KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

TAUHID


 Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang baik dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya. Struktur manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Manusia diciptakan dengan membawa fitrah-fitrah tertentu. Fitrah berarti kekuatan yang terpendam yang ada didalam diri manusia, ynag dibawa sejak lahir ddan akan menjadi daya pendorong bagi kepribadiannya. Seperti yang tercantum didalam firman Allah SWT.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِل دِينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ا هللَِّ الهتِِ فَطَرَ الن هاسَ عَلَيْ هَا ۚ لََ تَ بْدِيلَ لِِلْقِ  ا هللَِّ ۚ ذََٰلِكَ ال دِينُ الْقَيِ مُ وَلََٰكِ هن أكْثَ رَ النهاسِ لََ يَ عْلَمُونَ
Artinya  :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(Q.S. Ar-Rum : 30)

 Rasulullah SAW Bersabda : كُ ل  مَوْلوْدٍ ي وْلدُ عَلى الفِطرةِ، فأب وَاهُ ي هَ ودَانِهِ أوْ يُُ جِسَانهِ أوْ يُ ن صِرانهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”(HR, Bukhari)
 Manusia merupakan makhluk yang istimewa. Hal ini dikarenakan manusia dikarunia akal sebagai keistimewaannya  dibandingkan makhluk lainnya. Manusia merupakan makhluk yang ada di alam raya ini. Allah telah membekali manusia dengan berbagai keutamaan sebagai ciri khas yang membedakan dengan makhluk yang lainnya.

Tauhid dan Macam-macamnya
1.      Definisi Tauhid
Al-Tauhid menurut bahasa merupakan masdhar dari wahhada. Jika
dikatakan wahhada asy-syai’a, artinya menjadikan sesuatu itu satu.[1]
Adapun menurut syariat berarti : mengesakan Allah dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, berupa rububiyah, uluhiyah, al-asma’ dan sifat.
2.      Macam-macam Tauhid
Tauhid dibagi menjadi tiga macam:[2]
a)      Tauhid rububiyah.
b)      Tauhid uluhiyah.
c)      Tauhid asma’ dan sifat.
Macam-macam tauhid ini terhimpun dalam firman Allah Ta’ala surah Maryam ayat 65 :

a) Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah ialah mengesakan Allah Swt dalam hal penciptaan, kepemilikan dan pengurusan. Pengesaan Allah dalam penciptaan artinya keyakinan manusia bahwa tidak ada pencipta melainkan Allah semata.[3]Firman Allah Swt yang artinya :
“ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (Al-A’raf: 54)
Ayat ini berfaidah sebagai pengkhususan penciptaan makhluk bagi Allah, karena bentuknya yang berupa kalimat tanya, yang memberikan makna menantang.[4]
Pengesaan Allah dalam kepemilikan, artinya kita yakin bahwa tidak ada yang memiliki makhluk kecuali yang menciptakan mereka, sebagaimana firmanNya,
“Keputusan Allahlah kerajaan langit dan bumi.” (Ali-Imran: 189)
“Katakanlah, ‘siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu?” (Al-Mukminum: 88)
Tentang disebutkannya penetapan kepemilikan bagi selain Allah seperti firman-Nya, “Kecuali terhadap istri-istri mereka dalam hal itu tiada tercela.” (AlMukminun: 6), maka itu merupakan kepemilikan yang terbatass, tidak mencakup kecuali satu dua hal yang remeh dan makhluk-makhluk ini. Manusia hanya bisa memiliki apa yang ada dibawah tangannya, dia tidak berhak memiliki apa yang ada ditangan orang lain. Itu pun juga merupakan kepemilikan yang terbatas dilihat dari sifatnya. Manusia tidak bisa memiliki apa yang ada ditangannya dengan kepemilikan secara sempurna. Karena itu dia tidak boleh menggunakannya kecuali menurut cara yang diizinkan baginya menurut syariat.[5]
b) Tauhid Uluhiyah
Tauhid ini disebut tauhid ibadah kerana dua pertimbangan: pertama karena penisbatannya kepada Allah, yang disebut tauhid uluhiyah. Kedua karena penisbatannya kepada makhluk, yang disebut tauhid ibadah. Adapun maksudnya ialah pengesaan Allah dalam ibadah. Yang berhak diibadahi hanya Allah.[6]Firman-Nya.
“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang meraka seru selain dari Allah, itulah yang bathil.” (Luqman: 30).
Istilah ibadah dapat diperuntukan bagi dua hal:
1.      Al-Ta’abud yang berarti ketundukan kepada Allah Azza wa Jalla, dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, karena dorongan cinta dan pengagungan.[7]
2.      Al-Muta’abad artinya seperti yang dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu
Taimiyah Rahimahullah, “Nama yang mencakup apa punyang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun batin.[8]
Pengesaan Allah dalam tauhid ini, hendaklah engkau menjadi hamba bagi Allah semata, mengesakan-Nya dalam ketundukan, kecintaan, pengagungan dan beribadah kepada-Nya dengan sesuatu yang disyariatkan-Nya.[9]
c) Tauhid Asma’ dan Sifat
Artinya pengesaan Allah Azza wa Jalla dengan asma’ dan sifat yang menjadi milik-Nya. Hal ini mencakup dua hal:[10]
1.      Penetapan. Artinya kita harus menetapkan seluruh asma’ dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang Dia tetapkan bagi Diri-Nya dalam Kitab-Nya atau sunnah Nabi-Nya Saw.11
2.      Penafian permisalan, bahwa kita tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam asma’ dan sifat-Nya, sebagaimana firman-Nya, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maga Melihat.” (Asy-Syura; 11)[11]
Ayat ini menujukkan bahwa semula sifat Allah tidak diserupai oleh siapa pun dari makhluk. Meskipun ada persekutuan dalam dasar makna, tapi pada hakikat keadaannya tetap berbeda. Siapa yang tidak menetapkan apa yang ditetapkan Allah bagi Diri-Nya, berarti dia orang yang meniadakan, seperti apa yang ditiadakan Fir’aun. Siapa yang menetapkannya dengan disertai penyerupaan, berarti diaserupa dengan orang-orang musrik yang menyembah selain Allah disamping menyembah selain Allah. Siapa yang menetapkannya tanpa penyerupaan berarti dia termasuk golongan muwahhidin.[12]

Fitrah Manusia
Secara bahasa, kata fitrah berasal dari kata fathara yang berarti menjadikan. Kata tersebut berasal dari akar kata al-fathr yang berarti belahan atau pecahan. Fitrah mengandung arti yang mula-mula diciptakan Allah, keadaan yang mula-mula, yang asal atau yang awal.[13]
Kata fitrah disebut dalam al-Quran, yaitu surah Ar-Rum ayat 30 yang artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Secara umum, para pemikir muslim cenderung memaknainya sebagai potensi manusia untuk beragama (tauhid). Menurut Al-Jarkasyi mendefinisikan fitrah sebagai iman bawaan yang telah diberikan Allah sejak manusia dalam alam rahim. Menurut pandangan Islam, pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan suci. Kesucian manusia itu dikenal dengan istilah fitrah. Sebagaiman hadits Rasulullah Saw yang artinya :
“Tiap-tiap anak dilahirkan diatas fitrah ibu dan ayahnya lah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani, dan majusi.” (H.R. Bukhari)
Muhammad bin Asyur, seperti dikutip Quraish Shihab mendefinisikan fitrah sebagai berikut :
“Fitrah (makhluk) adalah bentuk lain dari sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Sedangkan fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptkan Allah pada manusia yang berkaitan dengan akal dan jasmaninya”.
 Dalam batasan ini fitrah diartikan sebagai potensi jasmaniah dan akal yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan potensi tersebut manusia mampu melaksanakan “amanah” yang dibebankan oleh Allah kepadanya.[14]
 Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa fitrah manusia adalah semua bentuk potensi yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada manusia semenjak proses penciptaannya di alam rahim guna kelangsungan hidupnya di atas dunia serta menjalankan tugas dan fungsinya sebagai makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah Swt.


Hubungan Fitrah Manusia dalam Tauhid
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku. Aku tidak mengingkan rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menginginkan pula supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (Q.S. Adz-Dzariat: 56-58)
1. Tauhid Hak Allah dan Kewajiban Manusia
Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah yang paling wajib ditunaikan. Tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali agar meraka bertauhid. Hak tersebut karena Dia sebagai maha pencipta, pemilik dan pengatur alam semesta ini.
Langit dan bumi serta segala apa yang ada diantara keduanya terwujud karena Allah. Dia menciptakan seluruh dengan hikmah yang besar dan keadilan. Maha layak bagi-Nya untuk mendapatkan hak peribadatan dari semua makhluk-Nya tanpa disekutukan dengan apa pun.
Sebagian ulama menafsirkan kalimat: “supaya mereka mentauhidKu”. Ibadah apapun tidak akan diterima oleh Allah Swt jika ibdah tersebut bercampur dengan kesyirikan. Bahkan bisa membuat ibadah kita menjadi hilang dikarena syirik besar.
            Firman Allah Swt yang artinya:
 “Seandainya mereka mempersekutukan Allah niscaya lenyaplah dari meraka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88) 
 “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentu kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar: 65)
 Suatu perkara yang tidak bisa disangkal adalah bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakannnya. Yang mengingkari hak tersebut hanyalah orang yang tidak waras. Sebab jika dia sadar tentu menyakini bahwa setiap yang ada yang mewujudkan. Alam yang demikian teratur dan rapi tentu memiliki pencipta, penguasa, dan pengatur. Tidak yang mengingkari perkara ini kecuali atheis yang sombong.
 Allah telah menciptakan manusia yang mana pada awalnya bukanlah apa-apa. Pada hakikatnya manusia ada dibumi ini merupakan kekuasaan Allah. Allah telah melimpahkan banyak nikmat-Nya sejak meraka masih berada dalam perut, lahir ke dunia hingga akhir hayat.
 Rahmat Allah telah sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan hak Allah yang paling besar yaitu beribadah kepada-Nya Allah tidak pernah meminta apa-apa dari manusia kecuali hanya agar manusia beribadah kepada-Nya semata dengan ikhlas.
 Ibadah bukanlah sebagai hadiah manusia untuk Allah atas segala limpahan nikmat-Nya. Sebab perbandingannya tidak seimbang. Dalam setiap hitungan nafas manusia kepada Allah tenggelam tanpameninggalkan bilangan didalam luas rahmat-Nya. Allah berfirman:
“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thoha: 136)
 Ketika manusia beribadah kepada Allah tanpa berbuat syirik maka sebenarnya manfaat kembali kepada diri manusia sendiri. Allah akan membalas seluruh amal kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda. Ibadah manusia tidaklah menguntungkan Allah dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikan-Nya.
 Manusia yang mendambakan kebaikan untuk dirinya tentu akan serius beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Itulah tauhid yang harus dibersihkan dari berbagai dosa-dosa syirik. Sebab kesyirikan hanyalah menjanjikan kesengsaraan hidup dunia dan akhirat.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang yang memepersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempat kembalinya adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolongpun.” (Q.S.Al-Maidah: 76)
Sementara mentauhidkan Allah dalam ibadah mengantarkan kepada keutamaan yang besar didunia dan akhirat. Sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, bagi mereka keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.” (Q.S. Al-An’am: 82)
 kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah dalam hadits Ibnu Mas’ud. 2. Tauhid Fitrah Manusia
Allah berfirman :
“ Katakanlah: Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa ( menciptakan)pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan ?maka mereka akan menjawab: “Allah” . Maka katakanlah mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31)
Sesungguhnya syahadat tauhid telah tertanam pada jiwa manusia sejak lahir. Namun fitrah untuk beribadah ini dirusak oleh bujuk rayu syaiton dikemudian hari, sehingga berpaling dari tauhid kepada syirik, dari fitrah taat menjadi maksiat. Para syaitan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan manusia dengan sejuta cara. Rasulullah bersabda, “Setiap anak yang lahir, dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR.Al-Bukhori)
Allah berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah diatas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan perubahan pada fitrah Allah.” (Ar-Ruum: 30) 
“ Dan demikian Kami jadikan bagi tiap tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan ( dari jenis ) manusia dan jin, sebagian mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah – indah untuk menipu ” ( al-an’am:112 )
 Sehingga karakter asal yang tertanaman pada diri manusia secara fitrah adalah bertauhid kepada allah, sementara kesyirikan adalah yang datang kemudian. Jika manusia mengikuti fitrahnya yang suci selamatlah dia. Namun jika tidak mengikutinya, tentu akan menikmati kesengsaraan hidup dan perselisihan, permusuhan di kalangan  manusia.
Allah berfirman:
“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” ( yusuf: 19 ) 
 Jarak antara Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS adalah  sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas islam. Lalu kesyirikan berawal pada masa itu. Maka Allah mengutus Nuh sebagai rasul  yang pertama,
“sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepada mu sebagaimana kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudian. “ ( An-nisa:163 )
. Dahulu bangsa Arab juga berada diatas agama nabi ibrahim yaitu tauhid. Hingga datang ‘Amr bin Luhai Al-Khuza’i lalu merubah agama Nabi Ibrahim menjadi agama pagan. Melalui orang ini tersebar penyembahan terhadap berhala di Arab,terlebih khusus daerah hijaz.  Maka Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai nabi yang terakhir.  Rasulullah menyeru manusia kepada agama tauhid, dari berjihad dijalan Allah dengan sebenar-benarnya. Sampai tegak kembali agama tauhid dan runtuhlah segala sesembahan terhadap berhala. Saat itulah
Allah menyempurnakan agama dan nikmatnya bagi alam semesta. Itulah fenomena sejarah perjalanan agama ummat manusia sampai zaman ini. Hari-hari belakangan kesyirikan telah sedemikian dahsyat melanda kaum muslimin. Sedikit sekali diantara mereka orang yang mengerti tentang tauhid dan bersih dari syirik. As-syaikh
Abdurrahman berkata: “ Di awal umat ini jumlah orang yang bertauhid cukup banyak sedangkan dimasa belakangan jumlah mereka sedikit”.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Al-Utsaimin, Syaikh. SYARAH KITAB TAUHID. Unaizah: Islam Kaffah, 1417 H.
Abdullah, Abdurrahman Saleh. Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an.
Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007
Arifin, M. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003
Tauhid Fitrah Manusia dilaman https://saripedia.wordpress.com



[1] Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, SYARAH KITAB TAUHID. (Unaizah :islam kaffah,1417 H, Darul Falah) hlm.xvii
[2]Ibid.hlm.xviii
[3] Loc.cit
[4]Loc.cit
[5]Ibid.hlm.xxi
[6] Loc.cit
[7]Ibid.hlm.xxii
[8] Loc.cit
[9] Loc.cit
[10] Ibid.hlm.xxiii
[11] Ibid.hlm.xxvi
[12]Loc.cit
[13] Abdullah Abdurahman Saleh, Teori-Teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2007).hlm.68
[14]M.Arifin, Filsafat Pendidikan Islam.(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003).hlm.158

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "TAUHID"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!