KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

STUDI TENTANG TAZKIYAT AN-NAFS MUJAHADAH DAN RIYADHAH



Manusia diciptakan oleh Allah SWT.dalam dua dimensi jiwa.Ia memiliki karakter,potensi,orientasi,dan kecenderungan yang sama untuk melakukan hal-hal positif dan negatif.Inilah salah satu ciri spesifik manusia yang membedakannya dari makhuk lainnya sehingga manusia termasuk sebagai makhluk alternative.Artinya,manusia bisa menjadi baik dan tinggi derajatnya dihadapan Allah atau sebaliknya,ia pun bisa menjadi jahat dan lebih rendah dibandingkan dengan hewan.Dua dimensi jiwa manusia,yaitu positif dan negatif senantiasa saling menyayangi,mempengaruhi,dan berperang satu sama lain.Islam sebagai agama yang Haq memberikan tuntutan kepada manusia agar ia menggunakan potensi ikhtiarnya untuk memiliki dan menciptakan lingkungan yang positif sebagai salah satu upaya pengarahan,pemeliharaan,Tazkiyat An-nafs(penyucian jiwa)dan tindakan pencegahan dari hal-hal yang bisa mengotori jiwa.


 Pengertian Jiwa ( An-Nafs)
Abu Ahmadi berpendapat bahwa, jiwa adalah daya hidup yg bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan pribadi dari hewan tingkat tinggi dan manusia[1].
Sedangkan dikalangan para sufi menyepakati bahwa jiwa adalah sumber keburukan dan dosa. Menurut para sufi, jiwa merupakan musuh yang wajib diperangi dan keburukan yang menular wajib ditumpas. Jiwa adalah musuh paling bahaya bagi manusia yang ada diantara dua sisi badannya. Karena itu mereka sering menggunakan istilah “berperang melawan nafsu dan mematahkan ego adalah suatu keharusan”. Jiwa dalam makna pertama (al-quwwah al-gadhab) ini, tentu saja tidak dapat diterima melalui konsepsi kaum sufistik untuk bisa kembali kepada Allah bahkan amat jauh dari Allah, dan jiwa dalam konteks ini adalah yang memihak kepada setan. Apabila ketentramannya tidak sempurna, namun masih mampu menahan nafsu syahwat, disebut nafsu lawwamah. Sebaliknya, jika menyerah pada tantangan nafsu, bahkwan memperturutkan syahwat dan ajakan setan, disebut sebagai nafsu amarah.[2]
Jiwa (nafs), adalah kelembutan (lathifat) yang bersifat keTuhan-an (rabbaniyah). Sebelum bersatu dengan badan jasmani manusia lathifat ini disebut dengan al-ruh, dan jiwa (al-nafs) adalah roh yg telah masuk dan bersatu dengan jasad yg menimbulkan potensi kesadaran. Jiwa yang diciptakan diciptakan oleh Allah sebelum bersatunya dengan jasad bersifat suci, bersih dan cenderung mendekat kepada Allah, mengetahui akan Tuhannya. Akan tetapi, setelah roh tersebut bersatu dengan jasad akhirnya ia melihat (mengetahui) yang selain Allah, dan oleh karena itu terhalanglah ia dari Allah karena sibuknya dengan selain Allah. Itulah sebabnya ia perlu dididik, dilatih, dan dibersihkan agar dapat melihat, mengetahui dan berdekatan dengan Allah Swt.[3]
Jiwa yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia memiliki lapisan-lapisan kelembutan (latha’if), sehingga dapat dikatakan bahwa tujuh lathifah yang ada pada diri manusia itu adalah al-nafs atau jiwa dalam istilah lain. Tujuh lapisan tersebut berdasarkan nilai dan tingkat kelembutannya. Yaitu :
1.      Nafs al-amarah
2.      Nafs al-lawwamah
3.       Nafs al-mulhimah
4.      Nafs al-muthmainah
5.      Nafs al-radhiyah
6.      Nafs al-mardiyah
7.      Nafs al-kamilah[4]


Takziyat An-Nafs
Arti Takziyat An-nafs adalah penyucian jiwa. Berati mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Penyucian jiwa akan mustahil dapat dilakukan tanpa mengamalkan perlengkapan diri, kerja keras, dan kesungguh-sungguhan.[5]
Dengan demikian, pengertian tazkiyat al-nafs berhubungan erat dengan soal akhlak dan kejiwaan, serta dalam islam berfungsi sebagai pola pembentukan manusia yang berakhlak baik dan bertakwa kepada Allah. Karenanya, siapapun yang mengharapkan Allah dan hari akhir, mesti memperhatikan kebersihan jiwanya. Allah juga menjadikan kebahagiaan seorang hamba tergantung kepada tazkiyah an-nafs. Hal ini di sebutkan dalam al-Qur’an setelah disebutkannya sebelas sumpah secara beruntun. Suatu keistimewaan yang tidak dimiliki hal lain.[6]
Hal yang termasuk dalam tazkiyatun nafs adalah penyucian dari :
1.      Kufur, nifaq, kefasikan dan bid’ah
2.      Kemusyrikan dan riya
3.      Cinta kedudukan dan Kepemimpinan
4.      Kedengkian
5.      Ubud dunya
6.      ‘ujub
7.      Kesombongan
8.      Kebakhilan
9.      Keterpedayaan
10.  Amarah yang zalim
11.  Mengikuti hawa nafsu[7]

Proses yang dilalui dalam melaksanakan Tazkiyatunnafs adalah takhalli, tahalli, tajalli.
a.      Takhalli al-Nafs
Takahlli al-nafs disebut juga dengan takhalli as-sirr yang berati pengosongan jiwa dari akhlak tercela atau pengosongan jiwa dari segenap pikiran yang akan mengalihkan perhatian dari zikir dan ingat kepada Allah.
b.      Tahalli al-Nafs
Tahalli an-nafs ialah pengisian jiwa dengan sifat-sifat terpuji sesudah mengosongkannya dari sifat-sifat tercela
c.       Tajalli al-Nafs
Tajalli an-nafs adalah tersingkapnya hijab yang membatasi manusia dengan Allah, sehingga nyata dan terang cahaya dan kebesaran Allah dalam jiwa.[8]
Konsep Tazkiyah al-nafs menurut al-Ghazali secara umum didasarkan atas rub-rub yang terdapat dalam kitab ihya’ul ulumuddin yang terdiri dari:
a.       Rub al-ibadah yaitu bagian-bagian yang membahas tentang ibadah yaitu yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT. Rub ini berbicara tentang keutamaan ilmu, aqidah, thaharah, rahasia sholat, puasa, haji dan zikir.
b.      Rub al-adah yaitu bagian-bagian yang membahas tentang hubungan manusia dengan lingkungannya. Rub ini berbicara tentang tata cara pergaulan, pernikahan, adab mencari penghidupan dan ketentan halal dan haram.
c.       Rub al-muhlikat yaitu bagian-bagian yang membahas tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, khususnya membahas tentang akhlak tercela yang harus dihindari oleh setiap orang. Rub ini berbicara tentang penyakit jiwa seperti bahaya lidah, sifat dengki, marah, bakhil, dan bahaya akan kecintaan pada dunia.
d.      Rub al-munjiyat yaitu bagian-bagian yang membahas tentang hubungan manusia dengan dirinya, khususnya membahas tentang sifat-sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Ruh ini menjadi obat bagi orang yang mengalami gangguan kejiwaan.[9]
Tujuan utama Tazkiyat Al-Nafs yaitu untuk menyeimbangkan antara ibadah, adat dan akhlak manusia. Diperlukan beberapa cara untuk memperbaiki ketiganya, agar keseimbangan dapat tercapai. Al-Ghozali menjelaskan beberapa metode untuk memperoleh akhlak yang baik. Pertama, mengharap kemurahan Allah. Kedua, bersusah payah melakukan segala kebaikan sehingga menjadi kebiasaan dan sesuatu yang menyenangkan. Ketiga sering bergaul dengan orang-orang yang shaleh[10]
Metode-metode tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa sarana Tazkiyat Al-Nafs diantaranya yaitu tauhid, taubat, sholat, sedekah atau zakat dan infaq, puasa, haji, tilawah Al-Qur’an, zikir, tafakkur, mengingat kematian dan pendek angan-angan, Muraqabah, muhasabah, mujahadah dan mu’aqabah, amar ma’ruf nahi mungkar, pelayanan dan tawadhu’.
Tauhid dan taubat harus ada dalam hati manusia dan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena keduanya menjadi hal pokok untuk dilakukan dalam setiap waktu. Sholat merupakan sarana awal yang digunakan untuk membersihkan jiwa. Sholat juga merupakan ibadah wajib, yang membawa manusia untuk selalu istiqamah dalam setiap ibadahnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Ankabut: 45)
Sedekah, zakat, infaq merupakan memberikan harta kepada sesamanya yang sedang membutuhkan karena Allah. Hal ini dapat membersihkan hati manusia dari sifat bahkhil dan kikir. Seperti firman Allah: yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, (Qs. Al-Lail: 18)
Puasa merupakan menahan lapar, mengendalikan syahwat. Sehingga dengan demikian merupakan sarana Tazkiyat Al-Nafs. Seperti firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 183)
Dzikir merupakan mengingat Allah, sehingga menambah keimanan dan ketauhidan dalam hati manusia.  Seperti firman Allah: ”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar-Rad: 28)
Tilawah Al-Qur’an merupakan ibadah sebagai sarana berkomunikasi kepada Allah. Membaca Al-Qur’an dengan mengerti dan menghayati maknanya, tartil membacanya, sesuai dengan tajwidnya, maka akan melunakkan hati manusia yang keras. Selain itu, rahasia kekuasaan Allah dan pengetahuan tentang Allah juga dapat tersingkap. Seperti firman Allah:
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”(Qs. Al-Anfal: 2)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Qs. Ali-Imran: 193) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali-Imran: 192)[11]
Jiwa yang tersucikan merupakan jiwa-jiwa yang memilik akhlak sesuai apa yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadist, dan teladan utamanya yaitu Nabi Muhammad SAW. Orang yang memiliki jiwa yang sudah tersucikan akan menampakkan amaliah-amaliah dalam kehidupannya. Hal nyata yang dapat dirasakan dari manfaat Tazkiyah Al-Nafs adalah mampu mengendalikan lidah dan memiliki adab dalam berhubungan dengan Allah dan sesama manusia. Jadi, jiwa-jiwa tersebut akan selalu haus untuk melakukan kebaikan. Orang tidak akan menilai kesucian jiwa seseorang kecuali jika telah menyaksikan perilakunya secara langsung. Mempelajari dan mangamalkan konsep juga metode Tazkiyat Al-Nafs akan mewujudkan keberhasilan penyucian jiwa. Kesemuanya harus didasari pada kesungguhan, istiqamah, dan perjuangan denagn segala kemampuannya. Semuanya tergantung dari manusia itu sendiri, karena Allah akan memberikan hidayah dan kemenangan bagi setiap hambanya yang berbuat kebaikan.[12]





[1] Istighfarotur Rahmaniyah. Pendidikan Etika (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hlm.9
[2] Ibid, hlm. 11
[3] Ibid, hlm. 12
[4] Loc.cit
[5]  Ibid, hlm. 13
[6] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Rajab Al-Hambali, Imam Al-Ghazali, Tazkiyatu-Nafs : Konsep penyucian Jiwa Menurut Ulama’ Salaf, (Solo : Pustaka Arafah, 2004) hlm. 7
[7] Sa’id Hawwa, intisari ihya’ ‘ulumuddin Al-Ghazali  : Mensucikan Jiwa konsep tazkiyatun nafs terpadu (Rabbani Press, 1998), hlm. 180
[8] Istighfarotur Rahmaniyah. Pendidikan Etika. (Malang: UIN-Maliki Press, 2010). Hlm. 13-14
[9] Imam Malik, Tazkiyat Al-Nafs (Sebuah Penyucian Jiwa). (Surabaya: eLKAF, 2005). Hlm. 141-143
[10] Gusti Abd. Rahman, Terapi Sufistik untuk Penyembuhan Gangguan Kejiwaan (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2012). Hlm. 296
[11] Sa’id Hawwa, Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, Intisari Mensucikan Jiwa Konsep, Mensucikan Jiwa Terpadu (Rabbani Press, 1995) Hlm. 27-154
[12]  Ibid, Hlm. 458

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "STUDI TENTANG TAZKIYAT AN-NAFS MUJAHADAH DAN RIYADHAH"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!