang fisuf terhadap ilmu dibatasi hanya pada fase trakhir pembenaran. Semua pertanyaan tentang tahap-tahap yang lebih awal yakni, tentang penemuan adalah masalah-masalah psikologi belaka, buka filsafat yang serius. Seperti yang diungkapkan oleh satu epigram yang diterima luas.”tak ada logika penemuan”, dan pembedaan ini memberikan persamaan rasionalitas di dalam logikalitas tampaknya tidak mengesahkan semua pertanyaan tentang rasionalitas langkah-langkah pendahuluan dengan nama seorang ilmuan tiba pada sebuah penemuan [22].

 C. Tokoh – Tokoh Rasionalisme
a.      Rene Descartes
            Filsut yang pertama adalah Rene Descartes (31 Maret 1596 – 11 februari 1650)[23]adalah seorang filsuf Perancis, matematikawan. Fisikawan dan penulis[24]. Dia dijuluki “Bapak Filsafat Modern” dengan konsep skeptisisme[25], karena ia berperan besar dalam membangun sistem pertama filsafat modern. Selain itu dia juga dinobatkan sebagai bapak geometri analitis karena sumbangannya yang penting terhadap ilmu aljabar dan karena penemuannya tentang sistem kordinat Cartesiun[26]. Descartes adalah seorang tokoh besar pada abad ke 17 sebagai seorang filsuf rasionalisme yang menyangsikan segala sesuatu untuk menemukan sebuah kebenaran, dia bukan panganut skeptisme yang menyangsikan segalanya, tetapi dia hanya sangsi pada sisi metodis saja[27].
b.      Gottfried Wilhelm Liebniz
            Liebniz dilahirkan pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M[28]. Metefisikannya adalah ide tentang subtansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Metafisika Liebniz sama – sama memusatkan perhatian pada subtansi.
c.      De Spinoza
            De Spinoza (1632 – 1677) lahir di Amsterdam[29], menurut dia alam semesta ini mekanisme dan keseluruhannya bergantung kepada sebab. Dengan pembahasan yang sama De Spinoza berpandangan tentang subtansi itu hanya satu yaitu, Allah. Meliputi dunia dan manusia. Maka kemudian tokoh ini disebut Panteisme (Allah disamakan dengan segala sesuatu yang ada)[30].
Dalam perkembangannya rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, masing – masingnya dengan ajaran – ajaran yang khas, namun tetap dalam satu koridor yang sama. Pada abad ke 17 terdapat beberapa tokoh kenamaan seperti Nicolas Malerbranhce (1638 – 1775), ristian Wolf (1679 – 1754) dan Blaise Pascal (1623 – 1662)[31]. Dalam pemikiran Pascal berbeda dengan Descartes yang terutama dalam penerimaan ilmu pasti sebagai sesuatu yang lebih penting dari pada akal (reason) yakni hati, akal hanya menghasilkan pengetahuan yang dingin, sedangkan hati memberikan pengetahuan dimana cinta juga mempunyai perana[32].
       





[1] Ahmad Syadali, 2004, hlm 116
[2] Beni Ahmad Saebani, Ilmu Akhlak,(Bandung, PUSTAKA SETIA, 2012), hlm 253
[3] Loc.it
[4] Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009, hlm 129
[5] Ibid.hlm 131
[6] Juhaya S Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika, Prenada Media, Jakarta, 2008, hlm 105
[7] Juhaya S Praja. Op.cit’hlm 106
[8] Loc.cit
[9] Ibid hlm 107
[10] Beni Ahmad Saebani. Op.cit’hlm 253
[11] Ibid, hlm. 105
[12] Ibid, hlm 106
[13] Buckingham, The Philosophy Book,2010.
[14] Loc.it
[15] Loren Bagus, kamus fisafat, (Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002) hlm. 929
[16] Ibid, hlm 929
[17] Ibid, hlm 30
[18] Juhaya S Praja. Op.cit’hlm 92
[19] Jostein Gaaerder, Dunia Shopie, (Bandung,, Mizan)
[20] Erome R. Ravertz,filsafat Ilmu(Yogyakarta:pustakabelajar 2004), hlm 159
[21] Beni Ahmad Saebani. Op.cit’hlm 252
[22] Erome R. Ravertz. Op.cit’ hlm 162
[23] Juhaya S Praja. Op.cit’hlm 92
[24] Tim Kanisius, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm 110
[25] Baqir ash Sadr, FalsafatunaI, (Bandung: Mizan, 1999), hlm 67
[26] Ibid, hlm 92
[27] Tim Kanisius. Op.cit, hlm 112
[28] Ibid, hlm 103
[29] Juhaya S Praja. Op.cit’hlm 103
[30] Ibid, hlm 102
[31] Ibid, hlm 102 – 103
[32] Ibid, hlm 95

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "ALIRAN EMPIRISME"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!