KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

KISAH NABI MUHAMMAD SAW

Sejarah merupakan suatu rujukan yang sangat penting untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. berkaitan dengan itu kita bisa mengetahui kejadian-kejadian pada masa lalu, terutama  bagi umat islam. Perkembangan Islam, perkembangan islam pada masa Nabi Muhammad Saw.
Melalui berbagai cobaan dan tantangan yang dihadapi untuk menyebarkannya.   Pada awal mulanya Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Yang isinya menyeru manusia untuk beribadah kepadanya, mendapat tantangan besar dari berbagai kalangan Quraisy. Hal ini terjadi karena masa itu kaum Quraisy mempunyai sesembahan lain yaitu berhalaberhala. Karena keadaan demikian itulah, dakwah pertama yang dilakukan di Mekkah dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi, terlebih karena jumlah orang yang masuk Islam sangat  sedikit. Keadaan ini berubah ketika jumlah orang yang memeluk Islam semakin hari semakin banyak, Allah pun memerintah Nabi untuk melakukan dakwah secara berterang-terangan. Bertambahanya penganut agama baru yang dibawa Nabi Muhammad SAW. membuat kemapanan spiritual yang sudah lama mengakar di kaum Quraisy menjadi terancam. Karena hal inilah mereka berusaha dengan semaksimal mungkin mengganggu dan menghentikan dakwah tersebut.
 Dengan cara diplomasi dan kekerasan mereka lakukan, merasa terancam, Allah SWT. Memerintahkan Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslim lainnya untuk berhijrah ke kota Madinah. Disinilah babak baru kemajuan Islam dimulai.[1]

Nasab Nabi

Beliau adalah Muhammad Ibn Abdillah Ibn Abdul Muthalib Ibn Hasyim Ibn Abdul Manaf Ibn Qushayy Ibn Kilab Ibn Murrah Ibn Ka’ab ibn Lu’ay ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn Al-Nadhar ibn Kihanah ibn Khuzaymah ibn Mudrikah ibn Ilyas ibn Mudharr ibn Nazzar ibn Ma’add ibn ‘Adnan (‘Adnan adalah putra Nabi Isma’il). Inilah nasab yang disepakati sejarawan dan ahli nasab.[2]

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

 Secara esensial, kehadiran Nabi Muhammad pada masyarakat Arab adalah terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan yang memengaruhi segala aspek kehidupan masyrarakat, termasuk hukum-hukum yang digunakan pada masa itu. Keberhasilan Nabi Muhammda SAW dalam memenangkan kepercayaan bangsa Arab pada waktu yang relatif singkat kemampuannya dalam memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab. Sebagian dari nilai budaya Arab pra-Islam, untuk beberapa hal diubah dan diteruskan oleh masyarakat Muhammad ke dalam tatanan moral Islam. Secara geneologis, ia merupakan keturunan suku Quraisy, suku yang terkuat dan berpengaruh di Arab.[3]
 Nabi Muhammad SAW. dilahirkan pada hari senin, 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah, tahun ketika pasukan gajah Abrahah menyerang Mekah untuk menghancurkan Ka’bah, namun pasukan Abrahah dihancurkan Allah dan dijadikan tanda kekuasaanNya bagi umat manusia sebagaimana terangkum dalam surah Al-Fil. Menurut sebagian ulama bertepatan dengan bulan April tahun 571 M. Beliau dilahirkan yatim di rumah Abu Thalib dari Bani Hasyim ayah beliau Abdullah, meninggal dunia saat beliau berumur dua bulan dalam kandungan sang ibu.[4]
 Merupakan kebiasaaan di antara orang-orang kaya dan kaum bangsawan Arab bahwa ibu-ibu tidak mengasuh anak-anak mereka, tetapi mereka mengirimkan anak-anak itu ke pedesaan untuk diasuh dan dibesarkan di sana. Begitu pula, Muhammad setelah diasuh beberapa lama oleh ibunya, dipercayakan kepada Halimah dari suku Bani Sa’ad untuk diasuh dan dibesarkan. Kemudian saat Nabi Muhammad berusia 6 tahun ibunya Siti Aminah ingin menziarahi makan suaminya di Madinah namun ditengah perjalanan, yaitu di Abwa Aminah menderita sakit dan menghembuskan nafas yang terakhir di sana.[5]
 Setelah Aminah meninggal Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad namun 2 tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab berikutnya beralih kepada pamannya Abu Thalib. Sang paman sangat disegani dan dihormati kaum Qurasy dan penduduk Mekah secara keseluruhan tetapi dia miskin. Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Melalui kegiatan pengembalaan ini, dia menemukan tempat untuk berfikir dan merenung. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya. Oleh karena itu, sejak muda ia telah dijuluki al-amin.[6]
 Selanjutnya, Nabi Muhammad melakukan perjalanan untuk pertama kali dalam khafilah dagang ke Syiria (Syam) dalam usia baru 12 tahun.
Khafilah itu di pimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di Busra, sebelah selatan Syiria ia bertemu dengan pendeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai dengan cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan bahwa pendeta itu menasehati Abu Thalib agar tidak terlalu jauh memasuki daerah Syiria, sebab dikhawatirkan orang-orang Yahudi mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat kepadanya. Perkiraan pendeta tersebut dibuktikan dengan sejarah kenabian Muhammad sampai sekarang.[7]
 Di waktu beliau berumur 14 tahun terjadilah peperangan Fijar ke IV antara Quraisy dan Kinanah di satu pihak, dan Hawazin di pihak lain. Nabi ikut menyaksikan peperangan itu. Ada riwayat menceritakan bahwa mengenai hal ini beliau pernah bersabda:
Waktu peperangan Fijar itu, aku ikut memeberikan anak panah kepada paman-paman ku. Waktu itu aku sudah berusia 14 tahun.” 
 Peperangan ini disebut peperangan Fijar karena terjadinya pada bulanbulan yang oleh bangsa Arab dilarang berperang. Ada lima kali terjadi peperangan Fijar itu, di dalamnya ikut Kinanah, Hawazin, dan Quraisy. Lama juga peperangan ini baru usai, yaitu sesudah menelan waktu empat tahun lamanya. Adapun bulan-bulan yang dilarang berperang padanya oleh bangsa Arab ialah Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab. [8]
 Ketika Nabi Muhammad berusia 25 tahun, ia berangkat ke Syiria membawa barang dagangan seorang saudagar wanita kaya yang telah lama menjanda, ia adalah Khadijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran itu diterima dan perkawinan segera dilaksanakan. Ketika itu Nabi Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan banyak membantu Nabi dalam perjuangan menyebarkan Islam. Perkawinan bahagia dan saling mencintai itu dikaruniai enam orang anak dua putra dan empat putri. Yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Kedua putranya meninggal waktu kecil Nabi Muhammad tidak menikah lagi sampai Khadijah meninggal ketika Nabi Muhammad Berusia 50 tahun.[9]  Di kala beliau mencapai usia 30 tahun saat itu Quraisy memperbaharui
Ka’bah. Beliau ikut bekerja dan membawa betu bersama-sama dengan mereka. Setelah pekerjaan selesai, mereka akan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Maka terjadilah perselisihan pendapat diantara suku-suku Quraisy tentang siapa yang akan mengangkat Hajarul aswad dan meletakkan di tempatnya.
 Perselisihan pendapat ini nyaris menimbulkan peperangan di antara mereka. Mujur kemudian mereka dapat menemukan jalan tengah untuk keluar dari perselisihan itu. Yaitu, mereka sekata akan menyerahkan penyelesaian permasalahan ini kepada siapa yang mula-mula datang nanti dengan melalui pintu Syaibah. Kebetulan Muhammad lah yang datang. Lalu mereka ber-seru:
“Inilah Al Amin, kami setuju dia menyelesaikan permasalan ini.”
 Mereka menceritakan kepada Nabi Muhammad peristiwa yang telah terjadi. Nabi Muhammad berpikir, kemudian menghamparkan jubahnya dan meletakkan Hajar Aswad diatasnya, seraya berkata: “Sekarang masing-masing kabilah dipersilahkan memegang tepi kain ini, dan angkatlah ke atas.” Mereka mengengkat batu sampai setentang dengan tempatnya kemudian Nabi Muhammad sendiri mengambil Hajar Aswad dan meletakkan di tempatnya. Mereka semuanya rela dengan penyelesaian semacam ini.[10]

Masa kerasulan Nabi Muhammad 
 Usianya telah bertambah lanjut menyebabkan dapat berpikir lebih mendalam. Budi pekertinya yang luhur menjadikan jiwanya lebih suci. Sementara itu Tuhan pun telah menumpahkan inayat-Nya Kepada Beliau, maka menghunjamlah pada jiwa keinginan hendak mencurahkan perhatian dan waktu segenapnya kepada Allah. Isterinya beliau pun memberikan dukungan yang penuh terhadap keinginan beliau ini. Disediakannya makanan untuk bekal Nabi Muhammad dalam melaksanakan maksudnya. Makanan itu dibawanya ke gua Hira’ disana beliau mengasingkan diri dan berpikir tentang alam dan khaliqnya, tentang mati dan keadaan manusia sesudah mati itu dan lain-lain.[11]
 Teruslah Nabi Muhammad mengasingkan diri dan berfikir, hingga turunlah kepadanya jibril pada tanggal tujuh belas bulan Ramadhan. Jibril, lalu berkata: “bacalah!”, beliau menjawab: saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulanginya perintah ini untuk kedua dan ketiga kalinya. Dan pada ketiga kalinya, Jibril berkata kepadanya:
(1) Bacalah dengan (menyebutkan) nama Tuhanmu yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. (4) Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaran kalam. (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.  (QS. Al-Alaq:15).[12]
 Setelah itu Jibril meninggalkan, dan Nabi Muhammad sudah tidak kuat lagi berada di goa Hira’. Akhirnya beliau pulang kerumahnya dan menghampiri Khadijah dengan gemetar sambil berkata: “Selimuti saya!, selimuti saya!”, maka Khadijahpun menyelimutinya, sehingga rasa takutpun sirna.[13]
 Lalu beliau memberitahu Khadijah tentang apa yang telah diperolehnya dan berkata: “Sungguh saya khawatir terhadap diriku”. Khadijah menjawab: “Sekali-kali tidak, demi Allah, Dia tidak akan merendahkan dirimu untuk selamanya, karena sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambungkan tali persaudaraan, menanggung beban kesusahan orang lain, memberi orang yang tak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang menegakkan kebenaran”.
 Beberapa hari kemudian, beliau kembali ke goa Hira untuk melanjutkan ibadahnya dan menghabiskan yang masih tersisa dalam buan Ramadhan. Setelah bulan Ramadhan berakhir, beliau turun dari goa Hira dan kembali ke Mekkah. Ketika sampai di tengah lembah, Jibril mendatanginya sambil duduk diatas kursi antara bumi dan langit, lalu turunlah ayat:
(1)      Hai orang yang berkemul (berselimut), (2) Bangunlah, lalu berilah peringatan! (3) Dan Tuahanmu agungkan lah! (4) Dan pakaianmu bersihkanlah, (5) Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (QS. Al-Muddatsir: 1-5)

 Dakwah sembunyi-sembuyi 
Setelah itu, wahyu pun turun terus-menerus dan berkelanjutan. Nabi memulai dakwahnya, Khadijah masuk Islam dan bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian suaminya yang mulia. Sehingga, ia adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Kemudian, sebagai balas budi pada pamannya, Abu Thalib yang mengasuhdan menjaganya sejak kepergian Ibu dan Kakeknya, Nabi Muhammad memilih Ali dari sekian banyak putra itu, untuk di didik di sisinya dan ditanggung nafkahnya. Dalam kondisi seperti ini, hati Ali pun terbuka dan akhirnya masuk Islam. Setelah itu, barulah Zaid bin Haritsah, seorang budak yang telah dimerdekakan oleh Khadijah menyusul masuk Islam. Nabi Muhammad juga bercerita kepada teman akrabnya, Abu Bakar, maka iapun beriman dan membenarkannya, tanpa keraguan.[14]
Banyak orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar. Mereka terkenal dengan nama julukan “ Assabiqunal awwalun” (orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam). Mereka ialah: Ustman bin Affan, Zubair bin Awwan, Saad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidilah, Abu Ubaidah bin Jarrah dan Al-Aqram bin Abil Aqram. Rumah Al-Aqram bin Aqram dijadikan markas seruan kepada agama baru itu. Disamping itu yang disebutkan pula hamba sahaya dan orang-orang miskin yang masuk Islam.[15]

Dakwah secara terang-terangan 

 Setelah Rasulullah berdakwah secara rahasia selama tiga tahun, laulu Allah menurunkan ayat:
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahakan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. Al-Hijr: 94).[16]
 Pada suatu hari Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa memanggil suku Quraisy, hingga orang-orangpun mengerumuninya. Diantara mereka, terdapat pamannya, Abu Lahab, seorang tokoh Quraisy yang paling memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Tatkala orang-orang telah berkumpul, beliau bersabda:
“Bagaimana pendapat kalian, seandainya saya memberitahu kalian bahwa dibalik gunung ini ada musuh yang menanti kalian, apakah kalian mempercayai saya?”, mereka menjawab: “Yang terlintas di hati kami tentang anda adalah kejujuran dan amanah”, beliau lalu bersabda: “Saya adalah orang yang member peringatan kepada kalian bahwa di hadapan kalian ada siksa yang maha berat’’. Kemudian Rasulullah menganjak mereka untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala yang selama ini mereka sembah. Abu Lahab langsung keluar dari kerumunan orang-orang dan berkata:
“Celakalah kamu!, pakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami?”. Setelah kejadian ini, Allah menurunkan QS. Al-Lahab.
 Dan Nabi tetap menlanjutkan dakwa dan memulai secara terangterangan di tempat-tempat mereka berkumpul, dan mengajak mereka masuk agama Islam, bahkan beliau melakukan shalat di sisi Ka’bah. Sementara itu, penyiksaan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin semakin bertambah.[17]

Hijrah Ke Habasyi

Berkenaan dengan terus-menerusnya siksaan kaum musyrikin kepada orang-orang yang masuk islam, terutama orang-orang lemah, Rasulullah meminta para sahabatnya untuk hijrah ke Habasyi demi menyelamatkan agama mereka di sisi Najasyi yang menjamin keamanan mereka, terutama keamanan sebagian besar kaum muslimin yang menghkhawatirkan diri dan keluarga mereka dari kaum Quraisy peristiwa ini tepat nya terjadi pada tahun kelima dari masa kenabian.
 Lalu berhijrahlah serombongan kaum muslimin yang berjumlah kurang lebih 70 orang beserta keluarga mereka ke Habsyi. Di antara terdapat Ustman bin Affan beserta isterinya, Ruqayyah. Namun orang-orang Quraisy berusaha merusak kedudukan mereka di Habasyi. Maka mereka mengirim hadiah untuk raja dan memintanya agar menyerahkan kaum muslimin kepada mereka. Mereka mengatakan kepada raja bahwa kaum muslimin menjelekjelekkan Isa dan Ibundanya. Tatkala raja Najasyi menanyakan hal tersebut kepada kaum muslimin, dan merekapun menjelaskan pandangan Islam tentang Isa dengan sebenar-benarnya, maka raja mengaankan mereka dan meolak untuk menyerahkan mereka kepada orang-orang Quraisy.[18]

Tahun duka cita.
 Penyakit keras telah menjulur keseluruh tubuh Abu Thalib, dan ia tidak dapat meninggalakan tempat tidur. Tak lama kemudian ia menghadapi sakaratul maut. Ketika itu Rasulullah berada di sisi kepalanya menghadap agar ia mau mengucapkan kalimat la ilaha illallah sebelum kematiannya. Namun teman-teman buruknya yang juga berada di sisinya, termasuk tokoh mereka Abu Jahal, mencegahnya dengan berkata kepadanya: “Jangan tinggalkan agama leluhurmu”. Akhirnya ia pun meninggal dalam keadaan musyrik. Maka kesedihan Rasulullah atasnya semakin berlipat ganda karena beliau telah ditinggalkannya sebelum pamannya memeluk agama islam.
 Tak lama kemudian tepat dua buan setelah kematian Abu Thalib, Khadijah meninggal dunia. Sehingga Rasulullah semakin merasakan duka yang sangat pedih. Sementara itu cobaan yang ditimpakan oleh kaumnya kepada beliau setelah kemattian Abu Thalib dan isterinya Khadijah, justru semakin berat.[19]

Pergi ke Thaif
Kaum Quraisy terus-menerus menganiaya, menguasai dan menyakiti kaum muslim dan Rasulullah lalu mencoba membuat terobosan baru dalam misi dan strategi dakwahnya, lalu pikiran beliau tertuju suku Thaif dengan harapan semoga Allah memberikan petunjuk kepada penduduknya untuk memeluk Islam. Dan perjalanan ke Thaif ini sebenarnya tidaklah mudah, mengingat sulitnya jalan yang disebabkan gunung-gunung yang tinggi yang mengelilingi. Akan tetapi, setipa kesulitan itu menjadi mudah bila berada dijalan Allah. Naifnya, penduduk Thaif justru menolak beliau dengan penolakan yang lebih buruk. Mereka menyuruh anak-anak kecil mereka melempari beliau dengan batu, sehingga kedua tumit beliau berddarah. Akhirnya, beliau kembali melalui jalan semula menuju Mekkah dalam keadaan sedih dan susah. Lalu Jibril bersama malaikat gunung menghampirinya. Jibril memanggil beliau dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kepadamu malaikat gunung untuk kamu suruh sesuai keinginanmu”. Setelah itu malaikat gunung berkata: “ Hai Muhammad, jika kamu mau, aku akan meruntuhkan kedua benda keras ini (maksudnya, dua gunung yang mengelilingi Mekkah) di atas mereka”. Nabi menjawab: “Justru saya mengharapkan agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka, orang yang mau menyembah Allah yang Maha Esa, yang tidak ada sektu bagiNya.[20]
Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
 Kata “Isra” berasal dari bahasa Arab yang berarti perjalanan malam, sedangkan menurut istilah Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil ‘Aqsha atau Baitul Maqdis di Palestina.
  Mi’raj berarti naik atau menuju keatas, menurut istilah Mi’raj adalah naiknya Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil ‘Aqsha menuju ke al Arsy (Sidrotul Munthaha) untuk menghadap Allah SWT. Isra’ Mi’raj adalah pertolongan dari Allah Swt. untuk Nabi yang mulia ini. Pada malam ke-27 Rajab dari tahun kesepuluh masa kenabian, ketika Rasulullah tertidur, tibatiba Jibril mendatangi beliau dengan membawa Buraq, yang dapat berlari kencang laksana kilat, lalu Jibril menaikkan beliau di atas Buraq ini yang kemudian dari sana beliau dinaikkan ke langit dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang agung.[21]
 Perjalanan Nabi Muhammad SAW. dengan Malaikat Jibril yang pertama menuju Masjidil Aqsha di Palestina, selama perjalanan mereka singgah di lima tempat :
1.      Kota Yatsrib, sekarang disebut Madinah al-Munawarah.
2.      Kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa as ketika dikejar tentara Fir’aun.
3.      Thursina, yaitu tempat Nabi Musa menerima kitab Taurat
4.      Bethlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa as
5.      Masjidil Aqsha di Pelestina, yaitu tempat yang dituju dalam perjalanan malam tersebut.
Di setiap persinggahan Nabi Muhammad SAW. selalu melakukan shalat dua rakaat. Nabi Muhammad SAW. juga disuguhi dua buah gelas yang berisi susu dan arak, Nabi Muhammad SAW. mengambil sebuah gelas yang berisi susu, kemudian Malaikat Jibril mengucapkan selamat kepada Nabi Muhammad SAW. karena beliau telah memilih yang baik bagi dirinya dan umatnya. Setelah menjadi imam shalat Rasulullah SAW. bersama Malaikat Jibril menuju Sidratul munthaha untuk menghadap Allah SWT. Dalam perjalanan menuju sidrotul munthaha Nabi Muhammad SAW. dan Malikat Jibril singgah di tujuh lapis langit yaitu :
1.      Langit pertama, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Adam
2.      Langit kedua, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Ishaq
3.      Langit ketiga, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Yusuf
4.      Langit keempat, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Idris
5.      Langit kelima, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Harun
6.      Langit keenam, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Musa
7.      Langit ketujuh, Rasulullah SAW. bertemu dengan Nabi Ibrahim
Setelah melewati ke tujuh lapis langit tersebut Rasulullah SAW. diajak ke Baitul Makmur tempat para malaikat melaksanakan thawaf. Kemudian Rasulullah SAW. naik menuju sidratul munthaha dan dalam perjalanan ini malaikat Jibril tidak ikut serta. Kemudian Nabi Muhammad SAW. berjumpa dengan Allah SWT., dalam pertemuan tersebut Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk melaksanakan shalat sebanyak lima puluh waktu. 
 Ketika hendak turun nabi Muhammad Saw. bertemu dengan Nabi Musa AS dan diceriterakanlah apa yang telah diperintahkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw., Nabi Musa menyuruh Rasulullah Saw. untuk kembali menghadap Allah SWT. untuk memohon keringanan perintah shalat, Allah Swt. memberi keringanan kepada Nabi Muhammad SAW. menjadi lima waktu untuk setiap harinya.[22]
 Dan Allah SWT. Menjanjikan pahala yang sama bagi umat Nabi Muhammad Saw. seperti melaksanakan shalat 50 waktu.
 Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. dalam waktu singkat telah tersebar luas kabarnya di masyarakat Mekkah. Mengenai peristiwa itu kaum kafir Quraisy semakin membenci serta mengejek dan mencemooh Nabi Muhammad Saw. Abu Jahal menantang kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menceritakan peristiwa itu kepada masyarakat Mekkah, setelah masyarakat Mekkah berkumpul maka Nabi Muhammad Saw. menceriterakan peristiwa itu dengan rinci dan tiada yang terlewati. Mendengar cerita Nabi Muhammad Saw. bagi umat Islam yang masih lemah imannya banyak yang menjadi murtad tetapi bagi yang kuat imannya tetap tidak tergoyahkan dan tidak terpengaruh oleh ejekan itu, sebab mereka telah yakin tentang kebenaran Nabi Muhammad Saw. Cerita lain dari peristiwa ini terhadap apa yang dilakukan Abu Bakar Ash Shidiq, ia mempunyai sikap yang berbeda dengan yang lain, setelah ia datangi orang-orang yang masih ragu dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, ia mendatangi Rasulullah Saw. dan meminta penjelasan langsung dari beliau.
Setelah mendengar sendiri dari Rasulullah Saw. Abu Bakar Ash Shidiq langsung menerimanya, oleh sebab itu Nabi Muhammad Saw. memanggilnya dengan sebutan ”Ash-Shidiq”.[23]

Hijrah Ke Madinah

  Nabi Muhammad Saw. telah melaksanakan dakwah di Mekkah selama  kurang lebih 13 tahun, akan tetapi yang beriman di antara mereka hanya  beberapa saja,mereka masih tetap pada kemusrikannya dan selalu  mengganggu jalannya dakwah Islam dengan beragam cara, bahkan  mereka juga berusaha untuk membunuh Nabi Muhammad Saw. serta para  pengikutnya. Kota Mekkah tempat di mana Nabi Muhammad Saw.  dilahirkan, tidak memberikan harapan bagi dakwah Islam. Beberapa  tempat pernah dicoba untuk berhijrah, dan ternyata Yatsrib (Madinah)  merupakan alternatif yang paling baik untuk dijadikan pusat kegiatan dakwah  Islam.[24]
  Di masa itu Madinah menjadi tempat berlindung yang aman bagi umat  Islam, karena itu kaum muslimin mulai berhijrah ke sana. Namun proses  hijrahnya kaum muslimin ke Madinah tidak semudah yang kita gambarkan,  kaum Quraisy terus bertekad menghalangi mereka berhijrah. Sehingga  beberapa orang yang hendak berhijrah pasti akan mendapat berbagai macam  penganiayaan dan siksaan. Ketika itu kaum muslimin berhijrah secara  sembunyi-sembunyi menghindari kejaran kaum Quraisy. Berbeda dengan  hijrahnya Umar bin Khattab ra, yang menunjukkan keberanian dan tantangan.  Karena ketika itu ia membawa pedang dan juga membawa panahya tatkala  keluar menuju Ka’bah dan berthawaf di sana. Kemudian, ia tampil di hadapan  kaum musyrikin dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang isterinya  ingin menjadi janda atau anaknya menjadi yatim, hendaklah ia menemuiku,  karena aku akan berhijrah”. Kemudian, ia pergi dan tidak seorangpun yang  berani merintanginya. Berbeda dengan Abu Bakar as-Shiddiq, ia meminta izin  kepada Rasulullah untuk ikut berhijrah, namun beliau menjawab: “Jangan  tergesa-gesa! Mudah-mudahan Allah memberimu teman (untuk berhijrah)”.  Kondisi seperti ini berlangsung terus sampai sebagian besar kaum muslimin  telah berhijrah. Kaum Quraisy semakin memberikan tekanan tatkala  mengetahui hal itu, dan mereka khawatir akan berkembangnya dakwah Nabi  Muhammad Saw. dan pengikutnya. Kemudian mereka berkumpul guna  memusyawarahkan hal ini dan mereka bersepakat untuk membunuh
 Rasulullah Saw. Abu Jahal berkata: “Menurut pendapatku, kita beri sebilah  pedang kepada pemuda yang kuat dari masing-masing kabilah kita, lalu  mereka mengepung Muhammad dan memukulnya secara serentak, sehingga  darahnya terpisah-pisah pada beberapa kabilahdan Bani Hasyim tidak kuasa  untuk memusuhi semua orang”. Namun Allah Swt. memberitahu Nabi-Nya  yang mulia akan adanya persengkongkolan jahat tersebut. Kemudian,  Rasulullah Saw. mendatangi Abu Bakar as Shidiq member khabar aksi jahat  kaum kafir Quraisy dan bersepakat untuk melakukan hijrah. Menjelang  keberangkatan Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar Ash Shidiq ke  Madinah, pada malam harinya, Rasulullah meminta Ali bin Abi Thalib agar  tidur di tempat beliau, sehingga orang-orang mengira bahwa beliau masih  berada di rumah. Para komplotan ini pun tiba dan langsung mengepung rumah  Rasulullah. Mereka melihat Ali berada di tempat tidur dan menganggap ia  adalah Muhammad, lalu mereka menunggunya keluar untuk selanjutnya  menghabisi dan membunuhnya. Rasulullah keluar ketika mereka mengepung  rumah, lalu beliau menaburkan debu ke kepala mereka dan Allah mengalihkan  penglihatan mereka. Sehingga mereka tidak melihat kepergian Rasulullah  Saw. Rasulullah Saw. menuju ke rumah Abu Bakar as Shidiq kemudian  keduanya berjalan kurang lebih lima mil dan bersembunyi di gua Tsur di  sebelah selatan kota Mekkah.[25]
  Para pemuda Quraisy yang mengepung rumah Nabi Muhammad Saw.  tetap menunggu hingga subuh. Ketika memasuki subuh, Ali bangkit dari  tempat  tidur Rasulullah Saw. dan langsung jatuh ke tangan mereka, lalu  mereka bertanya tentang Rasulullah, namun Ali tidak memberitahu apapun  kepada mereka. Mereka memukulnya dan melumurinya dengan lumpur,  namun tetap tidak ada gunanya. Kemudian kaum Quraisy mengirim pencarian  di segala penjuru, dan akan memberikan seratus ekor unta bagi siapa saja yang  mendapatkan Muhammad hidup atau mati. Dalam pencarian itu mereka  sampai ke gua Tsur, hampir saja salah seorang sari mereka melihat ke arah  kedua telapak kaki, niscaya ia akan melihat Nabi Muhammad Saw. dan Abu  Bakar. Di saat itulah Abu Bakar sangat mengkhawatirkan akan keselamatan  Rasulullah Saw., kemudian beliau bersabda kepadanya: “Hai Abu Bakar,  bagaimana menurutmu tentang dua orang sedangkan Allah yang ketiganya.
  Jangan kamu khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita”.[26]
  Namun anehnya mereka tidak melihat Nabi dan Abu Bakar. Keduanya tetap berada di gua selama tiga hari kemudian keluarlah Rasulullah Saw. dan Abu Bakar tepat pula waktunya Abdullah Ibnu Uraiqath membawakan dua ekor unta, maka Rasulullah Saw. dan Abu Bakar menaiki unta tersebut diiringi Abdullah Ibnu Uraiqath menyusuri pantai laut merah menuju ke Madinah. Ketika itu, perjalanan sangat panjang dan terik matahari sangat menyengat. Pada waktu sore di hari kedua, keduanya melintasi sebuah kemah yang di dalamnya ada seorang wanita bernama Ummu Ma’bad. Keduanya meminta makanan dan minuman darinya, namun keduanya hanya mendapati seekor kambing yang sangat kurus, yang karena lemahnya, tidak bisa pergi ke tempat pengembalaannya dan tidak memiliki air susu setetes pun. Lalu Rasulullah bergegas menghampirinya dan mengusap susunya, lalu memerahnya hingga memenuhi satu wadah besar. Ummu Ma’bad terdiam heran atas apa yang dilihat, dan mereka semua meminumnya hingga mereka merasa kenyang. Lalu Rasulullah memerahnya kembali hingga memenuhi wadah tersebut dan meninggalkan untuk Ummu Ma’bad. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanannya. Sebelum memasuki Madinah Nabi Muhammad Saw. singgah di Quba’ dan mendirikan Masjid di atas tanah milik Khultsum bin Hamdan, keturunan keluarga Bani Amr bin Auf dari golongan Aus, yang sekarang masjid itu dikenal dengan masjid Quba’ dalam Al-Qur’an disebut juga masjid Taqwa. Setelah ada berita bahwa Nabi Muhammad Saw. dalam perjalanan menuju kota Madinah, penduduk Madinah telah menunggu kedatangan beliau dengan penuh kerinduan dan penghormatan. Pada hari kelima, tepatnya pada hari Jum’at 16 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan tanggal 2 Juli 622 M Nabi Muhammad Saw. beserta rombongan muhajirin disambut meriah oleh penduduk Madinah. Pada hari Jum’at ini pulalah untuk pertama kalinya Rasulullah Saw. mengadakan shalat Jum’at bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau berjalan dan kebanyakan kaum Anshar berusaha meraih Rasulullah dan memperoleh kemuliaan dengan menjamu beliau di sisi mereka. Maka mereka memegang tali kendali unta beliau dan beliaupun berterima kasih kepada mereka dan bersabda: “Biarkanlah, karena ia diperintah”. Tatkala unta tersebut sampai ke tempat yang Allah perintahkan, maka ia akan duduk. [27]
 Beliau tidak turun darinya sebelum unta tersebut bangkit dan berjalan sedikit, lalu menoleh dan kembali lagi. Akhirnya, unta tersebut duduk di tempat semula, dan beliau turun darinya. Tempat itulah yang kemudian menjadi Masjid Nabawi. Rasulullah Saw. singgah di rumah Abu Ayub al-Anshari. Sedangkan Ali bin Abi Thalib, ia tetap berada di Mekkah selama tiga hari sepeninggal Nabi, kemudian keluar menuju Madinah berjumpa dengan Nabi Saw. di Quba.[28]

 

Nabi di Madinah dan Pendirian Negara Islam

 Setelah hijrah ke Madinah, perkembangan Islam di kota tersebut mengalami kemajuan. Kesuksesan Nabi dalam mengembangkan Islam di Madinah, meliputi:
1.            Mendamaikan antara suku Khazraj dan suku Aus.
2.            Mempersatukan sahabat Muhajirin dan Anshor.
3.            Membuat perjanjian antara Umat Islam dan Yahudi.
4.            Membangun masjid.[29]

Perang Badar kubra.
 Perang Badar terjadi tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H, di dekat perigi bernama badar, 125 km selatan Madinah antara Mekkah dan Madinah karena itu peperangan ini terkanal dengan nama perang Badar. Sebab utama terjadinya perang Badar karena kaum kafir Quraisy telah mengusir kaum muslimin dari Mekkah. Ketika kafilah perdagangan kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb melintasi negeri Madinah, Rasulullah menyuruh mencegatnya di pertengahan jalan, karena harta yang dibawa oleh mereka sebagian besar adalah harta rampasan dari kaum muslimin ketika mereka akan berhijrah ke Madinah. Segera disusun pasukan Islam  sebanyak 313 orang yang terdiri dari 210 orang muslim Anshar dan lebihnya dari
Muslimin Muhajirin. Bendera pasukan Islam dipegang oleh Mus’ab bin Umair. Mendengar Rasulullah Saw. telah menyiagakan pasukan, Abi Sufyan segera kembali ke Mekkah memberikan kabar kepada tokoh kafir Quraisy. Maka Abu Jahal membentuk pasukan berkekuatan 1000 orang yang melindungi kafilah perdagangan mereka dari serangan pasukan Islam.
Rasulullah membentuk regu pengintai untuk menyelidiki kafilah perdagangan. Pasukan kafir Quraisy telah mengawal mereka menuju ke desa Badar. Hal ini segera dilaporkan kepada Rasulullah. Untuk menghadapi kafir Quraisy, Rasulullah bermusyawarah kepada sahabat Muhajirin dan Anshar, dan disepakati untuk segera menuju ke desa Badar untuk menyongsong kedatangan pasukan kafir Quraisy.Pasukan Islam berkemah dekat sumber air di desa Badar sehingga dengan mudah menghadang pasukan kafir Quraisy dan mencegah mereka untuk mengambil perbekalan air untuk pasukannya.[30]   Sebelum berkecamuk perang antara kedua pasukan, terjadi perang  tanding. Majulah dari pasukan kafir Quraisy Al-Awad bin Abdul Asad, dapat  dikalahkan oleh dari pasukan Islam. Lalu muncul Atabah bin Rabi’ah,  Syaiban bin Walid dari pasukan kafir Quraisy dan dapat dikalahkan oleh  Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin Abu Thalib dan Ubaid bin Al-Harist.  Pasukan Quraisy kemudian menyerbu medan perang, tetapi dapat dikalahkan  oleh pasukan Islam. Dengan 14 gugur sebagai syahid. Sedangkan dari kaum  musyrikin telah tewas 70 orang dan 70 orang lainnya ditawan. Di tengah  berkecamuknya perang ini, Ruqayah, putri Rasulullah yang juga isteri Utsman  bin Affan meninggal dunia. Ketika itu ia ditemani suaminya (Utsman) di  Madinah. Utsman tidak keluar ke medan pertempuran atas permintaan  Rasulullah untuk tetap mendampingi isterinya yang sedang sakit. Setelah  perang Badar Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang kedua,  Ummu Kultsum. Atas dasar ini Utsman mendapat gelar Dzunnurain (yang  memiliki dua cahaya), karena ia telah menikahi dua orang putri Rasulullah.  Setelah perang Badar, kaum muslimin kembali ke Madinah dengan gembira  atas kemenangan dari Allah, dengan membawa para tawanan dan ghanimah
            (harta rampasan perang). Di antara para tawanan ada yang telah menebus  dirinya, ada yang dilepaskan tanpa tebusan, dan ada juga yang menebus  dengan mengajar 10 orang anak muslim untuk membaca dan menulis.[31]

Perang uhud.
  Perang uhud terjadi pada pertengahan bulan Sya’ban tahun ke 3  hijriyah bertepatan dengan bulan Januari 625 M. perang ini terjadi di kaki  gunung Uhud yang terletak di sebelah utara kota Madinah. Sebab utama  terjadinya perang Uhud adalah kekalahan yang diderita oleh kaum kafir  Quraisy di peperangan Badar yang merupakan pukulan hebat dirasakan oleh Quraisy. Peperangan kedua yang terjadi setelah perang Badar, adalah perang  Uhud. Abu Sufyan mengumpulkan pasukan Quraisy berkekuatan 3000 yang terdiri dari orang-orang Quraisy, Arab Tihamah, Kinanah, bani al-Harits, bani al Haun dan bani al Musthaliq. Sedangkan pasukan muslim dipersiapkan 1000 orang. Namun baru saja berangkat untuk menghadapi pasukan Quaraisy, seorang munafik bernama Abdullah bin Ubai beserta 300 pengikutnya keluar dari pasukan Islam. Dalam perang ini Rasulullah Saw. mengatur strategi pasukan pemanah di bawah pimpinan Abdullah Ibnu Jabir di tempatlkan diatas bukit Uhud guna menghalau pasukan musuh. Pada peperangan ini, kaum muslimin mengalami kekalahan. Karena mereka telah menyalahi perintah Rasulullah dan tidak mematuhi strategi yang telah beliau buat. Kaum muslimin telah gugur sebagai syuhada ada tujuh puluh orang salah seorang di antaranya adalah Hamzah paman Rasulullah Saw. Setelah perang Uhud, orang-orang Yahudi keluar menuju Mekkah menyerukan kepada kaum kafir untuk memerangi kaum muslimin di Madinah, dan berjanji akan memberikan dukungan.
 Kaum kafir pun memenuhinya. Kaum Yahudi tidak saja menyerukan kepada kaum kafir Mekkah, tetapi juga kepada kabilah-kabilah lain, dan semuanya menyetujui ajakan tersebut. Maka, berangkatlah sekitar 10.000 pasukan kaum musyrikin menuju Madinah dari berbagai penjuru dan mengepungnya.[32]
Perang Khandaq
Perang Khandaq/Ahzab terjadi pada bulan Syawal tahun 5 hijriyah di sekitar kota Madinah bagian utara. Peperangan Ahzab sebagaimana namanya adalah gabungan dari golongan – golongan yang berkumpul dengan maksud menumpas Islam dan kaum muslimin. Rasa dendam bani Nadhir terhadap Rasulullah Saw. yang mengeluarkan mereka dari bagian Madinah dilakukan dengan menghasut tokoh Quraisy agar bersekutu dengannya. Abu Sufyan menyiapkan pasukan Kafir 10.000 orang, melihat pasukan kafir telah siaga, segera Rasulullah Saw. bermusyawarah, Salman al Farisi megusulkan membuat parit (khandaq) untuk menghambat laju musuh. Rasulullah Saw. dan para sahabat menyetuji usulan Salman al Farisi. Maka dibuatlah parit dari arah barat ke timur di kawasan utara kota Madinah, lalu pasukan Islam yang berjumlah kurang lebih 3000 orang juga telah disiap siagakan Zaid bin Harits sebagai pembawa bendera Muhajirin dan Saad bin Ubadah sebagai pembawa bendera Anshar. Ketika pasukan kafir akan memasuki kota Madinah mereka terkejut dengan taktik perang pasukan muslim. 
 Beberapa tokoh Quraisy mencoba menerobos parit untuk menghadapi pasukan Islam namun tidak berhasil, seperti yang dilakukan Ikrimah bin Abbu yang akhirnya ia meninggal. Di saat berkecamuknya perang khandaq ada dua peristiwa pertama Yahudi dari bani Quraidzah melanggar perjanjian, mereka enggan membantu pasukan Islam bahkan mereka bersekutu dengan pasukan kafir Quraisy, kedua seorang tokoh yang disegani oleh kafir Quraisy maupun
Yahudi bernama Nuaim bin Mas’ud memeluk agama Islam dan meminta Rasulullah Saw. untuk mengambil bagian dalam mempertahankan dan membela kota Madinah. Nabi Muhammad Saw. memerintahkan Nuaim bin Mas’ud untuk melaksanakan taktik guna memecahbelah kekuatan musuh yaitu “menyerang untuk membela diri” (ad Difa’ul Hujumy). Taktik ini berhasil hingga pasukan kafir Quraisy dengan Yahudi bani Quraidzah bermusuhan dalam barisan. Dalam perang ini Allah Swt. juga memberikan pertolongan kepada pasukan Islam dengan angin dan badai yang teramat besar yang memporak porandakan pasukan kafir. Akhirnya perang khandaq dimenangkan oleh pasukan Islam.
Penaklukan Kota Mekkah.
Pada tahun 8 hijriah, Rasulullah memutuskan untuk menaklukan kota Mekkah. Maka, pada tanggal 10 Ramadhan, beliau berangkat bersama puluhan pasukan menuju Mekkah. Kaum muslimin memasuki kota Mekkah tanpa terjadinya peperangan, dimana kaum Quraisy menyerah dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Lalu Rasulullah menuju
Ka’bah untuk thawaf dan shalat dua raka’at di dalamnya. Setelah itu, beliau menghancurkan berhala-berhala yang ada didalam ka’bah dan sekitarnya.
Rasulullah berdiri di pintu Ka’bah sedangkan kaum Quraisy berbaris di masjid Haram menantikan apa yang akan dilakukan Rasulullah. [33]  Rasulullah berkata kepada kaum Quraisy: “ Wahai kaum Quraisy, apakah yang akan aku lakukan terhadap kalian? Mereka menjawab: “kebaikan (engkau) saudara yang baik dan anak dari saudara yang baik pula” Rasulullah berkata: “Pergilah!, kalian telah bebas”. Rasulullah telah memberikan teladan yang agung dalam memaafkan musih-musuhnya yang telah menyiksa, menyakiti, membunuh para sahabatnya, dan mengusir dari kampung halamannya.
 Setelah penaklukan kota Mekah manusia berbodong-bondong memeluk Islam. Pada tahun kesepuluh hijriyah Rasulullah melaksanakan haji dan itulah satu-satunya haji yang dilakukan beliau bersama seratus ribu orang, dan setelah itu beliau kembali ke Madinah.

Wafatnya Rasulullah

 Sekitar dua bulan setengah, setelah kembalinya Rasulullah dari menunaikan ibadah haji, Rasulullah menderita sakit. Dan hari demi hari, sakitnya semakin bertambah parah. Setelah merasa tidak mampu menjadi imam sholat, beliau meminta Abu Bakar untuk menggantikannya. Tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, hari senin, akhir beliau menghadap Allah dalam usia 63 tahun.
 Berita kematian beliu sampai kepada para sahabat, dan hampir saja mereka tak sadar dan tidak mempercayai berita tersebut, hingga akhirnya Abu Bakar as-Shiddiq bangkit untuk menenangkan mereka dan menjelaskan bahwa Rasulullah hanya manusia biasa yang juga mati seperti manusia lain. Merekapun akhirnya sadar. Acara memandikan, mengkafani, dan memakamkan Rasulullah telah dilaksanakan. Dan setelah kematian Rasulullah, kaum muslimin mengankat Abu Bakar sebagai khalifah (pemimpin) mereka yang pertama.
 Masa kehidupan Rasulullah di Mekkah sebelum diangkat menjadi Rasul selama empat puluh tahun, dan setelah menjadi Rasul selama tiga belas tahun. Sedangkan di Madinah beliau hidup selama sepuluh tahun. [34]

DAFTAR PUSTAKA


Ibrahim, A. Qasim . & Muhammad,  Buku Pintar Sejarah Islam. Jakarta: Penerbit Zaman, 2014
Supriyadi, Dedi.,  Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia, 2008. 
Syalabi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka Husna Baru, 2007.  
M. Khamzah, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 12 MA Semester Ganjil. Sragen:
Akik Pustaka, 2006.
Syam, Nur, dkk.,  Buku SKI Kelas X Madrasah Aliyah Kurikulum 2013, Jakarta:
Kementrian Agama, 2014.



  




[1] Aida, “Sejarah Peradaban Islam (makalah) masa Rsulullah SAW”, (Daring) dapat diakses                    http://aidadwirahma.blogspot.com/2014/11/sejarah-peradaban-islam-ringkasan.html diakses       pada tanggal 23 februari 2018 pukul 21.00 WITA.
[2] Qasim A. Ibrahim & Muhammad,  Buku Pintar Sejarah Islam. (Jakarta: Penerbit Zaman, 2014).  
                Hlm  21
[3]Dedi Supriyadi,  Sejarah Peradaban Islam. (Bandung: Cv Pustaka setia, 2008). Hlm 59  
[4] Qasim A. Ibrahim & Muhammad, Op. cit, hlm. 22  
[5] Dedi Supriyadi, Op.cit, hlm 60 
[6]Ibid, hlm 61
[7] Loc. Cit
[8]A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam,(Jakarta: Pustaka Husna Baru, 2007),  hlm 71
[9]Dedi Supriyadi, Op.Cit, hlm 61
[10]A. Syalabi, Op.Cit, hlm 72
[11] Ibid, hlm. 73
[12]Ibid, hlm. 74
[13]M. Khamzah, dkk, Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 12 MA Semester Ganjil (Sragen: Akik Pustaka,  2006), hlm.5

[14] Ibid, hlm. 6
[15] A. Syalabi, Op.Cit, hlm. 75 
[16]M. Khamzah, dkk  Op.Cit, Hlm. 6
[17]Ibid, hlm. 7
[18] Ibid, hlm. 7-8
[19]Ibid. hlm. 8
[20]Ibid. hlm. 9
[21]Nur Syam, dkk,  Buku SKI Kelas X Madrasah Aliyah Kurikulum 2013, (Jakarta: Kementrian Agama,  2014),  hlm. 26
[22]Ibid, hlm. 27
[23] Ibid, hlm. 28
[24]Ibid, hlm. 41
[25]Ibid, hlm. 44
[26]Ibid, hlm. 45
[27]Ibid, hlm. 46
[28] Ibid, hlm. 47
[29]M. Khamzah, dkk  Op.Cit, Hlm. 18
[30]Nur Syam, dkk,  Op.cit. hlm. 51 
[31]Ibid. hlm. 52
[32]Ibid. hlm. 52-53
[33]M. Khamzah, dkk  Op.Cit, hlm. 19
[34]Ibid, hlm 20 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KISAH NABI MUHAMMAD SAW"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!