KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PANDANGAN ESENSIALISME MENGENAI PENDIDIKAN


         Pandangan mengenai pendidikan yang diurarakan disini bersifat umum, simplikatif, dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dapat memberikan gambaran mengenai bagian-bagian utama dari essensialisme. Disamping itu karena tidak setiap filsuf idealis atau realis mempunyai paham essensialistis yang sistematis, maka uraian ini bersifat eklektif. [1]
         Essensialisme timbul karena adanya tantangan mengenai perluya usaha emansipasi diri sendiri, sebagaimana dijalankan oleh para filsuf pada umumnya ditinjau dari sudut Abad pertengahan. Usaha ini diisi dengan pandangan-pandangan yang bersifat menanggapi hidup yang mengarah kepada keduniaan, ilmiah dan teknologi, yang cirri-cirinya telah ada sejak zaman Renaisans.[2]
         Dalam rangka menunjukkan antesedens esensialisme ini, akan dipaparkan secara historis kronologis dengan mengetengahkan tokoh-tokoh yang utama. Penggalan kronologis dijatuhkan kepada periode sebelum dan sesudah tahun tiga puluh abad ini. Desiderius Erasmus, humanis Belanda yang hidup pada akhir Abad ke-15 dan permulaan Abad ke-16, adalah tokoh yang mula-mula sekali memberontak terhadap pandangan hidup yang berpijak kepada “dunia lain.” Tokoh ini berusaha agar kurikulum di sekolah bersifat humanis dan bersifat internasional, yang dapat diikuti oleh kaum tengahan dan aristocrat. Pendidikan yang dilewati mereka ini memberikan kemungkinan dapat berlangsungnya perubahan yang diharapkan oleh Erasmus tersebut.[3]
         Tokoh berikutnya, Johann Amos Comenius (1592-1670) adalah pendidik Renaisans pertama yang berusaha untuk mensistematisasikan proses pengajaran. Tokoh ini dengan menilik pandangan-pandangannya, dapat disebut seorang realis yang dogmatis. Ia berkata antara lain bahwa hendaklah segala sesuatu diajarkan melalui indera karena indera adalah pintu gerbang jiwa. Jadi pintu gerbang dari pengetahuan itu sendiri. Disamping itu, Comenius menpunyai pendirian bahwa karena dunia itu dinamis dan bertujuan, tugas kewajiban pendidikan adalah membentuk anak sesuai dengan kehendak Tuhan.[4]
         John Locke (1632-1704), adalah tokoh dari Inggris yang dikenal sebagai “pemikiran dunia ini”, ia berusaha agar pendidikan menjadi dekat dengan situasi-situasi. John Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.[5]
         Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827) percaya sedalam-dalamnya mengenai alam dalam arti peninjauan yang bersifat naturalistis. Alam dengan sifat-sifatnya tercermin pada manusia, yang karenanya manusia memiliki kemampuan-kemampuan wajarnya, disamping itu Pestalozzi percaya hal-hal yang transdental, engan mengatakan bahwa manusia itu mempunayi hubungan transdental langsung dengan Tuhan.[6]
         Pandangan serba Transdental ini Nampak pula pada Johan Friedrich (1782-1827) dengan corak pandangannya yang bersifat kosmis-sintetis. Manusia adalah makhluk cipataan Tuhan dan merupakan bagian dari alam ini. Oleh karena itu ia tunduk dan mengikuti ketentuan dari hukum-hukum alam. Dengan tertarik kepada pendidikan anak kecil, Frobel memandandang anak sebagai makhluk yang berekspresi kreatif. Dalam tingkah laku demikian ini tampak adanya kualitas metafisis, maka tugas pendidik adalah memimpin anak didik ini kearah kesadaran diri sendiri yang murni, sesuai dengan pernyataan dari Tuhan.[7]
         Johann Friedrich Herbart (1776-1841), salah seorang murid Immanuel Kant, adalah tokoh yang selalu bersifat kritis. Ia berpendirian bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan yang mutlak, yang berarti antara lain penyesuian dengan hukum-hukum kesusilaan. Proses untuk mencapai tujuan pendidikan ini oleh Herbart disebutkan pengajaran yang mendidik.[8]
         Tokoh terakhir yang perlu dibicarakan dalam rangka menyikap sejarah esensialisme ini adalah William T. Harris (1835-1909). Sebagai tokoh Amerika Serikat yang dipengaruhi oleh Heggel ini berusaha menetapkan idealisme objektif pada pendidikan umum. Menurus Harris, tugas pendidikan adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang tidak terelakkan (pasti) bersendikan kesatuan spiritual. Sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun-menurun, dan menjadi penuntun peneysuaian orang kepada masyarakat.[9]
         Oleh karena terasaskan adanya saingan dari progresivisme, maka pada sekitar tahun 1930 timbul organisasi yang bernama Essentialist Committee for the Advancement of Education. Dengan timbulnya komite ini pandangan-pandangan esensialisme (menurut tafsiran Abad XX). Mulai diketengahkan dalam dunia pendidikan. William C. Bagley, salah seorang tokoh komite, mengemukakan pandangan yang tidak sejalan dengan konsep-konsep progresivisme.[10]
         Misalnya,pandangan progresivisme yang penting tentang perlunya ada “proges yang seluas mungkin untuk menyampaikan ajaran atau pengetahuan kepada anak didik “ dikatakan, bahwa bukan hanya proses yang penting, melainkan juga isi. Isi yang sembarangan akan menjadikan pendidikan tidak menentu, untuk ini hendaklah dipilih warisan sosial dengan proses bagaimana menyampaikan nilai esensialnya kepada anak didik.   

     
          




[1]Prof. Imam Barnadib, M.A., Ph.D. Filsafat Pendidikan (Yogyakarta: Andi Offset, 1988) hlm. 52
[2]Loc.cit
[3]Loc.cit
[4]Ibid. hlm. 53
[5]Loc.cit
[6]Loc.cit
[7]Loc.cit
[8]Loc.cit
[9]Ibid. hlm. 54
[10]Loc.cit
[11]Loc.cit

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PANDANGAN ESENSIALISME MENGENAI PENDIDIKAN"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!