KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM
Kedudukan ilmu pengetahuan dalam filsafat pendidikan islam adalah sebagai hasil dari olah jiwa, indera, dan daya penalaran manusia yang dapat dijadikan sebagai salah satu sumber kebenaran ilmiah. Dan didalam alquran juga disebutkan bahwa kedudukan orang yang berilmu lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu.
Jadi dalam islam, sangat ditekankan dalam mencari ilmu pengetahuan yaitu melalui ilmu pendidikan, baik secara formal, informal, dan non formal. Karena dengan adanya ilmu, dapat membedakan yang mana baik dan buruk, serta membedakan derajat manusia sebagai khalifah dimuka bumi.
A. Pengertian ilmu pengetahuan
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu al-`ilmu yang artinya pengetahuan. Secara ontologis, antara ilmu dan pengetahuan sangat berbeda, baik dari segi makna dan subtansinya. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang dapat berasal dari ide, pengalaman, observasi, intuisi dan yang berasal dari wahyu dalam suatu pelajaran agama. Adapun pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh seseorang melalui berbagai cara misalnya dengan melihat, mendengar, merasakan, mengalami, membaca, dan lain-lain. Jadi ilmu pengetahuan adalah akumulasi dari berbagai pengetahuan yang telah di sestematikan, disusun rapi dan di tata menurut metode dan sistematika tertentu.[1]
B. Kedudukan Ilmu Pengetahuan
Kedudukan Ilmu dalam Islam sebagaimana dijelaskan dalam puluhan ayat al-Qur’an mendudukkan ilmu dan para ilmuwan di tempat yang terhormat. Ini tidak terlepas dengan fungsi dan peran ilmu. Ilmu jelas merupakan modal dasar bagi seseorang dalam memahami berbagai hal baik terkait urusan duniawi maupun ukhrawi. Salah satu bukti nyata kemuliaan ilmu dalam Islam adalah ayat yang pertama diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad berhubungan dengan ilmu. Allah swt. berfirman, “Bacalah dan Tuhanmulah
Yang Maha Pemurah Yang mengajarkan (manusia) dengan perantara qalam (pena). Dia mengajar- kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [2]
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ayatullah Sayyid Hasan Sadat Mustafawi bahwa kata qalam sebenarnya juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan untuk mentransfer ilmu kepada orang lain. Kata qalam tidak diletakkan dalam pengertian yang sempit. Sehingga pada setiap zaman kata qalam dapat memiliki arti yang lebih banyak. Seperti pada zaman sekarang, komputer dan segala perang- katnya termasuk internet bisa diartikan sebagai penafsiran kata qalam. Allah juga bersumpah atas nama salah satu sarana ilmu, qalam alias pena. Allah swt. berfirman, “Nûn. Demi qalam dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tiada putusnya. Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [3]
Al-Qur’an juga banyak menyebutkan kedudukan dan keutamaan para ilmuwan. Salah satunya firman Allah swt. berikut: “Katakanlah, Adakah sama orang-orang yang mengetehui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Juga dalam firman Allah swt. yang lain, “Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dari sekian banyak manusia yang ada di muka bumi ini, para ilmuwanlah yang dinilai paling banyak memiliki pengetahuan, pemahaman, dan keimanan pada segala hal yang berasal dari Allah. Mereka juga dinilai paling mampu dalam menyebarkan dakwah. Mengenai posisi istimewa ini, Allah swt. berfirman, “Orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang di- turunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji.[4]
Allah swt. juga berfirman dalam ayat yang lain, “Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat. Semua itu dari sisi Tuhan kami. Hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran (dari ayat-yat itu). Allah swt. berfirman pula, “Perumpamaan-perumpamaan itu kami buatkan untuk manusia. Tiada yang dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. Allah swt. senatiasa menganjurkan para ilmuwan untuk meng- amati kerajaan langit dan kerajaan bumi serta segala sesuatu yang telah diciptakan Allah, agar mereka bertambah yakin akan kekuasaan Allah.
Dalam Alquran kata ilmu disebutkan sebanyak 80 kali. Pengulangan kata ilmu menunjukan betapa pentingnya ilmu dalam islam. Dalam Alquran, untuk menyebutkan ilmu pengetahuan lebih sering digunakan kata al-`ilmu, karena kata tersebut memiliki karakter yang lebih khusus. Sebab dalam penggunaannya kata tersebut di atribusikan kepada Allah. Berdasarkan makna semantic diatas.
Berdasarkan makna semantic diatas, dapat dipahami bahwa dalam islam Allah adalah sumber segala ilmu pengetahuan dan karenanya semua ilmu pengetahuan yang diketahui dan dimiliki manusia datangnya dari Allah yang diperoleh oleh jiwa-jiwa yang aktif dan kreatif. Sebab tanpa jiwa yang aktif, ilmu tidak akan dapat diraih. Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan manusia. Ilmu adalah bekal yang diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat manusia sebagai khalifah. Yang mana ilmu pengetahuan untuk menjangkau kehidupan duniawi dan ukhrawi manusia. Ilmu digapai manusia untuk mendapatkan kebenaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kedudukan ilmu pengetahuan dalam filsafat pendidikan islam sebagai alat untuk mendapatkan kebenaran, yaitu Allah, dimana ilmu pengetahuan merupakan hasil dari olah jiwa, olah pikir, olah indera, serta daya penalaran manusia yang dapat dijadikan sebagai sumber kebenaran. Sehingga dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dimana derajat kehidupan manusia akan sangat ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia wajib dilindungi oleh keimanan.[5]
Dengan demikian ilmu dan iman adalah kajian mendasar filsafat pendidikan islam, yang hakikatnya semua ilmu digunakan untuk memperkuat keimanan, dan keimanan terus ditingkatkan oleh ilmu pengetahuan.
C. Hadist-hadist tentang ilmu
1. Anjuran menuntut ilmu
وَعَنْ اَ بِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ ا هللُّ عَنْهُ، أنََّ رَسُوْلَ ا هللِّ صلي الله عليه وَ سَ لَّمَ قاَلَ : مَنْ سَلكََ طَرِيْقًا يَلْتمَِسُ فيِْهِ عِلْمًا سَهَّلَ ا هللُّ لَهُ طَرِيْقًاإِلَى الْجَنَّةِ. ) رواة مسلم(
(1): Dari Abu Hurairah RA. berkata; Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang berjalan disuatu jalan menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim).
Hadis nomor (1) diatas menegaskan keutamaan orang yang menuntut ilmu pengetahuan, yang antara lain:
1. Bagi orang yang menuntut ilmu berarti ia telah menempuh jalan kebaikan.
2. Bagi orang yang menunut ilmu dengan niat ibadah, maka Allah akan memberikan kemudahan.
3. Allah menjanjikan bagi orang yang menunut ilmu pengetahuan, sesuatu yang amat tinggi nilainya lagi menggembirakan yaitu mempermudah jalan ke surga. [6]
وَعَنْ أنَسٍَ رَضِيَ ا هللُّ عَنْهُ قاَلَ، قلََ رَسُوْلُ هللّ صلي هللّ عَ لَيه وَسَلم: مَنْ خَرَجَ فِي طَلبَِ الْعِلْمِ فهَُوَ فِى سَبيِْلِ ا هللِّ حَ تىَّ يَرْجِعَ )رواه الترمزي(
(2): Dari Anas RA berkata; Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berjuang dijalan Allah sehingga ia kembali.
(HR. Tarmidzi).
Hadis tersebut menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang menunut ilmu pengetahuan, yaitu:
1. Bagi orang yang menuntut ilmu pengetahuan disamakan kedudukannya dengan orang yang pernah membela agama (fisabilillah).
2. Bagi orang yang menuntut ilmu, maka sejak ia keluar dari rumah sampai kembali tetap disebut sebagai fisabilillah (pembela agama).[7]
عَنْ عَبْدِ ا هللِّ بْنِ عَمْرٍ و بْنِ الْعَاصِ أنََّ النبَِّيَّ صَلىَّ ا هللُّ عَليَْهِ وَسَلمََّ قَالَ بَلغَّوُْا عَنَّي وَ لَوْايَةً، وَحَدَّ ثوُْا عَنْ بنَِيْ
إسِْرَائيِْلَ وَلاَ حَرَجَ ، وَمَنْ كَدبََ عَلَيَّ مُتعَمََّداً فَلْيتَبََوَّأْ مَقْعَدهَُ مِنَ النَّارِ. رَوَاهُ الْبخَُارِ ي .
1388. Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sampaikanlah ajaran dariku sekalipun hanya satu ayat dan ceritakan kisah Bani Israil dan tidak akan berdosa. Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah masuk neraka.” (HR.Bukhari)
Penjelasan
Imam An-Nawawi Rahimahullah telah memaparkan sejumlah hadits di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin tentang keutamaan ilmu. Di antaranya adalah hadits Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada Ali Radhiyallahu Anhu ketika ia diserahi tugas memegang bendera pada perang Khaibar. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berjalanlah dengan tenang lalu ajaklah mereka untuk masuk islam dan sampaikanlah kepada mereka tentang kewajiban beribadah kepada Allah. Maka demi Allah, sungguh jika karena upayamu ini Allah memberikan petunjuk kepada seseorang, maka pahalanya lebih baik bagimu daripada unta merah.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersumpah, jika Allah Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada satu orang saja, maka pahalanya lebih baik baginya daripada unta merah. Al-humru dengan mensukunkan huruf mimnya adalah bentuk jamak dari kata hamra “warna merah”. Sedangkan al-humur dengan mendhamahkan huruf mim adalah bentuk jamak kata himar “unta”. Oleh karena itu, terkadang para santri salah membacanya. Mereka membacanya dengan mendhamahkan huruf mimnya (humur) yang berarti keledai. Maka artinya menjadi: “Pahalanya lebih baik bagimu daripada keledai merah.” Bacaan ini sangat salah. Karena kata humur adalah bentuk jamak dari kata khimar “keledai”. Seperti dalam firman Allah Ta’ala:
كَانَههُمْ حُمُرٌمُسْتنَنْفِرَةٌ
”Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut.” (QS. Al-
Muddatstsir:50)
Sedangkan kata humrun dengan mensukunkan huruf mim adalah bentuk jamak dari kata hamra atau ahmar artinya warna merah. Hal yang dimaksud di dalam hadits ini adalah bentuk jamak hamra, yaitu unta yang berwarna merah yang merupakan harta yang paling digandrungi dan paling dicintai orang-orang Arab pada saat itu. Jika Allah Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada seseorang karena upayamu, maka pahalanya lebih baik daripada unta merah. Hadits ini mengandung anjuran untuk mencari ilmu, mengajarkannya serta mendakwahkannya. Karena tidak mungkin seseorang berdakwah menyeru manusia kepada jalan Allah Ta’ala melainkan harus memiliki pengetahuan tentang syariat islam. Berdakwah menyeru ke jalan
Allah Ta’ala merupakan dalil keutamaan ilmu.
Kemudian penulis mencantumkan hadits Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu dari ayahnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau telah bersabda: “Sampaikan ajaranku sekalipun hanya satu ayat.” Maksudnya adalah dakwahkan ajaranku ini, baik berupa ucapan maupun perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada semua orang. Dakwahkanlah kepada orang lain walaupun hanya satu ayat. Walaupun hanya satu ayat, artinya setiap muslim tidak boleh mengatakan “Aku tidak akan berdakwah sebelum aku menjadi seorang ulama besar.” Justru harus tetap mendakwahkannya walaupun hanya satu ayat dengan syarat dirinya telah menguasai ilmunya dan yakin bahwa yang disampaikannya itu benar-benar sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, di bagian akhir beliau bersabda “Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah masuk neraka.”
Siapa saja yang berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sengaja padahal dirinya tahu sedang berdusta, maka bersiapsiaplah masuk neraka. Huruf lam didalam hadits diatas adalah huruf lam amer (kalimat perintah) akan tetapi yang dimaksudnya disini adalah bentuk kalimat berita. Artinya dirinya telah memesan tempat di neraka atau dengan kata lain dirinya sudah layak untuk menjadi penghuni neraka, karena telah berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak bisa disamakan dengan berdusta atas nama seseorang. Berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam sama seperti berdusta atas nama Allah Ta’ala dan mendustakan syariat yang dibawa oleh beliau. Atau dengan kata lain: “Mendustakan seorang ulama tidak sama dengan mendustakan orang awam.” Misalnya engkau berkata, “Si Fulan berkata begini dan begitu. Ada seorang ulama berkata: ini haram dan ini halal. Atau ini yang wajib dan ini yang sunah.” Kemudian engkau mendustakannya. Maka perbuatanmu ini dosanya lebih besar daripada mendustakan banyak orang karena para ulama merupakan pewaris para nabi.
Para ulama juga sebagai penyampai syariat Allah Ta’ala dan pewaris Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ketika engkau mendustakan seseorang ulama si A misalnya, yang mengatakan begini dan begitu, maka dosanya akan sangat besar. Sebagian orang jika menginginkan sesuatu, mereka berani melarang orang lain agar tidak menginginkannya dan ia berani mengatakan, “Kata ustadz, benda ini hukumnya haram.” Padahal ucapannya dusta belaka. Karena dia tahu bahwa kebanyakan orang-orang awam akan menerima ucapan seorang ulama, maka dia pun berani berdusta atas nama seorang ulama. Perbuatan ini dosanya lebih besar daripada berdusta kepada manusia.
Hal yang terpenting ialah siapa saja berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sengaja, maka siap-siaplah menjadi penghuni neraka. Siapapun yang dengan sengaja menyampaikan hadits palsu, maka ia termasuk dalam kelompok para pendusta yang diancam akan masuk neraka.
Betapa banyak orang-orang yang menyebarkan buletin yang berisi hadits-hadits palsu. Akan tetapi, sebagian orang-orang bodoh menyebarkan dan membagikan buletin ini secara besar-besaran untuk menasehati masyarakat. Bagaimana mungkin dirinya menasehati masyarakat dengan kedustaan? Oleh karena itu, waspadalah dengan adanya selebaran-selebaran seperti itu yang disebarkan di masjid-masjid atau di tempelkan dipapan informasi masjid dan lain sebagainya. Kemungkinan selabran-selebaran tersebut memuat hal-hal penuh dusta sehingga orang yang menyebarkannya termasuk orang-orang yang disuruh untuk bersiap-siap masuk neraka kalau dirinya mengetahui bahwa isi selebaran tersebut adalah dusta belaka.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda didalam hadits Abdullah bin Amr: “Kalian tidak berdosa ketika menceritakan kisah Bani Israil.” Bani israil ada yang berkeyakinan Yahudi dan Nasrani. Ketika mereka mengatakan sesuatu, maka kita tidak akan berdosa karena menceritakannya. Dengan syarat dirimu tidak mengetahui bahwa ucapan mereka adalah dusta belaka, kalau tahu dustanya, maka jangan diceritakan. Karena bani israil dikenal sebagai para pendusta. Mereka selalu mengacak-acak ayat-ayat Taurat dari tempatnya masing-masing dan mendustakannya. Jika mereka mengatakan sesuatu, maka tidak mengapa jika engkau menceritakannya kembali dengan syarat isinya tidak bertentangan dengan syariat yang dibawa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jika isinya bertentangan syariat Islam, maka jangan disampaikan kepada orang kecuali bertujuan untuk menjelaskan kebatilannya.
Mencari Ilmu Bukan Karena Allah
عَ نْ أبَِي هُرَيْرَةَ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ ا هللِّ صلي الله عليه وسلم : مَنْ تعَلَمََّ عِلْمًا مِمَّاَ يبُْتغََي بِهِ وَجْه ُ ا هللِّ عَزَّ وَجَلَّ، لاَ -يتَعََلمَُّهُ إلِاَ لِيضُِبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الد نْيَا ، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يوَْمَ الْقِياَمَةِ، - يعَْنِى : رِيحَهَا 3664. Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ditujukan karena Allah, sedangkan dia mempelajarinya karena (ingin meraih) kesenangan duniawi, maka pada hari kiamat dia tidak akan pernah mencium bau surga.” (Shahih: Ibnu Majah), 252
عَنْ أبِيْ هُرَيْرَةأَ هنَ رَسُوْلَ ا هللِّ صَلَي ا هللِّ عَليَْهِ وَسَلهمَ قَالَ أذِاَمَا تَ ابْنُ آدمََ انِْقطََعَ عَنْهُ عَمَلهُُ ألِاهمِنْ ثلَاثٍَ:صَدقَةٍجَارِ يَةٍأوَْعِلْمٍ ينُْتفََعُ بِهِ أوَْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ. ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ (
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia (wafat) maka terputuslah seluruh amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya.”(HR. Muslim).[8]
Penjelasannya
Imam An-Nawawi Rahimahullah telah mencantumkan “Bab keutamaan
Belajar dan Mengajar,” di dalam kitabnya Riyadhus Shalihin sebuah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia (wafat) maka terputuslah seluruh amalannya kecuali karena tiga perkara: Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendoakan orang tuanya.”
Hadits ini mengajak setiap orang muslim untuk bersegera melakukan amal shalih karena setiap orang tidak mengetahui kapan dirinya akan didatangi malaikat maut. Oleh karena itu, bersegeralah beramal shaleh sebelum semua amal terputus. Karena amal shalihlah yang akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah Ta’ala. Dan perlu diketahui bahwa setiap orang tidak akan mengetahui kapan dan di mana dirinya akan mati.
Jika demikian halnya, maka hanya orang-orang yang berakallah yang akan menggunakan umurnya untuk melakukan ketaatan kepada Allah SWT sebelum ajal datang menjemputnya. Ungkapan “maka terputuslah semua amalnya,” adalah untuk seluruh amalnya, tidak akan dituliskan baik amal shalih maupun amal buruknya karena dirinya telah berpindah kealam barzah. Di dunia inilah tempatnya beramal sedangkan di akhirat kelak tempatnya menerima balasan.
Kecuali tiga perkara:
Pertama, “Sedekah jariah.” Seperti mewakafkan hartanya maka pahalanya akan terus mengalir kepadanya. Sebaik-baik sedekah jariah adalah berbentuk masjid. Membangun masjid merupakan amal jariah. Orang yang membangun mesjid akan terus mendapatkan pahala sedekah jariahnya selama mesjid masih tegak berdiri dipakai untuk sholat, membaca al-quran, belajar atau mengajarkan ilmu dan sebagainya. Diantara sedekah jariah adalah mewakafkan sebuah bangunan (gedung, rumah, dan lain-lain), kebun atau lain-nya untuk orang-orang fakir miskin, untuk para pencari ilmu dan para mujahid Allah SWT dan lain sebagainya. Diantara sedekah jariah adalah seseorang mencetak buku-
buku bacaan yang bermanfaat untuk kaum muslim karangan para penlis pemula maupun para penulis senior. Hal yang terpenting ialah buku-buku yang dicetaknya akan bermanfaat bagi kaum muslimin sepeninggalnya. Diantar sedekah jariah adalah memperbaiki sebuah jalan. Apabila ada seseorang yang memeperbaiki dan membersihkan dari paku dan lain-lain yang akan mencelakai orang sehingga orang lain bisa memenfaatkannya maka perbuatannya termasuk sedekah jariah.
Kedua, "imu yang bermanfaat.” Inilah jenis sedekah jariah yang paling luas dan paling bermanfaat yaitu ketika seseorang meninggalkan warisan ilmu yang terus dimanfaatkan oleh kaum muslimin, baik yang telah diajarkan oleh lisannya maupun tulisannya ketika seseorang menulis buku-buku dan mengajarkan kepada orang lain, selama buku-bukunya masih dimanfaatkan oleh orang-orang, maka pahalnya akan terus mengalir kepadanya karena orang lain benar-benar memanfaatkan ilmu yang diwariskannya.
Ketiga,”anak shalih yang mendoakan orang tuannya.” Anak shalih, baik lelaki maupun perempuan, anak kandung maupun cucu. Anak shalih yang mendoakan untuk seseorang yang telah meninggal dunia akan mendapatkan pahala. Lihatlah sabda Rasulullah SAW: “anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” Beliau tidak menyebutkan ”anak shalih yang shalat, membaca alquran, bersedekah atau berpuasa untuknya.” Beliau tidak sama sekali tidak menyebutkan semua itu padahal semuanya termasuk amal shalih. Justru yang beliau ucapkan adalah: “anak shalih yang mendoakan orang tuanya.” hal ini menjadi dalil bahwa berdoa untuk bapak, ibu, nenek dan kakek pahalanya lebih utama dari pada bersedekah, shalat atas nama mereka atau nabi saw tidak mungkin menunjiki umatnya melainkan pada kebaikan. Jika seseorang bertanya,” mana yang lebih utama, aku bersedekah atas nama ayahku atau aku berdoa untuknya?” maka kita menjawab,” berdoa lebih utama. Inilah petunjuk rasulullah saw dengan sabdanya:”anak shalih yang mendoakannya.”.[9]
DAFTAR PUSTAKA
Bahri M. Ghazali dan Djumaris, 1995, Hadis tarbawi, Jakarta, CV. Pedoman Ilmu Jaya.
Lubis Ibrahim, Ilmu pengetahuan dan kedudukannya, diakses dari http://www.anekamakalah.com/2014/06/makalah-ilmu-pengetahuan-dankedudukannya.html, pada tanggal 24 pebruari 2018 pukul 23:12
Mulyono, “Kedudukan ilmu dan belajar dalam islam”, Tadris. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2009
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 2010. Syarah Riyadus Shalihin Jilid 4. Jakarta: Darus Sunnah
[1] Ibrahim lubis, “ Ilmu pengetahuan dan kedudukannya”, diakses dari http://www.anekamakalah.com/2014/06/makalah-ilmu-pengetahuan-dan-kedudukannya.html, pada tanggal 24 febuari 2018 pukul 22:37
[2] Mulyono, “Kedudukan ilmu dan belajar dalam islam”, Tadris. Volume 4. Nomor 2. Tahun 2009, hlm. 210
[4] Ibid. Hlm. 211
[5] Ibrahim lubis, Ilmu pengetahuan dan kedudukannya, diakses dari http://www.anekamakalah.com/2014/06/makalah-ilmu-pengetahuan-dankedudukannya.html, pada tanggal 24 pebruari 2018 pukul 23:12
[6] M. Bahri Ghazali dan Djumaris, Hadis tarbawi, CV. Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1995, hlm. 64.
[7] Ibid. Hlm. 65.
[8] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin jilid 4, Darus Sunnah Press, Jakarta Timur, hlm. 56
[9] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin jilid 4, Darus Sunnah Press, Jakarta Timur, hlm. 57
0 Response to "KEDUDUKAN ILMU DALAM ISLAM"
Posting Komentar