KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PENGAMATAN DAN TANGGAPAN


Pada dasarnya psikologi mempersoalkan masalah aktivitas manusia. Baik yang dapat diamati maupun tidak secara umum aktivitas-aktivitas (dan penghayatan) itu dapat dicari beberapa kaidah hukum psikologi yang mendasarinya hukum-hukum tersebut, sehingga dengan demikian akan dapat memahami anak didiknya dengan lebih baik.
Pengamatan dan tanggapan merupakan contoh dari aktivitas manusia. Kedua kegiatan ini saling berhubungan satu sama lain. Pengamatan adalah fungsi sensoris yang memungkinkan seseorang menangkap stimuli dari dunia nyata sebagai bahan yang teramati. Pengamatan sebagai fungsi primer dari jiwa dan menjadi awal dari aktivitas intelektual.  Sedangkan Tanggapan berupa persetujuan, sanggahan, pertanyaan, atau pendapat. Semua tanggapan harus disampaikan dengan sopan. Dalam menanggapi suatu permasalahan harus disertai jalan keluar (solusi).
PENGAMATAN
Pengamatan merupakan fungsi sensoris yang memungkinkan seseorang menangkap stimuli dari dunia nyata sebagai bahan yang teramati. Pengamatan sebagai fungsi primer dari jiwa dan menjadi awal dari aktivitas intelektual. Objek pengamatan memiliki sifat-sifat keinginan, kesendirian, lokalitas, dan bermateri. Subjek dapat mengadakan orientasi terhadap sesuatu objek, karena objek itu dapat ditangkap dengan tidak tergantung kepada adanya saja, namun dapat dipelajari secara langsung. Untuk memungkinkan subjek mengadakan orientasi, maka subjek dapat menggambarkan dunia pengamatan menurut aspek pengaturan tertentu. Aspek-aspek pengaturan itu berupa sudut-sudut tinjauan sebagai berikut:
a.         Pengaturan menurut sudut tinjauan ruang. Sudut tinjauan ruang ini menggambarkan ruang dunia pengamatan dalam konsep-konsep seperti: atas-bawah, kanan-kiri, jauh-dekat, muka-belakang, dan sebagainya.
b.        Pengaturan menurut tinjauan waktu, dengan sudut tinjauan ini, dunia pengamatan menggambarkan dalam hubungan dengan jarak waktu, jarak ruang, stabilitas benda (tetap atau tidak tetap) perjalanan waktu (dulu, sekarang, dan yang akan datang), dan sebagainya.
c.         Peraturan menurut sudut tinjauan Gestalt. Dengan sudut tinjauan ini, dunia pengamatan digambarkan sebagai bentukan-bentukan atau medan psikologis yang tersusun dalam kebulatan, kesatuan dan kebersamaan dari bagian-bagian. Bagian-bagian itu dapat terlepas dari keseluruhan dan beridiri sendiri, namun tidak mempunyai arti lagi kecuali bila-bila bagian itu berada dalam konteks keseluruhan.
d.        Peraturan menurut sudut tinjauan arti. Dengan tinjauan ini, medan pengamatan digambarkan dengan hubungan arti, atau struktur arti. Berbagai objek atau peristiwa yang sama, apabila ditinjau dari sudut arti dari masing-masing akan menunjukkan hal-hal yang sangat berbeda, misalnya bentuk gedung sekolah, gedung asrama, namun artinya berbeda-beda. Bunyi lonceng gereja, lonceng pabrik, lonceng kereta api, lonceng sekolah yang sama, tetapi masing-masing mempunyai arti yang berbeda satu sama lain.

Proses Pengamatan
Objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau alat reseptor. Proses ini dinamakan proses kealaman (fisik). Stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh syaraf sensoris ke otak. Proses ini dinamakan proses fisiologik. Kemudian terjadilah suatu proses di otak, sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan alat indera itu, sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran itulah yang dinamakan proses psikologik. Dengan demikian, taraf terakhir dari proses pengamatan ialah individu yang menyadari tentang apa yang di terima melalui alat indera atau reseptor. Proses ini merupakan proses terakhir dari pengamatan dan merupakan pengamatan yang sebenarnya. Respons sebagai akibat dari pengamatan dapat diambil oleh individu dalam berbagai macam bentuk.
Keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya dikenal satu stimulus saja, melainkan individu dikenai berbagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan serkitar. Tetapi tidak semua stimulus itu mendapatkan respons sebagai akibat dari pengamatan individu.
             Gejala dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: yang melalui indera atau yang melalui akal. Yang melalui indera dapat dibagi pula, yaitu: 1. Diluar yang meliputi pengindraan dan pengamatan. 2. Dipusat yang meliputi tanggapan, ingatan dan fantasi. Yang mengenai tanggapan meliputi eidetik, proses penggiring reproduksi, assosiasi, dan appersepsi. Adapun yang melalui akal (berpikir) meliputi membentuk pengertian, pendapat, dan keputusan.
1.      Penginderaan, ialah penyaksian indera kita atas rangsang yang merupakan suatu kompleks (suatu kesatuan yang kabur, tidak jelas). Dalam penginderaan bagian-bagian atau unsur-unsur dari rangsang belum terurai, masih menjadi satu, bahkan diri kita pun seakan-akan termasuk didalamnya. Jadi jiwa kita pasif. Misalnya penginderaan kita atas kendaraan-kendaraan yang simpang siur di jalan raya, panas terik matahari yang kita rasakan waktu kita asyik bermain olahraga dan sebagainya.
2.      Pengamatan, ialah hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya perangsang.
Dalam pengamatan dengan sadar orang dapat pula memisahkan unsur-unsur dari obyek tersebut. Misalnya, becak melampaui kita, mula-mula nampak dalam kebulatannya (penginderaan), tetapi kemudian makin jelas catnya, belnya, pengendaranya, rodanya, dan sebagainya.
Pada umumnya penginderaan selalu disusul dengan pengamatan, terutama rangsang-rangsang menarik perhatian kita. Tetapi pengamatan hanya dapat di lakukan oleh manusia, hewan dan bayi tidak dapat melakukannya. Jadi dalam pengamatan jiwa kita aktif. Hal ini terbukti dengan beberaapa contoh yang lazim disebut Osilasi yaitu perhatian yang beralih/alih atau loncat-loncat.
Lain pula halnya dnegan halusinasi (gambaran khayal) yang timbul apabila kita menyangka atau melihat, mendengar sesuatu, padahal obyeknya tidak ada. Misalnya merasa melihat orang tetapi nyatanya tidak ada orang. Merasa mendengar suara, padahal tidak ada suara dan sebagainya. Hal ini kebanyakan dialami oleh orang sakit keras atau orang yang mabuk karena minum keras. Lain halnya lagi dengan ilusi, yaitu salah menafsirkan rangsang. Jadi pengamatan tidak sesuai dengan kenyataan atau salah pandang.
3.      Synestasi dan adaptasi
Synestasi adalah suatu keadaan orang yang menyadari sesuatu kesan tidak melalui indera yang semestinya. Misalnya orang merasa melihat warna hitam jika ia mendengar suara a, merasa mendengar suara u jika ia melihat warna putih dan lain-lain. Orang buta pada umumnya mengalami synestasi.
       Adaptasi adalah penyesuaian diri dengan keadaan yang baru. Misalnya seorang yang keluar dari kamar pada siang hari, mula-mula ia merasa bahwa diluar terang sekali sampai menyilaukan mata, tetapi beberapa menit kemudian ia tidak lagi silau. Pada saat itu telah dapat menyesuaikan diri.
4.      Percobaan dan penyelidikan
a)        Kekuatan rangsang yang selemah-lemahnya, tetapi masih dapat menimbulkan kesadaran, disebut ambang rangsang, misalnya untuk suara 16 getaran tiap-tiap detik.
b)        Kekuatan rangsang yang sebesar-besarnya disebut puncak rangsang, misalnya untuk suara 20.000 getaran tiap-tiap detik. Penambahan kekuatan rangsang atas puncak rangsang tak akan kita rasakan lagi.
c)        Jarak antara ambang rangsang dan puncak rangsang disebut ruang rangsang.[1]

Cara Penyajian Pengamatan
Cara-cara penyajian dunia pengamatan berjumlah sama dengan jumlah alat indra. Orang telah lazim membedakan lima macam alat indra, menurut lima macam modalitas pengamatan, yakni: penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Bekerjanya masing-masing modalitas itu menghasilkan sifat-sifat sensoris segala sesuatu yang berbeda-beda.[2]
 Berikut ini dikupas secara singkat mengenai masing-masing modalitas persamaan itu.
1)      Penglihatan
Ada tiga macam penglihatan, yaitu:
a)      Penglihatan terhadap bentuk: yaitu penglihatan terhadap objek yang berdimensi dua. Setiap objek penglihatan tidak dilihat secara terpisah-pisah, melainkan sebagai objek yang saling berhubungan, misalnya objek yang dekat dan yang jauh, objek yang pokok dan yang melatar belakangi, objek yang menjadi bagian dan keseluruhannya. Khusus dalam melihat objek bagian dan objek keseluruhan, ini merupakan cara melihat Gestalt yang dapat memakai hukum-hukum Gestalt meliputi:
(1)     Hukum keterdekatan (artinya yang terdekat merupakan Gestalt),
(2)  Hukum ketertutupan (artinya yang tertutup merupakan Gestalt), dan
(3)  Hukum kesamaan (artinya yang sama merupakan Gestaklt).
Penglihatan terhadap objek yang sudah jelas strukturnya, maka kesan yang diperoleh adalah tergantung kepada objek yang diamati. Akan tetapi kesan penglihatan terhadap objek yang kurang jelas strukturnya akan lebih tergantung pada objek yang dalam hal ini adalah kepada peranan sikap batin si subjek itu sendiri.
b)      Penglihatan terhadap warna, yaitu penglihatan terhadap objek psikis dari warna. Objek psikis yang dimaksudkan disini menyangkut nilai-nilai psikologis dari warna yang meliputi:
(1)   Nilai efektif dari warna. Warna-warna dari sesuatu objek sangat mempengaruhi tingkah laku manusia. Warna memberikan dorongan atau motif bagi perbuatan atau reaksi manusia terhadap lingkungannya.
(2)   Nilai lambang atau simbolis dari warna. Warna dapat memberi kesan simbolis dari warna. Warna dapat memberi kesan simbolis tertentu bagi seseorang. Kesan seseorang terhadap warna ini dipengaruhi oleh lingkungan kultural seseorang itu. Dari warna-warna orang dapat menjadikan lambang-lambang suasana atau keadaan, misalnya:
-       Merah adalah lambang keberanian,
-       Putih adalah lambang kesucian atau ketulusan,
-       Hitam adalah lambang kesedihan,
-       Kuning adalah lambang pengharapan,
-       Biru adalah lambang kasih-sayang atau kesetiaan,
-       Hijau adalah lambang kesejahteraan atau kemantapan,
-       Ungu adalah lambang kebesaran dan kemuliaan,
-       Abu-abu adalah lambang keraguan atau kesabaran,
-       Dan lain-lain.
c)      Penglihatan terhadap dalam, yaitu penglihatan terhadap objek yang berdimensi tiga. Gejala penting yang tampak dalam penglihatan ini adalah konstansi volume dari jarak yang berbeda-beda kita melihat sesuatu benda, ternyata memperoleh kesan bahwa volume benda itu tidak berbeda, melainkan sama, tidak berubah besarnya, melainkan konstan besarnya. Hal ini terjadi demikian karena:
-       Objek yang kita hadapi selalu dilihat dalam konteks sistemnya, dan
-       Proporsi atau perbandingan benda-benda satu sama lain serta terhadap tempatnya adalah sama.
2)      Pendengaran
Mendengar atau mendengarkan adalah menangkap atau menerima suara melalui indra pendengaran. Satu hal yang dirasa penting yaitu pendengaran dalam hubungannya dengan masalah Gestalt. Gestalt ruang pada penglihatan akan berhubungan dengan Gestalt waktu dalam pendengaran. Pendengaran terhadap bunyi-bunyian yang bersangkutan. Ini berarti, bahwa apa yang baru saja didengar atau terdengar tidak akan segera hilang, melainkan masih terngiang dan masih turut bekerja dalam apa yang telah didengar atau terdengar pada saat berikutnya. Jadi, apa yang telah terdengar dan yang baru saja terdengar secara bersama-sama membentuk suatu kesatuan yang mengatasi sifat keterbatasan dari pada waktu.
3)   Perabaan
Perabaan mengandung dua pengertian, yaitu:
(1)   Perabaan sebagai perbuatan aktif yang juga mencakup indra kenestesi, dan
(2)   Perabaan sebagai pengalaman secara pasif yang juga mencakup beberapa indra untuk sentuh dan tekanan, pengamatan panas, pengamatan dingin, pengamatan sakit, dan indra vibrasi.
Perabaan menggunakan fungsi kulit badan. Bagaimanakah penangkapan suatu objek perabaan sangat dipengaruhi oleh kepekaan pada kulit di bagian-bagian badan. Apabila kita menekankan benda tajam pada setiap bagian kulit kita, maka kita dapat mengamati perbedaan kepekaan setiap bagian kulit itu dalam menerima rangsang objek perabaan. Pada kulit kita terdapat dua macam titik kepekaan, yaitu titik tekanan dan titik sakit. [3]
4)   Kepekaan
Perbedaan kepekaan pada kulit disebabkan karena adanya perbedaan daya penerapan tekanan yang disebut nilai ambang pada tiap-tiap bagian kulit badan. Berikut inin dikemukakan bagaimana perbedaan kepekaan tiap-tiap bagian kulit badan menurut hasil penelitian dari Von Frey. Urutan berikut sengaja kami buat untuk menggambarkan tingkat-tingkat perbedaan kepekaan pada tiap-tiap bagian kulit kita dalam hal menangkap suatu objek perabaan. Adapun urutan tingkat kepekaan tiap-tiap kulit badan mulai dari yang lebih peka adalah sebagai berikut:
a)         Titik ujung lidah ( dengan 2 gr tekanan )
b)         Ujung jari ( dengan 3 gr tekanan )
c)         Punggung jari ( dengan 5 gr tekanan )
d)        Punggung tangan/lengan ( dengan 12 gr tekanan )
e)         Penis/alat vital ( dengan 16 gr tekanan )
f)          Kulit perut ( dengan 26 gr tekanan )
g)         Kelapak kaki ( dengan 250 gr tekanan )
Rangsangan yang lemah lebih sukar diresap tekanannya daripada rangsangan yang kuat. Rangsangan yang lemah hanya tersisa pada pemulaannya saja, kemudian makin lama akan tumbuhlah yang namanya adaptasi ( penyesuaian ) yang akhirnya hilang tanpa kesan. Perbedaan tekanan kulit badan dengan tekanan sentuhan berlaku juga dengan rangsangan suhu, rasa sakit dan getaran udara. Modalitas penglihatan berperan penting dalam perabaan. Misalnya ketika kita meraba sesuatu di tempat gelap atau dengan mata tertutup, maka dalam perabaan itu terjadi visualisasi. Ini berarti bahwa kesan perabaan itu digambarkan menurut kesan penglihatan yang telah ada. Peristiwa seperti ini dapat terjadi pula pada fungsi-fungsi pengamatan yang lain di mana modalitas penglihatan penting sekali peranannya terhadap bekerjanya modalitas-modalitas pengamatan yang lain.
5)   Pembauan ( penciuman )
Membau / mencium adalah menangkap objek yang berupa bau-bauan dengan menggunakan hidung sebagai alat pembau. Kualitas bau-bauan sangat bervariasi. Yaitu sebagai berikut:
a)         Bau harum ( misalnya untuk minyak wangi )
b)         Bau anyir ( misalnya untuk ikan mentah ).
c)         Bau busuk ( misalnya untuk sampah atau bangkai )
d)        Bau enak/gurih ( misalnya untuk bakaran ikan / sate )
e)         Bau sedap ( misalnya untuk masakan )
f)          Bau penguk ( misalnya untuk pakaian tak bersih )
g)         Bau tengik ( misalnya untuk kelapa atau minyak )
h)         Bau apek ( misalnya untuk rambut tak bersih )
i)           Bau semerbak ( misalnya untuk bunga-bungaan )
j)           Bau sangit ( misalnya untuk masakan gosong )
k)         Bau sengak ( misalnya untuk minuman keras )
l)           Bau kecut ( misalnya untuk keringat )
Kuat dan kelemahan penangkapan objek pembauan sangat tergantung pada kekuatan lemahnya rangsangan/kualitas objek pembauan atau kepekaan fungsi sarap pada hidung.
6)   Pencecapan
Mencecap adalah menangkap objek yang berupa kualitas rasa benda atau sesuatu yang menggunakan lidah sebagai alat pencacap. Mengenai rasa cacapan dari setiap objek pencacapan adalah bervariasi. Dalam kenyataan, indra pencacap kita hanya peka terhadap empat macam rasa cacapan pokok yaitu :
a)      Rasa manis
b)      Rasa asin
c)      Rasa masam
d)     Rasa pahit
Enak dan tidaknya rasa makanan tidak  hanya tergntung kepada fungsi indra pencacap saja. Rasa makanan sangat ditentukan oleh kualitas kombinasi pada rasa-rasa makanan atau fungsi kombinatif antara indra pencacap dengan indra pembau.

TANGGAPAN
Tanggapan biasa didefinisikan sebagai bayangan yang menjadi kesan yang dihasilkan dari pengamatan. Kesan tersebut menjadi isi kesadaran yang dapat dikembangkan dalam hubungannya dengan konteks pengalaman waktu sekarang serta antisipasi keadaan untuk masa yang akan datang.
Menurut Johan Frederich Herbart, tanggapan adalah merupakan unsur dasar dari jiwa manusia yang diperoleh dari penginderaan dan pengamatan.[4]
Tanggapan biasanya didefinisikan sebagai bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan. Menurut Linschoten menanggap adalah melakukan kembali suatu perbuatan atau melakukan sebelumnya sesuatu perbuatan tanpa hadirnya objek fungsi primer yang merupakan dasar dari modalitas tangggapan itu.[5]
Tanggapan adalah salah satu fungsi jiwa yang pokok, dan dapat diartikan sebagai gambaran ingatan dari pengamatan, dalam mana obyek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan. Jadi, jika proses pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-kesannya saja, peristiwa sedemikian ini disebut sebagai tanggapan. Misalnya, berupa kesan pemandangan alam yang baru kita lihat, melodi indah yang baru menggema, dan lain-lain.
Tanggapan disebut “laten” (tersembunyi, belum terungkap), apabila tanggapan disebut ada di bawah sadar atau tidak kita sadar. Sedang tanggapan disebut “aktual” (actucel: sungguh), apabila tanggapan tersebut kita sadari.
Apabila tanggapan-tanggapan yang kita sadari itu langsung berpengaruh pada kehidupan kejiwaan (berfikir, perasaan, dan pengenalan). Maka fungsi tanggapan tadi disebut “fungsi primer”. Selanjutnya, apabila tanggapan-tanggapan yang sudah kita sadari dan ada dalam bawah sadar itu masih terus berpengaruh terhadap kehidupan kejiawaan kita, maka fungsi tanggapan itu disebut sebagai “fungsi sekunder”. Dalam mana fungsi tersebut menyangkut pengalaman-pengalaman masa lampau, yang sedikit atau banyak pasti memberikan pengaruh kepada kepribadian seseorang.[6]
Beberapa cara praktis yang berhubungan dengan Tanggapan
a)        Murid-murid harus kita beri perbendaharaan tanggapan yang besar, artinya: kita harus memberi tanggapan sebanyak-banyaknya. Memperkaya perbendaharaan tanggapan dan menyempurnakan tanggapan dapat dicapai dengan pengajaran berupa sebab sesuatu yang betul-betul pernah dilihat oleh anak-anak, tidak akan mudah dilupakan.
b)        Murid-murid dalam mengamati benda-benda itu hendaknya dengan mempergunakan alat-alat indra sebanyak-banyaknya, seperti : pelihat, suara, dan gerak. Dengan demikian tanggapan-tanggapan yang terkesan akan lebih kaya isinya.
c)        Pengajaran harus dihubungkan dengan apa yang telah diketahui oleh murid-murid. Sebab dengan cara demikian murid-murid akan dapat dengan mudah dalam mencerna pelajaran itu, dan keterangan guru jadi tidak sia-sia.

Jenis-Jenis Tanggapan
a)        Menurut jenis pengamatan yang mendahuluinya, meliputi:
1)        Tanggapan Visual (penglihatan)
2)        Tanggapan Auditus (pendengaran)
3)        Tanggapan Gustus (pengecap)
4)        Tanggapan Olfactus (pembauan)
5)        Tanggapan Taktus (perabaan)
6)        Tanggapan-tanggapan gerak, organis, dan equilibrium.
b)        Menurut derajat terangnya tanggapan, terdiri atas tanggapan-tanggapan yang samar-samar dan terang seperti pengamatan sendiri. Hal ini yang berupa tanggapan-tanggapan yang amat terang sehingga seolah-olah dihayati seperti sesuatu pengamatan sendiri. Beberapa contohnya adalah:
1)        Bayangan impian, dihayati seolah-olah mengamati obyek yang sebernarnya, sehingga sering takut, berteriak, berkeringat, dan semacamnya, karena pengaruh bayangan impian.
2)        Halusinasi, suatu gejala abnormalitas pada pengamatan, misalnya karena keletihan, gangguan urat syaraf, situasi tegang dan sebagainya.
3)        Bayangan eidetis, suatu bayangan susulan yang amat terang, sehingga orang yang mengalaminya dapat melihat seluk-beluknya seakan-akan benda  sendiri ada di depannya. Misalnya, sebuah gambar yang diamati sejenak kemudian setelahnya orang dapat membayangkan kembali dan dapat mengatakan dengan teliti gambar-gambar yang ada, jumlah mobil di jalan, beberapa yang berhenti, dan sebagainya. Orang yang pandai membentuk bayangan eidetis disebut eideticus. Ia sadar bahwa tanggapannya bukanlah pengamatan. Eidetici artinya kesanggupan membentuk tanggapan eidetis, banyak terdapat pada wanita, anak-anak, puber. Anak-anak yang melamun di kelas, sering asyik bermain-main dengan bayangan eidetisnya. Puber pun sering kali asyik dengan bayangan eidetis kekasihnya.
4)        Reminisensi, yaitu tanggapan suara yang timbul. Misalnya, seorang ibu mengalami reminisensi suara tangis anaknya pada waktu sakit.
c)    Tanggapan menurut obyeknya
1)        Tanggapan benda, yaitu benda-benda sendirilah yang dibayangkan
2)        Tanggapan kata, yaitu nama benda yang dibayangkan
3)        Tanggapan kinesthensi, yaitu gerak yang dibayangkan
d)   Tanggapan menurut asalnya
1)        Tanggapan-tanggapan pengamatan, yaitu tanggapan yang ditimbulkan kembali tanpa perubahan bentuk, jadi sama dengan pada waktu pengamatan.
2)        Tanggapn fantasi, yaitu tanggapan-tanggapan yang ditimbulkan dengan perubahan-perubahan bentuknya sehingga merupakan bayangan yang baru.[7]

Ciri-Ciri Tanggapan
Adapun ciri-ciri tertentu dalam melakukan tanggapan adalah:
1.        Modalitas: rangsangan-rangsangan yang diterima harus sesuai dengan panca indra. yaitu sifat sensoris dasar masing-masing indra (cara untuk penglihatan, sifat permukaan bagi peraba dan sebagainya).
2.        Dimensi ruangan: dunia tanggapan mempunyai sifat ruangan (dimensi ruangan). kita dapat mengatakan atas bawah, tinggi rendah, luas sempit, depan belakang, dan lain-lain.
3.        Struktur konteks, keseluruhan menyatu, objek-objek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya.[8]

Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tanggapan
1.        Perhatian, biasanya kita memfokuskan perhatian kepada suatu objek saja.
2.        Set adalah harapan seseorang tentang rangsangan yang akan timbul.
3.        Kebutuhan adalah kebutuhan sesaat maupun yang menetapkan diri seseorang mempengaruhi pandangan orang tersebut.
4.        Sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi.
5.        Ciri kepribadian.
6.        Gangguan kejiwaan, dapat menimbulkan kesalahan tanggapan yang disebut halusinasi.[9]
Perbedaan dan Persamaan Antara Pengamatan dan Tanggapan
a)        Perbedaan antara keduanya
1)   Pengamatan masih memerlukan perangsang, sedangkan tanggapan tidak
2)   Pengamatan memerlukan tempat dan waktu tertentu, sedang tanggapan tidak
3)   Pengamatan lebih jelas daripada tanggapan
b)        Persamaan antara keduanya
Keduanya berlangsung selama masih ada perhatian dan bersifat perseorangan. Tidak semua orang mengalami perbedaan antara pengamatan dan tanggapan semacam itu (ada orang yang mempunyai tanggapan sama jelasnya dengan pengamatannya). Orang semacam itu disebut orang eidetis, gejalanya disebut gejala eidetik.[10]



DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, Psikologi Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Fauzi, Ahmad, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 1997
Fudyartanta, Psikologi Umum, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011
Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Renika Cipta, 2004
Sujanto, Agus, Psikologi Umum, Surabaya: Bumi Aksara, 1991
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998




[1] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h.61-64
[2] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 17-20
[3]Wasty SoemantoPsikologi Pendidikan.......h.22
[4] Ibid, h. 23
[5] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), h. 36
[6] Abu Ahmadi, Psikologi Umum....h.64-65
[7] Fudyartanta, Psikologi Umum, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 255-257
[8] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 37
[9] Ibid, h. 43-47
[10] Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Surabaya: Bumi Aksara, 1991), h.32-33

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PENGAMATAN DAN TANGGAPAN"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!