INSAN KAMIL
Kurangnya kesadaran untuk mempelajari aspek – aspek ilmu akhlak sangat terasa di kalangan umat islam. Para ulama terlebih dahulu sangatlah memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu – ilmu akhlak.
Akhlak berasal dari kata “khalaq”, artinya telah berbuat, menciptakan, atau mengambil keputusan untuk bertindak. Secara termonologis, akhlak adalah tindakan yang tercermin pada akhlak Allah SWT yang salah satunya dinyatakan sebagai Pencipta manusia dari segumpal darah; Allah SWT. Sebagai sumber pengetahuan yang melahirkan kecerdasan manusia, pembebasan dari kebodohan, serta peletak dasar yang paling utama dalam pendidikan.[1]
Konsep akhlak dalam Al Quran, salah satunya, dapat diambil dari pemahaman terhadap surat Al – Alaq ayat 1 – 5 yang secara tekstual menyatakan perbuatan Allah SWT dalam menciptakan manusia sekaligus membebaskan manusia dari kebodohan (‘allamal-insana malam ya’lam).[2] Dalam islam, agama dan akal tidak dapat dipisahkan. Keduanya senantiasa menjalin hubungan interpretatif, terutama dalam merumuskan tata cara berakhlak. Dengan berhubungan keduanya, akal menjadi tuang punggung ajaran agama, terutama karena adanya kebutuhan akal untuk menjelaskam wahyu.[3]
Keharusan manusia menggunakan akal, bukan hanya merupakan ilham yang terdapat dalam dirinya, tetapi juga ajaran Al Quran. Kitab suci ini memerintahkan manusia untuk berpikir dan mempergunakan akal dan melarang bersikap taklid. Al Quran tidak semata – mata memberi perintah, tetapi juga memotivasu manusia agar berpikir[4]
Dalam ilmu tasawuf terdapat konsep yang disebut dengan insan kamil. Insan kamil diartikan sebagai manusia sempurna atau paripurna. Menurut ahli tasawuf falsafi Ibnu ‘arabi dan Abd al-Jilli, insan kamil yang paling sempurna adalah Nabu Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam.
Insan kamil berasal dari bahasa arab, yaitu dua kata; insan dan kamil. Secara harfiah, insan berarti manusia, dan kamil berarti yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkait dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat – sifat tertetu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.
Insan kamil menurut Muhyiddin Ibnu ‘Arabi ialah manusia yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Kesempurnaan dari segi wujudnya ialah karena dia merupakan manifestasi sempurna dari citra Tuhan, yang pada dirinya tercermin nama – nama dan sfiat Tuhan secara utuh. Adapun kesempurnaan dari segi pengetahuannya ialah karena dia telah mencapai tingkat kesadaran tertinggi esensinya dengan Tuhan, yang disebut ma’rifat[5].
Insan kamil menurut Al-Jilli, kehidupan menyuci dalam kalangan sufi biasanya didasari kehendak atau hasrat untuk hidup mendekati Tuhan. Jalan yang ditempuh adalah dengan mendekati sifat yang mirip dekat mutlak. Tidaklah sembarang orang yang dapat melakukan cara hidup demikian. Jadi, menurut sufi, tingkat pertama manusia yang hidup dengan mendekati kemiripan dengan Tuhan adalah nabi, kemudian “para sufi istimewa dari yang istimewa”, dan para wali. Keberhasilan dalam mencapai tingkat hidup yang sempurna demikian tidaklah diperoleh karena kapasitas manusia.[6]
Manusia sempurna menurut al-Jilli merupakan copy(nuskha) Tuhan. Al – jilli mendasarkan gagasan ini pada hadist yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Adam dalam dalam bayangan dirinya. Juga berdasarkan hadist lain yang berbunyi “Tuhan itu hidup, mengetahui, tinggi, berkehendak, mendengar, melihat.”[7]
Menurut Al – Jilli, nama esensial dan sifat – sifat illahi tersebut pada dasarnya menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak pundamental, yakni sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Manusia sempurna jadinya tidak mungkin dapat melihat bentuknya sendiri kecuali melalui kaca Allah sama halnya, dia juga menjadi kaca bagi Tuhan, karena Tuhan ingin agar dirinya melihat dia sendiri dan dikenal.[8]
Al – Jilli termasuk mereka yang menyakini bahwa walau bagaimanapun manusia bisa menjadi mirip dengan Tuhan dengan sepenuhnya.[9]
Sedikit tentang gagasan pokok Al – Jilli, nama Al – Jilli atau Jilan (Gilani) berasal dari nama sebuah provinsi sebelah selatan laut Kaspia di Asia Tengah. Nama tersebut agaknya mempunyai hubungan dengan pendiri tarekat Qadariyah, yakni Abdul Qadir al – Jilli atau Gilani.[10]
Abdul Karim bin Ibrahim al – Jilli atau Al – Jilli menuangkan pengertian – pengertiannya mengenai kehidupan yang sempurna dalam sebuah bukunya yang berjudul Insanu kamil fi Ma’rifatil wal Awaali(Manusia yang sempurna dalam pengetahuan tentang sesuatu yang pertama dan terakhir)[11].
Carl C. Jung, dengan teorinya Analytical Psychology berpendapat bahwa ketidaksadaran disebabkan oleh hereditas dan warisan yang bersifat. Menurut Jung, struktur otak manusia bersifat tetap sehingga aspek ketidaksadaran berada pada collective unconscious yang terdiri atas jejak memori yang diwariskan secara turun-menurun.[12]
Dalam berakhlak, manusia memiliki penggerak utama bagi kesadarannya, yaitu kesadaran yang membangkitkan seluruh pusat potensial kreativitas manusia. Pembentukan akhlak manusia dalam kesadarannya ditopang ileh potensial akal atau rasio yang menggerakkan eleksitas perbuatan baik atau buruk.
Manusia dengan model tiga potensi, yaitu akal, hati, dan perpaduan di antara keduanya, memadukan fungsi superioritas hidupnya untuk terus memerdekaan kehendaknya.[13]
Engan pemahaman diatas, akal dan hati adalah perpaduan potensi manusia yang paling menentukan masa depan kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat yang komplek. Nah, mengapa manusia berakhlak baik atau berakhlak buruk, sedangkan manusia berakal dan berhati? Itulah pertanyaan yang muncul.[14]
Akal dan hati terus berlabuh dengan keadaan internal jiwa nya dan eksternal lingkungan yang sangat luas, komplek, krusial, progresif, dan fatamorgana. Manusia, secara normatif mengalami masa-masa pancaroba dengan mempertimbangan kan suara hati dan pengaruh lingkungan eksternal yang lebih rumit. Oleh sebab itu, kesadaran utama manusia bukan dibentuk oleh jiwa nya sendiri, melainkan oleh lingkungan disekitar nya.[15] Akhlak manusia dapat dibentuk oleh berbagai pengaruh internal maupun eksternal. Maksudnya ialah manusia dapat dipengaruhi oleh genetika dan linkungan hidupnya sehari – hari. Kebiasaan setiap harinya dapat berpengaruh dengan cepat di masa kini mau pun masa depan. Bila menginginkan manusia yang berakhlak baik atau insal kamil atau manusia sempurna maka dimulailah dari pemilihan suami atau istri karena hal ini berpengaruh dalam genetika. Selain itu memilih tempat tinggal yang baik perlu untuk mendukung terwujudnya akhlak yang baik atau insan kamil atau manusia sempurna.
Proses atau tahapan pembentukan insan kamil dibedakan menjadi beberapa bagian antara lain :
1. Proses Pembentukan Kepribadian.
Dapat dipahami bahwa insan kamil merupakan manusia yang mempunyai kepribadian muslim yang diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas dari keseluruhan tingkah laku baik yang ditampilkan dalam tingkah laku secara lahiriyah maupun sikap batinnya. Tingkah laku lahiriyah seperti kata-kata, berjalan, makan, minum, berhadapan dengan teman, tamu, orang tua, guru, teman sejawat, anak famili dan lain-lainnya.
Sedangkan sikap batin seperti penyabar, ikhlas, tidak dengki dan sikap terpuji lainnya yang timbul dari dorongan batin, yakni terwujudnya perilaku mulia sesuai dengan tuntunan Allah SWT, yang dalam istilah lain disebut akhlak mulia yang ditempuh melalui proses pendidikan Islam. Sabda
Rasululah SAW yang artinya: “sesungguhnya aku diutus adalah untuk membetuk akhlak mulia” Dalam kaitan dengan hal itu dalam satu hadits beliau pernah bersabda : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”.
2. Pembentukan Kepribadian Muslim.
Kepribadian muslim dapat dilihat dari kepribadian orang perorang (individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (ummah). Kepribadian individu meliputi ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkahlaku, serta kemampuan intelektual yang dimilikinya.
a) Pembentukan Kepribadian Muslim sebagai Individu
Proses pembentukan kepribadian muslim sebagai individu dapat dilakukan melalui tiga macam pendidikan.
1. Pranata Education (Tarbiyah Golb Al-Wiladah)
Proses pendidikan jenis ini dilakukan secara tidak langsung. Proses ini dimulai disaat pemilihan calon suami atau istri dari kalangan yang baik dan berakhlak. Sabda Rasulullah SAW : “ Pilihlah tempat yang sesuai untuk benih (mani) mu karena keturunan. Kemudian dilanjutkan dengan sikap prilaku orang tua yang islam”.
2. Education by Another (Tarbiyah Ma’aghoirih).
Proses pendidikan ini dilakukan secara langsung oleh orang lain (orang tua di rumah tangga, guru di sekolah dan pemimpin di dalam masyarakat dan para ulama). Manusia sewaktu dilahirkan tidak mengetahui sesuatu tentang apa yang ada dalam dirinya dan diluar dirinya. Firman Allah SWT yang artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui apapun dan Ia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati ” ( Q.S. An-Nahl : 78 )
3. Self Education (Tarbiyah Al-Nafs)
Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain seperti membaca buku-buku, majalah, Koran dan sebagainya melalui penelitian untuk menemukan hakikat segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Menurut Muzayyin, Self Education timbul karena dorongan dari naluri kemanusiaan yang ingin mengetahui. Ia merupakan kecenderungan anugrah Tuhan. Dalam ajaran islam yang menyebabkan dorongan tersebut adalah hidayah. Firman Allah SWT yang artinya : “Tuhan kami adalah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk bentuk kejadiannya kemudian memberinya petunjuk” (QS. Thoha:50)
b.) Pembentukan Kepribadian Muslim sebagai Ummah.
Komunitas muslim ini disebut ummah. Abdullah al-Darraz membagi kajian pembentukan itu menjadi empat tahap, sebagaimana dikutip sebagai berikut : 1. Pembentukan nilai-nilai Islam dalam keluarga
Bentuk penerapannya adalah dengan cara melaksanakan pendidikan akhlak di lingkungan rumah tangga, langkahlangkah yang di tempuh adalah:
• Memberikan bimbingan berbuat baik kepada kedua orang tua
• Memelihara anak dengan kasih saying
• Memberikan tuntunan akhlak kepada anggota keluarga
• Membiasakan untuk menghargai peraturan dalam rumah tangga
• Membiasakan untuk memenuhi hak dan kewajiban antara kerabat
2. Pembentukan nilai-nilai islam dalam hubunga social
Kegiatan pembentukan hubungan sosial mencangkup sebagai berikut:
• Melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan keji dan tercela
• Mempererat hubungan kerjasama
• Menggalakkan perbuatan terpuji dan memberi manfaat dalam kehidupan bermasyarakat seperti memaafkan, dan menepati janji
• Membina hubungan menurut tata tertib seperti berlaku sopan, meminta izin masuk rumah orang lain.
• Perbuatan nilai-nilai islam dalam berkehidupan sosial bertujuan untuk menjaga dan memelihara keharmonisan hubungan antar sesama anggota masyarakat.
1. Berfungsi Akhlaknya secara Optimal
Fungsi akal secara optimal dapat dijumpai pada pendapat kaum Mu’tajzilah. Menurutnya manusia yang akalnya berfungsi secara optimal dapat mengetahui bahwa segala perbuatan baik seperti adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya. Manusia yang berfungsi akalnya sudah wajib melakukan perbuatan yang baik.
2. Berakhlak Mulia
Insan Kamil juga adalah manusia yang berakhlak mulia. Manusia yang ideal (sempurna) adalah memiliki akhlak mulia sekaligus memiliki kelembutan hati. Insan Kamil dengan kemampuan otaknya mampu menciptakan peradaban yang tinggi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki kedalaman perasaan terhadap segala sesuatu yang menyebabkan penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.[16]
Menurut Murthadho Muttari manusia sempurna (Insan Kamil) yakni mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Jasmani yang sehat serta kuat dan berketerampilan.
Orang islam perlu memiliki jasmani yang sehat serta kuat, terutama berhubungan dengan penyiaran dan pembelaan serta penegakkan agama islam. Dalam surah al-Anfal : 60, disebutkan agar orang islam mempersiapkan kekuatan dan pasukan berkuda untuk menghadapi musuh-musuh Allah. Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan pula dengan menguasai keterampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan. 2. Cerdas serta pandai.
Cerdas ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, sedangkan pandai ditandai oleh banyak memiliki pengetahuan (banyak memiliki informasi). Didalam surah azZumar : 9 disebutkan sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. 3. Ruhani yang berkualitas tinggi.
Kalbu yang berkualitas tinggi itu adalah kalbu yang penuh berisi iman kepada Allah, atau kalbu yang taqwa kepada Allah. Kalbu yang iman itu ditandai bila orangnya shalat, ia shalat dengan khusuk, bila mengingat Allah kulit dan hatinya tenang bila disebut nama Allah bergetar hatinya bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mereka sujud dan menangis.
Sifat-sifatnya manusia yang sempurna terdiri dari : Keimanan, Ketaqwaan, Keadaban, Keilmuan, Kemahiran, Ketertiban, Kegigihan dalam kebaikan dan kebenaran, Persaudaraan, Persepakatan dalam hidup, Perpaduan umah. Untuk cara-cara mencapainya ialah dengan car istigfar kepada Allah SWT, ikhlas, sabar, cermat, optimis serta Syukur.
Adapun beberapa ciri – ciri atau kriteria Insan Kamil yang dapat kita lihat pada diri Rasulullah SAW yakni 4 sifat yakni :
a) Sifat amanah (dapat dipercaya)
Amanah / dapat dipercaya maksudnya ialah dapat memegang apa yang dipercayakan seseorang kepadanya. Baik itu sesuatu yang berharga maupun sesuatu yang kita anggap kurang berharga.
b) Sifat fathanah (cerdas)
Seseorang yang memiliki kepintaran di dalam bidang fomal atau di sekolah belum tentu dia dapat cerdas dalam menjalani kehidupannya. Cerdas ialah sifat yang dapat membawa seseorang dalam bergaul, bermasyarakat dan dalam menjalani kehidupannya untuk menuju yang lebih baik.
c) Sifat siddiq (jujur)
Jujur adalah sebuah kata yang sangat sederhana sekali dan sering kita jumpai, tapi sayangnya penerapannya sangat sulit sekali di dalam bermasyarakat. Sifat jujur sering sekali kita temui di dalam kehidupan sehari – hari tapi tidak ada sifat jujur yang murni maksudnya ialah, sifat jujur tersebut mempunyai tujuan lain seperti mangharapkan sesuatu dari seseorang barulah kita bisa bersikap jujur.
d) Sifat Tabligh (menyampaikan)
Maksudnya tabligh disini ialah menyampaikan apa yang seharusnya di dengar oleh orang lain dan berguna baginya. Tentunnya sesuatu yang akan disampaikan itu pun haruslah sesuatu yang benar dan sesuai dengan kenyataan.
Ali, Yunasril, Manusia Citra Ilahi, Jakarta: Paramadina, 1997
Nata, M.A, Prof. Dr. H. Abuddin. Akhlak Tasawuf, Jakarta : Rajawali Pers, 2010 Rahardjo, M. Dawam, Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam, Jakarta: Pustaka Grafitipers, 1987
Saebani, Beni Ahmad. Ilmu Akhlak, Bandung: Pustaka Setia, 2012
[1]Beni Ahmad Saebani, Ilmu AkhlakI, (Bandung, CV Pustaka Setia, 2012), hlm 7
[2] Loc.it
[3] Ibid.hlm 95
[4]Loc.it
[5]Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm 60
[6] M. Dawam Rahardjo, Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam, (Jakarta: Pustaka Grafitipers, 1987) hlm 109
[7] Ibid. Hlm 112
[8] Loc.id
[9]Ibid. Hlm 113
[10] Ibid. Hlm 110
[11]Loc.it
[13] Loc.it
[14] Ibid. Hlm 227
[15]Loc.it
[16]Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers. 2010
0 Response to "INSAN KAMIL"
Posting Komentar