KEMBANGIN POTENSI DIRIMU !!

MACAM MACAM FANTASI


Daya jiwa untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru atas bantuan tanggapan-tanggapan yang telah ada (lama) dalam psikologi disebut fantasi.[1]
Fantasi ini bisa diarahkan ke hal yang positif untuk menunjung berbagai hal seperti menulis, menggambar, dan mengukir. Selain ke hal positif fantasi juga bisa ke arah yang negatif atau merugikan seperti halnya seseorang yang sedang melamun menjalankan fantasinya hal ini bersifat negatif karena membuangbuang waktu dengan menghabiskannya untuk melamunkan sesuatu yang tidak penting. 
Oleh karena itu kami dari penulis makalah memaparkan apa itu fantasi, kegunaannya, dan macam. Fantasi ini jika kita bisa memanfaatkannya ke sesuatu yang positif maka akan sangat menguntungkan seperti halnya dalam menulis novel kita bisa menggunakan fantasi kita agar kisah yang dihasilkan lebih menarik. Itulah salah satu kegunan fantasi yang bisa kita manfaatkan untuk sesuatu yang positif.
Fantasi adalah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi, manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, ke keadaankeadaan yang akan mendatang. [2]
Menurut Kamus Psikologi (Husamah:117) Fantasi adalah: a) kapasitas manusia yang luar biasa dalam memberikan sosok pada sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. b) kemampuan jiwa untuk menciptakan tanggapan baru berdasarkan tanggapan yang sudah ada. c) sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk mengacu kepada proses mental keinginan imajinasinya objekobjek, simbol-simbol, atau kejadian-kejadian tidak serta merta hadir.[3]
Menurut KBBI Fantasi adalah: Khayalan, impian sesuatu yang tak nyata. Contoh: dunia impian, khayalan dan sebagainya.4
Menurut Wasty Soemanto (Psikologi Pendidikan: 26) Fantasi dapat didefinisikan sebagai aktivitas imajinasi untuk membentuk tanggapantanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan lama yang telah ada dan tanggapan yang baru tidak harus sama atau sesuai dengan benda-benda yang ada. [4]
Kesanggupan manusia untuk berfantasi yang disebut sebagai “imajinasi” memungkinkannya untuk menciptakan sesuatu yang baru dan belum ada. Sehingga, sesuatu yang baru itu merupakan suatu kreasi, meski dengan jalan apa pun. Untuk itu, ia harus dapat mereorganisasi tanggapan-tanggapan, ide, atau pun konsep-konsep yang dia miliki. Menurut pendapat lama, fantasi diartikan sebagai sesuatu yang pasif. Menurut tanggapan lama, sesuatu yang baru itu terjadi karena kombinasi tanggapan-tanggapan yang sudah ada. Sedangkan dalam pandangan ilmu jiwa modern, fantasi bersifat aktif, yakni menghubunghubungkan sehingga tercipta sesuatu yang sungguh-sungguh baru.[5] 
Kesanggupan menanggap tidak terbatas pada kepandaian mengadakan asosiasi, membuat hubungan-hubungan, tetapi juga mampu mengadakan disosiasi, artinya menguraikan, membongkar suatu tanggapan menjadi bagianbagian. Kemudian dari berbagai bagian tanggapan tadi disusun kembali menjadi suatu tanggapan yang baru. Kesanggupan menanggap dalam fungsi membentuk tanggapan baru ini disebut fantasi, khayalan, lamunan. Karena dalam fantasi kita dapat membayangkan apa saja, misalnya khayalan atau fantasi manusia berkepala gajah, gajah dapat terbang dan macam-macam lagi. Apabila fantasi itu jauh dari realitas tidak terkontrol oleh akal sehat, maka hasilnya akan aneh mungkin ada faedah atau gunanya, ataupun dapat dikatakan orang gila. Misalnya, gambar rumah dari seorang arsitek yang tidak dapat diwujudkan, karena pintu masuk ada di atas atap. Tetapi sebaliknya fantasi yang dikuasai oleh akal, pikiran, akan memperkaya kebudayaan kita, kebudayaan manusia. Arsitek atau seniman yang pandai berfantasi, akan memperkaya variasi hasil-hasil karyanya. Penulis roman yang pandai berfantasi dapat menciptakan situasisituasi yang beraneka warna dan menarik hati untuk melukiskan cinta kasih dua orang pemuda dan pemudi. Jadi fantasi itu sangat penting bagi para seniman, teknisi, penemu ilmu-ilmu baru, demikian juga bagi para guru dan pendidik. Artinya, guru-guru harus pandai membimbing para siswanya untuk mengembangkan fungsi jiwa yang disebut fantasi tadi. [6]
Fantasi sebagai kemampuan jiwa manusia dapat terjadi:
1.   Secara disadari, yaitu apabila individu betul-betul menyadari akan fantasinya. Misalnya seorang pelukis yang sedang menciptakan lukisan dengan kemampuan fantasinya, seorang pemahat yang sedang memahat arca atas dasar fantasinya.
2.   Secara tidak sadar, yaitu bila individu tidak secara sadar telah dituntun oleh fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak. Anak sering mengemukakan hal-hal yang bersifat fantastis, sekalipun sekali pun tidak ada niat atau maksud dari anak untuk berdusta. Misalnya seorang anak memberikan berita yang tidak sesuai dengan keadaan senyatanya, sekali pun ia tidak ada maksud untuk berbohong. Dalam hal semacam ini anak dengan tidak disadari dituntun oleh fantasinya. 
Perbedaan fantasi dan berpikir yaitu:
a.  Dengan berpikir kita berusaha untuk menemukan sesuatu yang sudah ada tetapi belum diketahui, dengan berfantasi kita menciptakan sesuatu yang belum ada, sesuatu yang baru.
b.   berpikir terikat kepada realitas, berfantasi melepaskan kita dari realitas.[7]Fantasi yang ada pada seseorang itu bersifat: Leluasa, bebas tidak terikat, atau liar.
c.   Spontan terkadang tanpa disadari.
d.   Mudah sekali berubah.
e.   Bersifat menciptakan untuk sesuatu yang baru.

 

Perkembangan Fantasi pada Anak

Perkembangan fantasi anak diungkapkan oleh Charlotte Buhler, menjadi tiga fase perkembangan yaitu:[8]
1.      0-4 tahun  masa cerita struwelpeter. Yaitu pada masa ini anak-anak nang terhadap cerita-cerita anak nakal, rambut panjang, pakaian kumal, kuku panjang, dan lain-lain. Pada masa ini anak tidak menghiraukan tentang kondisi lingkungan, ia senang mementingkan dirinya sendiri.
2.      4-8 tahun masa cerita khayal. Pada masa ini anak banyak dipengaruhi oleh daya khayalannya, maka apa yang dikhayalkan itu adalah kondisi sebenarnya, jadi masa ini sangat senang pada cerita-cerita khayal atau dongeng (dongeng kancil, raksasa, katak, dan lain-lain). Walaupun cerita tersebut diulang-ulang, anak tidak akan bosan, tidak jemu, bahkan bila yang bercerita itu ada kesalahan maka ia langsung menegurnya.
3.      8-12 tahun masa cerita realistis. Yaitu pada masa ini sudah mula senang terhadap cerita-cerita yang nyata (pahlawan, sejarah, biologi, dan lain-lain). Pada masa ini anak susah mulai berkurang pengaruh fantasinya, sebab pengamatannya sudah mulai tertib, ia sudah dapat  membedakan antara yang khayal dan yang realistis.
 Ada sesuatu yang erat hubungannya dengan fantasi anak yakni, bahwa anakanak sering melakukan dusta fantasi, dusta fantasi ini adalah dusta semua, ia berbuat karena tidak disengaja. Anak tersebut belum tahu bahwa hal itu salah, atau ia berdusta itu bukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Hal tersebut dapat terjadi karena anak belum juga dapat membedakan antara tanggapan ingatan dan tanggapan fantasi; atau juga dapat disebabkan reaksi menolak, takut, kurang kuat ingatannya, sugesti, malu, dan lain-lain.
Dalam menanggapi masalah keberadaan dan perkembangan fantasi ada dua psikolog yang kontradiksi; yaitu Dr. Maria Montessori, dan Friedrich Wilhelm August Frobel (Jerman 1782-1852). Dr. Montessori berpendapat fantasi anak  dalam perkembangannya harus dibatasi tidak boleh dibebaskan seleluasa mungkin, sebab jika fantasi tidak dibatasi dapat menghambat kemandirian anak-anak, jadi tidak realistis. Karena fantasinya,[9]seorang anak dapat terlena dengan dunia khayalnya. Sedangkan Frobel berpendapat bahwa fantasi bagi anak harus diberikan kesempatan sebab-sebabnya, tidak usah dibatasi perkembangannya, sebab dengan keleluasaan berfantasi seorang anak akan memperoleh kepuasan tersendiri. Dan dengan adanya kepuasan jiwa anak itu, maka ia akan tumbuh dan berkembang jiwanya secara sehat, dan penuh kreativitas.
Dengan melihat dua pendapat yang polar itu, maka kiranya dapat diambil jalan yang paling moderat yakni: terhadap perkembangan fantasi anak, sebaiknya diberikan kesempatan atau dilatih untuk dikembangkan. Dan agar anak tidak terlalu terlena pada dunia khayal yang berlebih lebihan, maka ada baiknya juga jika dalam latihan pengembangan fantasi agak dibatasi, tetapi tidak perlu terlalu ketat. Sehingga perkembangan fantasi anak akan tetap bebas leluasa tetapi terkendali atau terarah.[10]a. Guna fantasi dalam kehidupan.
1)   Dengan fantasi para seniman dapat menciptakan sesuatu yang baru yang dapat kita nikmati.
2)   Menimbulkan simpati pada sesama manusia.
3)   Dapat mengambil kemanfaatan (inti) sejarah.
4)   Dapat merencanakan hidup kita dikelak kemudian.
5)   Dapat merintangi dan mengurangi kesedihan kita.
b. Bahaya fantasi.
1)   Jika fantasi itu terjadi berlebih-lebihan pada seseorang akan terjadi keputusan dalam lamunan
2)   Karena kita dikuasai fantasi kan timbul rasa berdosa
3)   Timbul pengertian dalam pepatah “Besar pasak daripada tiang”
Menimbulkan fantasi yang jauh dan liar, terutama akibat fantasi tanpa terpimpin.[11]

Macam-Macam Fantasi dan Nilainya Bagi Pendidikan

Mengenai macam-macamnya fantasi dapat dibagi-bagi menjadi dua golongan besar yaitu: 
1. Fantasi Bebas dan Terpimpin
a. Fantasi bebas, yang dapat dibagi pula menjadi dua kelompok, yakni:
1)   Fantasi bebas tanpa ekspresi atau pernyataan lahirlah hasilnya, misalnya melamun.
2)   Fantasi bebas dengan ekspresi atau pernyataan lahiriah hasilnya, misalnya mengarang roman, mencipta lagu, melukis, menari, menggambar bebas, dan sebagainya. Fantasi bebas artinya fantasi timbul dengan spontan tanpa ada bahan penuntunnya yang berupa perangsang dari luar
b. Fantasi terpimpin, yaitu fantasi yang timbul disertai bahan perangsang dari luar sebagai penuntunnya, sebagai pembimbing atau pemimpinnya. Fantasi terpimpin juga dapat terbagi menjadi dua macam seperti pada fantasi bebas. Macamnya adalah  
Fantasi terpimpin dapat terbagi menjadi dua bagian.
1)   Fantasi terpimpin tanpa ekspresi, misalnya membaca, mendengarkan, menonton, melihat lukisan dan sebagainya.
2)   Fantasi terpimpin dengan ekspresi, misalnya main sandiwara, deklamasi, menari terpimpin, menggambar terpimpin, senam irama dan banyak lagi lainnya. 
2.   Fantasi Menurut Timbulnya. 
Ada lagi suatu pembagian fantasi menurut timbulnya atau terjadinya dengan jalan mengurangi atau menambah tanggapan-tanggapan pada fantasi baru yang diciptakan. Yang dimaksud adalah:
a)    fantasi mengurangi atau mengabstraksi mereduksi. Misalnya untuk membentuk fantasi gurun sahara di benua Afrika bagi mereka yang belum pernah melihatnya. Gurun sahara dapat ditanggap sebagai tanah lapang yang amat luas yang ditutupi dengan pasir yang tebal. Di samping itu ada banyak gunung tetapi tidak ditumbuhi oleh tanam-tanaman, hanyalah pasir belaka. Jadi gunung-gunung pasir. Di tempat-tempat tertentu terdapat oase, yaitu sebidang tanah yang subur, terdapat sumber air dan pohon kurma. Contoh lainnya, fantasi mengenai harimau, adalah seekor kucing yang amat besar atau kucing raksasa dan buas, sebesar pedet atau kambing besar.
b)   Fantasi yang menambah atau mengombinasi, misalnya untuk memfantasikan kuda sembrani, yaitu kuda yang mempunyai sayap, jadi dapat terbang, gunung Himalaya, yaitu gunung yang amat tinggi yang selalu diselimuti (diliputi) oleh awan tebal berwarna putih, tertutup oleh salju pada puncaknya.[12]
3.   Menurut Abu Ahmadi ( Psikologi Umum:79) Fantasi dapat dibedakan dari caranya orang berfantasi yaitu:
a.    Fantasi yang mengabstraksi 
Yaitu cara orang berfantasi dengan mengabstraksikan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian yang dihilangkan misalnya anak yang belum pernah melihat gurun pasir, maka untuk menjelaskan dipakailah bahan apersepsi yaitu lapangan. Bahan apersepsi ini dipakai sebagai loncatan untuk menjelaskan gurun pasir tersebut. Dalam anak berfantasi gurun pasir itu, banyak bagian-bagian lapangan yang diabstraksikan, dalam berfantasi gurun pasir dibayangkan seperti lapangan, tetapi tanpa pohon-pohon di sekitarnya, dan tanahnya itu melulu pasir semua, bukan rumput.
b.    Fantasi yang mendeterminasi,  yaitu cara orang berfantasi dengan mendeterminasi terlebih dahulu. Misalnya, anak belum pernah melihat harimau. Yang tekah mereka kenal kucing, maka kucing dipergunakan sebagai bahan apersepsi untuk memberikan pengertian tentang harimau. Dalam berfantasi harimau, dalam bayangannya seperti kucing, tetapi bentuknya besar.
c.    Fantasi yang mengkombinasi,  yaitu cara orang berfantasi di mana orang mengkombinasikan pengertian-pengertian atau bayangan-bayangan yang ada pada individu bersangkutan. Misalnya berfantasi tentang ikan duyung, yaitu kepalanya kepala seorang wanita, tetapi badannya badan ikan. Jadi, adanya kombinasi dari kepala manusia dari badan ikan.
 Contoh yang lain banyak dipergunakan orang. Misalnya, ingin membuat rumah dengan mengkombinasikan rumah model Eropa dengan atap model Minangkabau.14
Fantasi bila dibandingkan dengan kemampuan-kemampuan jiwa yang lain. Fantasi lebih bersifat subjektif. Dalam orang berfantasi bayanganbayangan atau tanggapan-tanggapan yang telah ada dalam diri orang memegang peran yang sangat penting. Bayangan yang ditimbulkan karena fantasi disebut bayangan fantasi. Bayangan fantasi berlainan dengan bayangan pengamatan. Bayangan pengamatan merupakan hasil dari pengamatan, sedangkan bayangan fantasi adalah hasil dari fantasi.
Oleh karena dengan kekuatan fantasi orang dapat menjangkau ke depan, maka fantasi mempunyai arti yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam fantasi pula orang dapat menambah bayangan-bayangan atau tanggapantanggapan, sehingga dengan demikian akan menambah bahan apersepsi yang ada pada individu. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa fantasi itu tidak mempunyai keburukan. Keburukannya ialah dengan fantasi orang dapat meninggalkan alam kenyataan, lalu masuk dalam alam fantasi. Hal ini merupakan suatu bahaya, karena orang terbawa hidup dalam alam yang tidak nyata. Fantasi juga dapat menimbulkan kedustaan, takhayul dan sebagainya.[13] 
Kalau gejala-gejala pengindraan (pengamatan) tanggapan dan fantasi satu sama lain diperbandingkan, maka tercapailah atau tersusunlah perbandingan sebagai berikut
No
A. Penginderaan
B. Tanggapan
C. Fantasi
1
Ada Stimulus aktual
Tidak ada stimulusnya
Tidak ada atau ada nilai pembimbing
2
 Terikat Oleh ruang dan waktu
Tidak terikat oleh ruang dan waktu
Tidak terikat oleh ruang dan waktu
3
 Biasanya Jelas dan lengkap
Dapat jelas atau samar-samar
Dapat jelas dan samar-samar
4
Hasilnya pengetahuan objek
Suatu gambaran dalam jiwa hasil pengamatan
Gambaran yang baru sama sekali

yang diamati/diinderai


5
5. Perlu Perhatian
Perlu perhatian
Perlu perhatian

Di muka telah pernah dikatakan mengenai nilai atau faedah dari fantasi. Dengan tanggapan dan fantasi manusia dapat mengenang kembali pengalamanpengalamannya pada masa yang lampau mengenai apa saja, pengalamanpengalaman yang baik, buruk, orang-orang besar, peristiwa-peristiwa penting semacamnya. Bagi orang-orang yang berbakat tertentu fantasi mendorong untuk menciptakan karya-karya yang baru, misalnya ahli-ahli pemahat, pelukis, sastrawan, musikus, politisi, filsuf-filsuf, sarjana ilmu, arsitek, dan sebagainya. Semuanya dapat memperkaya kebudayaan manusia. Dan seterusnya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia ini.
Sebaliknya fantasi juga dapat merugikan kehidupan manusia. Misalnya,
“tukang melamun akan memperlemah kemauan dan bersifat malas”. Fantasi juga dapat menyebabkan hal-hal yang rendah, misalnya senang melihat gambargambar gadis yang membuka aurat dan sebagainya. Ada lagi fantasi yang menyebabkan rasa takut, misalnya cerita-cerita yang mengenai setan, jin, dan sebagainya.[14]
2. Nilai fantasi dalam pendidikan
a.    Dengan fantasi dapat digunakan dalam pelajaran sejarah, ilmu umi, ilmu alam, dan sebagainya.[15]
b.    Dengan memahami fantasi kita tidak akan lekas memberikan hukuman kepada anak didik
c.    Dapat membentuk atau mempengaruhi watak anak didik (fantasi terpimpin)
d.   Dengan alat-alat pelajaran/pengajaran untuk dapat mengembangkan fantasi anak didik secara luas dan leluasa.[16]


Macam-Macam Tes Pengukur Fantasi

1.      Tes Binet yang berupa beberapa gambar-gambar yang belum sempurna, anak-anak diminta untuk menyempurnakan.
2.      Tes Heibronner dan Wiersma, berupa gambar-gambar bagan dan anak-anak belum dapat menyebutkan namanya, lalu diberi gambar-gambar yang sama tetapi lebih lengkap. Anak-anak juga diminta menebak.
3.      Tes Maselon, tes tiga kata. Anak-anak diberi tiga kata, lalu disuruh membuat kalimat dengan tiga kata tadi.
4.      Tes Asurditas, adalah tes kemustahilan. Anak-anak disuruh mendengarkan cerita-cerita yang aneh, lalu anak-anak disuruh mencari keanehankeanehannya yang terjadi. Misalnya, cerita anak invalid tidak bertangan, tetapi dapat berjalan sambil memegang membaca koran.[17]
5.      Tes hindustri, yaitu tes yang digunakan dua bahasa yang sudah dan belum dikenal oleh anak, dan artinya bisa dijodohkan dalam baris kanan dan kiri.
6.      Tes rochach, yaitu tes menelaah bentuk gambar.
7.       Tes decoupage, yaitu tes yang dilipat lalu digantung, kemudian gambar apa yang terjadi dalam guntingan.[18]

             

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Sholeh Munawar. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005.
Ahmadi, Abu dan Supriyono Widodo. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004.
Ahmadi Abu dan Sholeh Munawar, Psikologi Perkembangan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2005
Ahmadi, Abu. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003
Husamah. A to Z Kamus Psikologi Super Lengkap. Yogyakarta: CV Andi Offset.
2015.
Fudyartanta, Ki. Psikologi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Fitriyah, Lailatul dan Jauhar Mohammad. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta:
Pustaka Belajar, 2014.
Soemanto, Wasty. Psikologi Penddikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.
Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012.
Indrawan, WS. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jombang: Lintas Media, 2014. 





[1] Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2005, hlm. 100

[2]Abu Ahmadi, Psikologi Umum, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hlm. 78.
[3] Husamah, A to Z Kamus Psikologi Super Lengkap, CV Andi Offset, Yogyakarta, 2015, hlm. 118 4 Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Lintas Media, Jombang, 2014, hlm. 156
[4] Wasty Soemanto, Psikologi Penddikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2012, hlm. 26 
[5] Lailatul Fitriyah dan Mohammad Jauhar, Pengantar Psikologi Umum, Pustaka Belajar, Jakarta, 2014, hlm. 137
[6]Ki Fudyartanta, Psikologi Umum, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, hlm. 262
[7]Abu Ahmadi, Loc. Cit. Hlm. 78
[8]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Op. Cit. Hlm. 100. 
[9]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Ibid., hlm. 101 
[10]Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh, Ibid., hlm. 102
[11] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hlm. 30
[12] Ki Fudyartanta, Op.Cit. Hlm. 263.  14Abu Ahmadi, Op.Cit. Hlm. 78.
[13]Abu Ahmadi, Op.Cit. Hlm. 79. 
[14]Ki Fudyartanta, Op.Cit. Hlm. 264. 
[15]Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Ibid., hlm. 30
[16]Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Ibid., hlm. 31
[17]Ki Fudyartanta, Op.Cit. Hlm. 265. 
[18]Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Op. Cit.Hlm. 30. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "MACAM MACAM FANTASI"

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Get the latest article updates from this site via email for free!