PERANG SALIB
Perang Salib merupakan salah satu perang terbesar sepanjang sejarah yang berlangsung kurang lebih dua abad lamanya, yakni sejak tahun 10991291. Perang Salib terjadi secara besar-besaran sebagai tragedi berdarah yang memperebutkan satu kota suci agama Ibrohimiyyah (Islam, Kristen dan Yahudi), yakni Jerussalem. Namun, karena pada waktu itu kekuatan Yahudi lemah, maka yang kentara ialah Perang Salib dipawangi oleh eksponen Islam dan Kristen.[1]
Sejak lama, bahkan sejak era Kenabian Rasulullah SAW, pihak Kristen Barat sudah sangat memusuhi gerakan dakwah islam. Segala macam taktik dan strategi mereka lakukan demi untuk menghancurkan perkembangan islam. Jalan perang pun tak terelakkan sejak di masa Rasulullah hingga pada generasi-generasi selanjutnya. Puncak peperangan ditandai dengan adanya ide Perang Salib.[2]
Perang Salib dimulai dengan adanya pengkhianatan akidah. Kedengkian dan kecemburuan terhadap kaum muslimin telah mengkristal didalam hati para pendengki, yaitu para tentara Perang Salib yang dikenal dengan sebutan Paus Erian II. Pada tahun 1095 M, dia mengadakan kongres umat Kristen dikota Clairmount, Prancis. Dalam pertemuan itu semua kedengkian dan kebencian terhadap islam dan orang islam dilontarkannya, sentiment keagamaan dikeluarkannya sehingga dapat mengorbankan api Perang Salib selama dua abad lamanya. Mereka sepakat mengirim pasukan Salib untuk berperang ke Negara Islam dengan dalih merebut Al-Quds yang 20 diantaranya terbuat dari Emas.[3]
Sejarah Perang Salib
Perang salib adalah serangkaian ekspedisi militer yang diorganisasikan oleh Eropa Kristen terhadap kekuatan kaum muslimin di Timur Dekat untuk mengambil alih kontrol atas Kota Suci Jerussalem. Perang ini berlangsung sekitar 2 abad lebih, yaitu sejak tahun 1096 M ketika perang pertama diserukan oleh pihak Eropa Kristen hingga tahun 1291 M saat tentara Salib di Timur dipaksa keluar dari Acre-Suriah yang merupakan pertahanan terakhir mereka.[4]
Seperti diketahui, Kristen Barat atau orang-orang kafir sejak dahulu telah memusuhi dan memerangi Islam sejak awal kehadirannya. Dan Perang Salib merupakan peperangan yang masih satu rangkaian dari misi permusuhan panjang terhadap dakwah Islam bahkan sampai di Era Modern seperti saat ini.[5]
Ada poros kekuatan utama yang memicu berlangsungnya Perang Salib ini, yakni Kekaisaran Byzantium (Romawi), kerajaan Spanyol, Gerakan Salibiyah, Blokade Negara-Negara Salibis, dan penjajahan (kolonialisme). Kelima poros inilah yang nantinya memunculkan beragam faktor penyebab terjadinya Perang Salib.[6]
1. Kekaisaran Byzantium
Awal mula munculnya gerakan politik Kekaisaran Byzantium dalam melawan dakwah islam sudah muncul sejak Era Kenabian, yaitu sekitar tahun ke-5 H. Banyak yang terjadi diantara keduanya, diantaranya seperti
Perang Tabuk maupun Perang Mu‟tah.[7] Dengan makin kokohnya Negara Islam, membuat kekhawatiran yang begitu besar dalam benak Kekaisaran Byzantium, terutama dari pihak Islam yang datang dari arah Selatan. Pasukan Byzantium mulai memahami semakin kuat dan banyaknya perlawanan yang menghadang mereka, dan mereka menyadari pentingnya segera mempersiapkan diri untuk menghadapi semua perlawanan itu.[8]
2. Kerajaan Spanyol
Andalusia (Spanyol) merupakan saksi atas terjadinya berbagai serangan yang terus-menerus datang dari arah Utara. Dimana serangan tersebut adalah buah dari adanya permusuhan sengit dan menguji kepemimpinan Daulah Umayyah.[9]
Serbuan pembelaan Islam datang dua kali. Pertama oleh tentara alMurabitun dari Maroko yang telah memberikan banyak catatan kepada kita dalam lembaran kemuliaan karena kemenangan mereka dalam Perang az-Zallaqoh melawan orang-orang Spanyol Kristiani pada tahun 476 H. Kedua, datangnya tentara al-Muwahidun yang berhasil mencapai kemenangan telak atas orang-orang kristiani dalam perang al-Arak pada tahun 591 H.[10]
Namun, pada akhirnya kekuatan muslim di Andalusia mulai melemah dan mengalami perpecahan diantara mereka. Puncaknya ketika mereka berhasil dikuasai oleh Kerajaan Granada dibawah kepemimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella pada tahun 897 H.[11]
Dampaknya, seluruh aset dan eksistensi keislaman dibumi Andalusia benar-benar dimusnahkan. Kaum muslimin yang ada dipaksa untuk masuk dalam ajaran Kristen, dan jika menolak mereka akan diusir atau pilihan yang kedua yakni dibunuh secara kejam dan sadis.[12]
3. Gerakan Salibiyah
Gerakan ini juga dinamakan dengan gerakan Kristenisasi. Gerakan ini merupakan wujud nyata penolakan dan perlawanan orang-orang Kristen terhadap Islam. Gerakan ini telah berkembang secara aktif secara berabad-abad dan wujudnya senantiasa menyesuaikan dengan setiap zaman yang ada. Kaitannya dengan Perang Salib, banyak para penulis sejarah yang menyatakan bahwa gerakan ini merupakan model gerakan Imperialisme baru yang lahir di Eropa Barat dengan menjelma dalam bentuk serangan militer terhadap wilayah-wilayah islam di Syam, Irak, Mesir, Tunisi, dan lainnya. Dimana tujuan pokoknya ialah ingin menghancurkan Islam dan kaum muslimin.[13]
4. Blokade Negara Salibis
Tak lama setelah Eropa berhasil menghancurkan eksistensi Islam di Spanyol, kemudian dibawah komando Spanyol dan Portugal, lalu diikuti Inggris, Belanda dan Prancis, mereka mulai mengadakan aksi blokade sejarah terhadap dunia Islam malalui jalur-jalur belakang Afrika dan Asia. Seperti ditemukannya jalur perairan baru oleh mereka disekitar Tanjung Harapan menjadikan bisnis perdagangan kaum muslimin saat itu menjadi melemah.14
5. Penjajahan (Kolonialisme)
Hal ini merupakan suatu bentuk dan cara baru bagi Eropa untuk menguasai negara-negara lain, khususnya negara muslim. Hal ini didorong oleh adanya revolusi industri di Inggris yang bertujuan untuk menemukan pasar baru bagi produk mereka, sumber bahan-bahan baku industri, dan mencari sumber tenaga kerja murah untuk dijadikan budak.[14]
Penjajahan ini berada dibawah pimpinan Negara Inggris, Prancis, Belanda, Belgia, Italia dan Jerman, dimana hal ini berlangsung cukup lama sampai dekade pertama abad ke-20. Penjajahan ini selain dilakukan atas motif ekonomi juga nyatanya mempunyai tujuan lain, yakni menyebarkan agama Kristen.16
Hubungan antara perang Salib dan kolonialisme Eropa juga mendapat sorotan. Kolonialisme dipandang sebagai suatu strategi untuk mengeksploitasi dunia muslim sebagai pembalasan atas kegagalan perang Salib.[15]
Faktor-faktor Perang Salib
Perang Salib, suatu peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen Barat terhadap kaum muslimin di Asia Barat dan Mesir, yang dimulai pada akhir abad ke 11-13. Peperangan ini dilatari belakangi oleh beberapa faktor. Philip K. Hitti berpendapat bahwa latar belakang terjadinya Perang Salib karena reaksi Dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia, sejak tahun 632 melakukan ekpansi, bukan saja ke Syiria dan Asia kecil, tetapi juga Spanyol dan Sicilia.[16]
Faktor lain adalah keinginan mengembara dan bakat kemiliteran suku Teotinia yang telah mengubah peta Eropa sejak mereka memasuki lembaran sejarah penghancuran gereja. Holy Sepulchre adalah sebuah gereja yang didirikan diatas makam Yesus di kubur, pembangunannya dilakukan oleh Khalifah Tafhimiyah al-Hakim pada tahun 1009. Sedangkan gereja merupakan tujuan dari beribu-ribu jama‟ah Eropa, perlakuan tidak wajar terhadap jama‟ah Kristen yang akan ke Palestina melalui Asia oleh penguasa
Saljuk.19
Menurut Al-„Azhimi, yang memicu pecahnya perang Salib pertama adalah bahwa para peziarah Kristen dihalang-halangi untuk mengunjungi Yerussalem pada 486 H/ 1093-1094 M dan ia menghubungkan peristiwa ini dengan kedatangan para Tentara Salib ke kawasan Mediterania Timur.[17]
Sebelum mengetahui faktor Perang Salib, ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu kondisi masyarakat Eropa pada masa itu hingga akhirnya tercetus ide Perang Salib atau yang mereka sebut Holy War (Perang Suci). Kondisi yang terjadi saat itu,
diantaranya:
a. Masyarakat dirundung berbagai permusuhan dan peperangan memperebutkan pengaruh diantara para tokoh dan pemimpin kerajaan, hal
ini makin menambah buruknya keadaan ekonomi dan sosial di Eropa
Barat.
b. Adanya perseteruan antara Paus selaku pemimpin gereja dengan pihak kekaisaran selaku pemegang kekuasaan.
c. Kedudukan yang sangat tinggi, besarnya otoritas, serta luasnya peran yang dimiliki Paus saat itu, membuka peluang dan kesempatan bagi Paus untuk menjadi penentu tunggal kekuatan dunia.
d. Terjadi perseteruan antara gereja Ortodoks di Timur (Byzantium) dan gereja Katolik di Barat (Romawi) dalam memperebutkan pengaruh ajaran.
Namun, selain kondisi di atas ada juga faktor-faktor utama yang melatarbelakanginya, yakni:
1. Motif Agama
Ini merupakan faktor utama penyulut berkobarnya perang salib. Salah satu bukti konkritnya, para tentara salib saat itu meletakkan symbol salib pada senjata-senjata mereka dan berbagai barang yang mereka bawa dari medan perang. Dedengkot awal yang menjadi penyeru utama yang memiliki ide perang salib ialah Paus Urbanus II. Dia di anggap orang pertama yang bertanggung jawab menyebarluaskan ide tersebut, serta mendorong agar dikirim ekspedisi militer pertama ke Syam.[19]
2. Motif Politik
Meski agama menjadi motif utama, namun para raja dan pemimpin yang ikut dalam perang salib tak dapat menyembunyikan tujuan lain mereka yang bersifat politik. Menurut Ash-Shalabi, ada satu masalah besar yang dihadapi para raja dan pemimpin, yaitu tidak adanya penaklukan dan penambahan tanah baru sehingga membuat melemahnya semangat karena banak pejabat yang tidak memiliki tanah.[20]Ada beberapa poin penting, diantaranya:
1. Para raja dan pemimpin invasi militer memiliki ambisi yang jelas bernuansa politik dengan ditandai adanya perselisihan diantara kalangan mereka sendiri tentang perebutan kekuasaan wilayahwilayah yang akan mereka taklukkan, terutama Antioch
2. Perang belum terjadi, tetapi mereka sudah memperbincangkan masalah pembagian harta rampasan perang
3. Motif politik ini bersumber dari Paus Urbanus II, kekaisaran Byzantium, dan adanya peperangan di wilayah Spanyol Islam (Andalusia).
4. Terjadinya pertentangan dan perselisihan antara Khalifah Fathimiyyah di Mesir, Khalifah Abbasiyyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordova dimanfaatkan betul oleh para pemimpin perang salib untuk merebut satu-persatu wilayah kekuasaan kaum muslimin.[21]
3. Motif Sosial
Para pedagang besar yang berada di Pantai Timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venesia, Genoa dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang di sepanjang pantai Timur dan Selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka.[22]
Hal ini juga dilatarbelakangi oleh adanya problem sosial yang terjadi pada masyarakat Eropa di abad pertengahan, dimana terdapat kesenjangan sosial yang melebar dikalangan mereka. Dalam keadaan yang demikian, Sang Paus Urbanus pun hadir menarik simpati mereka dan mengajak untuk turut serta dalam Perang Salib. Mereka pun akhirnya mau karena Paus menjanjikan akan menghapuskan segala jenis beban kewajiban yang harus mereka bayarkan kepada para pejabat kerajaan.[23]
4. Motif Ekonomi
Kondisi perekonomian Eropa di abad pertengahan memang sedang dilanda keterpurukan. Krisis pangan dan kelaparan terjadi dimana-mana.
Maka ketika ada seruan Perang Salib, orang-orang yang mengalami kelaparan ini sangat berharap agar peperangan dapat menjadi jalan keluar bagi kesulitan hidup yang mereka rasakan.[24]
5. Kaisar Byzantium meminta bantuan Paus Urbanus II
Permintaan bantuan Kaisar Alexius Comnenus (1081-1118 M) kepada Paus Urbanus II untuk melawan Daulah Saljuk dan Turki bukan merupakan hal baru, sebelumnya Kaisar Michael VII juga meminta bantuan kepada Paus Gregorius VII untuk tujuan yang sama, menyusul peristiwa Manzikert pada tahun 463 H. Dan hal ini yang perlu diperhatikan, bahwa permintaan bantuan yang dilakukan oleh Kaisar Byzantium kepada Paus Urbanus II, merupakan kesempatan emas yang ditunggu-tunggu oleh Paus.[25]
6. Impian Sang Penguasa
Pada abad pertengahan Eropa, muncul pemahaman bahwa kedudukan kaisar lebih tinggi di banding kedudukan gereja katolik dan Paus harus ditunjuk oleh Kaisar. Namun, pihak gereja katolik justru berfikir sebaliknya sehingga terjadilah perseteruan diantara keduanya. Selain itu, pihak gereja katolik juga memiliki masalah pula dengan gereja ortodoks yang berpusat di Konstatinopel. Gereja Katolik yang berada di Roma, sebenarnya berkeinginan menyatukan doktrin dan ritual dengan pihak gereja ortodoks. Namun, pada kenyataannya justru ditolak keinginan tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut, Paus mengadakan sebuah pertemuan denagn para raja, pendeta dan komunitas gereja pada tanggal 27 November 1095 di Clermont (Prancis Tenggara). Disinilah sang Paus menyampaikan pidatonya, sehingga tercetuslah ide Perang
Salib.[26]
Paus Urbanus II pun menyampaikan pidato yang berapi-api untuk membakar semangat kaum Kristen, dihadiri 225 pendeta besar serta para tokoh Masyarakat di Erop Barat. Dalam pidatonya, Paus menyerukan kepada seluruh kaum Kristen, agar ikut serta dalam perang suci dan menaklukkan umat muslim. Paus menegaskan bahwa orang-orang yang berperang, harta dan keluarganya akan dilindungi oleh gereja. Bagaimanapun besarnya dosa, maka akan diampuni. Mati dalam peperangan adalah mati suci, dan masuk surga.[27]
Periodisasi Perang Salib
Philiph K. Hitti menyerdehanakan periodisasi perang salib dalam tiga periode. Petama, masa penaklukan (1009-1144), kedua, masa timbulnya reaksi umat Islam (1144-1192), dan ketiga, masa perang saudara kecil-kecilan yang berakhir sampai
1291 M.[28]
1. Periode Pertama
Disebut periode penaklukan. Jalinan kerjasama Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat Umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II di Clermont (Prancis Selatan), 26 November 1095. Pidato tersebut membuat orang-orang Kristen mendapat suntikan untuk mengunjungi kuburan suci.[29]Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah lima pasukan yang terdiri atas 60.000 tentara yang didorong oleh gairah keagamaan, sehingga mereka menjahikan tanda salib di baju mereka dan berbaris untuk menyelamatkan dunia. Perjalanan ini merupakan ziarah penuh pengabdian sekaligus perang pemusnaha.[30]Hassan Ibrahim Hassan dalam buku Tarikh Al-Islam (Sejarah Kebudayaan Islam) menggambarkan gerakan ini sebagai gerombolan rakyat jelata yang tidak memiliki pengalaman perang, tidak disiplin dan tanpa persiapan.
Gerakan ini dipimpin oleh Pierre I‟ermite. Sepanjang jalan menuju konstatinopel, mereka membuat keonaran, melakukan perampokan, dan bahkan terjadi bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Byzantium.
Akhirnya, dengan mudah pasukan salib ini dapat dikalahkan oleh pasukan Dinasti Saljuk.[31]
Pasukan salib berikutnya dipimpin oleh Godfrey of Bouillon. Gerakan ini lebih merupakan militer yang terorganisasi rapi. Mereka berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerussalem) pada 7 Juli 1099. Pasukan Godfrey ini melakukan pembantaian besar-besaran terhadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan wanita, anak-anak dan dewasa serta tua dan muda. Mereka juga membumihanguskan bangunan-bangunan milik umat Islam.[32]
Sebelum menduduki Baitul Maqdis, pasukan ini terlebih dahulu merebut Anatalia Selatan, Tersus, Antiolia, Allepo dan Ar-Ruba;(Edesa), juga merebut Tripoli, Syam (Suriah) dan Arce. Kemenangan pasukan salib pada periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan berdirinya kerajaankerajaan Latin-Kristen di Timur, seperti Kerajaan Baitulmakdis (1099) dibawah pemerintah Raja Godfrey, Edessa (1099) dibawah kekuasaan raja Reymond.[33]
2. Periode Kedua
Disebut periode reaksi umat Islam (1144-1192) jatuhnya beberapa wilayah kekuasaan islam ditangan kaum salib membangkitkan kaum muslimin menghimpun kekuatan untuk menghadapi mereka. Dibawah Komando Imaduddin Zangi, gubernur Musol, kaum muslimin bergerak maju membendung serangan pasukan Salib. Bahkan, mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa.[34]
Jatuhnya Edessa ketangan kaum muslimin menjadi berita memilukan di Barat (Eropa). Ia menjadi pendorong dan penggerak semangat bagi mereka untuk segera bangkit mengadakan misi salib jilid berikutnya. Hal
ini juga dikarenakan kota tersebut merupakan kota pemerintahan pertama yang dibangun oleh pemerintahan salib di wilayah Timur.[35]
Setelah Imaduddin Zangi wafat tahun 1146, posisinya digantikan oleh putranya Nuruddin Zangi. Ia meneruskan cita-cita ayahnya yang ingin membebaskan negara-negara Islam di Timur dari cengkraman kaum Salib. Kota-kota yang berhasil dibebaskan antara lain Damaskus (1147), Antiolia (1149) dan Mesir (1169).39
Kemenangan didapat terutama setelah munculnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi di Mesir yang berhasil membebaskan Baitul Maqdis pada 2 Oktober 1187. Keberhasilan umat Islam ini telah membangkitkan kaum Salib untuk mengirim ekspedisi militer yang lebih kuat. Ekspedisi ini dipimpin oleh raja-raja besar Eropa, seperti Frederick I, Richard I, dan Philip.[36]
3. Periode Ketiga
Lebih dikenal dengan perang saudara kecil-kecilan atau periode kehancuran didalam pasukan salib. Hal ini disebabkan oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat materialistik daripada motivasi agama. Dalam periode ini muncul pahlawan wanita dalam kalangan kaum muslimin yang terkenal gagah berani, yaitu Syajar Ad-Durr. Ia berhasil menghancurkan pasukan raja Louis IX dari Prancis sekaligus menangkap raja tersebut. Bukan hanya itu, pahlawan wanita yang gagah berani ini telah mampu menunjukkan kebesaran Islam dengan membebaskan dan mengizinkan raja Louis IX kembali kenegerinya
Prancis.41
Setelah kekalahan dalam perang Hittin dan jatuhnya Baitul Maqdis ketangan kaum muslimin, menimbulkan reaksi keras pada masyarakat Barat yang terkejut mendengar berita malapetaka besar itu.42 Pertengahan tahun 583 H, Condrad de Montverat mengutus Gozias, kepala uskup di Shur pergi ke Barat Eropa untuk meminta bantuan para raja dan Paus. Dalam perjalannya, ia mendapat bantuan dari raja Sicilia (William II) dan dengan bantuan Paus Clement III yang ada di Roma, akhirnya pula Gozias mendapat bantuan dari raja Inggris , Richard “TheLion Heart”, raja Prancis (Philip Augustus) dan raja Jerman (Frederick Barbarosa).[37] Dengan kekuatan besar, pasukan ini bergerak pada tahun 585 H/ 1189 M melintasi jalan Barat ke arah Konstantinopel. Mereka bergerak melewati wilayah musuh bebuyutannya, Isaac II Angelus (Kaisar Byzantium). Tak membuang waktu, Isaac segera menyampaikan gerakan pasukan salib ini ke sekutunya, Shalahuddin Al-Ayyubi. Meski Isaac telah berjanji tidak akan membolehkan pasukan itu melewati negerinya, namun kekuatan kaisar Byzantium itu tidak mampu menahan laju pasukan Salib tersebut.[38]Meskipun mendapat tantangan berat dari Shalahuddin Al-Ayyubi, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemUdian dijadikan Negara Latin. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan jatuhnya kota Akka ke tangan pasukan salib, yakni diantaranya adalah datangnya tambahan kekuatan salibis dari Eropa, kaum salib menggunakan senjata baru dan strategi beragam, lamanya blokade darat dan laut, dan lemahnya dukungan finansial pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi.[39]
Hasil Perang Salib
Shalabi secara umum menjelaskan bahwa hasil-hasil tersebut diantaranya:
1. Kaum Kristiani banyak menyalin Ilmu pengetahuan dari kaum Muslimin yang memiliki peradaban superior saat ini. Seperti kompas pelaut, kincir angin dan cara bertani yang maju.[40]
2. Kaum kristiani meniru ilmu industri dan keterampilan dari kaum muslimin, seperti industri tekstil, pewarnaan, pelabuhan, tambang dan kaca
3. Peradaban Barat terpengaruh oleh peradaban Islam yang membuat ia tumbuh dan mencapai kegemilangan
4. Meski mendapat kerugian yang besar, banyak yang terbunuh, dan tidak tercapainya tujuan merebut Baitul Maqdis, namun Eropa mendapat perolehan besar dari semua itu yaitu peradaban Eropa bangkit dan berkembang cepat setelahnya
5. Melahirkan para Ksatria Islam dipanggung sejarah peradaban Islam sejak era Imaduddin, Nuruddin Zanki hingga Shalahuddin Al-Ayyubi.[41]
Pengaruh Perang Salib dalam Dunia Islam
Perang salib yang terjadi hingga pada akhir abad XIII memberi pengaruh kuat terhadap Timur dan Barat. Disamping kehancuran fisik, juga meninggalkan perubahan yang positif walaupun secara politis, misi KristenEropa untuk menguasai Dunia Islam gagal. Perang salib meninggalkan pengaruh yang kuat terhadap perkembangan Eropa pada masa selanjutnya.[42]
Perubahan nyata yang merupakan akibat dari proses panjang Perang Salib, ialah bahwa bagi Eropa, mereka sukses melaksanakan alih berbagai disiplin ilmu yang saat itu berkembang pesat didunia Islam, sehingga turut berpengaruh terhadap peningkatan kualitas peradaban bangsa Eropa beberapa abad sesudahnya. Mereka belajar dari kaum muslimin berbagai teknologi perindustrian dan mentransfer berbagai jenis industri yang mengakibatkan terjadinya perubahan besar-besaran di Eropa. Sehingga peradaban Barat sangat diwarnai oleh peradaban Islam dan membuatnya maju dan beradadi puncak kejayaan.49
Bagi umat Islam, perang salib tidak memberikan kontribusi bagi pengembangan budaya, malah sebaliknya kehilangan sebagian warisan kebudayaan. Peradaban Islam telah diboyong dari Timur ke Barat. Dengan demikian, perang salib itu telah mengembalikan Eropa pada kejayaan, bukan hanya pada bidang material, tetapi pada bidang pemikiran yang mengilhami lahirnya masa Renaisance. Hal tersebut dapat dipahami dari kemenangan tentara salib pada beberapa periode, yang merupakan stasiun ekspedisi yang bermacam-macam dan memungkinkan untuk memindahkan khazanah peradaban Timur kedunia Masehi-Barat pada abad pertengahan.[43] Di bidang seni, kebudayaan Islam pada abad pertengahan mempengaruhi kebudayaan Eropa. Hal ini terlihat pada bentuk-bentuk arsitektur bangunan yang meniru arsitektur gereja di Armenia dan bangunan pada masa Bani Saljuk. Juga model-model arsitektur Romawi adalah hasil dari revolusi ilmu ukur yang lahir di Eropa Barat yang bersumber dari dunia Islam.[44]Perang salib memberi konstribusi pada gerakan eksplorasi yang berujung pada ditemukannya Benua Amerika dan route perjalanan ke India yang mengelilingi Tanjung Harapan. Pelebaran cakrawala terhadap peta dunia mempersiapkan mereka untuk melakukan penjelajahan samudra di kemudian hari. Hal tersebut berkelanjutan dengan upaya negara-negara Eropa melaksanakan kolonisasi di berbagai Negeri di Timur, termasuk Indonesia.52 Bagi dunia Islam perang salib telah menghabiskan aset kekayaan bangsa dan mengorbankan putra terbaik, ribuan penguasa , panglima perang dan rakyat menjadi korban. Gencatan senjata yang ditawarkan terhadap kaum muslimin oleh pasukan salib selalu di dahului dengan pembantaian masal. Hal tersebut merusak struktur masyarakat yang dalam limit tertentu menjadi penyebab keterbelakangan umat Islam dari umat lain.53 Walaupun demikian, disisi lain perang salib membuktikan kemenangan militer Islam diabad pertengahan, yang bukan hanya mampu mengusir pasukan salib, tetapi juga pada masa Turki Utsmani mereka mampu mencapai semenanjung Balkan (abad 14-15) dan mendekati gerbang Wina (abad 16 dan 17), sehingga hanya Spanyol dan pesisir Timur Baltik yang tetap berada dibawah kekuasaan kristen.54
DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, Karen. 2006. Perang Suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk.
Jakkarta: Serambi Ilmu Semesta.
Hillenbrand, Carole. 2006. Perang Salib: Sudut Pandang Islam. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
SJ, Fadil. 2008. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang:
UIN Malang Press.
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Syauqi, Abrari dkk.. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Aswaja.
[8] Loc.cit.
[15] Carole Hillenbrand, Perang Salib: Sudut Pandang Islam, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, ter. Heryadi, cet. 2, 2006), hlm. 735.
[20] Ibid., hlm. 89.
[23] Ibid., hlm. 90.
[26] Ibid., hlm. 91.
[27] Fadil SJ., Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 223.
[28] Abrari Syauqi, dkk., op.cit., hlm. 91.
[30] Karen Amstrong, Perang Suci: Dari Perang Salib Hingga Perang Teluk, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, terj. Hikmat Darmawan, cet. 4, 2006), hlm. 28.
[34] Ibid., hlm. 92.
[36] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 173. 41Ibid., hlm. 93.
[41] Abrari Syauqi, op.cit., hlm. 94.
0 Response to "PERANG SALIB"
Posting Komentar