KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

PENTINGNYA MENUNTUT ILMU


Ilmu adalah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dituntut dapat bisa terungkap dengan sempurna. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyelesaikan dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia.
Karena ilmu menjadi sarana bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraan dunia maupun akhirat maka mencarinya wajib hukumnya. Mengkaji ilmu merupakan pekerjaan mulia karenanya maka orang yang keluar dari rumahnya untuk mengkaji dan mencari ilmu didasari iman kepada Allah, maka semua yang ada di bumi mendoakannnya. 

Keutamaan Dalam Menuntut Ilmu
Mencari ilmu termasuk jihad. Seluruh aspek agama Islam dan jihad itu sendiri harus berlandaskan ilmu. Apabila seseorang tidak memiliki ilmu maka ia tidak akan bisa mengerjakan suatu perintah sesuai dengan permintaan si penyuruh.[1]Oleh karena itu, Allah SWT. Berfirman: 
Artinya:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (Q.S At-Taubah: 122)
Hal yang dimaksud adalah setiap kabilah mengirimkan sejumlah orang untuk berjihad, sedangkan yang lainnya ditugaskan untuk memperdalam pengetahuan agama Islam untuk menjadi seorang yang memberi peringatan (seperti kiyai, ustadz, dan lain-lain) kepada kaumnya jika mereka telah selesai berperang agar selalu bertakwa kepada Allah SWT. Allah SWT telah menyejajarkan menuntut ilmu agama Islam dengan jihad di jalan-Nya dan bahkan lebih utama daripada berjihad karena tidak mungkin seorang muslim akan berjihad, melaksanakan sholat, berzakat, berpuasa, menunaikan ibadah haji dan umrah, makan sepiring makanan dan minum segelas minuman, tidur dan bangunnya melainkan semuanya harus dilakukan berdasarkan ilmu.[2]
Tidak ada perbedaan antara seorang mujahid yang menarik tali busurnya dengan seorang santri yang sedang mempelajari banyak ilmu dari buku atau kitabkitab. Mereka berdua terhitung sedang berjihad di jalan Allah SWT. Seorang mujahid sedang berperang di jalan Allah, dan seorang santri sedang menjelaskan syariat Allah kepada hamba-hamba-Nya (belajar dan mengajar). Bahkan sebagian ulama mengutamakan mencari ilmu daripada berjihad. Sedangkan pendapat yang benar dalam hal ini terbagi atas beberapa tingkat. Ada seseorang yang berjihad di jalan Allah SWT baginya lebih utama daripada mencari ilmu dan bagi sebagian orang bahwa mencari ilmu baginya lebih utama daripada berjihad.
Bagi seorang muslim yang kuat, pemberani dan tidak pernah merasa takut terhadap seorang pun, tetapi ilmu dan hafalannya lemah dan merasa kesulitan jika disuruh untuk belajar, maka berjihad di jalan Allah lebih utama baginya daripada belajar. Adapun sebaliknya, seseorang yang lemah fisiknya, dan tidak mempunyai keberanian akan tetapi kuat hafalannya dan pandai, maka belajar lebih utama baginya dari pada berjihad. Apabila kondisi keduanya berimbang, maka sebagian para ulama mengatakan bahwa mencari ilmu tetap lebih utama, karena ilmulah yang menjadi segalanya. Ilmu akan memberikan banyak manfaat kepada orang lain, orang kota maupun orang desa yang masih hidup dan yang belum lahir. Seseorang yang berilmu akan merasakan manfaat dari ilmunya, baik ketika dirinya masih hidup maupun setelah wafat. [3]
Keutamaan-keutamaan ilmu agama banyak sekali seperti, ilmu adalah sebab kebaikan di dunia dan di akhirat. Ilmu sebagai benteng dari syubhat dan fitnah karena dengan ilmu kita dapat menjaga diri dari berbagai syubhat (kerancuan pemikiraan) yang menyerang. Dengan ilmu juga kita dapat membantah argumen orang-orang yang ingin merusak agama. Selanjutnya ilmu adalah jalan menuju surga. Dengan ilmu kita bisa beribadah yang benar sehingga akan mengantarkan kita kepada syurga Allah.[4]Selain itu, Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan. Sesuai dengan firman Allah.
 Artinya:
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah: 11)
 Pada ayat di atas, Allah SWT tidak menentukan jumlah derajatnya, karena derajat yang dimaksudkan oleh ayat di atas adalah berdasarkan keimanan dan keilmuan seseorang. Semakin kuat keimanan seseorang dan semakin banyak ilmunya yang bermanfaat untuk orang lain, maka derajatnya akan bertambah tinggi. Maka perbanyaklah ilmu dan kuatkan iman karena Allah SWT telah berfirman: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.


Anjuran dan Tujuan Menuntut Ilmu Pengetahuan
Para rasul sangat haus akan ilmu sehingga mereka selalu memohon kepada Allah SWT agar selalu ditambahkan bagi mereka. Sebagai penbandingan, bahwa para Nabi saja sangat memerlukan ilmu terlebih lagi kita sebagai manusia biasa. Sudah selayaknya setiap orang untuk senantiasa memohon kepada Allah SWT agar memberi tambahan ilmu, maka ia juga harus berusaha menempuh jalan-jalannya atau sebabsebab yang akan menjadikan dirinya berilmu. Apabila ia berdoa, “Ya Allah, tambahkanlah ilmuku,” namun dirinya tidak mau belajar maka cara orang seperti ini sangat tidak bijaksana dan salah kaprah. Hal ini serupa dengan seseorang yang berkata, “Ya Allah, berilah aku seorang anak!” namun ia tidak mau menikah. Bagaimana mungkin ia akan mempunyai seorang anak? Jika engkau memohon sesuatu kepada Allah, maka engkau harus berupaya meniti jalan-jalannya, karena Allah Maha Bijaksana. Allah akan mengabulkan cita-cita seseorang ketika ia telah berusaha semaksimal mungkin.[5] 
Hukum mempelajari ilmu agama Islam terbagi dua: Fardhu „ain, yaitu wajib dipelajari setiap Muslim, Fardhu kifayah, yaitu apabila ada seorang Muslim yang melakukannya maka gugurlah kewajibannya. Ilmu yang hukumnya fardhu „ain dan wajib dipelajari oleh setiap Muslim adalah mempelajari ilmu agama, seperti belajar tauhid dan hal-hal yang merusak ketauhidannya kepada Allah seperti syirik. Shalat termasuk fardhu „ain dikarenakan setiap Muslim harus mengerjakannya. Tidak ada kelonggaran bagi seorang Muslim untuk meninggalkan salat selama akalnya sehat. Oleh karena itu, seorang Muslim berkewajiban untuk mempelajarinya dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan salat, seperti tatacara salat, wudhu, dan lain-lain. Sedangkan kewajiban zakat mempelajarinya tidak diwajibkan bagi setiap Muslim. Adapun kewajiban puasa, maka setiap Muslim diwajibkan untuk mempelajarinya. Seorang Muslim diwajibkan untuk mempelajari jenis puasa yang akan dijalaninya, hal-hal yang akan merusak, membatalkan atau mengurangi kesempurnaan puasanya. Sedangkan kewajiban haji, tidak semua orang Muslim diwajibkan untuk mempelajarinya.
Jelaslah sekarang bahwa hukum mempelajari agama Islam terbagi menjadi dua macam yaitu fardhu „ain dan fardhu kifayah. Hukum fardhu kifayah akan menjadi sunah bagi seorang Muslim yang akan melakukannya jika telah dilakukan oleh Muslim lainnya. Contohnya ketika mempelajari syari‟at Allah dengan tujuan untuk mengahafalnya atau untuk mendakwahkannya kepada orang lain atau untuk dirinya ingin bermanfaat bagi orang lain.[6]
Di antara keterangan lain yang menunjukkan akan keutamaan ilmu adalah firman Allah SWT
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Qs. Az-Zumar:9)
 Ungkapan ini sudah umum dan jawabannya dapat dipahami bersama. Bahwa tidak akan sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Hal ini adalah sebuah perkara yang tidak terbantahkan oleh siapa pun. Akan tetapi, Allah SWT menyebutkannya dengan bentuk pertanyaan sebagai bentuk tantangan bagi manusia, dengan kata lain apakah ada orang yang mengatakan bahwasanya seorang yang berilmu sama dengan seorang yang tidak berilmu? Tidak akan ada seorang pun yang akan mengatakan bahwa orang yang berilmu sama seperti orang yang berilmu.  Ayat di atas juga menjelaskan betapa Allah telah membedakan antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, karena dengan ilmunya orang akan dapat memikirkan semesta ke-Mahakuasaan Pencipta-Nya. Ilmu juga merupakan
sarana untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.[7]
       
Hadis-hadis Tentang Anjuran dan Tujuan Menuntut Ilmu Pengetahuan
1. Hadits Nomor: 88
أخْبَ رنََ مُُمَّدُ بنُ اسْحَاقِ الثَّ قَفِيُّ  قلَ : حَدَّثَ نا عَبْدُ الأعْلى بنُ حََدٍ   قالَ : حَدَّثَ نا عَبْدُ الّلِّ بنُ دَاوُدَ الخرَبُِّ   قالَ : سََِعْتُ بنَ رجَاءِ بنِ  حَيْ وةَ   عَنْ دَاوُدَ بنِ جََِيْلٍ   عَنْ كَثيِْْ بنِ قَ يْسٍ   قالَ : كُنْتُ جَالسًا مَعَ أبِِ الدَّردَاءِ فِِ مَسْجِدِ دِمَشْقَ   فأتََهُ رجُلٌ  فَ قَالُ : يََأبََ الدَّردَاءِ   إنّّ أتَ يْ تكَ مِنْ مَدِيْ نةٍ الرسُوِْل فِِ حَدِيسٍ بَ  لَغنِِ أنكَ تُُدِّثوُ عَنْ رسُوْلِ الّلِّ صَلى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ  فَ قَالَ أب وْ الدَّردَاءِ : أمَا جِئتَ لِِاجَةٍ  أمَا جِئْتَ لتجَارٍَة أمَا جِئْتَ إلاَّ لِِاذَا الَِدِيثِ ؟ قالَ : ن عَمْ  قالَ : فأِنّّ سََِعْتُ رسُوْلَ ا لّلِّ صَلَّى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ  قالَ : مَنْ سَلكَ رريْ قًا يللُ ُ  فيْوِ عِلْمًا  سَلكَ الّلُّ بِوِ مِنْ ررقِ الْْنةِ  وَالملائكَةُ تضَعُ أجْنحَتَ هَا رضًا للا لِ ِ  العلْمَ  وَإنَّ العَالَِ يسْتَ غْفِرُ لوُ مَنْ فِ السَّمَا وَاةِ وَمَنْ فِِ الأرْضِ وَالِيْ تانِ فِ المَاءِ  وَفضْلُ العَالِِ عَلَى العابدِ كَفَضْلِ القَمَرِ ليْ لةَ البدْرِ عَلى سَائرِ الكَواكِ ِ   إنَّ العلمَاءَ وَرثوُ الأنبياءِ إنَّ الأنبياءَ لَِْ  ي وَّرث وْا دِيْ نارا ولآ دِ  رَْهَا وأوْرث وْا العلْمَ   فمَنْ أَخَذَهُ أخَذَ بِِظِّ وَافر

Muhammad bin Ishaq Ats-Tsaqafi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdul
A‟la bin Hammad menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Daud Al Khuraibi menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku pernah mendengar Ashim bin
Raja‟ bin Haywah menceritakan dari Daud bin Jamil, dari Katsir bin Qais, dia berkata: Aku pernah duduk bersama Abu Darda‟ di masjid Damaskus. Lalu ada seorang yang mendatanginya seraya berkata, “Wahai Abu Darda‟ sesungguhnya aku datang dari Madinah untuk (menanyakan) suatu hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau menceritakan dari Rasulullah SAW.” Abu Darda‟ bertanya,” Apakah kau datang karena suatu keperluan, apakah engkau datang untuk urusan perdagangan ataukah kau datang karena hadits ini ?” Orang itu menjawab,”Ya” Abu Darda‟ berkata,”sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah SWT akan menunjukkan salah satu jalan ke surga dan para malaikat akan merendahkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu, dan sesungguhnya orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh (penghuni) yang berada di langit dan di bumi serta ikan di air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mendapatkannya maka ia telah mendapatkan bagian yang banyak”.8

                                                          
8 Ala‟uddin Ali bin Balban Al-Farisi, Shahih Ibnu Hibban Jilid 1, (Jakarta: Pustaka Azzam,
2007), hlm.315



2. Shahih: Ash-Shahihah (1194, 1195), Ar-Raudh (1160)
عَنْ أبِ ىُريْ رةَ  قال : قالَ رسُوْلُ الّلِّ صَلى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ : مَنْ يريدِ الّلُّ بوِ خَيْ را
 ي فَقِّهْوُ فِ الدِّينِ
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa dikehendaki Allah untuk menjadi baik, maka Allah akan memahamkannya masalah agama”. [8]
 ShahihTakhrij Musykilah Al Farq (86), Takhrij As-Sirah (71) 3
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, Mencari ilmu adalah fardhu bagi setiap orang muslim”.[9]

 (011/5)Hasan-Shahih: At-Ta‟liq  Ar-Raghib (1/62), Takhrij Al Ilmi  4
.عَنْ زرِّ بنِ حُبَ يْشٍ  قالَ : أتَ يْتُ صَفْوانَ بنِ عَسَّالٍ المرادِيَّ  قالَ: مَا جَاءَ بكَ ؟ قُ لْتُ : أنْ بطُ العلْمَ  قالَ : فإِنّّ سََِعْتُ  رسُوْلُ الّلِّ صَُلى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ  ي قُوْلُ :  مَا مِنْ خَارجٍ خَرجَ مِ نْ بَ يْتوِ فِ رلَ ِ العلْمِ إلاَّ وَضَعَتْ لوُ الملائكَةُ أجْنحَتَ هَا رضًا بِاَ يَسْنعُ
Dari Zirrin bin Hubaiz, dia berkata, “ Aku mendatangi shafwan bin Assal Al Muradi, ia bertanya, untuk apa engkau datang ? Aku menjawab, Aku (datang) hendak mencari ilmu. Shafwan  berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang  pun yang  keluar dari rumahnya dalam mencari ilmu, kecuali malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuknya karena senang terhadap apa yang dilakukan orang tersebut”.11
5. Shahih: Shahih Targhib (83)

عَنْ أبِ ىُريْ رةَ  قالَ : سََِعْتُ  رسُوْلُ الّلِّ صَلى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ  ي قُوْلُ : مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي ىَذَا  لَِْ يََتوِ إلاَّ لِخيٍْْ ي تَ عَلمُوُ  أوْ ي عَلمُوُ  فَ هُوَ بَِنْزَِلةِ المُجَاىِدِ فِ سَبيْلِ الّلِّ   وَمَنْ جَاءَ لِغيْْذَلكَ فَ هُوَ بَِنْزَِلةِ الرجُلِ يَ نْ زرُ إلََ مَتاعٍ غيْْهِ

 Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa yang datang ke masjidku ini, yang tidak lain kecuali untuk kebajikan yang ingin di pelajarinya atau mengajarkannya, maka kedudukannya sama dengan seorang berjihad di jalan Allah. Dan barang siapa datang selain dengan niat tersebut maka ia bagaikan seseorang yang hanya dapat memandang harta benda orang lain saja”.12

                                                          
1211  Muhammad Nashiruddin AlMuhammad Nashiruddin Al--Albani, IbidLoc.cit., hlm.124., hlm.124          
6. Shahih: At-Ta‟liq Ar-Raghib (1/59-60) Takhrij Al-Ilmi (110/6)

عَنْ أبِ الدَّرَْداءِ  قالَ : سََِعْتُ رسُوْلَ الّلِّ صَلى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ  ي قُوْلُ : إنوُ ليسْتَ غْفِرُ   للْعَاِلِِ مَنْ فِِ السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِ الأرْضِ حَتََّّ الِيْ تانِ فِ البحْرِ

Dari Abu Darda, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, yang ada di langit dan di bumi akan memohonkan ampun kepada orang yang alim, sampai-sampai ikan-ikan yang ada di lautan juga akan memohonkan ampun baginya”.13
7. Hasan: At-Ta‟liq (1/59)

عَنْ مُعَاذِ بنِ أَنَسٍ  أنَّ النبَِّ صَلى الّلُّ عَليْوِ وَسَلمَ  قالَ : مَنْ عَلمَ عِلْمًا فَ لوُ أجْرُ مَنْ  عَمِلَ بوِ لاَ يَ نْ قُصُ مِنْ أجْرِ العَامِلِ

Dari Mu‟az bin Anas, bahwa Nabi SAW bersabda: Barang siapa mengajarkan ilmu, maka baginya pahala orang mengamalkannya dan tidak mengurangi pahala orang yang melakukan amal tersebut.14
8. Keutamaan seseorang yang mempelajari (ilmu-ilmu Islam) dan mengajarkannya kepada orang lain          



قبلتِ المَاءَ  فأنْ بَ تتِ الكَلأَ وَالعشْ َ الكَثيْ رَ  وكَانتْ مِنْهَا أجَادِبُ  أمْسَكَتِ المَاءَ  فَ نَ فَعَ الّلُّ بِِا الناسُ  فشَرب وا وَسَقَوْا وَزرعوْا وَأصَابَ مِنْ هَا رائفَةً أخْرى  إنَََّّا ىِيَ قيْ عَانٌ لاَ تُُسِكُ مَاءً ولاَ تُ نْبتُ  كَلأَ  فذَلكَ مَثلُ مَنْ فَ قُوَ فِ دِينِ الّلِّ وَن فَعَوُ مَا ب عَثنِِ  الّلُّ بوِ فَ عَلمَ وَعَلمَ  وَمَثلُ مَنْ لَِْ ي رفعْ بذَلكَ رأسًا وَلَِْ ي قْبلْ ىُدَى الّلِّ الذِي أرسِلْتُ بوِ

Diriwayatkan dari Abu Musa r.a : Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Pengibaratan petunjuk dan ilmu pengetahuan yang diberikan Allah kepadaku adalah seperti hujan deras yang diturunkan Allah ke permukaan tanah. Sebagian adalah tanah yang subur yang menyerap air hujan itu dan di atasnya tumbuh rumput dan sayur-mayur. Sebagian lagi tanah keras yang menahan air itu dan orang-orang dapat menggunakannya sebagai air minum. Yang lainnya tanah yang tandusyang tidak dapat menyerap air dan sayur-mayur tak dapat tumbuh di atasnya (sehingga tanah itu tidak memberi keuntungan apapun). Yang pertama (dan kedua) adalah contoh orang yang memahami agama (Islam) dan memperoleh keuntungan (dari pengetahuan) yang du turunkan Allah SWT. Kepadaku (Nabi Muhammad SAW) kemudian mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain. Yang terakhir adalah contoh orang yang tidak memperdulikannya dan tidak memperoleh petunjuk Allah yang di turunkan kepadaku (ia ibarat tanah yang tandus).[10]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Utsaimin, Syaikh Muhammad bin Shalih. 2010. Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 4.
Jakarta Timur: Darus Sunnah Press.
Al-Farisi, Ala‟uddin Ali bin Balban. 2007.  Shahih Ibnu Hibban Jilid 1. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2013.  Shahih Sunan Ibnu Majah Buku 1.
Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Zabidi, Imam. 1997. Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Bandung: Penerbit Mizan.

Juwariyah. 2010. Hadis Tarbawi. Yogyakarta: Penerbit Teras.

Tersedia di https://muslimah.or.id/7545-keutamaan-menuntut-ilmu.html diakses pada hari Rabu, 28 Februari 2018. Pukul 10.27 WIT





[1] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin Jilid 4, (Jakarta Timur: Darus Sunnah Press, 2010), hlm.32
[2]Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Loc.cit.,hlm.32
[3] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ibid., hlm.33
[4] Tersedia di https://muslimah.or.id/7545-keutamaan-menuntut-ilmu.html diakses pada hari Rabu, 28 Februari 2018. Pukul 10.27 WITA
[5] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ibid., hlm.34
[6] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Ibid., hlm.35
[7] Juwariyah, Hadis Tarbawi, (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2010), hlm.140
[8]Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Ibnu Majah Buku 1, (Jakarta: Pustaka
Azzam, 2013), hlm.120
[9] Muhammad Nashiruddin Al-                               Ibid., hlm.122
[10]Imam Al-Zabidi, Ringkasan Shahih Al-Bukhari, (Bandung: Penerbit Mizan, 1997), hlm.35

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PENTINGNYA MENUNTUT ILMU"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!