SYIRIK KHURAFAT DAN TATHAYYUR
Ada tiga sebab fundamental munculnya perilaku syirik, yaitu aljahlu (kebodohan), dhai’ful iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikutikutan secara membabi-buta).
Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecenderungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.
Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dhai’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang imannya lemah cenderung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.
Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman :
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengadaadakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-A’raf: 28).
Perilaku-perilaku yang menyembah berbagai macam sesembahan itu dikenal dalam Islam dengan “Syirk” (Polytheisme), yang berarti mempersekutukan Tuhan yang Maha Esa dengan sesembahan lain yang mereka sembah. Sedangkan pelakunya disebut Musyrik. Kata “Musyrik” adalah kata Arab dari asal kata kerja “Syarika” yang artinya berpatner atau bergabung atau bersekutu.[1]
Adapun “Syirik” dalam Bahasa Arab merupakan mashdar dari katakata (asyraka-yusriku-syirk), misalnya: syirk billahi artinya menjadikan sekutu bagi Allah.[2]
Adapun dari segi syara’, syirik adalah segala sesuatu yang membatalkan tauhid atau mencemarinya, dari apa saja yang dinamakan syirik dalam al-Qur’an dan as-Sunnah[3]. Dengan kata lain syirik adalah mempersekutukan Tuhan dengan menjadikan sesuatu selain diri-Nya sebagai sembahan, obyek pemujaan atau tempat menggantungkan harapan dan dambaan.[4]Ada pula yang mendefinisikan bahwa syirik adalah mewujudkan sesuatu sebagai tandingan bagi Allah baik dalam ubudiyyah, uluhiyyah maupun asma dan sifat-Nya.[5]
Definisi lain tentang syirik ialah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal yang seharusnya ditujukan khusus untuk Allah, seperti berdo’a meminta kepada selain Allah disamping berdoa’a memohon kepada Allah. [6]
Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah berarti ia telah meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ ال شِرْكَ لظَُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman: 13).
Sebagaimana disebutkan diatas tadi bahwa orang yang melakukan syirik itu disebut dengan musyrik, adalah keyakinan bahwa disamping Allah swt, itu ada sembahan lain. Keyakinan semacam ini jelas kontradiksi dengan jiwa tauhid
(Meng Esakan Allah) yang diajarkan Islam, karena Laa Ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang bereksistensi dan berhak disembah selain Allah swt). Oleh karena itu, perbuatan syirik itu termasuk dosa yang paling besar. [7][8]
Sebagaimana Allah berfirman:
إِنَّ الل َ لاَ يغَْفِرُ أنَْ يشُّْرَكَ بِهِ وَيغَْفِرُ مَادوُْنَ ذلَِكَ لِمَنْ يشََّاءُ وَمَنْ يشُّْرِكْ بِا اللِ فَقدَِ افْترََى إِثمًْا
عَظِيْمًا.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (menyekutukan Allah swt), dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang menyekutukan Allah, maka dia sungguh telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. an-Nisaa’: 48).
Perbuatan syirik itu jelas kontradiksi dengan keimanan, sebab keimanan yang murni ialah yang bertauhid (meng Esa-kan Allah swt), sehingga jika ada yang mengaku beriman tetapi mengaku banyak Tuhan atau masih ada Tuhan yang disembah selain Allah, maka perbuatan itu akan ditolak Allah swt.
Syirik ada dua macam:
a.Syirik Besar
Syirik besar dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam dan menempatkannya kekal di dalam neraka bila hingga meninggal dunia ia belum bertobat darinya. Definisi Syirik al-akbar yakni menjadikan sekutu bagi Allah, baik dalam masalah rububiyah, uluhiyah atau asma dan sifat-Nya.[9] Definisi lain syirik besar ialah
1. Syirkud Da’wah (syirik do’a). Berdo’a memohon kepada selain Allah disamping memohon kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:
فَإذِاَ رَكِبوُْا فِى الْفلُْكِ دعََوُا اللِ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِ يْنَ فلَمََّا نجََّهُمْ إلَِى الْب رَِ إذِاَ هُمْ يشُْرِ كُوْنَ .
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan kataatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Q.S. alAnkabut: 65).
2. Syirkun Niyyah wal Iradah wal Qashd (syirik niat), yaitu memperuntukkan dan meniatkan suatu ibadah kepada selain Allah. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ كَانَ يرُِيْداُلْحَيوَةَ الدنُّْيَا وَزَيْنتَهَُا نوَُ فِ إلَِيْهِمْ أعَْمَالهَُمْ فيِْهَا وَهُمْ فيِْهَا لَايبُْخَسُونَ . أوُْلَئكَِ الذَِّيْنَ
لَيْسَ لهَُمْ فِى الْْخَِرَةِ إِلاَّ الناَّرُ وَحَبطَِ مَا صَنعَوُْا فِيْهَا وَ بطَِلٌ مَّا كَنوُْا يعَْمَلوُْنَ.
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Hud: 15-16).
3. Syirk Tha’ah (syirik ketaatan); yaitu mentaati selain Allah dalam bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
اتخََّذوُْا أحَْبَارَهُمْ وَرُهْبَنهَُمْ أرَْباَباً مِن دوُْنِ اللِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أمُِرُوْا إِلَّا لِ يعَْبدُوُا إلَِيْهَا
وَاحِداً لَّاإلَِهَ إِلَّا إِلَّاهُوَ سُبْحَنَهُ عَمَّا يشُْرِكُوْنَ .
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak diibadahi) selain Dia, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S. Taubah: 31).
4. Syirkul Mahabbah (syirik kecintaan); menyamakan kecintaan kepada selain Allah dengan kecintaan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَمِنَ الناَّسِ مَن يَتخَِّذُ مِنْ دوُْنِ اللِ أنَْداَداً يحُِبوُّْنهَُ مْ كَحُ بِ الل ِ وَالذَِّيْنَ أمََنوُْا أشََدُّ حُباًّ لِِ ِ وَلَوْيرََى الذَِّيْنَ ظَلمَُوْا إذِْ يرََوْنَ الْعذَاَبَ أنََّ الْقوَُّةَ لِِِ جَمِيْعاً وَأنََّ اللَ شَدِيْدُ الْعَذاَبَ .
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Q.S. al-Baqarah: 165).[11]
b. Syirik Kecil
Syirik kecil tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam tapi dapat mengurangi (nilai) tauhid dan dapat menjadi perantara kepada syirik besar. Syirik kecil terbagai menjadi dua
a. Syirik Dzahir/al-Jaliy (Syirik yang Nampak) : berupa perkataan dan perbuatan.
Contoh perkataan, seperti bersumpah dengan nama selain
Allah. Rasulullah bersabda : “Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah, sungguh ia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan.”
Contoh perbuatan, seperti mengenakan kalung atau benang untuk mengusir dan bala’, memakai jimat karena khawatir terkena penyakir dan perbuatan lainnya.
b. Syirik Khafiy (Tidak Nampak) : yaitu kesyirikan yang terdapat pada keinginan dan niat, seperti riya (ingin dilihat orang).[12]
Khurafat
Khurafat berasal dari bahasa arab (al-khurafat) berarti dongeng, legenda, kisah, cerita bohong, asumsi, dugaan dan keyakinan yang tidak masuk akal atau akidah yang tidak benar. Sedangkan secara istilah khurafat adalah suatu kepercayaan, keyakinan, pandangan dan ajaran yang sesungguhnya tidak memiliki dasar dar agama. Dengan demikian bagi umat Islam, ajaran atau pandangan, kepercayaan dan keyakinan apa saja yang dipastikan ketidakbenarannya atau yang jelasjelas bertentangan dengan ajaran al-Qur’an dan Hadis Nabi saw, dimasukan kedalam kategori khurafat.
Sumber khurafat (ejaan lama: churafat) adalah dinamisme dan animisme. Dinamisme adalah kepercayaan adanya kekuatan dalam diri manusia, hewan, tumbuhan, benda-benda. Sedangkan animisme adalah kepercayaan adanya jiwa dan roh yang dapat mempengaruhi alam manusia. Khurafat diartikan sebagai cerita-cerita yang mempesonakan yang dicampuradukkan dengan perkara dusta atau semua cerita rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantangan, adat istiadat, ramalanramalan, pemuajaan atau kepecayaan yang menyimpang dari ajaran Islam.[13]
Khurafat adalah budaya masyarakat Jahiliyah oleh karena itu Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya Islam di Tinjau dari Berbagai Aspek, membagi agama ada yang bersifat primitif dan yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Agama animisme dan dinamisme termasuk kedalam primitif tersebut. Agama dinamisme adalah mengandung kepercayaan kepada kekuatan gaib yang misterius sedangkan agama animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa mempunyai roh.[14]
Contoh khurafat
Contoh khurafat
a. Memakai gelang dan benang untuk menghilangkan dan menolak bala (bahaya)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْْ َرْضَ لَيَقُولُنَّ الَِّ ُ قُلْ مَاأَفَرَأَيْتُمْ
تَدْعُونَ مِنْ دُونِ الَِّ ِ إِ نْ نِيَدَارَأ َ لَِّ ُ بِضُ ر هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ هِضُ رِ وْأ َ نِيَدَارَأ َ بِرَ حْمَة هَلْ هُنَّ مُمْسِكَا تُ رَ حْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ لَِّ ُ عَلَيْهِ يَتَوَ كَّلُ
لْمُتَوَكِ لُ نَ (83)
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nya-lah
bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Az-Zumar : 38)
Maksudnya adalah tidak ada sesuatupun dapat menolak bala setelah turunnya bala itu, daan tidak dapat menghalangi bala seelum bala itu turun, dan tak satupun yang dapat melepaskan drii dari kesulitan serta menyampaikan kebaikan kecuali hanya Allah semata. Dan apa yang diseru atau dimintai selain Allah adalah lemah sebab tingkat atau derajat mereka tidak kuasa dan tidak mampu menolak kesulitan dan mereka tidak dapat menghalangi rahmat Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-
Nya.[15]
b. Menggantungkan benda apapun ditubuh untuk kekebalan ataupun untuk keselamatan.
Hal ini termasuk syirik kecil, dan perbuatan itu adalah pekerjaan jahilliyah yang menunjukan akan kebodohan dan kesesatan dan oleh agama islam perbuatan itu dibatalkan atau dilarang. Rasulullah saw melaknati orang yang berbuat demikian itu.
Hadits Marfu’ yang diriwayatkan Ahmad dari Uqbah bin Amir menyatakan bahwa ”barangsiapa yang menggantungkan tangkal jimat[16]ditubuhnya maka Tuhan tidak akan menyempurnakan kehendak-Nya dan barangsiapa menggantungkan kulbuntet[17]maka tidak ada perlindungan Allah kepadanya”. Dan diriwayat lain dinyatakan, bahwa “barangsiapa menggantungkan tangkal jimat ditubuhnya, maka syiriklah dia”
Hadits riwayat ibnu Abi Hatim dari Hudzaifah menyatakan “Dia melihat seorang lelaki memakai benang di tangannya untuk menolak sakit panas. Maka oleh Hudzaifah benang itu diputuskan seraya beliau membaca firman Allah. “Dan tidaklah kebanyakan mereka iman kepada Allah kecuali mereka itu adalah orang
Musyrik”
Hal ini menunjukan diperbolehkannya berdalil dngan ayat yang mengenai syirik terbesar guna memberantas syirik yang terkecil.[18]
c. Mengambil berkah kepada batu, pohon, dan sejenisnya. Allah SWT berfirman : O وَمَناَة َ الثاَّلِث ةََ الْْخُْرَ ى O أيَْتمُُ أفَرََ اللَّتَ وَالْعزَُّ ى
“Maka apakah patut kamu (orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza dan Manat yang ketiga yang paling hina itu sebagai anak perempuan Allah” (QS an-Najm : 19-20)
Al-Latta : adalh berhala oran Tsaqif. Asalnya ialah bau putih yang ada di thaif kepunyaan seseorang yang dipergunakan untuk membuat roti. Lata diambil dari kata ILA-HUN (Tuhan).
Al-Uzza : adalah sebatang pohon yang diberi bangunan disekitarnya dan ditutp dengan selambu, tterdapat di desa nahlah, suatu tempat antara Mekkah dan Thoif. Uzza ini adalah berhala oran quraisy dari Bani Kinanah. Dinamakan Uzza diambil dari kata AZIZ (Maha Mulia).
Manat : Adalah berhala Bani Hilal di Qudaidl terletak diantara
Makkah dan Madinah. Dipuja-puja oleh suku Khaza’ah, Aus dan Hazraj. Dinamakan Manat diambil dari nama Allah : AlMANNAN (pemberi Anugrah).
Arti dari firman Allah ini ialah, apakah kamu beranggapan bahwa tuhan-tuhan ini dapat memberi manfaat dan dapat memberi mudarat, ataukah kamu anggapan mereka itu kuasa mempertahankan dri mereka sendiri ?. Padahal jika dipikir secara logika, patung itu buatan manusia jadi lebih hebat pembuat patung itu (manusia) daripada patung itu sendiri, bahkan patung itu hanyalah sebuah benda mati yang tidak bisa memertahankan dirinya sendiri.
Adapun Mencari berkah kepada pohon, juga termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:
عَنْ أبَِي وَاقِ د الليَّْثِ يِ قَالَ : خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ الَِِّ صَلَّى الَُِّ عَليَْهِ وَسَلمََّ قبَِلَ حُنيَْ ن فمََرَرْنَا بسِِدْرَ ة فقَلُْتُ يَا نَبِيَّ الَِِّ اجْعَلْ لنََا هَذِهِ ذاَتَ أنَْوَا ط كَمَا لِلْكُفَّارِ ذاَتُ أنَْوَا ط وَكَانَ الْكُفَّارُ ينَوُطُونَ بسِِلَحِهِمْ بسِِدْرَ ة وَيَعْكُفوُنَ حَوْلهََا فقََالَ النبَِّيُّ صَلَّى الَُِّ عَليَْهِ وَسَلَّمَ الَُِّ أكَْبرَُ هَذاَ كَمَا قَالتَْ بنَوُ إسِْرَائيِلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لنََا إِلهًَا كَمَا لهَُمْ آلِهَةً إنِكَُّمْ ترَْكَبوُنَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (memiliki gantungan yakni untuk menggantungkan senjata, dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).[19]
Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hambaNya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja.[20]
d. Percaya kepada ramalan seperti zodiak, horoskop, bintang dan sejenisnya
Yang disebut ilmu bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya. Karena di dalam ajaran tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik. Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin. Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زَاد َ مَا زَا دَ ال سِحْ رِ مِ نَ شُعْبَ ةً اقْتبَسََ النجُُّو مِ مِنَ عِلْمًا اقْتبَ سََ مَ نِ
“Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.”[21]
Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang jayyid dari ‘Imron bin Hushoin, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لهَ ُ سُ حِرَ أ وَْ سَحَّرَ أوَْ لَه ُ تكُُ هِنَ أوَْ تكََهَّنَ أوَْ لَه ُ تطُُ يِرَ أوَْ تطََيَّرَ مَنْ مِنَّا ليَْسَ
“Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya”
Siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan kaahin (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana Firman Allah Swt:
الَِّ ُ إلَِّا الْغيَْبَ وَالْْرَْضِ السَّمَاوَاتِ فِي مَنْ يعَْلَمُ لَا قلُْ
“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml: 65).
Syaikh Sholih Alu Syaikh –hafizhohullah– mengatakan, “Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan. Dan kita wajib mengingkari setiap orang yang membaca ramalan bintang semacam itu dan kita nasehati agar jangan ia sampai terjerumus dalam dosa. Hendaklah kita melarangnya untuk memasukkan majalah-majalah yang berisi ramalan bintang ke dalam rumah karena ini sama saja memasukkan tukang ramal ke dalam rumah. Perbuatan semacam ini termasuk dosa besar (al kabair).[22]
Tathayyur
a. Secara Etimologi
“At-Tathayyur” secara bahasa, adalah mashdar dari (kata) تطََيَّرَ– (Tathayyara). Asal mulanya diambil dari kata – الطَّيْرُ – (Ath-Thairu) (yang berarti burung), karena bangsa Arab (sebelum datangnya Islam. menentukan nasib sial dan nasib baik dengan menggunakan burungburung, melalui cara yang telah mereka ketahui, yaitu dengan melepaskan seekor burung, kemudian dilihat apakah burung tersebut terbang ke kanan, ke kiri, ataukah terbang ke arah yang mendekati (kanan atau kiri). Jika (burung tersebut) terbang ke arah kanan dia pun berangkat (maju), (dan jika) terbang ke arah kiri, maka dia pun mundur
(menahan diri untuk berangkat).[23]
b. Secara Terminologi Adapun (“At-Tathayyur”) dalam istilah (syari’at) adalah merasa bernasib sial disebabkan karena sesuatu yang dilihat atau didengar, atau karena sesuatu yang diketahui (selain dari yang dilihat atau didengar)[24]
c. Beberapa contoh Tathayyur
1. Karena sesuatu yang dilhat
Misal: Seseorang melihat seekor burung hantu, kemudian dia merasa dirinya akan mendapatkan kesialan karena (menurut anggapannya) burung tersebut membawa sial. Kepercayaan yang demikian itu dihapus oleh hadits Nabi saw “Dari Abu Hurairah r.a menyatakan : bahwa nabi Muhammad saw. Bersabda : Tidak ada penularan, tidak ada burung hantu dan tidak ada bulan safar” (HR Muttafaqun Alaih)[25]
2. Karena sesuatu yang didengar
Misal: Seseorang telah berniat (melakukan) sebuah urusan, lalu dia mendengar seseorang mengatakan kepada orang lain (selain dirinya): “Hai si Rugi” atau “Wahai Orang Gagal”, kemudian dia merasa akan bernasib sial (mendapatkan kerugian atau kegagalan karena omongan orang tadi).
3. Karena sesuatu yang diketahui
Misal: Merasa sial dengan beberapa hari tertentu, bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu.
Pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla dan senantiasa bergantung kepada selain Allah.
Kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan sesuatu yang termasuk takhayyul dan keraguraguan.25
Ibnul Qayyim rahimahullah kembali menuturkan: “Orang yang bertathayyur itu tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah tenang, buruk akhlaknya, dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menjadi orang yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya. Banyak memelihara dan menjaga hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat kepadanya, tidak sedikit dari mereka yang kehilangan peluang dan kesempatan (untuk berbuat kebajikan)26 Thiyarah termasuk syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya.
الَ طِيَرَة ُ شِرْكٌ، الَ طِيَرَة ُ شِرْكٌ، الَ طِيَرَة ُ شِرْكٌ، وَمَا مِناَّ إِلَِّ وَلكَِنَِّ الِلَ يذُْهِبهُُِ باِلتوََّكُّلِِ
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan Tawakkal kepada-Nya.27
Dalam Shahiih Muslim disebutkan, dari Mu’awiyah bin al-Hakam asSulami Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah sesuatu yang akan kalian temui dalam diri kalian, akan tetapi janganlah engkau jadikan ia sebagai penghalang bagimu.Dengan ini beliau mengabarkan bahwa rasa sial dan nasib malang yang ditimbulkan dari sikap tathayyur ini hanya pada diri dan keyakinannya, bukan pada sesuatu yang ditathayyurkan. Maka prasangka, rasa takut dan kemusyrikannya itulah yang membuatnya bertathayyur dan menghalangi dirinya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat, bukan apa yang dilihat dan didengarnya.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menerangkan permasalahan tersebut kepada umatnya tentang kesesatan tathayyur supaya mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan kepada mereka suatu alamat atau tanda atas kesialan, atau menjadikannya sebab bagi apa yang mereka takutkan dan khawatirkan. Supaya hati mereka menjadi tenang dan jiwa mereka menjadi damai di hadapan Allah Yang Mahasuci. Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.tawakkal kepada-Nya (HR Muslim no :537)
Pengharaman thiyarah didasarkan pada beberapa hal:
1. Dalam thiyarah terkandung sikap bergantung kepada selain Allah
Subhanahu wa Ta’ala
2. Thiyarah melahirkan perasaan takut, tidak aman dari banyak hal dalam diri seseorang, sesuatu yang pada gilirannya menyebabkan kegoncangan jiwa yang dapat mempengaruhi proses kerjanya sebagai khalifah di muka bumi.
3. Thiyarah membuka jalan penyebaran khurafat dalam masyarakat dengan jalan memberikan kemampuan mendatangkan manfaat dan mudharat atau mempengaruhi jalan hidup manusia kepada berbagai jenis makhluk yang sebenarnya tidak mereka miliki. Pada gilirannya, itu akan mengantar kepada perbuatan syirik besar.[26]
Cara membentengi diri dari segala macam syirik
1. Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah ‘azza wa jalla dengan senantiasa berupaya memurnikan tauhid.
2. Menuntut ilmu syar’i.
3. Mengenali dampak kesyirikan dan menyadari bahwasanya syirik itu akan menghantarkan pelakunya kekal di dalam Jahanam dan menghapuskan amal kebaikan.
4. Menyadari bahwasanya syirik akbar tidak akan diampuni oleh Allah.
5. Bergaul dengan orang yang lurus dan teguh agama-Nya (Ahlussunnah) dan menghindari pergaulan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan agar tidak terpengaruh dengan perbuatan mereka tersebut.
6. Mempelajari ilmu tauhid yang murni dan benar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasullullah SAW.
7. Memperbanyak do’a kepada Allah agar diberikan keistiqamahan diatas tauhid dan sunah dan agar dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan dan kebid’ahan baik yang kita ketahui ataupun tidak, baik yang kita sadar ataupun tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Fakih Abdul Latif, Deklarasi Tauhid. Tangerang: Inbook, 2011
Saleh Fauzi, Pilar-Pilar Tauhid. Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007
Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan, Kitab Tauhid. Jakarta: Ummul Qura, 2014
Al-Wazzaf Abdullah, Salamah Ahmad, dkk, Pokok-Pokok Keimanan. Bandung: Trigenda Karya, 1994
Nasution Harun, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press, 1974
Muhammad Bin Abdul Wahhab, Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirik, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 2005
[1] Abdul Latif Fakih, Deklarasi Tauhid (Tangerang: Inbook, 2011), Hlm. 14
[3] Ibid, Hlm. 50
[4]Ibid, Hlm. 51
[5] Loc. Cit
[6]Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan, Kitab Tauhid (Jakarta: Ummul Qura, 2014), Hlm. 329
[7]Abdullah al-Wazaf, Ahmad Salamah dkk, Pokok-Pokok Keimanan (Bandung: Trigenda Karya,
[8] ), Hlm. 252
[9]Fauzi Saleh, Op.cit. Hlm. 51
[10]Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan, Op.cit. Hlm. 332
[11] Ibid, Hlm. 333
[12]Dr. Shalih Bin Fauzan al-Fauzan, Op.Cit. Hlm. 335-336
[13] www. Risalah.com
[14]Prof. Dr. Harun Nasution, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: UI Press, 1974). Hlm. 11-13.
[15] Muhammad Bin Abdul Wahhab, Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirik, (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 2005), Hlm. 38-39
[16]Tangkal jimat : untuk memelihara diri dari bahaya dan penyakit/ ‘ain
[17] Kulbuntet : Untuk menolak bahaya dan sakit / ‘ain
[19]Ibid, Hlm. 46-50
[20]Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, Hlm. 573-574
[21] HR. Abu Daud no. 3905, Ibnu Majah no. 3726 dan Ahmad 1: 311. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan.
[22] Syaikh Sholih Alu Syaikh, At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”, hlm. 349
[23]Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, kitab “Al-Qaulul Mufid Bab: “Ma Ja-a fit-Tathayyur”, Hlm. 348
[24] Loc.Cit
[25]Muhammad bin Abd. Wahhab, Loc.Cit. Hlm. 98
[26]Al-Madkhal li Diraasatil ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah, Hlm. 148-150
0 Response to "SYIRIK KHURAFAT DAN TATHAYYUR"
Posting Komentar