KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PENDIDIKAN AKIDAH PADA MASA KANAK-KANAK


Memiliki anak yang baik merupakan keinginan alami dan fitrah seluruh manusia. Semua manusia berharap dapat memiliki anak yang sehat dan saleh, anak yang mampu menyejukkan hati kedua orang tua, dan mampu membuat bahagia keduanya. Sekalipun dirinya (kedua orang tua) adalah orang yang tidak baik, dia tetap berharap agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik.
Usia anak yang masih belia merupakan salah satu masa yang paling produktif dan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan masa depannya kelak. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan yang tepat dari orang tua kepada anaknya agar kelak dapat menjadi anak yang berbakti.
Di dalam Islam, selain anak dituntut agar dapat berbakti kepada orang tuanya, yang paling utama ia harus berbakti kepada Allah dan Nabi Muhammad . Penanaman keyakinan ini sangatlah penting agar nantinya ketika ia akil balig dan tumbuh dewasa ia dapat terhindar dari perbuatan syirik serta menjadi hamba yang saleh dan salehah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu adanya pendidikan akidah pada masa kanak-kanak sebagai modal mereka di masa yang akan datang dalam menegakkan agam Islam. Yang mana didalamnya memuat kiat-kiat ataupun caracara untuk memberikan pendidikan akidah kepada anak dalam rangka mengenalkan Allah .
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kanak-kanak berarti periode perkembangan anak masa prasekolah (usia antara 2-6 tahun).[1]Adapun pengertian masa kanak-kanak sebagaimana diungkapkan oleh Rahadjo (2009) adalah periode perkembangan seseorang yang dimulai dari masa bayi hingga berusia 5, 6, sampai 10 tahun, kadang periode ini sering disebut atau dikenal sebagai tahun-tahun prasekolah.[2]Sedangkan menurut Depkes RI (2009), masa kanak-kanak berlangsung pada umur 5-11 tahun, sebagaimana kategori umur sebagai beikut.
1.
Masa balita
= 0 - 5  tahun
2.
Masa kanak-kanak
= 5 - 11 tahun
3.
Masa remaja awal
= 12-16 tahun
4.
Masa remaja akhir
= 17-25 tahun
5.
Masa dewasa awal
= 26-35 tahun
6.
Masa dewasa akhir
= 36-45 tahun
7.
Masa lansia awal
= 46-55 tahun
8.
Masa lansia akhir
= 56-65 tahun
9.
Masa manula
= 65-sampai seterusnya.[3]
Maka berdasarkan berbagai sumber di atas, dapat disimpulkan bahwa masa kanak-kanak itu berlangsung sebelum ia memasuki masa remaja. Oleh karena itu, pada pembahasan ini akan diperluas kepada cakupan anak-anak. Anak-anak dan kanak-kanak itu memiliki arti yang berbeda, yakni kata anak-anak mengacu pada anak kecil yang pada umumnya belum menginjak usia pubertas, sedangkan kata kanak-kanak khusus ditunjukkan kepada anak kecil dibawah umur tujuh tahun yang sudah mampu bersekolah.[4]

Cara Memberikan Pendidikan Akidah Pada Anak

Pendidikan akidah termasuk ke dalam pendidikan agama. Oleh karena itu, hal ini termasuk menjadi prioritas bagi pendidikan anak. Karena itu memberikan pendidikan agama kepada anak berarti mengembangkan fitrah dasar yang dibawanya semenjak dia dilahirkan. Fitrah dasar yang diibaratkan semaian benih itu jika tidak mendapatkan pemeliharaan dan perawatan yang cukup niscaya dia akan sulit berkembang dan bahkan bisa saja menjadi layu dan pada akirnya mati.
Ulwan melihat bahwa pendidikan agama yang perlu ditanamkan kepada anak itu meliputi:
1.       Memperdengarkan  dan mengajarkan kepada anak kalimat tauhid agar tertanam di dalam hatinya rasa cinta kepada Islam sebagai agama tauhid.
2.       Mengenalkan hukum-hukum Allah agar anak dapat membedakan mana halal dan mana haram, mana perintah dan mana larangan, sehingga dia dapat terhindar dari perbuatan maksiat lantaran kebodohannya.
3.       Membiasakan anak terhadap perbuatan-perbuatan yang bernilai ibadah (penghambaan kepada Allah) agar dia terbentuk menjadi anak yang taat kepada Allah, Rasul, dan para pendidiknya.
4.       Menanamkan kepada anak rasa cinta kepada nabinya dengan membimbing dan membiasakan menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah , karena dengan demikian fitrah bawaan anak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga dia akan selamat menjalani hidup dan kehidupannya.[7]
Oleh karena itu, penanaman akidah dilakukan sedini mungkin pada anak, bahkan ketika dia baru dilahirkan. Ketika seorang anak baru dilahirkan sampai dengan usia 3 tahun merupakan usia yang paling mendasar bagi seorang anak untuk ditanamkan ketauhidan di dalam jiwanya. Berikut salah satu bentuk pendidikan akidah bagi anak baru lahir sampai berumur 3 tahun.
1.        Usia 0 – 2 bulan. Membiasakan anak dengan lafal “La ilaha illallah”.
2.        Usia 2 – 6 bulan. Membiasakan anak dengan lafal syahadat “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah”.
3.        Usia 6 bulan – 1,5 tahun. Biasakan anak mendengar lafal dzikrullah.
4.        Usia 1,5 – 2 tahun. Mulai bertanya jawab dengan anak tentang “Siapa Tuhanmu?”.
5.        Usia 2 – 2,5 tahun. Mulai bertanya jawab dengan anak tentang “Siapa Tuhanmu?”, “Apa agamamu?”, dan “Siapa nabimu?”. Juga mengajarkan rububiyyah Allah serta mengajarkan rukun iman dan Islam.
6.        Usia 2,5 – 3 tahun. Mengajarkan tauhid asma’ dan sifat-sifat Allah , mengaitkan kegiatan sehari-hari dengan asma’ dan sifat-sifat Allah , dan mengajarkan keberadaan surga dan neraka.
Kemudian ketika anak berumur 4 sampai dengan 10 tahun, anak mulai diajarkan tentang pengamalan syari’at. Contohnya dalam melaksanakan shalat, ketika anak berumur 7 tahun kita diperintahkan untuk menyuruh anak kita shalat, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggalkan shalat, maka pukullah ia. Dan juga ajak dia untuk pergi shalat berjamaah ke masjid. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak semenjak ia kanak-kanak, agar ia tumbuh sebagai pecinta Al-Qur’an. Bukan hanya diajarkan membaca AlQur’an saja, bahkan diajarkan untuk menghafalkannya. Dan disampaikan pula apa maksud dan kandungan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang mudah ia pahami.
Bagi anak perempuan, sejak dini mulai diajarkan ia menutup auratnya, menggunakan jilbab dan pakaian yang menutup badannya sampai kakinya. Diajarkan ia untuk membatasi pergaulan dengan yang bukan mahramnya. Carikan ia teman perempuan yang rajin beribadah. Sampaikan secara perlahan serta yang mudah dipahami mengapa dalam Islam seorang wanita ada memiliki batasanbatasan tertentu dengan alasan bahwa Islam memuliakan seorang wanita.
Selain itu juga, berbicara halus dan bersikap lemah lembutlah kepada anakanak. Ajarkan anak dengan kasih sayang bukan dengan kemarahan dan paksaan. Ajarkan anak berperilaku lemah lembut dengan panggilan yang lembut kepadanya dan membiasakan dia untuk memanggil orang tuanya dengan panggilan yang lembut pula. Juga biasakan anak untuk melafalkan doa-doa dan dzikir-dzikir tertentu ketika hendak melakukan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian juga, berikan anak tontonan dan hiburan yang mendidik bukan malah menyesatkannya. Sampaikan kepadanya kisah-kisah nabi dan rasul serta orang saleh dengan cara yang menarik sehingga disukai oleh anak.
Ajarkan kepada anak akhlak-akhlak yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sehari-harinya. Contohnya, mengajarkan kepadanya untuk mendahulukan sebelah kanan dalam hal kebaikan, seperti makan menggunakan tangan kanan dan mendahulukan kaki kanan saat memasuki masjid. Selain itu juga, mengajarkan dia untuk makan dan minum dalam keadaan duduk jangan berdiri, mengawali segala perbuatan dengan “Bismillahirrahmanirrahiim”, dan lain sebagainya. Anak-anak juga perlu dihindarkan pada aklak-akhlak tercela, seperti tidak menyakiti makhluk Allah yang lainnya seperti hewan dan tumbuhan, jangan berbohong, serta tidak pelit dan kikir terhadap harta.
Kemudian selain pengajaran kepada anak dari orang tua, perlu juga dibarengi dengan adanya contoh konkrit dari orang tua berupa pengamalan ibadah yang ia sampaikan karena orang tua itu sebagai rujukan, menempati posisi rujukan moral dan informasi. Lebih jauh menurut Mahmud Qutb, rumah tangga merupakan markas terbesar, sebab saat itu (permulaan Islam) adalah tempat pengasuhan anak hingga dewasa dan tempat peletakan perangai pertama yang terkadang berpengaruh sepanjang kehidupan.[8]

Alasan Pentingnya Akidah Pada Anak

Dalam perkembangan zaman yang begitu pesat ini, banyak pemikiranpemikiran yang menyimpang yang tersebar di seluruh penjuru dunia baik itu berkaitan dengan ketidakpercayaan terhadap adanya Tuhan (atheis) maupun pemahaman yang mempersekutukan Allah . Pemahaman itu berkembang melalui berbagai cara, dari zaman rasul sampai dengan zaman sekarang. Hal ini karena sesuai janji iblis yang akan menyesatkan umat manusia sampai akhir zaman. Maka untuk membentengi hal tersebut, perlu adanya sesuatu keyakinan yang kokoh akan ke-Esaan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, yang dinamakan dengan akidah islamiyyah. Pendidikan akidah perlu ditanamkan kepada umat manusia dengan berbagai jalan, salah satunya yang paling utama adalah dari orang tua. Bahkan yang namanya pendidikan akidah itu bukan berarti hanya disampaikan ketika seorang anak telah akil balig, melainkan jauh sebelum itu, yakni ketika ia berada dalam kandungan sebagai dasar awalnya. Walau demikian seorang anak itu sebenarnya terlahir dalam keadaan fitrah beriman kepada Allah , tetapi orang tuanya lah yang nantinya menjadi faktor utama berkembangnya fitrah itu, apakah orang tuanya akan membawanya kepada kebenaran atau kesesatan. Maka pendidikan akidah ketika seorang anak ini lahir sangatlah penting karena menjadi salah satu faktor utama akidahnya di masa depan.
Menurut Juwariyah, Luqman al-Hakim telah menetapkan bahwa akidah atau tauhid sebagai dasar pendidikannya. Dasar akidah yang benar ini melandasi tegaknya syariat dan akhlak agar pengetahuan manusia dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya untuk kepentingan manusia. Sebab, hanya dari jiwa yang terpola dengan keimanan yang benarlah akan terlahir akhlak mulia.[9]Penetapan dasar ini dikolerasikan dengan sosok Luqman al-Hakim sebagai ahli hikmah dalam pengertian memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang akidah.[10]
Barsihannor menyebutkan dua dasar yang menjadi kerangka acuan sistem pendidikan Luqman al-Hakim, yaitu nilai Ilahiah dan Sunnah para rasul. Nilai Ilahiah merupakan ajaran-ajaran agama yang bersumber dari Allah . Sedangkan Sunnah para Nabi dan Rasul adalah segala bentuk dan tindakan mereka.
Jika diperhatikan dalam Surah Luqman Ayat 13, Luqman al-Hakim sangat melarang anaknya melakukan syirik dan memang sepantasnya disampaikan, karena mengerjakan syirik itu adalah suatu perbuatan dosa yang paling besar. Quraish Shihab mengatakan, larangan ini mengandung pelajaran tentang wujud dan ke-Esaan Tuhan. Redaksi pesan berbentuk larangan mempersekutukan Allah adalah untuk menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik.
Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa orang tua harus memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Diatara kewajiban tersebut adalah memberi nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya itu dapat menempuh jalan yang benar, dan menjauhkan mereka dari kesesatan.
Allah menginformasikan tentang wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya agar hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Ungkapan “la tusyrik billah” dalam ayat 13 tersebut, memberi makna bahwa ketauhidan merupakan materi pendidikan terpenting yang harus ditanamkan pendidik kepada peserta didiknya karena hal tersebut merupakan sumber petunjuk ilahi yang akan melahirkan rasa aman. Dengan kata lain, orang tua punya kewajiban untuk membimbing, mendidik, dan mengantarkan anaknya untuk senantiasa bertauhid kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya.[11]

Hikmah Pengenalan Allah Kepada Anak

Adapun hikmah memberikan pendidikan akidah berupa pengenalan Allah kepada anak, antara lain sebagai berikut:
1.        Dapat menjadikan seorang anak tumbuh dengan akidah yang kokoh karena telah dididik dari sejak awal, sehingga akidah bukanlah hal yang baru lagi baginya serta terhujam kuat serta kokoh di dalam jiwanya.
2.        Menghindarkan anak dari sikap syirik kepada Allah .
3.        Menjadikan mukmin yang beribadah ikhlas semata-mata karena Allah
.
4.        Seorang anak akan memiliki pandangan hidup yang jelas karena memiliki arah tujuan hidup yakni kebahagiaan dunia dan akhirat.
5.        Lahirnya kepercayaan diri seorang anak karena memiliki pedoman hidup berupa Al-Qur’an dan Sunnah.
6.        Sebagai potensi seorang anak menjadi anak yang saleh dan salehah.
7.        Munculnya ketenangan batin yang dirasakan karena meyakini bahwa Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang senantiasa ada bersama hamba-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahid, Nur. Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010.
Hardiwinoto. Kategori Umur. Jakarta: Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2011.
(Daring)            tersedia                      di                    http://ilmu-kesehatanmasyarakat.blogspot.co.id/2012/05/kategori-umur.html?m=1. Diakses pada 1 Desember 207.
Husin, Abdullah.  Model Pendidikan Luqman Al-Hakim; Kajian Tafsir Sistem Pendidikan Islam dalam Surah Luqman. Yogyakarta: Insyira, 2013.
Juwariyah. Dasar-dasar Pendidikan Anak dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: Teras, 2010.
Student, Indonesia. Pengertian Masa Kanak-kanak dan Perkembangannya (awal+menengah+akhir). Jakrta: IndonesiaStudent.Com, 2017. (Daring) tersedia di http://www.indonesiastudent.com/pengertian-masa-kanak-kanakdan-perkembangannya-awalmenengahakhir/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2017
[1] KBBI
[2] Indonesia Student, Pengertian Masa Kanak-kanak dan Perkembangannya (awal+menengah+akhir), (Jakrta: IndonesiaStudent.Com, 2017). (Daring) dapat diakses pada http://www.indonesiastudent.com/pengertian-masa-kanak-kanak-dan-perkembangannyaawalmenengahakhir/. Diakses pada tanggal 1 Desember 2017.
[3] Hardiwinoto, Kategori Umur, (Jakarta: Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2011). (Daring) dapat diakses pada http://ilmu-kesehatan-masyarakat.blogspot.co.id/2012/05/kategori-umur.html?m=1. Diakses pada 1 Desember 207.
[4] Safriandi A. Rosmanuddin, Anak-anak dan Kanak-kanak Itu Beda, (Aceh: Portal Satu, 2016). (Daring) dapat diakses pada http://portalsatu.com/read/budaya/anak-anak-dan-kanak-kanakitu-beda-8268. Diakses pada 1 Desember 2017.
[5] Abdullah Husin, Model Pendidikan Luqman Al-Hakim; Kajian Tafsir Sistem Pendidikan Islam dalam Surah Luqman, (Yogyakarta: Insyira, 2013), hlm. 33.
[6] Ibid., hlm. 37.
[7] Juwariyah, Dasar-dasar Pendidikan Anak dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm. 96.
[8]Nur Ahid, Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 145.
[9] Juwariyah, op. cit., hlm. 4.
[10] Abdullah Husin, op. cit., hlm. 56.
[11] Abdullah Husin, op.cit., hlm. 37.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PENDIDIKAN AKIDAH PADA MASA KANAK-KANAK"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!