FILSAFAT ABAD MODERN
Di masa periode pertengahan, dominasi antara akal dan iman benar-benar tidak seimbang. Pada masa itu akal kalah total dan iman menang secara mutlak. Abad ini telah memperlihatkan kelambanan kemajuan manusia, padahal terjadinya manusia itu sudah membuktikan bahwa ia sanggup maju dengan cepat. Abad ini juga telah dipenuhi lembaran hitam berupa pemusnahan orang-orang yang berpikir kreatif, karena pemikirannya berlawanan atau dianggap berbeda dari pikiran tokoh gereja. Abad ini tidak saja lamban, lebih dari itu secara pukul rata filsafat mundur pada abad ini.[1]
Untunglah pada abad-abad ini di bagian dunia lain, yaitu dunia Islam, filsafat berkembang pesat. Pemikiran bukan saja tidak diganggu oleh Islam, lebih dari itu manusia didorong untuk berpikir, untuk maju, tidak puas dengan apa yang telah ada.
Tidak dapat dipungkiri adanya perbedaan kapan tepatnya zaman filsafat modern dimulai. Namun secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisis zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan abad ke-15), yang ditandai dengan gerakan Renaisans.[2]Renaisans akan banyak memberikan segala aspek realitas. Perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang kongkret dalam lingkup alam semesta, manusia, kehidupan masyarakat, dan sejarah. Pada masa itu pula terdapat upaya manusia untuk memberi tempat kepada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan yang lebih besar, karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan juga pemecahnnya. Hal ini dibuktikan adanya perang terbuka terhadap kepercayaan yang dogmatis dan terhadap orang-orang yang enggan menggunakan akalnya.3 Pendapat yang digunakan bahwa semakin besar kekuasaan akal akan dapat diharapkan lahir “dunia baru”, dimana penghuninya (manusia-manusianya) dapat merasakan puas atas dasar kepemimpinan akal yang sehat. Aliran yang menjadi pendahuluan Filsafat Modern ini didasarkan pada suatu kesadaran atas yang individual dan yang kongkret.[3]
A. Sejarah Munculnya Filsafat Periode Modern
Kekuasaan keagamaan yang tumbuh berkembang selama abad pertengahan di Eropa tampaknya menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara pengaruh akal dan agama. Akal sangat dikekang oleh pemahaman teologi pada saat itu, sehingga filsafat mengalami kemunduran di Eropa pada abad pertengahan. Dari sinilah tumbuh rasionalisme, empirisme, idealisme, dan positivisme, serta aliran lainnya yang kesemuanya memberikan perhatian yang amat besar terhadap problem pengetahuan nonmetafisika (bukan agama) dan lahirlah babakan baru yakni babak modern yang ditandai dengan gerakan Renaisans yang merentang dari abad 14 sampai 17 M.
Abad Renaisans adalah sebuah gerakan kebudayaan antara abad ke-14 hingga abad ke-17, bermula di Italia pada akhir abad pertengahan dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Perkataan “renaisans” berasal dari bahasa Prancis, yakni Renaissance yang artinya adalah “lahir kembali” atau “kelahiran kembali”. Yang dimaksudkan adalah kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan Romawi kuno yang dapat melakukan kegiatan pemikiran secara bebas tentang segala kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, termasuk kehidupan bertuhan. Gerakan ini mencakup kebangkitan pengetahuan berdasarkan sumber-sumber klasik, tumbuhnya panutan pada Sri Paus dan segala sesuatu yang anggun, perkembangan gaya perspektif dalam seni lukis, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Gerakan Masa Pencerahan memberikan efek yang luar biasa pada semua usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tapi mungkin yang paling terkenal adalah kemajuan dari segi kesenian dan kontribusi dari para polymath (orang yang memiliki ilmu yang tinggi dalam berbagai macam hal) seperti Leonardo da Vinci dan Michelangelo, yang menimbulkan munculnya sebutan Renaissance Men.[4]
Renaisans pertama kali diperkenalkan di Eropa Barat, di kawasan Italia. Hal ini dipicu kekalahan tentara Salib dalam perang suci. Kekalahan tersebut membuat para pemikir dan seniman menyingkir dari Romawi Timur menuju Eropa Barat.[5]
Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Zaman yang menyaksikan dilancarkannya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan dan supremasi gereja Katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme.[6][7]Berkembangnya penelitian empiris merupakan salah satu ciri Renaisans. Oleh karena itu, ciri selanjutnya adalah munculnya sains. Di dalam bidang filsafat, zaman Renaisans tidak menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Perkembangan sains ini dipacu lebih cepat setelah Descartes berhasil mengumumkan rasionalismenya. Sejak itu, dan juga telah dimulai sebelumnya, yaitu sejak permulaan Renaisans, sebenarnya individualisme dan humanisme telah dicanangkan. Descartes memperkuat ide-ide ini. Humaisme dan individualismme merupakan ciri Renaisans yang penting. Humanisme ialah pandangan bahwa manusia mampu mengatur dunia dan dirinya. Ini suatu pandangan yang tidak menyenangkan orang-orang yang beragama.[8]
Pada zaman Renaisans ini manusia Barat mulai berpikir secara baru, dan secara berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan dalam mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu. Pemikir yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini antara lain, yaitu Nicholas
Copernicus (1473-1543) dan Francis Bacon (1561-1626).[9]
Copernicus adalah seorang tokoh gereja ortodoks, ia menemukan bahwa matahari berada di pusat jagad raya, dan bumi memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teorinya ini disebut Heliosentrisme, dimana matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana yang dikemukakan oleh Ptolomeus yang diperkuat gereja. Teori Ptolomeus ini disebut Geosentrismeyang mempertahankan bumi sebagai pusat jagad raya.[10]
Teori Copernicus ini melahirkan revolusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi. Bacon adalah pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari zamannya dengan melihat perinitis filsafat ilmu. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is Power (Pengetahuan adalah Kekuasaan). Ada tiga contoh yang dapat membuktikan pernyataan ini, yaitu:
1) Mesin menghasilkan kemenangan dalam perang modern,
2) Kompas memungkinkan manusia mengarungi lautan,
Secara umum dapat dikatakan bahwa Bacon melihat adanya prinsip kausalitas di dalam seluruh realitas. Dengan kata lain, segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki sebab dan kondisi-kondisi yang memungkinkannya, seperti yang dirumuskan Aristoteles dengan penyebab efesiensinya.[12]
Penemuan Copernicus mempunyai pengaruh luas dalam kalangan sarjana, antara lain:
2) Johannes Kepler (1571-1630) adalah pembantu Tyco dan seorang ahli matematika.15 Kepler mengemukakan tiga buah hukum astronomi, yaitu: a) Orbit dari semua planet berbentuk elips.
b) Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
c) Bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P+ : Q+ = X+ : Y+.[15]
3) Galileo Galilei (1546-1642) adalah penemu lintas peluru, penemuan hukum pergerakan, dan penemuan tata bulan planet Jupiter.[16]4) John Napier (1550-1617) adalah penemu logaritma.
5) Deserque (1593-1662) adalah penemu Projective Geometry, yang berhubungan dengan cara melihat benda P dari tempat T.
B. Ciri-ciri Filsafat Modern
Filsafat zaman modern ditandai dengan perubahan dalam bentuk-bentuk kesadaran atau pola-pola berpikir. Sebagai bentuk kesadaran, modernitas dicirikan dengan tiga hal yaitu: subjektivitas, kritik dan kemajuan.
Dengan subjektivitas dimaksudkan bahwa manusia menyadari dirinya sebagai subjektum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Lewat modernisasi manusia lebih menyadari dirinya sebagai individu. Di dalam filsafat kita mendengar pernyataan Decartes yang sangat terkenal yaitu “Cogito ergo sum” (Saya berpikir maka saya ada). Pernyataan itu adalah formulasi padat kesadaran zaman modern yang terus dipertahankan. Manusia sebagai individu bisa mengetahui kenyataan dengan rasionya sendiri.
Elemen selanjutnya adalah kritik. Dengan kritik dimaksudkan bahwa rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan prakti untuk membebaskan individu dari wewenang tradisi atau untuk menghancurkan parsangka-prasangka yang menyesatkan. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tuntunan tradisi atau otoritas.
Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengandaikan keyakinan akan kemajuan.
Dengan kemajuan dimaksudkan bahwa manusia menyadari waktu sebagai sumber langka yang tak terulangi. Waktu dialami sebagai rangkaian peristiwa yang mengarah pada satu tujuan yang dituju oleh subjektivitas dan kritik tersebut. Selain itu ada dua hal yang menandai sejarah modern, yakni runtuhnya otoritas gereja dan menguat otoritas sains. Dua hal itu yang pada dasarnya menjelaskan lain-Iainnya.
C. Aliran-aliran Filsafat Periode Modern
Aliran filsafat yang berkembang pada abad modern, yaitu rasionalisme, empirisme, kritisisme, idealisme, postivisme, evolusionisme, materialisme, neokantianisme, pragmatisme, filsafat hidup, fenomenologi, eksistensialisme, dan neothomisme. Adapun penjelasan aliran-aliran tersebut, yakni sebagai berikut:
1. Rasionalisme
Latar belakang muculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic) yang pernah diterima. Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan pada zaman modern ini, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos. Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia, sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berfikir secara objektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang objektif. Berbeda dengan tahap teologi, pada tahap filsafat ini manusia mencoba mempergunakan rasionya untuk memahami objek secara dangkal, tetapi objek belum dimasuki secara metodologis yang definitif.[17]
Dalam positivisme Auguste Comte, ia membedakan tiga tahap evolusi dalam pemikiran manusia. Teori tersebut terkenal dengan nama “Teori Tiga Tahap”. Berdasarkan teori ini, seluruh sejarah pemikiran manusia berevolusi dari tahap teologi (mistis) ke tahap falsafi, dan akhirnya pada tahap positivistis sebagai kemenangan pasti akal. Dalam tahap teologis, semua fenomena dijelaskan dengan menunjuk kepada sebab-sebab supernatural dan intervensi sesuatu yang bersifat ilahi, dan segala problematika manusia dipecahkan dengan mengacu pada dunia Tuhan. Dalam tahap falsafi, pemikiran diarahkan menuju prinsip-prinsip dan ide-ide tertinggi. Dalam tahap ini “hakikat” segala sesuatu menjadi keterangan terakhir. Kemudian dalam tahap positivistis orang mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya pada dunia dewa-dewa dan hakikat-hakikat, dan membatasi penyelidikan ilmu pada “fakta”. Langkah terakhir ini menolak semua konstruksi hipotesis di dalam filsafat dan membatasi diri pada observasi empirik dan hubungan fakta-fakta di bawah bimbingan metode-metode yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu alam.[18]
Berkat pengamatan yang sistematis dan kritis, lambat laun manusia berusaha mencari jawab secara rasional. Kaum rasionalis mengembangkan paham Rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk mencari kesimpulan yang bersifat khusus. Penari kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang yang disebut silogisme. Silogisme itu terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan disebut premis mayor atau premis minor. Kesimpulan diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis itu.[19]
Rasionalisme kebanyakan dihubungkan secara erat dengan filsuf abad ke18 dan ke-19, seperti Descartes, Leibniz, dan Spinoza. Rasionalisme percaya bahwa cara untuk mencapai pengetahuan adalah menyandarkan diri pada sumber daya logika dan intelektual. Penalaran demikian tidak didasarkan pada data pengalaman, tetapi diolah dari kebenaran dasar yang tidak menunut untuk menjadi dan mendasarkan diri pada pengalaman.
2. Empirisme
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka munculah pandangan lain yang berdasarkan pengalaman konkret. Mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman konkret ini disebut penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret. Menurut paham empirisme ini, gejala alam itu bersifat konkret dan dapat ditangkap dengan pancaindera manusia. Dengan pertolongan pancainderanya, manusia berhasil menghimpun sangat banyak pengetahuan.[20]
Penganut empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif ialah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Misalnya pada pengamatan atas logam besi, aluminium, tembaga, dan sebagainya, jika dipanasi ternyata menunjukkan bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum bahwa logam jika dipanasi akan bertambah panjang.[21]
Pelopor dari aliran ini adalah Francis Bacon, kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes, John Lock, dan David Hume. Sir Francis Bacon (lahir pada tanggal 22 Januari 1561 dan wafat 9 April 1626) adalah seorang filsuf, negarawan, dan penulis Inggris. Ia dikenal sebagai pencetus pemikiran empirisme yang mendasari sains hingga saat ini. Tulisan dan pemikirannya mempengaruhi pada eksperimen yang dikenal juga sebagai “Metode Bacon”. Ia memperkenalkan metode induktif. Ia telah memberikan sumbangan yang pentig dalam menembus metode berpikir deduktif yang penggunaannya secara berlebihan telah menyebabkan dunia keilmuan mengalami kemacetan.[22]Francis Bacon menekankan untuk mendasarkan semua pengetahuan dan ilmu atas dasar pengalaman. Ia menganjurkan agar para sarjana, dalam menyusun ilmu, mengumpulkan sebanyak mungkin fakta pengalaman (empirical brute facts) untuk selanjutnya dianalisis.[23]
3. Kritisisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18. Suatu zaman dimana seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Zaman baru ini disebut zaman Pencerahan (Aufklarung). Zaman pencerahan ini muncul dimana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa (dalam pemikiran filsafatnya). Akan tetapi, setelah Kant mengadakan penyelidikan (kritik) terhadap peran pengetahuan akal. Setelah itu, manusia terasa bebas dari otoritas yang datangnya dari luar manusia, demi kemajuan/peradaban manusia.
Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant mencoba menyelesaikan persoalan antara rasio dan empiri. Yang mana akhirnya Kant mengakui peranan akal dan keharusan empiri, kemudian dicobanya mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda (empirisme). Ibarat burung terbang harus mempunyai sayap (rasio) dan udara (empiri).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal. Sehingga akal mengenal batasbatasnya. Karena itu aspek irrasionalitas dari kehidupan dapat diterima kenyataannya.[24]
4. Idealisme
Setelah Kant mengetengahkan tentang kemampuan akal manusia, maka para murid Kant tidak puas terhadap batas kemampuan akal, alasannya karena akal murni tidak akan dapat mengenai hal yang berada di luar pengalaman.
Untuk itu, dicarinya suatu dasar, yaitu suatu sistem metafisika yang ditemukan lewat dasar tindakan aku sebagai sumber yang sekonkret-konkretnya. Titik tolak tersebut dipakai sebagai dasar untuk membuat suatu kesimpulan tentang keseluruhan yang ada.[25]
Pelopor idealisme adalah J. G. Fichte (1762-1814), F. W. J. Scheling (1775-1854), G. W. F. Hegel (1770-1831), dan Schopenhauer (1788-1860. Apa yang dirintis oleh Kant mencapai puncak perkembangannya pada Hegel. Hegel lahir di Stuttgart, Jerman. Pengaruhnya begitu besar sampai luar Jerman. Menjadi profesor ilmu filsafat sampai meninggal. Setelah ia mempelajari pemikiran Kant, ia tidak merasa puas tentang ilmu pengetahuan yang dibatasi secara kritis. Menurut pendapatnya, segala peristiwa di dunia ini hanya dapat dimengerti jika suatu syarat dipenuhi, yaitu jika peristiwa-peristiwa itu sudah secara otomatis mengandung penjelasan-penjelasannya. Ide yang berpikir itu sebenarnya adalah gerak yang menimbulkan gerak lain. Artinya, gerak yang menimbulkan tesis, kemudian menimbulkan anti tesis (gerak yang bertentangan), kemudian timbul sintesis yang merupakan tesis baru, yang nantinya menimbulkan antitesis dan seterusnya. Inilah yang disebutnya sebagai dialektika. Proses dialektika inilah yang menjelaskan segala peristiwa.27
5. Postivisme
Filsafat aliran ini pertama kali muncul pada abad ke-19 dan diambil dari kata positif yang artinya faktual aliran ini menganggap segala uraian dan persoalan yang di luar sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu metafisika ditolak.[26]Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.29
Filsafat ini diantarkan oleh August Comte (1798-1857) yang dilahirkan di Montpellier pada tahun 1798 dari keluarga pegawai negeri beragama Katolik.
Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap atau tiga zaman yaitu:
1) Tahap zaman teologis, orang mengarahkan rohnya pada hakekat “batiniah “ segala sesuatu, kepada “sebab pertama” dan “tujuan terakhir”
2) Tahap zaman metafisika, sebenarnya hanya mewujudkan pada suatu perubahan saja. Sebab kekuatan-kekuatan adikodrati atau dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak
3) Tahap zaman positif adalah ketkika orang tahu bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun pengenalan metafisis. Ia tidak mau lagi melacak, tetapi menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau yang disajikan kepadanya yaitu dengan pengamatan atau dengan menggunakan akalnya.
6. Evolusionisme
Aliran ini dipelopori oleh seorang Zoologi yang mempunyai pengaruh sampai saat ini yaitu, Charles Robert Darwin (1809-1882). Ia mendominasi pemikiran filsafat abad ke-19.
Pada tahun 1838 membaca bukunya Malthus An Essy on the Principle of Population. Buku tersebut memberikan inspirasi kepada Darwin untuk membentuk kerangka berpikir dan teorinya. Menurut Malthus, manusia akan cenderung meningkat jumlahnya (deret ukur),di atas bahan-bahan makanan (deret ukur). Dengan demikian, Darwin memberikan kesimpulan bahwa untuk mengatasi hal tersebut manusia harus bekerja sama, harus berjuang diantara sesamanya untuk mempertahankan hidupnya. Karena itu hanya hewan yang ulet yang mampu untuk menyesuaikan diri dengan iklim sekitarnya.
Dalam pemikirannya, ia mengajukan konsepnya tentang perkembangan segala sesuatu termasuk manusia yang diatur oleh hukum-hukum mekanik, yaitu survival of the fittest dan struggle for life.
Pada hakikatnya antara binatang dan manusia dan benda apa pun tidak ada bedanya. Dimungkinkan terdapat perkembangan manusia pada masa yang akan datang lebih sempurna. Dalam pemikirannya, Darwin tidak melahirkan sistem filsafat, tetapi pada ahli pikir berikutnya ( Herbert Spencer ) berfilsafat berdasarkan pada evolusionisme.[27]
7. Materialisme
Aliran Materialisme dapat ditelusuri dari ajaran Demokritus tentang atom. Pada zaman Yunanii Kuno, demokritus beranggapan bahwa alam ini terdiri dari atom-atom yang jumlahnya tidak terbatas. Ajaran demokritus ini kemudian dikembangkan oleh Ludwig Feuerbach dan Karl Max pada abad ke-
19.[28]
Munculnya positivisme dan evolusionisme menambah terbukanya pintu pengingkaran terhadap aspek kerohanian. Perbedaan antara materialisme dengan positivisme adalah bahwa positivisme membatasi diri pada fakta-fakta. Yang ditolaknya ialah tiap-tiap keterangan yang melampaui fakta-fakta. Karena alasan itulah dalam rangka positivisme tidak ada tempat untuk metafisika. Materialisme mengatakan bahwa realitas seluruhnya tediri dari materi. Itu berarti bahwa tiap-tiap benda atau kejadian dapat dijabarkan kepada materi atau salah satu proses material. Kiranya sudah jelas bahwa materialisme mengakui kemungkinan metafisika, karena materialisme sendiri berdasarkan suatu metafisika.
Aliran filsafat materialisme memandang bahwa realitas seluruhnya adalah materi belaka. Tokoh aliran ini adalah Ludwig Freuerbach (1804-1872 M). Menurutnya hanya alamlah yang ada dan manusia merupakan bagian dari alam
Dalam pandangan materialisme, manusia itu pada akhirnya adalah benda seperti halnya kayu dan batu. Orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia sama dengan benda seperti kayu dan batu. Akan tetapi, materialisme berpandangan bahwa pada akhirnya dan pada prinsipnya, manusia hanyalah sesuatu yang materiil. Dengan kata lain, materi betul-betul materi. Menurut bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu atau pohon, namun pada eksistensinya, manusia sama dengan sapi.[29]
8. Neo-Kantianisme
Setelah materialisme pengaruhnya merajalela, para murid Kant mengadakan gerakan lagi. Banyak filosof Jerman yang tidak puas terhadap materialisme, positivisme, dan idealisme. Mereka ingin kembali ke filsafat kritis, yang bebas dari spekulasi idealisme dan bebas dari dogmatis postivisme dan materialisme. Gerakan ini disebut Neo-Kantianisme. Tokohnya antara lain Wilhelm Windelband (1848-1915), Herman Cohen (1842-1918), Paul Natrop (1854-1924), dan Heinrich Reickhart (1863-1939).
Herman Cohen memberikan titik tolak pemikirannya dengan mengemukakan bahwa keyakinannya pada otoritas akal manusia untuk mencipta. Mengapa demikian, karena segala sesuatu itu baru dikatakan ada apabila terlebih dahulu dipikirkan. Artinya, ada dan dipikirkan adalah sama sehingga apa yang dipikirkan akan melahirkan isi pikiran itu. Tuhan, menurut pendapatnya, bukan sebagai person, tetapi sebagai cita-cita dari seluruh perilaku manusia.[30]
9. Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guna. Pragma berasal dari bahasa Yunani. Maka Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Misalnya, berbagai pengalama pribadi tentang kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan.
Tokohnya William James (1842-1910) lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi, dan filsafat. Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya mengalami konflik antara pandangan ilmu pengetahuan dengan pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa masalah kebenaran tentang asal/tujuan dan hakikat bagi orang Amerika terlalu teoritis. Ia menginginkan hasil-hasil yang konkret. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari ide atau konsep haruslah diselidiki konsekuensikonsekuensi praktisnya. Kaitannya dengan agam, apabila ide-ide agama dapat memperkaya kehidupan, maka ide-ide tersebut benar.[31]
10. Filsaf Hidup
Pada awal abad ke-19 dan awal abad ke- 20, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang berkembang dengan cepat yang mengakibatkan perkembangan industrialisasi yang juga cepat. Hal ini menjadikan segala pemikiran orang diarahkan pada hal-hal yang bendawi saja. Akal manusia dipergunakan untuk meneliti segala sesuatu kemudian dianalisa, dibongkar dan ditafsirkan, serta disusun kembali. Juga ilmu pengetahuan sampai kepada penelitian terhadap jiwa manusia. Baik jagat raya (alam semesta) maupun manusia dipandang sebagai mesin yang terdiri dari banyak bagian yang masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri, serta bekerja menurut hukum yang telah ditentukan bagi masing-masing bagian itu. Demikian juga halnya dengan manusia, roh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, ia disebabkan oleh akibat proses-proses bendawi yang berjalan karena keharusan, seperti ginjal harus mengeluarkan air kencing, jantung harus memompa darah, otak harus mengeluarkan buah pikiran, dan sebagainya. Salah satu tokohnya, yaitu Henry Bergson (1859-1941).[32]
11. Fenomenologi
Ini adalah suatu aliran yang bersama-sama dengan filsafat hidup menyebabkan orang meninggalkan pemikiran abad ke-19. “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Fenomenon yang diartikan sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya, dalam bahasa Indonesia disebut gejala.
Fenomenologi berasal dari kata fenomen yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan semu. Kebalikannya kenyataan juga dapat diartikan sebagai ungkapan kejadian yang dapat diamati lewat indra. Misalnya, penyakit flu gejalanya batuk, pilek. Dalam filsafat fenomenologi, arti di atas berbeda dengan yang dimaksud, yaitu bahwa suatu gejala tidak perlu harus diamati oleh indra, karena gejala juga dapat dilihat secara batiniah, dan tidak harus berupa kejadian-kejadian. Jadi, apa yang kelihatan dalam dirinya sendiri seperti apa adanya.
Dan yang lebih penting dalam filsafat fenomenologi sebagai sumber berpikir yang kritis. Pemikiran yang demikian besar pengaruhnya di Eropa dan Amerika antara tahun 1920 hingga tahun 1945 dalam bidang ilmu pengetahuan positif. Tokohnya : Edmund Husserl (1874-1928).[33]
12. Eksistensialisme
Kata eksistensialisme berasal dari kata eks = ke luar, dan sistensi atau sisto = berdiri, menempatkan. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaannya ditentukan oleh akunya. Karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya. Upaya untuk menjadi miliknya itu manusia harus berbuat menjadikan sampai merencanakan, yang berdasar pada pengalaman yang konkret.
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasarkan pada eksistensinya. Artinya, bagaimana manusia berada (bereksistensi) dalam dunia.
Pelopornya adalah Soren Kierkegaard (1813-1855), Martin Heidegger,J.P. Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.
Pemikiran Soren Kierkegaard mengemukakan bahwa kebenaran itu tidak berada pada suatu system yang umum tetapi berada dalam eksistensi yang individu, yang konkret. Karena, eksistensi manusia penuh dengan dosa, hnya iman kepada kristus sajalah yang dapat mengatasi perasaan bersalah karena dosa.[34]
13. Neo-Thomisme
Pada pertengahan abad ke-19, ditengah-tengah gereja Katolik banyak penganut pada Thomisme, yaitu aliran yang mengikuti paham Thomas Aquinas. Pada mulanya di kalangan gereja terdapat semacam keharusan untuk mempelajari ajaran tersebut. Kemudian, akhirnya menjadi suatu paham Thomisme, yaitu pertama, paham yang menganggap bahwa ajaran Thomas sudah sempurna. Tugas kita adalah memberikan tafsir sesuai dengan keadaan zaman. Kedua, paham yang menganggap bahwa walaupun ajaran Thomas telah sempurna, tetapi masih terdapat hal-hal yang pada suatu saat belum dibahas. Oleh karena itu, sekarang perlu diadakan penyesuaian sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketiga, paham yang menganggap bahwa ajaran Thomas harus diikuti, akan tetapi tidak boleh beranggapan bahwa ajarannya betul-betul sempurna.[35]
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014.
_______________. Filsafat Umum. Jakarta: Rajawali Pers, 2001.
Adib, Muhammad. Filsafat Ilmu: Ontologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu. Yogyakrta: Pusat Pelajar, 2011.
Aly, Abdullah. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama. Jakarta: Logos, 1999.
_____________. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Djamil, Fathurrahman. Filsafat Hukum Islam (Bagian Pertama). Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Jakarta: Kanisius, 1980.
Mustansir, Rizal dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Poedjawijatna. Pembimbing ke Alam Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan, 1966.
Prayitno, Adi. Filsafat Abad Modern. Metro: IAIN Metro, 2017. (Daring) tersedia di https://adiiprayitno.blogspot.co.id/2017/03/makalah-filsafat-umum-filsafatabad.html?m=1. Diakses tanggal 21 November 2017.
Santoso, Slamet Iman. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Sinar Hudaya, 1977.
Shadily, Hasan. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1984.
Suriasumantri, Jujun S. Ilmu dalam Perspektif . Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James. Bandung:
Remaja Rosda Karya, 1999.
Wattimena, Reza A. A. Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Grasindo, 2008.
Yunita, Maya, dkk. Filsafat Modern. Kudus: STIAIN Kudus, 2015. (Daring) tersedia di http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-filsafat-modern.html?m=1. Diakses tanggal 21 November 2017.
[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James (Bandung:
Remaja Rosda Karya, 1999), hlm. 102.
[2] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), hlm. 109. 3 Ibid., hlm. 110.
[3] Poedjawijatna, Pembimbing ke Alam Filsafat (Jakarta: PT Pembangunan, 1966), hlm. 106.
[4] Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu,(Yogyakrta: Pusat Pelajar, 2011), hlm. 7.
[5] Loc.cit.
[6]Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1984), hlm.
[7] .
[12] Reza A. A Wattimena, Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar (Jakarta: PT Grasindo, 2008), hlm. 129-130.
[18] Fathurrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam (Bagian Pertama), (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 53-54.
[22] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994), hlm. 89.
[23] Slamet Iman Santoso, Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Sinar Hudaya, 1977), hlm. 68.
[24]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 118-119.
[26] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Jakarta: Kanisius, 1980), hlm. 109. 29 Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 120.
[27]Adi Prayitno, Filsafat Abad Modern, (Metro: IAIN Metro, 2017). (Daring) tersedia di https://adiiprayitno.blogspot.co.id/2017/03/makalah-filsafat-umum-filsafat-abad.html?m=1.
Diakses tanggal 21 November 2017.
[28]Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos, 1999), h. 120-121.
[29] Maya Yunita, dkk., Filsafat Modern, (Kudus: STIAIN Kudus, 2015). (Daring) tersedia di http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-filsafat-modern.html?m=1. Diakses tanggal 21 November 2017.
[30]Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 124.
[31]Ibid., hlm. 124-125.
[32]Harun Hadiwijono, op. cit., hlm. 135.
[33]Maya Yunita, op. cit.
[34]Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 126128.
[35]Ibid., hlm. 129.
0 Response to "FILSAFAT ABAD MODERN"
Posting Komentar