MEDIA LANGIT DAN BUMI SEBAGAI PEMBELAJARAN
Kata media berasal dari bahasa Latin Medius yang secara harfiah berarti’ tengah’.’perantara’, atau ‘pengantar’. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara ( وسائل) atau pengantar pesan dari pengirim keada penerima pesan. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Gadne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbegai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.[1] Media ialah segala bentuk yang diprogramkan untuk suatu proses penyaluran informasi. Dan menurut Education Association, media merupakan benda yang dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional.[2]
Menurut Zakiah Daradjat, media pendidikan atau pembelajaran adalah suatu benda yang dapat diindrai, khususnya penglihatan dan pendengaran, baik yang terdapat di dalam maupun di luar kelas, yang digunakan sebagai alat bantu penghubung (media komunikasi) dalam proses interaksi belajar mengajar untuk meningkatkan efektifitas hasil belajar siswa.[3]Sedangkan menurut Asnawir dan Basyiruddin Usman dalam bukunya yang berjudul “media pembelajaran” menjelaskan bahwa media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehinga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.[4] Latuheru sebagaimana dikutip oleh Arsyad mengatakan bahwa media pendidikan adalah semua alat bantu atau benda yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan maksud untuk menyampaikan pesan atau informasi dari sumber, baik guru maupun yang lain kepada penerima atau siswa. Ditegaskan lagi Hamalik dalam kutipan yang sama menyatakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan proses pembelajaran dan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa.[5]
Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Arif S. Sadirman dkk. Sebagaimana dikutip oleh Abyan Amir mengemukakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (soft ware) yang berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Sedangkan seperangkat keras (hard ware) adalah sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.[6]Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan.Atau Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan situasi, dengan perbuatan dan situasi, dicita-citakan dengan tegas untuk mencapai tujuan pendidikan.[7]
Media Langit dan Bumi Sebagai Pembelajaran
Langit dan bumi merupakan salahsatu ilmu astronomi. Astronomi adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan, penyebaran dan sifat benda-benda samawi. Ilmu ini diperkirakan sebagai yang paling tua dari semua ilmu pengetahuan alam yang ada. Ilmu pengetahuan ini telah memberikan beberapa gagasan tentang ke-maha-luasan dan ke-maha-besaran dunia Ilahi yang sangat mengagumkan. Ilmu ini juga melukiskan tentang kemajemukan langit dan bumi serta menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan benda-benda itu terdapat tingkat perantara antara penciptaan langit dan bumi. Seluruh manifestasi yang mengagumkan dari alam dunia yang bentuknya beraneka macam seperti proses penciptaan, penyebaran, dan pengembangannya menjadi langit yang beraneka macamnya, gerakan benda-benda langit serta ciri-ciri khususnya, semuanya dilukiskan dalam Al-Qur’an bukan untuk pelajaran astronomi atau astrologi melainkan sebagai refleksi tentang adanya ke-Agungan dari Maha pencipta. Semua itu memberikan kesan keharmonisan dan keseimbangan yang sangat menakjubkan antara gerakan benda-benda samawi, baik secara sendiri-sendiri maupun dengan kaitannya dengan seluruh jagat raya. Hal ini menunjukkan kepada adanya pengorganisasian dan kedisiplinan terhadap jagat raya, semua ini mengungkapkan adanya kebenaran yang paling asasi, suatu ke-Tunggalan hukum yang mengendalikan jagad raya ini. Kenyataan ini membawa manusia kepada pengetahuan tentang adanya ke-Tunggalan yang maha mengendalikan dan mengatur, yaitu ke-Esaan maha pencipta (Tauhid).[8]
Dalam al-Qur’an penciptaan langit dan bumi disebutkan dengan enam masa, enam masa yang di maksud al-Qur’an tidak bisa disamakan dengan hari-hari yang dimiliki manusia, ia boleh jadi lebih dari itu bahkan sangat lama, hal ini didukung oleh teori pengetahuan akan kemunculan mahluk-mahluk di bumi setelah suhu bumi dalam keadaan stabil yang antara jarak satu dan lainnya mencapai ribuan tahun, maka enam masa itu dapat kita andaikan sebagai jangka waktu yang begitu lama. Ada semacam proses yang sengaja Allah sampaikan agar manusia memahaminya. Satu dari banyaknya proses keberadaan semesta, alam ini bagi sebagian orang adalah materi yang stabil, segala keteraturan yang ada di dalamnya hanya kebetulan saja, seperti yang disampaikan oleh kalangan matrelialis. Menurut teori bintang kembar, alam ada karena hancurnya satu dari dua matahari dan pecahan-pecahannya tersebut mengelilingi matahari yang satunya. Teori lain menyatakan jika Alam ini awalnya hanyalah kabut yang bermuatan gas dan logam juga panas yang terus berputar dan membentuk semesta, bahkan hingga sekarang kabut-kabut itupun masih ada, dan seolah akan membentuk jagad raya baru. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa langit dan bumi dulunya adalah satu, teori-teori di atas jika ditelusuri dengan seksama nampaknya memiliki kesesuaian dengan yang tersebut di al-Qur’an.[9]
Teori penciptaan langit dan bumi tidaklah satu, ada banyak teori yang berbicara tentang itu. Dari mereka ada yang berpendapt bahwa bumi dan langit ini berasal dari satu benda, keduanya saling berpadu berputar selama milyaran tahun dengan kecepatan yang dasyat lalu terpisah, teori ini biasa disebut dengan teori ledakan besar (big bang). Bumi dan langit menurut teori ini berada dalam satu volume yang menyatu karena perputaran dan ledakannya yang besar mereka terpisah. Bumi yang berbentuk padat dan langit yang luas dan gelap sebenarnya merupakan dua benda kosmos yang berasal dari sesuatu yang lembut, awan dan gas panas. Mereka berputar selama –menurut saintis- milyaran tahun, tetapi al-Quran mengungkapnya hanya dengan enam hari saja. Teori lain dari penciptaan langit dan bumi ini muncul bahwa keduanya tidaklah tercipta dari satu titik, pun bukan karena ledakan tetapi ia hanya merupakan partikel-pertikel yang berproses terus menerus hingga membentuk planet yang bermacam warna, bentuk dan kadar panas. Tantawi melihat kenyataan ini sebagai hal yang menarik dan iapun mencoba mengkaji teoriteori ini berdasar persfektif al-Quran, dari bahan pembentuknya, awal mula adanya hingga lama penciptaannya.
خَلَقَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنزلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ .هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ.
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.(Q.S Luqman:10-11)
Didalam Al-Qur’an sudah terdapat ayat-ayat yang memberikan gambaran tentang ciptaan Allah yang sangat mengagumkan terutama tentang langit dan bumi serta fenomena benda samawi secara umum seperti telah dijelaskan terdahulu. Semua itu menuntut perhatian manusia kepada ke-Kebesaran Allah, juga menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini beserta ruangnya yang maha luas dan jumlah benda-benda samawi yang tak terhitung banyaknya, yang nampak begitu mengagumkan dibandingkan dengan dunia manusia. Oleh karena itu manusia dianjurkan belajar astronomi, betapa banyak perjalanan spiritual yang dapat kita lakukan untuk sampai kepada fenomena tentang adanya Allah yang menakjubkan seperti terlihat dalam alam semesta ini, yang amat teratur dan sangat agung untuk di amati. Hal ini mendorong penelitian ilmiah dan studi astronomi untuk mengungkapkan lebih banyak lagi informasi tentang ciptaan Allah SWT. Semakin kita berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah dalam langit dan bumi maka semakin dekatlah kita kepada maha pencipta dunia yang menakjubkan. Firman Allah SWT dalam surah Al-Imran 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal’. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”
Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda dan bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya. Dan dari situlah dapat diperoleh berbagai pengalaman belajar.
Pada ayat 191 mendefinisikan orang-orang yang mendalam pemahamannya dan berpikir tajam (Ulul Albab), yaitu orang yang berakal, orang-orang yang mau menggunakan pikirannya, mengambil faedah, hidayah dari apa yang telah diciptakan oleh Allah. Ia selalu mengingat Allah (berdzikir) di setiap waktu dan keadaan, baik di waktu ia beridiri, duduk atau berbaring. Jadi dijelaskan dalam ayat ini bahwa ulul albab yaitu orang-orang baik lelaki maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah dengan ucapan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi.
Manusia diminta perhatian untuk melakukan studi tentang alam semesta di sekelilingnya, dan melakukan penelitian astronomi untuk menemukan kegaiban dalam ciptaan Allah, bukan untuk mengingkari keberadaan-Nya melainkan untuk memperkokoh keimanan kepada tuhan dan kekuasaan-Nya atas segala suatu yang ada dalam alam semesta. Faktor yang mendorong pentingnya arti astronomi bagi seorang muslim adalah”dimensi kosmis dari aspek ibadah islam” yang beraneka ragam bentuknya.[10]Hadits Rasulullah SAW:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- بُسَيْسَةَ عَيْناً يَنْظُرُ مَا فَعَلَتْ عِيرُ أَبِىسُفْيَانَ فَجَاءَ وَمَا فِى الْبَيْتِ أَحَدٌ غَيْرِى وَغَيْرُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم... فَخَرَج رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- فَتَكَلَّمَ فَقَالَ « إِنَّ لَنَا طَلِبَةً فَمَنْ كَانَ ظَهْرُهُ حَاضِراً فَلْيَرْكَبْ مَعَنَا ».... فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- وَأَصْحَابُهُ حَتَّى سَبَقُوا الْمُشْرِكِينَ إِلَى بَدْرٍ وَجَاءَ “الْمُشْرِكُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَى شَىْءٍ حَتَّى أَكُونَ أَنَا أُؤْذِنُهُ ». فَدَنَا الْمُشْرِكُونَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « قُومُوا إِلَى جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ ». قَالَ يَقُولُ عُمَيْرُ بْنُ الْحُمَامِ الأَنْصَارِىُّ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَنَّةٌ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ قَالَ « نَعَمْ ». فَقَالَ بَخٍ بَخٍ.... رواه مسلم وأحمد
Dari Anas ibn Malik, ia berkata: Rasulullah saw. mengutus Busaisah sebagai mata-mata untuk memperhatikan apa yang dilakukan oleh kendaraan Abu Sofyan. Ia datang dan tidak seorang pun di rumah selain saya dan Rasulullah SAW. ... Lalu Rasulullah SAW. keluar dan berkata: sesungguhnya kita memiliki kebutuhan, siapa yang kendaraannya tersedia silahkan pergi bersama kami…. Maka berangkatlah Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabatnya sehingga mereka mendahului orang-orang musyrik di Badar. Datanglah orang-orang musyrik, beliau bersabda: janganlah salah seorang kamu mendahului sesuatu sebelum saya izinkan. Ketika orang-orang musyrik sudah dekat, Rasulullah SAW. bersabda: Bangkitlah kalian untuk mendapatkan sorga yang luasnya sama dengan langit dan bumi. Umair ibn al-Humam al-Anshari bertanya, ya Rasulullah! Sorga seluas langit dan bumi ? Beliau menjawab: ya, benar benar.
Hadits diatas menceritakan perang besar pertama Rasulullah Saw, Rasulullah SAW membangkitkan semangat jihad para sahabat untuk bangkit, berdiri, dan mengajak mereka kesurga dengan menggambarkan surga dengan menggunakan media langit dan bumi, pelajaran yang diambil dari perang itu ialah:
a) Kuatnya keimanan dan kepercayaan para sahabat terhadap janji-janji Allah SWT, Seseorang yang yakin akan janji-janji Allah dengan keyakianan yang kuat juga diiringi dengan hal-hal positif. ketika kita meyakini janji Allah SWT bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh, bahwa Allah akan memberikan kedudukan kepada mereka, maka janji ini seharusnya menjadi kita untuk bersungguh-sungguh dalam iman dan amal shaleh yakni dengan bersungguh-sungguh terikat dengan syariat Allah secara pribadi maupun berjuang agar syariat Allah dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan kita termasuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Oleh karena itu, dalam menjalani datangnya janji Allah SWT, maka kewajiban kita adalah berupaya terus-menerus untuk mematutkan diri layak mendapatkan janji Allah. Yaitu dengan bersungguh-sungguh memjaga dan memperkuat iman serta terikat pada syariat Allah dalam seluruh sendi kehidupan kita.
Oleh karena itu, dalam menjalani datangnya janji Allah SWT, maka kewajiban kita adalah berupaya terus-menerus untuk mematutkan diri layak mendapatkan janji Allah. Yaitu dengan bersungguh-sungguh memjaga dan memperkuat iman serta terikat pada syariat Allah dalam seluruh sendi kehidupan kita.
b) Sangat cintanya mereka untuk mati syahid, betapa cintanya para sahabat kepada Rasulullah sampai berani mempertaruhkan nyawa demi Allah SWT.
c) Besarnya keberanian mereka dalam jihad.
d) Sebelum melakukan sesuatu harus ada perencanaan
e) Bersegeranya mereka menuju kebaikan tanpa mengulur-ulur waktu walaupun itu hanya untuk memakan beberapa butir korma. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Imran ayat 133
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Ayat ini, menganjurkan peningkatan upaya, melukiskan upaya itu bagaikan satu perlombaan dan kompetisi yang merupakan salahsatu cara peningkatan kualitas. Karena itu bersegeralah kamubagaikan ketergesaan orang yang ingin mendahului yang lain menuju ampunan dari tuhanmu dengan menyadari kesalahan dan berlombalah mencapai, yaitu surga yang sangat agung yang lebarnya, yakni seluas langit dan bumi yang menyediakan untuk al-muttaqin, yakni orang-orang yang telah mantap ketakwaannya, yang taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Yang dimaksud dengan lebar surga adalah luasnya, dan luas yang dimaksud adalah perumpamaan. Ia tidak harus memahami dalam arti harfiahnya. Dalam benak kita manusia tidak ada sesuatu yang dapat menggambarkan keluasan, melebihi luasnya langit dan bumi, maka untuk menggambarkan betapa luarnya surga, Allah memilih kata-kata “selebar langit dan bumi”.[11]
Dalam banyaknya ayat, Allah Swt sering menggunakan lafaz-lafaz berpikir dengan maksud yang tersembunyi di alam yang manusia harus mengetahuinya. Sebelum ayat-ayat yang berbicara tentang langit, tentang apa yang ada di atas dan apa maksud Allah menjadikan itu semua, secara sederhana Allah merujuk pada keadaan manusia sendiri agar melihat dirinya bahwa di dalam diri mereka ada tanda-tanda kekuasaa Tuhan. Menurut Qurais Shihabal Al-Qur’an telah berbicara tentang tanda-tanda sains di alam, yakni bagaimana kita diperintahkan untuk membaca (meneliti dan menganalisa) semua “ayat-ayat” Nya bukan saja yang tertulis dalam kitab suci tetapi juga yang terlihat dan nampak di alam.[12]
Firman Allah SWT yang lain dalam surah Al-Hadid ayat 21 dan Al-Baqarah 148
سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”(Q.S Al-Hadid: 21)
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(Q.S Al-Baqarah: 148)
Kedua dalil tersebut berkaitan dengan pendidikan terutama tentang tolong menolong, tolong menolong adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh manusia, karena manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, pastinya manusia sangat membutuhkan pertolongan manusia lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari pasti ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misal ada suatu kezholiman kita harus bertindak dengan perbuatan atau aksi nyata, jika tidak bisa cukup dengan lisan dan jikapun tidak mampu kita cukup mendoakannya.
Bergegaslah kalian untuk melakukan berbagai kebaikan, dan berusahalah sekuat tenaga agar setiap orang diantara kalian berlomba mencapai kebaikan, dalam hal ini, kalian harus mengikuti perintah orang yang memberi petunjuk. Dan jangan sesekali mengikuti perintah sombong yang selalu mengikutkan hawa nafsu dan mengesampingkan kebenaran, jika kalian mengikuti petunjuk orang-orang tersebut terakhir ini, berarti kalian telah melibatkan diri pada perlombaan dalam bidang kejahatan, kejelekan, dan kesesatan.[13]
Jadi, terciptanya langit dan bumi itu merupakan sedikit dari banyaknya kekuasaan Allah SWT ciptakan, ini menunjukkan akan kemaha-tunggalan Allah (satu) jika tuhan banyak maka alam semesta pastinya akan hancur. Dengan memikirkan ciptaan Allah, kita akan merasa bersyukur dengan kehidupan ini juga dengan mentadabburi ciptaan-Nya itu membuat dekat dengan sang pencipta. Melalui ilmu astronomi kita dapat memperkokoh keimanan kepada Allah atas media langit dan bumi. Sebagai seorang pelajar juga pengajar kita harus mempunyai rencana(planning) untuk kedepannya terutama dalam pendidikan, dalam ranah pendidikan atau pengajaran kita harus tolong menolong terutama dalam hal kebajikan dan mempunyai keyakinan yang tinggi seperti para sahabat Rasulullah ketika perang tidak ada gentar sedikit pun.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. Jakarta:Pt Grafindo Persada, 2007.
Rahman, Afzalur. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan. Jakarta:Pt Rineka Cipta, 2000.
Qusaish, Shihab M. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta:Lentera Hati, 2002.
Nurmadiah, Media Pendidikan. Jurnal Al-Afkar Vol. V No. 1 April 2016.
Qurais, Shihab M. Wawasan al-Qur’an, Jakarta:Mizan, 1998.
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. Tafsir Al-Maraghi. Semarang:Cv Toha Putra Semarang, 1993.
http://www.jurnal.upi.edu/penelitian-pendidikan/view/958/sistim-akuisisi-astronomi-dan-program-multimedia
[1] Azhar Arsyad,Media Pembelajaran, (Jakarta:Pt Grafindo Persada, 2007), h. 3
[2] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Ciputat: Quantum Teaching, 2005), h. 112
[3] Zakiah Daradjat, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam , (Jakarta:Bumi Aksara, 1995), h. 226
[4] Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta Selatan: Ciputat Press, 2002), h. 11
[5] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,(Jakarta : PT. Rajagrafindopersada, 2006), h. 15
[6] Abyan Amir,Materi Pokok Perencanaan Dan Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka, 2007), h. 139
[7] Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Ilmu pendidikan, (Jakarta, Rineka Cipta, 2003), h. 140
[8] Afzalur Rahman, Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, ( Jakarta:Pt Rineka Cipta, 2000), h. 58
[9] Mahmud Assyafrawi, Bumi sebelum Manusia Tercipta,(Jakarta:Mutiara Media, 2014), h. 92
[11] M Qusaish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta:Lentera Hati, 2002), h. 219
[12] M. Qurais Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Jakarta: Mizan, 1998), h. 433
[13] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi,(Semarang:Cv Toha Putra Semarang, 1993), h. 22
0 Response to "MEDIA LANGIT DAN BUMI SEBAGAI PEMBELAJARAN"
Posting Komentar