KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

EJAAN INDONESIA


Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan karena selain digunakan sebagai alat komunikasi secara langsung, Bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami informasi di segala aspek kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut, bahasa befungsi sebagai media penyampain informasi secara baik dan tepat, dengan penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan media tersebut secara baik dan benar.

Dalam memadukan satu kesepakatan dalam etika berbahasa, disinilah peran aturan baku tersebut digunakan dalam hal ini kita selaku warga Negara yang baik hendaknya selalu memperhatikan rambu-rambu ketata bahasaan Indonesia yang baik dan benar. Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) adalah sub materi dalam ketata bahasaan Indonesia, yang memiliki peran yang cukup besar dalam mengatur etika berbahasa secara tertulis sehingga diharapkan informasi tersebut dapat di  sampaikan dan di pahami secara komprehensif dan terarah. Dalam prakteknya diharapkan aturan tersebut dapat digunakan dalam keseharian masyarakat sehingga proses penggunaan tata Bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar

Yang dimaksud dengan ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambanglambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu Bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.[1][2]
Menurut Hornby, dkk. (1961) megatakan, dalam kamus besar bahasa Indonesia ejaan adalah kaidah-kaidah cara mengganbarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dsb) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda-tanda baca. Sedangkan Badudu berpendapat ejaan adalah pelambangan fonen dengan huruf.[3]
Mula-mula manusia menggunakan gambar-gambar untuk mencatat apa yang telah dikatakannya. Sudah jelas gambar itu tidak praktis. Untuk itu lahirlah tulisan jelas pula tiap suku atau tiap kelompok masyarakat menggunakan aksara yang berlainan, itu sebabnya tidak heran apabila ada yang disebut aksara Arab, Bali, Bugis, Jawa, Sangsakerta, Latin, dan Sunda.[4]
Kini dengan penemuan akal manusia orang dapat berbicara meskipun berjauhan tempat. Karena daya ingatan manusia terbatas, manusia ingin membaca kembali apa yang pernah dikatakannya, dan manusia ingin agar apa yang dikatakannya, lalu tulisan itu dapat dibaca orang lain, apakah masa sekarang maupun masa yang akan datang. Apalagi dengan makin banyak persoalan yang dihadapi manusia yang kadang-kadang membawa manusia kepengadilan, maka pembuktian secara ertulis sangat menentukan. Keinginan untuk mengetahui kembali apa yang penah dikatakan telah menimbulkan pikiran untuk menciptakan sistem tulisan.[5]
Tempat menulis dan alat untuk menulis pada mulanya sangat sederhana. Orang biasa menggunakan tulang, daun lontar (muncul aksara lontaran untuk makassar), dan akhir-akhir ini digunakan kertas.[6]
Sistem ejaan dapat dibagi atas ejaan yang fonematogramatis dan yang idiogramatis. Ejaan yang fonematogramatis adalah sistem ejaan yang mempersyaratkan adanya bunyi bahasa tertentu yang harus dilambangkan dengan huruf tertentu pula. Dengan kata lain satu fonem harus dilambangkan dengan satu huruf. Dengan sistem fonematogramatis itu diusahakan tiap huruf melambangkan fonem tertentu meskipun tak dapat dihindari adanya satu fonem yang dilambangkan dengan dua lambang atau tanda. Hal itu masih tampak dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang, misalnya (n) yang dilambangkan dengan /ng/, dan (n) yang dilambangkan dengan /ny/.[7]
Sedangkan sistem ejaan idiogramatis adalah ejaan yang mencerminkan pelambangan kata. Salah satu contoh yang menerapkan sistem ejaan idiogramatis, yakni aksara Tionghoa. Tiap lambang mencerminkan kata tertentu bahkan makna tertentu.[8]
Seperti yang telah dikatakan di atas ejaan yang ideal adalah ejaan fonematogramatis. Ejaan bahasa Indonesia sekarang bersifat fonematogramatis meskipun masih ada bunyi bahasa tertentu yang dilambangkan dengan dua huruf. Tulisan ini berasal dari bangsa Semit yang kemudian diolah oleh bangsa Yunani menjadi abjad latin seperti yang kita kenal sekarang. Aksara latin ini
(yang di Malaysia dikenal dengan sebutan aksara Rumi) baru dikenal diIndonesia sejak orang barat mulai menyelidiki bahasa melayu. Sebelum itu yang digunakan adalah aksara arab yang disesuaikan dengan sistem bunyi BI, yakni dengan jalan menghilangkan huruf-huruf tertentu. Aksara ini dikenal dengan sebutan Arab Pegon, Arab Melayu atau aksara jawi yang masuk bersama-sama dengan meluasnya pengaruh agama islam. Seblum tulisan Arab Pegon digunakan orang aksara Pallawa atau aksara Hindu untuk menuliskan BM kuno seperti yang kita lihat pada beberapa batu bersurat yang telah di paparkan didepan.[9]Menurut jenisnya, ejaan dapat dibagi atas ejaan fonetis dan ejaan fonologis. Fonotik (phonetics) mempelajari bunyi-bunyi ujaran atau fona-fona. Ejaan fonetis (fonetische spelling) berusaha menyatakan bunyi bahasa dalam segala nuansanya dengan huruf-huruf setelah mengukur dan mencatatnya dengan alat yang canggih yang disebut dengan spektograf. Gambar yang keluar atau yang dapat dilihat berupa frekuensi, intensitas, dan durasinya disebut spektogram.[10]Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh manusia sangat banyak. Misalnya vocal / e / taling dalam BI berbeda-beda lafalnya untuk untuk orang yang mengikutinya. Sementara itu meskipun / e / taling dalam posisi yang sama pasti tidak serupa benar jika dilafalkan oleh orang yang berbeda bahkan dengan orang yang itu, itu juga (meskipun dengan perbedaan yang sedikit). Karena banyak tanda yang diperlukan, maka jelas abjad yang ada (latin) tidak cukup. Untuk itu diperlukan tanda berupa garis titik dua, lingkaran yang disebut tanda diakritis.[11]Dalam kamus bahasa inggris terlihat bagaimana fonem-fonem itu ditulis, dan bagaimana satu fonem yang membentuk kata harus dilafalkan, sebab kalau salah melafalkan maka pengertian berubah. Dalam BI belum ada kamus lafal sehingga tidak heran apabila terdapat perbedaan lafal untuk kata-kata tertentu oleh kelompok etnik tertentu, misalnya kata teras, pendidikan, membawa, kita. Lafal orang Bali, Jawa, Batak, Toraja, Gorontalo berbeda-beda terhadap katakata ini. Oleh karena belum ada kamus lafal BI maka orang asing sulit melafalkan kata-kata yang mengandung vocal / e / dan / e /, misalnya kata-kata beras, bebas, gelas, tegap, belebas, besok, bezuk.[12]Di samping ejaan fonetik terdapat pula ejaan fonologis (fonologische speling). Fonologi adalah subdisiplin linguistik yang melakukan studi secara ilmiah tentang bunyi-bunyi bahasa yang membedakan makna serta kombinasinya, apakah bunyi-bunyi tertentu terikat oleh suatu tempat dalam suku kata, misalnya bunyi hamzah dalam BI yang tidak kita temukan pada awal kata tetapi pada akhir kata. Hal ini bebeda dengan bahasa Gorontalo yang setiap kata mulai dengan vocal pasti diawali dengan hamzahatau glottal stop, misalnyakata ?i?i(kuda-kuda), ?u?ato (kaki), ?ito (kita).[13]

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, Jakarta: Akapress, 2010, Ed.Rev.
Pateda, Mansoer dan Yennie P. Pulubuhu, Bahasa Indonesia Sebagai Mata Kuliah Umum, Surabaya: Nusa Indah, 1993.
Yustisia, Tim Visi, Paduan Resmi Terbaru Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Jakarta Selatan: PT Visimedia Pustaka, 2016. Online diakses pada tanggal 26 Oktober 2017.



[1] E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo,
[2] , Ed.Rev) hlm.164
[3]Mansoer Pateda dan Yannie P. Pulubuhu, Bahasa Indonesia Sebagai Mata Kuliah Umum, (Surabaya: Nusa Indah, 1993) hlm.60-61
[4]Ibid, hlm.61

[5] Loc.cit
[6]Loc.cit
[7]Ibid, hlm.62
[8]Loc.cit
[9]Loc.cit
[10]Ibid, hlm.63
[11]Loc.cit
[12]Loc.cit
[13]Loc.cit
[14]Ibid, hlm.63-64
[15]Ibid, hlm.64
[16]Loc.cit
[17]Loc.cit
[18]Ibid, hlm.65
[19] E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo,
[20] , Ed.Rev) hlm.164-165
[21] Mansoer Pateda dan Yannie P. Pulubuhu, Bahasa Indonesia Sebagai Mata Kuliah Umum,
[22]Loc.cit
[23]Ibid, hlm.65-66
[24]E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2010, Ed.Rev) hlm.165-166
[25]Ibid, hlm.166
[26]Loc.cit
[27] Tim Visi Yustisia, Paduan Resmi Terbaru Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, (Jakarta
Selatan: PT Visimedia Pustaka, 2016) hlm, 97 , Online diakses pada tanggal 27 Oktober 2017

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "EJAAN INDONESIA "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!