KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

RASIONALITAS


Mungkin ada setumpuk pertanyaan, masalah dan keinginan yang menjejali kepala anda dan tentu anda ingin menjawab semua pertanyaan, masalah dan keinginan tersebut. Singkat  kata, anda ingin meraih keuntungan.
Mungkin anda bingung memilih Perguruan Tinggi dan Jurusan manakah yang anda pilih atau yang sesuai dengan hati nurani anda? Dan sederet pilihan lainnya yang kadang membuat anda pusing. Keputusan yang anda ambil pun kadang sering menyimpang dari kenginginan anda semula.
1.      Pakar kata orang bijak “Jika cara anda tepat dalam membuat keputusan, maka anda akan terbebas dari berbagai persoalan dalam hidup”.
2.      Manajemen membutuhkan Informasi sebagai dasar pengambilan keputusan mereka. Sistem Informasi mempunyai peranan yang penting dalam menyediakan Informasi untuk manajemen setiap tingkatan. Tiap-tiap kegiatan dan keputusan manajemen yang berbeda membutuhkan informasi yang berbeda. Oleh karena itu, untuk dapat menyediakan informasi yang relevan dan berguna bagi manajemen, maka pengembangan Sistem Informasi harus memahami terlebih dahulu kegiatan yang dilakukan oleh manajemen dan tipe keputusannya.
Ilmu ekonomi memang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari manusia. kebutuhan dan keinginan manusia menjadi hal yang penting untuk dipenuhi. namun alat ataupun sumberdaya untuk memenuhi dua hal tersebut sangatlah terbatas. untuk itu agar dapat memenuhinya, manusia haruslah pintar-pintar menggunakan rasionya. Karena konsistensi seseorang dinilai  dalam menentukan atau memutuskan pilihannya bila dihadapkan pada beberapa alternatif atau pilihan-pilihan. cara mengambil pilihan itu pun hendaknya dilakukan secara rasionalitas ekonomi.
Rasionalitas kerap dijadikan asumsi perilaku individu dalam model dan analisis ekonomi mikro dan muncul di hampir semua penjelasan pembuatan keputusan manusia yang ada di buku pelajaran ekonomi. Bahkan rasionalitas juga penting bagi ilmu politik modern,sosiologi,dan filsafat.

A.     Analisis Masalah
Masalah (problem) adalah suatu deviasi antara yang seharusnya (should) terjadi dengan suatu yang nyata (actual) terjadi, sehingga penyebabnya perlu ditemukan dan diverifikasi.[1]
Langkah –langkah dalam Analisis Masalah:[2]
1.      Menentukan tujuan yaitu menentukan target lebih dahulu tanpa mencampuradukkan apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin dilakukan
2.      Mengumpulkan fakta yaitu dengan mempelajari catatan-catatan yang relevan, peraturan dan kebiasaan yang berlaku, membicarakan dengan orang yang bersangkutan untuk mengetahui pendapatnya
3.       Mempertimbangkan fakta dan tentukan tindak lanjut yang harus diambil dengan menghubungkan fakta yang satu dengan yang lain.
4.      Mengambil tindakan dengan mempertimbangkan :
a.       Tentukan siapa yang harus mengambil tindakan.
1)      Pertimbangkan siapa yang perlu diberi informasi tentang keputusan yang akan diambil
2)      Menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan tindakan yang telah diputuskan.
5.      Periksa hasil pelaksanaannya untuk mengetahui apakah tujuan tercapai dan pelajari perubahan-perubahan sikap dan hubungan antar satu pihak dengan pihak lain.

B.     Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan dalam organisasi  ialah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama, didalam organisasi rentan terjadinya selisih pendapat begitu juga keputusan dalam mengambil sikap, dapat diartikan cara organisasi dalam pengambilan keputusan.
Secara umum pengambilan keputusan diartikan sebagai suatu teknik untuk mempersempit pilihan. Di Indonesia sendiri pengambilan keputusan itu memakai cara musyawarah mufakat, sehingga peluang pendapat tiap-tiap orang dapat didengarkan oleh yang lain. Proses pengambilan keputusan dapat berfungsi sebagai pemecah suatu masalah.
Suatu pengambilan keputusan itu sendiri tidak boleh asal-asalan, karena arti dari hasil suatu keputusan itu sendiri mempunyai peran besar terhadap suatu permasalahan atau konflik yang terjadi baik di dalam suatu organisasi ataupun antar individu, sehingga pengambilan keputusan memerlukan beberapa tahap atau proses, yakni aktivitas intelegensi, pada tahap ini diperlukan penelusuran terhadap permasalahan yang terjadi serta lingkungan sekitarnya , lalu proses berikutnya adalah aktivitas desain, pada tahap ini permasalahan lebih didalami, dikembangkan serta di analisis lebih lanjut. Dan yang terakhir adalah aktivitas memilih, pada proses ini kita di perintahkan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan proses-proses yang sudah terjadi sebelumnya.
Tujuan dari pengambilan keputusan itu sendiri mempunyai dua sifat, yakni bersifat tunggal dan bersifat ganda. Maksud dari bersifat tunggal yakni keputusan tersebut hanya berlaku untuk satu permasalahan saja dan tidak menyangkut ke permasalahan lain, sedangkan maksud dari bersifat ganda yakni keputusan tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang jumlahnya lebih dari 1.
Jadi saya menyimpulkan bahwa suatu proses pengambilan keputusan itu sendiri mempunyai arti penting untuk menanggulangi atau memecahkan suatu permasalahan. Sehingga proses yang diperlukan tidak bias sembarangan agar keputusan yang diambil dapat diterima oleh berbagai pihak.
Menurut  (Gibson dkk, 1987) Proses pengambilan keputusan meliputi tujuh langkah  sebagai berikut:[3]
1.      Menerapkan tujuan dan sasaran: Sebelum memulai proses pengambilan keputusan, tujuan dan sasaran keputusan harus ditetapkan terlebih dahulu. apa hasil yang harus dicapai dan apa ukuran pencapaian hasil tersebut.
2.      Identifikasi persoalan : Persoalan-persoalan di seputar pengambilan keputusan harus diidentifikasikan dan diberi batasan agar jelas. Mengidentifikasikan dan memberi batasan persoalan ini harus tepat pada inti persoalannya, sehingga memerlukan upaya penggalian.
3.      Mengembangkan alternatif : Tahap ini berisi pengnidentifikasian berbagai alternatif yang memungkinkan untuk pengambilan keputusan yang ada. Selama alternatif itu ada hubungannya, walaupun sedikit, harus ditampung dalam tahap ini. Belum ada komentar dan analisis.
4.      Menentukan alternatif : Dalam tahap ini mulai berlangsung analisis tehadap berbagai alternatif yang sudah dikemukakan pada tahapan sebelumnya. Pada tahap ini juga disusun juga kriteriatentang alternatif yang sesuai dengan tujuan dan sasaran pengambilan keputusan. Hasil tahap ini mungkin masih merupakan beberapa alternatif yang dipandang layak untuk dilaksanakan.
5.      Memilih alternatif : Beberapa alternatif yang layak tersebut di atas harus dipilih satu alternatif yang terbaik. pemilihan alternatif harus harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya, keefektifan alternatif dalam memecahkan persoalan, kemampuan alternatif untuk mencapai tujuan dan sasaran, dan daya saing alternatif pada masa yang akan datang.
6.      Menerapkan keputusan : Keputusan yang baik harus dilaksanakan. Keputusan itu sendiri merupaka abstraksi, sedangkan baik tidaknya baru dapat dilihat dari pelaksanaannya.
7.      Pengendalian dan evaluasi : Pelaksanaan keputusan perlu pengendalian dan evaluasi untuk menjaga agar pelaksanaan keputusan tersebut sesuai dengan yang sudah diputuskan.

C.     Rasionalitas
Rasional  adalah lawan dari irasional, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III, rasional adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis atau pikiran yang sehat atau cocok dengan akal.[4]Rasionalitas ekonomi dapat dipahami sebagai tindakan atas dasar kepentingan  pribadi untuk mencapai kepuasannya yang bersifat material lantaran kawatir tidak mendapatkan kepuasan itu karena terbatasnya alat atau sumber pemuas.[5]Sebelum membahas lebih lanjut mengenai apa itu rasionalitas, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan oleh para ekonom ketika mereka mengatakan bahwa suatu keputusan yang diambil seseorang pelaku ekonomi ialah rasional secara ekonomi.[6]
1.      Asumsi Rasionalitas Ekonomi
Rasionalitas telah menjadi asumsi sentral dalam ekonomi konvensional, namun terkadang menimbulkan implikasi yang kurang sesuai dengan tuntutan  moral.
Merujuk pada pendekatan filsafat Darwinisme di dalam ilmu ekonomi bahwa rasionalitas diartikan sebagai usaha untuk melayani kepentingan individu. Kepentingan pribadi atau self-interest, menjadi titik tekan disini. Namun, menurut Adam Smith, penekanan pada self-interest itu bukan berarti mengabaikan kepentingan masyarakat. Menurutnya, dengan memaksimalkan self-interest, kepentingan (kesejahteraan) masyarakat dengan sendirinya akan terpenuhi.
Dalam literatur teori ekonomi modern yang tersedia, seorang pelaku ekonomi diasumsikan rasional berdasarkan hal-hal berikut:[7]
1.      Setiap orang tahu apa yang mereka mau dan inginkan, serta mampu mengambil suatu keputusan atas suatu hal, dari sesuatu yang paling diinginkan (most preferred) sampai dengan yang paling kurang diinginkan atau (less preferred). Serta setiap idividu akan mampu bertindak dan mengambil keputusan secara konsisten.
2.      Keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan tradisi, nilai-nilai dan mempunyai alasan dan argumentasi yang jelas dan lugas. Hal ini menunjukkan bahwa metodelogi rasionalitas ialah ketika hal ini diambil berdasarkan cara berpikir dari setiap pelaku ekonomi itu sendiri.
3.      Setiap keputusan yang diambil oleh individu ini harus mengaju pada pengkuantifikasian keputusan akhir dalam suatu unit moneter. Pengkuantifikasian ini akan membawa pada perhitungan dan bertendensi untuk memaksimalkan tujuan dari setiap aktivitas, di mana suatu hal yang lebih baik lebih disukai dari pada yang kurang baik.
Dalam buku-buku ekonomi, term rasionalitas ini dijelaskan bahwa manusia disebut rasional jika ia melakukan sesuatu yang sesuai dengan self-interest, dan pada saat yang sama konsisten dengan membuat pilihan-pilihannya dengan tujuan yang dapat dikuantifikasikan (dihitung untung ruginya) menuju kesejahteraan umum.[8]Sementara dalam ekonomi Islam pelaku ekonomi, baik itu produsen maupun konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan maslahah.
2.      Fenomena Sejarah
Suatu fakta sejarah mengungkapkan bahwa rasionalitas ialah suatu konsekuensi atas factor ekonomi dan agama, dimana faktor utama ini kapitalis. Dalam masa periode awal merkantilisme, para pedagang mencari keuntungan tinggi karena dua faktor:
1.      Kebijakan yang memberikan keuntungan berlebih kepada kaum perdagangan dengan memberikan perlakuan khusus yang bersifat monopolistik
2.      Faktor agama yang berasal dari ajaran katolik yang mengutuk kekayaan, dimana kesejahteraan ekonomi dan kekayaan akan berlawanan dengan pengajaran oleh gereja.
Pada akhir abad ke-17, pasar kapitalis yang berkembang secara maju dan signifikan atas produksi dan perdagangan. Kemudian berdasarkan konteks ini, teori baru tentang perilaku manusia telah lahir. Dalam hal ini, sifat menang sendiri dan egois menjadi hal yang utama, jika tidak dapat dikatakan sebagai satu-satunya yang menjadi acuan manusia dalam beraktifitas. Pergerakan melawan doktrin dan kekuasaan gereja yang terlalu dictator melahirkan suatu etika protestan. Etika protestan kemudian diformulasikan untuk mendukung dan menjadi alasan dalam motif kepentingan pribadi (self-interest) dalam ekonomi kapitalis sebagai hasil atas perubahan ini, doktrin individualis dan egois ini mendominasi dalam pemikiran ekonomi. Sehingga bahwa rasionalitas yang bersifat egois merupakan bentuk perlawanan atas peraturan Negara dan  antigereja.

D.     Tipe-tipe Rasionalitas
Ada dua tipe rasionalitas, yang mana dua tipe ini berlaku pada tingkat individu. Adapun pada tingkat kolektif terdapat rasionalitas pula. Dua tipe rasionalitas ini yaitu:[9]
1.      Rasionalitas kepentingan pribadi (Self-interest rationality)
Menurut Edgeworth, prinsip pertama dalam ilmu ekonomi ialah setiap pelaku ekonomi hanya digerakkan oleh kepentingan pribadi (self-interest) seorang individu. Namun satu hal yang ingin dicapai oleh teori kepuasan modern saat ini ialah upaya pembebasan ilmu ekonomi dari prinsip pertama yang sangat meragukan dan tidak jelas ini. Pengertian kepentingan pribadi di sini tidak harus selalu diartikan dengan penumpukan kekayaan dan harta oleh seseorang. Dimana kepentingan pribadi yang diasumsikan di sini ialah setiap individu akan selalu berupaya mengejar berbagai tujuan dalam hidup ini, dan tidak hanya memperbanyak kekayaan secara moneter. Namun tujuan-tujuan tersebut bisa berbentuk prestise, cinta, aktualisasi diri dan lain-lain.  Serta dapat pula berupa sebuah pencapain individu menjadi lebih baik dan membuat lingkungan sekelilingnya menjadi lebih baik juga pada saat yang bersamaan.
2.      Rasionalitas berdasarkan tujuan yang ingin dicapai saat ini (present aim rationality)
Teori kepuasaan modern yang aksiomatis tidak berasumsi bahwa manusia selalu bersikap mementingkan dirinya sendiri. Teori ini berasumsi bahwa manusia selalu menyesuaikan prefrensinya sepanjang waktu dengan sejumlah prinsip. Secara jelasnya dikatakan bahwa preferensi yang diambil haruslah konsisten. Penyesuaian terhadap prinsip ini tanpa harus menjadi hanya mementingkan dirinya sendiri (self-interest). Sehingga setiap waktu mungkin preferensi individu tersebut dapat berubah sesuai dengan kebutuhan yang ingin dicapainya.
Sebagai contoh : seorang eksekutif muda dimana pada suatu waktu mugkin membutuhkan notebook untuk mempermudah tugasnya, namun pada waktu yang berbeda mungkin individu tersebut membutuhkan smartphone dalam mempermudah aktivitas komunikasinya.




DAFTAR PUSTAKA
*      Adiwarman A. Karim. (2002). Ekonomi Mikro Islami, Jakarta: IIT-Indonesia.
*      Departemen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahnya.
*      Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III.
*      H. Malayu S.P. Hasibuan, Dasar Pengertian dan Masalah Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, 2005
*      H.B. Siswanto, Pengantar Manajemen. (Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2005)
*      https://rindaasytuti.wordpress.com/2010/06/29/agama-dan-rasionalitas-ekonomi/ diakses pada 21 Maret 2016.
*      M. Nur Rianto Al Arif dan Dr. Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana, 2010)





[1] H. Malayu S.P. Hasibuan, Dasar Pengertian dan Masalah Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, 2005, hlm., 53
[2] Ibid,
[3]H.B. Siswanto, Pengantar Manajemen. (Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2005), h. 174 – 175  
[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III.
[5]https://rindaasytuti.wordpress.com/2010/06/29/agama-dan-rasionalitas-ekonomi/ diakses pada 21 Maret 2016.
[6] M. Nur Rianto Al Arif dan Dr. Euis Amalia, Teori Mikroekonomi: Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 66.
[7] Syed Omar Syed Agil, “Rationality in Economic Theory, A Critical Appraisal”, dalam Reading Micro Economics, An Islamic Perspective, Sayyid Taher, dkk (editor), Malaysia: Longman, 1992, hal. 32.
[8] Ibid, 50.
[9] Robert Frank, Microeconomics and Behaviour 2nd ed, dalam Adiwarman A. Karim. Teori Mikroekonomi Islami. Jakarta: IIT-Indonesia, 2001, hlm. 29.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to " RASIONALITAS"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!