EPISTEMOLOGI ISLAM
Filsafat Islam merupakan gabungan dua kata, yaitu filsafat dan islam secara etimologis, filsafat bersal dari bahasa Yunani, yaitu kata philein atau philos dan shopia. Kata philein atau philos berarti cinta, sedangkan kata shopia berarti kebijaksaan. Secara terminologi fisalafat merupakan komtemplasi atau mempelajari pertanyaan-pertanyaan penting mengenai eksistensi kehidupan yang berakhir dengan pencerahan dan pemahaman, sebuah visi mengenai keseluruhan. Sementara itu kata Islam secara sematik berasal dari akar kata salima yang berarti menyerah, tunduk, dan selamat. Islam artinya menyerahkan diri kepada Allah, dan dengan menyerahkan diri kepada-Nya maka mempeloreh keselamatan dan kedamaian.
Jadi filsafat Islam pada haikkatnya adalah filsafat yang bercorak islami. Islam menempati posisi sebagai sifat, corak, dan karakter. Filsafat islam artinya berpikir dengan bebas berada pada taraf makna, yang mempunyai sifat, corak, serta karakter yang menyelamatkan dan memberi kedamaian hati.[1]
Epistemologi berasal dari kata Yunani, episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti teori, uraian, atau ulasan. Karena berhubungan dengan pengertian filsafat pengetahuan, lebih tepat apabila logos diterjemahkan dalam arti teori. Jadi epistemologi dapat diartikan: sebagai teori tentang pengetahuan.[2]Sebagai sebuah cabang filsafat yang membahas tentang sifat pengetahuan, mungkinnya penegathuan diperoleh manusia, dan dasar-dasar pengetahuan, epistemologi juga dikenal dengan beberapa istilah sebagai berikut:
a. Kriteriologia yaitu menetapkan benar tidaknya pikiran atau pengetahuan berdasarkan ukuran kebenaran.
b. Kritika pengetahuan yaitu tinjauan secara mendalam untuk menetukan benar tidaknya pengetahuan yang diperoleh manusia.
c. Gnoseologia. Istilah ini berasa dari kata gnosis (pengetahuan) dan logos (ilmu). Maksudnya, usaha untuk memperoleh hakikat pengetahuan.
d. Logika material yaitu usaha untuk menetapkan kebenaran suatu pemikiran.[3]
Dengan kata lain, epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relaksi eksak antara alim (subjek) dan ma’lum (objek). Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, dan cara memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menetukan karakter pengetahuan, bahkan menetukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak.[4]
Aliran epistemologi.
Secara garis besar, ada dua aliran pokok dalam epistemologi. Pertama, idealism atau lebih populer dengan sebutan rasionalisme, yaitu suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal, ide, kategori, bentuk sebagai sumber ilmu pengetahuan. Disini, peran panca indra dinomorduakan. Adapun aliran kedua adalah, realism atau yang lebih populer dengan sebutan empirisme yang lebih nmenekankan peran indra (semtuhan, penglihatan, penciuman, pencicipan, dan pendengaran) sebai sumber sekaligus sebagai alat untk memperoleh ilmu pengetahuan. Disini peran akal dinomorduakan.[5]
Jalan Mencapai Epistemologi.
a. kebenaran teoritis (Rasionalisme) rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal itulah pencari dan pengukuran pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, dan temuannya diukur dengan akal pula. Menurut mereka, aturan harus dibuat berdasarkan dan bersumber pada sesuatu ada yang ada pada manusia. Alat itu ialah akal. Mengapa akal? Pertama, Karena akal dianggap mampu. Kedua, karana akal pada setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan inilah logika alami yang ada pada akal setiap manusia. Dicari dengan akal ialah dicari dengan berpikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak. Apabila logis, aturan tersebut benar apabila benar dan tidak, aturan tersebut tersebut salah. dengan akal itulah, aturan untuk mengatur manusia dan alam dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal. Dalam proses pembuatan aturan, ternyata temuan akal sering bertentangan. Kata seseorang ini logis, tetapi kata orang lain itu logis juga. Padahal, ini dan itu tidak sama bahkan bertentangan.[6] pola rasionalisme ini, apabila diterapkan pad epistemology dalam pemikiran islam, dalam hal ini, apabila termasuk ilmu kalam, tidak peduli terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh empirisme. Dominannya aspek rasionalisme dalam ilmu kalam akhirnya menjadikan pemikiran ini jatuh ke wilayah pemikiran metafisika yang lebih bersifat spekulatif dan melampaui batas-batas kemampuan dan serap pikiran manusia biasa. Memang demikian realitas pemikiran kalam klasik. Ia penuh kesamaran. Kondisi ilmu kalam seperti itu sebenarnya bukan hanya disebabkan faktor bahasa yang sulit untuk menjelaskan objek tersebut. Sebagai sebuah pernyataan tentang tuhan, sudah tentu ia tidak biasa diverifikasi atau diklarifikasi secara objektif dan empiris. Jadi, dalam memahami kitab suci, seseorang cenderung menggunakan standar ganda, yaiut berpikir dalam apasitas dan berdasarkan pengalaman kemanusiaan yang diarahkan pada suatu objek yang diimani dan berada diluar jangkauan nalar dan indera. Dengan ungkapan lain, ia berpikir dalam kerangka imam dan ia beriman sambil mencoba mencari dukungan dari pemikirannya di sini, sesungguhnya terdapat wilayah yang remang-remang karena dalam sikap beriman terdapat hal-hal yang diyakini kebenarannya, tetapi tidak diketahui dan terjangkau oleh nalar. Wilayah inilah yang kemudian melahirkan ilmu kalam.[7]
b. kebenaran praktis (empirisme dan Positivisme).
Empirisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan memilih bukti empirisme. Dalam hal anak panah tersebut, menurut empirisme, yang benar adalah bergerak. Sebab secara empirisme dapat dibuktikan bahwa anak panah itu bergerak. Coba saja, perut Anda dan benda yang menembus sesuatu haruslah benda yang bergerak. Ya memang, sesuatu yang diam tidak akan menembus perut anda, dan benda yang menembus sesuatu haruslah benda bergerak. Coba saja, perut Anda menghadang anak panah itu, tentu anak panah itu akan menembus perut anak panah itu akan menembus perut anda, dan benda yang menembus sesuatau haruslah benda yang bergerak. Ya, memang, sesuatu yang diam tidak akan mampu menembus. Dengan empirisme inilah, aturan (untuk mengatur manusia dan lam) itu dibuat. Akan tetapi, ternyata empirisme ialah ia belum terukur. Empirisme hanya sampai konsep-konsep yang umum. Menurut empirisme, air kopi yang baru diseduh ini panas, nyala pai ini lebih panas, besi yang mendidih ini sangat panas. Kata empirisme, kelereng ini kecil, bulan lebih besar, bumi lebih besar lagi, matahari sangat besar. Demikianlah seterusnya. Empirisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep itu belum operasional karena belum terukur. Jadi, masih diperlukan alat lain. Alat lain itu adalah positivisme. Positivism mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirismenya, dan terukur. “ terukur” inilah sumbangan penting positivism. Jadi, hal penas tersebut oleh positivism dikatakan air kopi ini 80℃, air mendidih ini 100℃, ini satu meter panjangnya.[8]
c. kebenaran wahyu/mukasayfah/Musyahadah.
Sebagaimana perjalanan Al-Ghazali yang meraih kebenaran dari rasionalisme saja tidak cukup, dan empirisme tidak cukup karena keduanya bersumber dari akal. Oleh karena itu, diperlukan kebenaran yang hakiki tentang alam dan sang maha pencipta. Dari sinilah, lahir ilmu laduni.[9]
Untuk menggambarkan pengetahuan intim yang langsung ini, para sufi menyebutnya sebagai ilmu laduni, yang mengandaikan pemberian langsung “makna” sesuatu oleh Tuhan kedalam hati seorang hamba yang dikehendaki-
Nya dalam peristiwa apokaliptis yang disebut “Mukasyafah” (penyingkapan) atau “Musyadhadah” (penyaksian). Hal ini karena, menurut keyakinan para sufi, yang menyingkapkan kebenaran secara langsung kedalam hati mereka adalah Allah, sedangkan Allah sendiri mereka pandang sebagai “kebenaran: (Al-Haq), yang tidak mungkin berbohong. Inilah jaminan kebenaran bagi para sufi yang selalu mendatangkan keyakinan di hati mereka.
Dalam hal ini, telah terjadi identifikasi yang organic antara pengetahuan, yang mengetahui, dan yang diketahui karena seseorang yang sam sekaligus menjadi subjek dan objek. Indentifikasi dari subjek dan objek inilah yang bisa mematahkan kritik kanta, sedangkan identifikasi pengetahuan dengan yang diketahui telah menyebakan pengetahuan (knowing) identik dengan kenyataan (being) atau dengan istilah lain, pikiran (mind) identik dengan tubuh (body). Dengan cara inila para sufi merasa yakin akan kebenaran dari pengetahuannya.[10]
Pendekatan Epistemologi dalam Islam
Islam menjelaskan bahwa ada tiga cara untuk mengenal alam semesta dan hakikat benda, yaitu sebagai berikut:
1. Indra: yang paling penting diantaranya adalah pendengaran dan penglihatan.
2. Akal dan pemikiran: dalam ruang lingkup yang terbatas dan sesuai dengan landasan-landasan serta dasar-dasarnya yang khusus, akal dapat menyingkap hakikat dengan pasti dan yakin.
3. Wahyu: dengan perantara manusia pilihan dan memiliki kedudukan yang tinggi, wahyu dapat menjembatani hubungan manusia dengan alam gaib. Dua cara pertama merupakan hal umum yang semua manusia dapat mengenal alam semesta melalui keduanya. Begitu juga, dua cara tersebut dapat membantu manusia dalam memahami syariat. Adapun cara ketiga hanya orang-orang khusus yang mendapatkan inayah Ilahi, dan orang-orang tersebut adalah para nabi.
Penggunaan indra hanya untuk hal-hal yang dapat dipersepsi dan tampak saja, sedangkan akal dapat kita aplikasikan pada permasalahan yang sifatnya terbatas dan memiliki landasan untuk itu. Akan tetapi, aplikasi wahyu lebih luas dan mencakup seluruh permasalahan, lebih umum dan luas dari permasalahan akidah dan hukum. Al-Quran menjelaskan permasalahan.
Adapun mengenai wahyu, Al-Quran menyatakan, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”(QS. An-nahl [16]:
Manusia beragama akan senantiasa menggunakan indra yang diberikan oleh Allah SWT. Untuk mengenal alam jagat raya ini dan memahami agama. Kebanyakan dari seluruh hasil persepsi indra akan menjadi dasar serta wadah pertimbangan bagi akal, kemudian akal akan membawa dan merumuskan semua hasil persepsi tersebut untuk mengenal Allah SWT., sifat-sifat, serta perbuatan-Nya. Adapun segala yang dipersepsi oleh ketiga jalan ini semuanya sangat berfungsi dan dapat mengungkap kebenaran. [11]
Pembagian Epistemologi islam.
Menurut Al-Jabiri, sebagimana ditulis Hasan Ridwan terdapat tiga kelompok epistemologi, yakni bayani, irfani, dan burhani. Epistemologi yang dimaksud adalah the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods, and validity of knowledge. Epistemology merupakan cabang filsafat yang membahas hakikat pengetahuan, dan cara memperoleh pengetahuan.[12]
Epistemologi di atas, masing-masing dibedakan berdasarkan segi otoritas penentuan kebenaran.
1. Epistemologi Bayani
Al-Jabiri dengan mengacu pada kamus lisan Al-Arabikarya Ibn Manzur, menyimpulkan bahwa terminologi al-bayan mengandung empat pengertian, yakni pemisahan, keterpisahan, jelas, dan penjelasan. Keempat pengertian tersebut dapat diklarifikasikan menjadi dua kelompok: al-bayan sebagai metodologi, yang berarti pemisahan dan penjelasan dan al-bayan sebagai pendangan dunia yang berarti keterpisahan dan jelas. [13]
Epistemologi bayani adalah pendekatan dengan cara menganalisis teks. Maka sumber epitemologi bayani adalah teks. Sumber teks dalam studi Islam dapat dikelompokkan secara umum menjadi dua, yakni:
a) Teks nash (al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.), dan
b) Teks non-nash berupa karya para ulama.[14]
Pendekatan bayani ini sudah lama dipergunakan oleh para fuqaha, mutakallimun, dan ushulliyin. Tujuan pendekatan ini adalah:
a. Memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung dalam (atau dikehendaki) lafazh. Dengan kata lain, pendekatan ini dipergunakan untuk mengeluarkan makna zahir dari lafazh dan ibarah yang zahir pula dan
b. Istinbat hukum-hukum dari al-nusus an-diniyah dan Al-Quran khususnya.[15] Objek kajian yang umum dengan pendekatan bayani adalah: a. Gramatika dan sastra (nahwu dan balaghah),
b. Hukum dan teori hukum (fiqih dan ushul fiqih),
c. Filologi,
d. Teologi, dan
e. Dalam beberapa kasus di bidang ilmu-ilmu al-Qur’an dan hadis.
Adapun corak berpikir yang diterapkan dalam ilmu ini cenderung
deduktif, yakni mencari (apa) isi dari teks (analisis content).[16]
Di antara kritik yang muncul terhadap epistemologi bayani, adalah munculnya sikap: 1. Dogmatik,
2. Defensif,
3. Apologetik, dan
4. Polemis.
Artinya menempatkan teks yang dikaji sebagai satu ajaran mutlak (dogma) yang harus dipatuhi, diikuti dan diamalkan, tidak boleh diperdebatkan, tidak boleh dipertanyakan, apalagi ditolak. Demikian juga apa isi teks harus dipertahankan dan dibela sekuat tenaga. Dari sikap ini muncul semboyan ‘right or wrong is my country’. Padahal teks yang dikaji penuh dengan historisitas yang barangkali berbeda dengan historisitas kita pada zaman global, post industri dan informatika. Dengan kata lain, konteks lahirnya teks yang dikaji mestinya mendapat perhatian ketika dikaji pada masa kini untuk diberlakukan pada masa kini yang berbeda konteks. Dengan begittu, mestinya kajian model ini diperkuat dengan analisis konteks, bahkan kontekstualisasi (relevansi).[17]
Dalam pendekatan bayani dikenal 4 macam:
1. Bayan al-I’tibar,yaitu penjelasan mengenai keadaan, segala keadaan, sesuatu, yang meliputi:
a. Al-qiyas al-bayani, baik al-fiqhy, an-nahwy dan kalamy, dan
b. Al-khabar yang bersifat yaqin maupun tasdiq.
2. Bayan al-I’itqad, yaitu penjelasan mengenai segala sesuatu yang mengenai makna haq, makna muasyabbih fih, dan makna batil.
3. Bayan al-ibarah yang terdiri dari:
a. Al-bayan az-zahir yang tidak membutuhkan tafsir, dan
b. Al-bayan al-batin yang membutuhkan tafsir, qiyas, istidlal,dan khabar.
4. Bayan al-kitab,maksudnya media untuk menukil pendapat-pendapat dan pemikiran katib khat, katib lafz, katib ‘aqd, katib hukm, Dan katib tadbir.[18]
2. Epistemologi Burhani
Secara etimologis al-burhan dalam bahasa arab, adalah argumentasi yang kuat dan jelas (al-hujjat al-fashilat al-bayyinat). Dalam bahasa inggris, al-burhandisebut demonstration. Berasal dari bahasa latin demonstrate yang berarti isyarat, sifat, keterangan dan menampakkan. Al-Burhan dapat juga diartikan sebagai pembuktian yang tegas ( decisive proof ) dan keterangan yang jelas.
Dalam Al-Mu`jam Al-Falsafi dijeskan bahwa Burhan adalah penjelasan dalam suatu hujjah secara transparan atau merupakan hujjah itu sendiri, yang mengharuskan adanya tashdiq (pembenaran) terhadap suatu persoalan karena kebenaran argumentasinya. Adapun menurut terma logika, burhan adalah analogi yang disususun dari beberapa premis untuk mendapatkan hasil yang meyakinkan. [19]
Maksud epitemologi burhani adalah, bahwa untuk mengukur benar atau tidaknya sesuatu adalah dengan berdasarkan komponen kemampuan alamiyah manusia berupa pengalaman dan akal tanpa dasar teks wahyu suci, yang memunculkan peripatik. Maka sumber pengetahuan dengan nalar burhani adalah realitas dan empiris, alam, sosial, dan humanities. Artinya, ilmu diperoleh sebagai hasil penelitian, hasil percobaan, hasil eksperimen, baik di laboratorium maupun di alam nyata, baik yang bersifat sosial maupun alam. Corak berpikir yang digunakan adalah induktif, yakni generalisasi dari hasil-hasil penelitian empiris.[20]
Sikap terhadap kedua epistemologi bayani dan burhani bukan berarti harus dipisahkan dan hanya boleh memilih salah satu diantaranya. Malah untuk menyelesaikan problem-problem sosial dan dalam studi Islam justru diajukan untuk memadukan keduanya. Dari perpaduan ini muncul nalar abduktif, yakni mencoba memadukan keduanya. Dari perpaduan ini muncul nalar abduktif, yakni mencoba memadukan model pikiran deduktif dan induktif.[21]
Karena pendekatan burhani menjadikan realitas dan teks sebagai sumber kajian, dalam pendekatan ini, ada dua ilmu penting ilmu al-lidan dan ilmu al-mantiq. Tujuannya adalah menetapkan aturan-aturan yang digunakan untuk menentukan cara kerja akal atau cara mencapai kebenaran yang mungkin diperoleh darinya.[22]
3. Epistemologi irfani.
‘irfan dalam bahasa Arab merupakan masdar dari ‘arafa yang semakna dengan ma’rifah. Dalam kamus Lisan Al-‘Arab, al-irfan diartikan dengan al-ilm. Dikalangan para sufi, kata irfan dipergunakan untuk menunjukkan jenis pengetahuan yang tertinggi, yang dihadirkan dalam qalbu dengan cara kasyf atau ilham. Hanya saja istilah ini berkembang penggunaan di kalangan sufi, kecuali pada masa-masa belakangan ini saja.[23]
Irfani adalah pendekatan yang bersumber pada intuisi (kasf/ilham).
Dari irfani muncul illuminasi (illuminatif).
Adapun prosedur penelitian irfaniah dapat digambar sebagai berikut. Bahwa berdasarkan literature tasawuf, secara garis besar kita dapat menunjukkan langkah-langkah penelitian irfaniah sebagai berikut: [24]
a. Takhliyah: pada tahap ini, peneliti mengosongkan (tajarrud) perhatiannya dari makhluk dan memusatkan perhatian kepada (tawjih).
b. Tahliyah: pada tahap ini peneliti memperbanyak amal saleh dan melazimkan hubungan dengan al-khaliq lewat ritus-ritus tertentu.
c. Tajliyah: pada tahap ini, peneliti menemukan jawaban batiniah terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Sebagaimana paradigma lain irfaniah juga mengenal teknik-teknik yang khusus. Ada tiga teknik penelitian irfaniah:
a. Riyadah: rangkaian latihan dan ritus, dengan penahapan dan prosedur tertentu.
b. Tariqah: disini diartikan sebagai kehidupan jama’ah yang mengikuti aliran tasawuf yang sama.
c. Ijazah: dalam penelitian irfaniah, kehaidarn guru (mursyid) sangat penting. Mursyid membimbing murid dari tahap yang satu ke tahap lain. Pada tahap tertentu, mursyid memberikan wewenang (ijazah) kepada murid.[25]
Dengan membandingkan antara model berpikir (epistemologi) umum dan Islam, dengan demikian muncuk gambaran berikut, bahwa epistemologi umum:
1. Model berpikir rasional,
2. Model berpikir empirikal, dan
3. Model berpikir intuitif (irrasional).
Sementara model berpikir islam adalah:
1. Bayani bersumber pada teks, baik nash maupun non-nash.
2. Burhani bersumber akal dan empirikal.
3. ‘irfani bersumber pada kasf.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihun Anwar., dkk, pengantar studi islam, Bandung: Cv Pustaka Setia,
2009.
Esha, Muhammad In’am., menuju pemikiran filsafat, Malang: Uin-Maliki Press,
2010.
Nasution, Khoiruddin., Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: Academia + Tazzafa,
2009.
Supriyadi, Dedi., Pengantar filsafat Islam (Lanjutan),Bandung: Cv Pustaka Setia,
2010.
Zaprulkhan, Filsafat Islam sebuah kajian tematik, Jakarta: Rajawali Pers, 2014
[1] Zaprulkhan, Filsafat Islam sebuah kajian tematik, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm 3-5
[2] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan),(Bandung: Cv Pustaka Setia, 2010), hlm. 97
[3] Muhammad In’am Esha, menuju pemikiran filsafat, (Malang: Uin-Maliki Press, 2010), hlm. 77
[4] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 97-98.
[5] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 98.
[6] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 106.
[7] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 107.
[8] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 108.
[9] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 108
[10] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 109
[11]Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 116
[12] Dedi Supriyadi, Pengantar filsafat Islam (Lanjutan), ….. hlm. 119
[13] Rosihun Anwar, dkk, pengantar studi islam, (Bandung: Cv Pustaka Setia, 2009), hlm. 239
[14]Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: Academia + Tazzafa, 2009), hlm. 43
[15] Rosihun Anwar, dkk, pengantar studi islam,….. hlm. 240
[16] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,….. hlm. 43
[17] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,….. hlm. 44
[18] Rosihun Anwar, dkk, pengantar studi islam,….. hlm. 241
[19] Rosihun Anwar, dkk, pengantar studi islam,….. hlm. 246
[20] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,….. hlm. 44-45.
[21] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,….. hlm. 45.
[22] Rosihun Anwar, dkk, pengantar studi islam,….. hlm. 247
[23] Rosihun Anwar, dkk, pengantar studi islam,….. hlm. 244-245
[24] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,….. hlm. 45.
[25] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,….. hlm. 46.
0 Response to "EPISTEMOLOGI ISLAM"
Posting Komentar