Pengantar Filsafat
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya.Jika kebenarana yang sebenarnya itu disusun secara sistematis,jadilah ia sistematiska filsafat.Sistematika filsafat itu biasanya terbagi atas tiga cabang besar filsafat,yaitu teori pengetahuan,teori hakikat,dan teori nilai.Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan.Objek yang dipikirkan oleh filofof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada,jadi luas sekali.Objek yang diselidiki oleh filsafat ini disebut objek material,yaitu segala yang ada dan mungkin ada tadi.Selain objek material,ada lagi objek forma,yaitu sifat penyelidikan.Objek forma filsafat penyelidikan yang mendalam.Artinya,ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagiandalammnya.Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris.Penyelidikan sains tidak mendalam karena ia hanya ingin tahu sampai batas objek itu dapat diteliti secara empiris.Contohnya,yiatu tentang hujan.[1]
Apa itu hujan?Mata melihat,hujan ialah air yang turun dari langit.Ini pegetahuan Sains.Mengapa air itu turun?Ilmuwan mengadakan riset.Ia menemukan bahwa hujan itu ialah air yang menguap,berkumpul diatas,lalu turun,dan disebut hujan.Ini Sains.Mengapa air lau,air danua,air sungai itu menguap ? Menurut Sains karena ada pemanasan.Ini masih pengetahuan Sains karena mengapa diIndonesia banyak gunung,tetapi dipadang pasir sedikit hujan? Karena di Indonesia banyak sungai,dipadang pasir tidak.Akan tetapi,mengapa diIndonesia banyak gunung,dipadang pasir tidak? Sains tidak dapat lagi menjawab karena tidak dapay diteliti lagi secara empiris.Filosof berpikir.Ia menemukan ,itu kebetulan,kebetulan saja diIndonesia banyak gunung,dipadang pasir tidak.Apa itu kebetulan?Kebetulan ialah salah sau bentuk hukum alam.Apa itu hukum alam?Hukum alam ialah hukum kehendak alam kata sebagian,sampai kehendak Tuhan kata sebagian lagi.Mulai dari kata kebetulan,sampai kehendak Tuhandiakhir ini ,ini sudah pengetahuan filsafat.Jawaban-jawaban itu semua hanya berdasarkan pemikiran logis,tanpa dukungan fakta empiris.Berpikir tanpa dukungan data seperti ini sering juga disebut berpikir spekulatif dan inilah filsafat.[2]
A. Sistematika filsafat
Membicarakan tentang sistematika filsafat akan membahas beberapa konsep,yaitu ontologi,epistomologi,dan aksiologi.Ontologi membicarakan tentang hakikat,objek dan struktur filsafat.Epistomologi membahas cara memperoleh dan ukuran kebeneran pengetahuan filsafat.Aksiologi mendiskusikan masalah kegunaan filsafat menyelasaikan masalah yang dihadapi.[3]
1. Ontologi Filsafat
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat,yaitu apa pengetahuan itu sebenarnya.[4]Ontologi berati ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata bagaiamana keadaan yang sebenarnya,apakah hakikat dibalik alam nyata ini.Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi pancaindra kita.Bagaimana realita yang ada ini,apakah materi saja,apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap,kekal tanpa perubahan,apakah realita berbentuk satu unsur,dua unsur,atau kah terdiri dari unsur yang banyak.[5]
2. Epistomologi Filsafat
Epistomologi filsafat membicarkan tiga hal,yaitu objek filsafat (yang dipikirkan),cara memperoleh pengetahuan filsafat,dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat
a) Objek filsafat
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya,yang
terdalam.Jika hasil pemikiran itu disusun,maka susunan itulah yang kita sebut Sistematika Filsafat.Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri atas ontology,epistomologi,dan aksiologi.
Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti (difikirkan)-nya. Jika ia memikirkan pendidikan maka jadilah Filsafat Pendidikan. Jika yang difikirkannya hukum maka hasilnya tentulah Filsafat Hukum, dan seterusnya.Seberapa luas yang mungkin dapat dipikirkan?Luas sekali.Yaitu semua yang ada dan dan mungkin ada.Inilah objek filsafat. Jika ia memikirkan pengetahuan jadilah ia Filsafat Ilmu, jika memikirkan etika jadilah Filsafat Etika, dst.[6]
Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain.Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang ada dann mungkin ada. Sebenarnya masih ada objek lainyang disebut objek forma yang menjelaskan sifat kemendalaman penelitian filsafat. Ini dibicarakan pada epistemologi filsafat.
Perlu juga ditegaskan (lagi) bahwa sain meneliti objek-objek yang ada dan empiris; yang ada tetapi abstrak (tidak empiris) tidak dapat dteliti olleh sain.Sedangkan filsafat meneliti objek yang ada tetapi abstrak, adapun yang mungkin ada, sudah jelas abstrak, itu pun jika ada.[7]
b) Cara memperoleh pengetahuan filsafat
Pertama-tana filosof harus mempertanggungjawabkan cara mereka memperoleh pengetahuan filsafat.Yang menyebabkan kita terhormat kepada para filosof antara lain ialah karena ketelitian mereka,sebelum mencari pengetahuan merea membicarakan lebih dulu danmempertanggungjawabkan cara memperoleh pengetahuan tersebut.Sifat ini sering kurang diperdulikan oleh kebanyakan orang.Pada umumnya orang mementingkan apa yang diperoleh atau mengetahuinnya.Ini gegabah,para filosof bukan orang yang gegabah.[8]
c) Ukuran kebenaran pengetahuan filsafat
Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris.Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu.Bila logis benar,bila tidak logis,salah.Ada hal yang patut anda ingat.Anda tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktikan kebenaran filsafat.Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan hanya logis.Bila logis dan empiris,itu adalah pengetahuan sains.
Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu.Ukuran logis tidaknya tersebut akan terlihat pada argument yang menghasilkan kesimpulan teori itu.Fungsi argument dalam filsafat sangatlah penting,sama dengan fungsi data pada pengetahuan sain.Bobot teori filsafat justru terletak pada kekuatan argument,bukan pada kehebatan konklusi.Karena argument itu menjadi kesatuan dengan konklusi,maka boleh juga diterima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argument kebenaran konklusi ditentukan 100% oleh argumennya.[9]
3. Aksiologi Pengetahuan Filsafat
Aksiologi dipahami sebagai teori tentang nilai yaitu menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik atau bagus itu.Dalam definisi lain,aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegritasikan semua nilai-nilai tersebut dalam kehidupan manusia.[10]
B. Cabang-cabang filsafat
Filsafat tidak lain adalah mengetahui secara utuh dan saksama,menyikapi dengan bijak,dan mengalaminya dengan penghayatan yang benar.Dari itulah,didiunia ini sebenarnya,tidak ada politik yang jahat,agama yang keliru,pengetahuan yang menyengsarakan,ataupun spiritual yang melahirkan keterasingan jika ia dipahami secara utuh dan saksama.[11]
Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang seuatu sampai keakar-akarnya,”sesuatu” disini dapat berarti terbatas dan dapat pula tidak terbatas.Jika terbatas,filsafat membatasi diri akan hal-hal tertentu saja.Akan tetapi,jika tidak terbatas,filsafat membahas segala seseuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum.Sementara itu,filsafat yang terbatas adalah filsafat pendidikan,filsafat seni,dan lain-lainnya.[12]
Filsafat membahas seseuatu dari segala aspeknya yang mendalam.Maka,dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebeneran ilmu yang sifatnya relatif.Karena.Kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja,sesungguhnya isi alam yang dinikmmati hanya sebagian kecil saja.Ini dapay diumpamakan dengan gunung es,yaitu ruang keilmuan biasa hanya akan mampu melihat yang diatas permukaan laut saja.Sedangkan,filsafat menyalami hingga kedasar gunun,bahkan mampu meraba pada hal-hal yang add dipikiran dan renungan yang kritis.[13]
Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan da sikap yang sangat kita jungjung.Ini adalah arti formal berfilsafat.Dua arti filsafat,”memiliki dan melakukan”,tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya.Oleh karena itu,,jika kita tidak melakukan filsafat dalam arti formall dan personal,kita tidak akan dapat melakukan filsafat dalam arti “kritik” dan “reflektif meski memiliki filsafat saja tidak cukup untuk melakukan filsafat.Sikap filsafat yang baik adalah sikap kritis dan mencari.Sikap itu adalah sikap terbuka dan toleran,serta bersedia melihat segala sudut persoalan tanpa prasangka.Berfilsafat tidak hanya berarti “membaca dan mengetahui filsafat”.
Filsafat juga merupakan upaya analisi logisdari bahasa serta penjelasan arti kata dan konsep. Dari upaya anlisis logis tersebut , setiap fisuf selalu menggunakan metode analisis serta selalu mmenjelaskan pemakaian bahasa yang mereka gunakan dalam fisafatnya.Sebagaian kalangan berpendpat bahwa itulah tugas pokok filsafat.Hanya saja,dalam perkembangannya, filsafat dipahami sebagai satu disiplin yang berusaha mengklasifikasikan kebenaran masig-masing yang ditemukan oleh setiap disiplin. Hal ini menyangkut jenis kebenaran dalam filsafat, termasuk salah satuya kebenaran koherensi dan korespondensi. Sementara, dalam garis besarnya, filsafat memiliki beberapa cabang utama: metafisika, epistemologi, logika, etika, dan estetika.
a)Metafisika
Pengertian Metafisika berasal dari kata “meta ta fisika”yang artinya ialah sesuatu yang adanya setelah fisika,yang oleh Aristoteles metafisika disebut sebagai filsafat pertama.Metafisika adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang hakikat yang terdalam atau cabang filsafat yang membicarakan atau menyelidiki prinsip-prinsip pertama.
Istilah metafisika merupakan suatu ciptaan belakangan. Metafisika sering di sebut juga sebagai “filsafat tentang hal ada”. Yang dimaksud dengan “ada” adalah semua yang ada baik yang ada secara mutlak, ada tidak mutlak maupun ada dalam kemungkinan.
Spekulasi metafisis adalah usaha-usaha untuk menemukan kebenaran-kebenaran mengenai alam semesta dengan pemikiran murni daripada dengan metode ilmiah tentang pengujian teori-teori dengan pengamatan dan eksperimen yang terkontrol. Suatu pandangan lain yang mirip mendifinisikan metafisika sebagainusaha untuk sampai pada suatu teori umum guna menerangkan dan melukiskan alam semesta sebagai suatu keseluruhan. Metodenya adalah deduktif bukan empiris.
Jadi di dalam metafisika membicarakan tentang ada umum segala sesuatunya itu ada dalam realitas, sehingga terdapat bermacam-macam hal, tetapi yang bermacam-macam itu semuanya di tangkap dalam adanya, maka terdapat ada yang bermacam-macam dan ada yang umum. Mungkinkah dalam ada itu terdapat suatu dasar yang menjadi dasar dari segala yang ada. Karena yang ada itu sangat luas, maka dapat di golongkan menjadi dua hal yaitu:
1. Ada secara ontologis.
2. Ada secara kosmologis.
1). Ada secara antologis : yaitu membicarakan teori mengenai sifat dasar dan ragam-ragam kenyataan, misalnya : usaha para filsuf dalam mengungkapkan makna eksistensi dengan pertanyaan-pertanyaan :apakah hakekat ada itu ? apakah klasifikasi dari yang ada ? apakah sifat dasar kenyataan dan ada terakhir ? apakah obyek fisis, pengertian universal, abstraksi, bilangan dapat di katakan ada ? dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya.
2). Ada secara kosmologis : yang membicarakan tentang teori umum mengenai proses-proses kenyataan. Kosmologi menyelidiki jenis tata tertib yang paling fundamental dalam kenyataan, yaitu apakah untuk segala sesuatu yang menjadi ada, selalu ada sesuatu sebab yang menentukannya menjadi seperti apa adanya dan bukan sebaliknya (tatatertib sebab) atau apakah hanya ada kebetulan yang murni ataukah tatatertib teleologis yang mengandung penyesuaian sarana-sarana kepada tujuan-tujuan.
IR poedjawijatna menyebutkan kosmologi sebagai filsafat alam yang membicarakan tentang alam semesta dengan segala isinya yang di pandang sebagai ada yang tidak harus ada (ada tidak mutlak). Sehingga harus dikaji atau di selidiki isi inti alam itu. Apakah sebabnya isi inti alam pada umumnya? Apakah hubungan satu sama lain ? juga hubungannya dengan ada yang mutlak ?.
b. Epistemologi
secara etimologis Epistemologi berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan atau kebenaran, sedangkan logos berarti kata atau pikiran atau ilmu. Jadi Epistemologi berarti pikiran-pikiran tentang pengetahuan atau kebenaran.
Batasan mengenai Epistemologi beraneka ragam, walaupun antara batasan yang satu dengan yang lainnya secara garis besar sama, misalnya ; menurut the liang gie, bahwa epestemelogi merupakan penyelidikan fisafati terhadap pengetahuan khususnya tentang kemungkinan asal mula, validitas, batas,sifat dasar dan aspek-aspek pengetahuan lain nya yang berkaitan. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa epistemology adalah cabang filsafat yang membicarakan pengetahuan baik mengenai terjadi nya, kesahan maupun kebenaran pengetahuan.john hospers mengemukakan bahwa alat-alat yang menyebabkan terjadi nya dansumber dari pengetahuan adalah:
-sense experience- (pengalaman indra)
-reason (nalar)
-authority (otoritas )
-intuition (intuisi)
-revelation (wahyu)
-faith (keyakinan)
Dari dua batasan tersebut tampak jelas bahwa yang di maksud dengan epistemologi adalah cabang dari filsafat yang membicarakan tentang ilmu penhuan.
c.Metedologi
Secara etimologis metodologi berasal dri bahasa latin yang terdiri dari kata ‘metodos”dan “logos”.Metodos berarti cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan,sedangkan logos berarti pikiran dan ilmu.Jadi,metodolgi artinya ilmu pengetahuan yang membicarakan cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan.Namun,didalam pembahasan ini yang dimaksud dengan metodologi adalah cabang filsafat yang mempelajari metode pada umumnya baik metode ilmiah maupun non-ilmiah.Sedangkan metode itu sendiri daimaksudkan sebagai suatu teknik cara atau usaha atau jalan yang dirancang sedemikian rupa dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun,apakah pengetahuan akala sehat,pengetahuan humanistis,historis,kefilsafatan maupun ilmiah.Didalam filsafat tidak hanya mempunyai satu metode melainkan suatu keanekaan dari metode-metode yang berlainnan menurut pokok soalnya.Dengan demikian tidaklah mungkin untuk menemukann analogi yang cukup bagi metode-metode filsafat dalam suatu ilmu yang lain.[14]
d.Logika
Logika sebagai cabang filsafat.Logika adalah cabang filsafat tentang berpikir.Logika membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat mengambil kesimpulan yang benar.Dengan mengetahui adanya aturan-aturan tersebut dapat menghindarkan diri dari kesalahan dalam mengambil kesimpulan.
Logika adalah suatu cabang filsafat yang bersangkutan dengan aturan-aturan penyimpulan yang sah.atau logiks dapat dicirikan sebagai suatu teori tentang penyimpulan deduktif,atau penelaahan tentang kesalahan dari-dari jenis penyimpulan yang berbeda.
Dari batasan-batasan tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa logika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang penyimpulan atau proses penalaran untuk memperoleh kebenaran[15]
e.Etika
Pengertian etika secara umum adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang tingkah laku manusia yang dilakukan dengan sadar dilihat dari sudut baik dan buruk.Etiks sering disamaka artinya dengan filsafat moral,juga filsafat nilai (axiology) yang bicara soal baik dan buruk,oleh karenanya sering juga disebut filsafat praktis.Etika membicarakan seluruh pribadi manusia baik hati nurani,ucapan maupun tingkah laku dan perbuatan manusia.Sehingga etika sering disebut filsafah tingkah laku,kemudian berkembang menjadi kesusilaan dan filsafat moral.[16]
f.Estetika
Apabila estetika dilukiskan sebagai cabang filsafat yang membicarkan tentang nilai baik buruk.Maka estetika dilukiskan sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentan nilai indah dan kejelekan.kadang-kadang estetika disebut sebagai cabang axiology yang menelaah nilai indah dan tidaknya.Sehingga tiga cabang filsafat terakhir ini dapat disebut satu gugus axiology yaitu: logika,etika,dan estetika,karena ketiga-tiganya membicarakan tentang niali.logika bicara tentang nilai benar dan salah,etika bicara nilai baik dan buruk dan estetika membicarkan tentang nilai indah dan tidaknya.Lebih jelas lagi bahwa logika berhubungan dengan nilai akal atau rasioa,etika berhubungan dengan nilai moral dan estetika berhubungan dengan perasaan manusia yaitu nilai estetis.
Estetika sering pula disebut filsafat keindahan,filsafat seni,filsafat cita rasa,filsafat kritis,teori tentang semi indah dan masih banyak lagi.Karena banyaknya batasan tentang estitika sehingga sering terjadi perbedaan pendapat.Misalnya salah satu pandangan mengatakan bahwa estetika secara tradisional adalah cabang filsafat yang bersangkutan dengan keindahan dan hal yang indah dalam alam dan seni.Dari sisi lain estetika dilukisakan sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan analisa konsep-konsep dan pemecahan-pemecahan persoalan yang timbul bilamana seseorang merenungkan benda-benda estetis,yang selanjutnya orang akan dapat mengenali benda-benda estetis karena mempunyai pengalaman estetis.[17]
g. Sejarah Filsafat
Sejarah filsafat adalah pemeriksaan yang teliti terhadap sistem-sistem filsafat,penafsiran yang kritis dari pemikiran para filsuf terhadap persoalan-persoalan filsafat dan kriteria yang benar mengenai perkembangan filsafat dari masa yang paling awal sampai sekarang.
Bagian ini sering dilupakan orang bahkan tidak jarang pula yang menganggap bahwa sejarah filsafat adalah sejarah bukan filsafat.Karena sejarah filsafat bukan kumpulan-kumpulan kebenaran filsafat.Sebaliknya seperti halnya semua penelitian sejarah yang harus dilakukan dengan metode ilmiah,maupun penjelasan-penjelasan psikologis dan sosial.Menurut The Liang Gie sejarah filsafat merupakan dua-duanya ya filsafat ya sejarah.Ini merupakan sejarah karena menunjukan uraian secara teratur yang disusun oleh para filsuf dewasa ini tentang pertumbuhan filsafat dari waktu ke waktu dari waktu lampau sampai sekarang.Ini merupakan filsafat karena berisi semua pikiran paera filsuf sebagai jawaban mereka terhadap berbagai persoalan filsafati yang menentang manusia.Jadi,betapa perlunya sejarah filsafat dalam bagian-bagian filsafat.[18]
DAFTAR PUSTAKA
Gandi,Teguh Wangsa,Filsafat Pendidikan Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan,
Jalaluddin dan Abdullah Idi,Filsafat Pendidikan Manusia,Filsafat,dan
Pendidikan,Yogyakarta : Ar-ruzz media,2007
Lasio dan Yuwono,Pengantar Ilmu Filsafat,Yogyakarta : liberty,1984.
Tafsir,Ahmad,Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi,Epistomologi,dan Aksiologi
Pengetahuan,Bandung : PT Remaja Rosdakarya,2015.
Tafsir,Ahmad,Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James,
Bandung : PT Remaja Rosdakarya,1990.
[1]DR.Ahmad Tafsir,Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James.(Bandung:PT Remaja Indonesia,1990)hlm.19
[2]Loc.cit
[3]Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi,Epistomologi,dan aksiologi Pengetahuan,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya,2015)hlm.65
[4]Loc.cit.
[6]Loc.cit.
[7] Loc,cit.
[8] Loc.cit
[9] Loc,cit.
[10]Loc,cit.
[11] Teguh Wangsa Gandhi HW,Filsafat Pendidikan Mazhab-Mazhab Pendidikan Filsafat,(Yogyakarta : AR-RUZZ MEDIA,2011),hlm.37-38
[12] Loc,cit.
[14]Lasio dan Yuwono,Pengantar Ilmu Filsafat,(Yogyakarta: LIBERTY,1984),hlm.21-22
[15]Loc,cit.
[16]Loc,cit
[17]Loc,cit
[18]Loc,cit
0 Response to "Pengantar Filsafat"
Posting Komentar