KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

FAKTOR HEREDITAS DALAM PERKEMBANGAN ANAK


Masing-masing individu lahir kedunia dengan hereditas tertentu. Karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari orang tuanya. Individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi daripada hereditas dan lingkungan. Dapat kita ketahui bahwa saudarapun memiliki hereditas yang berbeda, bahkan anak kembar sekalipun. Jadi, setiap individu memiliki masing-masing hereditas yang berbeda. Baik dari segi biologis maupun sifat atau wataknya.
Definisi Hereditas
Hereditas atau pembawaan adalah pewarisan sifat-sifat fisik dan psikologi serta pola-pola pertumbuhan lainnya yang secara biololgis diwarisi oleh setiap anak dari orang tua yang melalui proses genetik. Hereditas akan membentuk proses perkembangan dengan memberikan potensi-potensi yang bisa diwujudkan melalui proses belajar. Hereditas yang diwariskan dapat berupa ciri atau sifat fisik, mental psikologis, bakatm insting, dan lain sebagainya. Timbulnya penilaian orang lain terhadap seseorang dapat diukur dari cara ia bersosial dan masa pembelajaran.[1]
Hereditas dapat diartikan juga sebagai pewarisan atau perpindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya. Pewarisan ini terjadi melalui proses genetik. [2]Menurut Witherington hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain melalui plasma benih, bukan tingkah laku melainkan struktur tubuh.
Faktor lingkungan dinilai sangat penting dalam menentukan tingkat perkembangan sel-sel benih dalam individu atau seseorang. Lingkungan memungkinkan plasma benih memperkembangkan sifat-sifat dasar yang dipunyai oleh individu. Tetapi, perlu diingat bahwa terdapat sifat-sifat dasar pada individu tidak dapat diubah. Contohnya adalah sifat dasar jenis kelamin, demikian sebaliknya. Memang, secara fisik wujud kelamin individu dapat diubah melalui operasi perubahan jenis kelamin, tetapi sifat-sifat dasar yang dikandung oleh plasma benih sel kelamin tersebut tidak dapat dirubah. Dengan begitu, sifat kestabilan yang dimiliki plasma benih suatu individu atau seseorang, menjamin kelanjutan persamaan antara orang tua dan anak-anak atau keturunannya.

Proses Hereditas dalam Pertumbuhan
           1.      Sifat-sifat pribadi manusia pada umumnya tergantung pada pengaruh kombinasi-kombinasi “genes”..
           2.      Sel-sel benih dari masing-masing orang tua berisikan bermacam-macam kombinasi “genes”sebagai akibat dari adanya pembiakan sel-sel.
          3.      Sel-sel dari ayah dan dari ibu bertemu dan berinteraksi menghasilkan organisme baru yang membentuk berbagai macam kombinasi “genes” pada anak keturunannya.
Dari kenyataan diatas, dapat kita ketahui bahwa tidak dapat dijumpai kesamaan hereditas pada manusia kakak beradik, padahal bersaudara sekandung. Bahkah kita tidak dapat menemukan kesamaan hereditas pada manusia bersaudara kembar sekalipun.

Prinsip-Prinsip Hereditas
Para pendidik perlu mengetahui prinsip-prinsip hereditas yang diturunkan kepada seseorang (siswa) agar dapat mentransfer ilmu pengetahuan dan selanjutya dapat diserap secara optimal oleh siswa atau anak didiknya. Sejauh ini terdapat beberapa prinsip hederitas yang sudah diketahui oleh sebagian orang (pendidik) di dunia pendidikan. Sebagian dari prinsip itu sudah dikelola menyatu dengan praktik pengajaran di kelas, dan sebagian yang lain belum secara maksimal dikelola oleh para pendidik ketika menjalankan tugas di kelas (sekolah). Prinsip-prinsip hederitas seperti dilaporkan oleh Ki RBS. Fudyartanto (2002) ada empat, yaitu prinsip reproduksi, prinsip konformitas, prinsip variasi, dan prinsip regresi filial.
Prinsip reproduksi. Hereditas yang diturunkan kepada anak oleh orang tuanya menurut prinsip ini adalah berbeda satu dengan yang lain. Antara orang tua dengan keturunannya mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Misalnya, kepandaian anak berbeda dengan kepandaian kedua orangtuanya. Kepandaian yang diperoleh si anak berasal dari belajar bukan dari sel-sel benih yang diturunkan oleh kedua orangtuanya. Dengan pernyataan lain, antara sel-sel benih dengan sel-sel somatis terdapat perbedaan sehingga perubahan-perubahan sel-sel badan tidak dapat diturukan secara biologis kepada anak atau generasi keturunannya.
Prinsip konformitas. Berdasarkan prinsip konformitas setiap jenis atau golongan (spesies) akan menghasikan jenisnya sendiri bukan jenis yang lainnya. Contohnya, jenis manusia tentunya akan menghasilkan keturunan dengan jenis manusia, bukan yang lain. Demikian juga dengan jenis monyet ia akan menghasilkan keturunan jenis monyet, bukan jenis yang lain.
Jika diperhatikan jenis dari keturunan yang dihasilkan, setiap anggota jenis mengikuti pola umum sesuai jenis masing-masing. Contohnya, pola umum jenis manusia yang terlihat dengan jelas, yaitu manusia berjalan dengan menggunakan dua kaki, berinteraksi dengan manusia lain dengan cara berbicara, mengalami masa bayi kemudian tumbuh kembang menjadi remaja, dewasa, dan akhirnya lanjut usia. Tahapan-tahapan seperti itu juga akan dialami oleh keturunan dari jenisnya sendiri.
Sering terjadi persamaan-persamaan antara keturunan dan orangtuanya, namun hal itu tidak mungkin sama persis. Tegasnya,antara anak dan orang tua  bisa saja mempunyai persamaan-persamaan, namun tetap saja di antara anak dan orangtua mempunyai perbedaan-perbedaan. Pada prinsip konformitas ditilik dalam satu jenis mempunyai persamaan-persamaan yang besar atau mecolok.
Prinsip variasi. Prinsip ini memberikan landasan berpikir bahwa sel-sel benih (germsel) berisi banyak determinan yang mempunyai mekanisme percampuran atau perpaduan sehingga menghasilkan perbedaan-perbedaan individual. Oleh karena itu, dapat dipahami anak sebagai keturunan dari orang tuanya ada yang menyerupai orang tuanya (ayah, ibu, kakek, atau neneknya). Tetapi, ada pula anak yang tidak menyerupai orang tuanya. Variasi-variasi yang terjadi pada anak tersebut umunya lebih tampak dari orang tua yang terdekat, misalnya dari ayah atau ibunya dibandingkan dengan kakek atau nenekya. Prinsip ini tidak bertentangan dengan prinsip konformitas, sebab dalam menghasilkan keturunan sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin diperoleh keturunan yang sama persis meskipun kembar.
Prinsip regresi filial. Teori ini kali pertama dikemukakan oleh ahli genetika Francis Galton. Prinsip regresi filial adalah bahwa sifat-sifat dari orang tua akan menghasilkan keturunan dengan kecendrungan pada sifat-sifat rata pada umunya. Contohnya, orang tua yang  genius belum tentu menghasilkan keturunan yang genius pula. Hal yang terjadi pada umumnya adalah orang tua yang genius menghasilkan keturunan dengan kecerdasan yang biasa-biasa saja alias tidak termasuk anak genius. Bahkan, tidak menuntut kemungkinan anaknya bodoh atau lemah mental (idiot), kendati ia dilahirkan dari orang tua yang genius.

Faktor Hereditas
Hereditas adalah kecenderungan untuk berkembang mengikuti pola-pola tertentu, seperti misalnya kecenderungan untuk berjalan tegak, kecenderungan bertambah besar, kecenderungan untuk menjadi orang lincah, dan sebagainya. Kecenderungan ini tidak hanya terdapat selama masa kanak-kanak. Tetapi ada selama hidup kita masih hidup. Akan tetapi jika kecenderungan-kecenderungan tersebut tidak mungkin terwujud menjadi kenyataan, kalau seandainya tidak mendapatkan kesempatan dan rangsangan dari luar untuk berkembang. Misalnya meskipun manusia mempunyai hereditas untuk berjalan tegak, akan tetapi dia tidak akan berjalan tegak kalau pada waktu kecenderungan ini tubuh tidak mendapatkan kesempatan dari lingkungannya. Begitu juga seseorang yang menjadi hereditas berbadan tinggi dan besar tidak akan bisa terwujud kalau pada masa-masa pertumbuhannya tidak mendapatkan makanan makanan yang cukup dan latihan yang diperlukan.
Hereditas Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
1.    Dalam bidang pertumbuhan dan perkembangan fisik, sumbangan hereditas ialah, angka, bentuk, kerangka dan struktur badan disebabkan oleh pertumbuhan potensi-potensi atau sifat-sifat dalam “genes”. Struktur dari saraf juga dibentuk dari pertumbuhan genetis. Batas-batas perkembangan fungsi-fungsi sensoris dan motoris juga ditentukan oleh pertumbuhan genetis, dan batas-batas perkembangan itu sangat berfariasi. Dengan demikian perbedaan skil motorik dan kemampuan anak yang lainnya kebanyakan disebabkan oleh hereditas.
2.    Dalam bidang pertumbuhan dan perkembangan mental, hereditas ikut menyumbang. Buktinya, anak yang lahir dengan berbagai kapasitas mental yang berbeda, dengan berbagai potensi, dan lainnya, batas-batas tertentu adalah tumbuh dan berkembang secara genetis. Ini berarti hereditas berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan mental.
3.    Dalam bidang kesehatan mental dan emosi serta kepribadian, hereditas pun ikut memberi sumbangan seperti dalam sistem syaraf, kelenjar-kelenjar dan organ-organ yang semua itu menentukan kestabilan emosi. Emosi dipengaruhi oleh hereditas.
4.    Dalam hal sikap-sikap, keyakinan, dan lain-lain. Sumbangan hereditas memiliki posisi dan pandangan hidup sangat banyak bergantung pada kapasitas pribadi yang diwariskan. Sikap, keyakinan, dan nilai dipengaruhi oleh cara pandang hidup seseorang. Karena itulah sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh hereditas.[3]


Faktor Hereditas Dalam Perkembangan Anak
1.      Bentuk Tubuh Dan Warna Kulit
Sebagai contoh dari pewarisan bentuk tubuh dan warna kulit adalah misalnya anak yang memiliki rambut kriting, maka bagaimanapun dia mengusahakan agar tidak kriting, akan kembali kriting. Selain itu jika ada seorang anak yang memiliki bentuk tubuh gemuk seperti ibunya , maka dia akan sukar untuk menjadi kurus, walaupun sedikit makan anak tersebut tetap bisa bertambah gemuk.
2.      Sifat-Sifat
Sifat-sifat merupakan hal yang di wariskan dari orang tua ataupun kakek dan nenek. Misalnya adalah sifat boros, kikir, penyabar, hemat. Sifat berbeda dengan kebiasaan, sifat sangat sukar dirubah , sedangkan kebiasaan dapat dirubah jika ada suatu niat yang sungguh-sungguh. Bagi pendidik, jika mengetahui sifat atau watak secara mendalam akan sangat membantu dalam kegiatan belajar mengajar. Misalnya adalah anak yang minder perlu di bangkitkan semangatnya dan kepercayaan dirinya agar jiwanya tak tertekan.
3.      Intelegensi
Istilah intelegensi berasal dari kata latin Intelligence yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (walgoti, 1997). Sehingga dapat diartikan pula, intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi dan masalah. Intelegensi seseorang dapat di ketahui secara tepat dengan tes intelegensi. Ukuran intelegensi dinyatakan dalam IQ.
4.      Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan khusus itu biasanya adalah suatu keterampilan, misalnya dalam bidang seni musik, seni rupa, seni tari, dan sebagainya. Jika anak memiliki bakat dari orang tuanya atau kakeknya ataupun neneknya, tetapi anak tersebut tidak dapat atau tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkannya maka bakat tersebut tidak akan berkembang atau sering di sebut dengan bakat terpendam. Pada umumnya anak memiliki bakat apa akan di ketahuin oleh orang tuanya  sejak kecil, karena anak tersebut akan senang melakukan hal tersebut. Dalam pendidikan, jika anak mendapatkan nilai 9-10 pada suatu mata pelajaran, berarti dapat di simpulkan bahwa anak tersebut memilki bakat pada bidang ilmu tersebut.

5.      Penyakit
Ada penyakit yang merupakan pembawaan sejak lahir yang dapat memperlambat perkembangan anak. Penyakit tersebut antara lain adalah penyakit kebutaan, syaraf, hemofilia. Penyakit-penyakit tersebut merupakan suatu penyakit keturunan.

DAFTAR PUSTAKA

Patty, F, dkk. Pengantar Psikologi Umum. (Surabaya: Usaha Nasional).
Prawira, Purwa Atmaja. Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2017).
Sabri, Alisuf.  Psikologi Pendidikan.  (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1996).
Sioemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Kepemimpinan. (Jakarta: Asdi Mahayatsa. 2006).
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan). (Jakarta: Rineka Cipta. 2012).



[1] Alisuf Sabri.  Psikologi Pendidikan.  (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. 1996). h. 38.
[2] Wasty Soemanto. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan). (Jakarta: Rineka Cipta. 2012). H. 82.
[3] Wasty Sioemanto. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Kepemimpinan. (Jakarta: Asdi Mahayatsa. 2006). H. 98-100.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "FAKTOR HEREDITAS DALAM PERKEMBANGAN ANAK"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!