PEMBAGIAN TAUHID
Ilmu tauhid adalah salah satu ilmu keislaman yang sangat penting Ilmu tauhid adalah salah satu ilmu keislaman yang sangat penting diketahui oleh setiap muslim, bahkan terpenting dibanding ilmu-ilmu keislaman yang lainnya, karena ilmu ini membahas masalah akidah dalam Islam yang merupakan inti dan dasar agama.[1]Ilmu tauhid terbagi menjadi 3 bagian yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma’ wa sifat. Tanpa pengetahuan yang memadai dalam ilmu ini, seseorang akan mudah terjerumus kedalam jurang kesesatan dan dosa yang terampunkan.[2]
Setelah manusia lahir, lingkungan tempat ia hidup memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan akidahnya. Adaptasi dengan lingkungan menyebabkan seseorang meninggalkan fitrah ketauhidan sehingga ia tidak percaya, bahkan menentang dan memusuhi Tuhan. Pengaruh yang paling besar datang dari kedua orang tuanya karena mereka adalah lingkungan yang paling dekat dan terakrab dengan anaknya. Rasulullah bersabda: “ Setiap manusia dilahirkan dengan keadaan fitrah (tauhid), kedua orang tuanya lah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.”[3]
Semua agama yang diturunkan oleh Allah SWT ke muka bumi menempatkan tauhid ditempat yang pertama dan utama. Karena itu, setiap Rasul yang diutus Allah SWT mengemban tugas untuk menanamkan tauhid ke dalam jiwa umatnya, mengajak mereka supaya beriman kepada Allah, menyembah, mengabdi, dan berbakti kepadaNya, melarang mereka menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun, baik zat dab sifatNya.[4]Sesuai dengan uraian tersebut maka kali ini penulis akan memberikan pembahasan dalam makalah tentang masalah pembagian tauhid diantaranya tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma’ wa sifat.
Perkataan tauhid berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata wahhada ( وَحَّدََ) yuwahhidu (يوَُ حِّدَُ). Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya, keyakinan bahwa Allah SWT adalah Esa, Tunggal, Satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian tauhidyang digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu “keesaan Allah” mentauhidkan berarti “mengakui keesaan Allah, mengesakan Allah.[5]
Menurut Syekh Muhammad Abduh, “Tauhid ialah suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib tetap padaNya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepadaNya, dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan padaNya. Juga membahas tentang rasul-rasul Allah, menyakinkan kerasulan mereka, dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka.”[6]
Menurut Husain Affandi al-Jasr, “Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas hal-hal yang menetapkan akidah agama dengan dalil-dalil yang menyakinkan.”7
Menurut Prof.M.Thahir A.Muin, “Tauhid adalah ilmu yang menyelidiki dan membahas soal yang wajib, mustahil, dan yang jaiz bagi Allah dann bagi sekalian utusanutusan Nya, juga mengupas dalil-dalil yang mungki cocok dengan akal pikiran sebagai alat untuk membuktikan adaNya zat yang mewujudkan.”[7]
Menurut Ibnu Khaldun, “Ilmu tauhid adalah ilmu yang berisi alasan-alasan dari akidah keimanan dengan dalil-dalil aqliah dan berisi pula alasan-alasan bantahan terhadap orang-orang yang menyelewengkan akidah salaf dan ahli sunnah.”[8]
Para ulama sependapat, mempelajari tauhid hukumnya wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu bukan saja didasarkan pada alasan rasio bahwa akidah merupakan dasar pertama dan utama dalam Islam, tetapi juga didasarkan pada dalil-dalil naqli, Alquran dan hadits.[9]
Tujuan Tauhid
Tujuan Tauhid
Ilmu tauhid adalah ilmu yang memberikan bekal-bekal pengertian tentang pedoman keyakinan hidup manusia, di dalam mengatur samedera dan gelombang hidup. Secara kodrati manusia diciptakan Allah didunia ini, berkekuatan berbeda antara manusia satu dengan yang lain. Tidak sedikit manusia di dalam mengarungi samudera hidup yang luas itu, kehilangan arah dan pedoman, sehingga ia menjadi sesat disitulah ilmu tauhid berperan untuk memberi pedoman dan arah. Manusia selalu sadar akan kewajibannya sebagai makhluk terhadap khaliknya.[10]
Karena itu, tujuan ilmu tauhid dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Agar kita memperoleh kepuasan batin, keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, sebagaimana yang dicita-citakan, kalau hanya mengandalkan akal saja, belum dan tidak akan pernah ada yang berhasil mencapai kepuasan dan kebahagian.12
2. Agar kita terhindar dari pengaruh akidah-akidah yang menyesatkan, yang sebenarnya hanya hasil pikiran atau kebudayaan semata-mata atau hasil perubahan yang dilakukan terhadap ajaran seorang Nabi dan Rasul yang sebenarnya.[11]
3. Agar terhindar dari pengaruh faham-faham yang dasarnya hanya teori kebendaan (materia) semata. [12]
Pembagian Tauhid
1. Tauhid Rububiyyah
Tauhid al-Rububiyah adalah diambil dari salah satu nama Allah al-Rabb, yang memiliki beberapa makna yaitu : pemeliharaan, pengasuh, pendamai, pelindung, penolong dan penguasa. Secara umumnya dapat diartikan mentauhidkan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti mencipta, menguasai, memberikan rizki, mengurusi makhluk, dll. Yang semuanya hanya Allah semata yang mampu dalam semua alam semesta. Dan semua orang meyakini adanya Rabb yang menciptakan, menguasai, dll.Setelah mengetahui bahwa pencipta kita adalah Allah swt, dan bahwa keberadaan dan managemen kita hanya berada di tangan-Nya, kita juga harus percaya bahwa tak seorangpun selain Dia yang mempunyai hak untuk memerintah dan membuat hukum bagi kita. [13]Tauhid rububiyyah ialah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam dunia beserta seisinya ini, hanya Allah sendiri tanpa dibantu siapapun dunia ini tidak ada, tidak berada dengan sendirinya tetapi ada yang menciptakan dan ada pula yang menjadikan yakni Allah SWT. Allah Maha Kuat, tiada kekuasaan yang menyamai Allah SWT. Maka tumbullah kesabaran bagi makhluk, meng-agungkan Allah, makhluk harus berTuhan hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Maka keyakinan inilah disebut Tauhid Rububiyyah. Jadi Tauhid Rububiyyah ialah tauhid yang berhubungan dengan soal-soal ketuhanan.16
Allah adalah pencipta alam semesta beserta seisinya, seperti firmanNya dalam Alquran:
ذلَِ كُمْ الله رَبُّ كمْ لآإلَِهَُ إِلا هَّوَُُ خَل قَُ ك لُِ شَيءٍ فاَعْب د وه وَ هوَعَلَي ك لُِ شَيءٍوَكِيلٌُ )102(
Artinya: (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia dan Dia adalah
Pemelihara segala sesuatu. (QS al-An’am:102) misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allah lah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakkan bintang-bintang, dan lain-lain. Allah adalah salah satunya tempat memohon dan meminta pertolongan. [14]Dinyatakan dalam Alquran firman Allah SWT:
الَْحَمْد لِِلُِالَّذِي خَلَقَ لسَموتِ وَلْْرَْضِ وَجَعلََُ الظُّلمتِ وَالنوُّْر ث مَُّ الَّذِينَ كَف رَوْابرَِب هِِمْ يَعْدِل وْنَُُ )1(
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang”. (QS.al-An’am:1)
Dan perhatikan baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. [15]Hal ini dikabarkan dalam Alquran:
وَلئَنُِْ سَألَْت هَمُْ مَنُْ خَلقََُ السَّمَاوَاتُِ وَالْْرَْضَ وَسَخَّرَُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ليَقَ ول نَُّ الِلَُّ ُُۖفَأنََّىُٰ ي ؤْفَ كونَُُ )61(
Artinya: Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). ) QS.al-Ankabut/29:61(
2. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang lahir maupun batin. [16]Hal ini sudah ditegaskan oleh Allah SWT, yaitu: QS. al-
Fatihah:5
ايِاكََّ نَعْب د وَايِاكََّ نَسْتعَِيْ نُ
Artinya: ”Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”
Tauhid Uluhiyyah mereka artikan dengan meng-iktikadkan bahwa Allah sendiri lah yang berhak disembah dan yang berhak dituju oleh semua hambanya, atau dengan kata lain Tauhid Uluhiyyah ialah percaya sepenuhnya bahwa Allah lah yang berhak menerima semua peribadatan makhluk, dan hanya Allah sajalah yang sebenarnya dan yang harus disembah.[17]
ذلَِّكََ بِّأنَََّ اللهَ هُوَ الْحَقَُّ وَأنََّ مَايدَْعُونَ مِّن دوُنِّهِّ الْباَطِّلَُ
Artinya: ”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” Yang dimaksud dengan Tauhid Uluhiyyah adalah meyakini tidak ada Tuhan selain Allah SWT, firman Allah
SWT:[18]
a. QS. Al-Baqarah:163
وَإلَِّهُكُمْ إلَِّهٌَ وَحِّدَُ لََّّإِّلَهَ إلِّاهَُّوَالرَّحْمَنُ الرَّحِّيمَُ
Artinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa tidak ada Tuhan melainkan Dia
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
b. QS. Thaha:98
إِّنمََّآإلِّهَُكُمَُ اللهُ الذَِّّيَ لَّإلَِّهَ إلَِّّاهُوَوَسِّعَ كُلَّ شَيءٍعِّلْمًاَ )98(
Artinya: Sesungguhnya Tuhan hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, pengetahuanNya meliputi segala sesuatu
c. QS. Al-Ankabut:46
وَلَا تجَُادِّلوُا أهَْلَ الْكِّتاَبِّ إِّلَّا باِّلتَِّّي هِّيَ أحَْسَنُ إِّلَّا الذَِّّينَ ظَلمَُوا مِّنْهُمَََْۖوَقوُلوُا آمَناََّ بِّالذَِّّيَ أنُْزِّلَ إلَِّيْنَاَ وَأنُْزِّلََ إلَِّيْكُمَْ وَإِّلَٰهَُنَاَ وَإلَِّٰهَُكُمَْ وَاحِّدٌَ وَنحَْنُ لَهُ مُسْلِّمُونََ
Artinya: Dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri".
Tauhid Uluhiyyah ini berhubungan erat dengan dua hal, yaitu: 1) Amal/perbuatan, 2) Ibadah. Supaya kedua hal tersebut mendapat pahala, maka wajib bagi setiap muslim untuk meyakinkan pentingnya Niat/Ikhlas didalam beramal dan beribadah. Para ulama telah sepakat Niat yang Murni berperan penting dalam meridhoi amal dan ibadah yang kita lakukan sehari-hari. [19]
3. Tauhid asma’ wa sifat
Tauhid al Asma wa al Sifat adalah penetapan dan pengakuan yang kokoh atas nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT yang luhur berdasarkan petunjuk Allah SWT dalam Al-Quran dan petunjuk rasulullah dalam sunnahnya. Mayoritas ulama salaf yakni ulama yang konsisten dalam mengikuti sunnah rasulullah, pandangan para sahabat dan tabiin yang shalih, menetapkan segala nama dan sifat yang ditetapkan Allah SWT untuk diri-Nya, dan apa-apa yang dijelas oleh Rasullulah bagi-Nya. Tanpa melakukan ta’thil (penolakan), tahrif (perubahan dan penyimpangan lafadz dan makna), tamtsil
(penyerupaan) dan takyif (menanya terlalu jauh tentang sifat Allah SWT).[20]
Sebagaimana firman Allah SWT, QS.asy-Syura:11
فاَطِ رُ السَّمَاوَاتِ وَالْْرَْضُُُِۚجَعلََُ لَ كمُْ مِنُْ أنَْف سِ كمُُْ أزَْوَاجًا وَمِنَُ الْْنَْعاَمُِ أزَْوَاجًاُُُۖيذَْرَ ؤ كمْ فيِهُُُِۚليَْسَ كَمِثلِْهُِ شَيْءٌُُُۖوَ هوَُ السَّمِي عُ الْبصَِي رُ
Artinya: (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
pengesaan Allah SWT dengan asma’ wa sifat yang menjadi milikNya. Hal ini
mecakup dua hal:
a. Penetapan, artinya kita harus menetapkan seluruh asma’ wa sifat bagi Allah, sebagaimana yang Dia tetapkan bagi diriNya dalam kitabNya atau sunnah
NabiNya SAW[21]
b. Penafian permisalan, bahwa kita tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam asma’ dan sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maga Melihat.” 25(Asy-Syura; 11)
فاَطِ رُُ السَّمَاوَاتِ وَالْْرَْضُُُِۚجَعلََُ لَ كمُْ مِنُْ أنَْف سِ كمُْ أزَْوَاجًا وَمِنَُ الْْنَْعاَمُِ أزَْوَاجًاُُُۖيذَْرَ ؤ كمْ فيِهُُُِۚليَْسَُ كَمِثلِْهُِ شَيْءٌُُُۖوَ هوَُ السَّمِي عُ الْبصَِي رُ
Artinya: (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
Ayat ini menunjukkan bahwa semua sifat Allah tidak diserupai oleh siapapun dari makhluk. Meskipun ada persekutuan dalam dasar makna, tapi hakikatnya keadaannya tetap berbeda. Siapa yang tidak menetapkan apa yang ditetapkan Allah bagi diriNya, berarti dia orang yang meniadakan seperti apa yang ditiadakan Fir’aun. Siapa yang menetapkannya dengan disertai penyerupaan, berarti dia serupa dengan orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah di samping menyembah Allah. Siapa yang menetapkannya tanpa penyerupaan, berarti dia yang termasuk golongan muwahhidin.26Sedangkan tauhid asma’ wa shifatadalah mentauhidkan Allah SWT dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang ia tetapkan bagi diriNya dalam
Alquran dan hadits. Cara bertauhid asma’ wa shifat Allah ialah dengan menetapkan asma dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diriNya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diriNya, dengan tanpa tahrif, tanpa tahlil dan tanpa takyif. [22]Allah SWT berfirman: QS.al-A’raf:180
لِِلَُِّالْْسَْمَا ءُ الْ حسْنَُىٰ فاَدْ عوه بِهَاُُُۖوَذ رَواُ الذَِّينَُ ي لْحِد ونَ فِيُ أسَْمَائِهُُُِۚسَي جْزَوْنَُ مَا كَان واُ يَعْمَل ونَُ
Artinya: Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahirnya menjadi makna lain yang bathil. Sebagai misalnya kata “istiwa” yang artinya bersemayan dipalingkan artinya menjadi menguasai.[23]
Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.29
Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah, bentuk wajah Allah, dan lain-lain.30
DAFTAR PUSTAKA
Al-Utsaimin, Syaikh Muhammad. Syarah Kitab Tauhid.
Asmuni, M.Yusran.1996. Ilmu Tauhid. Cetakan ke-3. Jakarta: PT.Raka Grapindo Persada.
Ansharullah. 2013. Ilmu Tauhid: Kajian Rukun Iman. Cetakan ke-1. Banjarmasin: AlHaka.
Zainuddin,H. 1992. Ilmu Tauhid Lengkap. Cetakan ke-1. Jakarta: PT.Rineka Cipta. internet http://pusatmakalah1000.blogspot.co.id/2015/04/makalah-tauhid-rububiyahuluhiyah_4.html
[1]Drs.H.M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1996) Cet ke-3, hlm. V
[4]Ibid., hlm. XIV
[5]Ibid., hlm. 1
[6] Ibid., hlm. 2 7Loc.cit.
[7] Loc.cit.
[8]Ibid., hlm. 3
[9] Loc.cit.
[10] Drs.H. Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap (Jakarta:Rineka Cipta, 1992) hlm. 8 12Loc.cit.
[11] Ibid., hlm. 9
[12]Ibid., hlm. 10
[13] Linda Septiani dan Maya Ratnasari, tauhid, diakses http://pusatmakalah1000.blogspot.co.id/2015/04/makalah-tauhid-rububiyah-uluhiyah_4.html, pada tanggal 4 Okt 2017, pukul 22.00. 16 Ibid., hlm. 20
[14]Ansharullah, Ilmu Tauhid: Kajian Rukun Iman (Banjarmasin:Al-Haka, 2013) Cet ke-1, hlm. 11
[15] Loc.cit.
[16]Ibid., hlm. 13
[17] Ibid., hlm. 17
[18]Ibid., hlm. 18
[19] Linda Septiani dan Maya Ratnasari, tauhid, diakses http://pusatmakalah1000.blogspot.co.id/2015/04/makalah-tauhid-rububiyah-uluhiyah_4.html, pada tanggal 4 Okt 2017, pukul 22.00.
[20] Linda Septiani dan Maya Ratnasari, tauhid, diakses http://pusatmakalah1000.blogspot.co.id/2015/04/makalah-tauhid-rububiyah-uluhiyah_4.html, pada tanggal 4 Okt 2017, pukul 22.00.
[21] Syaikh Muhammad al-Utsaimin, Syarah Kitab Tauhid, jilid ke-1, hlm. xxiii 25 Ibid., hlm.xxiv 26 Loc.cit.
[22]Ibid., hlm. 14
[23] Ibid., hlm. 15 29Loc.cit. 30 Loc.cit.
0 Response to "PEMBAGIAN TAUHID"
Posting Komentar