HUKUM RAA DAN LAM
A. Hukum Lam Ta’rif
Lam Ta’arif (ال) adalah Lam yang masuk pada kata benda (Isim) dan didahului oleh Hamzah Washol. Hukum Lam Ta’arif membahas tentang Alif Lam (ال) ketika menghadapi huruf Hijaiyyah, baik yang tergolong huruf-huruf Qomariyyah maupun huruf-huruf Syamsiyyah. Hukum Lam Ta’arif ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Alif Lam Qomariyyah
Alif Lam Qomariyyah disebut juga Izh-har Qomariyyah (الاظهارقمرية)Hukum Alif Qomariyyah terjadi apabila Alif Lam bertemu dengan salah satu huruf Qomariyyah. Qomariyyah diambil dari kata Qomar (قمر) yang berarti bulan, karenanya, Alif Lam Qomariyyah harus dibaca dengan jelas dan terang, laksana memandang bulan. Disebut juga Izh-har Qomariyyah, karena Alif Lam menghadapi huruf-huruf Qomariyyah yang harus dibaca Izh-har atau jelas.
Dalam hal penulisan, hukum Alif Lam Qomariyyah memakai sukun pada huruf lamnya sebagai tanda bahwa huruf tersebut dibaca dengan terang dan jelas.[1]
Huruf Qomariyyah seluruhnya berjumlah 14 huruf, yaitu:[2]
ء,ب,غ,خ,ج,ك,و,ح,ف,ع,ق,ي,م,ه
Huruf-huruf Qomariyyah seluruhnya terkumpul dalam kalimat:
اِبْغِ حَجَّكَ وَخَفْ عَقِيْمَة
“Sempurnakanlah ibadah hajimu karena takut tidak diterima.”
Dalam Nazham dijelaskan :
لِلَامِ اَلْ حَالَاِنِ قَبْلَ اَلْاَحْرُفِ # اُوْلَاهُمَا اِظْهَارُهُ فَلْتَعْرِفِ
قَبْلَ اَرْبَعٍ مَعَ عَشْرَةٍ خُذْ عِلْمَةُ # من ابغ حجك وخفف عقيمة
“Untuk hukum Alif Lam yang berada sebelum huruf Hijaiyyah ada 2 macam. Yang pertama: Izh-har (Alif Lam Qomariyyah) maka ketahuilah Alif Lam tersebut berada sebelum 14 huruf Hijaiyyah yang terkumpul dalam kalimat: Ibghi Hajjaka Wa Khof Aqimah.[3]
Contoh-contoh bacaan Alif Lam Qomariyyah:
الاول =ء الخبير=خ
البر ية =ب الفر قان= ف
الغفور=غ العا لمين=ع
الحكيم =ح القارعة= ق
الجبال=ج اليتيم= ي
الكفر= ك المؤ من= م
الودود=و الهدى= ه
2. Alif Lam Syamsiyyah
Alif Lam Syamsiyyah disebut juga Idgan Syamsiyyah(الادغام شمسية). Hukum alif-lam Syamsiyyah terjadi apabila Alif -Lam bertemu dengan salah satu huruf Syamsiyyah.
Syamsiyyah diambil dari kata syamsun (شمس), yang artinya matahari. Karenanya alif-lam syamsiyyah harus dibaca dengan samar, laksana memandang matahari.
Disebut idgham syamsiyyahkarena suara alif-lam di-idgham-kan (dimasukkan) ke dalam huruf syamsiyyah yang ada di hadapannya. Akibatnya, suara alif-lam pun menjadi hilang karena ditukar dengan huruf syamsiyyah tersebut.
Dalam nazham dijelaskan:
ثَانِيْهِمَا اِدْغَامُهَا فِى اَرْبَعٍ # وَعَشْرَةٍ اَيْضًا وَرَمْزُ هَا فَعِ
“Yang kedua setelah Alif-Lam Qomariyyah adalah Idghom Syamsiyyah, yakni apabila Alif-Lam menghadapi huruf-huruf yang empat belas pada setiap awal kata dari nazham barikut ini, maka perhatikanlah!”[4]
Keempat belas huruf syamsiyyah yang dimaksud adalah:
ذ,د,ط,ظ,ث.ت,ر,ز,ص,ض,س,ش,ل,ن
Huruf-huruf tersebut terkumpul pada setiap awal kata dari nazham berikut ini:
طِبْ ثُمَّ صِلْ رَحْمًا تَفُزْ ضِفْ ذَانِعَمْ # دَعْ سُوْءَظَنٍّ زُرْشَرِيْفًا لِلْكَرَمِ
Biasakan kamu berbuat kebaikan kemudian memperbanyak silahturahim, karena betapa banyak orang yang telah mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan yang berlipat ganda dengan cara tersebut. Tinggalkanlah berburuk sangka, kemudian kunjungilah orang-orang yang shaleh agar mendapat kemuliaan.
Dalam penulisannya, hukum alif-lam syamsiyyah menggunakam tanda tasydid pada huruf syamsiyyah yang berada di depan alif-lam. Hal ini sebagai tanda bahwa bunyi alif-lam hilang karena di-idgham-kan kepada huruf tersebut.
Adapun contoh bacaan dari huruf-huruf syamsiyyah yang didahului oleh lam ta’rif adalah sebagai berikut:[5]
النعيم = ن الطارق = ط
الداعى = د الثلث = ث
السميع = س الصادقون = ص
الظاهر= ظ الرحمن = ر
الزور= ز التكاثر = ت
الشكور = ش الضحى = ض
الليل = ل الذكر = ذ
B. Hukum Lam Fi’il
Ada dua hukum yang berkenaan dengan cara membaca Lam mati yang terdapat pada Fi’il. Kedua hukum tersebut ialah Izh-har dan Idghom.
1. Izh-har
Hukum Izh-har ini terjadi apabila Lam mati mengahdapi huruf selain Lam ل)) dan Ro’ (ر). Sesuai namanya, Lam mati harus dibaca jelas dan terang (Izh-har).
Dalam Nazham dijelaskan:
وَاَظْهِرَنَّ لاَمَ فِعْلٍ مُطْلَقًا # فِى نَحْوِ قُلْ نَعَمْ وَقُلْنَا وَالْتَقَى
“Dan Izh-harkanlah Lam Fi’il (apabila bertemu dengan huruf selain Lam dan Ro’), seperti dalam lafazh qul na’am dan qul-na dan wal-taqo.”[6]
Seluruhnya Lam mati yang terdapat ditengah Fi’il hukumnya dibaca Izh-har, bahkan ada yang menyebutnya Izh-har Mutlak, yakni Izh-har yang seutuhnya, tidak boleh tidak, harus Izh-har. Sedang untuk Lam mati yang terdapat di akhir Fi’il tidak seluruhnya berhukum Izh-har.
Berikut contoh-contoh Lam mati pada Fi’il yang berhukum Izh-har:
تُلْقُوْنَ - اِذَازُلْزِلَ
قُلْ اَعُوْذُ - نَجْعَلْ كَيْدَهُمْ
قُلْ نَعَمْ - يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانُ
2. Idghom
Hukum Idghom ini terjadi apabila Lam mati menghadapi huruf Lam atau Ro’. Sesuai namanya, Lam mati harus di-Idghom-kan kepada huruf Lam (ل) dan Ro’ (ر) yang ada dihadapannya. Dengan kata lain, suatu Lam berubah menjadi suara Lam atau Ro’.
Penting diperhatikan bahwa hukum Idghom ini hanya terjadi pada Lam mati yang terdapat di akhir Fi’il. Jika terdapat di tengah Fi’il, maka hukumnya Izh-har.
Berikut contoh-contoh Lam mati Fi’il yang berhukum Idghom:[7]
وَقلْ رَّبِّ = idghom Mutaqoribain
قُلْ رَّبِّى = idghom Mutaqoribain
اَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ = idghom Mutamatsilain
اَلَمْ اَقُلْ لَكُمْ = idghom Mutamatsilain
C. Hukum Lam Isim
Hukum Lam isim adalah Lam mati yang terdapat pada Isim, apabila bertemu dengan semua huruf hijaiyyah, mutlak dibaca Izh-har, seperti:[8]
سُلْطَا نِ - سَلْسَبِيْلًا - اَلْوَانُكُمْ
.
D. Hukum Lam Huruf
Hukum Lam Huruf adalah Lam mati yang terdapat pada huruf, apabila bertemu dengan semua huruf hijaiyyah, selain Lam dan Ro’ harus dibaca Izh-har, seperti:
هَلْ يَسْتَطِيْعُ - بَلْ طَبَعَ
Akan tetapi apabila bertemu dengan Lam atau Ro’ maka harus dibaca Idghom, seperti:
بَلْ لَكُمْ - بَلْ رَفَعَهُ
Sedangkan untuk huruf “بل” yang berada pada surat Al-Muthoffifin, menurut Imam Hafs harus dibaca Saktah, yang akan kita bahas pada bab-bab berikut. Contoh:[9]
كَلَّا بَلْ رَا نَ عَلَى قُلُوْ بِهِمْ
E. Hukum Ro’
Hukum tentang tata cara membaca huruf Ro’ (ر) ada tiga hukum, yakni: Tafkhim, Tarqiq, dan Jawazul Wajhain.
1. Tafkhim (التفخيم)
Tafkhim menurut bahasa adalah At-Tasmin (التسمين), artinya tebal atau gemuk. Sedangkan menurut istilah, Tafkhim ialah:
اَلنُّظْقُ بِلْحَرْفِ غَلِيْظًا مُمْتَلِى اَلْفَمِ بِصَدَاهٍ
“Mengucapkan huruf dengan tebal sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya.”
Beberapa kondisi yang menyebabkan huruf Ro’ر)) dibaca tafkhim, antara lain:
a. Apabila huruf Ro’ berharakat dhommah atau fathah, baik ketika waqof maupun washol. Contoh:
ربَنَّاَ اَتِنَا - وَسَعِيْرًا - لاَتَصْبِرُوْا - عَلَى سُرُ رٍ
b. Apabila huruf Ro’dalam keadaan mati (Asli) dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhommah. Contoh:[10]
يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاءُ - هَذَا اْلقُرُا نَ - وَالْفُرْقَانَ
c. Apabila Ro’ mati karena dibaca waqof (sukun aridli) dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhommah. Contoh:
وَالْقَمَرُ - وَالنُّذُرُ - لِلْبَشَرِ
d. Apabila Ro’ mati karena waqof dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhommah. Kemudian diantara Ro’ mati dan huruf yang berharakat tersebut ada huruf mati. Contoh:
سُنْدُسٍ خثضْرٌ - وَالْفَجْرِ - وَاَلْعَصْرِ
e. Apabila Ro’ mati karena dibaca waqof dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhommah,dan diantara Ro’ mati dan huruf yang berharakat tersebut ada huruf madd: alif atau wawu. Contoh:
اَلاَنْهَارُ - وَالطُّوْرِ - اَلْقَهَّارُ - مَنْشُوْ رٍ
f. Apabila Ro’ mati didahului oleh huruf yang berharakat kasroh aridli(kasroh tambahan dan bukan kasroh asli). Contoh:
اِرْتُابُوْا - اِرْتَبْتُمُ - اِرْتَضَى
Pada contoh “ اِرْتَضَى” asalnya adalah “ رَضَى” diikutkan wazan “اِفْتَعَلَ” jadilah lafazh “اِرْتَضَى” dengan tambahan hamzah yang berharakat kasroh.
g. Apabila Ro’ mati dalam kalimat dan didahului oleh huruf yang berharakat kasroh asli dan sesudahnya menghadapi huruf isti’la yang berharakat selain kasroh. Contoh:
مِرْ صَا دًا - فِرْ قَةٍ - قِرْطَا سِ - لَبِا لْمِرْصَا دِ
Cara mengucapkan Ro’ tafkhim ini ialah dengan menghimbun ketebalan suara di dalam mulut sehingga pada waktu pengucapannya mulut seolah-olah penuh dengan suara Ro’. Proses pentafkhiman hanya terjadi pada ujung lidah dan tidak sampai ke pangkal lidah, sehingga Ro’ tidak sampai berubah menjadi isti’la.[11]
2. Tarqiq (الترقيق)
Tarqiq menurut bahasa adalah At-Tahnif (التحنيف), artinya tipis atau kurus. Sedangkan menurut istilah, tarqiq adalah:
النُّطْقُ بِا لْحَرْفِ نَحِيْفًا غَيْرَمُمْتَلِئ اْلفَمِ بِصَدَاهٍ
“Mengucapkan huruf dengan ringan (tipis) sehingga tidak sampai menenuhi mulut ketika pengucapannya.”
Beberapa kondisi yang menyeabkan Ro’ dibaca tarqiq adalah:
a. Huruf Ro’ yang berharakat kasroh atau tanwin kasroh, contoh:
مَرِيْضًا - عَشْرٍ - مِنْ خَيْرٍ - رِزْقًا
b. Huruf Ro’ yang mati karena waqof, sedang sebelum Ro’ ada huruf Ya’ yang mati. Dan sebelum huruf Ya’ mati itu ada huruf yang berharakat fathah atau kasroh, contoh:
بِيَدِ كَ الْخَيْرُ - فِيْهَا حَرِيْرٌ - اَلفَوْ زُالْكَبِيْرُ
c. Huruf Ro’ yang mati sedang huruf sebelumnya berharakat ksroh asli dan huruf sesudahnya bukan huruf isti’la, contoh:
مِرْفَقًا - فِرْ عَوْنُ - مِرْيَةٍ - فَبَشِرْ هُمْ
Ustadz Ismail tekan dalam bukunya Tajwid Al-Qur’an Karin, menambah dua kondisi lagi yang menyebabkan huruf Ro’dibaca tarqiq, yaitu:
a. Huruf Ro’ yang mati karena waqof (sukun aridli) dan didahului oleh harakat kasroh. Contoh:
اَنْتَ مُذَكِّرُ - تَسْتَكْثِرُ - الْمُدَثِرُ
b. Huruf Ro’ yang mati karena waqof, huruf sebelumnya mati, dan huruf sebelumnya lagi berharakat kasroh. Contoh:[12]
وَلَا بِكْرٌ - اَلذِّكْرُ
Dalam buku Hukum-Hukum Bacaan Al-Qur’an, halaman 126-127 ditambahkan dua kondisi lagi yang menyebabkan huruf Ro’ ini dibaca tarqiq, yaitu:
a. Ro’yang dibaca imalah (miring), seperti:
مَجْرَيهَا
b. Huruf Ro’ mati yang jatuh sesudah kasroh walaupun berhadapan dengan huruf isti’la tetapi di lain kata, contoh:
فَلَا تُصَعِّرُ خَدَّكَ - فَا صْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا
Adapun cara membaca Ro’ tarqiq ini ialah kebalikan dari Ro’ tafkhim, yaitu tidak adanya penghimpunan suara di dalam mulut sehingga pada waktu pengucapan huruf Ro’ ini mulut tidak terasa penuh dengan suara Ro’. Lidah pun tidak boleh diangkat pada waktu pengucapannya, karena bila lidah diangkat, suara akan berubah menjadi seperti tafkhim.[13]
3. Jawazul Wajhain (جوازالوجهين )
Jawazul Wajhain secara bahasa artinya boleh dua bentuk, maksudnya huruf Ro’ boleh dibaca tafkhim dan boleh dibaca tarqiq. Ada dua kondisi yang menjadikan huruf Ro’ itu jawazul wajhain, yaitu:
a. Apabila huruf Ro’ mati dan didahului oleh huruf yang berharakat kasroh asli dan setelahnya ada huruf isti’la yang berharakat kasroh (kasrotain). Contoh:
كُلُّ فِرْقٍ
Contoh di atas terdapat pada surat Asy-Syu’ara ayat 63, Ro’ lafazh ini boleh dibaca tafkhim karena steelah huruf Ro’ ada huruf isti’la dan boleh dibaca tarqiq karena huruf isti’la tersebut berharakat kasroh. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nihayatul Qoulil Mufid halaman 97 dan Al-Minahul Fikriyyah halaman 31, jika huruf isti’la berharakat kasroh, maka pada kondisi tertentu sifat tafkhim dan isti’lanya menjadi gugur berganti menjadi tarqiq dan isti’la.
b. Apabila Ro’ mati karena waqof dan didahului oleh huruf mati pada kata-kata berikut:
-- مِصْرْTafkhim lebih utama, karena dalam keadaan washol Ro’ tersebut dibaca tafkhim.
- الْقِطْرْ (di surat Saba’: 12)
- اَسْرْ (di mana saja)
- نُذُ رُ(di surat Al-Qomar: 21)
Keempat lafazh di atas (selain kata “مصر”) lebih utama dibaca tarqiq, karena pada waktu washol huruf Ro’ disebut dibaca tarqiq.
Untuk latihan membaca huruf Ro’ (baik yang dibaca tafkhim maupun tarqiq) dapat dibaca surat Hud ayat 40-49.
F. Hukum Lam Jalalah
Lam jalalah adalah huruf Lam yang terdapat pada lafazh Allah. Pada umumnya huruf Lam itu dibaca tarqiq, kecuali pada lafazh Allah (الله) atau Lamnya lafazh jalalah, cara membacanya ada dua macam, yaitu Taghlizh dan Tarqiq.
1. Taghlizh (التغليظ)
Taghlizh secara bahasa artinya tebal. Sedangkan menurut istilah, taghlizh adalah:
اَلنّطْقُ بِالْحْرفِ غَلِيْظًا مُمْتَلِئ الْفَمِ بِصَدَاهٍ
“Mengucapkan huruf dengan tebal sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya.”
Ketika mengucapkan lafazh Lam jalalah yang berhukum taghlizh ini harus tebal sehingga suara yang keluar tidak seperti “a” tetapi mendekati bunyi “o”, sedang posisi lidah terangkat sambil menekan suara dengan cukup kuat. Pada saat mengucapkannya, mulut seolah penuh dengan suara tersebut.
Lam jalalah dibaca taghlizh, apabila didahului oleh huruf yang berharakat fathah atau dhommah. Dalam nazham dijelaskan:[15]
وَفَخِّمِ اللَّا مَ مِنْ اسْمِ اللهِ # عَنْ فَتْحٍ اَوْضَمٍّ كَعَبْدِ اللهِ
“Bacalah tafkhim (taghlizh) pada lafazh Allah apabila didahului huruf yang berharakat fathah atau dhommah, seperti pada lafazh-Abdullah.”
Contoh:
عِنْدَاللهِ - اِنَّ اللهِ - يَضرِبُ اللهِ - اَمْرُاللهِ - نَصْرُاللهِ
2. Tarqiq (الترقيق)
Tarqiq menurut bahasa artinya tipis. Sedangkan menurut istilah, tarqiq adalah:
اَلنُّطْقُ بِا لْحَرْفِ نَخِيْفًا غَيْرَ مُمْتَلِئ الْفَمِ بِصَدَاهٍ
“Mengucapkan huruf dengan ringan (tipis) sehingga tidak sampai memenuhi mulut ketika mengucapkannya.”
Bunyi Lam jalalah yang dihukumi tarqiq harus dibaca tipis, sehingga suara yang keluar seperti bunyi ”a” , bukan “o”. Poisis lidah tidak terangkat (tetap terhampar) dan tidak ada penekanan pada suara. Ketika mengucapkannya, suara tidak terasa memenuhi mulut.
Lam jalalah ini dibaca tarqiq apabila didahului oleh huruf yang berharakat kasroh. Dalam nazham dijelaskan:
فَانِ كَانَ قَبْلَهَا كَسْرَةً مَحْضَةً فَلَا خِلَافَ فِى تَرْقِيْقِهَا
”Jika sebelum lafazh Allah ada huruf berbaris kasroh murni (asli), maka tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang tarqiqnya.”[16]
Contoh:
اَلْحَمءدُ اللهِ -- بِسْمِاللهِ -- فِى اللهِ – قٌلِ اللهِ
DAFTAR PUSTAKA
Lim, Acep Abdurohim. Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap. Bandung: CV Penerbit Diponegoro. 2007.
Wahyuni, Moh.. Ilmu Tajwid Plus. Surabaya: Halim Jaya. 2008.
[1] Moh. Wahyudi, Ilmu Tajwid Plus, (Surabaya: Halim Jaya, cet. 2, 2008), hlm. 131.
[2] Acep Lim Abdurohim, Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2007), hlm. 110.
[3]Moh. Wahyudi, Op.cit., hlm. 132.
[6]Moh. Wahyudi, Op.cit., hlm. 137.
0 Response to "HUKUM RAA DAN LAM"
Posting Komentar